One Piece oleh Odachi

XXX

Fic ini oleh Devill D. Jack

Warning : AU. Zoro sebagai Assasin

"..." Percakapan

'...' dalam hati

x

Namaku Roronoa !

chapter 2

D

D

J

Disebuah jalanan kota Water Seven, seorang pria berambut hijau dengan tiga pedang dipinggangnya terlihat bingung. Dia susuri jalanan kota yang sudah lenggang malam itu dengan gerutuan tak jelas. Dia Zoro, assasin yang dikenal sebagai pemburu iblis.

"Dimana sih mereka ? Katanya mau menungguku di dekat jembatan, tapi setelah tugas selesai mereka malah menghilang ! Huh ! Akan kuhajar mereka kalau aku sudah kembali ."

Zoro tetap mengerutu sampai dia menemukan sebuah jalan yang bercabang, langkahnya berhenti sejenak. Jalan yang mengarah ke kanan, terlihat dimatanya terlalu terang bagi seorang Asassin seperti dia dikarenakan lampu-lampu yang menerangi jalan terlihat berjejer. Dengan langkah santai dia memilih jalan yang sebelah kiri. Lampu-lampu jalanannya sudah banyak yang hampir padam. Sehingga sosok Zoro sedikit tersamarkan.

'Aku harus menemukan stasiun untuk pulang' batin pria itu.

'Kemana semua orang sih ? Kok kaya kota mati saja ?'

Zoro tetap berbicara tak jelas sampai tak dia sadari telah menabrak sesuatu atau seseorang yang tertutup oleh jubah berwarna hitam didepan sebuah gang yang entah untuk kesekian kalinya dia lewati.

"Ah, maaf...maaf... Apa anda terluka ?" tanya pria berambut hijau itu merasa bersalah.

Yang ditanya tidak langsung menjawab. Dari balik tudung kepalanya, orang yang ditabrak olehZoro terlihat tersenyum.

Dari remang-remang sinar bulan yang menerangi malam itu, sang assasin bisa melihat senyum sosok dihadapannya yang ternyata seorang wanita. Dunia seakan berhenti sejenak bagi pria itu ketika wanita itu tersenyum.

"Saya tak apa-apa... eh...Tuan Pendekar," kata wanita itu merujuk pada 3 pedang yang dibawa oleh pria berambut hijau.

Pria itu tersadar dari keterpanaannya. Merasa salah tingkah, Zoro malah berusaha pergi dengan rona merah yang tersamarkan oleh malam. Tetapi tak berapa jauh, Zoro berbalik menghadap sosok wanita yang masih berdiri ditempatnya.

"Eh...Kau tahu dimana stasiun kereta berada ? Aku tidak tersesat. Eh...Aku hanya ingin pulang saja," kata pria itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Wanita itu kembali tersenyum yang membuat pria pendekar itu jadi tambah salah tingkah.

"Lurus melewati jalan ini, Tuan Pendekar akan menemui belokan ke kanan. Mentok diujung jalan, sebelah kiri adalah jalan yang menuju stasiun," kata wanita itu sambil tak lupa tersenyum kembali.

"Eh...Terima kasih ya," kata Zoro masih tetap diam.

"Ada lagi yang mau kau tanyakan, Tuan Pendekar ?"

Eh...Tidak...tidak. Oh ya, siapa namamu ? Mungkin lain kali aku akan membayar bantuanmu jika kita bertemu lagi."

Wanita itu hanya berkata ,"Aku hanya sebuah eksistensi yang tak perlu dikenal, Tuan Pendekar. Mengenalku hanya akan membawamu dalam masalah. Aku harus pergi. Selamat malam, Tuan Pendekar. Berharaplah kita takkan bertemu lagi."

Pria itu hanya melihat jubah wanita itu berangsur menjauh. 'wanita aneh' batin Zoro 'Tapi cantik juga'.

Ia lalu melangkahkan kakinya berdasarkan petunjuk wanita yang baru ditemuinya tadi itu.

'Apa ya dia bilang tadi ? Mentok sebelah kiri terus belok kanan ? Ah, merepotkan' Zoro lalu hanya mengikuti instingnya saja.

D. D. J

Beberapa saat yang lalu di jembatan.

"Kalian sudah mengetahui identitas korban?" tanya seorang pria berambut putih dengan dua cerutu dimulutnya. Asap putih mengepul sesekali melawan gelapnya malam. Dibelakangnya seorang wanita berambut pendek terlihat mengikuti.

"Lapor kapten Smoker !" Jawab seorang opsir. "Korban diidentifikasi sebagai Tuan Spandam, Ketua dari agen rahasia WG. Sepertinya telah terjadi pembantaian karena pengawal Tuan Spandam juga ditemukan tewas semua."

"Ada saksi ?" tanya kapten Smoker sekali lagi.

"Menurut kesaksian seorang penjaga malam, seorang pendekar dengan tiga pedang yang melakukanya. Terakhir dia terlihat pergi kearah kota."

