-"… bersediakah memulai lembaran baru.. bersamaku?"-
Walau menyebalkan.. aku ingin menjadi orang yang egois
Tidak apa-apa, bukan?
Aku sudah lelah selalu mengalah
Part 2
"… bersediakah memulai lembaran baru.. bersamaku?"
DEG
Mata Baekhyun mengerjap pelan, ia mendongakkan wajah. Menatap tidak percaya pada sosok pemuda tampan berwajah malaikat. Wajah putih itu menenangkan.. wajah Joonmyeon. Baru saja, Joonmyeon menyatakan hal hebat. Mengajak seseorang untuk berhubungan dengannya, oeh? Bukankah itu cukup berani?
"Apa—maksudnya?" suara lirih Baekhyun terdengar.
Joonmyeon mempererat pelukan pada pundak Baekhyun. Anak manis ini pasti kedinginan.. lihat saja wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang bergetar halus. Apalagi kulit tangannya sudah nampak keriput karena belaian air hujan yang tadi mengguyur.
"Aku akan menghapus lukamu.. Aku tidak akan membiarkanmu terluka seperti saat kau mencintai Jongin."
Baekhyun mengerjapkan mata. "..rasa sakit itu… tidak akan kurasakan lagi? Benarkah?"
Joonmyeon mengangguk. "Jika kau mau membuka hatimu untukku, Baekhyun."
Baekhyun mengalihkan pandangan matanya kearah lain. Menatap hujan lebat yang masih saja meriah diluar sana. Terdengar desahan nafas Baekhyun, ia masih berfikir. Ingin sekali ia membuang rasa sakitnya. Ingin sekali! Ia ingin lepas saja rasanya…
Tapi.. Dia mencintai Jongin.
Demi Tuhan, ia amat mencintai Jongin. Walau yang ia dapat adalah kesesakkan dan sakit hati. Baekhyun ingin mengingat masa- masa bahagianya dengan Jongin. Namun… Baekhyun sudah sampai batas. Ia… Lelah.
Lelah.
"Hyung… Berarti kau tahu cara menyembuhkan luka hatiku?"
Mendengar ucapan polos Baekhyun, Joonmyeon mengangguk dan mengusap puncak kepala pemuda manis yang kembali mengeluarkan air mata. "Ya.. aku tahu."
"Kalau begitu.. sembuhkan aku."
Lagu cinta mengalun bersamaan riak air
Kemarilah wahai kekasih
Buat riak air itu semakin besar
Agar cinta kita tak ada habisnya
Bukankah.. kau suka tantangan?
Jongin menatap pintu kelasnya yang kosong, ia duduk dibangkunya. Diam. Mengamati pintu sedari tadi adalah kebiasaan barunya belakangan ini. Ia sendiri didalam kelas, menunggu tepatnya. Ini sudah jam pulang sekolah akan tetapi… orang yang ditunggu Jongin tidak kunjung datang.
Masih saja memikirkan harga diri setinggi langitnya, Jongin tidak pernah menyusul Baekhyun kekelas pemuda manis tersebut. Padahal ini sudah hari ketiga ia tidak bertemu dengan Baekhyun. Tepatnya tiga hari setelah Baekhyun menangis didepan matanya.
"Haahh!" Jongin mendesah pelan dan berdiri dari kursi yang dari tadi ia duduki. Ia menyandang tas sekolah kemudian saat ia membalikkan tubuhnya.
DEG
"Baek—hyun"
Jongin melihat sosok pemuda manis yang amat ia rindukan itu, berdiri tegap didepan pintu kelasnya. Tidak sadar, bahkan Jongin tersenyum senang. Buru- buru Jongin berlari kearah pintu kelasnya, ingin sekali memeluk pemuda berparas lembut itu.. tetapi..
"A—ah?"
.
..Baekhyun tidak ada disana.
Jongin hanya berhalusinasi. Saking rindunya ia kepada sosok Baekhyun.. Jongin sampai berhalusinasi seperti itu. Pemuda tampan tersebut menunduk dan merebahkan kepalanya dipintu kelas tempat tadi dimana ia melihat halusinasi sosok Baekhyun.
"Aku merindukanmu.." bisik Jongin lirih. "Baekhyun…"
Hey…
Tuhan itu maha adil, bukan?
Balasannya setimpal…
"Dimana dia!"
Akhirnya tembok harga diri Jongin hancur berantakan. Ia tidak perduli lagi dengan apapun, yang pasti.. kini ia sudah cukup tersiksa! Ia sudah buta.. dia buta akan kerinduannya pada sosok lembut Baekhyun. Ia rindu akan semua yang ada pada diri Baekhyun. Bayangkan jika nyaris saja 5 hari berlalu tanpa kehadiran Baekhyun dihadapannya.
Dia sudah seperti orang gila memikirkan keberadaan Baekhyun.
Dimana?
Apa yang terjadi padamu?
Kau sedang melakukan apa?
Mengapa tidak menghubungiku?
Semuanya terngiang- ngiang dipikiran Jongin. Seperti tidak mau membiarkan Jongin sendiri. Menghimpit dada pemuda tampan itu dengan apa ketat. Sesak ia rasakan tidak kunjung hilang, bahkan ia yakin ia mulai memiliki kelainan jantung dan penyakit asma jika ia tidak secepatnya bertemu dengan Baekhyun.
Kesesakan yang ia rasakan berawal dari satu manusia… 'Baekhyun'.
"Brengsek!" Jongin berteriak frustasi saat ia tidak menemukan Baekhyun dimanapun. Ia sudah mencoba mencari Baekhyun dikelasnya, ditaman tempat biasa Baekhyun menghabiskan waktu istirahat dan perpustakaan. Semua tempat yang mungkin saja Baekhyun singgahi.
Akan tetapi Baekhyun seakan hilang ditelan bumi. Ia sudah mencoba untuk mencari Baekhyun dirumahnya, namun ibu Baekhyun berkata bahwa Baekhyun menginap dirumah temannya untuk beberapa hari. Alasan Baekhyun, ia akan belajar untuk ujian kenaikan kelas sebulan lagi. Karena alasan Baekhyun untuk belajar, sang ibu tidak melarang. Justru mendukung. Sepertinya sang ibu tidak tahu perihal Baekhyun yang tidak datang kesekolah. Dan Jongin juga tidak mau Baekhyun terkena masalah. Ia tidak memberitahu ibu Baekhyun.
Tetapi aneh nya saat Jongin bertanya siapa teman Baekhyun tersebut, sang ibu mengatakan tidak tahu. Tidak mungkin sang ibu melepas anaknya menginap dirumah orang yang tidak ia ketahui siapa. Mustahil, bukan?
Apakah ada yang disembunyikan?
Jongin berbalik badan bermaksud pergi dari kelas Baekhyun, ia ingin mencari Baekhyun lagi. Namun langkah kakinya terhenti saat melihat Chanyeol dan Baekhyun yang baru saja keluar dari kelas mereka. Tanpa menunggu, Jongin berlari menuju Chanyeol. Menghentikan gerak langkah sepasang kekasih tersebut saat melihat Jongin berdiri dihadapan mereka.
"Mau apa?" tanya Chanyeol dingin. Baekhyun bahkan bergidik ngeri saat mendengar ucapan Chanyeol yang begitu dingin. Bisa Baekhyun simpulkan bahwa Chanyeol benci pada lelaki tampan yang ada dihadapan mereka.
"Baekhyun! Dimana dia? Kau pasti tahu dimana Baekhyun berada, bukan?!" tanpa basa basi, Jongin langsung menembak Chanyeol dengan pertanyaan.
"Baekhyun? Mau apa mencarinya? Dia ingin menenangkan diri." Jawaban santai Chanyeol tentu tidak disambut baik oleh Jongin.
"Jangan bertele- tele, Chanyeol!"
"Aku tidak bertele- tele. Aku hanya tidak ingin memberitahumu tentang keberadaan Baekhyun. Kau pikir aku bodoh!"
"Jangan membuatku marah!" Jongin mengertakkan giginya tanda ia sudah sangat jengah. Chanyeol benar- benar membuatnya kesal. Apa sulitnya memberitahu keberadaan Baekhyun! Jongin sangat menahan dirinya untuk tidak memukuli Chanyeol. Yah, sepertinya Chanyeol mengetahui keberadaan Baekhyun.
Chanyeol menyeringai. "Dia ingin lepas darimu."
Mendengar itu, kesabaran yang ditahan Jongin hilang. Ia mendorong tubuh Chanyeol hingga namja tinggi tersebut jatuh tersunggur. Membuat Baekhyun terpekik keras melihat kekasihnya akan dipukuli oleh Jongin. Beruntung reflek ditubuhnya baik, secepatnya Chanyeol mendorong Jongin hingga namja tampan itu membentur tembok koridor.
"TIDAK TAHU DIRI! LEPASKAN BAEKHYUN! JANGAN DEKATI DIA LAGI!" Teriak Chanyeol amat keras. "Saat Baekhyun pergi baru kau menginginkannya, oeh? Apa selama ini kau pernah menghargainya? Cih!"
"Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan! Dimana Baekhyun?!" Jongin masih tidak mau menyerah. Lupakan masalah harga diri dan keras kepala dirinya.
Chanyeol mengepalkan tangan, ingin sekali ia memberi pelajaran pada manusia seperti Jongin. Akan tetapi ia menahan diri, ia tidak mau melakukan tindakan kekerasan apapun didepan Baekhyun. Apalagi kini Baekhyun sudah nampak sangat ketakutan.
"Kau cari sendiri." Chanyeol kemudian berjalan pergi bersama Baekhyun.
Mata Jongin seperti pedang, tajam memandang marah Chanyeol dan Baekhyun yang gelisah disamping Chanyeol.
