Author : Hann Hunnie

Title : Just A Dream 2/3

Cast : Oh Sehun, Kim Jongin, and other cast.

Pairing : KaiHun as always.

Warning : kemungkinan ini ada M-preg nya. Gak masalah kan ?

Summary : "Aku sudah tidak memiliki apapun, kau mengambil alih seluruh kehidupan ku. Kau mampu menjungkir balikan hati ku, kau mampu membuat ku tak bisa menjauh dari mu. Apa yang harus aku berikan lagi padamu, Kim Jongin ? Kau bisa membuat ku menjadi milik mu, tapi-

Kau tidak pernah bisa menjadi milik ku" - Oh Sehun.

.

.

.

Happy reading

.

.

.

Sehun menumpukan kepalanya di atas meja. Sudah lebih dari dua jam yang lalu ia duduk di depan laptop seperti ini, tapi tidak ada yang namja cantik itu lakukan selain diam menatapi layar laptop di hadapannya.

Oh ayolah, ia harus segera memberi kan novel karyanya dua minggu lagi pada penerbit. Tapi sampai saat ini belum ada satupun kata yang Sehun ketik.

Hngg .. Namja cantik itu menggaruk kepalanya bingung, terlalu banyak hal yang ia pikirkan akhir akhir ini, mungkin itu yang membuat otaknya tidak bekerja sama sekali.

"Oh ayolah, aku tidak bisa terus diam seperti ini!" Sehun kembali mengangkat kepalanya, menatap layar laptop.

"Aku harus bisa menyelesaikannya" monolognya lagi, tangan putih itu terulur mengambil gelas berisi susu vanilla kesukaannya kemudian meminumnya hingga tandas.

"Ayo Sehun! Fighting!" Namja cantik itu mengangkat kepalan tangan nya ke udara, bermaksud untuk memberi semangat untuk dirinya sendiri, membuat namja tan yang sejak tadi memperhatikan tingkahnya itu tertawa kecil.

Jemari lentik Sehun mulai menjamah keyboard laptop, menulis apa saja yang ada dalam otaknya, menghiraukan si namja tan yang kini mulai mendekatinya.

"Aku pergi"

Usapan lembut di rambut dan kecupan manis di pelipisnya cukup membuat namja manis itu menghentikan pekerjaannya sejenak lalu menoleh, menatap namja tan yang kini tersenyum manis padanya.

" " Sehun tersenyum sambil menganggukan kepalanya. "Hati hati"

"Hmm ... Aku ada meeting sampai sore, jadi tidak usah mengirim ku makan siang"

"Aku mengerti"

"Yasudah, aku pergi" Kai -si namja tan- kembali mengecup pelipis berbalut kulit putih milik Sehun, sebelum benar benar meninggalkan namja cantik itu.

Sehun tersenyum tipis, ia menatap punggung Kai hingga benar benar hilang di balik pintu keluar apartment nya.

"Bukan meeting, tapi kau akan bertemu ayah Krystal untuk mencari cincin pertunganan untuk mu dan Krystal kan, Kai ?" Sehun berucap lirih seakan sosok tan itu masih ada di hadapannya. Ia tersenyum miris.

"Terimakasih atas kebohongan mu, aku tau kau hanya tidak ingin membuat ku menangis"

"Setidaknya-" kedua manik sewarna caramel itu memburam. "Kau berhasil membohongi ku untuk tidak menangis di hadapan mu"

.

.

.

Jam menunjukan pukul 11 lewat 30, sebentar lagi sudah memasuki jam makan siang, tapi CEO muda bernama lengkap Kim Jongin itu masih terlihat sibuk dengan tumpukan berkas di mejanya.

Tok ... Tok ... Tok ...

Pintu ruangannya terketuk dari luar membuat namja tampan itu mendongakan kepalanya sekilas sebelum kembali berkutat dengan berkasnya.

"Masuk" ucapnya.

Klek ...

"Maaf menggangu mu sajangnim. Karyawan mu yang paling tampan datang berkunjung~"

Kai memutar bola matanya malas. Ck, si telinga lebar ini benar benar.

"Aku sedang sibuk manager Park, jadi sebaiknya anda kembali ke ruangan anda sebelum aku memecat mu sekarang juga"

Bukannya takut, namja si telinga lebar yang di panggil manager Park atau lengkapnya bernama Park Chanyeol itu tertawa. "Ck, memangnya aku takut ancaman mu ?" Ucapnya sambil mendudukan dirinya di kursi yang berada tepat di hadapan Kai.

"Harusnya" Kai mengendikan bahunya. "Meski aku teman mu, tetap saja aku ini adalah atasan mu. Kalau aku mau, aku bisa saja memecat mu sekarang juga!"

Chanyeol mendengus. "Ya! Teman macam apa kau ini! Kalau kau memecat ku, aku akan memberi makan Baekhyun dan Jesper dari mana hah ?"

"Itukan urusan mu, kenapa juga kau harus tanyakan itu padaku"

Err ... Rasanya Chanyeol ingin sekali merobek bibir menyebalkan milik temannya itu. Ck, si Kai ini kalau bicara suka seenaknya.

"Ah ya, ini kan sudah hampir masuk jam makan siang. Apa Sehun tidak mengantarkan bekal untuk mu ?"

"Aku melarangnya" jawab Kai sambil menutup berkas yang baru saja ia periksa.

"Huh ? Kau melarangnya ? Kenapa ? Biasanya kau senang sekali kalau Sehun kemari. Ah, apa Krystal mengajak mu lunch bersama makanya kau melarang Sehun kemari ?"

Namja tan itu menghela napas, menatap sahabatnya itu sekilas sebelum kembali memeriksa berkas yang baru saja ia periksa. "Jangan banyak bertanya, DoBi. Kau membuat ku tidak konsentrasi. Aku harus menyelesaikan semua ini sebelum daddy nya Krystal datang"

"Whoaa ? Daddy nya Krystal ?" Tanya namja jangkung itu kaget. "Kenapa juga Jung sajangnim kemari ?"

