Bittersweet Love

Jaehyun x Taeyong

NCT © SM Entertainment

Warning! Alternate Universe, OOC, Typo(s), YAOI, NC, Affair, Eksplisit Lemon, etc


Ini bukan diawali dengan cinta pada pandangan pertama, tapi lebih karena nafsu.

Taeyong merasa napasnya tercekat saat pertama kali melihat Jaehyun. Berumur pertengahan awal tiga puluh, menjulang setinggi 184 cm dengan tubuh bagus. Rambut hitam legam dipotong pendek, begitu kontras dengan warna kulit putihnya yang bersinar. Jangan lupakan tatapan mata cokelat hangat yang tajam dan juga dimple. Taeyong sama sekali tak bisa mengalihkan pandangannya dari Jung Jaehyun. Damn, he is so freaking handsome!

Entah Taeyong harus mensyukuri atau justru mengutuk penyakit asmanya yang kambuh, karena dia tiba-tiba saja merasa kesusahan bernafas hingga harus mengobrak-abrik isi tas demi mencari inhaler dengan panik. Ia mengerang ketika menyadari bahwa aksi memalukkannya itu kini menarik perhatian semua orang di sana, terutama Jaehyun dan juga insting dokter dalam dirinya. Jaehyun berbaik hati membantunya menggunakan inhaler, menenangkannya untuk menarik napas perlahan. Dan untungnya itu bekerja.

"Lebih baik?" Jaehyun bertanya dengan suara seksinya, matanya dipenuhi perhatian dan tatapannya begitu lembut memabukkan. Saat itu, Taeyong merasa dirinya telah tewas.

"Aku baik-baik saja, terima kasih." Taeyong menjawab dengan terengah-engah, melawan dorongan untuk menjauhkan tangan lembut yang kini memegang sikunya, alasan dari tremor di sekujur tubuhnya. Dan itu semakin buruk saat Jaehyun justru membawanya untuk duduk di barisan kursi yang ada di ruangan itu, tepat di sampingnya. God.

Mereka kini ada di ruang konferensi Rumah Sakit Internasional Seoul, yang dikatakan sebagai salah satu rumah sakit terbaik yang ada di Korea Selatan. Dengan fasilitas lengkap yang menawarkan pelayanan medis nomor satu. Dr. Jung Jaehyun adalah salah satu tenaga kerja di sini, tepatnya kepala bagian dari departemen bedah saraf.

Neo Culture Tehnology, atau biasa disingkat NCT, adalah salah satu perusahaan ICT terbaik di negeri ini dan telah dikontrak untuk mengubah infrastruktur ICT rumah sakit ini dengan perangkat lunak baru mereka demi pengembangan operasi dan layanan publik.

Rekan sekaligus atasaannya, Seo Youngho yang menjabat sebagai manager senior NCT telah ditugaskan untuk menandatangani kontrak kerja sama. Ia sudah mengurus dan berhadapan langsung dengan perwakilan rumah sakit ini beberapa kali, namun kini berhalangan hadir sehingga Taeyong harus menggantikannya. Ada tenggat waktu yang harus mereka penuhi. Ini adalah pertemuan terakhir sebelum penandatangan kontrak agar Taeyong beserta timnya bisa mulai bekerja.

Pertemuan ini seharusnya tak berlangsung lama. Dia hanya akan menginformasikan apa-apa yang mungkin dibutuhkan saat peng-install-an peralatan sekaligus memperkenalkan diri pada perwakilan rumah sakit.

Yang tidak Taeyong harapkan adalah ternyata diantara perwakilan rumah sakit itu, akan ada satu sosok pria yang bisa menarik perhatiannya dan membuat dunia Taeyong terasa jungkir balik hanya karena satu tatapan mata.