"Joonmyeon, kah?"
Langkah panjang Chanyeol berhenti, seakan berat ia membalikkan tubuhnya. Kembali menatap Jongin dengan tatapan jijik dan meremehkan. Sepertinya Chanyeol benar- benar membenci Jongin, seperti anak kecil yang membenci wortel jika tersemat dikotak makanannya.
"Oh.. Jadi benar?" Seringai Jongin.
Chanyeol mendengus kesal. "…Joonmyeon-hyung lelaki yang jauh lebih baik untuk Baekhyun daripada dirimu. Biarkan Baekhyun menenangkan dirinya bersama Joonmyeon-hyung."
Setelah mengatakan hal itu Chanyeol benar- benar pergi dari sana. Tidak mengindahkan ekspresi wajah Jongin yang nampak amat terluka dan terkejut. Ternyata dugaan paling tidak ingin ia pikirkan… menjadi kenyataan.
Memang benar… Joonmyeon?
Tunggu… Mengapa harus Joonmyeon?
Bukankah Jongin sudah mengatakan pada Baekhyun untuk menjaga jarak dengan Joonmyeon?
Apakah Baekhyun meninggalkannya demi Joonmyeon?
Bukankah Baekhyun tidak akan meninggalkannya?
Bukanlah Baekhyun mencintainya?
—Baekhyun mencintaiku…
Tidak!
Biarkan aku pergi
Lebih baik seperti ini, bukan?
Berakhir seperti ini juga tidak masalah
Jongin mencoba mencari Joonmyeon setiap saat, ia tidak mendengarkan lagi ucapan sinis orang- orang yang mengatakan bahwa dirinya terlihat amat berantakan. Ia seperti orang yang kehilangan jati diri. Baekhyun sudah 7 hari tidak masuk sekolah, ia benar- benar khawatir. Sebenarnya Baekhyun berada dimana? Pastinya disuatu tempat yang hanya Baekhyun dan Joonmyeon ketahui.. Lupakan Chanyeol yang benar- benar bungkam. Jongin sudah tidak mau lagi mengharapkan kesediaan Chanyeol untuk memberitahunya tentang keberadaan Baekhyun.
Dan… Joonmyeon sangat sulit untuk ditemui. Mengingat ia adalah ketua organisasi intra sekolah. Walau Joonmyeon tidak pernah absen sekolah, ia benar- benar sibuk jika sedang berada di sekolah. Bahkan jam istirahat, Joonmyeon selalu berada diruang Dewan Sekolah. Sungguh siswa berprestasi.
Merasa mustahil menemui Joonmyeon disekolah, Jongin memutuskan menyelinap keruang guru saat pulang sekolah dan mencuri angket personal milik Joonmyeon. Jongin hanya ingin mengetahui dimana alamat rumah Joonmyeon. Ia hanya ingin bertemu Baekhyun.
Ingin bertemu…
Seperti tubuh Jongin akan meledak, hancur lebur menjadi abu jika.. ia tidak menemukan Baekhyun secepatnya.
—Aku ingin minta maaf.
Ia sudah tidak tahan lagi, Baekhyun selalu merasuki pikirannya. Ia tidak peduli lagi dengan semua lelaki cantik yang ia kencani. Satu pikirannya terpatok pada Baekhyun. Ia tidak bisa tidur dan selalu saja termenung memikirkan Baekhyun. Tidak jarang Jongin seperti melihat bayangan Baekhyun menghampirinya namun saat ia mencoba menggapai Baekhyun… namja manis itu menghilang. Bayangan.. bahkan bayangan Baekhyun tidak sudi tertangkap oleh Jongin.
Jongin.. kehilangan kontrol perasaannya. Ia merasa seakan nyaris gila.. gila memikirkan Baekhyun. Hidup tanpa Baekhyun sama saja hidup tanpa nyawa bagi Jongin kini dan ia… baru menyadarinya. Ia baru menyadari keberadaan Baekhyun disaat namja manis itu berlari meninggalkannya. Jongin tidak habis fikir… mengapa ia bisa sebodoh itu?
Bisakah Engkau mengulangi waktu yang berlalu, Tuhan?
Sehingga aku bisa memperbaiki hatinya yang luluh lantak mencintaiku?—
Namun…
Baekhyun sudah terlanjur pergi dari sisinya, Baekhyun sudah pergi. Memutuskan untuk meninggalkan Jongin yang ia anggap sudah tidak memperdulikannya. Jongin yang sudah membuatnya bersedih dan tersakiti. Jongin yang ia cintai daripada dirinya sendiri… Jongin yang ia cintai dengan mengemban berat beban sakit hati dan rasa dicampakkan setiap saat.
…Baekhyun yang manis dan lemah lembut.. berhak bahagia, kan?
Jangan pergi
Tetaptlah disampingku…
Baekhyun—
Sore menjelang senja, Jongin sudah berada didepan rumah Joonmyeon, mengamati rumah yang lumayan besar itu dari luar. Benar saja, sepertinya Joonmyeon anak dari keluarga terpandang. Rumah itu sangat besar dan megah. Apakah Baekhyun ada didalam sana?
Apakah rumah megah itu menyimpan sosok Baekhyun hingga tidak dapat Jongin temui beberapa hari ini?
Sangat berharap bisa menemukan Baekhyun, Jongin mengelilingi pagar rumah tersebut. Sebenarnya perilaku Jongin sangat memalukan. Apa yang ia lakukan disana sebenarnya? Ia bisa disangka oleh orang- orang yang tidak sengaja lalu lalang sebagai pencuri atau semacamnya, bukan? Lihat saja pandangan orang yang mulai miring melihat Jongin.
Ah, siapa peduli?
Dan saat ia sudah berada dipagar bagian paling kiri, samar ia melihat…
DEG
…Baekhyun.
Demi Tuhan, kelegaan meliputi hati Jongin. Baekhyun berada beberapa ratus meter dari tempatnya berada. Baekhyun sedang duduk disebuah ayunan besar sembari mendengarkan sebuah MP4 dengan earphone. Pemuda manis itu terlihat menikmati alunan musik dengan menutup matanya dan bersenandung.
Baekhyun ada disana! Jongin seakan ingin berteriak dengan lantang!
Tidak bodoh, Jongin pasti diusir oleh Joonmyeon jika ia bertamu secara baik- baik. Terlintas sebuah pikiran untuk memanjat pagar besi tersebut dan menyelinap kedalamnya. Baekhyun masih duduk diayunan nyaman tersebut tidak menyadari keberadaan Jongin nampaknya. Seulas senyuman damai nampak terpampang diwajah Baekhyun. Manis sekali.. damai.
DEG
Membuat Jongin tersentak disana.
Cantik.
Tubuh Jongin kembali kaku saat ia melihat senyuman itu, gerakannya yang akan memanjat pagar tersebut terhenti. Senyuman manis Baekhyun… membuatnya semakin merasa kotor dan bodoh. Mengapa bisa ia sebodoh itu menyakiti seorang namja yang lemah lembut seperti Baekhyun? Baekhyun-nya yang polos harus merasakan rasa sakit itu terus menerus dahulunya…
DEG
Dan jantung Jongin seakan meledak saat melihat Joonmyeon keluar dari rumah dan menghampiri Baekhyun, duduk disamping Baekhyun dengan perlahan. Pemuda manis yang dari tadi hanyut dengan dunianya sendiri terkejut, Baekhyun membuka matanya dan tersenyum pada Joonmyeon. Melepas sebelah earphone yang ia gunakan untuk mendengar lantunan musik dan menyematkan disebelah telinga Joonmyeon. Mereka mendengarkan musik itu bersama- sama..
Dan..
Itu semua menyergap Jongin begitu dalam.
Seharusnya aku… Baekhyun.
Seharusnya aku yang ada disampingmu.
Senyuman Baekhyun yang begitu manis, kini tertuju pada Joonmyeon. Tatapan mata penuh kasih itu tertuju pada Joonmyeon… tangan mungil yang biasanya digenggam oleh Jongin kini bergenggaman dengan tangan Joonmyeon. Tawa lepas yang terdengar begitu lega… kini terdengar menyesakkan jantung Jongin.
Rasanya sakit bukan main, kan?
Bagaimana rasanya, Jongin?
Dan sesuatu yang lebih menyakitkan adalah saat Jongin sadar akan satu hal lagi. Pertanda Baekhyun ingin.. melepaskan cintanya. Sejauh itu jarak mereka.. Jongin bisa melihat ditelinga Baekhyun… disana, ditelinga kiri tersebut.
Tidak ada lagi piercing berinisial 'J'.
Demi Tuhan, tubuh Jongin terasa dipotong- potong saat ia tahu bahwa… Baekhyun sudah tidak mengenakan piercing itu lagi. Baekhyun tidak lagi… memakainya. Hanya ada bekas lubang tindikan yang polos disana. Tidak ada lagi.. keberadaan Jongin dihati Baekhyun, kah?
Baekhyun… sudah benar- benar ingin pergi dari Jongin?
Bibir tebal Jongin ingin sekali terbuka memanggil Baekhyun, namun bibir itu kelu. Seakan Tuhan tidak mengizinkan Jongin mengganggu ketenangan yang kini Baekhyun rasakan. Rasa tidak pantas dan bersalah semakin besar dihati Jongin. Mengutuknya hingga sesak seakan adalah sahabat barunya untuk menjalani hidup mulai saat ini.
Jongin genggam pagar besi tersebut dengan kedua tangannya. Ia begitu ingin menggapai Baekhyun namun yang bisa ia lakukan hanya melihat Baekhyun dari sana, menatap Baekhyun yang kini nampak sangat bahagia… tanpa dirinya.