"Kami ada urusan"

"Apa ini tentang pertunangan mu dengan Krystal ?"

"Hmm ..." Kai mengangguk semu. "Kami akan memilih cincin untuk pertunangan ku dan Krystal"

"Huh ?" Chanyeol menaikan sebelah alisnya. "Bukankah kau sudah memesan cincin nya ?"

"Yeah ... Aku akan mengambilnya nanti dan memperlihatkannya pada daddy, kalau dia merasa tidak cocok dengan cincinnya, ya terpaksa aku akan mencari lagi"

"Err ... Jadi sebenarnya kau akan bertunangan dengan Krystal atau Jung sajangnim ? Kenapa harus menurut selera Jung sajangnim ? Harusnya kau memperlihatkannya pada Krystal"

"Hmm ... Krystal yang menginginkannya. Dia menyuruh ku melibatkan daddy nya"

"Ah begitu" Chanyeol menganggukan kepalanya mengerti. "Ah ya, bagaimana dengan Sehun ? Dia tau kalau kau akan bertunangan dengan Krystal ?"

Seketika namja tan itu menghentikan pekerjaannya saat mendengar pertanyaan namja jangkung di depannya. Ia menghela napas sebelum mengendikan bahunya.

"Huh ? Kau belum memberitahunya ? Astaga, pertunangan mu kan seminggu lagi. Kapan kau akan memberitahu Sehun tentang ini ?"

"Nanti- bila waktunya sudah tepat" ucap Kai ragu.

Chanyeol menghela napas, ia lalu menatap sahabatnya yang kini membereskan berkas berkas di mejanya.

"Kai, maaf kalau aku terlalu mencampuri urusan mu. Tapi, menurut ku kau harus segera mengambil keputusan. Kau tidak bisa terus menyakiti Sehun dan Krystal seperti ini"

Kai diam, membiarkan Chanyeol melanjutkan kata katanya.

"Uh okay, mungkin disini hanya Sehun yang tersakiti karena Krystal tidak tau apapun mengenai hubungan kau dan Sehun yang 'sebenarnya'. Tapi, Kalau kau benar benar memilih Krystal, maka lepaskan Sehun, begitu juga sebaliknya. Kau tidak mungkin bisa seperti ini selamanya, walau Sehun selalu mengatakan dia baik baik saja di depan banyak orang, bukan berarti dia benar benar tidak terluka" Chanyeol menghela napas. "Kau akan bertunangan dengan Krystal, itu pilihan mu kan ? Kalau kau merasa keputusan mu itu sudah tepat, maka sekarang lah waktu yang tepat untuk melepas Sehun"

"Aku belum siap untuk melepas Sehun" ucap Kai pelan.

"Apa yang membuat mu belum siap ? Kau belum siap karena kau takut kehilangan sex slave pribadi yang bisa kau tiduri kapanpun, begitu ?" Chanyeol berucap sarkastik.

Kai mengusap wajahnya kasar. "Bukan itu, Chanyeol. Aku-" ia menjeda ucapannya. "Aku hanya sedikit bimbang"

"Kai" namja jangkung itu menepuk pundak sahabatnya. "Hanya sedikit saran dari ku, kau harus menentukan pilihan mu secepatnya, sebelum kau terlanjur mengikat dirimu sendiri dengan Krystal dan sebelum semua nya terlambat" Chanyeol tersenyum tipis. "Jangan sampai seseorang diantara mereka akhirnya mengalah lalu meninggalkan mu-"

"Dan kau akan menyesali itu seumur hidup mu karena dia yang meninggalkan mu ternyata adalah seseorang yang sebenarnya kau cintai"

Setelah mengucapkannya, Chanyeol kembali menepuk pundak Kai sebelum meninggalkan ruangan atasan yang sekaligus adalah teman nya itu.

Meninggalkan Kai yang masih mematung di tempat nya.

.

.

.

Hujan kembali mengguyur kota Seoul siang ini, ribuan tetes air dari langit itu berjatuhan seakan berlomba untuk segera jatuh dan membasahi tanah.

Sehun menghela napas, ia tengah berada di balkon kamarnya, menatap rintikan air hujan yang turun. Sebelah tangannya memegang secangkir cokelat panas yang mulai mendingin karena namja cantik itu urung meminumnya.

"Apa yang kalian rasakan saat kalian terjatuh menimpa tanah ?" Sehun bertanya seakan rintikan hujan di hadapanny itu adalah makhluk hidup yang bisa menjawab pertanyaannya.

"Apa rasanya sangat sakit ?" Tanya nya lagi. "Apa kalian tau kalau terjatuh itu rasanya sangat sakit ?"

"Kalau kalian tau rasanya sangat sakit, kenapa kalian masih mau menjadi hujan ? Kenapa kalian masih bertahan kalau pada akhirnya akan jatuh dan hancur juga ?"

Sehun diam sebelum tertawa hambar, kenapa semua pertanyaan yang ia lontarkan terasa sangat menyinggung nya ?

Mungkin, saat ada seseorang bertanya seperti itu, ia juga hanya akan diam seperti hal nya air hujan. Atau satu satunya jawaban yang paling simple adalah 'takdir'.

Dan takdir adalah rahasia Tuhan, kita tidak akan tau bagaimana takdir kita. Meski sebenarnya jauh di lubuk hatinya ia tidak mau seperti ini, tapi kalau ternyata Tuhan sudah menggariskan takdirnya semenyedihkan ini, dia harus bagaimana ? Protes pada Tuhan begitu ? Sudah sesempurna apa memang dirinya hingga berani memprotes Tuhan ?

Seperti hal nya air hujan, ketika Tuhan memerintah kan mereka untuk menjadi hujan, mereka bisa apa selain menuruti perintah-Nya ? Meski tau rasanya akan sakit saat di jatuh kan begitu saja, tapi tetap saja kan mereka tidak bisa melawan takdir ? Lalu apa bedanya dengan Sehun ? Ia juga seperti itu.