Lee Taeyong adalah seorang gay. Ia sudah tahu kebenaran ini sejak dirinya berusia empat belas tahun. Nerd adalah ciri khasnya, tapi ia tak pernah mendapat pembullyan karena itu. Ia menjalani operasi lasik saat umurnya lima belas, membuatnya terbebas dari kacamata tebal meski masih sesekali memakainya saat bekerja. Wajahnya cantik, Taeyong tak mau mengakui ini tapi setiap lekukan halus wajahnya memang membuatnya lebih terkesan pada feminim. Tubuhnya tidak terlalu tinggi untuk standar laki-laki seusianya, tubuhnya kecil, langsing, sering terlihat tenggelam dalam sweater kebesaran yang biasa ia gunakan di atas kemejanya, membuatnya semakin menggemaskan dan menarik insting ingin melindungi bagi orang-orang di sekitarnya. Tidak ada yang berani mengganggu Taeyong karena itu, justru banyak yang tertarik padanya, terkesan dengan kehebatan juga sifat lembut dan manisnya.

Taeyong adalah anak laki-laki tunggal. Mendapatkan beasiswa penuh untuk jurusan IT yang diambilnya dan lulus dengan nilai memuaskan. Pekerjaan sudah menunggunya bahkan sebelum ia selesai dengan studynya. Ia direkrut untuk bekerja di NCT karena kecerdasan dan inovasinya.

Taeyong terlalu mencintai pekerjaannya hingga tak punya waktu untuk berkencan, tak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang terlalu serius. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Jung Jaehyun. Reaksi seperti ini tak pernah ia tunjukkan sebelumnya, membuat dirinya sendiri terkejut.

"Itu saja. Mohon bantuannya."


Taeyong dan timnya langsung mulai bekerja keesokan harinya, melakukan apa yang mereka harus lakukan sesuai bagiannya masing-masing. Taeyong sendiri mendapat satu ruangan khusus di dalam gedung rumah sakit yang diperuntukkan sebagai kantornya selama bekerja di sini. Dia memang membutuhkan ketenangan dan konsentrasi penuh untuk bagiaannya dan bertekad untuk menyelesaikannya dengan baik sebelum tenggat waktu yang diberikan.

Tapi tekadnya itu harus sedikit goyah setelah kunjungan pertama Jung Jaehyun yang tiba-tiba datang ke ruangannya. Hanya untuk bertanya mengenai apakah semua berjalan lancar.

Taeyong menatapnya sejenak tanpa bisa menjawab. Perutnya terasa aneh, tubuhnya menegang dengan sendirinya saat mereka bertatapan. Taeyong tak bisa menjauhkan mata dari laki-laki yang kini berdiri di pintu ruangannya.

Apakah ada hukum di dunia ini yang diperuntukkan bagi pria yang terlalu seksi? Karena ini tidak adil! Taeyong merasa dirinya mengeluarkan air liur hanya dengan melihat Jaehyun berdiri di sana, dengan balutan jas putih dan stetoskop mengalung di leher, menatapnya seperti itu. Fuck. Jung Jaehyun memancarkan feromon dan daya tarik seksual yang tak main-main. Membuat bagian kecil dalam diri Taeyong bergetar dan menjerit meminta untuk disentuh.

"Taeyong?" tanya Jaehyun sekali lagi, sambil tersenyum geli.

"O-hh, ya. Semuanya berjalan lancar."

Taeyong hampir mengerang saat dia merasa aliran darah panas menjalar dari leher dan berkumpul di wajahnya. Shit! Jaehyun tetap berdiri diam di tempatnya dengan mata yang menjelajah tiap ruangan dengan tertarik, tidak terlihat akan segera pergi. "Butuh sesuatu dariku, Dr. Jung?" tanya Taeyong serak, masih berpura-pura sibuk dengan laptopnya.

"Tidak. Hanya ingin melihat-lihat," jawab Jaehyun, berjalan masuk ke dalam ruangan, hingga berada tepat di samping tempat duduk Taeyong.