"Tiga pedang ? Jangan-jangan itu...Tidak mungkin! Bagaimana bisa sang Pemburu Iblis ada di Water Seven ?" Smoker kemudian berkata pada asistennya. "Tasighi, segera perintakan anak buah kita untuk mencari tersangka. Aku ingin pria ini ditemukan segera. Bilang juga kalau mereka sudah menemukannya, jangan bertindak sendiri, cukup laporkan segera kepadaku !" Smoker segera berkata memerintahkan pada wanita yang bernama Tashigi.

"Baik Kapten ! Saya segera me..." kata-kata Tasighi terputus karena disela oleh seseorang.

"Tak perlu Smoker !" kata pria tinggi bersetelan baju putih-putih yang duduk dengan santai diatas sebuah sepeda. Semua polisi yang ada disitu segera memberi hormat kepada pria yang baru saja datang. Hanya Smoker yang masih terlihat santai saja.

"Apa maksud anda, Jendral Aokiji ?" tanya Smoker.

"Berita ini hanya kan memalukan WG jika menyebar. Tak ku sangka, seorang ketua dari agen rahasia pemerintah dapat dibantai seperti ini dengan mudahnya," Kata sang Jendral. "Roronoa Zoro ku rasa sudah pergi jauh. Mencarinya sekarang, hanya akan sia-sia."

"Lalu apa yang harus kami lakukan, Jendral?" Kata Smoker sambil menahan gejolak amarah pada atasan yang dimatanya selalu bertindak semaunya itu.

"Sebarkan pada media, kalau ini hanya pembunuhan biasa...!"

"Bagaimana dengan pelakunya? Apa yang harus kami katakan?" kali ini Tashigi yang berbicara menggantikan Smoker.

"Eh...Bilang apa ya...? Bilang saja kalo yang melakukan ini semua adalah kawanan Lapan...Bereskan?" kata Aokiji sambil ngeloyor pergi dengan sepedanya.

Yang lain hanya bisa cengo atas apa yang dikatakan oleh sang Jendral.

"Huhh !" Smoker terdengar mendengus kesal

D. D. J

Sebuah jeep berwarna hitam terlihat melaju kencang menembus jalanan malam yang lenggang. Dua orang pria yang berada di Jeep itu terdengar sedang dalam pembicaraan serius.

"Hei..Yosaku. Bagaimana bisa kita tinggalkan Kak Zoro begitu saja ? Apa kau sudah gila ?" Kata pria yang berambut pirang pada temannya yang sedang menyetir.

"Apa kau tidak lihat siapa yag datang tadi, Joni? Itu Smoker, Si Pemburu Putih. Aku tak mau kita tertangkap. Lagi pula Kak Zoro sepertinya tersesat lagi. Aku yakin dia takkan apa-apa. Dia kan seorang assasin yang sudah terlatih." Kata Yosaku coba menenangkan temannya.

"Yang kita harus lakukan sekarang adalah menunggu Kak Zoro kembali. Kita juga harus meminta bayaran pada Mr. Zero karena tugas sudah dilaksanakan," kata Yosaku lagi.

"Terserah kau sajalah, Yosaku." Joni hanya terdengar pasrah. "Yang penting kita beri tahu alasan yang tepat pada Kak Zoro."

"Serahkan saja padaku ."

Jeep itu terlihat semakin menjauh.

D. D. J

"Hey...Kau ! Berhenti !" sebuah suara menghentikan langkah sang Assasin. Zoro berbalik melihat ke asal suara itu.

"Kalian berbicara padaku?" tanya Zoro pada 3 orang dihadapannya.

"Kau tahu siapa kami ? Kami adalah Franky Family, penguasa kota belakang. Siapa saja yang lewat sini, harus bayar pada kami !" Kata salah seorang pri itu.

"Aku tidak mau bayar karena aku tidak punya uang," kata Zoro datar.

"Berani sekali kau. Ku peringatkan, jangan coba-coba bikin ulah di kota belakang ini..!"

"Lebih baik kita langsung habisi saja dia, Zambai. Kita ambil pedangnya. Sepertinya itu berharga." kata pria teman Zambai.

"Aku sedang tidak ingin bertarung. Jangan salahkan aku kalau kalian terluka."

"Sombong sekali kau. Serang..." Zambai memberi perintah pada kedua temannya.

Zoro hanya menghela napas. Diapun lalu mencabut 2 pedangnya.

Trankk !

Bakk !

Bukk !

Dalam hitungan menit, Zambai dan ketiga temannya jatuh terkapar. Zoro kembali menyarungkan pedangnya.

"Kau akan menyesal karena telah berurusan dengan Franky Family..."

Kata-kata itu hanya dianggap angin lalu. Zoro kembali melangkahkan kakinya mencari stasiun.

D. D. J

A/N : Supaaa...Chapter 2 akhirnya selesai juga. Katakan ini perbaikan dari chapter sebelumnya yang kacau. Bro dan Sis harap maklum bila masih banyak kekurangan dari chapter ini.

Yang saya harap dari Bro dan Sis sekarang dapat me- REVIEW untuk memberitahu saya apa yang kurang dan harus diperbaiki. Terima kasih.