Memangnya siapa yang mau ditakdirkan menjadi seseorang yang 'mencintai tapi tidak di cintai' ?

Tidak ada satupun manusia yang ingin menjadi seperti dirinya, begitupun dengan Sehun.

Sehun kembali menghela napasnya, ia menempelkan bibir tipis itu di ujung cangkir yang di genggamnya sebelum kemudian menyesap cokelat panas yang sudah terasa dingin itu.

"Sekali lagi biarkan aku bertahan, setidaknya sampai aku memiliki sebuah alasan untuk pergi"

"Apa kau tidak merasa kedinginan ?"

Sehun tersentak dan hampir saja menjatuhkan cangkir yang di genggamnya sesaat setelah seseorang tiba tiba saja memeluknya dari belakang. Ia menoleh dan mendapati wajah yang begitu ia kagumi itu tengah bersandar di bahunya.

Oh hell! Apa seserius itu dia melamun sampai sampai tidak sadar kalau Kai memasuki kamarnya ?

"Kai ? Kenapa ada disini ? Bukankah kau bilang ada meeting sampai sore ini ?" Tangan putih itu mengusap lengan kecoklatan milik Kai yang melingkar di pinggangnya.

"Hmm ... Aku membatalkan meetingnya" Kai menjawab dengan gumaman pelan, tapi Sehun bisa mendengar nya dengan jelas.

"Kenapa ? Bukankah kau bilang meetingnya sangat penting ?"

"Tidak tau, aku sedang ingin di rumah saja bersama mu, jadi aku membatalkan semuanya dan pulang"

Sehun tidak bisa menahan senyum nya lagi, apa baru saja Kai menjelaskan kalau namja tan itu lebih memilih untuk bersamanya dibanding harus mencari cincin untuk pertunangan nya dengan Krystal ? -Sehun tau kalau Kai bohong sama dia soal meeting, ingat ?-

Ugh ... Kenapa Sehun merasa senang sekali ? Dan kenapa pipinya terasa sedikit menghangat ya ?

"Apa yang membuat mu merona seperti itu ?" Kai mengecup pipi putih itu. "Apa kau merasa kedinginan ?"

Sehun menggeleng pelan. "Tidak, rasanya jadi hangat saat Kai memeluk ku" ucapnya dengan malu malu.

Namja tan yang tengah memeluk nya itu tertawa pelan, ia kembali mengecup pipi Sehun sebelum membawa namja cantik itu ke dalam karena cuaca semakin mendingin di luar sana.

.

.

Sehun mendudukan dirinya di tepian ranjang, menatap Kai yang tengah menutup pintu balkon sebelum kemudian mendudukan diri di sebelahnya.

Tak ada yang mereka bicarakan. Kai diam, begitu juga dengan Sehun.

"Kau-" Sehun melirik namja di sebelahnya sekilas. "Kau sedang memikirkan sesuatu, Kai ?"

"Hmm ?" Kai menoleh, lalu tersenyum tipis. "Tidak"

Sehun menatap Kai lekat, namja tan itu terlihat gusar. Apa yang sebenarnya ia pikirkan ? Apa Kai menyesal karena lebih memilih untuk pulang dan membatalkan janjinya dengan Mr. Jung ?

"Kau terlihat gusar, apa ada sesuatu yang membuat mu bingung ?" Tangan Sehun terulur mengusap bahu si namja tan.

Kai kembali tersenyum tipis lalu menggeleng. "Tidak ada yang membuat ku bingung" ia membalik badannya menghadap Sehun.

Kedua nya saling berpandangan, Kai bisa melihat mata bening dengan manik cokelat itu hanya memantulkan bayangannya.

Apa selama ini hanya ia yang membuat mata indah itu mengeluarkan cairannya ? Apa hanya dia yang membuat namja cantik itu tersakiti ?

Tangan kecoklatannya mengelus pipi putih mulus namja di hadapannya itu.

Ia tersenyum. Apa sudah waktunya ia melepas namja cantik ini ? Tapi kenapa dadanya terasa sesak ?

Apa ia akan tega melihat mata indah itu kembali menangis ? Apa yang akan Sehun pikirkan saat ia mengatakan kalau ia akan melepaskan nya ? Membiarkan nya pergi lalu membiarkan namja cantik itu menanggung semua nya sendirian ?

Kenapa rasanya Kai menjadi namja pengecut yang sangat brengsek kalau melakukan itu ? Setelah apa yang namja manis itu berikan padanya, apa pantas Kai 'membuangnya' demi Krystal ?

Tangan yang semula berada di pipi putih itu perlahan turun ke tengkuk Sehun.

Kai menarik namja di depannya untuk mendekat, sebelum kemudian mendekap tubuh kurus itu. Membawanya kedalam pelukan hangat milik seorang Kim Jongin.

Tidak! Kai tidak bisa kalau harus membiarkan Sehun pergi dari kehidupannya.

"Kau milik ku, Sehun. Milik ku"

Namja cantik yang kini berada dalam pelukannya itu menaikan sebelah alisnya bingung saat Kai terus membisikan kata 'milik ku' di telinga nya.

"Eum ... Aku milik mu, Kai. Berhenti mengatakannya" ucap Sehun pelan sebelum tangannya menarik kepala Kai untuk bersandar di bahunya.

"Kau tidak boleh pergi apapun yang terjadi"

"Ya, aku akan disini sampai Kai tidak menginginkan ku lagi" tangan putih Sehun terulur mengusap pelan rambut namja yang tengah memeluknya itu.

"Aku menginginkan mu selamanya, jadi jangan pergi" Kai semakin mengeratkan pelukannya.

Sehun mengangguk semu. "Aku akan disini-"

'Setidaknya sampai aku benar benar harus mengalah dan pergi' lanjutnya dalam hati.

Hanya saat seperti ini Sehun merasa kalau ia bisa memiliki Kai untuknya sendiri.

