—LOST ARROW—
Kim Mingyu x Jeon Wonwoo
•••
"Wonwoo-ya, ada baiknya kau pulang sekarang. Biar aku saja yang akan mengurus Mingyu."
Bukan tanpa alasan Jisoo berujar demikian. Pasalnya Wonwoo selalu tertangkap bersandar di dinding dengan mata tertutup, kepalanya terkulai hampir terantuk bangku kayu. Wonwoo pun menatap Jisoo dengan binaran bahagia. Namun tiba-tiba ia teringat Jun yang sama sekali belum kembali, padahal sudah menginjak pukul enam.
"A-aku menunggu Jun, hyung."
Jisoo terkejut, ia segera mengecek ponselnya dan menunjukkan sesuatu dari benda itu. "Jun bilang ibunya meminta untuk diantarkan ke Incheon malam ini, jadi dia tidak akan kembali lagi."
Mendengar hal tersebut membuat Wonwoo ingin berteriak kencang. Jun benar-benar serius untuk meninggalkannya dengan dua orang ini. Wonwoo bahkan meragukan pesan yang ditunjukkan oleh Jisoo karena bibinya tidak pernah pergi pada malam hari.
Moon-Keparat-Junhwi, mati kau besok pagi.
"Ah, kalau begitu aku pamit duluan, hyung." Pada akhirnya Wonwoo hanya bisa pasrah. Ia membungkuk pada Jisoo, kemudian beranjak dari ruang kesehatan.
"Tunggu," Wonwoo merasakan lengannya ditahan. Jisoo adalah pelakunya. "Ingin kuantar? Sebentar lagi akan turun hujan." tawarnya.
Wonwoo segera menolak, "T-tidak perlu, hyung. Lagipula arah rumah kita berbeda."
"Eh? Bagaimana kau tahu arah rumah kita berbeda?"
Dasar bodoh, Jeon Wonwoo.
Wonwoo mengusap tengkuknya, malu. "Jun yang memberitahuku." Ia terkekeh canggung.
"Hyung, aku pulang duluan ya." Mingyu menginterupsi mereka berdua.
"Kau bisa berjalan sendiri, Gyu? Tidak ingin hyung antar?"
"Tidak, hyung antar dia saja. Kasihan ditinggal Jun."
Baiklah, Mingyu semakin membuat Wonwoo tampak menyedihkan akibat tingkah Jun yang menjengkelkan. Pemuda itu pun beranjak dengan langkah yang sedikit terseok, meninggalkan dua pemuda yang masih terpaku.
"Ayo, Wonwoo." ajak Jisoo lagi.
Namun entah mengapa Wonwoo merasa tidak enak untuk menerima ajakannya. Jadi ia menolak Jisoo untuk kedua kali dan mengatakan bahwa ia akan pulang naik bus saja-dengan dalih ia merindukan betapa kerasnya tempat duduk bus yang sempit. Jisoo pun tidak bisa memaksa dan memakluminya.
"Pulanglah dengan Mingyu. Arah rumahnya sama seperti Jun. Mungkin kalian akan naik bus yang sama." Usul terakhir Jisoo itu membuat Wonwoo buru-buru keluar mencari Mingyu.
Namun, kesialan kembali menimpanya. Saat ia menginjak tanah untuk pertama kali, hujan langsung mengguyur secara bersamaan dalam skala yang cukup besar. Wonwoo refleks berlari kencang menuju halte yang tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Meskipun begitu, tetap saja rambut dan seragamnya basah. Di sana ia bertemu Mingyu yang tengah menyibakkan seragam putihnya dari tetesan air hujan.
"Tidak pulang dengan Jisoo hyung?" Mingyu bertanya dengan keras, berusaha mengalahkan derasnya air yang turun menghujam bumi.
Wonwoo mendengarnya cukup baik dan merespon dengan gelengan lemah. Bibir dan pipinya seakan membeku akibat angin dingin yang menerpa dan tempias air hujan yang menggelitik pori-pori. Jun dengan teganya membiarkan sepupu manisnya itu kehujanan sementara ia sudah diberi amanat untuk menjaga Wonwoo. Kemana rasa tanggungjawab itu? Wonwoo bersumpah akan mengadukan hal ini pada ibunya sepulang nanti agar Jun dikirimkan paket berdarah khas dari Changwon.
