137darkpinku Present

KYUMIN FANFICTION

TANGLED

BAB 2

Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast

Rate : M

Warning : Genderswitch , Typo(s)

DLDR

Please enjoy ^^

Disclaimer : Remake Novel karya Emma Chase 'Tangled'.

Ok. Let's check this out !


.

.

.

JOYER

.

.

.


Pernahkah aku mengatakan kalau aku mencintai pekerjaanku?

Aku seorang karyawan di salah satu bank investasi terkemuka di Seoul, yang mengkhususkan diri dalam bidang media dan teknologi. Ya, ya ayahku dan kedua sahabat dekatnya yang mulai merintis perusahaan ini. Tapi bukan berarti aku

tidak bekerja keras untuk memperoleh posisiku sekarang—karena aku melakukannya. Juga bukan berarti aku tidak makan, bernafas, dan tidur. Aku berusaha untuk memperoleh reputasiku.

Kalau kalian tanya, apa yang dilakukan seorang bankir investasi?

Well, kalian tahu di film Pretty Women, ketika Richard Gere memberitahu Julia Roberts bahwa perusahaannya membeli perusahaan lain, dan menjualnya bagian demi bagian? Akulah orang yang membantu dia melakukan itu. Aku menegosiasikan transaksi, menyusun kontrak, rancangan perjanjian kredit, dan banyak hal lain yang kuyakin kalian tidak tertarik untuk mendengarnya.

Sekarang kembali ke pekerjaanku.

Bagian terbaik tentang pekerjaanku adalah perasaan mabuk yang kurasakan ketika menutup kesepakatan, kesepakatan yang sangat bagus.

Aku yang mencari pelanggan untuk klienku, merekomendasikan langkah apa yang seharusnya mereka lakukan. Aku tahu perusahaan mana yang sangat ingin dibeli dan perusahaan mana yang perlu pengambil alihan secara paksa.

Kompetisi untuk mendapat klien sangat sengit. Kalian harus menarik perhatian mereka, membuat mereka menginginkanmu, membuat mereka percaya tidak ada orang lain yang dapat melakukan untuk mereka seperti yang bisa kalian lakukan.

Anak-anak dari para mitra ayahku juga bekerja di sini, Shim Changmin dan Lee Donghae. Ya Donghae—suami Si Menyebalkan, seperti para ayah kami, kami bertiga tumbuh besar bersama, masuk ke sekolah yang sama, dan sekarang bekerja di perusahaan yang sama. Para orangtua menyerahkan pekerjaan yang sesungguhnya kepada kami. Mereka memeriksa dari waktu ke waktu, untuk merasakan bahwa mereka masih menjalankan sesuatu, dan kemudian pergi menuju Country club untuk bermain golf di sore hari.

Donghae dan Changmin juga bagus pada pekerjaannya—jangan salah paham. Tapi akulah bintangnya. Akulah jagoannya. Aku orangnya yang klien minta dan perusahaan yang tenggelam dalam ketakutan.

Senin pagi aku ada di kantorku jam sembilan, sama seperti biasa.

Sekretarisku, sudah ada di sana, siap dengan jadwalku untuk hari ini, pesanku dari akhir pekan, dan secangkir kopi terbaik.

Tidak, aku belum pernah menidurinya.

Bukan berarti aku tidak senang melakukannya. Percayalah, jika dia tidak bekerja untukku, aku akan melakukannya.

Tapi aku punya aturan—standar, kalau menurut istilah kalian. Salah satunya adalah tidak main-main di sekitar kantor. Aku tidak berhubungan asmara dengan rekan kerja, aku tidak bercinta dimana aku bekerja. Belum lagi masalah pelecehan seksual akan muncul; ini bukan bisnis yang bagus. Tidak profesional.

Jadi, Naeun adalah satu-satunya wanita selain kerabat sedarah yang memiliki interaksi secara platonis denganku, dia juga satu-satunya anggota dari lawan jenis yang pernah aku anggap sebagai teman.

Kami memilki hubungan kerja yang baik.

Jadi sekarang kalian punya sedikit wawasan, kan? Mari kita kembali ke kisah perjalananku menuju neraka.

"Aku memindahkan jadwal makan siang dengan Blue Corp jam satu ke pertemuan jam empat," Naeun mengatakan padaku saat dia memberiku setumpuk pesan.

"Kenapa?"

