Hai minna~ maaf gak bisa update kilat.. Tapi ini gak telat-telat bangetkan... #plakkk.. Jadi langsung saja Yuuki persembahkan...


Super Idiots


Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: untuk sekarang SasuSaku dulu... Yang lain menyusul.

Genre: Humor, Romance, Friendship.

Summary: Siapa bilang orang genius itu kuper, berkaca mata tebal, dan selalu menyendiri di dalam sebuah lab. Bagaimana jika definisi genius itu diubah menjadi, orang aneh, otaku akut, biang onar, tukang palak, dan mantan seme./ Kisah tentang kehidupan kelima murid genius dengan tampang serta ke'aneh'an yang diatas rata-rata.

Warn!: OOC akut, Gaje, Typo dkk, alur kurang jelas, dll...


Bagian dua: Ini salah siapa?

Sasuke berjalan tergesa di koridor utama Senju gakuen. Kakinya berayun semakin cepat hingga setengah berlari kala taman sekolah mulai tampak di bola matanya.

Sekarang prioritas utamanya adalah mencari gadis pink berjidat lebar yang —katanya— berada di taman tersebut. Awalnya tak ada niatan apapun untuk menemui gadis bernama Sakura itu. Egonya terlalu tinggi untuk menjilat sendiri liur yang jelas-jelas sudah dimuntahkannya. Tetapi entah mengapa, jauh di dasar hatinya ia merasakan sebuah gejolak yang seakan berbisik kecil untuk mengejar gadis musim semi itu.

Sekarang ia telah mengejarnya, lalu apa yang akan terjadi. Sasuke bahkan tak tahu ingin mengatakan apa. Mungkinkah ia datang tiba-tiba hanya untuk menyapa "Ohayo" dengan senyum ramah lalu mengobrol sok akrab seperti yang sering duo Uzumaki itu lakukan. Atau memasang tampang menggoda sambil berkedip nakal lalu mengatakan "Maukah kau menjadi pacarku." seperti yang dilakukan Sai saat hatinya sedang terlewat bahagia. Atau... akhhh... atau apa lagi... ia bahkan sampai harus membuang egonya hanya untuk berlari dikoridor.

Apa ia akan menyerah di sini dan berbalik menuju kelasnya. Tapi setelah dipikir ulang, melarikan diri kekelas tak akan membayar egonya yang terlanjur terbuang percuma kan. Jadi, Sasuke akan maju. Begitukah? Tapi...

Gerak kakinya terhenti di

bawah sebuah pohon sakura. Gadis pink pujaannya kini tengah duduk di bangku taman sambil membaca buku. Sesekali tangannya bergerak untuk menyelipkan poninya di belakang telinga.

Cantik, benar-benar cantik. Mengapa Sasuke baru sadar jika ada makhluk indah yang bernama wanita didunia ini. *biasa... reaksi bodoh mantan seme*

Tapi, Ia tak berani. Walaupun itu hanya untuk menyapa gadis itu. Lantas apa yang salah padanya? Tampang oke, gaya juga oke, bahkan Sasuke sudah memakai deodoran pagi tadi. Lalu mengapa ia ragu? Entahlah.

Sasuke memandang tangan kanannya yang bergetar. 'Aku gugup sekali.' Batinnya lalu bersandar di pohon sakura besar itu sambil mengatur nafasnya.

"Oke."

Dengan mantap Sasuke berjalan menghampiri Sakura yang masih fokus dengan buku di tangannya. Ia tak menyangka dirinya sampai juga ketahap ini. Oh sepertinya Sasuke mengaku berhutang budi pada Menma yang telah memberi tahu posisi Sakura secara akurat. Jadi...

'Tunggu.'

Sasuke berfikir senbentar. Itu berarti Menma juga tahu posisi dirinya dengan akurat kan? Berarti dia tahu kalau Sasuke tengah menghampiri Sakura? Berarti ia telah masuk perangkap Menma.. Berarti... Berarti...

Oh sudahlah, mari kita lupakan pengakuan Sasuke tentang balas budi tadi. Anggap saja ia tak pernah memikirkan apapun.

Sekarang, kita cari jalan keluar dulu. Kalau memutar ke kelas, Sasuke hanya akan terlihat sangat bodoh karena mengambil rute taman yang jelas-jelas bertolak arah dengan kelasnya. Kalau berjalan lurus saja lalu berhenti di mesin minuman otomatis bagaimana? Oh tidak... ia akan disebut konyol oleh ketiga sahabatnya yang ia yakini sedang memperhatikannya lewat aplikasi Menma itu. Lalu sekarang bagaimana?

Sasuke bahkan yakin si mata empat itu telah memasang alat penyadap padanya. Sejauh yang ia tahu, Menma pernah menaruh peyadap di ponsel dan di dompetnya berkali-kali dengan alasan sebagai 'percobaan'. Tapi belakangan ini ia tak pernah menemukan alat penyadap lagi. Bukannya Sasuke senang, tidak! Justru Sasuke semakin Was-was. Tak mungkinkan anak sumber kerusuhan itu menyerah pada hal yang disukainya.

Oke... Sasuke mengaku kalah dengan egonya yang lebih tinggi dari gunung itu. Semoga dengan keputusannya ini Sakura tak berbalik membencinya.

"Hei, jidat."

Tak selamanya ego dapat dibeli dengan cinta.

.

.

Sakura membanting bukunya di atas meja dan berdecak sebal. Tangannya mengacak rambut merah mudanya kasar namun segera diurungkan sambil membenahi kembali rambutnya yang tampak kusut.

"Arrrggghhh..." erangnya. kemudian menghempaskan tubuh di atas kursi.

Puk...

Seseorang memukul pelan kepala gadis merah muda itu dengan sebuah buku. Sakura yang kaget langsung menoleh kearah belakangnya, pada sahabat pirangnya yang menatapnya penuh tanya. Dengan cepat Sakura menerjang sahabatnya itu meskipun dia tahu ada sebuah meja yang menghalanginya.

"Hei... Ada apa ini Sakura?" heran gadis pirang itu melihat tingkah sahabatnya yang tampak janggal pagi ini.

"Ino-pig... Aku bodoh." rengeknya pada gadis pirang yang dipanggil Ino itu. Pelukannya semakin erat.

"Ada apa?" ucap Ino tenang sembari mengusap punggung Sakura.

"Aku mengatakan hal yang aneh pada Sasuke." Sesalnya.

Ino mendengus pelan. 'Sasuke lagi ya. Si Konoha itu.'

"Aku takut dia membenciku." tambah Sakura.

Ino tersenyum. 'bukannya itu bagus.'

"Dia tak akan membencimu Sakura. Tenanglah..."

.

.

.

"Du.. du.. du.. La.. La... La... uwooohhh..." senandung Naruto yang berjalan sambil melompat-lompat bahagia di koridor sekolah. Tangannya penuh memegang empat kantong plastik besar yang baru diketahui isinya adalah bermangkuk-mangkuk ramen instan, sehingga dari jauh Naruto malah terlihat seperti tukang sampah jika saja ia tidak memakai seragam SMA.