Hanya saat ini.

Meski ia tau kalau hatinya akan semakin terluka setelah ini, tapi ia tidak apa apa.

Yang terpenting untuknya adalah Kai tidak mencoba untuk meninggalkan nya.

Sehun tau, ia mungkin menyakiti banyak pihak terutama Krystal. Gadis cantik itu bahkan sudah mengenal Kai sebelum nya, sedang kan Sehun hanyalah seseorang yang tiba tiba saja datang ke kehidupan Kai dan menjadi pihak ketiga diantara keduanya. Ia yang membuat Kai akhirnya harus mengkhianati Krystal, ia yang membuat Kai bimbang, dan harus nya ia juga yang mengalah dan mengakhiri semuanya.

Tapi Sehun tidak ingin mengalah sekarang. Terdengar egois memang, tapi-

Bukankah itu wajar saja ?

Sehun juga seorang manusia yang memiliki sisi egois. Ia hanya berusaha mempertahankan cintanya, walau ia tau kalau cinta nya tak akan pernah terbalas sampai kapanpun.

Biarkan Sehun melakukan apa yang dia inginkan, karena pada akhir cerita hidupnya pilihan satu satu nya yang bisa ia ambil hanyalah dengan mengalah dan membiarkan Kai bahagia dengan cintanya.

Itu akan membuat nya hancur memang, tapi bukankah itu sudah menjadi konsekuensi untuknya ?

"Kai, kau akan bertunangan dengan Krystal ?"

Tubuh Kai menegang saat mendengar pertanyaan lirih dari namja yang di peluk nya itu. Ia menghela napas lalu kemudian mengerat kan pelukannya.

"K-kau tau itu ?"

"Eum ..." Sehun mengangguk sebelum tangan putih halusnya melingkar di punggung Kai. "Maaf sudah lancang, tapi aku tak sengaja membaca pesan dari ayah Krystal pada mu tadi pagi"

Kai melepas pelukannya, lalu menatap namja di depannya serius.

"Sehun, ak-"

Ucapan namja tan itu terhenti saat Sehun mengecup cepat bibir tebalnya. Sehun tersenyum.

Senyum tulus yang membentuk eyesmile cantik.

"Jangan menyuruh ku untuk menyerah sekarang. Aku masih bisa bertahan" Sehun kembali melingkarkan tangannya di pinggang Kai, menyandarkan kepalanya di bahu tegap yang akan selalu terasa nyaman untuk nya.

Menyembunyikan air mata yang terus mendesak, berusaha meruntuhkan dinding penghalang di pelupuk matanya.

Tubuh ringkih itu bergetar menahan tangis.

Tidak! Tidak! Ia tidak boleh menangis di hadapan Kai! Tidak boleh!

Tapi rasanya Sehun sudah tidak kuat lagi, ia sudah menahannya sejak Kai datang menemuinya.

"Sehun, kau menangis ?"

Sehun mengigit bibir bawahnya kuat, mencegah isakan yang terus merangsek memaksa keluar dari bibir tipisnya.

"Tidak!"

"Kau menangis" suara Kai terdengar tenang, tapi itu membuatnya tidak bisa menyembunyikan apapun dari Kai.

"Kau menangis, Sehun"

"Tidak! Hiks ..." Sehun mengeratkan pelukannya. "Aku tidak menangis! Aku-"

"Aku tidak hiks- menangis! Aku baik baik saja dan hiks-"

"Lepas pelukan nya"

"Tidak tidak hiks! Tidak" Sehun semakin mengeratkan pelukannya.

"Ku bilang lepas, Oh Sehun" Kai berucap tenang tapi berbahaya.

Sehun menggeleng. "Tidak mau hiks-"

"Oh Sehun, ku-"

"Tidak hiks! Tidak! Kau tidak boleh melihat ku menangis Kai hiks- tidak boleh"

Kai melepas pelukannya dengan paksa, lalu menangkup kedua pipi Sehun, memaksa manik cokelat berair itu agar membalas tatapannya.

"Katakan padaku-" kedua mata namja tan itu berair saat sadar kalau manik indah di hadapannya itu terlihat begitu terluka. Ia bahkan bisa melihat luka dalam yang begitu menyakitkan hanya dengan sekali tatap.

"Katakan pada ku kalau kau terluka dan tidak baik baik saja, Sehun"

Sehun menggeleng sebelum akhirnya tangis yang sedari tadi ia tahan pecah begitu saja.

Bibir tipisnya bergetar, mengeluarkan isakan isakan menyayat hati yang entah kenapa terasa begitu menusuk hati namja tan di hadapannya.

"Aku hiks-" Sehun mengigit bibir bawahnya. "Aku hanya tidak ingin kehilangan mu hiks-" jemari lentik putih itu menghapus air mata di pipinya dengan kasar.

"Aku hanya tidak ingin siapapun memiliki mu lebih dari aku hiks- aku tidak ingin Krystal yang akhirnya mendapatkan mu hiks- aku tidak ingin Krystal yang akhirnya bisa memiliki mu seutuhnya. Kai hiks- aku begitu terluka, rasanya begitu sakit. Aku tidak baik baik saja Kai, tidak pernah merasa baik baik saja hiks-"

Kai diam, tapi air matanya kini sudah jatuh membasahi kedua pipi. Rasanya ada benda tak kasat mata yang menusuk tepat ulu hatinya saat menatap Sehun yang kini menangis di hadapannya.

Sakit sekali.

Namja itu selalu berpura pura baik baik saja di hadapannya, ia tidak tau apa Sehun pernah menangis lebih dari ini saat ia tidak ada di samping namja cantik itu.

Setaunya, ia sudah menyakiti hati Sehun sejak lama.

Tanpa sadar kalau semua itu menorehkan luka di hati Sehun.

Berpura pura tidak tau dengan perasaan Sehun padanya, mengabaikan rasa bersalah yang selalu menghantuinya saat ia harus kembali menyakiti namja di hadapannya.

