Chapter 2: Anemone.

Disclaimer: Hiro Mashima

Warning: AU, OOC, and typo(s)

Pair: Gray Fullbuster and Juvia Locksar

Genre: Romance/Drama

Rate: T

.

.

.

Anemone

~ Harapan yang pudar.

.

Gadis berambut biru itu terdiam. Sendirian menatap taman yang masih cukup ramai oleh pengunjung, Bahkan setelah hampir tigapuluh menit ia tinggalkan.

Anak-anak tersenyum dengan bebasnya. Bermain bersama teman-temannya tanpa sedikitpun terlihat mempunyai masalah.

Andai saja hidupnya bisa seperti itu.

Ia hanya ingin kebahagiaan yang sederhana.

Apakah itu terlalu berlebihan?

Apa kata sederhana terlalu berlebihan untuk Tuhan kabulkan?

Untuk kesekian kalinya ia menarik nafas berat, kemudian kembali menghembuskannya. Matanya menatap lirih kedepan.

Mengingat kejadian yang beberapa menit lalu terjadi hanya membuat dadanya terasa begitu sesak.

Tapi ia tak bisa berhenti memikirkannya.

Mengingat pemuda dingin yang pergi begitu saja setelah mendengar pengakuannya.

Mengingat pemuda dingin itu hanya menatapnya datar atas pengakuan besarnya.

Apakah hal itu sama sekali tak penting baginya?

Ia meringis. Bibirnya tersenyum pahit.

Ternyata sesuatu yang tak mungkin memang tidak ada. Ia terlalu... Ia terlalu banyak berharap.

Terlalu banyak berharap pada orang yang seharusnya tidak ia gantungkan harapan.

Ia tidak menyesal... Sungguh tidak...

Tapi rasa bersalah menyelimuti perbuatannyanya sendiri.

Tanpa ia sadari airmata kembali menggenangi kelopak matanya. Membuyarkan pandangannya. Mengalir cepat dan deras melewati kedua pipinya.

Cepat-cepat ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Berharap agar orang lain tak berfikir macam-macam karna ia sedang mengangis.

Setidaknya kali ini saja ... Biarkan ia menangis karna cinta.

Karna tak ada tempat lain baginya untuk mengadu... Tak ada tempat lain selain air mata itu sendiri.

Kau tanya kenapa ia tak mengadu pada Tuhan?

Jawabannya tidak. Bahkan Tuhan tak pernah mengabulkan doanya untuk menghidupkan kakaknya kembali.

Karna itu ia tak percaya lagi...

Maka, biar saja begini. Biarkan isak tangisnya menjadi saksi betapa menggelikannya hidup yang ia jalani.. Betapa menyedihkanya jalan yang ia lewati.

Karna ia tak tau harus bagaimana lagi.

Ia hanya bisa menangisi. Karna tak ada yang bisa disesali...

Harusnya... Ia tak pernah jatuh cinta...

Apalagi pada orang yang salah...

.

.

.

Natal hampir tiba. Orang-orang sibuk mempersiapkan segala keperluan natal yang kemungkinan besar akan mereka butuhkan.

Mulai dari pohon natal, accesories penghias, hingga kado yang akan diberikan diacara natal nanti.

Semua orang sibuk. Bahkan murid-murid kelas tiga di Fairu gakuen ini juga sibuk mempersiapkan acara mereka masing-masing.

Pelajaran kosong terisi dengan suara murid-murid yang sibuk berjalan kesana kemari. Membicarakan acara, tempat, waktu yang akan mereka gunakan untuk berkumpul.

Juvia hanya tersenyum kecil. Memperhatikan tingkah teman-temannya yang sibuk dengan dunia mereka sendiri.

Samar-samar ia mendengar salah satu temannya akan berlibur ke Kanada untuk bermain sky bersama keluarga.

Lagi-lagi ia tersenyum kecut. Mereka benar-benar beruntung dapat menghabiskan hari spesial bersama orang-orang yang mereka sayangi.

Kalau di ingat-ingat sekali lagi, terakhir kali ia merayakan natal bersama keluarganya sekitar tiga tahun yang lalu.

Tepat seminggu sebelum orang yang benar-benar ia sayangi meninggal karna kecelakaan pesawat.

Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.

Saat ini ia sama sekali tak ingin memikirkan hal-hal seperti itu. Hanya membuatnya pusing saja.

Ia menghembuskan nafas berat. Dengan mengabaikan tingkah laku teman-temannya yang lain, dibuka buku catatan bahasa Inggrisnya yang sedari tadi ia letakkan diatas meja.

Toh ini lebih baik daripada membicarakan hari natal yang tak ada bedanya dengan hari-hari yang lain.

Saat ia tengah sibuk bergulat dengan bacaan-bacaan asing tersebut, tanpa ia sadari sepasang mata bewarna biru samudra tengah menatapnya intens dari sudut kelas.

.

" Juvia-chan!" Suara familiar itu membuyarkan konsentrasinya. Kini dilihatnya seorang gadis berambut pirang tengah melambai-lambaikan tangan kearahnya. Senyum manis terbingkai di bibir cerah gadis cantik itu. Membuat hati para lelaki meleleh karnanya.

Sungguh gadis yang sempurna.

" Lucy!" Sapanya sambil tersenyum lebar. Dengan buru-buru dibangkitkan tubuhnya. Menghampiri gadis populer yang ia panggil sebagai sahabat itu " Ada apa?"

" Aku bosan di kelas... Tidak asik membicarakan natal dengan mereka. Jadi aku bermaksud datang ke kelasmu... Eheheh.." Tawa ceria kembali menghiasi bibir gadis itu.

" Kau tidak bersama Natsu? Memangnya dia tidak ada di kelas?" Tanyanya kemudian.

" Natsu ada di ruang guru. Katanya ingin membicarakan universitas yang mau dia masuki nanti." Jawab Lucy. Disusul dengan langkah kaki Juvia yang berjalan keluar kelas.

" Memangnya Natsu mau masuk universitas apa?" Tanyanya lagi. Lucy tersenyum kecil, diselipkannya helaian rambut kebelakang telinganya.

" Universitas Osaka.. Dia bilang ingin sekali masuk ke sana."

" Osaka... Berarti-"

" Ya... Kita bakal pisah jauh.. " Lucy tersenyum kecil. Namun sedetik kemudian senyum cerianya kembali muncul " -Tapi tidak masalah. Kita sudah janji untuk terus berhubungan.." Lanjutnya ceria.

" Oh.." Jawab Juvia singkat. Dialihkan pandangannya menuju lorong kelas yang ramai oleh para murid.

" Tenang saja... " Lucy menepuk pundaknya pelan " Aku juga akan terus menghubungi Juvia-chan 'kok~" Senyumnya manis.

Juvia terdiam, menatap Lucy yang terus membingkai senyum hangat.

" Andai Tokyo dan Kyoto tak sejauh itu, pasti kita bisa sering bertemu.." Balasnya lirih. Senyuman miris terpampang jelas di wajahnya.

Lucy terdiam sebentar. Ditatapnya sahabat yang telah ia kenal selama hampir enam tahun itu. Dengan perlahan Lucy merangkulkan kedua tangannya di atas bahu gadis sapphire yang berdiri disebelahnya.