Dia memberiku sebuah berkas. "Hari ini—makan siang di ruang konferensi. Ayahmu memperkenalkan rekan kerja baru. Kau tahu bagaimana ayahmu tentang urusan ini."

Ayahku mencintai perusahaan ini dan menganggap semua karyawan sebagai keluarga besarnya. Dia selalu mencari alasan untuk mengadakan acara pesta kantor, acara pesta ulang tahun, dan lain sebagainya.

Sebuah keajaiban jika pekerjaan yang sebenarnya dapat terselesaikan.

Dan Natal? Lupakan tentang itu. Pesta Natal ayahku legendaris.

Ayahku mencintai karyawannya, dan mereka balas mencintainya.

Pengabdian, kesetiaan—kami mendapatkannya secara melimpah. Itu bagian yang membuat kami menjadi yang terbaik. Karena karyawan yang bekerja di sini hampir dipastikan akan menjual anak sulung mereka pada ayahku.

Namun, ada hari—seperti sekarang ini, ketika aku butuh melayani klien—yang membuat perayaan ayahku bisa menjadi sangat menjengkelkan. Tapi begitulah keadaannya.

Jadwal Senin pagiku penuh, jadi aku pergi menuju mejaku dan mulai bekerja. Kemudian, sebelum aku bisa berkedip, sudah pukul satu, dan aku menuju ke ruang konferensi. Aku melihat Yesung. Yesung mulai bekerja di perusahaan ini enam tahun yang lalu, tahun yang sama denganku. Dia pria yang baik dan sering menjadi kawan berakhir pekan. Di sampingnya adalah Changmin, asyik mengobrol sambil mengusap rambutnya.

Aku mengambil makanan dari prasmanan dan bergabung dengan mereka dan larut dalam obrolan mengenai malam minggu kami.

Obrolan memudar saat pikiranku beralih ke bagian dari malam Mingguku yang tidak kuceritakan ke teman-temanku. Interaksi dengan salah satu dewi berambut hitam, tepatnya. Aku masih bisa melihat dengan begitu jelas mata bulat gelapnya di kepalaku. Bibir lezatnya, rambut bercahaya yang tidak mungkin selembut seperti kelihatannya.

Ini bukan pertama kalinya bayangan wanita itu muncul di kepalaku, tanpa diminta, selama satu setengah hari terakhir. Sebenarnya, seperti setiap jam sebuah gambaran dari beberapa bagian dirinya datang padaku, dan mendapati diriku membayangkan apa yang terjadi padanya. Atau, lebih tepatnya, apa yang bisa terjadi jika aku tetap tinggal dan pergi mengikutinya.

Ini aneh. Aku bukan tipe pria yang akan mengenang orang asing yang kutemui selama petualangan akhir pekanku. Biasanya, mereka memudar dari pikiran saat aku pergi dari ranjang mereka. Tapi ada sesuatu tentang dirinya. Mungkin karena dia menolakku. Mungkin karena aku tidak tahu siapa namanya. Atau mungkin pantat indahnya yang kencang membuatku ingin memegangnya dan takkan pernah membiarkannya pergi.

Saat bayangan yang ada dalam pikiranku mulai terfokus pada sosok itu, geliatan akrab mulai terjadi di organ bawahku, kalau kau tahu maksudku. Secara mental aku memperingatkan diriku sendiri. Aku tidak pernah lagi mengalami ereksi spontan sejak berumur dua belas tahun. Sebenarnya apa yang terjadi?

Pada saat ini, aku telah sampai depan ruangan, dalam antrian untuk berjabat tangan seperti lazimnya menyambut semua karyawan baru.

Saat aku mendekati ujung depan barisan, ayahku melihat dan datang menyambut dengan tepukan sayang di punggungku.

"Senang kau sudah datang, Kyuhyun. Gadis baru ini punya potensi yang sesungguhnya. Aku ingin kau secara pribadi membantu dan melindunginya, membantu dia memperoleh pengalaman untuk pertama kalinya. Kalau kau melakukan itu, nak, aku jamin dia akan menjadi sukses dan membuat kita semua bangga."

"Tentu, ayah. Tidak masalah."

Bagus. Seperti aku tidak punya pekerjaan sendiri untuk diurus.

Sekarang aku harus menuntun seorang pemula saat dia berjalan di kegelapan dunia yang menakutkan dari korporat Korea Selatan. Sungguh sempurna.

Terima kasih, ayah.

Akhirnya giliranku tiba. Dia memunggungiku saat aku melangkah.