Ketika Jaehyun mendekat, mengulurkan leher untuk melihat layar laptop di hadapannya, Taeyong hampir mengerang dengan memalukan karena tak bisa menahan diri. Godaan dari hembusan nafas di sekitar leher dan pipinya bisa membuat Taeyong hilang akal. Napasnya perlahan semakin cepat tanpa bisa dikontrol. Taeyong sadar ia harus membuat sosok ini pergi menjauh darinya sebelum berakhir dengan dia yang mempermalukan dirinya sendiri.

Dengan suara gesekan lantai dan kursi putar yang digeser, Taeyong menatap Jaehyun. "Apa kau tidak punya sesuatu untuk dilakukan, Dr. Jung? Kukira seorang dokter sepertimu harusnya sedang sibuk menyelematkan nyawa orang-orang sekarang," tanyanya dengan nada sinis dan tajam. Meski kemudian ia hampir menggigit lidahnya sendiri karena sudah lancang berkata seperti itu. Shit, itu terdengar kasar. Taeyong tidak bermaksud sama sekali!

Sosok itu tak terlihat tersinggung. Dengan tawa kecil, Jaehyun mengangkat kedua tangannya di udara tanda menyerah. "Maaf jika aku mengganggumu," katanya. "Aku hanya merasa tertarik untuk mengetahui apa yang sedang kau kerjakan. Sama sekali tidak ada maksud jahat. Aku janji tidak akan mengganggumu lagi."

Jaehyun melangkah keluar dari kantor Taeyong setelah bicara seperti itu.

Taeyong mengerang frustasi begitu sosok itu pergi. Menjambak rambutnya sendiri. Apa-apan itu? Apa yang telah kau lakukan, Lee Taeyong? Itu sangat tidak profesional! Ia mencampur adukkan perasaan pribadinya dengan pekerjaan. Bagaimana ia bisa berkata seperti itu pada salah satu staff di sini? Bagaimana dengan reputasi NCT di hadapan orang-orang nanti?

Shit! Taeyong panik. Dia menyalahkan kepanikannya itu untuk semua kekacauan ini. Bagaimana hanya dengan melihat wajah seorang Jung Jaehyun sudah bisa membuatnya seperti ini? Sensasi menggigil nikmat yang menakutkan. Dan seolah itu belum cukup, itu justru berlanjut dengan dirinya yang membayangkan hal-hal kotor yang tak seharusnya antara dirinya dengan Jaehyun, di ruangan ini.

Taeyong ingin bibir penuh itu bersentuhan dengan miliknya, jari-jari tangan itu menjelajahi sekujur tubuhnya. Taeyong ingin merasakan kulit mereka bergesekkan tanpa penghalang apapun. Melihat milik Jaehyun yang ia yakini besar itu perlahan bangun hingga tegak dan keras sepenuhnya. Ia ingin benda itu memasukinya, mememenuhi dirinya, membuatnya lupa hal lain selain kenikmatan hingga orgasme.

"Fuck!" Taeyong bersumpah serapah, bangkit berdiri. Dia sudah begitu keras sekarang, hanya dengan memikirkan itu semua.

Shit! Shit! Shit!

Dia butuh seseorang untuk memuaskannya. Dia butuh merasakan sesuatu yang besar dan keras merengsek masuk dalam dirinya. Sebagai seorang bottom, memainkan miliknya tidak akan pernah cukup untuk memuaskan hasratnya, terlebih ini sudah terlalu lama sejak ia melakukannya terakhir kali. Mungkin Taeyong memang harus memesan beberapa mainan dengan jasa pengiriman paling cepat untuk menemaninya malam ini.

"Ini bukan diriku," desis Taeyong. Dirinya bukan jenis orang yang akan tertarik pada seorang pria yang telah beristri. Beristri? Ya, dia melihat cincin pernikahan melingkari jari Jaehyun di hari mereka pertama bertemu dan merasa sangat bersalah karena memiliki nafsu seperti ini padanya.