"Aku-"

"Aku akan membatalkan semuanya kalau itu bisa membuat semua luka di hati mu mereda" Kai berucap lirih. "Aku akan memilih mu dan membatalkan pertunangan ku dengan Krystal"

Sehun mendongak, menatap Kai dengan pandangan memburam. Namja cantik itu tertawa dalam hati saat melihat keraguan saat kedua manik kelam itu menatapnya.

Kasihan eh ? Kai hanya mengasihaninya ?

"Jangan mengatakan itu saat bersama ku dan mengatakan hal berbeda saat kau bersama Krystal" Sehun menghela napasnya, tidak membiarkan air matanya kembali jatuh. "Aku bisa melihat keraguan di mata mu, Kai. Jangan mengatakan kalau kau akan memilih ku saat hati mu tidak bisa menerima itu"

"Sehun-"

"Aku memang tidak ingin Krystal memiliki mu, tapi aku juga tidak ingin kau memilih ku hanya karena kau kasihan padaku" Sehun tersenyum miris lalu menangkup kedua pipi Kai. "Aku tau aku ini siapa dan apa mu. Tidak usah mengasihani ku, aku tau apa yang harus aku lakukan. Aku sudah terlalu kebal untuk terluka. Tapi-"

"Suatu saat, aku atau Krystal akan pergi dari mu. Salasatu dari kami pada akhirnya harus mengalah dan pergi. Dan ku harap saat semua terjadi, kau tidak akan menyesali itu. Disini-" Sehun menyentuh degupan teratur di dada Kai. "Kau akan menemukan jawaban dari kebimbangan mu. Tanya kan pada hati mu, siapa yang harus nya kau bahagiakan"

Setelahnya, namja cantik itu mendekatan tubuhnya dan mengecup bibir Kai sekilas sebelum kemudian beranjak meninggalkan Kai di kamarnya.

Sehun tersenyum, ia berbalik menatap Kai sebelum tangannya menarik knop pintu.

.

.

.

One week later ...

Seoul mulai memasuki musim dingin, salju pertama turun sore kemarin. Cuaca semakin mendingin karena hujan salju kembali turun hari ini.

Sehun memijit pelan pelipisnya yang terasa pening. Ugh ... Ia merasa tidak enak badan sejak kemarin, tubuhnya bahkan terasa begitu lemas. Untuk berjalan ke dapur saja Sehun harus berpegangan pada dinding agar tidak terjatuh.

Kini namja manis itu hanya sendirian di apartmen, Kai sedang sibuk mengurus pesta pertunangannya dengan Krystal, dan Kyungsoo sedang perjalanan kemari.

Ah ya, soal pesta pertunangan, Sehun belum yakin kalau ia bisa datang malam nanti dalam keadaan tubuh nya yang seperti ini.

Kai sudah tau tentang dirinya yang tengah tidak enak badan. Awalnya namja tan itu ingin menemaninya disini, tapi ia tidak enak pada Krystal.

Tidak mungkin kan Krystal mempersiapkan pesta pertunangannya sendiri tanpa Kai ?

Sehun menghela napas, jemari putihnya menarik selimut sebatas leher. Ia sudah terbaring sejak tadi pagi, tapi sudah sempat sarapan karena Kai sudah menyiapkan bubur untuknya sebelum namja tan itu pergi.

Ia tersenyum. Sikap Kai memang sedikit berubah, sedikit lebih perhatian padanya, meski yeah ... namja tan itu masih saja selalu mementingkan Krystal, tapi Sehun tetap bersyukur. Setidaknya ada alasan untuknya agar lebih lama berada di sini.

Ding dong ...

Ponselnya yang tersimpan di nakas dekat tempat tidur berbunyi, menandakan ada sebuah pesan masuk untuknya. Sehun segera meraih ponselnya sebelum kemudian membaca pesan yang ternyata di kirim oleh Kyungsoo.

'Hun-ah, aku sudah ada di depan apartment mu. Buka pintunya'

Sehun membalas pesan kakak sepupunya itu sebelum kembali menyimpan ponselnya di nakas.

'Buka saja hyung. Passwordnya 88941201, aku benar benar tidak bisa bangun, kepala ku Pusing sekali'

Klik ...

Send.

.

.

"Suhu badan mu panas sekali" Kyungsoo menempelkan telapak tangannya di kening Sehun. Ia menatap Sehun yang kini terbaring lemah. "Kenapa bisa sampai seperti ini ?"

"Hmm ..." Sehun membuka matanya yang baru saja terpejam. "Pergantian musim, kau tau kan tubuh ku sedikit sensitif terhadap perubahan cuaca"

"Ck, aku tau itu" Kyungsoo melepas termometer di mulut Sehun. "Tapi tidak pernah separah ini sebelum nya, paling kau hanya terkena flu ringan. Lihat" namja mungil itu memperlihatkan hasil termometernya pada Sehun. "39,5 derajat"

"Eum ..."

"Ke dokter ya ?"

Sehun menggeleng. "Aku tidak kuat berjalan. Pusing sekali"

"Aku akan panggil suami ku kemari"

"Apa tidak merepotkan ? Luhan ge kan sedang bekerja"

"Sudah masuk jam makan siang" ucap Kyungsoo. "Lagipula, masa ia tega membiarkan sepupunya sakit seperti ini. Tunggu sebentar, aku akan menghubungi nya, okay ?"

Sehun menghela napas sebelum mengangguk pasrah. Yasudahlah, lagipula ia benar benar sudah tidak kuat. Kepalanya benar benar terasa mau pecah, di tambah ada sedikit rasa mual yang tiba tiba saja muncul.

Ck, ini bukan karena Kai akan bertunangan kan ?

.

.

.

Satu jam kemudian, Luhan sudah tiba di apartment yang di tempati oleh sepupu dan teman sepupunya itu.