Baekhyun tersayangnya nampak bahagia dengan tawa lepas. Melantunkan lagu yang ia dan Joonmyeon dengarkan berdua. Lagu apa itu? Lagu apa yang mereka dengar hingga Baekhyun nampak bahagia sekali. Tertawa lega seperti ada beribu kelopak bunga yang menhujaninya. Murni, sosok Baekhyun saat ini.
Namun… benarkah Baekhyun bahagia?
"Tidak… kebahagiaan Baekhyun adalah bersamaku… Baekhyun milikku." Nafas Jongin tergesa- gesa. Matanya sudah tidak fokus lagi bahkan ia nampak begitu pucat. Tangan Jongin gemetaran. Ia tidak kuat lagi… Ia ingin Baekhyun kembali padanya. Baekhyun… Ia hanya ingin Baekhyun.
Detik itu, mata menawan Jongin menangkap Joonmyeon menarik Baekhyun kedalam rumah, mereka masuk kedalam rumah Joonmyeon. Baekhyun sudah tidak ada lagi dilingkup pandangan Jongin. Membuat pemuda tampan tersebut ingin berteriak dan meraung agar Baekhyun kembali padanya. Agar Baekhyun melihatnya berdiri disana.. menyaksikan kesesakan yang timbul karena takut… takut Baekhyun melarikan diri darinya.
"Baek—hyun.. Baek..hyun! BAEKHYUN!" Teriak Jongin akhirnya lolos. Ia berteriak keras dibalik pagar rumah Joonmyeon, kaki dan tangannya bergetar hebat. Suara Jongin bahkan terdengar sangat lirih dan memilukan. Jika saja ia bisa menghancukan besi pagar itu sekarang juga. Pasti ia akan berlari menuju Baekhyun..
"Baekhyun! Kumohon keluarlah! BAEKHYUN!"
Jongin tidak bisa lagi, ia tidak bisa menahan lagi. Rasanya sakit bukan main saat melihat Joonmyeon dan Baekhyun bersama dan—
Deg
Jongin melebarkan matanya. Teriakannya tertelan begitu saja. Terkesiap dengan kenyataan yang baru saja ia pikirkan. Rasa sakit luar biasa ini…
Apakah rasa sakit seperti ini yang Baekhyun tahan berlarut- larut? Setiap… saat?
Rasa sakit seperti ini yang ratusan kali Baekhyun rasakan ketika Jongin berkali- kali menyakitinya. Rasa sakit setiap melihat Jongin bermain dan bermanis- manis pada semua lelaki cantik yang bermain dengannya… Selalu Baekhyun rasakan. Berulang kali.. Terus menerus.. Hingga hatinya tembus dalam.
Rasa sakit itu baru sekali saja Jongin rasakan.. Sudah membuat tubuh pemuda tampan itu kaku total. Tidak sepadan!
Lantas… bagaimana jika hal seperti ini yang kau bawa terus menerus? Kau pasti ingin bunuh diri, Jongin.
Bagaimana jika rasa sakit hati tak tertahankan bahkan dianggap lebih baik ketika mencintaimu daripada melepasmu?
"Kyu—"
"Jongin."
DEG
Suara lembut itu menghentikan tubuh dan suara Jongin. Suara seseorang yang ia rindukan terdengar jelas ditelinganya… disampingnya. Perlahan, Jongin menitik wajahnya untuk menghadap kearah samping. Memfokuskan tubuhnya untuk mengikuti alihan tersebut.
Ada.. dia disana.
"Baekhyun.." desis Jongin pelan dengan mata terbuka sempurna.
Benar, Baekhyun ada disana. Sedang berdiri disana.. disamping Jongin. Sejak kapan Baekhyun keluar dari rumah? Sejak kapan Baekhyun keluar dari pagar kokoh ini? Sejak kapan—
"Apa yang Jongin-sshi lakukan disini?"
DEG
Suara Baekhyun masih sama lembutnya.. tetapi… 'Jongin-sshi'? Panggilan apa itu? Mengapa tidak 'Jongin' seperti biasa?
Dia menciptakan pembatas.
"Kenapa—"
Akhirnya hanya kata itu yang lolos dari bibir Jongin. Hanya kata penuntut dan ia menyembunyikan lagi hatinya yang ingin menerjang Baekhyun dengan pelukan. Baekhyun menunduk dan tersenyum, akan tetapi senyumannya berbeda. Kesedihan jauh lebih nampak disana.
"Jongin-sshi.. Maaf."
Kata maaf yang diucapkan Baekhyun membuat Jongin membulatkan mata. Tunggu! Disini seharusnya Jongin lah yang meminta maaf akan tetapi mengapa Baekhyun? Mengapa Baekhyun yang menjadi korban keegoisan Jongin yang minta maaf?
"Maaf karena aku…tidak bisa melanjutkannya lagi."
DEG
Mata Jongin membulat sempurna. Melanjutkan apa? Apa yang tidak bisa dilanjutkan lagi? Apa yang membuat Baekhyun kini terlihat begitu tersiksa hingga wajahnya memerah. Matanya memerah.. semuanya terlihat semerah dan semenyakitkan darah. Ah, bahkan darah Jongin terasa dingin hingga membuat tubuhnya beku dan tidak bisa bergerak.
"..Jongin-sshi.. bukankah ini yang kau inginkan? Sepertinya.. kau bisa bebas menjalani kehidupanmu lagi seperti dulu tanpa pengganggu sepertiku. Maafkan aku, Jongin-sshi.. aku baru menyadari jika kau selama ini terganggu. Maafkan aku.. karena aku terlalu egois selalu memaksakan kehendakku padamu hingga tak mengetahui kemuakanmu pada sikapku yang selalu ingin mempertahankanmu.. ak—aku.."
Kini isakan yang lolos dari bibir Baekhyun. Isakan halus yang membuktikan betapa dalamnya hati yang ia tekan. Betapa cintanya ia dengan sosok beku yang ada dihadapannya. Baekhyun menangis dan Jongin hanya bisa mematung tanpa tahu harus melakukan apapun. Ia terlalu lumpuh untuk berfikir karena… malaikat tanpa sayap-nya kini menangis terisak.
Apa yang bisa Jongin lakukan untuk menghapus rasa sakit itu?
Apa keberadaan Jongin tidak bisa menjadi obat penyembuh?
Baekhyun menatap Jongin yang masih saja diam. Diam yang tidak diketahui oleh Baekhyun bahwa didalam diri Jongin kini lumpuh sama sekali karena perbuatannya. Semua yang terjadi hanya karena seorang pemuda manis dengan mata besar sendu yang menatapnya penuh tanya.
Mengapa kau masih diam, Jongin?
Bicaralah…
Akhirnya Baekhyun menghela nafas serta menutup sejenak matanya, putus asa. Pemuda manis tersebut putus asa pada sosok Jongin yang masih saja diam seribu bahasa, kesunyian dalam beberapa ratusan detik berlangsung. Kediaman tak kunjung berakhir. Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Jongin?
Tep
Baekhyun berbalik badan dan berjalan pelan meninggalkan Jongin yang tetap saja diam. Punggung itu ia amati, punggung kecil yang akan dipeluk oleh… Joonmyeon nantinya? Tubuh mungil yang biasa ia peluk akan dipeluk oleh orang lain nantinya. Suara itu akan memanggil nama orang lain nantinya.. dan semua akan tertuju pada… Joonmyeon?
Bukan Jongin.
Bukan Jongin lagi.
Jongin kalut, pemuda tampan tersebut berlari cepat. Tanpa ragu sama sekali ia memeluk tubuh Baekhyun dari belakang kelika pemuda itu sedang membuka pagar. Gerakannya yang terhenti sepenuhnya membuat Baekhyun mengerjapkan matanya pelan. Ia lirik lengan kokoh yang memeluk pinggangnya erat. Ia rasakan surai lain didaerah tengkuknya.. rambut Jongin. Ia bisa merasakan detak jantung berantakan kini menyeruak dari dada seseorang yang memeluknya.
"J—Jong.."
Posisi mereka terhenti disana untuk beberapa menit. Tidak ada yang berani memulai untuk melepaskan pelukan erat tersebut. Atau memang keduanya sengaja? Baekhyun menunduk dan jujur saja ia senang setengah mati karena Jongin memeluknya. Betapa ia merindukan pemuda tampan ini.. pelukan pemuda tampan yang amat ia cinta dan ia yakini selamanya. Akan tetapi…
DEG
… aku tidak mau berulang lagi dikesalahan yang sama.—
Baekhyun membuka paksa lengan Jongin dari tubuhnya. Membuat pemuda tampan tersebut terkesiap dan terlonjak kaget. Kini tubuhnya sudah terpisah dari tubuh Baekhyun dan ketika Jongin ingin kembali meraih tubuh mungil Baekhyun dengan lengannya… terlambat.
Baekhyun sudah masuk kedalam pekarangan rumah Joonmyeon dan mengunci pagar itu dengan gembok kecil yang sudah dari tadi menggantung disana. Baekhyun menatap Jongin yang tengah memandanginya nanar sekali.
"Kenapa Baekhyun! Kenapa kau lari dariku?!"
Baekhyun mundur selangkah menjauhi pagar yang kini sudah digenggam oleh Jongin erat. Mata bulat Baekhyun merah, dia akan kembali menangis akan tetapi ia tahan semua keinginan itu dalam diam dan tenang. Melihat wajah Jongin yang begitu terluka tak pernah ia alami.. akan tetapi rasa sakit itu mengubur simpati Baekhyun.
"Baekhyun! Kumohon, buka gembok ini! Mengapa kau tidak mau berdekatan denganku lagi? Bukankah kau suka dengan pelukanku? Bukankah kau mencintaiku?!"
