Sakura mengerjapkan matanya yang masih mengantuk. Dengan malas ia bangun dari single bednya dan meraih handphone di atas meja belajar. Tanpa menatap siapa yang meneleponnya ia langsung menjawab panggilan itu.
"Halo?" sapa Sakura dengan lemas, mengantuk.
"Malam, Sakura-chaan!" Terdengar suara nyaring dari seberang.
"Naruto?" Sakura mengerutkan dahinya dan segera duduk bersandar di tempat tidur.
"Kau sedang apa Sakura-chan?" Naruto bertanya dengan polosnya.
Sakura terdiam, setengah linglung. Karena dirinya yang mengantuk atau memang tadi Naruto menanyakan hal bodoh padanya?
"Apa?" Sakura makin memperdalam kerutan di dahinya.
"Aku tanya kau sedang apa?"
"IH!" pip
Sambungan pun terputus. Sakura melirik jam digital di meja belajarnya yang menujukkan pukul 01:48 AM. Ia melanjutkan tidurnya dengan beberapa gumaman seperti 'Naru-baka'. Entah ia mengigau atau apa.
Sementara Naruto di kamarnya malah menggaruk kepalanya bingung, 'Padahal aku mau menanyakan tesnya, besok saja deh.'
NarutoMasashi Kishimoto
Don't like? Just don't read this ^^
Warning : sedikit SasuIno
Pagi yang agak mendung di kediaman Haruno yang dipenuhi 'grasak-grusuk'. Sakura turun dari tangga dengan menjinjing ranselnya. Ia duduk di depan meja makan dan meminum susunya hingga tandas.
"Kau tidak sarapan?" Ibunya bertanya ketika membuka lemari es dan mengeluarkan beberapa bungkusan.
Sakura meggeleng singkat, "tidak sempat."
"Aku pergi!"
"Saku, tidak bawa bekal?" Nyonya Haruno menegur anaknya yang sudah beranjak dari dapur.
Sakura menghentikan langkahnya sejenak, "tidak, ini hari pertama. Saku mau lihat keadaan dulu."
Lalu ia langsung pergi dengan seruan 'Aku pergiii!' dari pintu depan.
Sementara Haruno Rizuki hanya memasang wajah heran, 'melihat keadaan? Aneh-aneh saja.'
.
Sakura berjalan menuju halte dengan agak tergesa. Ia merutuki dirinya yang menolak ajakan Sasuke untuk berangkat bersama, seperti yang selalu ia, Naruto, dan Sasuke lakukan sejak SMP dulu.
Bukan apa, kalau seandainya mereka berangkat bersama, setidaknya jika memang telat dia tak sendirian.
Saat sampai di halte, Sakura menatap heran seorang pemuda yang duduk dengan earphone di telinganya.
"Sasuke," sapanya seraya menepuk pelan bahu pemuda itu.
Sasuke menatapnya dan melepas earphonenya, "Hn."
Sasuke menatap Sakura dari atas ke bawah, lalu dahinya berkerut dalam. Sakura merasakan tatapan ganjil Sasuke itu.
"Apa?" tanya Sakura dengan bingung.
"Tidak," balas Sasuke singkat.
Sakura menatap dirinya sendiri. Ia mengenakan seragam Arlene High dengan rok sebatas lutut dan kemeja yang agak longgar di tubuh kurusnya.
Rambutnya yang mulai memanjang sebahu ia kuncir rendah. Kacamata bermodel kuno dengan lensa bundar dan frame hitam tebal bertengger di pangkal hidung mancungnya. Disaat yang bersamaan sebuah bus berhenti di halte tersebut.
Sasuke menaiki bus itu diekori Sakura di belakangnya. Mereka mengambil tempat agak di belakang.
Bus mulai bergerak meninggalkan halte. Sakura menatap jendela yang dipukul-pukul dari luar dan membelalak setelahnya.
.
Naruto menggigit roti selai kacangnya sambil berlari melintasi gang sempit. Seragamnya terlihat acak-acakan. Bahkan, kancing kemejanya menempati tempat yang salah.
Ia sampai di ujung gang dan berbelok tajam ke kiri, terus berlari dengan kecepatan konstan. Ia merutuk dalam hati, "huh! Seharusnya papa membangunkanku dulu sebelum ke kantor tadi. Jadi diomeli ibu."
Matanya menatap halte di kejauhan, matanya berbinar senang dan dengan semangat memacu larinya. Belum sampai ia di halte tersebut, ia melihat bus di depan halte itu mulai bergerak lambat setelah dua remaja yang tampak tak asing di matanya menaiki bus. Ia membulatkan mulutnya kaget, tak terpikirkan olehnya roti selai kacangnya akan melayang jatuh membentur tanah.