" Aku pasti akan merindukanmu.." Pelukan Lucy semakin erat. "Sangat.."

Juvia tersenyum kecil. Diangkatnya kedua tangannya. Mengelus pelan lengan Lucy yang kini melingkari lehernya.

" Aku juga... Aku akan sangat merindukanmu... Sangat.."

.

.

.

Trrrttt~ Trrrttt~ Trrrttt~

Suara ponsel yang bergetar mengalihkan perhatiannya. Dibangkitkan tubuhnya dari meja belajar tempatnya bergulat dengan berbagai macam buku saat ini.

Kaki jenjangnnya melangkah cepat. Tangannya segera menyambar pelan ponsel bewarna biru tua yang ada dikasurnya.

' Gajeel-kun '

Tulisan itu terpampang jelas dilayar biru ponselnya.

Ia menghebuskan nafas kesal. Seharusnya ia segera mengganti nomor ponselnya.

Dengan terpaksa ia menyentuh layar hijau yang ada di sudut kiri bawah ponsel itu, dan dengan cepat mengarahkannya tepat ke samping telinga.

" Moshi-moshi... Doushite, Gajeel-kun?" Tanyanya tanpa basa-basi.

" Hahaha. " Suara tawa terdengar dari sebrang, " Jangan cemberut gitu dong.." Canda pria itu.

" Tidak... Ada apa?" Tanyanya lagi.

" Bisa kau datang ke rumah sakit lusa?" Tanya pria itu kemudian.

Ia terdiam. Mulutnya malas untuk terbuka. Apalagi untuk membicarakan perihal rumah sakit. Karna ia tau pria baik itu pada akhirnya hanya akan membicarakan soal penyakitnya.

" Juvia..." Suara pria itu membuyarkan lamunanannya, " Kumohon jangan menghindar lagi..."

Ia menghembuskan nafas berat.

" Saat malam natal?" Tanyanya meyakinkan.

" Iya..."

" Juvia tidak yakin bisa atau tidak..."

" Tuh 'kan-"

" Bukan begitu!" Potongnya, " Juvia sepertinya ada acara dengan Lu-chan... Dan.. Juvia tidak mungkin membatalkannya.." Jelasnya.

Pria disebrang sana terdiam sebentar.

" Baiklah... Saat natal kau bisa? Tidak ada acara 'kan?" tawar pria itu.

" Ya.." Tanpa berfikir dua kali ia langsung menjawab.

" Bagus... Pukul sembilan pagi kutunggu dirumahku. Hitung-hitung sekalian berkunjung... Hahaha ! Saa~ Jaa ne!"

" Nee~ Jaa, Gajeel-kun..."

Klik.

Perasaannya tidak enak.

.

.

.

" Mau kemana kau?" Baru saja ia akan menyentuh engsel pintu, suara dingin itu mengelus gendang telinganya. Dengan gerakan perlahan seperti biasa, ia tatap ibunya yang duduk terdiam di atas sofa ruang tamunya.

Dengan sedikit keberanian, ia genggam tas biru tuanya. Menatap balik ibunya yang memandang dingin kearahnya.

" Um.. Ju-juvia.. Ada acara kumpul dengan te-teman, Kaa-san.. Juvia harap... Kaa-san m-mau mengijinkannya.. "

Hening.

Wanita paruh baya itu tak menjawab permintaannya.

Dengan sedikit keberanian yang ia kumpulkan lagi. Ia kembali berucap.

" K-kaa-san... " Panggilnya ragu.

" Terserah... " Jawab wanita itu singkat. Kembali ia mengalihkan pandangannya pada televisi yang sedari tadi menyala.

Dengan senyum yang mengembang dan tatapan tak percaya, ia memandangi ibunya yang saat ini kembali sibuk dengan objek lain.

Baru kali ini...

Baru kali ini sejak tiga tahun yang lalu...

Ia bisa pergi tanpa perlu sembunyi-sembunyi dari ibunya...

" A-arigatou, Kaa-san!" Balasnya sesaat sebelum berlari keluar rumah.

.

.

.

" Sini Juvia!" Teriakan Lucy terdengar disudut restoran. Dengan senyum mengembang dihampirinya gadis yang kini berdiri sambil terus melambai-lambai kearahnya.

Suasana restoran malam itu begitu hangat, tempatnya yang berada dipinggir pantai itu menambah suasana romantis bagi pasangan yang datang untuk merayakan malam natal bersama. Tentu saja bagi sepasang kekasih.

Rambut biru panjangnya tertiup oleh angin laut. Membelai pelan kulit wajahnya. Rona kemerahan yang muncul kontras sekali dengan kulit pucatnya.

Dengan senyum yang terus mengembang di sudut bibirnya. Ia segera menghampiri sahabatnya.

Tiba-tiba langkahnya memelan. Permata sapphirenya menangkap sesosok pemuda raven yang familiar. Seketika itu juga senyumannya pudar.

Bukan... Bukan karna takut.

Ia hanya bingung... Lucy tidak bilang pemuda itu akan datang...

Lalu bagaimana ia harus bersikap di depan pemuda yang kini menghadapkan pandangannya kearah laut?

Bahkan sejak 'pengakuan' yang hampir sebulan lalu terjadi, ia tak pernah bicara dan sebisa mungkin menghindari pemuda itu.

Sekalipun mereka adalah teman sekelas.

" Hey!" Rangkulan Lucy dilengannya membuyarkan pikirannya. Dilihatnya kini Lucy tengah menatap bingung kearahnya. " Ayo cepat!" Perintahnya bersamaan dengan tarikan tangan yang membawa Juvia menuju meja tujuan mereka.

" Oi, Juvia!" Sapa Natsu yang sedari tadi duduk di sebelah Lucy. Tepat di depan pemuda bernama Gray.

" Ko-konbanwa, Natsu-kun." Jawabnya gugup.

" Ayo duduk!" Suruh Lucy kemudian.

Didorong tubuhnya jatuh keatas kursi yang berada disamping Gray hingga menimbulkan suara decitan.

Dengan ragu diliriknya pemuda itu. Masih tak ada gerakan, pemuda itu masih saja membiarkan angin laut menerpa wajahnya.

" Aku sudah pesan makanan... Sebentar lagi juga datang 'kok~" Ucap Lucy kemudian.

" Hey, kita bahkan tidak tau kau memesan apa!" sanggah Natsu. Ia menatap tak percaya kearah kekasihnnya yang terlihat menahan tawa.

" Hahaha... Tenang saja! Kalian pasti suka kok~!" Balasnya meyakinkan.

Beberapa saat kemudian, Mereka kembali sibuk mengobrol satu sama lain.

Tidak! Lebih tepatnya Juvia sibuk memperhatikan Lucy dan Natsu yang asyik beragumen.

Senyuman kecil membingkai bibir gadis pintar itu. Tanpa sengaja matanya bergerak ke sisi kanan tepat dimana pemuda berambut raven yang kini sibuk dengan gamernya berada.

Ia menatap pemuda itu lama. Cukup lama tanpa ia sadar bahwa sedari tadi Lucy tengah berdehem kencang.

" Dia tidak sadar juga..." Bisik Lucy. Natsu yang mendengarkan penuturan gadis itu hanya tersenyum simpul.

" Biarkan saja mereka... " Balas pemuda bermata onyx itu.