Seakan tak mempedulikan tatapan risih dari orang-orang di sekitarnya serta tatapan tajam ketua OSIS yang ragu-ragu mau menegurnya. Naruto membuka pintu geser kelasnya menggunakan kaki kanan sehingga ketua OSIS yang sok garang lagi-lagi melempar pandangan mematikan pada Naruto.

"OHAYO MINNAAAA!" sapa(teriak)nya yang masih berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan dinaikkan ke atas sehingga kepala kuningnya tertutup oleh empat plastik besar yang di bawanya.

Semua makhluk di kelas menoleh pada Naruto yang berjalan menuju mejanya sembari mengusap peluh di pelipisnya. Tak ada yang mau menjawab. Semuanya masih berfikir.

Lalu... "SEKARANG SUDAH SIANG BAKAAAAAAAAAAA!" Teriak Sasuke yang mengacungkan telunjuknya ke arah jam dinding berbentuk rubah berekor sembilan yang sedikit bergetar karena teriakan Sasuke yang berfrekuensi tinggi. Naruto menutup telinganya setelah mati-matian menaruh ramennya dengan sangat hati-hati di meja kosong yang entah punya siapa itu.

'Ini lebih dahsyat dari teriakan Shina-chan.' batin pria pirang itu lalu terkapar di lantai dengan tangan memegang dada.

Sai yang melihat Naruto ambruk terlihat panik dan menghampiri Uzumaki pirang itu sambil mengguncang tubuh Naruto. "Naruto! Naruto! Bertahanlah..." Sai berujar setelah melihat Naruto mulai lemas.

"Sai... Se-sepertinya Obaa-san memanggilku." Naruto semakin erat memengang dadanya.

"Naruto..."

"Dia berkata akan membawaku bersamanya."

"Jangan Naruto... Jangan pergi.."

"Perahunya semakin dekat Sai... Dia akan menjemputku." lalu Naruto terkapar tak sadarkan diri.

"Naruto... Hueee... Sadarlah Naruto... Jika Obaa-san menjemputmu.. Jadi Tsunade-sensei itu siapamu..? Hueee..."

Hening...

Krik... Krikk..

Krikkk... Krikkk..

Braaaakkk...

Naruto bangkit sambil menggebrak meja yang paling dekat dengannya. Sai yang melihat Naruto bangkit dari 'kematian' tersenyum dengan mata berkaca-kaca lebay. Sasuke geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd sahabatnya. Gaara yang sudah diseret Sasuke dan Sai masih pundung di pojokan sambil memeluk cangkul yang ia bawa. Menma yang dipanggil Anko sensei di ruang konseling nangis-nangis bombay sambil sujud sembah di kaki guru cakep kurang-garang-tapi-sadis itu.

Makhluk di kelas susah payah menahan tawa, bahkan ada yang berdoa agar Tsunade sensei sang kepala sekolah yang juga nenek duo Uzumaki itu mendengarkan percakapan cucunya yang kelewat melankolis itu. Kalau begitu sudah dipastikan Naruto akan babak belur ditambah backsound suara pecahan kaca yang menandakan Naruto telah dilempar dari lantai dua. Pantas saja Naruto sering lompat dari balkon lantai dua di Konoha. (-_-")

"Shimata... Aku jadi ragu, apa benar Obaa-chan itu Obaa-chanku." selidik Naruto dengan tangan memegang dagu setelah bangkit dari kematiannya. "Tidak. Dia itu Obaa-chanku. Tapi..., aku tak mirip sama sekali dengannya. Ya benar, Kami tak mirip. Jadi dia memang bukan Obaa-chanku." lalu menggeleng dan mengangguk menanggapi dialognya sendiri.

"Siapa yang kau panggil 'Obaa-chan' Kuning aho!" geram Tsunade yang berdiri di belakang Naruto dengan tangan mengepal menahan marah. Naruto yang mendengar suara lembut mematikan(?) dari arah belakangnya telah mengeluarkan keringat dingin, kali ini Naruto berani bersumpah kalau sekarang ini ia 'hampir' kencing di celana. (Naruto: Hidoi... jangan mengatakan hal yang tak benar Yuuki-chan. *mewek*)

Tsunade tersenyum miring, tangan kirinya menekan-nekan kepalan tangan kanannya. Aura hitam tiba-tiba menyelubungi wanita yang menjabat sebagai kepala sekolah itu. Naruto yang merinding komat-kamit tak jelas bahkan takut untuk berbalik.

'pergilah, pergilah, pergilah.'

"Aku tanya. Siapa yang kau panggil 'Obaa-chan'? Siapa hah!? Aho! Baka!" Tsunade menggenggam pundak Naruto erat. Naruto semakin mencelos entah ia berhalusinasi atau apa, samar-samar Naruto mendengar ada yang membisikkan sesuatu di telinganya. Seperti mengatakan 'kalau kau tak memberiku jawaban yang memuaskan, aku akan melemparmu dari atap sekolah.' Naruto lemas seketika.

'pergilah, pergilah, pergilah.'

"Jadi... Siapa yang kau panggil Obaa-chan!?"

Naruto menelan ludah kosong, entah mengapa tiba-tiba saja mulutnya terasa kering. Ini benar-benar menyeramkan. untuk kesekian kalinya Naruto tersadar kalau sisi kelam Menma menurun dari neneknya ini. Mereka itu sebenarnya apa sih. Monster ya!

Kelas seketika hening. Murid yang mendapati doanya terkabul memasang wajah sumringan.

"Ini dia pertunjukan yang ditunggu-tunggu. Sirkus nenek cucu." gumam mereka seakan tak menyadari betapa beratnya cobaan hidup Naruto yang sebentar lagi akan 'berakhir' dengan satu hentakkan. *lebay*

Menma yang tadi datang bersama neneknya itu bersandar di dinding dengan santai. Sekali-kali membenahi letak kacamatanya atau menggeleng meratapi nasib saudaranya.

*Telepati Mode*

'Kau mau apa Naruto. Sudah tak ada harapan.' batinnya lalu menggeleng lagi.

'Kau benar Menma.' Naruto mencelos.

'Minta maaf saja.'

'Mana mungkin bisa. Dia akan langsung melemparku jika aku lakukan.' Naruto bergindik ngeri membayangkannya.

'Tak ada cara lain, nikmati saja perjalananmu.' Menma membenahi lagi letak kacamatanya.

'APA! Tak bisakah kau berada dipihak Nii-chanmu sekali-kali.'

'Aku tak akan melakukannya. Ah satu lagi... Jangan berharap aku memanggilmu Nii-chan.'

'Menma... Lalu aku haru— '

'Pikirkan sendiri.'