Aku menatap rambut lembut gelapnya yang diikat menjadi sanggul rendah, kecil, sosok tubuh mungilnya. Mataku menatap pada punggungnya, saat ia berbicara dengan orang di depannya.

Berdasarkan insting tatapanku tertuju pada pantatnya dan...tunggu.

Tunggu, tunggu sebentar.

Aku pernah melihat pantat ini sebelumnya.

Tidak mungkin.

Dia berbalik.

Tidak.

Senyum di wajahnya melebar saat matanya terhubung denganku.

Mata cemerlang tak berujung yang telah kuimpikan dan sekarang baru kuingat. Dia mengangkat alis sebagai tanda mengenali dan mengulurkan tangannya. "Tuan Cho Kyuhyun."

Aku merasa mulutku membuka dan menutup, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Kaget melihat dia lagi—di sini dari semua tempat—sesaat keterkejutan itu pasti telah membekukan bagian otakku yang mengontrol kemampuan bicara. Ketika syaraf sinapsis mulai berfungsi lagi, aku mendengar ayahku berkata, "...Sungmin. Lee Sungmin. Dia akan jadi orang sukses, nak. Dan dengan bantuanmu dia akan membawa kita bersamanya."

Lee Sungmin.

Gadis di bar. Gadis yang aku biarkan pergi. Gadis yang mulutnya masih sangat kuinginkan untuk berada di sekitar kejantananku.

Dan dia bekerja disini. Di kantorku, di mana aku telah bersumpah untuk tidak pernah...sekalipun...berhubungan seks dengan rekan kerja. Tangan hangat lembutnya dengan sempurna meluncur di tanganku, dua pikiran secara bersama masuk ke dalam kepalaku.

Yang pertama: Tuhan telah membenciku.

Yang kedua: aku telah menjadi pria yang sangat, sangat nakal hampir sepanjang hidupku dan ini adalah balasannya. Dan kalian tahu kutipan yang sering orang katakan tentang pembalasan, kan?

Benar. Dia salah satu wanita yang sulit dihadapi.

.

.

.

Aku yang menentukan nasibku sendiri. Kehendak. Kendali. Aku menentukan kemana jalan hidupku. Aku memutuskan kegagalan dan kesuksesanku. Persetan dengan nasib. Takdir bisa enyah selamanya.

Jika aku sangat menginginkan sesuatu, aku bisa mendapatkannya.

Jika aku fokus, berkorban, tidak ada yang tidak bisa kulakukan.

Kalau kalian tanya, apa maksud dari sikapku? Kenapa aku terdengar seperti pembicara utama pada konvensi swadaya? Sebenarnya apa yang coba kukatakan?

Singkatnya: aku mengendalikan kejantananku. Kejantananku tidak dapat mengendalikanku. Itulah yang telah kukatakan pada diri sendiri selama satu setengah jam terakhir.

Lihat aku di sana, di mejaku. Bergumam tak jelas seperti penderita skizofrenia kehabisan obat?

Aku sedang mengingatkan diri sendiri pada prinsip hidupku, keyakinan suci yang membuat aku bisa sampai sejauh ini dalam hidup. Prinsip yang telah membuatku sukses tak terbantahkan di ranjang dan di kantor. Prinsip yang tidak pernah mengecewakanku sebelumnya. Prinsip yang setengah mati ingin kubuang ke keluar jendela. Semua karena wanita yang berkantor diseberang lorong.

Lee Sungmin.

Bicara tentang masalah terkutuk ini.

Caraku melihatnya, aku masih bisa meraih yang lebih tinggi. Secara teknis aku tidak bertemu Sungmin di tempat kerja, aku bertemu dengannya di sebuah bar, itu berarti dia bisa melupakan label "rekan kerja" dan mempertahankan status "kencan yang tak terduga" seperti yang awalnya ditunjukkan padanya.

Apa? Aku seorang pengusaha, itu tugasku untuk menemukan celah.

Jadi, dalam teori setidaknya, aku bisa bercinta dengannya dan tidak merusak hukum alam pribadiku sendiri. Masalah dengan strategi itu, tentu saja adalah apa yang terjadi sesudahnya.

Beberapa wanita dapat mengatasi kencan satu malam. Yang lain tidak bisa. Dan aku pasti berada di ujung yang salah dari orang-orang yang tidak bisa.

Ini tidak menyenangkan.

