Pairing : Meanie
Rated : T/M
Length : Chaptered
Warning : Boys Love and Typo
.
.
Wonwoo duduk di ranjang berukuran besar. Ranjang yang begitu empuk. Selama hidupnya, baru kali ini Wonwoo merasakan duduk di ranjang seperti itu. Ia yakin akan mimpi indah saat tidur di atasnya.
Mata tajamnya menyapu sekitar kamar. Memperhatikan setiap sudut kamar. Setiap inchi barang yang terletak di kamar itu, tidak luput dari perhatiannya. Kamar yang di dominasi warna putih dan coklat itu tampak begitu mewah. Saat tangan lentiknya menyentuh seprai, ia bisa merasakan kelembutannya.
Ia hanya bisa berdecak kagum. Semua yang ia lihat dan sentuh benar-benar bukan barang biasa. Wonwoo tidak tahu harus bekerja berapa lama untuk mendapatkan kamar seperti itu. Jangankan kamar, ranjang ia duduki saja ia tidak tahu harus mengahabiskan waktu berapa lama bekerja.
"Siapapun pemilik rumah ini, tapi yang pasti dia benar-benar kaya," gumam Wonwoo.
Pemuda berambut hitam legam itu berjalan ke arah jendela. Tangannya menyibak tirai yang menghalangi pandangannya. Lagi-lagi ia berdecak kagum. Halaman rumah itu begiu luas. Yang ada di pikirannya, berapa jam kalau ia harus membersihkan halaman itu.
Meski di kamar yang begitu mewah, tetap membuat Wonwoo tidak betah. Ia bukan seorang putri yang sering di kurung seperti film kartun. Ia hanya pemuda biasa yang senang bekerja. Suka menghabiskan waktunya untuk mencari uang. Bukan hanya berdiam diri seperti ini.
Tangan Wonwoo menyentuh kenop pintu. Membuka sedikit pintu yang berdiri kokoh itu. Belum sempat menyembulkan seluruh kepalanya, Wonwoo kembali menutup pintu. Bergidik dengan orang-orang di luar sana. Mereka bertubuh besar dengan senjata di tangan masing-masing. Kalau mereka tanpa senjata, Wonwoo masih bisa melawan mereka.
"Ck, aku benar-benar seperti tawanan. Ini terlalu berlebihan," ucapnya frustasi. Ia benar-benar mengumpat siapa pun tuan muda yang membuatnya seperti ini.
"Ya Tuhan, apa ini memang takdirku?" batin Wonwoo miris.
Ia mempercayai ucapan salah satu orang yang menyekapnya. Ia akan hidup berkecukupan karena menikah dengan tuan mudanya. Melihat isi kamar ini saja Wonwoo sudah sangat yakin. Tapi bukan ini yang Wonwoo inginkan. Wonwoo masih ingin mencari kebahagiaanya sendiri. Ia masih ingin bekerja dan menghidupi diri sendiri. Dan lagi, Wonwoo masih ingin mencintai dan di cintai. Selama hidupnya, Wonwoo tidak pernah merasakan bagaimana rasanya mencintai dan di cintai.
"Hidup sekali dan mati sekali. Aku juga ingin mencintai sekali. Tapi kalau seperti ini jadinya? Sepertinya memang tidak akan pernah ada cinta dalam hidupku," batin Wonwoo lagi.
Kepalanya mendongak saat mendengar suara pintu yang terbuka. Di depan pintu, terlihat seorang laki-laki paruh baya dengan rambut yang mulai memutih. Wonwoo tidak takut karena sepertinya laki-laki itu sedikit berbeda. Tidak semenyeramkan laki-laki bertubuh besar di luar sana.
"Apa ada yang tuan muda inginkan?"
"Ahjussi jangan panggil tuan muda. Panggil Wonwoo saja." Tolak Wonwoo. Ia hanya seorang laki-laki pengantar paket kilat. Bukan anak orang kaya atau semacamnya.
"Tapi anda akan menikah dengan tuan muda kami," ucap laki-laki itu sopan.
"Aku tidak suka Ahjussi. Bagaimanapun aku hanya laki-laki yang mereka temukan di jalan. Jadi tolong jangan membuatku semakin tertekan Ahjussi. Panggil namaku saja. Tapi ingat! Tidak ada sapaan formal."
Laki-laki yang mengenakan jas formal itu tersenyum. Ia ikut mendudukkan dirinya di samping Wonwoo. "Baiklah kalau itu maumu Wonwoo-ya," ucap laki-laki itu yang membuat Wonwoo sumringah.
"Seperti itu lebih baik Ahjussi. Apa Ahjussi juga sama seperti mereka?" Wonwoo menunjuk sekawanan pria berbadan kekar yang ada di balik pintu.
