Kembali lagi bersama Lulu yang imut!(Re : HOEKK!)

Eniwei, Cuma mengingatkan bahwa fanfic ini BUKAN CROSSOVER

Jadi, soal APTX 4689 en Haibara Ai ato Miyano Shiho, aku cuma minjem nama thok!

Sehingga fanfic ini gak bakal ada pengaruhnya untuk fandom sebelah yang kupinjam namanya

Have Fun!


3 sosok manusia tampak tergesa-gesa berlari menyusuri koridor. Mereka tampak akan pergi ke ruang drama. Salah satu dari mereka bertiga, yaitu anak laki-laki yang lumayan gembul, tampak terengah-engah.

"Hei, pelan-pelan dong!"

2 anak lainnya menghela nafas pelan.

"Ini sudah sangat pelan tau!"

"Yalo. Kalau kami tak ingat kelambatan larimu, sudah dari tadi kita aktifkan kuasa kita dan meninggalkanmu di belakang!"

"Jahat! Kita kan teman! Teman seharusnya saling memahami!"

"Boboiboy dan Fang juga teman kita tau! Kau sendiri juga bilang kalau teman juga harus saling menolong!"

Sang anak laki-laki, alias Gopal hanya cengengesan garing, mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.

#Flash back on#

Yaya dan Ying sedang berbincang-bincang berdua di kelas. Berdua? Ya, karena Boboiboy sedang ke toilet untuk menanggapi panggilan alam. Sedangkan Fang? Mana mau dia ikut perbincangan 'girlie' mereka berdua. Ia lebih memilih bertopang dagu seraya memandang awan, sedangkan mereka berdua sedikit keheranan,apa tidak bosan sang pengendali bayang selalu menatap awan setiap berada di sekolah? Namun, mereka berdua memutuskan untuk membiarkannya, dan melanjutkan pembicaraan mereka tentang buku baru di perpustakaan(Re:ini girlie dari mana? Me: *tak peduli*). Kebetulan pelajaran sedang kosong karena para guru sedang rapat. Tiba-tiba jam tangan mereka berdua berkedip dan memunculkan hologram teman mereka yang sangat mereka kenali. Gopal.

"Yaya! Ying! Tolong aku!" seru sang hologram.

"Ada apa Gopal?" ujar Yaya dengan khawatir.

"Aku.. aku terperangkap di kantin! Aku tak bisa kemana-mana!"

"Astaga! Kenapa bisa sampai begitu ?"

"Nanti kujelaskan! Sekarang tolong aku! Teman harus saling menolong kan?"

"Baiklah, kami akan segera ke sana begitu Boboiboy kembali."

"Jangan! Jangan beritahu mereka!"

"Hah?"

"Maksudku kalian berdua saja yang tolong aku! Dan jangan sampai Boboiboy dan Fang tahu!"

"Lha kenapa? Apa mereka berdua yang mengurungmu?"

"Bukanlah! Mana mungkin! Ya, Fang sih mungkin akan melakukannya suatu saat, tapi sekarang... ah sudahlah! Pokoknya cepat kesini! Dan ingat, jangan sampai Boboiboy dan Fang tahu!"

Dan hologram Gopal pun menghilang.

Meskipun Yaya dan Ying masih tidak mengerti, mereka memutuskan untuk pergi ke kantin dengan mengendap-endap, supaya tidak diketahui oleh Fang. Untunglah Fang masih sibuk memandangi awan dengan tenang dan khidmatnya. Saat mereka sudah di luar kelas, tiba-tiba sosok anak laki-laki bertopi dinosaurus berjalan menghampiri kelas. Siapa lagi kalau bukan Boboiboy. Sontak Yaya dan Ying kebingungan.

"Aduh, Boboiboy akan segera kesini!" ujar Yaya panik.

"Yalo, kalau aku ditanyai sama Boboiboy gimana? Aku gak mau bohong!" ujar Ying tak kalah paniknya.

"Cepat gunakan kuasamu!" teriak Yaya dengan lirih(hah?).

"Baiklah, Perlambat Masa!"

Benda-benda di sekitar Ying bergerak melambat, tentu saja termasuk Boboiboy dan kecuali Yaya.

"Larian Laju!"

Ying berlari secepat kilat dengan menggandeng tangan Yaya. 30 detik kemudian segalanya berjalan normal. Boboiboy menuju ke kelas dan mendapati Yaya, Ying, dan Gopal tidak ada di kelas. Reflek Boboiboy bertanya pada Fang.

"Eh Fang, mereka bertiga kemana?"

"Mereka bertiga siapa?" jawab Fang acuh tak acuh.

"Hah, Yaya,Ying dan Gopal lah... siapa lagi?"

"Oh.. mereka.."