Taeyong selalu berfikir jika itu adalah hal bodoh. Tertarik pada seorang pria straight, dia bersumpah takkan pernah membuat kesalahan seperti itu. Jadi kenapa ia masih saja tak bisa mengeyahkan ketertarikannya pada orang yang jelas-jelas straight dan sudah menikah seperti Jung Jaehyun? Orang-orang bahkan mengatakan jika Dr. Jung memiliki keluarga bahagia yang harmonis bersama istri dan kedua anaknya, menegaskan betapa straight dan tak terjangkaunya dia untuk Taeyong. Dirinya pasti sudah hilang akal.

"Shit!"

Taeyong menatap bagian bawahnya yang mengembung dan kembali ke tempat duduknya, mengambil napas dalam-dalam untuk mengontrol tubuhnya. Ia punya pekerjaan yang harus dilakukan, tak ada waktu untuk bercinta―apalagi membayangkan bercinta dengan seorang Jung Jaehyun. Taeyong tak punya pilihan selain menahan diri, berharap bisa terus seperti itu hingga pekerjaannya selesai dan ia bisa pergi dari sini.


Tapi sayangnya, sepertinya Tuhan sedang tidak berbaik hati untuk mengabulkan harapan Taeyong yang satu itu.

Jaehyun justru membuat kebiasaan baru dengan selalu muncul ke kantornya setiap hari hanya untuk sekedar basa-basi.

'Semuanya baik-baik saja? Butuh bantuan?'

'Bagaimana pekerjaanmu? Ada kendala?'

'Ini sudah jam makan siang, tidak mau berhenti sebentar dan pergi ke Cafetarian?'

Jaehyun tak pernah dengan lancang mencoba melihat pekerjaan di laptop Taeyong lagi. Dia bahkan berdiri dengan mengambil jarak aman dan baru bicara jika Taeyong sudah berhenti dan mau menatapnya. Dia benar-benar belajar dari kunjungan pertamanya untuk tak membuat Taeyong marah dengan mengganggu pemuda itu, meski dia tak pernah tahu jika hanya dengan kehadirannya saja, sudah cukup untuk mengganggu Taeyong dalam konteks berbeda.

Mereka mulai banyak berbicara, tentu saja. Taeyong sesekali akan menjelaskan apa yang sedang ia kerjakan, atau membiarkan Jaehyun menceritakan bagaimana operasinya hari itu berlangsung. Kadang, jika mereka sudah merasa kehabisan bahan obrolan, mereka juga akan membahas hal lain yang lebih pribadi seperti kesukaan dan lain-lain, atau bahkan hal-hal random. Jaehyun juga sering mencoba melucu, memberinya lelucon konyol yang sama sekali tidak konyol, tapi Taeyong sama sekali tak keberatan.

Itu memberikan dampak yang luar biasa bagi keduanya, karena mereka kini sudah tak segan-segan lagi mengutarakan isi hati saat bersama.

Disadari atau tidak, Taeyong juga mulai menantikan kehadiran Jaehyun di ruangannya tiap hari.

"Tadi anak dari pasien yang aku operasi mendatangiku, anak perempuan kecil, manis sekali, giginya seperti kelinci, namanya Nayeon. Dengan malu-malu ia memberiku permen-permen cokelat, mengecup pipiku dan berkata 'terimakasih dokter' dengan begitu menggemaskan. Aku ingat jika kau sangat suka cokelat, Taeyong, untuk itulah aku ke sini."

Jaehyun adalah sosok yang manis, perhatian, penyayang, dan baik. Terlepas dari kenyataan bahwa ia terkadang akan diam seperti memiliki dunia sendiri dengan binar sedih di matanya, Jaehyun adalah teman yang sangat baik.

Taeyong ingat saat Jaehyun pertama kali membawakannya jajangmyeon untuknya. Ia belum makan apapun sejak pagi. Terlalu asik dengan pekerjaannya hingga melupakan hal penting seperti mengisi perut. Taeyong hanya bersyukur Jaehyun mau menyisihkan sedikit waktu untuk memberikan perhatian kecil seperti itu.