"Bukan, ahjussi adalah kepala pelayan di keluarga Kim." Wonwoo mengangguk. Firasatnya memang tidak salah. Pelayan Kim memang tidak semenyeramkan yang lain. Bahkan wajahnya tampak begitu bersahaja.
"Ahjussi, seperti apa tuan muda itu? Kenapa aku di paksa menikah dengannya?"
"Tuan muda itu anak yang sedikit nakal. Ia menjadi satu-satu penerus keluarga ini. Tapi tuan muda lebih senang dengan kebebasannya. Jadi kau di harapkan bisa merubahnya. Dengan menikah, keluarga Kim berharap tuan muda berubah." Wonwoo mengumpat tertahan dalam hati. Tidak menyangka akan di nikahkan dengan orang seperti itu.
"Uuugh, kalau seperti ini aku seperti guru privat kepribadian saja," batin Wonwoo.
"Lalu kenapa harus aku Ahjussi? Aku yakin keluarga ini bisa mencari yang sederajat dengan mereka. Bukan orang sepertiku." Pelayan Kim tersenyum. Ia tahu semua orang pasti akan berpikiran seperti itu. Begitu pula dengan dirinya sendiri. Dengan status keluarga Kim, ia yakin bisa mencari yang sederajat. Bahkan dengan tampang tuan mudanya, tidak akan sulit untuk mendapatkan yang lainnya.
"Kalau itu ahjussi tidak tahu Wonwoo-ya!"
"Kalau wajah tuan muda itu seperti apa, Ahjussi?"
"Untuk yang satu itu, ahjussi tidak bisa berkomentar apa-apa."
Wonwoo menangis dalam hati. Pelayan Kim tidak bisa mengatakan seperti apa rupa tuan mudanya. Bahkan mendeskripsikan sedikitpun tidak. "Seburuk itukah sampai ahjussi tidak sanggup mengatakannya," batin Wonwoo frustasi. Pemikiran Wonwoo terlalu sempit. Padahal maksud pelayan Kim, karena terlalu tampan ia sampai tidak bisa berkomentar apa-apa.
.
.
.
Seorang wanita berumur berjalan memasuki rumah megah. Kedatangannya langsung di sambut, anak, menantu dan juga cucu tampannya. Ia tetap melenggang santai meski wajah-wajah itu harap-harap cemas menunggu kedatangannya.
"Eomma sudah pulang! Duduklah eomma! Eomma pasti lelah." Wanita tua itu tersenyum. Anaknya menuntunnya untuk duduk di sofa.
"Halmonie benar-benar mencarikan istri untukku?" kali ini yang berbicara adalah cucu satu-satunya. Wajah tampan itu memandangnya serius. Lagi-lagi ia dengan santai melepas kaca mata yang ia kenakan. Meletakan di meja dan mencari posisi duduk yang nyaman.
"Sudah," jawabnya singkat yang membuat cucunya semakin gusar.
"Di jalan?" tanya cucunya lagi.
"Iya. Tadi Halmonie mencari di jalan. Dan dapat satu yang bagus." Mingyu menelan salivanya susah payah. Sepertinya sang nenek benar-benar ingin mengakhiri masa indahnya. Kalimat sang nenek membuat hatinya semakin miris. Mendapat satu calon istri yang bagus di jalan sangat keterlaluan menurutnya. Bagaimana pun ia adalah CEO muda yang di gilai banyak wanita.
"Benar-benar di jalan?" Mingyu mencoba untuk tidak percaya. Tapi nenek yang sangat memanjakannya itu tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"Di jalan. Tepatnya di pinggir jalan."
Mingyu benar-benar ingin menangis sekarang juga. Ini adalah pernikahannya. Bukan mencari tanaman atau sejenisnya. Tidak bisakah mencari di tempat yang lebih masuk akal?
"Jadi di mana Halmonie simpan sekarang? Aww…!" Mingyu langsung memekik saat sang nenek menarik telinganya.
"Dasar cucu nakal! Kau kira cucu menantu Halmonie itu barang? Pakai di simpan-simpan. Dia berada di tempat yang aman. Besok di altar kau akan melihatnya." Mingyu menarik nafasnya dalam-dalam. Ia seperti tengah memperjuangkan hidup matinya seorang diri. Ibunya sama sekali tidak menolong. Apalagi sang ayah. Bahkan ayahnya tampak begitu gembira.
"Daehee-ya, apa kau sudah mempersiapkan semuanya?" tanya sang nenek pada anak perempuannya.
"Sudah eomma! Semuanya sudah beres. Tinggal baju pengantin untuk calon istri Mingyu yang belum ada," jawab ibu Mingyu sambil melihat kembali catatannya.