"He em?" Boboiboy menunggu sambungan kalimat Fang.

"Aku gak tau."

JEDUK! Kepala Boboiboy sukses mencium meja.

"Huh! kalau gak tahu bilang aja gak tahu langsung! Dasar anak menyebalkan!" dumel Boboiboy pelan.

Sekarang mari kita kita alihkan perhatian kita ke kantin, tempat Gopal, Yaya, dan Ying berada.

"Hosh hosh, hei Ying! Kalau mau lari bilang-bilang dong!" bentak Yaya ngos-ngosan.

"Hehe.. maaf Yaya.." ujar Ying malu-malu.

"Hmph! Sudahlah! Mari kita cari Gopal!"

Kemudian mereka berdua mengelilingi kantin, mencari teman gembul mereka. Dan akhirnya Gopal pun terlihat sedang... menyapu lantai. Dan tak lupa dengan wajah nelangsanya. Begitu melihat Ying dan Yaya, ekspresi Gopal pun ceria campur lega.

"YAYA! YING! AH SYUKURLAH KALIAN MAU DATANG!" teriak Gopal pada Yaya dan Ying. Yang dipanggil hanya melongo.

"Kenapa Gopal? Kenapa kau menyapu lantai kantin?" tanya Yaya setelah ia sembuh dari melongonya.

"Yalo, kukira kau terkurung di salah satu robot jelek Adu Du.." timpal Ying disertai anggukan Yaya.

Disertai wajah nelangsanya Gopal pun menceritakan kisah sedihnya.

"Bukan, sebenarnya... aku tadi tak sengaja melempar batu ke kantin, dan hampir kena kepalanya Mak Cik Timah. Trus Mak Cik Timah marah, sebab lemparanku memang gak kena kepalanya, tapi malah kena vas bunga kesayangan Mak Cik Timah. Aku dah berjanji mau mengganti, tapi dia tidak percaya janjiku, soalnya aku sudah sering ngutang di kantin. Akhirnya Mak Cik menghukumku. Aku disuruh membersihkan kantin ini selagi dia pergi berbelanja..."

.

.

Krik krik

.

.

Krik krik

.

.

Aura gelap menguar dari kedua anak pintar nan manis itu.

"JADI KAU TIDAK DALAM KEADAAN DARURAT KAN?" teriak mereka berdua bersamaan. Yang dibentak hanya bisa gemetar ketakutan.

"Anu, sebenarnya cukup darurat. Mak Cik Timah akan kembali 2 jam lagi dan kalau dia melihat kantin tidak cukup bersih, dia akan mengadukanku ke ayahku! Habis betisku nanti dipukul rotan!"

Jawab Gopal dengan takut, seakan-akan ayahnya berada di depannya persis dan mengacungkan rotan ke arahnya.

Yaya dan Ying hanya bisa menghela nafas.

"Berarti intinya kau memanggil kami untuk membantumu membersihkan kantin ini kan?" ujar Yaya berusaha setenang mungkin.

"Betul sekali." Jawab Gopal.

"Tidak mau." Ucap Yaya dan Ying bersamaan.

"APA! KALIAN TIDAK BISA SEPERTI ITU! TEMAN HARUS SALING MENOLONG KAN?" teriak Gopal dengan panik.

"Ini sepenuhnya salahmu wo.. kenapa kami harus membantumu?" jawab Ying malas.

"APA KALIAN TEGA KAWAN KALIAN INI MEMBENGKAK BETISNYA HAH?!" lagi-lagi Gopal berteriak dengan frustasi.

"Betismu kan memang sudah membengkak secara alami..." jawab Yaya dengan polos.

"Yalo, kau seharusnya tidak keberatan kalau betismu membengkak lagi..." timpal Ying.

"Huhuhu... kalian kejam!" Gopal pun mengalirkan air mata buaya.

Yaya dan Ying beradu pandang, agaknya seperti sedang berdiskusi lewat mata. Tak lama kemudian senyum pun merekah dari keduanya. Yang satu senyum jahil, yang satunya lagi senyum psikopat. Kombinasi yang sama sekali tidak bagus. Gopal yang melihatnya hanya bisa bergidik.

Ayoyo.. habislah aku... Papa! Jika kau menemukan anakmu tersayang sudah tak bernyawa lagi, ingatlah bahwa pembunuhnya adalah Yaya, Ying, dan Mak Cik Timah! Mereka bertiga adalah monster berbalut tubuh wanita! Balaskan dendam anakmu ini wahai Papa!

Abaikan yang diatas. Itu cuma suara batin Gopal yang absurd seperti biasa.

Kemudian Ying berkata dengan lembutnya, yang justru membuat Gopal semakin ketakutan.

"Baiklah Gopal. Kami akan membantumu membersihkan kantin ini. Tapi.."