"Kau bisa berjalan tidak ?" Tanya Luhan saat ia dan Kyungsoo berhasil mendudukan Sehun di tepian ranjang.

"Pusing" gumamnya. "Tapi aku coba dulu"

"Kalau tidak bisa jangan di paksakan" Kyungsoo memegangi lengan kanan Sehun.

"Hunna, biar aku menggendong mu, ya ?" Namja bermata rusa itu menjongkokan dirinya di hadapan Sehun.

Sehun menggeleng. "Tidak usah ge. Aku bahkan lebih tinggi dari mu. Sudah, papah aku saja. Aku masih bisa berjalan pelan pelan"

Luhan mendengus. "Yasudah" ucapnya, ia melingkarkan tangannya di pinggang Sehun, dan menyimpan tangan Kiri Sehun agar melingkar di bahunya, dan tangan sebelah kanan melingkar di bahu Kyungsoo.

Kyungsoo dan Luhan memapah tubuh Sehun dengan hati hati. Tapi belum juga Luhan membuka knop pintu kamar, tubuh dalam rengkuhannya itu terkulai lemah sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri dalam pelukan keduanya.

"ASTAGA! SEHUN!"

.

.

.

Krystal menatap kagum gaun indah di hadapannya. Mata dengan lens berwarna buru laut itu tak hentinya menatap gaun putih yang akan ia kenakan malam nanti.

Oh Tuhan ... Kai sangat tau seleranya. Ia tidak menyangka kalau Kai akan membelikannya gaun seindah ini.

"Bagaimana ? Kau suka ?"

Kecupan lembut di pelipis dan rengkuhan mesra di pinggang rampingnya membuat Krystal menoleh kan kepalanya, menatap sang kekasih.

"Suka" Krystal mengangguk antusias. "Sangat suka"

Kai tersenyum. "Syukurlah kalau kamu suka. Aku sampai harus meminta bantuan Jessica noona untuk membatu ku mendesain gaun yang benar benar cocok dengan mu"

"Aku benar benar suka gaun nya. Ini sangat mirip dengan apa yang aku bayangkan" gadis cantik itu berbalik menatap Kai. "Terimakasih, aku mencintai mu, sangat"

"Apapun untuk mu, sayang" Kai menyatukan keningnya dengan kening gadis di hadapannya. "Ku harap aku bisa memberi mu lebih dari ini saat kita menikah nanti"

Krystal mengangguk semu. "Semoga tidak ada satupun halangan untuk itu"

"Y-ya, semoga" gumam Kai ragu. Namja tan itu tersenyum sebelum mengecup bibir gadisnya sekilas.

"Cha! Kau harus mencoba gaun nya. Aku ingin lihat beberapa cantik nya dirimu saat memakainya"

Pipi Krystal bersemu merah mendengar ucapan kekasihnya itu. "B-baiklah, tunggu disini sebentar"

Kai mengangguk sebelum kemudian mendudukan dirinya sofa yang tersedia sesaat setelah Krystal memasuki ruang ganti.

Namja tan itu terdiam. Apa baru saja ia memberi gadis cantik itu harapan ?

Hehey! Siapa yang seminggu yang lalu mengatakan kalau ia akan memutuskan pertunangannya dengan Krystal demi Sehun ?

Lalu ? Siapa juga yang mengatakan kalau ia ingin menikahi Krystal barusan ?

Sebenarnya apa mau mu Kim Jongin ?

Kenapa bisa kau dengan mudahnya mengabaikan Sehun saat bersama Krystal, lalu kau juga bisa dengan mudahnya mengabaikan Krystal ketika kau bersama Sehun ?

Mengatakan akan meninggalkan Krystal di depan Sehun, memberi namja cantik itu harapan yang nyatanya hanyalah bualan semata. Lalu mengatakan akan menikahi Krystal di depan gadis cantik itu, tanpa tau apa yang akan terjadi pada Sehun kalau Sehun tau. Tanpa tau apa yang akan terjadi pada Krystal kalau gadis cantik itu tau selama ini namja yang begitu ia cintai ternyata masih ragu dengan cinta nya terhadap gadis cantik itu.

Oh, Kau lebih brengsek dari semua laki laki brengsek di dunia, Kim Jongin!

.

.

.

"Apa Sehun akan baik baik saja ?"

Itu pertanyaan sama yang keluar dari bibir tebal Kyungsoo untuk yang ke sembilan kalinya.

Kini keduanya sudah berada di rumah sakit. Sehun sudah berada di ruangan untuk di periksa dokter, sedangkan Luhan dan Kyungsoo menunggu di tepat di depan ruang rawat Sehun.

"Semoga saja" gumam Luhan sambil mendudukan dirinya di kursi yang tersedia.

"Aku khawatir sekali. Sehun tidak pernah seperti ini sebelumnya" Kyungsoo mendudukan dirinya di sebelah Luhan.

Luhan menghela napas. "A-"

Klek ...

Pintu ruangan tempat Sehun di tangani terbuka, membuat namja bermata rusa itu menghentikan ucapannya.

Luhan dan Kyungsoo segera berdiri dari duduk nya saat dokter yang menangani Sehun keluar dari ruangan.

"Bagaimana keadaan Sehun, uisanim ? Apa dia baik baik saja ?" Kyungsoo menggampiri Kim uisa yang masih berdiri di ambang pintu ruangan.

Kim uisa berdehem, menatap Luhan dan Kyungsoo bergantian sebelum melontarkan pertanyaan yang membuat sepasang suami istri itu terdiam sejenak.

"Apa ada diantara kalian yang merupakan pasangan dari pasien ?"

Keduanya saling berpandangan, dan Luhan bisa melihat isyarat bibir Kyungsoo yang seakan mengatakan 'katakan padanya kalau kau adalah suami Sehun'

"Saya" ucap Luhan cepat. "Saya suaminya, uisanim"

Kim uisanim menatap Luhan sebelum kemudian bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "Ah baiklah, bisa ikut ke ruangan ku sebentar ? Ada yang harus aku katakan pada anda mengenai pasien"

Luhan mengangguk. "Tentu uisanim"

"Mari ikuti saya" dokter paruh baya itu berjalan mendahului di ikuti oleh Luhan di belakangnya.