DEG
Baekhyun menggigit bibir bawahnya, sudah tak bisa ia tahan lagi bulir bening yang luluh dari matanya. Perasaan sakit ketika ucapan Jongin selalu benar dan tepat sempat menghujam jantungnya untuk berdetak tidak normal.
"Kau masih mencintaiku, kan? Baekhyun… kumohon… Kumohon.. Jangan buat aku seperti ini."
Bruk
Jongin terduduk disana, masih mencengkram besi pagar yang membatasi ruang miliknya dengan ruang Baekhyun. Jongin menunduk dan Baekhyun bisa melihat tubuh pemuda tampan tersebut bergetar hebat. Kemudian kedua tangan Jongin bergerak menggoyang- goyangkan pagar besi dengan brutal. Menimbulkan suara berisik yang amat bising.
"Jongin-sshi! Hentikan!" Baekhyun berteriak keras dan mendekati Jongin. Baekhyun berjongkok lalu memegangi tangan Jongin yang menggenggam pagar besi dengan kuat. Menghentikan gerakan Jongin agar tidak merusak pagar rumah milik Joonmyeon. Dan ketika itu, Jongin mengangkat wajahnya. Menatap mata bulat Baekhyun yang masih basah tepat berada didepannya. Seandainya tubuh mereka tidak berbatas pagar besi tersebut, Jongin pasti akan meraih Baekhyun dengan pelukan.
"Baekhyun.." Jongin memasukkan tangannya disela- sela celah pagar, mengusap pipi Baekhyun yang basah. Baekhyun menutup matanya perlahan merasakan jemari Jongin dipipinya, merasakan dengan sadar kini Jongin mulai menarik tengkuknya cepat. Begitu cepat hingga yang Baekhyun rasakan hanyalah sentuhan bibir Jongin pada bibirnya.
Mereka berciuman disela- sela pagar besi tersebut.
Terkejut, Baekhyun reflek mendorong tubuh Jongin hingga mereka terpisah lagi. Menyebabkan tubuh Jongin terdorong kebelakang cukup keras. Baekhyun berjalan mundur sembari membekap mulutnya sendiri. Bukannya ia marah…
..Baekhyun yang polos hanya begitu tercengang.
Jongin dan dirinya hanya pernah berciuman ketika memakai piercing beberapa waktu silam kemudian mereka melakukan hubungan intim tanpa ciuman lagi. Baekhyun masih belum terbiasa dengan perlakuan seperti itu.
Akan tetapi hatinya begitu bergejolak riang, dia senang dan bahagia. Padahal sentuhan itu bukanlah sentuhan yang terlalu lama. Singkat tetapi manis dan berharga.
Jongin bangkit berdiri, matanya tetap saja menatap pemuda manis yang terdiam dengan wajah merah. Dan kali itu, tangan Jongin jauh lebih masuk kesela- sela pagar besi untuk menggapai Baekhyun. Akan tetapi pemuda itu mundur hingga Jongin tak bisa menggapainya.
"Maafkan aku."
Suara Jongin lirih sekali memohon maaf. Tentu saja ucapan yang Baekhyun sangka mustahil untuk keluar dari bibir Jongin membuatnya terkejut. Perlahan tangannya turun dan tubuhnya diam menatap Jongin tidak percaya. Seorang Kim Jongin meminta maaf?
"Baekhyun.. Kumohon.. Maafkan aku."
Sekali lagi.
Jongin meminta lagi.. Meminta belas kasih Baekhyun agar bersedia memaafkannya.
"Kenapa.. Jongin-sshi.. Kenapa kau minta maaf?"
Pertanyaan polos itu membuat Jongin merasa semakin bersalah. Mengapa Baekhyun bertanya penyebab Jongin minta maaf padanya?
"…kau masih bertanya? Kau bahkan tidak menganggapku bersalah padamu? Demi Tuhan, Baekhyun! Kau akan membunuhku jika kita terus seperti ini!" Jongin mulai frustasi.
Baekhyun menunduk, tidak mau menatap sosok yang kini sedang memohon padanya. Betapa menyedihkan wajah Jongin jika diperhatikan, akan tetapi pemuda itu tidak mau sekadar mendekati Jongin atau membukakan gembok pagar tersebut. Baekhyun takut.. Ia takut berdekatan dengan Jongin. Ia takut pertahanannya goyah dan runtuh begitu saja. Takut.. ia tidak bisa membentuk perasaannya pada Jongin.
"Pergilah.. Jongin-sshi." Mohon Baekhyun lirih.
"Apa yang kau katakan?!"
"Pergilah! Aku sudah membebaskanmu, bukan? Kau bebas kini! Kau bebas!"
"Tidak! Kau menginginkanku, kan? Kau menginginkanku, Baekhyun! Setelah ini kita akan hidup bahagia, aku tidak akan melakukan apapun yang akan menyakitimu. Kumohon.. Kembali-"
DEG
Suara Jongin tertelan ketika melihat seseorang berdiri tepat dibelakang Baekhyun. Menutup mata Baekhyun dengan sebelah lengannya dan menumpukan dagu runcingnya pada pundak Baekhyun. Sedangkan tangan sebelahnya memeluk pinggang pemuda manis dengan amat posesif. Dan itu… Membuat Jongin kehilangan kesabaran.
"Joonmyeon-hyung.." Bisik Baekhyun tahu dengan pasti siapa yang membekap tubuhnya kini.
Joonmyeon tersenyum, ia masih menutup mata Baekhyun dan mengarahkan bibirnya tepat disekitar telinga Baekhyun. Berbisik disana..
"Waktunya menyelesaikan semua, Baekhyun."
DEG
"Brengsek! Buka pagar sialan ini!" Teriak Jongin sembari menendang pagar besi tersebut hingga menyebabkan bunyi dentuman keras. Ia sangat tidak terima dengan perlakuan Joonmyeon pada Baekhyun-nya… Baekhyun milik Jongin.
Bukankah begitu dahulunya?
Baekhyun tersentak mendengar erangan marah dari Jongin, namun ia tidak bisa melihat apapun karena matanya ditutup oleh Joonmyeon. Akan tetapi ia bisa merasakan, bahwa kemarahan yang dirasakan Jongin sudah jauh diambang batas. Baekhyun tahu dengan jelas jika pemuda itu marah, ia bisa melakukan apapun. Baekhyun harus menghentikan Jongin secepatnya, sebelum ada yang terluka.
"Kim Joonmyeon!" Pekik Jongin makin mengerikan. "Lepaskan kekasihku! Kau ingin mempengaruhinya, oeh?!"
"Kekasih? Kau gila, Kim Jongin? Ia bahkan sudah tidak mau lagi bersamamu!" Joonmyeon tersenyum mengerikan, tentu hanya Jongin yang bisa melihat senyuman Joonmyeon. Seperti bukan Joonmyeon saja.
"Benarkan, Baekhyun? Kau ingin lepas dari rasa sakit itu? Kau tidak ingin Jongin menyakitimu lagi, bukan?" Sambung Joonmyeon lirih.
Baekhyun tersentak, ia gigit bibir bawahnya dan menunduk pelan. Ia genggam tangan Joonmyeon yang masih menutup matanya kemudian.. Menggeleng. "Aku tidak mau, hyung."
Jongin membulatkan matanya tidak percaya dengan jawaban Baekhyun. Apa! Baekhyun benar- benar ingin lepas dari Jongin? Bagaimana bisa?! Bukankah Baekhyun selama ini mencintai Jongin? Bukankah karena itulah Baekhyun bersabar selama ini? Bukankah karena itu Baekhyun… menusuk perasaannya sendiri akibat perlakuan Jongin yang amat seenaknya.
"Baekhyun!? Tidak! Tidak! Kau hanya dipengaruhi oleh Joonmyeon!" Jongin kembali mengguncang pacar besi itu, berharap ia bisa merusak pagar tersebut dan menggapai Baekhyun. Namun nihil. Pagar sialan itu sangat kuat.
Joonmyeon menyeringai kejam dan mengusapkan hidungnya pada pipi Baekhyun, ia menatap Jongin yang semakin saja brutal menendang keras pagar rumahnya. "Baekhyun.." Bisik Joonmyeon amat pelan.
"Jangan dengarkan dia, Baekhyun!" Jongin masih berteriak lantang.
"Selesaikan." Sambung Joonmyeon sembari melepas tangkupan tangannya dari mata Baekhyun, sehingga pemuda itu bisa melihat sosok Jongin kembali. Joonmyeon juga sudah melepas pelukannya dari tubuh Baekhyun. Mata bulat Baekhyun yang basah membuat Jongin terdiam. Tatapan mata mereka berdua mulai intens. Beberapa saat kemudian Baekhyun membuka katub bibirnya, menanyakan sesuatu yang nyaris membuat Jongin menjerit pilu.
"Apakah dulu aku adalah kekasih yang buruk untukmu, Jongin-sshi?"
Oh tidak, Baekhyun sudah menggunakan kata lampau. Baekhyun sudah mematenkan dirinya.. Sebagai mantan kekasih Jongin?
"..hingga kau selalu menyakitiku." lirih Baekhyun amat menyedihkan.
Belum sempat Jongin menjawab, Baekhyun kembali membuka suara.
"Pernahkah kau mencintaiku?"
DEG
Jongin bersumpah tubuhnya seperti dilempar kedalam lahar panas. Wajah Jongin menegang dan ia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak! Apa yang dipertanyakan Baekhyun? Masalah cinta? Jongin… seorang Jongin tidak akan pernah mau membahas hal yang ia anggap menjijikkan. Cinta adalah permainan, dan ia akan memainkannya sesuka hati. Cinta bukanlah konsumsi Jongin awalnya, ia bahkan tidak mau menyentuh kata itu.