"Itu masalah mudah. Eomma sudah mengirim beberapa orang untuk membawakan beberapa macam tuxedo. Nanti dia yang akan memilihnya di sana!" tuan Kim mengangguk-anggukan kepalanya. Tanpa perlu bersusah payah, ia benar-benar akan memiliki menantu. Tinggal memantau dari jauh dan berpangku tangan, keinginannya untuk memiliki cucu akan segera terlaksana.
"Halmonie bagaimana orangnya? Maksudku ciri-cirinya bagaimana?" tanya Mingyu penasaran. Sepertinya Mingyu masih belum bisa tenang. Ia masih terus memikirkan tentang wujud dari calon istrinya. Terlalu takut untuk membayangkan mendapat istri yang buruk rupa. Bagaimanapun ini pernikahannya. Ia tidak ingin menikah dengan orang yang melihatnya saja membuat matanya iritasi. Karena ia tahu selera nenek-nenek dengan anak muda pasti tidak sama. Ia takut neneknya mencarikan sesuai selera neneknya sendiri.
"Hemmm tingginya tidak sama sepertimu," ucap neneknya sambil memperhatikan Mingyu.
"Maksud Halmonie dia pendek? Ya Tuhan! Bagaimana bisa Halmonie mencarikan yang seperti itu? Halmonie tahu kan tinggiku di atas rata-rata?" wanita berusia lima puluh tahunan itu tidak menggubris. Wajahnya tetap santai. Mengabaikan cucunya yang mulai tampak frustasi.
"Kulitnya juga tidak sama sepertimu," lanjut sang nenek dengan santainya. Membutakan matanya dari wajah cucunya yang seperti orang idiot.
"Dia hitam? Maksud Halmonie dia lebih hitam dariku?" mulut Mingyu menganga lebar. Bahkan matanya hampir lepas dari tempatnya. Sedangkan neneknya tidak bereaksi apa-apa. Tetap santai duduk bersandar.
"Halmonie juga tahu kulitku tidak seperti kulit orang Korea pada umumnya? Kalau lebih hitam dariku apa jadinya nanti? Ya Tuhan!" Mingyu mengacak rambutnya. Kepalanya terasa mau pecah. Benar dugaanya. Selera nenek-nenek itu payah.
Para maid yang mendengarkan ikut prihatin. Mereka juga kasihan dengan tuan muda mereka. Meski tuan mudanya terkenal nakal, tapi tuan mudanya terlalu tampan untuk di nikahkah dengan orang sejelak itu. Seperti itu lah pemikiran mereka.
"Lalu bentuk tubuhnya bagaimana Halmonie? Jangan katakan kalau dia gendut. Dan bibirnya? Bagaimana bibirnya? Apa hitam dan tebal? Lalu matanya bagaimana Halmonie?" tanya Mingyu bertubi-tubi. Ia terlanjur panik. Hingga tidak bisa berpikir sehat. Para maid yang ikut menimbrung bergidik ngeri. Sepertinya jenis manusia seperti itu terlalu jelek. Mereka yang bekerja sebagai maid saja tidak akan mau mendapat yang seperti itu.
Saat sang nenek hanya mengangkat bahunya acuh, saat itu juga Mingyu ingin malaikat kematian datang menjemputnya. Tanpa mereka tahu, wanita tua itu mati-matian menahan tawanya. Ia hanya bisa tersenyum puas dalam hati. Mengerjai cucu kesayangannya sekali-sekali sepertinya tidak buruk juga. Cukup menyenangkan menurutnya. Ia tetap membiarkan cucu tampannya tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
"Pendek, kulit hitam, gendut, bibir tebal, mata melotot. Ya Tuhan bukankah hantu lebih bagus? Kalau sejelak itu kenapa tidak bawa zombie saja?" batin Mingyu menjerit. Dengan langkah lesu, Mingyu meninggalkan ruang tengah. Berjalan ke kamarnya untuk merapati nasib buruknya. Ia sama sekali tidak permisi dengan orang tua dan neneknya. Terlalu frustasi memikirkan kehidupannya yang begitu mengenaskan.
"Eomma apa tidak apa-apa menikahkan Mingyu dengan orang semacam itu? Apa dia orang baik-baik Eomma?" tanya ibu Mingyu sedikit berbisik. Ia hampir kena pukulan ibu kandungnya kalau tidak langsung mengelak.
"Jangan berpikiran macam-macam tentang cucu menantuku! Dia tidak seperti yang kalian bayangkan!" marah wanita tua itu.
"Aku tidak bermaksud lain Eomma. Walau bagaimanapun Mingyu anakku satu-satunya. Aku tidak mau dia menikah dengan orang yang salah," ucap ibu Mingyu sedih. Mendengar deskripsi Mingyu tentang calon menantunya membuatnya sedih. Tidak menyangka anak semata wayangnya akan mendapat jodoh yang seperti itu.