"Tunggu!"

Ucapan Kyungsoo sontak membuat kedua nya menghentikan langkah mereka lalu berbalik, menatap si namja bermata bulat.

"B-boleh aku ikut kalian ? A-aku adalah kakak kandung Sehun. D-dan y-ya aku ingin tau apa yang sebenarnya terjadi pada adik ku" Kyungsoo menatap Kim uisanim dengan tatapan memohonnya. "B-bolehkah ?"

Kim uisanim menghela napas lalu mengangguk meng-iya-kan.

Kyungsoo tersenyum sebelum kemudian setengah berlari mengikuti Kim uisa yang sudah kembali melanjutkan langkahnya.

.

.

"Silakan duduk"

"Terimakasih, uisanim" Luhan tersenyum sebelum mendudukan dirinya di hadapan dokter paruh baya itu, di ikuti oleh Kyungsoo yang mendudukan diri disebelahnya.

"Sebelumnya, aku ingin mengucapkan selamat padamu, tuan Lu"

"Huh ?" Luhan menaikan sebelah alisnya bingung mendengar ucapan dokter di hadapannya itu.

"Ini hanya terjadi satu berbanding seratus juta pria di dunia. Sebenarnya kasus seperti ini pernah terjadi beberapa kali, tapi memang sangat jarang di temukan" Kim uisa tersenyum. "Anggap saja ini mukzizat Tuhan yang Dia berikan pada kalian. Dan selamat, Sehun tengah mengandung dengan janin berusia 4 minggu"

Hening ...

Luhan maupun Kyungsoo sama sama terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja Kim uisanim katakan.

"A-apa baru saja anda mengatakan k-kalau Sehun hamil ?" Tanya Kyungsoo hati hati.

Kim uisanim mengangguk. "Ya, adik mu tengah mengandung. Memang terdengar aneh, tapi biasanya kasus seperti ini di pengaruhi oleh faktor genetik"

"Ibu nya Sehun adalah seorang namja" gumam Luhan. "Apa tidak terlalu beresiko bila seorang namja mengandung, uisanim ?"

"Sebenarnya kehamilan seorang pria tidak sekuat wanita. Rahim nya tergolong lemah. Kau sebagai suaminya sebaiknya menjaga Istri mu dengan baik. Stress dan terlalu banyak pikiran bisa saja memengaruhi kehamilan nya, resiko kematian si ibu saat kandungan mulai berusia di atas 5 bulan pun bisa saja terjadi. Aku akan memberi beberapa resep obat untuk memperkuat kandungan pasien, semoga saja ini bisa membantu" Kim uisa memberi kan secarik kertas yang merupakan resep obat pada Luhan. "Sering seringlah memeriksakan kandungan pasien, itu bisa sedikit mengurangi kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi pada pasien"

Luhan mengangguk. "Terimakasih uisanim"

Kim uisa tersenyum sebelum kemudian mengangguk. "Kalian sudah bisa melihat keadaan pasien sekarang"

"Baiklah" Luhan berdiri dari duduk nya. "Kami permisi uisanim, sekali lagi Terimakasih" ia membungkukan badannya sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Kim uisa, di ikuti oleh Kyungsoo.

.

.

Luhan menghela napas, di tatapnya Sehun yang kini masih terbaring lemah dibangsal rumah sakit.

Namja cantik itu sudah sadar dari pingsannya, tapi ia terlihat lemas sekali. Mata sayu dengan manik caramel itu menatap Kyungsoo dan Luhan bergantian.

"Apa yang terjadi ? Kenapa kalian jadi diam diaman seperti ini ?"

Kyungsoo tersenyum, ia mendudukan dirinya di sebelah bangsal tempat Sehun terbaring, lalu menggenggam jemari putih adik sepupu suaminya itu.

"Sehun, mungkin Tuhan tau kalau kau adalah namja yang kuat" Kyungsoo mengecup jemari Sehun. "Ku harap kau tidak berniat untuk melakukan hal buruk terhadap diri mu sendiri saat kami mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padamu"

Sehun menatap Kyungsoo bingung. "Apa maksud mu, hyung ? Aku tidak terkena sebuah penyakit yang akan membuat ku mati besok, kan ?"

Luhan mengusap surai yang hampir menutupi mata sipit Sehun, membuat namja cantik itu mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo.

"Ge ? Aku tidak terkena gegar otak atau leukimia kan ?"

Dan Sehun bisa melihat kalau Luhan menggeleng kan kepalanya.

"Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak bermain terlalu jauh dengan luka mu sendiri" Luhan memberi kan secarik kertas berisi hasil pemeriksaan adik sepupunya itu pada Sehun. "Kau tau kalau kau akan hancur pada akhirnya"

Sehun menatap Kyungsoo sebelum kemudian membuka lipatan kertas yang di berikan Luhan.

"Katakan semua itu pada Kai dan suruh dia mempertanggung jawabkan semua yang sudah dia lakukan padamu" Luhan melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Sehun.

"Sebelum aku membunuhnya dengan tanganku sendiri"

"H-hyung-"

.

.

.

Rasanya seperti sudah tidak memiliki nyawa lagi. Ada setitik kebahagiaan hanya saja semua itu di balut oleh rasa kecewa dan sakit yang berlebihan.

Bahagia karena di perutnya kini tumbuh janin hasil buah cintanya dengan Kai, dan kecewa karena takdir menyedihkan yang seakan tidak pernah menginginkannya untuk hidup bahagia.