Satu hal lain yang ia pelajari malam itu adalah bahwa Jung Jaehyun juga bisa menjadi sangat cerewet saat dia mau.


Empat minggu berlalu.

Pekerjaan Taeyong hampir selesai. Hanya tinggal dua instalasi utama untuk pengaturan keseluruhan dan semuanya akan selesai. Ini akan membutuhkan waktu paling lama dua minggu, tapi ia harus menunggu pekerjaan anggota tim lainnya selesai sebelum bisa melakukannya.

Secara singkat, bisa dikatakan jika Taeyong sedang menikmati waktu bersantainya. Tak seperti biasa dimana Taeyong akan selalu sibuk dengan laptop untuk pekerjaannya, kini ia justru duduk damai di sofa ruangan itu untuk menonton film. Jaehyun sudah berkata akan datang dan membawa beberapa makanan sejak tiga puluh menit lalu, tapi tak kunjung datang.

"Seseorang sepertinya melupakan jalan ke sini hingga bisa terlambat setengah jam," gumam Taeyong begitu Jaehyun muncul di balik pintu ruangannya.

Jaehyun tertawa, melangkah masuk dengan kantung-kantung penuh makanan yang ia janjikan. "Maaf. Tapi gadis kecilku memaksa ingin kujemput jadi terpaksa aku harus menjemputnya lebih dulu," jelasnya.

Taeyong mengangguk saja. "Aku lapar," katanya sambil mengambil alih satu kantung dan mengeluarkan isinya. Satu kotak pizza langsung diambil dan mulai dihabiskan.

Jaehyun duduk di sampingnya dan tersenyum melihat Taeyong yang begitu lahap. "Nah, begitu. Kau harus makan lebih banyak. Tubuhmu itu perlu lebih banyak tambahan lemak."

"Benarkah?"

"Tidak juga, kau sudah sempurna." Jaehyun menjawab tanpa berpikir, setidaknya itu anggapan Taeyong. Ia bahkan tak sadar jika Taeyong sedang memandangnya terkejut sekarang. Lebih tertarik dengan film yang sedang Taeyong play di laptopnya yang ada di atas meja. "Menonton apa?"

Taeyong menelan ludah, menjawab seadanya. "Film membosankan."

Jaehyun tersenyum lebar mendengar jawaban seperti itu. Ia terlihat termenung sebelum bertanya. "Apa yang biasanya kau lakukan untuk bersenang-senang, Taeyong?" gumam Jaehyun. Tangannya bersandar di sandaran sofa guna menopang kepala, berbalik menyamping menghadap Taeyong.

"Bersenang-senang?" Taeyong yang sedang menghabiskan potongan pizza ketiganya menoleh. Fuck. Ia tak tahu jika kini mereka berjarak sedekat itu. Karena ketika Taeyong menoleh, wajah Jaehyun berada tepat di hadapannya. Dia menatap mata Jaehyun dan merasakan getaran aneh yang menyenangkan menjalar di sekitar tulang punggungnya. Dengan gugup Taeyong tertawa, "Aku bersenang-senang sepanjang waktu dengan laptopku." Ia mengatakan kepada dirinya sendiri untuk segera berpaling dari mata Jaehyun, tetapi tubuhnya seakan tak mau menuruti perintah otaknya.

"Itu tidak terdengar menyenangkan," bisik Jaehyun, matanya terkunci pada Taeyong. "Kau harus mencoba hal lain."

"Seperti... apa?" Taeyong menahan napas, merasa bibirnya tiba-tiba kering. Ia seakan bisa mendengar gemuruh dari debaran jantungnya sendiri saat melihat fokus mata menawan Jaehyun perlahan berpindah dari mata, ke bibirnya. Taeyong terkesiap ketika melihat mata Jaehyun yang tiba-tiba penuh dengan nafsu. Lidahnya muncul untuk menjilat bibirnya sendiri. Terlihat erotic. God, Taeyong sangat ingin Jaehyun menciumnya sekarang juga.