*Telepati mode off*

Lagi dan lagi Naruto menelan ludah kosong. Entah apa gunanya, asalkan rasa paniknya sedikit hilang Naruto akan bersyukur. Tapi tidak dengan tatapan mengerikan nenek nenek di balik punggungnya. *digergaji Tsunade*

Oke. Tarik nafas.

Buang.

Tarik nafas.

Buang.

Naruto jadi ingat cerita ayahnya saat dia kecil dulu. Laki-laki sejati itu tak akan lari dari masalah apapun, dan dia percaya itu.

Naruto berbalik. Tsunade yang masih tak terima dikatakan nenek nenek menggeram kesal. Apa coba kurangnya dia. Cantik, seksi, tapi kenapa cucunya malah mengkhianatinya dengan mengatakannya 'Obaa-chan'. Padahal cucunya itu pasti tahu kan. Kalau sudah beberapa ratus juta yang dikeluarkannya untuk membuat ia telihat muda. Dasar cucu pengkhianat!

Naruto menatap neneknya itu lekat. Ya... Dia akan jadi pria sejati tak peduli siapa lawannya. Mau itu hakim, jaksa, polisi, tukang parkir, kasir super market, tukang ramen, satpam sekolah, guru BP, maupun Voldemord dari fandom sebelah. Tapi neneknya pengecualian.

Naruto jadi ingat cerita ayahnya saat dia kecil dulu. Laki-laki sejati itu tak akan lari dari masalah apapun, dan dia percaya itu. (Naruto: kau mengulang narasi yang sama Yuuki-chan.)

Dan beberapa hari sejak mengatakan itu Ayahnya mengatakan hal lain lagi. "Tetapi bukan berarti lelaki sejati itu tak boleh lari dari semua masalah." ucap Ayahnya. Lalu ayahnya berbisik "Kalau kau bermasalah dengan Obaa-chan lebih baik kau segera lari, atau kau akan dilempar dari lantai dua." (-,-)

Dan itulah yang sedang direncanakannya. Yeah... Lari itu tak terlalu buruk dilakukan. Lagi pula ia bisa sekalian olahraga kan. Tapi jika dipikir-pikir itu malelahkan juga, terlebih sedari tadi ia selalu berlari, dari konoha ke game center lalu kembali kesekolah. Tak benar juga sih, di perjalanan ia sempat mampir kesana-kemari. Lantas Naruto menatap neneknya itu ragu-ragu.

"Oba, maksudku Tsunade-sensei." tuturnya dengan mata yang menatap ke arah lain.

"Kau terlihat cantik hari ini. Kau lihat, langitpun ikut tersipu." tunjuk Naruto pada jendela yang berjejer di dinding. Tsunade yang awalnya ikut tersipu mendengar pengungkapan cucunya, yang ajaibnya langsung membuat hatinya terbuai dan tersenyum lembut sebelum akhirnya turut menoleh ke arah yang ditunjuk Naruto. Namun belum sampai beberapa detik ia menoleh tatapan tajamnya langsung kembali menusuk mata Naruto, membuatnya kembali berkomat kamit tak jelas.

"Itu lebih menyakitkan dari yang kau duga. Mr. Uzumaki." ucap Tsunade yang kemudian kembali memandang jendela.

Tsunade binggung antara sweatdrop atau kesal. Lihatlah..

Langit di luar mendung, bahkan cenderung berangin dan sedikit lembab. Bongkahan awan hitam merekah dimana mata memandang, memang layak dikatakan itu adalah mendung pertama dibulan juni. Atau mungkin badai pertama, itu tergantung persepsi setiap insan. Termasuk persepsi tentang langit mendung yang tersipu, itu benar-benar payah sekalipun itu sebuah lelucon. Author pun terheran, yang dimaksudkan Naruto itu sebagai pujian atau sebagai ejekan. Atau mungkin ada maksud lain dari Naruto yang mengatakan kalimat rancu seperti itu. (Naruto: Hidoiii...)

Seperti yang tertulis sebelumnya. Itu tergantung persepsi setiap insan.

.

.

.

"Hei! Jangan lari kau pirang Aho!"

"Maafkan aku Oba, maksudku, Tsunade-SAMA!"

"Mereka semua gila."

"Hueee... Akhirnya Naruto mengakui Tsunade-sensei..."

"Akuh... Orangh yangh hinah.."

"Hei... aku juga pirang tahu."

.

.

.

Kini lorong akses ruang guru tak lagi bisa dikatakan koridor aman, dalam artian sebagai tempat paling dijauhi murid nomer satu di Senju gakuen dan dalam artian lain yang disebut juga dengan sepi. Mulanya lorong keramat itu selalu kosong, dua tahun yang lalu dan yang telah lalu, murid-murid tampak enggan berbelok ke kiri acap kali bersibobok dengan lorong itu. Bukan karena ada rumor aneh yang mengatakan tempat itu berhantu, juga bukan karena rumor aneh tentang hal seperti guru killer atau semacamnya.

Hanya saja mereka telah mengecap bahwa murid yang kedapatan keluar dari lorong itu berarti dia adalah murid berandal yang pasti telah melakukan hal yang memalukan. Tak heran memang jika hal semacam ini berlaku di Senju gakuen, karena sejak dulu sekali sekolah mereka adalah sekolah elit yang berkelas serta terhormat. Adapun lecet tangan akibat jatuh dari tangga, dengan segenap harga diri mereka akan menutupinya. Mereka akan takut disangka berkelahi. Mereka akan takut harga diri yang mereka taruh di almamater Senju gakuen runtuh hanya karena luka kecil yang menjadi masalah berkepanjangan.

Tapi lain dulu lain sekarang. Dua tahun telah cepat merubah generasi. Semenjak Konoha kembali di isi sengan murid-murid —yang katanya— genius. Semenjak itu pula koridor keramat berubah fungsi menjadi taman bermain para anak-anak yang luar biasa. Luar biasa aneh, luar biasa ribut dan luar biasa mengesalkan.

Si merah menatap kertas di gwnggamannya dengan saksama. Si hitam tengah menimang kubis dan wortel bergantian. Si raven memijat pelipisnya kesal. Si pirang tanpa kacamata menjinjing empat kantong plastik dengan senyum gusar. Dan pirang yang satunya menatap layar laptop ditangan kirinya.

"Kita harus memeriksa klub sepak bola dulu atau klub musik klasik ya?"

"Aku pikir pilihan pertama tak terlalu buruk, wortel itu lebih unggul dari kubis. Ah tidak juga... Kubis mengandung lebih banyak serat."

"Kenapa aku harus repot-repot memikirkannya. Merah muda juga bukan kesukaanku."

"Apa aku perlu memeriksanya. Barangkali misso ramen super spesialku lupa dimasukkan."

"Menurutku semuanya bagus. Robot penyiram otomatis ini juga memiliki model yang menarik."

Gaara sweatdrop.

"Hei kalian ini mendengarkan ucapanku tidak sih!" bentak Gaara.