NGIING! NGIING! Antena Gopal membunyikan kalimat 'siaga satu! siaga satu!' begitu mendengar kata 'tapi'.

"Kau harus memakan semua biskuit Yaya yang ada di kedai Tok Aba." Ujar Ying dengan menyeringai. Dan Yaya yang tersenyum senang.

OMG baby baby happy! Itu sama saja dengan bunuh diri!

Gopal meneguk ludahnya.

"Anu, bisakah kita menukarnya dengan syarat lain?"

"Tidak bisa sayang..." Oke, satu hal yang perlu kalian catet bahwa jika Ying bersuara manis itu berarti sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Waspadalah! Waspadalah!

"Kenapa Gopal? Ada yang salah dengan biskuit aku?" tanya Yay dengan polos.

Ingin rasanya Gopal menjawab 'banyak banget salahnya tau! Satu gigitan biskuitmu akan mengakibatkan demam parah, kejang-kejang, ayan, pingsan hebat, dan batuk menahun!', tapi Gopal hanya bisa berucap, "Tidak, tidak ada."

"Nah, bagaimana Gopal? Apakah kau mau melakukannya?"

Gopal menguatkan hatinya sebelum menjawab.

"Ba-baiklah, aku terima syaratnya. Ta-tapi cuma satu bungkus saja ya?"

"Semua bungkus." Jawab Ying tegas.

Duh bagaimana ini? Aku harus memilih. Mati keracunan, betis bengkak, mati keracunan, betis bengkak, mati keracunan, betis bengkak. Mati keracunan aja deh.

Gopal, kau sungguh membuat pilihan yang jenius.

"O-oke. Semua bungkus. Tapi siapa yang bayar?"

"Kamu lah.. kamu yang makan, kamu yang bayar." Kali ini kata Yaya.

Rasanya Gopal ingin kolaps di tempat. Duo monster ini ingin membuatnya mati sekaligus bangkrut?

"A-apa! Kalian kan tahu aku tidak punya banyak! Dan hutangku pada Tok Aba sudah banyak!"

"Gopal, foto-foto Fang yang kemarin kau ambil.."

"Saat dia tertidur di kelas dengan mulut menganga..."

"Lalu kau jual dengan harga 5 ringgit selembar..."

"Kalau sampai Fang tahu.."

Secara bersamaan Yaya dan Ying menggerakkan tangan mereka di depan leher mereka, seakan-akan mereka sedang memenggal kepala mereka sendiri. Gopal pun merinding, dan menelan ludahnya pahit.

"Glek, ba-baiklah."

Selanjutnya mulailah mereka bertiga membersihkan kantin.

Ying membersikan kantin dengan cepat, menggunakan kuasanya tentu saja. Dan Yaya menggunakan kuasa terbangnya untuk membersihkan langit-langit kantin, meskipun itu sebenarnya tidak perlu. Maklumlah, sifat kewanitaan Yaya mulai kumat. Tiba-tiba Yaya berhenti dan memandang Gopal heran.

"Hanya ada satu yang mengganjal. Gopal, kenapa kau tidak ingin Boboiboy dan Fang tahu?"

Gopal terlihat salah tingkah.

"Anu.. lihat, kalian berdua punya kuasa yang cocok untuk membantuku."

"Boboiboy bisa berpecah jadi tiga." Yaya menyanggah.

"Fang bisa membuat bayangan sesukanya, dan itu berarti dia bisa membuat bentuk bayang yang berguna saat ini. 5 bayangan diri misalnya?" Ying menimpali.

Gopal semakin salah tingkah.

"Um.. oh, kalau aku minta bantuan mereka pasti mereka akan menolak." Ujar Gopal ngeles.

"Kau kira kami tidak akan menolak?" sanggah Yaya lagi.

Skak mat! Gopal sukses kehabisan alasan dan kata-kata.

Ying menghela nafas pelan.

"Singkatnya, kau tidak ingin mereka berdua mengejekmu kan?

JLEB! Ternyata tebakan Ying tepat sasaran. Gopal pun sadar ia tidak bisa melawan kejeniusan 2 kawannya ini.

"Ya deh, kau betul Ying... aku yakin kalau masalah ini ketahuan sama mereka berdua, mereka pasti akan mengejekmu habis-habisan. Boboiboy pasti bakal bilang.."Gopal berdehem pelan, mencoba menirukan suara Boboiboy, "Bukan hanya di kedai Tok Aba,kau bahkan punya hutang di kantin Gopal? Terbalik! Lalu Fang..." berdehem lagi,"Heh, sekarang kau punya pekerjaan jadi babu kantin ya Gopal? Jalani saja, memang cocok kok!" kemudian dengan suara normal, Gopal menyambung, "Pasti mereka akan bilang begitu!"