Jadi, kalian paham, tidak peduli betapa parahnya aku ingin, tidak peduli betapa keras nafsu mencoba menguasaiku. Itu bukan sesuatu yang ingin kubawa ke tempat bisnis. Tempat suciku-rumah keduaku.

Itu tidak akan terjadi. Titik.

Itu saja. Diskusi selesai.

Kasus ditutup.

Lee Sungmin secara resmi dicoret dari daftar potensialku. Dia terlarang. Tak tersentuh. Sama sekali takkan pernah. Tepat disebelah daftar mantan pacar teman-temanku, putri bos, dan sahabat baik kakakku.

Omong-omong, sampai di mana aku?

Oh benar. Aku menjelaskan bahwa aku telah mengambil keputusan yang tegas bahwa Lee Sungmin adalah gadis yang, sayangnya tidak akan pernah aku tiduri. Dan aku baik-baik saja dengan itu. Sungguh.

Dan aku hampir saja percaya pada diriku sendiri.

Sampai dia muncul di pintuku.

Ya Tuhan.

Sungmin memakai kacamata. Dengan jenis bingkai yang gelap. Kacamata itu akan terlihat culun dan tidak menarik untuk kebanyakan wanita. Tapi tidak untuk Sungmin. Pada batang hidung kecilnya, ditambah bulu mata yang indah, dengan rambut yang di sanggul sedikit longgar, secara keseluruhan sangatlah seksi.

Saat ia mulai bicara, pikiranku tiba-tiba penuh dengan segala macam fantasi guru-seksi.

Sementara semua ini terjadi di kepalaku, ia masih bicara.

Apa sebenarnya yang dia katakan?

Aku memejamkan mata agar tidak menatap bibir berkilauannya.

Sehingga aku benar-benar dapat memproses kalimat yang keluar dari mulutnya.

"...ayahmu bilang kau bisa membantuku dengan itu." Dia berhenti dan menatapku penuh harap.

"Maafkan aku, perhatianku terpecah. Kau ingin duduk dan bicara sekali lagi?" Tanyaku, suaraku tak pernah mengkhianati gairah yang ada dalam diriku.

Sungmin duduk di kursi di seberang mejaku, dan melipat kakinya.

Jangan melihat kakinya, jangan melihat kakinya.

Terlambat.

Kakinya kencang dan halus yang terlihat seperti sutra. Aku menjilat bibir dan memaksa mataku menatap wajahnya.

"Jadi," Sungmin mulai lagi, "Aku telah menyusun portofolio pada sebuah perusahaan pemrograman, Genesis. Pernahkah kau mendengar tentang perusahaan itu?"

"Samar-samar." Aku menjawab, menatap kertas-kertas di mejaku untuk membendung aliran gambar tidak senonoh yang suaranya memanggil dari pikiran menyimpangku.

Aku seorang yang sangat sangat nakal. Kalian pikir Sungmin akan menghukumku jika aku mengatakan padanya betapa nakalnya aku?

Aku tahu. Aku tahu. Aku hanya tidak bisa menahan diri.

"Mereka membukukan laba sebelum pajak sebesar tiga miliar won pada kuartal terakhir." Katanya.

"Benarkah?"

"Ya. Aku tahu itu bukan sesuatu yang sangat mengejutkan, tapi itu menunjukkan mereka memiliki pijakan yang solid. Mereka masih kecil, tapi itu adalah bagian dari apa yang menjadikannya bagus. Para programernya muda dan lapar. Rumornya, mereka mempunyai ide-ide yang sangat cemerlang. Dan mereka punya otak untuk mewujudkannya. Apa yang tidak mereka miliki adalah modal."

Dia berdiri dan bersandar di atas mejaku untuk memberikan sebuah berkas. Aku diserang oleh aroma manis seperti bunga. Lezat, memikat—bukan seperti parfum yang nenek-nenek pakai yang praktis membuat kalian tersedak ketika berpapasan dengannya di kantor pos.

Aku memiliki keinginan untuk menenggelamkan wajahku ke rambutnya dan menarik nafas dalam-dalam.

Tapi aku menolak dan membuka berkas sebagai gantinya.

"Aku telah menunjukkan apa yang aku punya Tuan Cho...eh ayahmu, dia mengatakan padaku untuk menjelaskan ini padamu, dia pikir salah satu dari klienmu—"

"Alphacom." Aku mengangguk.

"Benar, dia pikir Alphacom akan tertarik."

