.
.
.
Half-Memory (After The Story)
.
.
Pair: Haehyuk
Rate: T
Warning: GS/OS/Romance
Summary: Seluruh ingatannya menghilang, sebuah amnesia dengan tingkat paling buruk. Tapi ditengah keadaanya itu, ia justru jatuh cinta.
.
.
.
Iris hitamnnya melirik iris cokelat didepannya, membuat pipinya langsung memerah. Wanita ini menggigit bibirnya sembari menahan detak jantungnnya yang seperti akan melompat keluar.
"Aku ..."
"Ya?" Tanya laki-laki ini dengan binar mata penuh harap. Oh, ini saat yang ia tunggu-tunggu sejak tadi.
"Aku ..."
"Iya, apa sayang?" Pipinya makin merah saja dipanggil seperti itu.
Cukup, ia tak tahan lagi!
Tiba-tiba saja tangan pucat itu memeluk leher lelaki didepannya. Menyembunyikan wajahnya dipundak laki-laki itu sebelum berseru.
"Aku tidak bisa!"
Donghae terbengong sejenak sebelum tertawa sembari mengelus punggung sempit Hyukjae. Ia tahu ia harusnya kesal, tapi wanita ini terlalu manis untuk tak tertawa melihat tingkahnya.
"Hyukkie, bukan begitu cara merayu tunanganmu! Ayo ulangi lagi!"
Hyukjae menggeleng, masih menyembunyikan wajah merahnya di pundak Donghae.
"Aku malu sekali." Cicitnya
Jangankan untuk merayu laki-laki tunangannya ini, duduk dipangkuan Donghae seperti ini saja Hyukjae sudah lemas. Kenapa Donghae begitu jahil padanya, sih! Gerutu gadis itu dalam hati.
"Kenapa harus malu? Yang perlu kau lakukan hanya memohon dengan manja padaku, atau gunakan kata-kata manis, atau buka sedikit bajumu." Hyukjae langsung memukul dada Donghae dengan kepalan tangannya.
"Mesum."
"Ayolah, Hyukkie! Atau aku tak akan mengijinkanmu pergi kemanapun!"
"Andwe! Mereka membutuhkanku di Pusan."
Yah, segala hal memalukan ini dimulai saat Hyukjae mengatakan harus pergi ke luar kota selama beberapa hari untuk mengurus beberapa masalah yang terjadi di cabang perusahaan percetakan tempatnya bekerja. Tentu saja Donghar tak terima! Kalau Hyukjae pergi lalu ia tidur dengan siapa? Guling?! Itu menyedihkan.
Jadi setelah diskusi cukup lama, akhirnya Donghae akan mengijinkan Hyukjae asal wanita itu merayunya. Merayunya untuk mengatakan, Ya.
"Anggap saja sebagai penyesalanmu karena mengabaikan rayuanku dulu."
"Saat itu aku bahkan tidak tau kau sedang merayuku!"
Donghae memutar matanya, sungguh itu adalah ingatan paling kelam saat dia amnesia. Dia, Lee Donghae yang tampan dan menawan ditolak mentah-mentah oleh tunangannya sendiri. Tangan Donghae menarik pinggang Hyukjae, membuat wanita itu tersentak kerena tubuh mereka menempel begitu erat lebih dari sebelumnya. Jarak wajah mereka yang kini begitu dekat membuat wanita itu diam tak bergerak. Donghae mendekat ke telinga wanita itu.
"Come on babe, seduce me ..."
Bisikan rendah itu membuat Hyukjae merinding. Perlahan karena ragu-ragu, Hyukjae mendekat lalu mencium pipi Donghae kilat. Dengan wajahnya yang begitu merah ia memandang Donghae dengan mata bulatnya yang memelas. Memohon tanpa kata.
Donghae mengerjab. Bukan seperti ini yang ia harapkan sebenarnya, tapi siapa yang akan tega ditatap seperti itu oleh wanita ini? Tidak ada.
Donghae kalah.