Sai menoleh. "Memangnya ada apa?" ungkapnya polos.

Mereka berlima berhenti berjalan. Menma bahkan sampai repot-repot menoleh dari laptopnya. Tetapi koridor itu sejenak kembali hening. Dan dengan segala ke'cuek'an mereka mau tak mau emosi Gaara tersulut. Dengan bernafsu di goyangkan kasar kertas hasil fotocopy di depan dadanya.

"Kalian pikir untuk apa kita diberi kertas bodoh ini hah!"

Naruto menggaruk kepalanya dengan tangan kanannya yang memegang dua kantong plastik besar. "Memangnya kenapa dengan kertas itu? Apa itu nilai kita tadi. Bukannya kita dapat 100 semua kan. Ah, aku lupa kalau Sasuke-sama dan Menma-sama yang mendapat nilai plus."

Gaara menggeram kesal, bisa-bisanya ia mempunyai teman mengesalkan seperti mereka itu. "Kalian tak dengar apa yang Tsunade-sensei katakan." dan semakin kesal kala memandang Sai, Menma dan Naruto menggeleng polos, terlebih lagi pada Sasuke yang mengacuhkan perkataannya. "Ini daftar klub sekolah kita. Kita harus setara dengan sepuluh klub dari duapuluh klub yang diwajibkan, atau tigapuluh klub dari seratus duabelas klub lain. Dan kalian hanya bersantai-santai seperti ini. Kalian pikirlah pakai otak, apa ini persoalan gampang! Cih..." Gaara mendecih. Tak bisakah mereka itu serius barang sekali.

Entah karena takdir atau hanya perasaan Gaara saja. Hari ini merupakan hari paling sial yang pernah ada. Padahal ini minggu pertama setelah liburan musim panas, tetapi terasa seberti dijungkir balikkan. Kesenangan liburannya kemarin seolah telah menguap jauh dari otaknya. Benar-benar sial.

Siapa sangka guru baru yang berambut aneh seperti penuh uban itu ternyata pegawai pemerintah yang menyamar, bahkan kepala sekolah dan staff guru tak ada yang mengetahuinya. Katanya sih, ia ditugaskan untuk memperbaiki sistem sekolah yang salah. Lalu apa yang salah dengan mereka berlima?

"Dasar Kakashi itu! Apa dia meragukan kita semua! Memangnya angka sempurna yang kita kumpulkan itu belum cukup untuk membayarnya." Gaara benar-benar gerah sekarang. Kakashi itu, ia mengatakan akan mengetes kemampuan otak mereka, setelah mereka mendapat nilai sempurnya. Dengan teganya ia menambah pekerjaan klub aneh yang tak tahu maksud tujuannya. Sebenarnya mau apa sih, si Kakashi itu. "Ini karena Naruto terlalu banyak berulah hari ini."

Naruto mendelik. "Apa katamu!" bentaknya.

"Ya.. Kau membolos sekolah dan tiba-tiba datang dengan empat kantong besar ramen di siang bolong lalu bermasalah dengan kepala sekolah kemudian berlari di koridor." ejek Gaara sambil menghitung dengan jarinya.

"Hei jangan asal menyalahkan orang Gaara. Kau juga bolos dipelajaran Kakashi kan!? Lalu apa masalahnya buatmu?" timpal Sai yang sedang menahan Naruto yang hendak memukul Gaara.

Gaara memutar matanya. "Oh bagus sekali mendengarkan ceramah dari orang yang hanya tidur di bawah meja selama pelajaran berlangsung." ucapnya cuek lalu mengibaskan tangannya malas. Naruto yang dihadang Sai meronta.

"Lepaskan aku Sai! Akan aku pukul mulut sialannya itu!" Naruto semakin menggila, Menma yang awalnya diam akhirnya turut menarik Naruto menjauh dari Gaara yang masih bermuka menyebalkan. "Menma lepaskan aku!"

"Tenanglah Naruto." bujuk Menma. Naruto yang telah lelah mencoba melepaskan cengkraman Sai dan Menma akhirnya tenang. "Gaara sudahlah, kita hadapi saja bersama-sama."

"Ya ya ya... Bersama dengan orang yang telah membuat seorang guru bermandikan cairan merah dan gula serta membuat ruangannya berantakan. Apa telingaku tak salah dengar."

Naruto kembali mendelik pada Gaara, kali ini ia sampai lupa nasib ramen yang dilemparkan asal karena tersulut emosi. "Hei! Jaga mulutmu." Menma kembali menarik kasar Naruto yang mulai menunjukkan gelagat aneh.

"DIAMLAH!" teriak Menma lalu mendelik tegas pada kembarannya itu. Naruto memandang Menma tak percaya.

"Ku pikir kau membelaku." ucap Naruto tak percaya.

"Aku tak pernah berkata akan membelamu. Jadi diamlah sebentar! Dan kau Gaara." Menma menunjuk Gaara yang masih berwajah acuh. "Aku tak tahu apa masalahmu. Jadi bisakah kau hentikan omong kosongmu tentang siapa yang lebih bersalah. Kau juga harus berfikir dengan kepala dingin. Bukan hanya aku, Sai, dan Naruto yang bersalah. Tapi kau juga." menma menarik nafas. "Coba lihatlah Sasuke, kau pikir apa yang membuat dia terkena masalah kita. Dia hadir dikelas, mengerjakan tugas dan ulangan, dia tidak tidur di kelas apalagi berlari di koridor. Tapi dia biasa saja, bahkan ia masih bisa memikirkan Haru—"

"Aku mendengarnya Menma." sela Sasuke. Namun ia beruntung mereka tak tahu menahu soal ia berlari di koridor pagi tadi hanya untuk bertemu Sakura. Oh beruntungnya dia. "Jika kalian sudah siap berdrama ria. Lebih baik kita segera menyelesaikan urusan klub itu."

Naruto membeliak kaget. "Jadi kita harus melakukannya sekarang juga. Lalu ramenku bagaimana. Loh ehh... Kenapa ramenku berantakan sekali." dengan penuh kasih Naruto menjejalkan ramen cupnya kedalam kantong plastik, dan dengan mudahnya melupakan hasrat ingin memukul Gaara. "Oh dear... Maafkan aku."

Sai dan Menma sweatdrop.

"Sepertinya persoalan ini selesai." gumam Menma sambil mengambil laptop yang nyaris terinjak oleh dirinya sendiri.

"Aku pikir begitu. Wah wortel memang yang nomer satu." Sai menggigit wortelnya. "Aku sudah terlihat seperti kelinci belum ya." kemudian memasang telinga kelincinya yang sebelumnya ia taruh di balik bajunya. Tentu saja takut dirampas Anko sensei, walaupun Anko-sensei terlihat kejam tapi siapa sangka kalau sensei BP itu ternyata menyukai benda-benda imut.