Aku melihat pekerjaan yang dia lakukan sejauh ini. Ini bagus. Rinci dan informatif tapi terfokus. Perlahan-lahan, otakku—yang ada diatas bahuku—mulai berpindah fokus. Jika ada satu topik yang memiliki harapan untuk mengeluarkanku dari pikiran tentang seks, itu adalah pekerjaan. Sesuatu yang bagus. Aku pasti bisa mencium potensi di sini.

Ini tidak beraroma selezat Lee Sungmin, tapi mendekati.

"Ini bagus Sungmin, sangat bagus, aku pasti bisa menjual ini untuk Jonghyun. Dia adalah CEO Alphacom."

Matanya sedikit menyipit. "Tapi, kau akan memasukkan aku ke dalam tim, kan?"

Aku menyeringai. "Tentu saja, apa aku terlihat seperti tipe orang yang butuh mencuri proposal orang lain?"

Dia memutar matanya dan tersenyum. Kali ini, aku tidak bisa berpaling.

"Tidak, tentu saja bukan Tuan Cho. Aku tidak bermaksud mengartikan...Itu hanya...kau tahu...hari pertama."

Aku memberi isyarat baginya untuk duduk kembali, dan dia menurut. "Baiklah, aku akan mengatakan dari yang terlihat ini, kau menjalani hari pertama yang bagus. Dan, tolong, panggil saja Kyuhyun."

Dia mengangguk. Aku bersandar di kursiku menilainya. Mataku memeriksa seluruh tubuhnya dari ujung kepala sampai kaki dengan cara yang sama sekali tidak profesional. Aku tahu itu. Tapi kelihatannya aku tidak peduli.

"Jadi...merayakan pekerjaan baru, ya?" Aku bertanya mengacu pada komentarnya di bar hari Sabtu.

Dia menggigit bibir, dan celanaku mengetat saat milikku menggeliat dan mengeras—lagi. Kalau ini terus berlangsung aku akan mengalami blue balls ketika aku sampai di rumah.

"Ya. Pekerjaan baru." Dia mengangkat bahu kemudian mengatakan, "Aku menduga siapa kau, ketika kau menyebutkan siapa namamu dan nama perusahaanmu."

"Kau pernah dengar tentang aku?" Aku bertanya, benar-benar penasaran.

"Tentu. Kupikir hanya ada sedikit orang di bidang ini yang belum membaca tentang si anak emas dari CSL di Busines Weekly untuk urusan itu."

Kata-kata terakhirnya mengacu pada kolom gosip di halaman yang aku sering muncul.

"Jika satu-satunya alasan kau mengabaikanku karena aku bekerja di sini," kataku "Aku akan menyerahkan surat pengunduran diri di meja ayahku dalam satu jam."

Dia tertawa dan kemudian, dengan sedikit tersipu mewarnai pipinya, Sungmin menjawab, "Tidak, itu bukan satu-satunya alasan." Dia mengangkat tangannya untuk mengingatkanku tentang cincin pertunangan yang hampir tidak terlihat. "Tapi, bukankah kau senang sekarang bahwa aku menolakmu? Maksudku, akan jadi lumayan canggung jika sesuatu terjadi diantara kita, bukankah begitu?"

Wajahku benar-benar serius saat aku mengatakan padanya, "Pasti akan sepadan."

Dia mengangkat alisnya dengan ragu. "Meskipun aku bekerja di bawahmu sekarang?"

Sekarang, ayolah—dia menjurus tepat ke arah sana, dan dia tahu itu.

Bekerja di bawahku? Bagaimana mungkin aku mengabaikan kata-kata itu?

Namun aku hanya mengangkat alis, dan Sungmin menggelengkan kepala dan tertawa lagi.

Dengan senyum liar aku bertanya padanya "Aku tidak membuatmu tidak nyaman, kan?"

"Tidak. Sama sekali tidak. Tapi apakah kau memperlakukan semua karyawanmu dengan cara ini? Karena aku harus memberitahumu, kau membiarkan dirimu terbuka lebar untuk suatu gugatan."

Aku tidak bisa mencegah senyum dari bibirku. Dia mengejutkan.

Tajam. Cepat. Aku harus berpikir sebelum aku berbicara dengannya.

Aku suka itu.

Aku menyukainya.

"Tidak. Aku tidak memperlakukan semua karyawanku dengan cara ini. Belum pernah. Hanya satu, yang terus aku pikirkan sejak malam Minggu."