Mereka kembali sibuk dengan argumennya. Meninggalkan keheningan antara Juvia dan Gray yang duduk di depan mereka.

" Berhenti memandangiku seperti itu..." Suara dingin Gray menyadarkannya. " Menjijikkan... "

Deg!

" A-" Gadis itu terkejut. Matanya bergerak kesana kemari mencari jawaban yang tepat. " M-maaf..." Balasnya pelan.

Ditundukkan kepalanya. Permata sapphirenya menatap sedih ke kotak kecil yang sedari tadi ia bawa.

Matanya terasa panas. Sadar bahwa sedikit lagi airmata akan menggenangi matanya. Tapi ia berusaha kuat. Ia tak ingin acara natal yang Lucy rencanakan rusak hanya karna tangisannya.

Tidak... Lagipula ia sudah janji untuk tidak menangis lagi.

Tidak...

Tidak atas apa yang pemuda itu katakan atau perbuat.

Setajam apapun ucapannya. Ia sudah janji tidak akan menangis.

Sekasar apapun perbuatannya. Ia sudah janji tidak akan menangis.

" -A... -Via... -Juvia!" Suara Lucy mengejutkannya. Ditatapnya Lucy yang kini khawatir melihatnya, " Kau kenapa?"

" A- apa? " Tawa renyah terdengar keluar dari mulutnya " Ti-tidak ada apa-apa 'kok..."

" Tapi dari tadi kau melamun terus.." Balas Lucy.

" Aku tidak apa-apa... Sungguh! " Bantahnya balik. Senyum kaku membingkai bibirnya yang kembali terlihat pucat.

Lucy terdiam sejenak. Tau bahwa kali ini memang ada yang salah dengan dirinya.

" Ya sudah.." Balas Lucy, " Kuharap kau mau cerita nanti... " Lanjutnya seakan mengerti akan apa yang Juvia pikirkan.

Juvia hanya terdiam. Ia benar-benar tidak ingin Lucy khawatir padanya. Rasanya tidak perlu saja bila gadis cantik itu repot-repot memikirkan kehidupannya yang bermasalah.

Apalagi mengenai perasaannya.

Sepertinya hal itu benar-benar tidak perlu.

" Ya..." Jawabnya sambil tersenyum.

.

.

.

" Ohayou~" Sapa Juvia ramah begitu pemilik rumah berpintu putih di depannya muncul.

Seorang wanita paruh baya _yang terlihat begitu ramah_ berdiri sambil tersenyum melihat kedatangannya.

" Merry christmas.." Lanjutnya sambil mengangkat sekotak kue apel yang sedari tadi ia pegang.

" Ohayou, Juvia-chan. Ayo masuk... " Sambut wanita itu hangat. Tangan panjangnya melingkari pundak gadis manis itu. Menuntunnya masuk ke dalam rumahnya.

" Masuklah... Letakkan saja kuenya di atas meja ruang keluarga... Gajeel, Mira dan Ouji-san sudah ada disana..." Suruh wanita itu ramah, " Aku kedapur dulu."

" Haik... Sumimasen, Obaa-san.." Jawabnya patuh dibalas dengan senyuman hangat wanita yang melenggang pergi ke dapur itu.

Langkahnya tertuju pada sebuah ruang keluarga yang kini berisik oleh suara tawa orang-orang yang ada di dalamnya.

" Sumimasen... " Sapanya begitu ia lihat tiga orang yang ia kenal dekat tengah tertawa.

Mereka semua menghentikan aktifitasnya sejenak. Menatap ke arah Juvia yang berdiri sambil mengangkat sekotak kue yang sudah ia persiapkan " Merry Christmas... " Sapanya sambil tersenyum.

" Juvia-chan!" Teriak seorang gadis cantik. Gadis itu setengah berlari ke arahnya. Dengan sebuah dorongan pelan gadis itu memeluknya erat " Aku kangen sekali padamu~"

" I-iya... Mira-nee sudah pulang dari Paris?" Tanyanya basa-basi.

" Sudah!" Jawab gadis belia itu. Mendorong tubuhnya dengan pelukan yang semakin erat.

" E- Mi-mira-nee... Kuenya nanti rusak..." Sanggah Juvia ditengah pelukan Mira yang terasa begitu erat.

" A!" Sadarnya " Maaf! Aku terlalu senang sih...! Ayo masuk!" Suruh gadis berusia duapuluh tahun itu.

" Iya..." Dengan sopan ia mengikuti gadis itu masuk keruang keluarga.

Senyuman hangat dari Ouji-san dan Gajeel menyambutnya begitu ia merebahkan tubuhnya di sofa yang terasa sangat empuk itu.

" Konnichiwa, Ouji-san.. Gajeel-kun..." Sapanya ramah.

" Konnichiwa, Juvia-chan.. " Balas lelaki yang ia panggil sebagai paman itu.

" Merry christmas, Juvia..." Sambung Gajeel sambil tersenyum ceria padanya.

Di sinilah keluarga keduanya berada...

.

.

" Lihat ini..."

Secara perlahan Gajeel meletakkan sebuah map putih di atas meja ruang keluarga.

Saat ini hanya ada ia dan Juvia yang duduk terdiam. Yang lainnya sedang sibuk dengan kegiatan mereka di dapur. Alasan lain adalah karna mereka juga mengerti maksud kedatangan Juvia yang sebenarnya.

" Aku tak ingin menjelaskan panjang lebar... Bacalah.."

Dengan ragu tangan pucat Juvia menggapai map putih yang berlabelkan rumah sakit yang sama tempatnya berobat selama ini.

Dengan erangan bosan dalam hatinya, dibukanya map putih itu secara perlahan.

Menunjukkan selembar kertas bertuliskan hal-hal yang sungguh membuatnya muak.

Gerakan matanya terhenti. Menandakan bahwa ia telah selesai membaca isi kertas tersebut.

Sebenarnya tanpa perlu membaca sekalipun ia sudah mengerti isi surat tersebut. Surat laporan yang sama seperti yang dikirimkan padanya setiap satu setengah bulan sekali. Membuatnya merasa begitu muak dengan melihat tulisan didalamnya.

Isi laporan itu selalu sama.

Selalu saja melaporkan kesehatannya yang semakin menurun.

Selalu saja melaporkan penyakitnya yang semakin memburuk.

Sungguh ingin rasanya ia melemparkan apapun hanya untuk membuat keberadaan surat itu lenyap.

" Rambutmu rontok..." Sebuah pernyataan keluar dari bibir pria lembut tersebut, " Tubuhmu mengurus... Kepalamu sering terasa sakit... Penglihatanmu be-"

" Sudah!" Potongnya " Juvia sudah tau..." Suaranya melemah " Juvia sudah tau... Gajeel-kun tidak perlu memberitahukannya..."

Ia kembali menundukkan kepalanya. Tubuhnya bergetar pelan.

Pria itu menatap gadis muda di depannya lirih. Rasanya begitu miris untuk mengetahui keadaannya.

" Makanya kau harus segera sembuh Juvia..." Suruh pemuda itu dengan sabar.

" Tidak.. Tidak perlu..." Bantah Juvia.

" Kenapa?" Tanyanya lagi masih dengan nada yang sama.