"Dia tidak sejelek itu. Anak bodoh itu saja yang berpikiran macam-macam! Lagi pula Eomma sudah mengenalnya. Dia anak yang baik dan sopan. Waktu itu kami bertemu di taman. Dia yang menolong Eomma. Kau pasti akan menyukainya."
Daehee mendesah lega. Wanita yang menjadi ibu Mingyu itu mengucap syukur dalam hati. Kalau memang seperti itu kenyataannya, ia tidak akan mencemaskannya lagi. Yang ia pikirkan tinggal tentang proses pernikahan anak tampannya saja.
"Lagi pula Mingyu itu cucu Eomma satu-satunya. Mana mungkin Eomma mencarikan yang sembarangan. Tapi kalau menemukanya di jalan memang benar. Karena dia memang benar-benar sedang di jalan. Dan Eomma memang menemukan satu di jalan yang bagus," ucap nenek Mingyu sambil tertawa. Para maid yang lagi-lagi menguping menggelangkan kepalanya. Namun mereka juga ikut mendesah lega. Calon istri tuan muda mereka tidak seburuk yang mereka pikirkan.
"Kalau Eomma sudah mengenalnya, kenapa Eomma bawa paksa seperti itu?" tanya Daehee penasaran. Wanita yang masih terlihat sangat cantik itu memikirkan ulang cara ibunya memboyong calon menantu. Menurutnya cara seperti itu sangat tidak lazim.
"Cara lamar melamar itu sudah terlalu biasa. Eomma anti dengan hal-hal seperti itu. Tua-tua seperti ini Eomma juga ingin sesuatu yang baru. Cara membawa menantu dengan jalan yang unik" ucap wanita yang rambutnya mulai memutih itu bangga. Tangannya sibuk memainkan kipas lipat yang sedari tadi ia genggam. Padahal rumah mewah mereka sudah full ac.
"Eomma, itu terlalu unik! Mencari menantu di jalan seperti mencari makanan di kedai kaki lima saja," cibir anaknya yang tidak di tanggapi sama sekali. Yang terpenting cucunya sudah mendapat calon istri. Cucu menantu yang selama ini ia idam-idamkan.
.
.
.
Wonwoo menghembuskan nafasnya kasar berulang kali. Tangannya mulai berkeringat. Tuxedo mewah berwarna putih membuatnya tidak nyaman. Meski semua yang melihatnya mengatakan begitu tampan, tapi Wonwoo ingin melepasnya. Gerah dengan pakaian resmi seperti itu. Selama ini ia selalu berpakaian sesukanya saja.
Saat ia mulai memasuki tempat acara pernikahannya, Wonwoo hanya bisa menunduk. Bukan malu karena para tamu undangan. Tapi menurutnya karpet merah itu lebih menarik. Wonwoo sama sekali tidak berniat memandang calon pengantin prianya. Matanya tetap tertuju pada karpet yang ia pijak.
Pemuda berkulit putih itu takut memandang pengantin prianya. Wonwoo takut melihat seberapa buruknya calon suaminya. Ia takut langsung kabur dan di tembak di tempat. Beberapa orang berpakain serba hitam selalu mengawasinya. Wonwoo tidak ingin mati di tempat karena kabur begitu melihat calon suaminya.
"Sial! Di acara seperti ini pun mereka tetap membawa senjata," umpat Wonwoo saat melirik dari ekor matanya. Tampak jelas laki-laki bertubuh kekar yang berdiri di pintu membawa senjata di tangannya.
Ia masih ingin hidup lebih lama. Belum ada bekal yang bisa ia bawa untuk di akhirat nanti. Dosanya masih terlalu banyak. Jadi Wonwoo memutuskan untuk tetap menunduk. Sampai ia di depan pendeta, Wonwoo sama sekali tidak mau melihatnya.
Begitu pula dengan Mingyu. Pemuda tampan yang mengenakan tuxedo berwarna hitam itu malah memejamkan matanya. Tidak siap menghadapi betapa buruknya calon istrinya. Ia hanya bisa merapalkan doa dalam hati. Doa untuk tetap kuat meski rasanya ia ingin kabur saat ini juga.
"Tuhan tolong kuatkan aku sampai akhir acara ini. Setelah ini bantu aku untuk kabur," batin Wonwoo.
.
.
.
TBC
Sepertinya gue terlalu aktif. Terlalu semangat nih. Dari kemaren update dua hari sekali. Kalian pasti bosen ya gue nongol terus?
Tapi bukan karena semangat juga sih. Lebih tepatnya gue nganggur. Sebelum gue ujian, gue bener-bener free.
Gue ngakak baca review kalian di ff 'husband'. Ternyata kalian banyak yang ngira itu si visual yak. hahaha gue lagi demen ma Jiwon. Karena ff buatan author sebelah itu. Di antara kalian pasti ada yang tau.