Ia terus saja berlari dan untuk terakhir menatap rotinya yang malang tergeletak di jalan di belakangnya. Ia berusaha mengejar bus tersebut sekuat tenaga seiring laju bus yang makin cepat.
"Pamaan! Berhentiiii! Aku belum naiiiik!" serunya dengan beberapa 'peluh jagung' di dahinya.
Beruntung, Naruto berhasil menyamai laju bus itu. Wah! Hebat juga dia. Ia memukul-mukul kaca bus yang bisa dijangkaunya dengan susah payah. Sekali lagi ia membulatkan bibirnya dengan jenaka menatap gadis yang duduk tepat di samping jendela yang dipukulnya.
"Sakura-chan!" serunya spontan.
.
Sasuke kaget saat tiba-tiba Sakura berdiri dan dengan anehnya menubruk kaca jendela.
"Kau kenapa?" tanyanya dengan ekspresi datar.
Sakura langsung berbalik menatap Sasuke dan menunjuk jendela dengan wajah aneh di balik kacamata kunonya. Sasuke menatap jendela dan tak tampak kaget samasekali—tapi sesungguhnya ia tentu saja kaget.
Belum sempat Sasuke mempertanyakan kebingungannya menemukan sahabat-pirang-dobenya tengah berlari di samping bus dan memukul-mukul jendela, Sakura dengan cepat menarik tali rem di atas jendela. Bus pun perlahan berhenti. Sasuke mengangkat alisnya melihat tindakan 'gesit' Sakura.
Sementara Naruto menghembuskan nafas lega dan bergegas menuju pintu bus yang terbuka otomatis, sang sopir bus memandang heran Sakura yang berdiri di bagian belakang bus. "Kau yakin turun di sini, nona?"
Sakura yang tak siap ditanya seperti itu hanya terbengong untuk sejenak, belum lagi penumpang-penumpang bus yang ikut menatapnya. Sungguh, ia benci saat banyak orang menatapnya, ia malu.
Sakura terlihat bingung menjawab hingga ia hanya membuka mulutnya—seperti ingin mengatakan sesuatu tapi kemudian terkatup lagi dan berulang beberapa kali seperti itu. 'Astaga! Ini memalukan.'
Sementara Sasuke tak membantu samasekali, ia malah hanya menatap Sakura dengan wajah ingin tahu. Akhirnya Sakura menatap pintu bus dengan lega saat Naruto memasuki bus dengan cengiran manisnya.
"Tidak." Sakura langsung duduk kembali ke kursinya.
"Wah, untung terkejar." Naruto tertawa kecil dan berujar entah pada siapa. Sang sopir hanya menggelengkan kepalanya.
Naruto mengambil tempat di hadapan Sasuke dan Sakura.
"Ohayou, Teme, Sakura-chan!" serunya semangat. Sakura tersenyum, dan Sasuke hanya senyum tipis.
"Di sini panas ya," sungutnya pelan.
"Kau kan habis lari-lari begitu, pantas saja gerah. Bus ini bahkan ber-AC, Naruto!" balas Sakura dengan tangan bersedekap.
"Eh? Sakura-chan, apa yang kau pakai itu?" Naruto bertanya dengan wajah heran.
"Apa?" Sakura bertanya balik dengan wajah turut heran pula.
Sasuke menghela napas melihat percakapan 'bertele-tele' kedua sahabatnya, "kacamatamu."
Sakura tersenyum ceria, hingga pipinya memerah. "Ini kacamata kakekku, bagus kan?" Ia terlihat sangat antusias.
Naruto hanya memberikan cengirannya saja. 'Pantas saja bentuknya lawas begitu.' Dalam hati Naruto terkikik dengan selera unik sahabatnya.
"Itu aneh." Sasuke menanggapi dengan cuek.
"Apa iya?" Sakura menautkan alisnya menatap Sasuke.
"Lebih baik kau lepas sebelum yang lain mulai menertawakanmu di sekolah." Sasuke memasang headphonenya.
Sakura melepas kacamata itu dan menyisipkannya di kantong kemejanya, wajahnya agak cemberut.
.
.
"Naruto, sebaiknya kau perbaiki dulu kancing seragammu. Kami duluan ya." Sakura sempat-sempat saja mengingatkan sahabatnya sebelum ia dan Sasuke turun di halte dekat sekolah mereka.