" Juvia tidak mau sembuh..." Jawab Juvia kekanak-kanakan

" Kenapa?"

" Ka-kalau dia sembuh... Berarti dia akan kembali sehat... Kalau dia sehat... Berarti dia akan hidup lebih lama lagi... Padahal Juvia sendirian..." Suaranya melemah. Bagai anak kecil yang mengutarakkan kesedihannya tanpa berfikir terlebih dulu. " Kalau dia sendirian... Dia pasti akan kesepian..." Isaknya, " Juvia tidak mau..."

Gajeel kehilangan kata-kata.

Mulutnya terasa kelu untuk mengucapkan sepatah katapun.

Dipandangi sekali lagi gadis itu dengan tatapan lirih.

Entah apa yang akan Levy katakan bila melihat adik kecilnya menderita seperti ini.

Entah apa yang akan Levy lakukan bila melihat gadis kecil itu terisak seperti ini.

Dan untuk pertamakalinya, ia harap wanita yang dicintainya hidup kembali.

Setidaknya untuk menuntun gadis lemah yang ada di hadapannya ini.

Tangan besarnya mengelus pelan helaian rambut biru milik Juvia. Berharap dapat menggantikan sedikit saja sosok kakak yang selama ini gadis itu rindukan. Sambil tersenyum kecil ia berucap.

" Kau tidak sendirian... Kau tidak kesepian, Juvia..."

"..."

" Aku janji... Kau akan segera sembuh.."

"..."

" Kita akan segera menjalani operasi ini.."

.

.

.

Butiran-butiran heksagonal berputar putar diudara. Bertiup tiup pelan sebelum akhirnya mendaratkan diri mereka di atas tanah yang berselimutkan salju putih. Dahan-dahan pohon tertiup pelan. Daun-daunnya telah hilang dimakan musim. Berharap tumbuh kembali diawal musim semi yang masih akan datang dua bulan lagi.

Angin berhembus kencang masuk kedalam jendela kelas yang terbuka lebar. Menghempaskan diri di wajah dua orang gadis yang kini duduk terdiam dalam kelas.

" Ini malam tahun baru ya?" Tanya Lucy tanpa mengalihkan pandangannya dari butiran-butiran salju yang jatuh dari atas langit. Terhempas dengan lembutnya di atas bumi.

Juvia hanya mengangguk, begitu malas untuk menjawab pertanyaan retoris yang Lucy lontarkan.

" Cepat sekali ya..."

" Ya..."

" Sebentar lagi kita akan berpisah..." Lanjut Lucy.

Juvia mendesah.

" Pindah kota bukan akhir dari segalanya Lu-chan..." Sanggah Juvia cepat.

" Aku tau.. Tapi entah kenapa, aku merasa begitu khawatir..." Jawabnya kemudian. Dialihkan pandangannya. Menatap Juvia yang terlihat bingung.

" Aku khawatir sekali..."

" Ke..napa?" Tanya Juvia ragu.

" Kau... Baik-baik saja 'kan Juvia?" Tanyanya kemudian.

Juvia membelalakkan kedua matanya. Mulutnya tergagu, bingung harus menjawab apa.

" T-tentu saja... Kau ini kenapa sih?" tawa hambar menyertai jawabannya.

" Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku 'kan?" Tanya Lucy mencoba meyakinkan.

Juvia kembali terdiam. Dialihkannya pandangannya keluar jendela. Menatap langit senja yang bertaburan salju sore itu.

" Tidak, Lucy..." Jawabnya singkat.

" Kau bohong... Kenapa kau tidak menatapku?" Tanya Lucy semakin curiga.

" Aku tidak bohong..." Lanjutnya dengan penekanan di setiap katanya.

Dia tau dia salah.

Dia tau kalau sesungguhnya ia menyembunyikan banyak hal dari Lucy.

Tapi hanya ini yang dapat ia lakukan...

" Aku serius..."

.

" Kau akan kemana nanti malam dan tahun baru besok?" Juvia membuka pembicaraan. Memecahkan keheningan yang meyeruak selagi kaki mereka melangkah menyusuri lorong kelas yang sepi.

" Ummm... Nanti malam Natsu mengajakku keluar melihat kembang api di Tokyo skytree..." Jawab Lucy pelan. Rona merah muncul seiringan dengan wajahnya yang sedikit menunduk.

" Ahahaha..." Juvia tertawa. Diliriknya Lucy yang wajahnya kian memerah.

" Hey! " Bentak Lucy, " Apa yang lucu?"

" Ekspresi Lu-chan.. " Jawabnya innoncent. " Nnnh~ lalu?" Lanjutnya mencoba mengganti topik pembicaraan.

Lucy tersenyum lembut. Kemudian ditatapnya Juvia yang kini menunjukkan ekspresi penasaran.

" Aku ada gathering dengan teman agensi.. Salah seorang senior baru kembali dari luar negri.." Lanjutnya. " Kalau Juvia-chan?" Tanyanya balik.

" Entahlah..." Ia menghembuskan nafas. " Mungkin hanya berdiam di rumah..."

Jeda keheningan seketika menyeruak diantara mereka berdua.

" Hey... " Panggil Lucy kemudian, " Kudengar tahun baru nanti ada pameran di Ueno park..." Lucy memberitahu.

" Pameran apa?"

" Pameran rumah kaca!" Jawab Lucy semangat, " Kau suka 'kan? Aku yakin acara disana juga akan menarik..."

" Benarkah?" Tanyanya tak kalah tertarik, " Pukul berapa acara dimulai?"

" Sekitar pukul delapan pagi... Kau sudah bisa datang ke sana." Lucy tersenyum manis. Matanya menyipit seiringan dengan bibirnya yang tertarik keatas.

" Aku ingin datang..." Gumam Juvia kemudian. Matanya kembali menatap jalan lorong yang ada di depan mereka.

" Kalau begitu datanglah... Kau bisa.. Kau bisa ajak Gray!"

Deg.

" Kudengar dia juga suka pameran sejenis itu..."

Juvia masih terdiam.

Tak berniat untuk segera membalas ucapan Lucy. Lebih tepatnya ia tidak tau.

Tentu saja ia ingin mengajak Gray untuk melihat pameran itu.

Mungkin pemuda itu juga takkan menolak.

Tapi bila dilihat dari keadaan mereka sekarang ini... Untuk bertatap muka saja sepertinya tidak mungkin...

" -gaimana, Juvia?" Tanya Lucy. Tetapi gadis berambut biru disebelahnya tetap tak menggubris.

Ia mengerutkan kening. Tidak biasanya gadis itu termenung saat topik pembicaraan mereka mengarah pada Gray. Tidak... Tidak biasanya kecuali beberapa hari belakangan ini.

Lucy mengangkat tangan kanannya. Menggerakkan ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Berharap mendapatkan perhatian dari sahabatnya.

" Juvia!" Panggilnya cukup keras.

Gadis itu terkejut. Menatapnya dengan tatapan ragu seakan ia baru kembali entah darimana. Akhirnya senyum kaku muncul dari kedua sudut bibir gadis itu, memastikan bahwa hal sedang baik-baik saja. Tapi Lucy tak sebodoh itu untuk percaya.

" Kau mendengarkanku tidak sih?"