Dulu saja boneka berpakaian maid Sai sudah dirampas oleh Anko-sensei. Awalnya Sai mengira kalau membawa benda seperti itu dilarang sekolah, tetapi boneka yang Sai temukan di rak pajangan di ruangan Anko sensei sontak membuatnya terkejut. Boneka berambut toskanya telah duduk manis di tepian rak. Sungguh menyayat hati jika Sai teringat kisah itu.

Gaara menghela nafas berat. "Sudah kuduga. Seberapa marahnya aku. Aku tak bisa membenci kalian. Maafkan aku." Gaara menunduk dalam.

"Gaara..."

Gaara mendonggak menatap Naruto yang telah berdiri di hadapannya. Mata berkaca-kacanya membuat Gaara lebih waspada. "Gaara... Kau yang terbaik. Aku mencintaimu." ucapnya serengah terisak lalu memeluk Gaara. Ragu-ragu Gaara membalasnya.

"Maafkan perkataanku Naruto."

"Jangan dipikirkan, akan aku berikan sebagian ramenku padamu."

"Tak usah Naruto. Aku yang bersalah disini."

Sai berbisik pada Menma yang tersenyum aneh. "Mereka cepat sekali berubah ya."

"Ya kau benar." balas Menma tanpa menoleh. "Dan Naruto... Hati-hati nanti kau benar-benar cinta Gaara loh."

Naruto terdiam begitupun Gaara. Mereka berpandangan sejenak.

"Ehhhh! Apa yang ku katakan!"

"Menjauh dariku Naruto! Menjauh!"

.

.

.

.

"Tunggu.. Bagaimana dengan rencana pukul dua kita." (Sai)

"Gawat aku melupakannya," (Naruto)

"Bagaimana ini?" (Gaara)

"Aku ingin tahu apa yang kalian bicarakan." (Sasuke)

"Rencana itu dibatalkan." (Menma)

"Ehhhhhh! Bagaimana bisa!" (Sai, Naruto, Gaara)

"Aku ingin tahu apa yang kalian bicarakan." (-,-)

.

.

Siang itu hujan mengguyur. Bau tanah kering mulai menyeruak di indra penciuman. Dinginnya tak dapat diragukan lagi, tak ayal bagi mereka yang tak mendengar berita cuaca pagi tadi akan memilih menunggu di kantin atau membaca di perpustakaan. Tetapi kelima tokoh utama kita masih sibuk berkutat sendiri-sendiri di dalam kelas setelah mendapat info kalau banyak klub yang tak melakukan kegiatan karena hujan. Menma yang memutar-mutar obeng kecil, Sai yang masih asik memakan wortel, Gaara yang sibuk menulis sambil bergumam "Kira-kira kita akan menang kalau melawan klub ini tidak ya?", Naruto telah menghabiskan tiga cup ramennya, dan Sasuke menatap layar ponselnya dengan pandangan menerawang. Jelas sekali kalau Uchiha itu tengah melamun.

Tetapi keempat temannya dengan sengaja mengacuhkannya. Tujuan mereka berempat tak muluk-muluk, hanya ingin Sasuke merasa bosan dan pergi ke perpustakaan. Kata informan terpercaya —Menma— Haruno tengah berada di perpustakaan sekarang. Jadi jika mereka bisa menggiring Sasuke menuju perpustakaan maka rencana pukul dua mereka yang sempat ingin diberhentikan akan kembali dilaksanakan.

Ya. Sebenarnya rencana pukul dua itu adalah proyek 'penyatuan hati' antara Uchiha dan Haruno. Tetapi karena si Uchiha mengatakaan hal aneh pagi tadi terpaksa rencana itu ingin diberhentikan oleh Menma. Pasalnya Uchiha dan Haruno malah sama-sama galau dengan tema yang sama. Itu membuat siHaruno hanya mengurung diri di perpustakaan. Dan itu akan semakin sulit, karena siUchiha ini kurang peka dan jeli.

Lalu dengan kurang sopannya Menma malah mengirim e-mail dari akun yang berbeda pada Sasuke yang berisi info kalau Haruno ada di perpustakaan. Dan yang terjadi malah begini, Sasuke setengah jam melamun tak jelas. Menma tahu kalau Sasuke tak akan semudah itu tergiur. Menma juga tahu kalau Sasuke sekarang sedang berfikir keras, hah... pemuda itu selalu saja memikirkan setiap langkah kakinya berpijak. Menurut Menma itu sangat membosankan, lalu apa menariknya dunia kalau semua yang akan kita lakukan sudah kita rencanakan.

Menma berdiri. Bangku yang ia duduki sedikit bergeser saat ia berjalan gontai, moodnya tiba-tiba hilang.

"Dasar Uchiha baka." gumam Menma tanpa sadar.

Eh tunggu! Mengapa malah Menma yang repot-repot mengkhawatirkan nasib percintaan Sasuke. Menma menggeleng pelan kemudian mengalihkan pandangan ke sekelilingnya. Tampaknya keempat temannya tak mendengar gumaman tak berbobotnya. Memang sebaiknya tak dengar.

"Aku mau beli minuman dulu." pamit Menma yang tengah menggeser pintu lalu menguap pelan.

Sai menyerngit heran. "Kau mau beli minuman di hari sedingin ini?" tanyanya dengan alis dikerutkan. Naruto dan Gaara langsung melempar pandangan ingin tahu ke arah Menma. Sedang Sasuke menatap jauh ke luar jendela.

Menma mengangkat bahu pelan. "Mau bagaimana lagi. Kalian mau kubelikan sekalian?" tawarnya sambil berlalu pergi.

"Tidak, terimakasih." tolak Sai.

"Ah Menma tunggu aku!" Naruto segera menyusul Menma dengan membawa sekantong sampah ramennya. Sebelum sampai di pintu yang Menma biarkan terbuka Naruto berkedip pada Sai dan Gaara sekilas. Kemudian kembali berteriak memanggi Menma yang telah menghilang di belokan tangga. "Anak itu benar-benar menyebalkan." rutuk Naruto samar terdengar.

Kali ini kelas kembali hening setelah suara duo Uzumaki itu berlalu pergi.

"Ah sial. Aku lupa mengambil sisa kertas pada Anko-sensei." tegas Gaara yang tiba-tiba menepuk pelan keningnya.

"Kertas apa? Kertas gambar? Atau kertas origami?" tanya Sai dengan wajah polos yang terlewat tak natural.

"Baka. Ya kertas permintaan maaf lah."

"Apa kita harus minta maaf? Memangnya kita perlu membuat yang seperti itu. Ya... Kau tahu lah, selama ini kita tak pernah menyalin permintaan maaf hanya karena tertidur di jam pelajaran." Sai menopang wajahnya muram. "Apa kita sejahat itu? Hahh..." lanjutnya kemudian menghela nafas panjang.