Kalah telak dengan rayuan sepele seperti itu membuat harga dirinya turun derastis. Jadi sebagai pembalasan Donghae segera meraup bibir merah itu. Biar saja Hyukjae sesak nafas, biar saja bibirnya bengkak!
Huh Donghae sebal!
.
.
.
Membuka lembaran baru ternyata tak semudah yang terlihat. Bayangan masa lalu tentu akan selalu menjadi penghambat utama untuk memperbaiki semuannya. Ketakutan itu masih menyertai mereka, tapi dengan cinta yang ada semuanya berusaha mereka atasi.
"Aku ingin membenturkan kepalaku ke tembok."
Kyuhyun mengernyit mendengar hal bodoh dari mulut kakaknya itu.
"Wae?"
"Siapa tahu aku amnesia lagi. Aku benci ingatanku yang dulu."
Donghae benci selalu diingatkan tentang bagaimana ia dulu, kasar, egois, dingin, pemarah. Ugh, itu membuatnya pusing. Kalau bisa ia ingin seperti mesim komputer yang bisa menghapus memory yang tak dibutuhkan.
Mereka sedang berjalan menuju ruang meeting untuk bertemu investor untuk proyek baru perusahaan mereka. Kyuhyun menghela nafas saat sampai di pintu ruang meeting itu.
"Wae?" Kali ini Donghae yang bertanya.
"Kau tidak akan menyukai pertemuan ini. Tapi percayalah, Hyung. Kita tak memiliki pilihan lain karena ia investor terbaik."
Donghae melihat adiknya tak mengerti, namun saat pintu itu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita berparas cantik diantara dua pria bawahannya itu, Donghae akhirnya mengerti.
Wanita itu. Mantan kekasihnya.
Tapi segalanya berubah sekarang. Jadi dengan profesional Donghae memulai meeting itu. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Bahkan Kyuhyun begitu kagum pada bagaimana kakaknya itu bersikap pada mantan kekasihnya, sulit dipercaya.
Meeting itu pun selesai dengan lancar, semuanya berjalan seperti rapat lainnya. Meski sebelum pergi meninggalkan tempat itu, wanita mantan kekasihnya itu melihatnya dari atas kebawah sejenak. Sebelum tersenyum ringan dan membukuk sopan padanya.
"Kenapa kau berpura-pura tak mengenalnya begitu, Hyung?"
"Kurasa akan lebih baik ia mengira aku masih amnesia, toh sudah tak ada apa-apa lagi diantara kami."
"Kau kejam, padahal dia sangat hot Hyung."
"Yah kau benar, dia yang paling hot." Donghae merangkul adiknya sembari berjalan kembali keruangan mereka.
"Apa lagi saat diranjang, dia benar-benar sexy dan begitu ahli. Ia sangat kreatif dalam bercinta, bahkan kami pernah mencoba posisi-"
Donghae langsung bungkam saat melihat Hyukjae yang berdiri didepan ruangannya. Menatapnya sebal dengan bekal ditangan.
Oh tidak!
Hyukjae mendengus kesal sebelum berjalan menghentak-hentak meninggalkan tempat itu.
"ANDWEEEE! Hyukkie babe, kau salah paham! Kau sejuta kali lebih sexy, sayang! Babe, jangan pergi!"
Kyuhyun memutar matanya saat melihat kakaknya berlari panik mengejar tunangannya. Orang idiot satu itu, kapan ia akan sembuh!
Sedangkan didalam sebuah mobil mewah yang tengah berjalan ditengah jalan kota itu terlihat wanita itu bersedekap sambil melihat luar jendela.
"Dia pikir aku bodoh dengan pura-pura tak mengenalku."Guamannya pelan.
"Anda mengatakan sesuatu, Directur?"
"Tidak, hanya mengingat orang bodoh yang ingin kulupakan jauh-jauh."
Sekertaris itu hanya mengernyit tak mengerti mendengarnya.
.
.
.