" De-dengar kok... I-iya aku tau kalau Gray-sama juga suka datang ke pameran seperti itu..." Jawabnya cepat. Mencoba menghindari rasa curiga yang kini berkilat-kilat di mata Lucy.

Tuh kan..

Dia tenggelam di dunianya sendiri..

" Kau tidak mendengarkanku..." Bibir Lucy menekuk. Menunjukkan kekecewaan yang kini dirasakannya " Kau memikirkan apa sih?" Tanyanya penasaran.

" Memikirkan tentang pameran.." Jawabnya cepat.

" Bohong... Belakangan kau sering melamun.. Kau.." Ucapan Lucy terhenti. Diliriknya Juvia yang kini terdiam sambil mengepalkan kedua telapak tangannya. Menandakan kegugupan yang gadis itu rasakan " Kau ada masalah dengan Gray?" Tanyanya ragu.

Langkah mereka terhenti tepat di gerbang sekolah yang sepi. Dengan saling memandang satu sama lain, Juvia berusaha menyembunyikan kegugupan yang kian menyeruak keluar dari dalam hatinya.

" M-masalah apa?" Lagi-lagi ia tersenyum palsu.

" Entahlah... Makanya kutanya kau punya masalah dengan Gray?" Jelas Lucy kesal. Ia benci kalau sahabatnya itu menunjukkan gerak-gerik aneh tanpa sebab. Sungguh... Ia hanya khawatir kalau-kalau sesuatu terjadi pada gadis itu.

" Ti-tidak kok... Tidak sama sekali..." Sanggahnya.

Bohong.

Jelas-jelas ia punya masalah besar dengan pemuda tampan itu.

" Lalu kenapa? Kulihat belakangan kalian juga 'tak pernah bicara..." Lanjut Lucy lagi. Menekankan kata tak pernah yang memang menggambarkan kenyataan antara sahabat dan temannya itu.

" Itu hanya perasaanmu saja..." Juvia tertawa hambar. Ia benar-benar tidak ingin membahas soal masalah ini dengan Lucy. Benar-benar tidak ingin apalagi karna gadis itu adalah satu-satunya alasan kenapa mereka jadi seperti ini.

Lucy menghembuskan nafas pelan. Hal yang paling dibenci dengan Juvia adalah ketertutupannya. Bahkan atas segala keterbukaan yang ia berikan pada Juvia. Apa gadis itu tak percaya padanya?

" Kau janji akan menceritakannya padaku.." Lanjut Lucy kemudian. Memandang Juvia dengan tatapan penuh harap. Tapi yang ia dapatkan hanya pengabaian dari sahabatnya yang lagi-lagi melamun.

" Juvia!" Habis sudah kesabarannya.

" A-apa? Kau kenapa sih Lucy?" Tanya Juvia lagi. Benar-benar tak fokus dengan topik pembicaraan antara mereka berdua saat ini.

" Harusnya aku yang bertanya! Kau ini kenapa?!" Tanyanya hampir berteriak. Bersyukur sore itu jalan terlihat sepi. Lagipula siapa juga yang ingin berdiam diri lebih lama di sekolah saat beberapa jam lagi malam tahun baru akan tiba?

Yah, kecuali mereka berdua.

" Aku baik-baik saja-"

" Bohong!" Potong Lucy cepat " Kau itu tidak pintar berbohong, bodoh!"

" Lalu aku harus apa?" Tanya Juvia yang juga mulai kehabisan kesabaran.

" Ceritakan masalahmu! Kau sudah janji akan menceritakannya! Saat malam natal kemarin kalian berdua terlihat aneh! Aku yakin juga ada yang salah!" Bentak Juvia. Mencoba memaksa sahabatnya untuk membuka mulut.

Setidaknya ia punya alasan untuk membantu gadis itu.

" Kenapa sih kau cerewet sekali! Aku pasti akan cerita jika aku memang ingin menceritakannya..." Tolak Juvia setengah berteriak.

" Aku ini khawatir! Benar-benar khawatir padamu! Belakangan kau berubah! Baik fisik maupun tingkahmu! Kupikir kau sakit.. Tapi.. Aku baru sadar dan yakin kalau bukan hanya sakit.. Sebenarnya..." Perkataanya terhenti. Berusaha menyusun kata-kata sebaik mungkin agar tidak menyakiti perasaan sahabatnya itu. " -Sebenarnya kau kenapa? Kalau kau sakit cerita padaku. Kalau kau ada masalah cerita padaku, Juvia. Aku benar-benar khawatir... Aku tidak ingin kau kenapa-napa.." Lanjutnya lirih. Ditatapnya dengan serius sahabatnya yang kini berkaca-kaca.

" Aku tidak ingin kau sedih..."

Angin musim dingin diakhir bulan desember berhembus kencang. Menerbangkan helaian rambut halus dari kedua gadis remaja itu. Mereka berdua hanya terdiam. Lucy terus menatap sahabatnya yang kini hanya diam dan melihat objek di jalan yang gadis itu pijak.

Masih. Ia masih belum mendapatkan jawabannya.

" Kau tidak percaya padaku?" Tanyanya tiba-tiba. Membuat gadis bermata sapphire itu mengangkat kepala dan menatapnya tak percaya.

" Te-tentu saja aku percaya pada Lucy!" sanggah gadis itu.

" Lalu?" Tanyanya datar

" A-aku... Aku pasti akan cerita. Aku janji..." Gadis itu kembali memalingkan wajahnya. Ragu menatap Lucy yang melihatnya dengan intens.

Lucy tersenyum kecil. Entah kenapa ia baru sadar kalau ia begitu emosional. Harusnya ia juga tau kalau ia salah jika memaksa Juvia untuk menceitakannya. Apalagi dia belum tau apakah ia akan jadi pendengar yang baik seperti yang Juvia sering lakukan saat mendengar ceritanya.

Sekali lagi. Lucy menghembuskan nafas pelan.

" Maaf,ya..." Ia tersenyum kecil dan kembali menarik perhatian gadis manis di depannya. " Maaf terlalu memojokkanmu. Aku.. Aku hanya kelewat khawatir..." Jujurnya.

Juvia membingkai senyum tipis. Menatap lirih kearah sahabatnya yang kini menunggu jawaban darinya.

" Ya.. Maaf sudah membentak Lu-chan. Aku juga salah..." Balasnya.

" Kalau begitu... Kita lupakan kejadian ini. Tapi kau tetap janji untuk menceritakan padaku, 'kan? " Senyum Lucy semakin lebar.

" Ya.. Aku janji. Aku.. Pecaya pada Lucy..."

.

.

.

Helaian rambut biru terangkat seiringan dengan angin lembut yang berhembus. Seorang gadis manis membiarkan kaki jejangnya yang terselimut stocking abu-abu melangkah. Sepatu kulit bewarna coklatnya menginjak butir-butir salju yang membentang di sepanjang jalan.

Nafasnya mengepulkan uap-uap dingin dari mulutnya. Permata sapphirenya menatap jalan-jalan yang ramai oleh pejalan kaki di awal tahun ini.

Sudah hampir 15 menit ia berjalan kaki menyusuri jalan. Tujuan utamanya hanya satu; Ueno park. Dengan senyum kecil disudut bibirnya yang terlihat pucat, ia mempercepat langkahnya begitu taman yang ia tuju telah berdiri di depan mata.