"Aku tidak tahu," jawab Jaehyun serak, "Kau masih muda, Taeyong. Mungkin kau harus coba clubbing?"

"Dari mana kau tahu aku masih muda?"

"Terlihat, dari wajahmu. Dua tiga?"

"Dua lima," ralat Taeyong. Ia membalik tubuhnya ke samping sehingga sepenuhnya menghadap Jaehyun, potongan pizza disimpan di dalam kotak. Tindakannya ini membuat wajah mereka menjadi begitu dekat hingga keduanya bisa merasakan napas satu sama lain di wajah mereka. "Berapa umurmu, Jaehyun?"

"Tiga puluh dua." Jaehyun merespon, memiringkan sedikit wajahnya.

Bibir mereka hampir bersentuhan.

"You're so fucking sexy." Taeyong berkata tanpa berpikir, bibirnya menyapu milik Jaehyun kilat. Gelombang keinginan yang menerpanya terlalu kuat. Ia mencoba menekannya tapi tidak berhasil. Taeyong memaki dirinya sendiri dalam hati karena kurangnya pengendalian diri. Namun itu bahkan tak mampu untuk meredam kabut nafsu yang kini dirasakannya.

"Benarkah?" bisik Jaehyun dengan nada rendah, matanya menutup. "And you, you're the most gorgeous man I've ever meet." Lidahnya keluar, secara perlahan dan sensual menjilat salah satu sudut bibir Taeyong.

Taeyong mengerang, menggigil dengan sentuhan intim itu. "Jaehyun..." Ia merintih, terbata-bata sambil membuka mulutnya, menangkap lidah basah Jaehyun dan kemudian mulai mengisapnya. Sebuah erangan penuh nafsu muncul dari tenggorokan Jaehyun saat ia mendapat izin dari Taeyong untuk memasukkan lidah dalam mulutnya, mengisapnya perlahan, mengaitkan lidah mereka, bergerak seirama hingga menghasilkan bunyi kecipak erotis.

"Mhhm…"

Ketika ciuman berhenti, Jaehyun mengisap bibir bawah Taeyong, menggigitnya ringan. "Taeyong?" Jaehyun berkata tepat di bibir Taeyong. "Apa yang kita lakukan?"

"Aku tidak tahu dan tidak peduli." Taeyong sudah kehilangan pikirannya, seluruhnya, "I want you," bisiknya gemetar, tidak peduli bahwa orang ini straight dan sudah menikah. Taeyong hanya ingin dia. Dia menginginkan Jaehyun.

"Oh. God, Taeyong," erang Jaehyun, sebelum sepenuhnya mengklaim mulut Taeyong dengan ciuman yang dalam dan tergesa.

"Mhhm…"

Jaehyun mengambil kontrol penuh, memagut bibir Taeyong dengan lembut dan putus asa. Memberikan tekanan yang tepat sambil sesekali mengisap bibir atas dan bawahnya bergantian, seakan tak membiarkan Taeyong bernafas. Lidah lapar membelai setiap bagian dalam mulut Taeyong, mencoba merasakan setiap sudut gua hangat itu.

Shit! He's good kisser, pikir Taeyong. Jaehyun bisa membuatnya gila, gila untuk disentuh lebih jauh lagi. Taeyong mendesah nikmat dalam ciuman mereka, menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Jaehyun yang kini membelai langit-langit mulutnya dengan nakal. Ketika Jaehyun akhirnya melepaskan bibirnya, Taeyong merintih putus asa. "Jaehyun, please..." Tubuhnya menegang akan gairah. Ia tidak pernah begitu putus asa untuk disentuh, tidak pernah sebegini putus asa hanya demi seks.

Tidak tahu siapa yang memulai, tapi dalam waktu singkat pakaian keduanya sudah terlepas, meninggalkan mereka berdua sama-sama telanjang. Benda berdenyut mereka bergesekan satu sama lain. Taeyong tidak terkejut sama sekali ketika melihat milik Jaehyun, yang seperti perkiraannya, memang begitu besar. Keduanya sama-sama putus asa, sama sekali tidak punya waktu untuk saling mengagumi tubuh masing-masing.