Tetapi… Kini… tidak bisakah Baekhyun membaca jika Jongin.. bahkan sudah menyadari keberadaan Baekhyun.. sebagai..
—Cinta?
Atau.. Jangan- jangan selama ini Baekhyun selalu bertahan walau dia tidak tahu secara pasti bagaimana perasaan Jongin padanya?
Mengemban rasa sakit tidak tertahankan dalam ketidakpastian akan penyambutan cinta?
Bodoh!
Baekhyun kembali tersenyum, dan kali ini menyedihkan. Senyuman itu memilukan. "Kau bahkan tidak bisa menjawabnya, Jongin-sshi."
Jongin menggeleng cepat. "Baek-"
"Semua sudah berakhir, Jongin-sshi."
Bahkan kau tidak memberikanku waktu
Kau tidak sudi lagi mendengar pilu hatiku
Kau meninggalkanku
Please…
Just stay.
Stay for me…
Sudah nyaris satu bulan setelah Jongin dan Baekhyun benar- benar berakhir. Baekhyun sudah bersekolah seperti biasa. Dia menghabiskan waktu istirahatnya bersama Chanyeol, terkadang bersama Joonmyeon. Dan yang bisa Jongin lakukan hanyalah mengamati Baekhyun dari jauh. Walau sampai saat ini ia masih belum mau menerima keputusan Baekhyun untuk berpisah. Pemuda tampan itu sudah hidup layaknya manusia tanpa rasa. Ia tidak lagi bersinar layaknya pemenang beribu hati manusia diluar sana seperti dulu. Kini..
..ia tidak butuh ratusan pemuda cantik ataupun gadis cantik yang menunggunya.
Dia hanya membutuhkan Baekhyun.
Jongin, harus bisa berpuas hati mengawasi Baekhyun dari jarak yang cukup jauh. Chanyeol selalu berada didekat Baekhyun, apalagi Joonmyeon yang entah sudah memiliki hubungan apa dengan Baekhyun. Jongin amat tidak ingin tahu karena ia pikir… Baekhyun tidak mungkin menemukan pengganti dirinya secepat itu. Dan Jongin tidak akan pernah membiarkan Baekhyun menemukannya.
Kali ini, Jongin tengah menatap Baekhyun dari balik tembok, beberapa meter didepannya Baekhyun sedang duduk dibangku taman belakang sekolah bersama Baekhyun. Tempat favorit Baekhyun tentunya. Pemuda manis itu memang suka menghabiskan waktu ditempat yang tenang, sembari memakan sandwich sayur kesukaannya. Kedua pemuda cantik itu bersenda gurau.. Baekhyun tertawa.. benar. Namun wajah Baekhyun tidak pernah seceria dahulu, tidak! Tidak! Sebenarnya sinar pemuda manis itu sudah meredup sejak menjalin hubungan dengan Jongin. Bagaimana tidak, setiap detik hanya rasa sakit tak dianggap dan dibuang yang Baekhyun rasakan.
Kini ia sudah bebas.
Namun mengapa rasanya…
..jauh lebih hampa?
Kau terlihat jauh lebih cantik
Kau terlihat jauh lebih manis
Kau bahkan tidak pernah terlihat buruk dimataku
Kau selalu sempurna dimataku
Selalu…
Jongin tidak bisa sedikitpun melepas pandangan matanya dari Baekhyun, semakin hari pemuda manis itu semakin saja terlihat cantik dimata Jongin. Ia semakin anggun dan.. Jongin ingin menjaga pemuda bertubuh mungil itu dalam dekapannya. Semakin saja penyesalan yang ia rasakan seperti bom waktu yang meledak setiap ia melihat Baekhyun. Rasa tak pantas mulai membuatnya gila.. Ia gila karena rasa ingin memiliki itu semakin memuncak, bukannya hilang.
Ia masih mengamati Baekhyun yang tengah meneguk susu strawberry kotak miliknya. Jongin hanya berani mengambil jarak sejauh itu karena ia.. ia tidak mau mengganggu Baekhyun. Jika Baekhyun ingin melepasnya, Baekhyun tidak ingin berada didekatnya.. Jongin akan coba menerima. Tetapi ia tidak bisa melepas matanya dari Baekhyun. Ia tidak bisa..
..maka ia harus berpuas diri..
… menjadi sosok yang nyaris terlupakan.
Kali ini biar aku yang merasakan sakit itu
Kau tahu rasanya terbakar?
Jauh lebih menyakitkan ketika melihatmu bersamanya..
Bukan.. aku..
Baekhyun berlari keluar dari kelasnya, kali ini ia tidak berlari kearah kelas Jongin lagi. Melainkan kelas Joonmyeon. Jongin yang sudah mengawasi kelas Baekhyun dari tadi hanya bisa menghela nafas pelan dan berjalan mengikuti Baekhyun. Walau ia tetap menjaga jarak.
Koridor sekolah itu seketika penuh karena murid- murid kelas lain sudah keluar dari kelas. Ada beberapa yang berlari, bersenda gurau, melempar kertas. Heboh sekali. Namun mata Jongin tetap terfokus pada sosok yang masih berlari kecil beberapa meter dihadapannya. Langkah Jongin semakin cepat ketika, segerombolan murid lelaki berbadan tegap tengah bersenda gurau didekat persimpangan koridor. Mata Jongin membulat ketika salah satu murid lelaki berjalan mundur secara tiba- tiba. Hey! Baekhyun bisa bertabrakan dengan murid lelaki berbadan besar itu!
Jongin berlari ingin menarik Baekhyun, namun…
Grep
"Berhati- hatilah."
Suara itu…
Jongin berhenti melangkah dan.. ia terdiam ditempatnya berdiri.
Melihat…
Joonmyeon yang sudah merangkul atau memeluk pundak Baekhyun dan berbicara pada murid berbadan tegap tersebut agar berjalan lebih hati- hati. Murid lelaki yang nyaris menabrak Baekhyun langsung menunduk minta maaf dan pergi dari tempat itu. Jongin masih saja menatap tanpa ekspresi kepada Joonmyeon dan Baekhyun yang berjarak cukup jauh. Baekhyun tidak menyadari keberadaan Jongin karena pemuda itu membelakangi Jongin.
Joonmyeon tersenyum amat manis dan mengusap wajah serta rambut coklat Baekhyun. Ia peluk pemuda manis bertubuh mungil itu dalam kehangatan. Baekhyun tersenyum dan membalas pelukan Joonmyeon, Jongin bisa mendengar suara tawa dari bibir Baekhyun. Amarah mulai ia rasakan ketika, tatapan mata Joonmyeon terpatok pada Jongin.
Ternyata Joonmyeon tahu, Jongin dari tadi memperhatikan mereka. Baekhyun yang masih membelakangi Jongin tidak tahu menahu soal tatapan tajam antara Jongin dan Joonmyeon. Pemuda manis itu masih saja berbicara, Joonmyeon menanggapi perkataan Baekhyun dengan suara amat lembut. Padahal wajah Joonmyeon jauh dari kata lembut saat ini. Wajahnya bengis menatap Jongin, seakan ia sudah memenangkan sesuatu dari Jongin.
Seketika..
Seketika.. Jongin merasa tubuhnya dililit oleh batang bunga mawar yang penuh duri. Menancapkan duri tajamnya disetiap permukaan kulit Jongin… yang merasa terluka melihat kedekatan Joonmyeon dan Baekhyun yang ada dihadapannya. Kini kedua pemuda itu bergerak meninggalkan Jongin yang masih membeku ditempat. Tangan Jongin terkepal, seakan ingin menghancurkan semua yang ada dihadapannya. Namun ia tahu.. dia tidak punya hak lagi.
Dia bukan siapa- siapa Baekhyun.
Dia tidak pantas cemburu—
Harus kubawa kemana cinta ini?
Apakah harus kusimpan sampai mati?
Hingga kau sadar…
.. bahwa bagiku, kau adalah dunia tempatku berputar
Setahun kemudian—
Kesempatan bagi Jongin tidak pernah datang untuk berlama- lama bersama Baekhyun. Hingga nyaris sudah setahun kurang Jongin mengikuti Baekhyun. Mengamati pemuda manis itu dari jauh, tanpa sepengetahuan Baekhyun tentunya. Jongin tidak pernah bicara dengan Baekhyun, malangnya Jongin mengira Baekhyun sudah benar- benar melupakan dirinya.
Dan selama itu pula…
…selama itu pula Jongin dan Baekhyun menyiksa perasaan mereka satu sama lain.
Tidak ingatkah dimana kita saling tertawa
Walau kau masih mengemban beban penderitaan dengan mencintaiku
Namun mengapa kini.. ketika aku sudah memusatkan segalanya padamu
Kau membuangku—
Saat ini Baekhyun menangis tersedu- sedu, seakan dunia yang ia injak tidak lagi menerimanya. Ia menghempaskan punggungnya disebuah tembok bangunan belakang sekolah. Tempat paling sunyi dan jarang sekali dikunjungi oleh murid- murid lain. Baekhyun terduduk sembari memeluk lututnya. Tubuhnya gemetaran hebat, mencoba meluapkan semua yang ia rasakan didalam hatinya. Mencoba mengeluarkan rasa yang selama ini ia pendam dengan menekan hatinya, hingga sesak itu tak tertahankan lagi. Sudah selama itu rupanya…
"Kenapa… Kenapa!" Baekhyun berbisik sembari terisak.
Ia gamang, ketika… masih ia sadari bahwa ia.. tidak bisa melupakan orang itu. Mencoba berlagak tidak perduli dan ingin menjalani hidup baru tanpa.. orang itu. Ingin mendapat kebahagiaan tanpa rasa sakit yang orang itu selalu torehkan padanya. Ingin menutup dan mengobati luka itu hingga sembuh sepenuhnya. Namun…
.. aku terlalu mencintainya—
Dia tidak bisa.