Dengan perasaan tidak sabar dan bertanya-tanya, kakinya mulai melangkah masuk ke dalam taman yang penuh oleh pengunjung. Stand-stand pedagang kaki lima berjejer di sekitar pintu masuk. Para penjual berdiri mencoba menawarkan barang-barang yang mereka jual.

Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari bangunan transparan yang di dalamnya berisi oleh ribuan tanaman hias, baik berbunga maupun tidak. Karna menurut kabar yang ia dengar dari Lucy, bangunan kaca itu akan di buka pukul sembilan pagi. Dan sekarang jam tangannya telah menunjukkan pukul sembilan lebih tigapuluh menit.

" Ahh~" Gumamnya pelan begitu pemata birunya melihat bangunan kaca yang mulai ramai oleh pengunjung. Dapat ia lihat dari luar para pengunjung yang mengitari rumah kaca yang luasnya kurang lebih setengah hektar itu.

Matanya menatap takjub begitu kaki jenjangnya selesai membawanya masuk ke dalam bangunan kaca itu. Berbagai tanaman berjejer rapi diatas rak-rak yang telah tersusun sesuai jenisnya.

Baru kali ini sejak beberapa tahun yang lalu kembali diadakan pameran tanaman di pertengahan musim dingin, pikirnya. Kakinya terus melangkah masuk semakin dalam. Mencoba mencari tanaman berbunga yang kemungkinan besar ia temukan dalam bangunan ini.

Permatanya berbinar begitu dilihatnya sepetak tanah dengan ukuran kurang lebih 15 meter persegi berada tak jauh di depannya. Bukan, bukan hanya sekedar petak kosong yang berisikan tanah subur. Tapi apa yang tertanam di dalam petak itulah yang membuat dirinya semakin senang.

Segerombolan bunga krisan yang bewarna-warni berjejer rapi, menciptakan gradasi warna yang seakan terlihat seperti pelangi dari kejauhan. Uapan putih berhembus semakin jelas seiringan dengan nafasnya yang sedikit terengah. Kini dirinya telah berdiri tepat di depan petak berisikan ribuan kelopak bunga krisan itu. Dirinya tersenyum manis.

Rasanya sudah lama sekali.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia datang melihat hal seperti ini.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia melihat bunga krisan yang bermekaran di musim dingin.

Di tempat yang sama ini...

.

Terakhir kali ia datang ke tempat inipun sekitar tiga tahun yang lalu...

Saat pemuda dingin berambut raven menemukannya tengah menangis sendirian di bawah pohon ginko yang telah kehilangan daunnya. Di musim dingin beberapa tahun yang lalu.

Pemuda itu pun memaksanya untuk mengikutinya tanpa berkata apa-apa. Awalnya ia kesal, sungguh. Tapi begitu ia melihat kemana pemuda itu membawanya pergi, airmata kembali membanjiri pipinya. Bukan, bukan karna sedih, tapi saat matanya menangkap segerombolan bunga krisan bewarna-warni tengah bermekaran dengan indahnya, ia hanya bisa tersenyum senang.

Dengan gerakan cepat ia segera menghapus jejak-jejak air mata yang masih membekas dengan jelas di pipi pucatnya.

" Teri-" Ucapannya terhenti begitu pemuda itu menggerakkan kedua tangannya di depan dada. Menyuruhnya untuk tetap berada disitu selagi ia berlari ke sisi lain bangunan tempat mereka berada.

Matanya menatap penuh pertanyaan. Memandang pemuda empat belas tahun yang kini menghilang dari jarak pandangnya.

Dengan pelan kembali ia pusatkan perhatiannya pada segerombolan bunga krisan yang ada disampingnya. di dudukkan tubuhnya tepat di depan petak bunga tersebut. Kembali bibirnya tersenyum kecil, di petiknya setangkai bunga krisan bewarna putih yang ada di depannya.

" Hei.." Panggilan lembut itu menyadarkannya dari lamunan. Dilihatnya pemuda berambut raven itu telah kembali dan ikut duduk di sampingnya. Senyum kecil juga menghiasi bibir pemuda itu.

" Terimakasih.." Katanya pelan. Namun pemuda itu cukup jeli untuk mendengar suaranya. Pemuda itu mentapanya lembut. Menyiratkan sebuah kepedulian yang amat sangat terhadap gadis yang sudah ia kenal sejak hampir enam tahun lamanya.

" Sudah menangisnya?" Canda pemuda itu kemudian. Bukannya mendapat jawaban, ia malah melihat semburat merah yang mucul dari kedua pipi gadis pucat yang duduk di sebelahnya. " Ahahah... Baguslah.." Ucapnya kemudian.

" Ini..."

Gadis itu menengok, menatap matanya namun tetap tak mengerti atas apa yang akan pemuda itu berikan. Namun sesaat setelah ia melihat sekelopak bunga camellia putih yang pemuda itu selipkan diantara helaian rambut dan telinganya, ia baru mengerti.

Tanpa ia sadari, pipinya kini terlihat semakin memerah. Bahkan kau bisa bandingkan dengan kepiting rebus yang biasa ia temukan di kedai-kedai seafood sekitar Shibuya.

" Begini baru cocok.." Lanjut pemuda itu. " Tesenyumlah.. Aku lebih suka melihatmu tersenyum.." Dan pemuda itupun membingkai senyum semakin lebar.

.

Matanya mengerjap berkali-kali. Menyadarkannya dari lamunan panjang masa lalu yang menghampirinya. Ia menghembuskan nafas pelan. Masa lalu adalah hal yang paling sulit di pisahkan dengan waktu.

Sesaat matanya menyusuri tiap-tiap sudut bangunan yang terlihat sepi oleh pengunjung. Hingga Ia melihat sebuah objek tanaman berbunga putih, merah dan pink yang menarik perhatiannya.

Bunga camellia..

Bunga yang sama seperti terakhir kali ia datang ketempat ini..

Tanpa menengok kesekeliling lagi, dengan cepat ia melangkahkan kaki jenjangnya ke sudut tempat dimana tanaman itu berada.

Mengabaikan tatapan aneh dari orang lain yang sedari tadi melihatnya berlari-lari. Ia tak peduli. Yang ingin ia lakukan saat ini adalah menghampiri sudut bangunan itu. Ya... Ia ingin segera sampai kesana. Dan entah kenapa rasanya berpuluh-puluh meter lebih jauh dari jarak yang seharusnya ia tempuh.

Nafasnya terengah. Tidak seharusnya ia berlari sejak tadi. Gajeel saja sudah melarangnya untuk membuang-buang tenaga agar ia tidak kelelahan. Tapi ia tidak peduli, ia sudah terlanjur rindu oleh bunga itu-

Bruk.

Tubuhnya terjatuh.

Sepertinya ia habis menabrak sesuatu tadi. Sesuatu yang dingin namun kokoh. Tapi cukup lembut juga. Mungkin tiang listrik?

Ia gelengkan kepalanya. Tidak mungkin mendadak ada tiang listrik di hadapannya kan?

Tanpa membuang waktu lebih lama. Dibangkitkan tubuhnya yang telah terjatuh diatas tanah. Dengan masih memfokuskan pandangan dengan roknya yang kemungkinan besar kotor oleh butir-butir pasir, ia tak menyadari bahwa ia sama sekali belum mengucapkan kata maaf atau apa kepada orang yang telah ia tabrak.