Mulut bayi berusia dua bulan itu mengikuti telunjuk Hyukjae yang memutar-mutar dipipi tembemnya, mencoba melahapnya karena mengira jari Hyukjae bisa memberinya susu. Hyukjae tertawa sebelum mencium bayi digendongannya itu.
"Kau terlihat sudah pantas menggendong bayi."
Hyukjae hanya tersenyum ringan pada Sungmin sebelum kembali menggoda anak pertama Kyuhyun digendongannya.
"Minta saja pada Donghae." Ibu Donghae yang sedang membuatkan kopi untuk suaminya ikut menimpali.
Mereka sedang berlibur di villa keluarga. Berlibur untuk menghilangkan penat setelah seminggu penuh bekerja. Para wanita ini ada didapur untuk mengurus makan malam.
"Tapi mereka harus menikah dulu, ibu."
"Ya benar. Bukankah Donghae sudah melamarmu? Lalu kapan kalian berencana menikah?"
Senyum Hyukjae perlahan menghilang saat mendengarnya.
Klak
Kayu itu berhasil Donghae belah menjadi dua. Laki-laki itu menaruh kapaknya ditanah. Sambil masih terengah ia melihat adiknya.
"Menikah?"
"Ya, bukankah kau sudah melamar Hyukjae nonna?"Kyuhyun kembali mengayunkan kapaknya.
"Entahlah."
"Kenapa nada bicaramu seperti itu, Hyung? Kau tidak ingin menikahinya?"
"Aku ingin! Hanya saja ..."
"Hanya saja kenapa?"
Donghae sudah akan membuka mulutnya namun semua kalimatnya justru tertelan kembali. Ia meremas rambutnya.
"Ini sulit dijelaskan sekarang, kami perlu waktu Kyu! Masih perlu banyak sekali waktu."
Adiknya itu melihatnya mengerti.
"Hanya pastikan kau tidak melukainya."
"Tidak akan. Tidak akan pernah lagi."
.
.
.
Villa itu terlihat begitu sunyi dengan bekas pesta barbecue dihalamannya. Para penghuninya telah masuk kekamar mereka masing-masing karena udara pegunungan begitu dingin. Hyukjae semakin merapat pada tubuh hangat Donghae yang memeluknya erat. Selimut hangat yang menutupi tubuh mereka nyatanya tak bisa menghalau segala pemikiran mereka.
Doa orang ini termangu dengan mata yang tak mau terpejam sejak tadi. Segala hal yang orang-orang katakan padanya serasa berputar di kepala mereka.
"Hyukkie."
"Hm?"
"Apa kita menikah saja?"
Hyukjae segera bangun diikuti Donghae. Membuat mereka kini duduk saling berhadapan di atas ranjang. Dapat Donghae lihat ketakutan wanita itu yang tergambar jelas di iris hitamnnya.
"Donghae, bukannya aku tidak mau hanya saja ..."
Hyukjae merasa dadanya semakin sesak saat ingatan akan betapa keras penolakan Donghae terhadap dirinya. Bagaimana setiap tatapan kebencian serta ucapan menyayat hati itu mematahkan harapannya membuat dirinya lemah. Hyukjae tak bisa menghadapinya lagi sekarang. Ia bisa mati jika Donghae kembali membencinya.
"Shh, jangan menangis."
Laki-laki itu membawa wanita ini kepelukannya saat airmata mulai mengalir di mata indahnya. Ia mencium keningnya sayang.
"Aku mencintaimu, Hyukkie."
Ia mencium kelopak matanya.
"Aku mencintaimu."
Dapat Donghae rasakan tangan kecil wanita ini mencengkram piayamanya erat, seperti takut kehilangan. Donghae tahu segalanya lebih berantakan dari yang terlihat. Ia tahu meski wanita ini tersenyum padanya setiap hari tapi jauh didalam sana begitu rusak. Semuanya hancur berceceran.
Donghae perlu memungutinya satu persatu, ia perlu menyusunnya kembali agar utuh seperti sedia kala. Agar luka itu menghilang tak berbekas.