Gaara bangkit setelah membereskan kertas-kertas hasil print out itu ke dalam tas. "Sebaiknya kau tanyakan itu kepada Mr. Hatake." dengusnya sebal dan berjalan keluar sebelum akhirnya menghilang di balik pintu yang setengah terbuka.

"Jadi aku harus bertanya pada Hatake ya." gumam Sai.

Sai menerawang sejenak. Lalu berbalik menatap Sasuke yang duduk membelakanginya. "Hei Sasuke?" Sai menepuk pundak Sasuke. "Hn." ujar Sasuke tanpa menoleh.

"Umm.. Etto... Aku tahu ini bukan pertanyaan yang penting tapi aku harap kau mau menjawabnya."

"Tidak." balas Sasuke cepat.

Sai mencelos. "Ayolah Sasuke. Aku hanya akan bertanya kali ini saja kok."

"Kau bilang tak penting kan. Jadi aku jawab 'tidak'." ucap Sasuke malas, Sai bahkan sampai yakin Sasuke hanya menggerakkan bibirnya saja sedangkan giginya masih mengatup rapat.

"Ayolah Sasuke."

"Maaf."

"S-A-S-U-K-E."

"Hn."

"Aku mohon Sasuke."

"Hn."

"Sas-"

"Baiklah, baiklah kau mau bertanya apa?" potong Sasuke kesal. Padahal ia sedang asik melamunkan Sakura beberapa menit yang lalu. Tapi lamunannya langsung buyar kala Sai menepuk pundaknya. Benar-benar membuat kesal.

"Etto... Ini benar-benar tak penting jadi—"

"LANGSUNG SAJA KE INTINYA!"

Wajah Sai memerah. "Etto.."

Kontan Sasuke yang melihatnya sweatdrop. Sasuke bersumpah saat ini ia tengah memandang gadis yang malu-malu sedang menyatakan cinta padanya. Dan kalau benar Sai itu seorang gadis maka sebelum Sai mengatakan apa-apa Sasuke akan langsung mengatakan "Maaf aku tak suka pada seorang gadis lemah. Mereka hanya bisa merepotkan saja. Sebaiknya kau pergi sebelum ada yang mengatakan aku kejam lagi." lalu berlalu pergi.

Tapi tampaknya itu tak akan terjadi, Sasuke paham setelah satu setengah tahun satu atap dengan orang aneh yang sulit ditebak jalan fikirannya itu. Ia benar-benar aneh sampai Sasuke pernah berfikir kalau Sai itu alien dari planet lain.

"Sebenarnya..." jeda sebentar.

Sasuke mulai panas, oh ayolah.. Jika bukan karena ia dari keluarga Uchiha mungkin Sasuke telah melempar meja tepat ke kepala sahabatnya itu. "Cepatlah."

Sai melirik Sasuke ragu. "Sebenarnya... Hatake itu siapa?" ujarnya polos.

Sasuke sweatdrop (lagi) dengan mulut yang menganga.

'Ha-hanya itu.'

Nyutt..

Urat-urat kemarahan langsung memenuhi kepala Sasuke. Oke, pertahankan keUchihaanmu, pertahankan keUchihaanmu. Sabar... Sabar... Tapi...

Tak bisa.

"KAU TANYAKAN SAJA PADA TEMBOK!" teriaknya lalu berjalan keluar kelas dengan wajah kesal bukan main.

Sai menggaruk kepalanya binggung. Kemudian berjalan ke pintu, menoleh ke kiri tepat kearah keempat temannya menghilang. Sasuke sudah tidak ada, suara hentakan langkahnya pun tak terdengar lagi.

Sai menoleh memandang dinding di hadapannya.

"Hei... Jadi, kau tahu Hatake itu siapa?"

"..."

.

.

.

.

"Apa-apaan ini." gumam Sasuke datar saat membuka lokernya. Kalau diingat lagi, Sasuke tak pernah menaruh payung ataupun minuman di lokernya. Jadi kenapa di dalam lokernya ada sebuah payung lipat dan sekaleng minuman hangat. Tapi keterkejutannya hilang saat matanya bersibobok dengan secarik kertas yang berada di atas sepatunya. Dengan malas Sasuke mengambil kertas yang telah dilipat itu. Pasti itu dari Fans nya.

"Ah... Banyak sekali sampah di lokerku." ucapnya lalu merobek kertas itu sekecil-kecilnya dan membuangnya tanpa membacanya terlebih dahulu. Sasuke mengambil sepatu di lokernya.

Diluar hujan masih turun walaupun tak sederas tadi. Suhu udara juga masih dingin, maka dengan cepat Sasuke mengganti sepatunya dan menaruh sepatu sekolahnya di dalam loker. Kini yang jadi persoalan adalah payung dan minuman yang ada di bilik kecil itu. Sekali lagi ia memandang keluar. Selanjutnya mengambil minuman dan payung itu lalu menutup lokernya.

Belum jauh dari loker samar-samar Sasuke mendengar sebuah percakapan. Semakin lama semakin jelas terlebih kala ia sampai di teras. Salah satu dari dua suara itu terasa tak asing lagi di telinganya, suara yang sama dengan seseorang yang ia panggil 'jidat' pagi ini.

"Maaf Sakura... Tiba-tiba saja ada rapat, jadi kau pulang duluan saja." ucap gadis pirang itu dengan badan yang sedikit ditundukkan. Gadis di hadapannya yang dipanggil Sakura itu tampak gelisah sekali kali ia memandang kearah lain.

"Tapi Ino, aku —" perkataannya langsung terpotong oleh dering ponsel sahabatnya itu. Sambil menyengir Ino mengambil ponsel di sakunya dan segera mematikannya.

"Maaf ya Sakura, aku buru-buru nih. Aduh aku telat. Bye Sakura." Ino melambaikan tangannya sembari berlari menuju tangga tak jauh dari mereka. Sakura balas melambai dan menghela nafas berat.

"Ya ampun padahal aku hanya ingin meminjam payung." desahnya setelah memastikan sahabatnya itu menghilang di belokan tangga. Dengan wajah menyesal Sakura memandang jalan di depannya yang tersiram hujan kemudian mengeratkan jaket merah mudanya sambil mengelus lengan atasnya. "Kalau begini bagaimana caranya aku pulang?"

"Berbicara sendiri disore hari. Tak kusangka ternyata ada yang salah dengan otakmu." Sasuke menyodorkan kaleng minumannya pada Sakura. Sakura yang kaget tentu saja salah tingkah. "Ini untukmu." ucap Sasuke lagi.

Sakura menunjuk wajah dengan telunjuknya. "Untuk, aku?" tanyanya setengah tak percaya. Pasalnya kejadian pengusiran pagi tadi masih terniang dengan jelas di kepala merah mudanya. Kemudian tiba-tiba saja orang yang mengusirnya itu menawarkan sekaleng minuman hangat di sore harinya. Semua yang terjadi sungguh membuat Sakura bingung, karena ia fikir Sasuke itu membencinya. Jadi dengan ragu-ragu Sakura mengambil kaleng yang disodorkan padanya. "Terimakasih."