" Maaf-" Perkataannya terhenti begitu ditatapnya sepasang permata dark blue yang juga terkejut melihatnya. " Maaf..." Ulangnya tanpa sadar.

Pemuda di depannya berdehem. Kecanggungan seketika menyelimuti mereka berdua.

Sungguh ia tak berharap sedikitpun untuk bertemu pemuda itu ditempat ini. Apalagi dengan cara bertabrakan seperti yang barusan terjadi.

Pikiran-pikiran negatifpun mulai muncul di otaknya. Mulai dari pemuda itu yang mungkin akan meneriakinya ' bodoh' atau ' tak punya mata'... Mungkin saja pemuda itu akan memukulnya karna kecerobohannya.. Atau mungkin- mungkin-..

" Ya.." Suara dingin itu akhirnya meyeruak masuk kedalam gendang telinganya. Menghetikannya dari pemikiran-pemikiran negatif yang ternyata tak muncul dalam realita.

Diliriknya pemuda itu yang kini melihat kearah lain, sama sepertinya yang masih saja tak berani menatap wajah tampan pemuda itu.

Dengan bergeleng pelan, ia kembali mengumpulkan suara-suaranya yang seakan tertahan di tenggorokkan.

" Permisi-" kata mereka bersamaan.

Membuat mereka semakin salah tingkah apalagi begitu kaki mereka sama-sama melangkah di tujuan yang sama.

Ia meneguk ludahnya. Bingung dengan apa yang ingin ia lakukan selanjutnya. Disisi lain, disaat kakinya sibuk melangkah 'berdampingan' dengan pemuda yang ia kenal dengan baik itu, perutnya serasa tergelitik, membuatnya ingin mengeluarkan suara tawa.

Sepertinya Tuhan tengah mengujinya.

" Humph-" seketika ia ingin merutuki diri sendiri yang tak dapat menahan tawanya. Dengan perasaan takut di liriknya pemuda yang berdiri tak jauh di sampingnya.

Bingo!

Dan pemuda itupun kini tengah menatapnya dengan tatapan yang sama.

Sesaat kemudian, tawa mereka berdua akhirnya pecah memenuhi bangunan kaca tersebut.

.

" Ternyata bunganya sudah mekar..." Ucap seorang pemuda berambut raven. Sedangkan gadis disebelahnya hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kecil.

Tepat di depan mereka sekumpulan bunga camellia tengah mekar dengan indahnya. Perpaduan antara merah, putih dan pink menari-nari pelan tertiup hembusan angin yang masuk melalui ventilasi.

" Aku takkan bertanya apa yang sedang kau lakukan disini..." Pemuda itu melanjutkan. Seketika tatapannya berubah serius. " Aku bahkan tak berharap bertemu denganmu disini... "

" Aku juga." Balas gadis itu cepat. " Aku sungguh tak berharap... Tapi sesuatu selalu terjadi di luar dugaan 'kan?" Lanjut gadis itu sambil tersenyum simpul.

Tak ada jawaban.

Hening kembali menyelimuti mereka berdua. Yang terdengar hanyalah suara-suara dari pengunjung lain dan hembusan angin yang bertiup melalui ventilasi yang terletak tepat diatas mereka berdiri.

Pemuda itu bergerak, kini seluruh tubuhnya sempurna menatap gadis mungil yang tadi berada di sebelahnya.

" Kau masih menyukaiku?" Tanya pemuda itu tanpa basa-basi.

Ia tersentak. Sungguh. Sebegitu mudahnya 'kah lelaki itu menanyakan perasaan suka nya?

Tapi, ia tetap harus menjawab.

" Ya.." Jujurnya. Matanya tetap menatap lurus pada objek di depannya. Bukannya takut melihat lelaki itu, hanya saja ia terlalu muak untuk menerima ekspresi meremehkan yang pemuda itu biasa berikan.

Tak ada yang bersuara lagi. Kemudian pemuda itu mengeluarkan tangan kanannya yang sedari tadi ia masukkan ke dalam saku celana jeans nya. Menggerakkan tangan putihnya kesebuah kelopak bunga camellia bewarna putih.

Ia mengikuti gerak tangan pemuda itu, tau akan apa yang ingin pemuda itu lakukan. Dengan cepat ditahannya pergelangan tangan milik pemuda raven itu.

" Jangan..." Tahannya seketika. Dengan paksa ia menurunkan kembali tangan pemuda itu dan terus menggenggamnya.

" Jangan petik bunga itu..."

" Kenapa?" Tanya pemuda itu datar.

Ia menghembuskan nafas berat. Dipejamkan kedua matanya. Mencoba mengatur emosi yang bercampur-aduk dalam hatinya. Seharusnya ia benar-benar tak bertemu pemuda itu sekarang.

Ia kembali membuka kelopak mata pucatnya.

" Jangan buat aku jatuh cinta untuk ketiga kalinya..."

Pemuda itu mengerutkan kening. Ragu akan apa yang ia ucapkan.

" Di tempat yang sama..."

Bibir ranumnya terbuka. Hendak menyelak perkataan gadis itu. Namun tak ada sedikitpun kata yang terlintas dalam benaknya.

" Dan karna hal yang sama..."

Dirasakannya genggaman tangan gadis itu yang kian mengerat. Permata samudranya kembali menangkap gerakan tangan gadis itu yang mengarah pada sekelopak bunga camelia merah yang berada di dekat mereka.

Tek.

Gadis itu kembali menggerakkan tangan pucatnya yang kini menggenggam sekelopak bunga. Mengarahkannya menuju tangan kirinya yang sedari tadi gadis itu genggam.

Tangan pucat gadis itu membuka kepalan tangannya, menaruh kelopak bunga bewarna merah yang barusan ia petik diatasnya.

" Bahkan dua kelopak yang lalu pun masih belum bisa layu ...di dalam sini." Tangannya bergerak, mendarat tepat diatas dadanya." Apa kau tetap tega menaruh bunga itu untuk ketiga kalinya? Bisa-bisa hatiku hangus terbakar karna mereka.."

.

.

.

Dua orang gadis tengah berjalan menyusuri jalan di sekitar Shibuya yang begitu ramai oleh lautan manusia. Kedua gadis cantik itu tersenyum satu sama lain. Pakaian dan paras mereka yang menawan sanggup menarik perhatian banyak pejalan kaki yang melintas melewati mereka berdua.

Bahkan dengan sekali lihatpun orang-orang dapat mengambil kesimpulan bahwa mereka berdua adalah seorang model.

Salah satu gadis berambut blonde kecoklatan tertawa riang, disebelahnya berdiri seorang gadis yang terlihat dua tahun lebih tua darinya juga ikut tertawa. Sungguh bidadari yang turun dari langit.

" Aku senang sekali akhirnya Mira-chan pulang dari Paris dan kembali ke agensi.." Ucap gadis bemata coklat. Bibir merahnya yang berlapis lipgloss terus membingkai sebuah senyuman.

" Kau sudah mengatakan hal itu puluhan kali Lucy..." Gadis yang ia panggil menghela nafas.