Mereka kembali berbaring. Saling berhadapan menatap bola mata menawan pasangan mereka. Tangan pucat itu membelai pipi Donghae perlahan.
"Rasanya seperti mimpi." Ucap wanita itu menatap kagum fitur Donghae dihadapannya.
"Melihatmu seperti ini, menyentuhmu seperti ini. Rasanya masih seperti mimpi."
Donghae mengenggam tangan wanita itu lalu mencium telapak tangn yang dingin itu. Ia berlahan mendekat dan menyentuh wajah menawan wanita itu sepenuh hati. Mungkin keadaan mereka jauh dari kata sempurna, mungkin pernikahan begitu terdengar mustahil bagi mereka sekarang.
Tapi waktu akan mewujudkannya.
Cinta mereka akan menyembuhkannya.
"Aku mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu."
Kata cinta itu kembali wanita itu dengar sebelum ciuman lembut itu menyapa bibirnya. Begitu penuh cinta hingga meredam ketakutannya. Menyingkirkan kekhawatirannya.
Membuatnya sekali lagi percaya bahwa cintanya bisa diselamatkan.
.
.
.
Gereja itu penuh akan senyum kebahagiaan karena dua insan yang akan segera disatukan. Ratusan mawar putih mewarnai setiap sudut gereja. Menyambut sang mempelai wanita yang kini berjalan menuju altar. Menuju calon pasangan hidupnya yang tersenyum bahagia.
Mereka akhirnya berdiri didepan pendeta, menunggu pendeta itu meneguhkan sumpah mereka.
"Apa aku terlambat?"
Hyukjae langsung menarik Donghae agar duduk disebelahnya, menjalin jemari mereka agar tergenggam kuat.
"Ya, mereka sudah akan mengucapkan sumpah."
"Maafkan aku, Kyuhyun tak membiarkanku pergi begitu saja."
Donghae mendongak, mencoba melihat pasangan pengantin itu dari tempat mereka duduk yaitu bangku paling belakang. Mereka menghadiri pernikahan rekan kerja Hyukjae dan karena kesibukannya ia sedikit terlambat.
"Gaun mempelai wanitanya sangat cantik."
"Kau ingin gaun seperti itu saat kita menikah?"
"Tidak, aku ingin yang lebih sederhana."
"Aku suka setelan prianya."
"Akan lebih bagus jika berwarna hitam."
"Oke, gaun sederhana dan setelan hitam untuk pernikahan kita."
Hyukjae hanya terkekeh mendengar Donghae bersemangat seperti itu. Siapapun yang mendengar pembicaraan mereka pasti mengira dua orang ini akan menikah sebentar lagi. Tapi pada kenyataannya jika ditanya kapan mereka menikah, mereka akan dengan kompak menjawab "Tidak tahu."
Yah, mereka masih memiliki banyak waktu untuk sampai kesana. Masih banyak waktu yang bisa mereka gunakan sebelum mengikat satu-sama lain. Untuk sekarang mereka cukup puas dengan hubungan mereka. Mereka saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi. Dan mereka hanya ingin menunjukannya satu sama lain lebih banyak.
Mungkin kelak mereka akan berfikir untuk benar-benar menikah, mungkin saat semua luka itu tengah sembuh tak berbekas. Saat kata cinta tak lagi menjadi kewajiban namun terucap secara suka rela.
Saat itu mungkin akhirnya mereka akan mengucap janji sehidup semati didepan altar.
Akhirnya akan meneguhkan sumpah hingga hayat memisahkan.
.
.
.
END
Apa lagi ini!?
Well, aku menulis ini karena jujur aku sangat suka karakter Donghae di ff ini, jadi sayang aja gitu kalau ditinggal hahaha akhirnya kuputuskan untuk sedikit lagi menulis kisah mereka, anggap aja bonus untuk kalian semua.
Semoga kalian gak iritasilah ya baca ini wkwkwkw