"Kau tidak bisa diperbaiki," katanya dengan cara yang memberitahuku kalau dia berpikir aku manis.

Aku memiliki banyak hal, sayang. Manis bukanlah salah satunya.

"Aku melihat sesuatu yang kuinginkan, dan aku mengejarnya. Aku terbiasa mendapatkan apa yang kuinginkan."

Kalian tidak akan pernah mendengar sebuah pernyataan yang lebih benar tentangku daripada itu.

Bagian berikut ini adalah penting.

"Dan kupikir kau seharusnya tahu, aku menginginkanmu, Sungmin."

Lihat bagaimana pipinya bersemu merah, sedikit keterkejutan di wajahnya? Lihat bagaimana wajahnya berubah menjadi serius, dan tatapannya bertemu dengan mataku kemudian memandang ke bawah lantai?

Aku mempengaruhinya. Sungmin juga menginginkanku. Tapi dia melawannya. Tapi itu ada di sana. Aku bisa mendapatkannya. Aku bisa membawanya tepat kearah yang sangat dia inginkan.

Pengetahuan ini membuatku menahan erangan saat organ bawahku bereaksi sekuat tenaga. Aku ingin berjalan menghampiri Sungmin dan menciumnya sampai dia tidak bisa berdiri. Aku ingin menyelipkan lidahku di antara bibir ranumnya sampai lututnya lunglai. Aku ingin mengangkatnya. Melingkarkan kakinya dipinggangku.

Menyandarkan tubuhnya di dinding dan...

"Hai, Kyuhyun. Ada kemacetan lalu lintas di jalan. Jika kau ingin mengadakan pertemuan jam empat, kau harus segera pergi."

Terima kasih Naeun, cara yang bagus untuk merusak suasana, sekretaris yang mengagumkan—pemilihan waktu yang mengerikan.

Sungmin bangkit dari kursinya, bahunya kaku, punggungnya lurus. Dia mendekat ke arah pintu dan menolak untuk menatapku. "Jadi, terima kasih untuk waktumu Tuan Cho. Kau...ah...beritahu aku kapan kau menginginkanku."

Aku mengangkat alisku penuh arti oleh kata-katanya. Aku suka dia tersipu—dan akulah orang yang melakukan ini padanya.

Masih menghindari kontak mata, dia menyeringai kecil. "Tentang Alphacom dan Genesis. Beritahu aku apa yang harus kulakukan...apa yang kau ingin aku lakukan...apa...oh, kau tahu apa yang kumaksud."

Sebelum dia keluar dari pintu, suaraku menghentikannya. "Sungmin?"

Dia menoleh kearahku, matanya penuh tanya.

Aku menunjuk ke diriku sendiri. "Panggil saja Kyuhyun."

Dia tersenyum, memulihkan dirinya sendiri. Kepercayaan diri alaminya kembali ke dalam matanya.

Kemudian matanya bertemu dengan tatapanku. "Benar. Aku akan bertemu denganmu nanti, Kyuhyun."

Setelah dia keluar dari pintu, aku bilang pada diriku sendiri, "Oh, ya. Ya, pasti."

Saat aku memeriksa tasku sebelum pergi ke pertemuan, aku menyadari ketertarikan ini—tidak, itu bukan kata yang cukup kuat— kebutuhan yang kumiliki pada Lee Sungmin tidak akan hilang. Aku bisa berusaha dan melawannya, tapi aku hanya seorang pria, demi Tuhan. Dibiarkan tak terselesaikan, hasratku untuk Sungmin bisa mengubah kantorku, tempat yang aku cintai, menjadi sebuah ruang penyiksaan dari frustasi seksual.

Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.

Jadi, aku punya tiga pilihan: aku bisa keluar dari pekerjaanku. Aku bisa membuat Sungmin keluar dari pekerjaannya. Atau aku bisa membujuknya untuk berbagi satu malam yang sangat menyenangkan denganku. Kedua belah pihak melampiaskan hasrat masing-masing—Persetan dengan konsekuensinya.

Tebak, mana yang akan kupilih?


.

.

.

To Be Continued

.

.

.


Annyeong ^^

Aku bawa BAB 2 nya. Terima kasih untuk kalian yang mau membaca FF ini.

Special Thanks to:

Hamano Hiruka , ovallea , danactebh , nanayukeroo , chjiechjie , Shengmin137 , vha137 , Michiko Haruna , dan xxnunxxcan.

Keep review ya Joyers ^^

Sign, 137darkpinku