"Oh." Naruto sendiri baru menyadari seragamnya yang terlalu berantakan. Ia lalu menunjukkan jempolnya pada Sakura.
Sebelum pergi Sasuke memberi salam khasnya pada Naruto, sengaja ditepukkannya tasnya ke wajah Naruto dengan seringai tipis di bibirnya.
"Oi! Teme! Kau tidak bisa lebih manis sedikit, heh?" ucap Naruto kesal seraya memutar kepalanya ke belakang menatap punggung Sasuke. Sasuke hanya mengayunkan sebelah tangannya dengan ringan tanpa berbalik menatap Naruto.
.
Sakura menutup lokernya dan bersama Sasuke menyusuri koridor menuju kelas mereka yang searah. Sasuke di kelas I-A dan Sakura I-C. Sakura dengan percaya dirinya memakai kacamata kakeknya lagi. Ia mengabaikan Sasuke yang tadinya berusaha melarangnya memakai kacamata itu.
'Aku sudah bilang itu aneh.' Sasuke menatapnya dengan dahi berkerut.
'Pandangan orang itu berbeda-beda Sasuke.' Sakura berusaha membela pendapatnya.
'Hn, memangnya matamu rusak?' tanya Sasuke dengan seringai tipis.
'Ugh.' Dan Sakura kalah telak.
Tapi, Sakura yang keras kepala tetap memakai kacamatanya. Sepertinya ia tidak menyadari kacamata itu membuatnya makin tampak tidak stylish di Arlene High.
.
Terlihat sepasang kekasih yang tampak serasi berjalan dengan arah berlawanan dengan Sakura dan Sasuke. Si pemuda tampan berambut coklat pekat dengan iris perak dengan postur tubuh tinggi. Kulitnya putih pucat. Sakura berpikir ia seperti blasteran.
Sementara Si gadis berambut pirang panjang yang terlihat halus. Poninya menjuntai hingga menutupi sebelah matanya dan rambutnya dikuncir tinggi. Matanya berwarna biru safir, lagi-lagi Sakura berpikir mungkin orang ini juga berdarah campuran. Gadis itu terlihat seperti model dengan bentuk tubuhnya yang langsing. 'Seperti barbie.' Sakura membatin.
Keduanya berjalan beriringan dengan tangan Si gadis yang menggandeng mesra kekasihnya. Sakura tak menyangka di hari pertama sekolah sudah menemukan orang-orang yang 'wow' seperti ini. Tentu saja orang-orang seperti ini sudah sewajarnya berada di Arlene High, tidak seperti dirinya yang berada di sini karena beasiswa. Sakura tersenyum kecut ketika tanpa sadar ia mulai pesimis lagi.
Sasuke menatap gadis blonde itu, ada ekspresi tertarik di sana. Sebelum mereka berpapasan Sasuke dan gadis itu bertemu pandang. Gadis itu tersenyum padanya, Sasuke pun balas tersenyum tipis.
Sakura berujar kepada Sasuke saat sepasang kekasih itu menjauh, "hei, kau lihat tadi Sasuke? Cewek itu tersenyum."
"Hn," sahut Sasuke—yang menurut Sakura tak jelas.
"Kenapa dia tersenyum pada kita ya? Kau mengenalnya Sasuke?" tanya Sakura lagi dengan wajah berpikir.
"Hn," Sasuke tak terlalu memperhatikan apa yang Sakura ucapkan.
"Kau sudah sarapan, Sasuke-kun?" tanya Sakura dengan sebelah alis terangkat.
"Apa?" Sasuke menatap Sakura di sebelahnya dengan wajah datarnya yang biasa, tapi Sakura tahu, Sasuke pasti bingung.
"Aku tanya kau sudah sarapan belum," ujar Sakura lagi. Kali ini ekspresi geli terpampang di wajahnya.
"Hn, untuk apa aku menjawabnya?" Sasuke menampakkan senyum mengejeknya yang pertama pagi ini.
"Karena aku khawatir," sungut Sakura dengan nada dibuat-buat. Sasuke mengerutkan keningnya.
"Habis sepertinya penyakit 'hn-hn-hn'mu itu kambuh lagi." Sakura memeletkan lidahnya setelahnya.
Sasuke mendengus tertawa karenanya. Sakura pun tertawa kecil di sisi Sasuke. Sungguh keakraban antarsahabat yang membuat iri.
Bersambung
A/N : hei, ini chap pertamanya. Ada SasuIno sedikit, demi kepentingan plot. Tolong tinggalkan review
makasih buat yang udh review prolog'y jg, review lg y? :D