"Fuck, Taeyong, aku tidak punya lube dan kondom." Jaehyun terdengar kesal.

"Aku punya kondom di dompetku," suara Taeyong gemetar, nafasnya berat saat ia meraih celananya demi mengambil benda yang dimaksud, langsung menyerahkannya pada Jaehyun. Taeyong merintih seksi saat melihat Jaehyun memakaikan kondom itu pada miliknya yang besar. Dia menjilat bibir, ingin merasakan benda itu ke dalam mulutnya, tapi saat ini, Taeyong merasa jika lubang pantatnya yang berkedut jauh lebih menginginkannya. "Cepat, ahh," rintihnya, putus asa.

Jaehyun membungkukkan tubuh ke arah Taeyong, matanya sayu akan nafsu. Dia menyentuhkan ujung miliknya melawan lubang berkerut Taeyong. "Aku tidak ingin menyakitimu, Taeyong. Aku butuh sesuatu yang licin. Aku harus..." Ucapannya terhenti saat kepalanya berbalik ke arah meja dan mendapati botol lotion di sana. Jaehyun mengambil lotion itu, membuka tutup dan mengeluarkan isinya banyak-banyak hingga melumuri jari-jarinya sambil terus mencium Taeyong rakus.

Ketika jari licin Jaehyun menembus lubang laparnya, Taeyong merasa hampir gila. Rasanya nikmat sekali hingga membuatnya mengerang, merintih untuk segera dimasuki. "Oh God, that feels so good." Taeyong mengerang lebih keras saat dua jari mengisi lubangnya. Mulai menggerakkan pinggul demi menyambut jari-jari itu masuk lebih dalam. Rasanya sungguh gila. "Jaehyun!" Ia tersentak saat jari-jari tebal Jaehyun menusuk lebih dalam hingga menyentuh prostatnya. Napasnya terengah-engah, kepayahan. Tubuhnya berkeringat saat ia dengan tanpa malu-malu memohon pada Jaehyun untuk segera memasukinya. "Please, give me your big-hard cock, Jaehyun. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi!"

Dan Jaehyun memberikan itu padanya. Keras.

He'd fucked him so good.

Tubuh Taeyong bergetar hebat, berguncang-guncang tiap kali milik Jaehyun memasukinya.

God, Taeyong tidak pernah merasa sepenuh ini. Ia tak pernah merasa sedidominasi ini oleh orang lain. Dirinya bahkan tidak bisa mengingat seberapa lama pergumulannya dengan Jaehyun. Yang ia tahu, ketika ia melihat ekspresi Jaehyun yang begitu menikmati ini, Taeyong merasakan sentakan kenikmatan yang begitu kuat hingga berefek pada lubangnya yang menjepit milik Jaehyun di dalamnya dengan lebih kuat. Pemuda Jung itu mendongakkan kepalanya ke belakang, menggeram rendah.

"Jaehyun! Oh, god! Jaehyun! Jaehyun―Ahhhh!"

"Taeyong…"

Klimaks mereka ketika akhirnya datang, membuat mereka saling menyuarakan nama masing-masing dengan begitu keras.

Jung Jaehyun jelas tahu bagaimana caranya bercinta!

Taeyong merasa tenaganya langsung terkuras habis. Perlahan kembali mendapatkan pikirannya mengenai siapa dirinya, ada dimana dan dengan siapa dia sekarang. Hal seliar dan semeyenangkan ini dalam seks, belum pernah ia merasakannya. Tubuhnya masih gemetar dari kesenangan yang ia peroleh, bersama semburan cairan putihnya yang masih belum berhenti.