Yaya dan Ying hanya menganggukkan kepala mereka, sadar bahwa perkataan sobat India mereka itu sangat benar. Kemudian, mereka melanjutkan acara bersih-bersih mereka yang sempat tertunda.

oooooooooooo

"Grookkk..."

"Zzzzz..."

"Hmm..."

Terlihat Gopal, Yaya, dan Ying tertidur kecapekan. Memang, membersihkan seluruh kantin sangat melelahkan, meskipun mereka memakai kuasa mereka. Alhasil, setelah 1 jam mereka bekerja keras membersihkan kantin, mereka pun beristirahat di salah satu bangku kantin. Tiba-tiba...

"Um um! Um um um!"

Tampak Iwan mencoba membangunkan mereka bertiga, tanpa niat untuk bicara. Yaya membuka matanya sebentar, namun kemudian tidur lagi.

"Um um! Um um um um!" Iwan masih berusaha membangunkan mereka seraya mengecak-acak rambutnya frustasi.

Gopal pun terbangun sebentar dan berkata dengan setengah tertidur.

"Ada apa Iwan? Ngomong yang benar bisa gak sih?"

TEK! Iwan habis kesabaran. Kemudian...

"HAI TUKANG MOLOR! CEPAT BANGUN! TEMAN-TEMAN KALIAN SI BOBOIBOY DAN FANG SEDANG DIKEROYOK DI RUANG DRAMA! CEPAT BERGERAK!"

Oo... Tanpa sadar Iwan membentak mereka bertiga... dengan suara machonya.

Gopal, Yaya, Ying gelagapan terbangun. Kemudian mereka segera berdiri dan mengangkat tangan mereka dengan posisi hormat seraya berkata, "SIAP PAK!" dan kemudian pergi meninggalkan Iwan.

Sedangkan Iwan sedang pundung di pojok kantin.

"Aku dipanggil pak... lagi..."

#Flash back off#

Kembali ke masa sekarang. Yaya, Ying, dan Gopal terpogoh-pogoh menuju ruang drama. Secara kasar mereka mendobrak pintu ruang drama.

.

.

Sepi.

.

.

Tak terlihat adanya manusia di ruang tersebut. Namun situasi ruang drama sangat berantakan. baju-baju bayi bertebaran.

Wait, baju-baju bayi? Apa yang terjadi?

Meski keheranan atas situasi ruangan tersebut, mereka bertiga memutuskan untuk mengabaikannya dan fokus mencari Boboiboy dan Fang.

"BOBOIBOY! FANG!" panggil mereka berulang-ulang seraya mengelilingi ruang drama. Tiba-tiba, 2 sosok bayi keluar dari timbunan pakaian.

"Yaya, Ying, akhilnya kalian datang juga." Kata salah satu bayi yang memakai kostum kelinci. Kemudian ia merangkak pelan. Bayi yang satunya ikut keluar, ia memakai kostum kucing. Baru beberapa langkah mereka merangkak, tubuh mereka ambruk ke tanah.

"Eh, kenapa ada bayi di sini?" tanya Ying.

"Entah, mungkin..." timpal Gopal seraya membayangkan sesuatu.

"Gopal, kalau kau membayangkan hal yang mesum, aku catat namamu dalam buku ini." Ujar Yaya seraya mengeluarkan notes dan pulpen dombanya. Gopal hanya meringis garing dan segera menyingkirkan khayalan anehnya.

"Eh, kita bantu dulu mereka, mereka tampak kelelahan." Ujar Ying seraya mengangkat bayi yang memakai kostum kucing. Di tangan kiri bayi tersebut ada benda yang sangat ia kenali.

"Kacamata... Fang?"

Yaya pun mengangkat bayi satunya dari tanah. Di tangan kirinya juga terdapat suatu benda.

"Topi... Boboiboy?"

Yaya dan Ying berpandangan gelisah. Sebuah pemikiran menghampiri mereka. Tiba-tiba terdengar suara jeritan berasal dari Gopal.

"AAHH!"

"Kenapa Gopal?" tanya Yaya kaget.

"Pergelangan... tangan... mereka..." jawab Gopal terbata-bata.

Reflek Yaya dan Ying melihat pergelangan tangan kedua bayi tersebut. Dan mereka melihat...

Satu jam tangan bergambar petir dan yang satunya berwarna gelap.

"Boboiboy? Fang?"


TBC

Akhirnya selesai juga!

Terimakasih bagi yang sudah mereview cerita ini! 19 review untuk chapter satu! itu keren!

En ada kuis pertanyaan tanpa hadiah!(hah?)

Tebak siapa yang pake kostum kelinci dan kucing?

Sekian ocean gaje saya, dan REVIEW PLEASE!