"Ini, pakailah."
Sebuah jaket tersampir di bahunya. Mingyu tersenyum di tengah-tengah kabut yang muncul, Wonwoo tidak akan berdusta lagi jika ia memang mengagumi orang-orang tampan.
Tak lama kemudian, bus tujuannya datang dan Wonwoo segera naik agar cepat sampai di apartemen. Mingyu mengekorinya dari belakang, sengaja duduk di sebelah Wonwoo untuk menciptakan interaksi baru.
Bus mulai melaju, tidak ada pembicaraan yang terjadi. Mingyu berusaha mencari waktu yang tepat karena ia bukanlah seorang Hong Jisoo yang ramah kepada semua orang. Perkiraan waktu adalah hal yang sangat penting.
"Hei, kau baik?" Mingyu bertanya dengan khawatir karena Wonwoo tak kunjung bergerak. "Tubuhmu sangat dingin."
Mingyu pun berinisiatif menyelipkan penghangat dalam kaos kaki dan perpotongan leher Wonwoo. Ia lalu menepuk kedua pipi pemuda itu, memastikan bahwa ia masih terjaga. Wonwoo menoleh dan cukup membuat Mingyu terkejut sebab bibirnya telah memucat hebat.
"Pegang ini," Satu bungkus penghangat diberikannya lagi. "Kau bisa demam. Aku akan menghubungi Jun—"
"Tidak." Wonwoo menahan tangannya yang hendak meraih ponsel. Sekaligus menghantarkan rasa dingin ke seluruh permukaan kulit Mingyu.
"Kau sangat mengkhawatirkan, Wonwoo."
Wonwoo tidak menggubris. Denyut hebat mendadak mendera kepalanya. Tubuhnya terasa sangat lemas, membuat Mingyu panik setengah mati. Kalau begini, kenapa Wonwoo tidak menerima tumpangan Jisoo saja? Sepertinya pemuda itu memiliki sistem imun yang rendah.
"Kepalaku rasanya ingin pecah."
Tiba-tiba Mingyu menyelam dalam memori sepuluh tahun silam. Ia ingat pernah mengalami sakit yang teramat sangat di kepalanya. Sang ibu memberikannya obat dan ciuman sebagai pengalih rasa sakit akibat reaksi relaksasi yang ditimbulkan.
Namun ia tidak menyimpan obat apapun. Jadi, Mingyu berpikir apakah ia harus mencium Wonwoo?
"Wonwoo," Satu telapak tangannya menyentuh rahang Wonwoo. Mingyu kembali meyakinkan diri dengan keputusannya. Ia terus merapal bahwa yang dilakukannya adalah untuk membantu Wonwoo, tidak ada maksud lain. "Aku minta maaf."
Sepasang bola mata mereka beradu. Mingyu mempercepat gerakan agar tidak timbul keraguan yang menghantui. Wajahnya semakin dekat hingga keduanya dapat merasakan deruan napas yang menyapu permukaan kulit. Mingyu mulai memejamkan mata dan berusaha mengumpulkan keberanian dalam dirinya saat belah bibir mereka bertemu.
Dingin.
Wonwoo agak tersentak dan meremas kerah seragam Mingyu secara spontan saat merasa bahwa ia membutuhkan lebih. Mingyu mulai bergerak penuh antisipasi. Terus seperti itu sampai ia terbawa suasana nyaman yang meracuni akal pikirannya. Dan Wonwoo yang membalas adalah kejutan yang tak pernah ia duga.
Pagutan mereka terlepas. Dengan jarak yang masih terlampau dekat, mereka bisa saling merasakan embusan napas masing-masing. Mingyu bersumpah ini hal tergila yang pernah dilakukannya semasa sekolah. Ciuman pertama yang ia bagi pada seseorang yang tidak dikenalnya dengan baik.
Pipi Wonwoo bersemu kemerahan. Kedua maniknya tertutup rapat dengan kening yang mengerut—tengah menahan rasa sakit yang memenuhi seluruh bagian otaknya. Hingga menit selanjutnya tubuh ringkih itu terkulai lemas, menimbulkan kepanikan pada diri Mingyu yang berlagak linglung. Kala itu tidak ada hal lain di kepala Mingyu selain menggendong Wonwoo menuju tempat tinggalnya.
To Be Continued