"Hanya ada dua pilihan untuk mu, Sehun" Luhan menatap sepupunya yang tengah menundukan kepalanya. "Katakan atau pergi"

Sehun mendongak, manik cokelatnya menatap manik sewarna dengannya milik Luhan. "G-ge, ini tidak mudah. Aku tidak mungkin mengatakan semuanya pada Kai, a-"

"Katakan atau pergi, Oh Sehun"

Namja cantik itu terdiam, ia mengigit bibir bawahnya bingung. Matanya mengedar menatap Kyungsoo yang duduk di samping Luhan. Menatap kakak sepupunya itu seakan bertanya-

'Apa yang harus aku lakukan'

Dan Sehun bisa melihat gelengan pelan sebagai jawaban dari Kyungsoo.

"Atau kau ingin aku menghancurkan pesta pertunangannya malam ini dan mengatakan semuanya di depan Krystal d-"

"Tidak!" Sehun menggeleng kuat. "A-aku-" kedua mata sipit itu memburam, sebelum setitik liquid bening jatuh seiring dengan-

"Aku akan pergi-"

"A-aku yang akan pergi, ge. Jangan lakukan itu" Sehun menyeka air matanya. "Kai harus tetap bahagia dengan cintanya hiks-"

"Aku yang akan pergi. A-aku akan pergi tapi tolong biarkan aku bertemu dengan Kai untuk yang terakhir kalinya" namja cantik itu menatap Luhan dengan tatapan memohonnya.

"Temani aku untuk menghadiri pertunangan Kai dan Krystal malam ini" Sehun mengigit bibir bawahnya menahan isakan.

"Setelahnya, aku akan benar benar pergi. Ge, aku janji hiks-"

.

.

.

Acara pertunangan Kai dengan Krystal di gelar di ballroom salasatu hotel bintang lima di Seoul dan di hadiri oleh beberapa tamu penting yang merupakan kolega dari perusahaan yang di pegang oleh ayah Jongin dan Mr. Jung.

Semua orang yang datang terlihat bahagia, tak terkecuali Jongin dan Krystal tentu saja. Kedua nya terlihat serasi dengan si gadis yang memakai balutan gaun indah berwarna putih gading dan Kai yang memakai tuxedo berwarna senada dengan gaun yang kekasih nya kenakan.

Mereka terlihat begitu bahagia, keduanya tak henti menyunggingkan senyum manis saat menyapa para tamu yang datang.

Sehun tersenyum tipis menatap bias kebahagiaan yang terpancar di wajah tampan milik Kai.

Oh, namja tan itu pasti sangat bahagia ya ?

"Jadi, mau menemui mereka ?"

Namja cantik itu menoleh, menatap Kyungsoo yang kini sudah berdiri di sebelahnya.

"Ah hyung. Dimana Luhan ge ?"

Kyungsoo menunjuk seorang namja tampan yang kini tengah mengobrol dengan Mr. Kim dengan dagunya.

"Dia sudah terlarut dengan omongan tidak penting nya bersama ayah Kai tentang bisnis. Bagaimana ?" Namja bermata bulat itu menatap sepupunya. "Mau menemui mereka sekarang ?"

Sehun mengigit bibir bawahnya lalu mengangguk pelan.

Ia di bantu Kyungsoo -karena kepalanya masih sedikit Pusing- melangkahkan kakinya mendekati Kai dan Krystal yang kini tengah berbincang dengan beberapa kerabat namja tan itu.

"Oh hai Sehun! Kau datang ?"

Ucapan Krystal barusan membuat Kai mengalihkan pandangannya pada namja cantik yang kini tengah tersenyum tipis kearah kekasih nya.

"Selamat ya" Sehun berucap lirih. "Aku menunggu undangan pernikahan kalian" guraunya meski nada bicaranya sama sekali tidak cocok untuk digunakan sebagai bahkan candaan.

Tapi untung saja Krystal mengerti kalau Sehun hanya bergurau, gadis cantik itu tertawa pelan. "Doakan saja yang terbaik untuk kami. Dan Terimakasih sudah datang Sehunnie. Kai bilang kau sedang sakit"

"Y-ya" Sehun melirik Kai sedikit risih.

Kenapa Kai menatap nya seperti itu sejak tadi ?

"Aku hanya sedikit tidak enak badan. Tapi untung saja ada Kyungsoo hyung dan Luhan ge yang mau mengantar ku kemari"

"Eum ..." Krystal mengangguk. "Aku sudah bertemu dengan gege mu itu tadi, dan sekarang dengan Istrinya" gadis cantik itu tersenyum pada Kyungsoo kemudian membungkukan badannya semu. "Terimakasih sudah mau datang nyonya Lu"

Kyungsoo hanya tersenyum tipis sebagai balasan dari ucapan Krystal.

"Ah ya, silakan nikmati jamuan makan yang kami siapkan"

Sehun mengangguk, ia mendekati Krystal dan memeluk gadis itu sekilas sebelum kemudian beralih memeluk Kai yang sedari tadi hanya diam sambil menatapnya.

"Kau terlihat pucat sekali, aku sudah bilang tidak usah datang kan ?" Bisik namja tan itu sambil membalas pelukan Sehun.

"Aku baik baik saja" lirih Sehun. "Aku akan menunggu mu di apartment, segeralah pulang setelah semuanya selesai. Pulanglah dan jangan pergi kemanapun. Aku menunggu mu, Kai"

Dan Sehun merasa kalau Kai mengangguk dalam pelukannya. Namja cantik itu tersenyum sebelum kemudian melepas pelukannya.

Ia kembali memasang senyum bahagia palsunya untuk Krystal, kembali memberi selamat sebelum meninggalkan pasangan berbahagia yang sudah kembali terlarut dengan para tamu undangan.

.

.

.

TBC

.

.

.

Thanks buat yang udah nyempetin review, Maaf gak bisa bales review nya satu satu^^

Thanks juga buat sider ^^ masih betah buat nyider ? Kkk, chapter ini mohon tinggalkan jejak di kolom review ya, Terimakasih ^^

Ah ya ... Nc nya chapter depan ya ^^

So, mind to review -lagi ?

See you next chapter ^^

Hann Hunnie~