Taeyong ingin meminta Jaehyun melakukan hal seperti ini lagi padanya, persetan dengan mereka yang kehabisan kondom! Matanya benar-benar melebar ketika melihat noda cairan menutupi perut ratanya. Taeyong tak ingat pernah orgasme sebanyak ini sebelumnya dan itupun tanpa dirinya harus repot-repot menyentuh miliknya sama sekali, hanya karena milik Jaehyun di dalamnya.

Taeyong tersentak ketika ia akhirnya bisa bernapas lega. "Itu tadi luar bia―"

"Fuck!" Jaehyun mengumpat dan berguling dari atas Taeyong, mencabut kemaluannya begitu saja. Ia melompat berdiri kemudian melepaskan kondom dengan panik dan tergesa. "Aku pergi." Ia bahkan tak menatap Taeyong saat mengatakan itu, mulai membenahi dirinya.

"Apa?" Taeyong terkejut dengan sikap dingin dan tak tak peduli tiba-tiba dari Jaehyun. Ia bahkan bertanya-tanya kemana sosok seksi dengan perlakuan manis yang baru saja mengguncangkan dunianya beberapa saat lalu itu menghilang.

Jaehyun berhenti di pintu kamar tapi tidak berpaling menghadap Taeyong. "Aku harus berpikir. Hanya... kumohon jangan temui aku dulu." Dengan itu ia keluar dan menutup pintu.

Dengan wajah panas dan memerah karena malu, Taeyong berpakaian dengan cepat dan meninggalkan rumah sakit untuk menuju apartemen. Meski dia tak berencana pulang malam itu. Fuck. Inilah yang terjadi ketika kau melakukan hal ini dengan orang yang salah, pikir Taeyong. Dia marah pada dirinya sendiri saat melajukan mobilnya keluar dari area parkir rumah sakit.

Apa yang ada dipikirannya?

Taeyong mengambil ponsel dan mencari kontak Youngho dengan tangan gemetar untuk meminta izin tak bekerja esok hari, selama mungkin yang diizinkan. Dia takkan bisa melihat Jaehyun lagi. Bahkan mungkin takkan bisa kembali ke rumah sakit untuk bekerja lagi. Tapi kemudian niatnya urung saat ia ingat jika atasannya itu sedang dalam masa berkabung atas kematian ayahnya dan tak bisa diganggu.

"Shit!" Taeyong berteriak marah, memukul keras stir. Berusaha untuk tak menangis saat itu juga.


Lanjut?


Fast update! Terimakasih yang sudah favorite dan follow story ini. Juga yang sempat mereview chapter sebelumnya.

Balasan Review

Kk: Sudah dibahas di sini awal pertemuan mereka gimana ya

Guest: ini ga lama, kan?

dtime, blakcpearl: Sudah ;)

hana. akira3: Jaehyun memang sudah menikah, tapi keseksiannya tak bisa ada yang bisa menolak, termasuk Taeyong. Ditunggu aja ya.

Dorokdok: Untungnya ini hanya fiksi, haha. Hubungan seperti ini memang akan membuat banyak pihak terluka. Untuk ending, diusahakan yang paling memuaskan. Ditunggu saja, tidak akan lama-lama karena ini mungkin hanya 3-4 chapter. Jaehyun memang sudah punya anak, istrinya di sini perempuan dan yes, tebakanmu ada yang benar. Alasan Jaehyun akan terbuka nanti, ini masih awal pertemuan mereka. Haha, kalimatnya memang seperti itu kok, jangan baper ya. Yuk sama-sama tunggu jandanya Tae! :D

Jaeyongrs: Ini sudah, semoga rasa penasarannya sedikit terbayar

tryss: Anggap saja sifat Taeyong di sini memang sedikit perasa jadi sering menyalahkan diri sendiri gitu. Kalau Jaehyun, memang karena statusnya itu :')

Ditunggu review untuk chapter ini. Jika masih ada yang belum dimengerti atau masih penasaran tanyakan saja. Pasti dijawab asal tidak menjurus pada spoiler, haha. Sampai jumpa lagi!