"Hn. Aku hanya merasa tak membutuhkannya saja." balas Sasuke dingin.

Sakura tersenyum geli dan kembali memandang hujan yang tak kunjung reda. "Nee... Kau ternyata baik juga." ujar Sakura yang terdengar tulus di telinga Sasuke. Sasuke memalingkan wajahnya kearah lain. Ia tak tahu kenapa, hanya saja kepalanya akan refleks memaling saat ia sedang bahagia. Dan kini juga. Apa saat ini ia juga merasa bahagia?

"Hn." gumam Sasuke.

"Kukira kau marah karena ucapanku tadi pagi." Sakura menoleh ke arah Sasuke yang kini memandang langit.

"Hn. Mungkin saja." balas Sasuke lalu menoleh.

Deg..

Pandangan mereka bertemu. Sasuke terbelalak begitu pun Sakura. Tetapi yang pasti tak ada yang mau melepaskan pandangan mereka. Sampai akhirnya Sakura tertawa dan Sasuke kembali menerawang jauh memandang langit.

"Wajahmu tadi benar-benar lucu." Sakura mengusap air mata geli di sudut matanya. Sasuke terdiam dengan mata masih menatap jauh langit yang mendung.

"..."

"..."

"Reda." ucap Sasuke mengalihkan pembicaraan.

"Maksudnya?" heran Sakura.

"Hujannya mulai reda." jawab Sasuke datar.

"Ya... Tapi masih gerimis." Sakura memandang sekitarnya. Memang benar hujan sudah reda dan tak sederas tadi. Tetapi kini beralih menjadi gerimis. "Mungkin aku akan menunggu sebentar lagi." namun lagi-lagi Sasuke menyodorkan sesuatu padanya. Kali ini Sasuke menyodorkan payung lipatnya.

"Pakai saja ini." Sasuke memalingkan wajahnya saat Sakura mengambil payung itu dari tangannya.

"Bagaimana denganmu?" tanya Sakura memandang payung dan minuman di tangannya tak enak.

"Aku tak membutuhkannya."

Sakura tersenyum. "Trimakasih."

"Hn."

"Kalau begitu. Sampai jumpa besok." Sakura melambai setelah sebelumnya merentangkan payung pemberian Sasuke pelan-pelan dan berjalan beberapa langkah.

"Hn." Sasuke memandang punggung Sakura yang semakin menjauh sampai saat sosoknya menghilang ketika berbelok di gerbang. Sasuke tahu kalau Sakura itu tidak tinggal di asrama reguler, karena itu mungkin ia sedikit ragu pulang walaupun hujan telah sedikit reda. Lantas Sasuke tersenyum.

"Sampai jumpa."

.

.

.

Walaupun itu berarti pasir di tanganku berhenti terjatuh dan kehangatannya menghilang. Aku tak peduli.

Empat lima puluh bukan waktu yang buruk untuk tetap jatuh cinta.

.

.

.

"Minggir Naruto, aku tak dapat melihatnya." Gaara menarik kepala Naruto pelan kemudian melongok di balik tembok pembatas tangga.

"Aku juga tak dapat melihatnya." Naruto menyingkirkan tangan Gaara dari kepalannya.

"Sssttt... kalian diamlah.. aku tak dapat mendengar perkataan mereka." Menma mendesis sepelan-pelannya. Gaara dan Naruto yang sudah tenang akhirnya diam setelah akhirnya Gaara mengalah dan tidak menarik-narik kepala Naruto. Namun yang menjadi masalah adalah Sai. Ia jongkok di sebelah kiri Menma yang terisak dan wajah berlinang air mata. Tanpa peduli dengan ketiga temannya yang sibuk mengintip dan mencuri dengar pembicaraan Sasuke dengan Sakura.

"Oi Sai kau bisa diam tidak sih. Aku tak dapat mendengar apapun." bisik Naruto sesekali melirik Sasuke yang tengah menyodorkan payung pada Sakura. Sai menggeleng masih menangis.

"Minumanku.. Payungku.. Dan juga tugas Matematika ku.." rengek Sai.

Mereka bertiga menyerngit. "Apa maksudmu?" tanya Menma.

Sai menunjuk Sasuke. "Sasuke salah membuka loker."

Ketiganya terbelalak. "Jadi payung dan minuman itu punyamu?" bisik mereka kompak. Sai mengangguk kemudian menunjukkan potongan kertas di tangannya yang ia ambil di tempat sampah. Kalau tak salah adalah kertas yang disobek dan dibuang Sasuke tadi.

"Jadi aku harus bagaimana dengan tugasku ini? Hueee..."

"..."

"..."

"..."

Mereka saling berpandangan.

"Kapan tugas itu dikumpulkan?" tanya Gaara. Memang seingatnya Sai mendapat kelas berbeda beberapa hari yang lalu. Tapi tiba-tiba ia dipindahkan lagi kekelas yang sama dengan mereka berempat.

"Hari ini... Huee... Ini tugas dari Anko-sensei pula..."

"Sai..." Naruto memandang Sai bijaksana. "Aku mendukungmu." Naruto menepuk-nepuk pundak Sai barangkali ia tak akan selamat dari terkaman Anko-sensei yang tak jelas guru bidang studi apa itu.

"Aku juga Sai." Menma menepuk punggung Sai berkali-kali ikut prihatin. Sementara Sai semakin menangis.

"Bagaimana ini?" isaknya.

"Ah.. Shimura-san kau dipanggil Anko-sensei ke ruangannya." ucap seorang siswa yang tak mereka kenal dari tangga di atas mereka kemudian ia berlalu lagi menaiki tangga.

Sai memandang Menma, Naruto dan Gaara bergantian. Dan terakhir memandang teras yang sudah tak ada siapa-siapa. Lalu menangis lagi.

"Aku akan mati!"

...

Tbc

Pojokan author = Rrrr... Maaf Updatenya lama dan gak bisa kilat. Tapi yang pentingkan udah Yuuki publish hehe *Digiles*. Maaf kalo chap ini 'sedikit' agak aneh... Hahaha... Yang pentingkan udah Yuuki publish *dilempar galon*. Maaf juga kalo humornya ga kerasa... Yang pentingkan udah Yuuki publish, wakwaw *dimutilasi*

Naruto: Yuuki-chan, berisik banget.

Gaara: Sebenarnya dia itu ngomong apa sih?

Menma: Aku juga heran.

Sai: Apa ada yang salah dengan otaknya?

Sasuke: Abnormal.

Yuuki: *pundung di pojokan*

|Area balas review|

Gi-chaan

Yosh sebenernya saya bingung mau ngomong apa -,- ini fic keren humornya kerasa. next thor!