Selama apapun dan sekuat apapun ia mencoba.. untuk membuangnya. Ia tak bisa—
Topeng yang Baekhyun pakai selama ini hanyalah hiasan kebahagiaan semu yang ia rasakan bersama Joonmyeon. Dengan jelas, Baekhyun mengetahui bahwa.. Joonmyeon menjadikannya sebagai tempat pelarian karena kekasih Joonmyeon, Yixing, meninggalkannya. Yixing bahkan sudah pindah kesebuah sekolah swasta yang berada di China. Joonmyeon sangat terpukul saat mengetahui hal itu, namun ia tidak bisa berbuat banyak. Joonmyeon melepas Yixing- untuk saat ini.. dan Joonmyeon mengatakan bahwa semua ini ia lakukan demi kebahagiaan Yixing. Sudah nyaris 6 bulan yang lalu Yixing pindah sekolah.. dan sejak saat itu pula.. Joonmyeon seperti orang lain.
Joonmyeon sudah lulus setahun yang lalu dari sekolah ini. Dahulu ia sering kali mengunjungi sekolah walau ia sudah lulus hanya untuk menjumpai Yixing, namun sejak Yixing pindah sekolah.. Joonmyeon jarang sekali mengunjungi sekolah lagi. Dan Baekhyun tahu Joonmyeon frustasi. Disaat Baekhyun terjatuh dan tersungkur, Joonmyeon yang mengangkat pemuda itu hingga ia bisa yakin bahwa ia bisa lepas dari Jongin dan mendapatkan kebahagiaan yang jauh lebih indah diluar sana. Walau Baekhyun tahu… ia tidak akan pernah bahagia karena..
..yang ia cintai hanya Jongin.
Hingga saat ini dan.. perasaan Baekhyun pada Jongin terlalu dalam. Membuatnya sesak nafas dan sulit bergerak jika tidak sengaja bertemu Jongin disekolah. Dan ketika Baekhyun ingin mengeluarkan air matanya, Chanyeol selalu datang untuk menutupi tangisan sahabatnya itu. Semua usaha sudah dilakukan oleh Baekhyun.. untuk melupakan Jongin. Menekan hatinya, menekan semuanya.. Bukannya ia meninggalkan Jongin untuk satu alasan tidak jelas, bukan! Namun ia tidak mau lagi menjalani kisah yang sama jika nanti ia kembali bersama Jongin. Ia ingin dicintai selayaknya manusia lain.
Apakah Baekhyun egois?
Dan sekarang.. saat ini.. detik ini… alasan pemuda itu menangis karena.. ia tahu. Ia sadar bahwa dirinya tidak pernah berubah dan.. Jongin-pun demikian. Jongin tetaplah Jongin.. mungkin pemuda itu memang memohon dahulunya pada Baekhyun tetapi lihatlah kini. Mereka masih saja berada ditempat yang sama. Tidak berubah seperti Joonmyeon yang kini memiliki beribu cita untuk kembali menggapai Yixing kembali.
Dan… hari kelulusan mereka hanya tinggal dua bulan lagi.
Hari kelulusan… perpisahan.
Setelahnya..
Mereka akan pergi dan.. terpisah jauh.
Baekhyun takut…
…Baekhyun takut jika ia masih tidak bisa melepas Jongin.
Sebelum ia bisa membersihkan hatinya dari nama 'Kim Jongin'.
"Hyung… Berarti kau tahu cara menyembuhkan luka hatiku?"
"Ya.. aku tahu."
"Kalau begitu.. sembuhkan aku."
"Apakah kau… menerima aku menjadi… kekasihmu?"
"Ha? Hyung.. aku… mencintai Jongin.. aku—"
"Hahaha! Jangan berwajah seperti itu. Tidak apa- apa. Kita jalani saja seperti ini. Kita akan saling menguatkan dan memberi semangat ketika kita sedang terpuruk. Aku tidak akan memaksamu.. namun.. Baekhyun, satu hal yang aku minta padamu."
"Apa itu, hyung?"
"Buat dia mengerti.. rasa sakit pengorbanan yang kau rasakan."
Jongin terduduk disatu sisi tembok, ia menengadahkan wajahnya keatas. Berusaha menahan sesuatu yang akan jatuh dari matanya. Isakan pilu yang ia dengar dari arah belakangnya tentu saja cukup merobek dan mengoyak hatinya. Tepat dibelakangnya, hanya berbataskan tembok lusuh tersebut, Baekhyun ada dibelakang Jongin. Menangis seakan tidak ada hari esok untuknya. Jongin menggigit bibir bawah. Matanya memanas seperti terkena asap pembakaran.
Dan usahanya gagal…
… Jongin menangis saat itu.
Sayang, luka hatimu terlampau dalam
Ucapan maaf ku tidak akan cukup
Walau mungkin saja suatu saat kau akan memaafkanku
Namun…
… masih bisakah kau mempercayaiku?
Sekali lagi?
Joonmyeon yang kebetulan sedang mengurus surat rujukan dan beberapa sertifikat disekolah itu setelah ia lulus setahun yang lalu sedang mencari Baekhyun. Sudah lama sekali ia tidak melihat Baekhyun, menurut beberapa teman Baekhyun, pemuda manis itu tadi berjalan kearah belakang sekolah. Joonmyeon tahu tempat favorite Baekhyun. Tidak sabar rasanya melihat Baekhyun yang sudah ia anggap sebagai adik. Keinginan Joonmyeon melanjutkan sekolah di China sedikit banyak menyita waktu pemuda itu untuk memiliki waktu senggang.
Namun…
Deg
Joonmyeon melihat keadaan itu dari jauh… Ia melihat Baekhyun yang menangis sembari memeluk lututnya sedangkan.. Jongin tepat dibelakang Baekhyun ikut menangis tanpa suara. Mereka hanya dipisahkan oleh tembok lusuh bangunan sekolah yang akan segera mereka tinggalkan kurang lebih 2 bulan lagi. Joonmyeon tahu, Baekhyun pasti tidak tahu jika Jongin berada dibelakangnya. Baekhyun tidak tahu… Jongin ikut menangis pilu walau ia tidak terisak.
Tidak ada yang mengatakan semua ini adalah hal yang mudah, bukan?
Jika saja semuanya bisa dikembalikan keawal.. Andai saja Jongin bisa menjadi lelaki setia sejak awal. Andaikan saja Yixing tidak perlu terlena akan pesona Jongin.. andai saja.. Joonmyeon tidak harus terikat pada takdir memilukan ini. Bukan hanya dirinya.. mereka.
Ini misteri hidup.
Joonmyeon membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi tempat itu dan.. seketika ia gamang, terduduk. Kakinya gemetaran, dan Joonmyeon mencoba mengontrol emosinya yang mulai meledak. Seketika ia mendekati sebuah pondasi untuk bersandar. Ia mengatur sesaknya nafas dan hatinya yang selalu ia tahan. Sekelebat kenangan dengan Yixing mulai kembali terlintas bagaikan pemutaran video, otak Joonmyeon seakan terus menekan tombol 'replay'.
"…Demi Tuhan.." lirih Joonmyeon kemudian.
Kita tak pernah bermaksud mengatakan 'Selamat tinggal'
Tidak pernah ingin berpisah sesungguhnya
Mimpi itu yang menyatukan kita
Kenyataan yang memisahkan kita
Sepulang sekolah…
Dikoridor sekolah yang lengang… –saat terakhir.
Kini mereka berhadapan, hari terakhir sebelum mereka melakukan ujian akhir sekolah. Baekhyun menunduk ketika Jongin berada tepat dihadapannya. Tidak ada yang akan menolongnya kini, Chanyeol dan Baekhyun sudah punya janji berdua. Joonmyeon sedang berada diruang guru, mengurus beberapa sertifikat yang ia miliki dulu ketika bersekolah disana untuk melanjutkan studi ke Universitas di China.
Kini.. Baekhyun sendiri yang harus mempertahankan dirinya.
Mempertahankan diri dari Jongin..
"Baekhyun."
Panggilan Jongin membuat pemuda manis itu tersentak. Sudah setahun lebih ia tidak bertegur sapa dengan Jongin. Sudah sangat sering Baekhyun merindukan suara Jongin memanggilnya. Akan tetapi ia tidak mau lagi, sungguh. Ia sudah susah payah mengubur perasaannya sendiri pada Jongin. Bohong besar jika ia tidak mencintai Jongin lagi. Jongin adalah cinta pertamanya, Jongin adalah pemuda yang bisa membuatnya merasakan bahagia dan sakit secara bersamaan. Jongin mengajari segalanya. Berbagai rasa pahit dan manis ketika mencintai seseorang.
"Aku—aku harus pergi." Hanya itu balasan Baekhyun lalu ia menggerakkan kakinya melewati Jongin.
"Belum puaskah kau menghukumku?"
DEG
Langkah kaki Baekhyun terhenti setelah mendengar ucapan tajam namun lirih dari Jongin. Mata bulat Baekhyun memerah dan terasa panas. Oh tidak, dia akan segera menangis, kah? Ternyata dia belum bisa mempertahankan dirinya dari Jongin. Ia tidak bisa mengontrol perasaannya walau sudah lama waktu berlalu tanpa Jongin disisinya.
Apakah seperti ini tulusnya mencintai?
"Apa—Apa yang kau bicarakan?" Baekhyun tidak berniat membalikkan tubuhnya hanya untuk melihat wajah Jongin yang masih berdiri disana. Jongin pun demikian, ia tidak membalikkan tubuhnya hanya untuk melihat punggung sempit Baekhyun. Mereka berdiri membelakangi satu sama lain dengan jarak yang tidak terlampau jauh. Namun.. mereka berdua tahu, tidak ada yang berwajah bahagia. Bahkan keduanya nampak tersiksa. Menahan tangis.