" Lucy ... Habis aku senang sekali sih.. Kita 'kan sudah hampir dua tahun tidak bertemu.." Balasnya senang. Pandangan nya kembali ia alihkan pada jalan yang ada di depan mereka. " Oh iya... Setelah lulus nanti aku akan melanjutkan sekolah di Kyoto.." Lanjutnya pelan.

" Benarkah?" Gadis bermata hitam disebelahnya mengerjapkan mata, " Bagus dong!"

" Iya... Tapi nanti kita jadi jarang ketemu..." Ia tersenyum kecil.

Mira kembali menghela nafas pelan sambil tersenyum. Tangan putih gadis itu menepuk pundaknya pelan.

" Pindah kota bukan akhir dari segalanya, Lucy..."

Eh?

Sepertinya kalimat tadi familiar...

" Ahaha.. Perkataan Mira persis sekali dengan yang sahabatku ucapkan.." Ucapnya begitu mengingat Juvia yang beberapa waktu lalu juga mengucapkan hal yang sama untuknya.

" Benarkah? Siapa?"

" Itu-.."

Drrrrrttt~Drrrrttt~

Sebuah ponsel berdering dari dalam tas kulit bewarna coklat yang sedari tadi Mira bawa.

" Sebentar ya..." Suruh gadis itu selagi tangannya sibuk menekan tombol hijau yang ada di ponselnya. " Moshi-moshi... Nii-san? Ada apa?"

Lucy memandang gadis 20 tahunan itu sebentar. Kemudian matanya kembali beralih ke jalan yang ramai oleh lalu-lalang pejalan kaki. Tiba-tiba pikirannya teralih mengingat Juvia yang hari ini datang ke festival tanaman hias di Ueno park. Gadis itu tertawa pelan, kemarin ia sempat menghubungi Gray untuk datang ke festival favoritnya dengan berharap agar pemuda itu bertemu dengan Juvia disana. Mungkin ia hanya perlu menunggu hasilnya, semoga mereka bertemu.

" Maaf ya..." Lamunanya terhenti begitu ia mendengar suara gadis bermata onyx di sebelahnya.

" Tidak apa..." Jawabnya sambil tersenyum " dari Gajeel-san ya?" Tanyanya basa-basi. Diliriknya ponsel gadis itu yang memasang sebuah wallpaper keluarga gadis itu.

Tapi bukan keluarga gadis itu yang sedang duduk sambil tersenyum di perayaan natal yang membuatnya terkejut. Tapi sebuah sosok familiar yang telah ia kenal selama betahun-tahun itulah yang menarik perhatiannya.

" Mira-chan.." Pangginya kemudian, " Boleh aku lihat wallpaper ponselmu sebentar?" Tanyanya ragu.

" Tentu saja.." Jawab gadis itu selagi tangannya memberikan sebuah ponsel bewarna eboni kepada dirinya. " Foto itu ku ambil saat perayaan natal kemarin.."

Lucy tidak menjawab. Matanya sibuk memeperhatikan seorang gadis berambut biru yang ikut duduk di antara mereka. Tersenyum bersama yang lainnya. Setau Luci, Mira _gadis itu_ tidak punya anggota keluarga lain selain kakak lelaki dan kedua orang tuanya. Lagi pula, kenapa gadis yang ia kenal baik itu ada di dalam foto ini?

" Mira-chan kenal gadis ini?" Tanyanya tanpa berfikir panjang. Mira menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan.

" Aku sudah kenal lama dengannya... Dia adik dari Levy-nee, kekasih Nii-san... Yah.. Setidaknya begitu aku menyebut wanita baik itu sebelum kecelakaan pesawat merenggut nyawanya..." Mira mulai bercerita.

Apa?

" Ce-ceritakan padaku Mira-chan.." Ucapnya pelan. Tapi Mira dapat dengan jelas mendengar suaranya. Dengan senyum kecil, Mira kembali melanjutkan ucapannya.

" Levy adalah kekasih dari Gajeel-nii... Sejak mereka masih di bangku SMP, sekitar sembilan tahun yang lalu.. Aku sangat menyukainya, dia benar-benar orang yang baik dan ramah.. Dia juga pintar. Kami sering berkunjung satu-sama lain. Keluarga kami pun sangat dekat.." Mira berhenti sejenak. Senyumannya seketika pudar.

" Tapi... Tiga tahun yang lalu, saat ia hendak melanjutkan kuliah di Amerika.." Mira kembali menarik nafas berat. Matanya mulai terlihat berkilat oleh air mata. Sepetinya sungguh berat menceritakan kejadian menyedihkan tiga tahun lalu.

" Ke- kenapa?" Tanya Lucy penasaran.

Kalau boleh jujur sebenarnya Lucy sudah tau kemana jalan cerita ini menuju. Demi Tuhan! Ia kenal dengan wanita bernama Levy itu. Ia juga tau bahwa Levy adalah gadis baik seperti yang Mira ceritakan. Tapi tak pernah sekalipun ia tau bahwa kekasih Levy adalah kakak Mira yang sejak empat tahun lalu ia kenal.

Sebegitu sempit-nya 'kah dunia?

" Pesawat yang ia tumpangi kecelakaan.. Ia sempat di bawa ke rumah sakit, tapi... Sehari setelah koma.. Tuhan mengambilnya." Dan tepat setelah kalimat terakhir yang Mira ucapkan, gadis itu meneteskan airmata.

" Nii-san merasa begitu bersalah. Ia mengurung diri selama berhari-hari di dalam kamar, tanpa makan tanpa minum. Ia tidak bisa menerima kenyataan kalau gadis yang begitu ia cintai sudah tidak ada lagi. Sudah tidak bisa ia temui lagi. Sudah tidak bisa ia dengar suaranya lagi..."

Lucy menatapnya prihatin. Kenapa setelah sekian lama ia baru tahu akan segalanya?

" Kemudian aku mengajak Nii-san berbicara. Memberitahunya bahwa bukan dengan hal seperti itu semuanya akan membaik. Bukan... Lagipula ia sudah berjanji pada Levy-nee sesaat sebelum kematiannya... Ia harus menjaga adiknya yang sakit..."

" Sakit?" Tanya Lucy ragu.

" Adik Levy divonis menderita kanker otak glioma tiga tahun yang lalu.." Jawab Mira kemudian.

Kanker otak?

" Ya.." Jawab Mira lagi. Tanpa ia sadari pertanyaan yang terlintas di otaknya terucap begitu saja keluar dari bibirnya.

" Ka-kau bercanda kan Mira-chan?" Tanyanya ragu.

" Hey, aku tak suka bercanda mengenai hal itu. Kau tau kan?" Mira tertawa pelan. Gadis itu menatapnya penuh pertanyaan " Kenapa?"

" Adik Levy... Namanya Juvia..." Ucapnya perlahan. Mira hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan penuh pertanyaan.

" Dari mana kau ta-"

" Adalah sahabatku.."

.

.

.

TBC

.

.

.

Aahhhhh~ what Am I doing? Щ(ºДºщ)

Sebenernya fic yang udah saya buat sejak kelas 2 ini bertokohkan OC saya :v dimana tokoh asli Mira itu memang bernama Mira :v dan maafkan saya karna telah menjadikan Mira sbg adik kandung gajeel.

Nah, Mind to RnR? どうもありがとう!^^