= Trimakasih reviewnya ya :). Semoga chap ini ga mengecewakan. Oke ini udah lanjut.

rury

Gilaaa hahahhaha

aku suka ide ceritanya, hebat!

dan wow mereka super idiot hahaha

cepet update ya ry tunggu chap selanjutnya

= Trimakasih udah review :) .. Iya mereka Super Idiot, hati-hati ketularan loh XD #plakk... :( maaf updatenya gak kilat nih.. Yang pentingkan udah Yuuki update #plakk

NN

yaampun... Gaara nyampe gali kuburan cuma gara2 dikatain tukang palak... xD

gila thor... lanjutkan..

= trimakasih udah review. Haha... Gaara gitu loh *dijitak Gaara* Waduh Yuuki dikatain gila *jewer NN* oke ini udah lanjut.

6arannis

Halo

Ini rame loh, humornya juga cukup kerasa. Jadi, kapan lanjut? :)

= trimakasih udah review :). Ini udah lanjut kok.. ^_^

airhycellia

Sumpah ngakakk. BWAHAHAHA.. :v NEXT DONG _

= trimakasih udah review :). Hati-hati nanti ketularan idiotnya Naruto loh xD. (Naruto: Kenapa cuma aku. Yuuki-chan hidoi*mewek*) ini udah lanjut.. ^_^

leviputra

keren vro, ngakak guling'' gw hahaha,,,

= Makasih dah review juga vroo :)... ^_^

ikalutfi97

Gilaaa aku ngakak guling2 :v

Nista bgt adegan nya...

Apalagi pas scene narukakashi di depan pintu :v

Gilaaa lucu bgt ...

Next...

= trimakasih udah review :). Awas disangka stres loh XD *pengalaman author*. Ini udah lanjut... ^_^ jangan bosen baca chap ini ya...

Mizuki Ryana

Hiiiiii... horor bgt tingkahnya naruto, menma, sai sama gaara...sumveh ane ngakak :D :D lucu lucu lucu lucu... untung sasuke masih normal...XD hahaha

ditunggu chapter selanjutnya ne... ganbatte!

= trimakasih udah review :-), iya tuh nyampe pada OOC gila semua *lu yang buat cerita tor*... Sasuke masih 'lumayan' normal sih.. Semoga chap ini juga bisa menghibur ya... :) ^_^

arradate

Fanfic yang benar2 bikin ngakak. hahaha :v. Lanjutkan thor! Dah terlanjur jatuh cinta sma fanfic mu ini Yuuki-chan!*boleh ku panggil gitu kan?

Gomen klau kepanjangan.

= trimakasih udah review... ^_^. Trimakasih udah jatuh cinta asal ga jatuh bangun aja XD #plakk. Dipanggil apa aja boleh kok ^_^ Semoga terhibur dengan chap ini ya.. Arra-san :)

Aoi Yukari

huahahaha asli kocaak XD lanjuuutkan author-san! w)b

= trimakasih sudah mereview :). Ini udah lanjut... ^_^

Niwa-chan

Fic-nya ngakak banget, aku suka sama ceritanya. Lanjut ya author

= trimakasih audah review ya ^_^ senengnya kalo sampai terhibur. Semoga chap ini menghibur juga.. Ini udah lanjut. ^_^

addhi

Kereennn _ lanjut lgi donk :D

= trimakasih suda review.. :-) ini udah lanjut kan. ^_^

yu

Hehe, keren ini fic nya,

Aku pengen banget baca fic naruto sasusaku yang nyeritain tentang orang jenius tapi di anggap abnormal sama orang biasa,

Well, karena emang punya pengalaman pribadi sebagai cewe jenius yang dikira aneh #curhat :D

Jadi sasuke-kun dulu seme gitu? Wew, God, it's hilarious...

deskripsi udah bagus, eyd dan tokoh juga, ditambah word banyak, fic ini udah bagus,

Update kilat yaa, ganbatte

Sasusaku nya di tunggu,

Dan btw, salam kenal, yoroshiku ne

= trimakasih sudah mereview ^_^. Yah walaupun disini mereka lebih terlihat abnormal daripada geniusnya sih... Sasuke dulunya seme trus tobat karena authornya bukan fujo wkwkwk XD... Kalo Yuuki fujo mungkin belum tobat tuh sasuke.. (Sasuke: *lirik tejem*) maaf gak bisa update kilat... Sasusakunya ditunggu aja ya, soalnya masih tahap pengenalan tokoh... ^_^

Musang Hitam

Makan apa sih tor? Ficnya keren. Jadi ngiler. Lanjut ya? Bagus kok. Cuma itu si typo tadi sedikit mampir.

OOC yak? Gak apa. Anti mainstrim. RIP english? Bodo ah-'

Aku ini apa? Musang ' ')/

Ganbatte!

Itu, ijin Fav ya? Boleh ya? Ya? Ya? Bukan! Bukan Fav yang di pesbuk! Tapi Favorite story. Boleh kan?

= trimakasih udah review... ^_^ Yuuki makan apa ya? Yang penting ga makan makanan kucing kok :v... Awas ilernya dilap dulu xD... Maaf typonya soalnya nulis di HP jadi agak ribet.. Boleh kok di Fav... Jangan bosen nunggu chap depan ya.. ^_^ kamu ini apa? Musang.. Xd o_O

Michi

Oke,michi disini hadir buat review,yuuki-chan..dan kenapa ga login,taulah gimana e-mailnya sekarang...btw,kenapa menma pake kaca mata plus rambutnya kuning?karena menurut michi,yang hanya pantas memakai rambut kuning itu cuma naruto,dan michi juga suka warna kuning(?)*abaikan

cuma mau bilang,chapter depan panjangin narasinya yah?yah yah!oke,segitu aja yang michi bisa bilang,maaf kalo kesannya kayak sampah doank...

#yang_penting_udah_bayar_hutang_horeeyy

= ngggg... Kenapa Menma pake kacamata plus rambutnya kuning? Kalo pake kacamata biar ada bedanya walaupun kembar, rambut kuning karena Menma ga cocok pake rambut merah *menurut Yuuki sih*. :v Muke gile... Emang kurang panjang ya?.. Gomen gomen... Yuuki sanggupnya cuma nulis segitu Chi... ^_^... #masih_utang_dichap_ini_loh... :v XD

Kaguya Tami

Cerita nya kereeen dan lucuuu !

Aku ngakak sendiri pas bagian Gaara dan Kakashi-sensei :D:D

Di lanjut dong senpai..

Aku tunggu ya senpai chapter selanjutnya :)

= trimakasih udah review :). Haha... Mereka emang pas dinistain... Oh iya jangan panggil senpai dong. Yuuki jga masih newbie.. Ini udah update kok.. ^_^

.

.

Trimakasih buat yang udah nge-fav sama follow dan juga sinder sekalian... Yuuki ga ada artinya kalau tak ada kalian semua minna*nyusut ingus*.

Oh iya Yuuki mau ngucapin "Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan"..

Ditunggu chap depannya ya...

Jaa na~