"Aku mengerti mengapa.. kau tidak mau kembali padaku, Baekhyun."
Mendengar ucapan Jongin yang amat pelan, Baekhyun menunduk dan memilin tali tas sandangnya. Menggigit bibir bawah menahan isakan. Baekhyun tidak akan menangis! Dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Jongin. Ia ingin membuktikan bahwa ia adalah Baekhyun yang kuat tanpa Jongin. Ia hanya ingin..
…Jongin menganggapnya berharga—
"Aku merindukanmu, Baekhyun.. Walau aku selalu mengikutimu sejak kita berpisah.. Haha.. seperti orang bodoh, bukan? Bahkan kenangan manis kita terkadang menyakitkan untuk dikenang. Dan dari semua kenangan itu… aku mengerti rasa sakit itu, Baekhyun. Sakitnya diacuhkan dan tidak dianggap. Seperti.. selama ini.. saat ini… aku bahkan tidak kau anggap sama sekali."
Diamlah, Kim Jongin.
Baekhyun tersayang bisa menangis lagi jika kau mengatakan hal itu dengan nada suara yang amat pilu. Ia paling tidak tahan jika memikirkan Jongin. Siapa yang tidak menganggap Jongin? Siapa? Bahkan dikala tidur dan bangun, Baekhyun hanya mendoakan kebahagiaan Jongin, walau itu tanpa dirinya. Baekhyun mengutuk dirinya yang sampai saat ini belum bisa melupakan jongin barang sekali. Itu menyakitkan.. padahal Baekhyun sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Jongin.
"Walau waktu berjalan cepat.. tidak kusangka satu tahun lebih… aku merasakan sakitnya kau tinggalkan, sendirian. Dan.. tahukah, Baekhyun? Waktuku tidak pernah berjalan.. selalu kembali kewaktu dimana kita berpisah. Aku tidak pernah.. bisa berjalan tanpamu.. waktuku.. tidak pernah berjalan tanpamu."
Aku merindukan tubuh hangatmu ketika memelukku
Mencium pipiku dan membisikkan bahwa aku adalah milikmu
Aku merindukan senyuman manismu…
Aku merindukanmu..
"Aku.. Aku tidak—"
"Baekhyun… kau juga merasakan hal yang sama, bukan? Kita.. selalu kembali kemasa lalu. Mengingat semuanya adalah beban untuk kita kini.. namun melupakan kenangan itu.. kitapun tidak sanggup.. karena walau menyakitkan, kenangan itu berharga."
Menunggumu lebih baik
Daripada melupakanmu didalam hidupku
Baekhyun menitikkan air matanya, ia menggeleng pelan. Mencoba menelan isakannya agar tidak terdengar oleh Jongin. Menggigit bibir bawahnya terlalu Tuhan, hentikan semua ini. Hentikan! Baekhyun merasa tidak adil, mengapa ucapan Jongin begitu tajam menghentak perasaannya. Karena semua yang Jongin katakan adalah kebenaran? Semuanya benar!
Mengakuinya tidaklah mudah
Kau pikir semudah itu mempercayai lagi orang yang sudah mengkhianatimu?
Jongin tersenyum miris. Walau mereka saling membelakangi, Jongin tahu bahwa Baekhyun masih disana. Masih mendengarkan Jongin berbicara. Dan mirisnya, Jongin mendengarkan isakan halus dari arah belakangnya, arah Baekhyun.
"Sudah berapa lama kau menangis sendirian karena diriku.. Baekhyun?"
"Bagaiamana… caranya agar kau mengerti, Jong—in.. aku.. aku mencintaimu sepenuh hatiku.. waktu itu.. aku merasa kita sudah bersatu.. Kita mulai saling memahami setelah kita melakukan hal itu.. aku memberimu harga diriku. AKU MEMPERCAYAIMU!"
Teriakan Baekhyun bersambung dengan isakan memilukan. Kini tidak tertahankan lagi sakit hati itu karena telah dikorek kembali. Seakan luka itu tidak akan rusak, namun kenyataannya jauh lebih parah. Luka itu bersimbah darah. Luka hati Baekhyun dan.. Jongin.
"Maaf."
Ucapan lirih Jongin tidak memperbaiki keadaan. Hanya menambah pilunya hati Baekhyun ketika mendengarnya. Ini yang tidak ingin ia ungkit lagi. Dia tidak ingin ada yang saling menyalahkan atau disalahkan. Maka dari itu selama ini ia menghindari Jongin, ia rasa cukup tersimpan didalam hati dan terlupakan oleh ribuan hari. Ratusan ribu detik, pasti bisa menguburnya hingga luka itu sembuh dengan sendirinya.
Tetapi… takdir tidak memperkenankan hati Kyugsoo dan Jongin berakhir seperti itu.
"Su—sudahlah! Lebih baik kita ti—"
Grep—
Baekhyun terdiam, ia merasakan pelukan hangat menyergap tubuhnya dari belakang. Jongin menerjangnya dengan dekapan, menyembunyikan wajah tampannya dipundak sempit Baekhyun. Membiarkan aroma tubuh Baekhyun yang ia rindukan hingga nyaris terasa ribuan tahun lamanya menyeruak menyentuh indra penciuman. Baekhyun masih terisak dan itu semakin saja memperburuk keadaan hati Jongin. Ia mempererat pelukannya dipinggang ramping Baekhyun sedangkan sebelah tangannya lagi melingkar didada hingga pundak Baekhyun. Posisi Baekhyun benar- benar terkurung didalam dekapan Jongin.
"Lepaskan aku, Jongin-sshi!" Baekhyun berusaha melepas pelukan Jongin.
"Sebentar saja, Baekhyun.. kau tidak perlu menahan diri lagi. Kumohon.. jangan buat aku jauh lebih gila lagi. Kumohon."
Jongin memohon.
Deg
Baekhyun terdiam kali ini. Tidak menyangka Jongin akan mengatakan hal seperti itu. Apakah selama ini pemuda tampan bernama Jongin, pemuda sombong dengan seribu pesona, memohon pada Baekhyun? Memohon agar.. membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Jongin?
Bahkan dulu Baekhyun yang memohon agar Jongin melihatnya..
Agar Jongin meliriknya saja, Baekhyun harus memohon—
Isakan halus terdengar kembali, Baekhyun menunduk dan menggenggam lengan Jongin yang melingkar didada hingga pundak Baekhyun dengan kedua tangan mungilnya. Jongin mencium pundak Baekhyun cukup lama, kemudian mempererat kembali dekapannya, seakan takut pemuda itu melepas atau terlepas dari dekapannya. Mereka cukup lama berdiam diri, dari jendela koridor nampak cahaya matahari tenggelam merambat masuk. Menyinari tubuh mereka yang bergetar halus.. indah jika diamati. Mereka hanya berdua saja berdiri ditengah koridor sekolah kosong dan sinar matahari berwarna jingga seakan menjadi saksi bisu bahwa kedua nya tengah melepas hati masing- masing.
"Tidak cukupkah waktu… membuktikan hatiku padamu, Baekhyun?"
Masih saja lirihan suara tangis yang Baekhyun pamerkan. Ia benci mengetahui bahwa ia begitu lemah jika dihadapkan oleh Kim Jongin. Baekhyun berharap ia bisa kuat jika Jongin tidak perrnah menemuinya lagi setelah ini. Menjalani kehidupan masing- masing dengan melupakan semua yang yang terjadi dimasa lalu.
"Rasanya sulit.. mempercayaimu kembali.." bisik Baekhyun lirih sembari menggeleng pelan. Ia hapus air matanya , namun sia- sia saja. Pipi itu tetap saja basah dan teraliri butiran hangat air matanya.
Jongin melepas pelukannya dan memutar tubuh Baekhyun dengan amat perlahan, berhati- hati agar pemuda itu tidak memberontak. Kini, wajah merah yang basah milik Baekhyun terpat berhadapan dengan Jongin. Wajah manis Baekhyun yang ia lihat dari dekat, baru kali ini sejak setahun yang lalu. Semuanya sama, Baekhyun tetap cantik.. Baekhyun tetap manis.. mata itu masih mata kesayangan Jongin, bibir itu masih saja bibir merah nan indah kesukaan Jongin.. Baekhyun-nya yang manis.
"Aku tahu.. dan aku tidak akan pernah memaksamu."
"Maafkan aku.." isak Baekhyun lagi.
Jongin mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun, mengaitkan kening mereka. Membiarkan mata mereka berdua tertutup untuk beberapa saat, meresapi deru nafas mereka yang bersentuhan. Isakan halus yang Baekhyun perdengarkan terhenti dan ia memegang tangan Jongin yang menangkup kedua pipinya. Mengusapnya lembut. Dan kini ujung hidung mereka sudah bersentuhan, mempersempit jarak kehidupan mereka berdua dengan perlahan.
"Aku mencintaimu, Byun Baekhyun."
Kau tahu bagaimana rasanya tersakiti dan..
..kau juga tahu bagaimana rasanya mencintai dengan tulus
Sudah jalannya, sudah waktunya, dan.. sudah takdir
Bahwa manusia memang harus menderita dikala bahagia terasa
Begitu juga sebaliknya
Yang bisa manusia lakukan hanyalah…
..bersyukur.
Karena semua tidak akan sama seperti semula…
.
.
.
.
.
.
.
.
Seorang pemuda tampan, sembari memegangi kopi kalengnya duduk disebuah bangku taman. Mata tajamnya yang menawan, dan perawakannya tegas dan dewasa… cukup mengalihkan pandangan beberapa orang untuk menatapnya.
Dia—Jongin.
Jongin duduk disebuah bangku taman yang tepat berada dibawah pohon yang berdaun warna jingga. Itu mengingatkan Jongin pada janji mereka 4 tahun yang lalu dikoridor sekolah. Tepat empat tahun lalu. Kini pemuda bermarga Kim, melirik jam ditangannya. Tersenyum miris sekali. Sudah menjadi kebiasaannya untuk terus mengunjungi tempat itu dihari sama dan tanggal yang sama. Waktu yang sama dijanjikan saat itu—Kembali ia ingat serpihan ingatannya tentang masa lalu.
.
.
.
"Aku mencintaimu, Byun Baekhyun."
DEG
Mata Baekhyun membulat sempurna. Ia terhenyak begitu dalam, sakit menggeroroti dadanya. oh Tuhan! Tidakkah ia bermimpi? Jongin mengatakan bahwa…
Bahwa ia mencintai Baekhyun?
Ya Tuhan! Ini adalah mimpi Baekhyun, doa dan harapannya yang selalu ia panjatkan kepada Tuhan. Agar suatu saat Jongin mencintainya, menyayanginya dan.. menganggapnya. Agar suatu saat Byun Baekhyun benar- benar berada didalam hati Kim Jongin.
Namun…
Mengapa… baru sekarang?
"Maaf! Aku tida—"
"Jangan menjawab sekarang. Kumohon! Berfikirlah terlebih dahulu…"
Baekhyun menunduk dan mengangguk beberapa kali. "Aku—butuh waktu untuk memikirkan semuanya."
Jongin mengusap pipi Baekhyun dengan lembut, kemudian tersenyum amat manis. Walau kesan luka itu sama sekali tidak luntur diwajah tampannya. "Dihari kelulusan.. tunggu aku ditaman kota. Tempat dimana dulunya kau menyatakan perasaanmu padaku. Tepat dibawah pohon berdaun jingga."
"Kau—masih ingat?" Baekhyun membulatkan matanya, mengakibatkan air mata kembali jatuh. Dengan sigap Jongin mengusap air mata itu dan mengangguk dengan pelan. Ia bisa merasakan tubuh Baekhyun yang bergetar. Mengapa anak ini terlihat begitu rapuh, pikir Jongin.
"Aku menunggumu disana.. dihari kelulusan kita. Dan .. kau harus memberiku jawaban."
"Jawaban?"
Jongin memegang tangan Baekhyun kemudian mengecup punggung tangan itu. "…Maukah kau kembali padaku, Byun Baekhyun?"
Mata itu memerah dan terasa berat. Jongin mengusap wajahnya dan.. ia tidak akan pernah malu untuk selalu mengulang kata- kata itu pada… Byun Baekhyun. Air mata yang tidak pernah habisnya ketika mengenang semuanya.
"Aku mencintaimu, Baekhyun."
Jongin memeriksa detik dan waktu pada jam tangannya, ia sudah menunggu beberapa menit disana. Tepat ditaman yang dijanjikan. Hari ini adalah hari kelulusan mereka. Hari dimana mereka bukan lagi murid Sekolah Menegah Atas. Mereka sudah lulus dengan nilai yang lumayan memuaskan. Masih mengenakan pakaian sekolah dan jas kebanggaan sekolahnya untuk terakhir kali, Jongin menunggu Baekhyun ditaman itu. Suasana siang hari yang menyenangkan, ia tidak akan bosan menunggu Baekhyun disana. Beberapa menit berlalu sia- sia hingga sejam sudah berlalu. Jongin sadar kini.. apakah Baekhyun tidak akan datang?
Dengan kesabaran Jongin tetap menunggu Baekhyun disana. Walau ia sudah menunggu nyaris 3 jam lamanya.
Dia akan menunggu karena Baekhyun—
Akan datang!
"Kumohon, Baekhyun.." bisik Jongin berharap.
Namun kenyataannya Baekhyun tidak pernah datang. Hingga sudah empat tahun berlalu, Baekhyun tidak pernah datang. Jongin bukannya tidak mau menyusul Baekhyun kerumahnya, atau mencari Baekhyun. Akan tetapi, Baekhyun kembali seperti ditelan bumi. Bahkan keluarganya tidak menetap lagi di Korea—kabar terakhir yang Jongin dengar.
Hari ini mungkin juga adalah—hari terakhir Jongin berada di Korea. Karena esok ia akan wisuda, ia sudah menyelesaikan studi-nya disalah satu universitas elit Seoul. Jongin bukanlah pemuda yang bodoh walau suka seenaknya. Setelah lulus, Jongin akan pergi ke Amerika Serikat untuk bekerja disana. Prestasi nya yang baik selama ini saat berkuliah, membuat ia mendapat pekerjaan dengan cepat. Bahkan sudah ditarik sebelum lulus kuliah. Membanggakan!
Namun—tetap saja ia merasa hampa.
Aku ingin bertemu denganmu, Baekhyun
Mengucapkan kata maaf dengan benar
Kau tidak tahu, betapa manis dan berharganya dirimu
Aku harus menemukanmu— memberitahumu bahwa aku membutuhkanmu
Memberitahumu— bahwa kau berbeda..
Jongin tersenyum pahit, kata- kata itu hanya bisa ia simpan didalam hati. Ia belajar dengan tekun tanpa menjalin hubungan dengan siapapun hanya untuk menghilangkan Baekhyun dari pikirannya. Masih sama—perasaan Jongin masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah sama sekali.
Beritahu aku, bahwa kau mencintaiku
Kembalilah dan hantui aku seperti yang kau lakukan dulu
Ia tatap langit biru yang indah, selalu saja pada tanggal itu langit seakan terang dan bersinar. Apakah itu bertanda baik? Jongin selalu berdoa. Bahwa Baekhyun ingat pada janjinya. Ini hari terakhirnya di Korea dan Jongin tidak tahu ataupun dapat memastikan bahwa pada tanggal yang sama di tahun depan ia bisa kembali ke Korea untuk menunggu Baekhyun seperti biasa. Ia berharap semoga Tuhan mempertemukannya dengan Baekhyun, walaupun jawaban itu—menolak Jongin.
Sejam.
Dua jam.
Tiga jam.
Dan kini langit mulai meredup, digantikan cahaya orange yang mengabarkan bahwa senja sudah datang. Jongin tersenyum tipis seakan harapannya redup kala itu. Apakah ini pertanda bahwa Jongin seharusnya menyerah saja? Melupakan Baekhyun dan menemukan cinta yang baru?
Apakah seperti itu?
"Baekhyun— kumohon."
Harapanku..
..kau kubur jauh didalam harapanmu
Dan disaat itu, ketika kau sudah nyaris lelah menunggu. Karena kau yakin orang yang kau tunggu tidak akan datang. Kau berdiri dan menatap pelan bangku taman itu dalam diam dan lirikan lirih. Matamu sudah memberat. Malam yang menjelang, membuat tubuhmu kedinginan. Kau hanya tinggal seorang diri ditaman itu.
Sendirian—
Kau—Jongin tersenyum manis. Ia sudah menetapkan, suatu saat jika ia diperkenankan lagi bertemu dengan Baekhyun. Jika Tuhan masih mengasihaninya.. ia bersumpah tidak akan pernah menyakiti Baekhyun lagi. Dia tidak akan pernah menyakiti Baekhyun—demi hidupnya.
"Sayonara."
Jongin melangkah pergi dari tempat itu.
Jagalah orang- orang yang kau anggap berharga dengan sepenuh hati
Jika kau merusaknya
Tidak ada jaminan semua kasih sayangnya akan sama lagi
Tidak akan ada jaminan jalan yang ditempuh masih sama lagi
Tidak ada jaminan bahwa Tuhan akan membiarkan kebahagiaan terasa lagi
Tidak ada yang menjamin—
Maka..
Jangan pernah menyianyiakan kehangatan itu
Karena.. tidak akan ada kesamaan takdir yang menunggu
Semua akan berakhir dengan caranya sendiri
Meninggalkan dirimu dalam penyesalan menyakitkan..
…selamanya.
Pemuda manis berambut lumayan panjang kini berlari seperti orang gila, ia memacu tubuhnya yang baru sampai di bandara Incheon. Tidak perduli dinginnya malam, ia langsung berlari memasuki taman tempat dimana selalu ia pikirkan disetiap waktu selama empat tahun belakangan. Adanya kesempatan ia untuk kembali ke Seoul membuatnya amat gembira. Kemalangan yang terjadi sebelum hari kelulusannya memaksa pemuda manis itu meninggalkan Seoul menuju Jepang. Orang tuanya mengalami kecelakaan dan—meninggal dunia. Paman pemuda manis yang tinggal di Jepang kemudian menjemputnya tepat sehari sebelum hari kelulusan. Ia tidak sempat memberi tahu siapapun—termasuk Jongin.
Tep
Langkah kaki pemuda manis itu terhenti tepat disebuah pohon berdaun warna jingga. Tidak ada yang berubah dengan susunan taman itu. Masih tetap sama dengan empat tahun yang lalu. Namun—
Tidak ada siapapun disana.
Sang pemuda manis terduduk lemas, ia mengontrol nafasnya yang amat cepat. Jantungnya seakan ikut bergerak abnormal, ia merebahkan tubuhnya dibangku taman tersebut. Mencoba mengatur tubuhnya agar sedikit tenang.
"Apa aku terlambat?" bisiknya lirih. "Oh Tuhan!"
Masih dalam kepanikan, mata pemuda manis itu lalu terpatok pada sebuah kaleng minuman yang terletak disudut kanan bangku taman tersebut. Ia ambil kaleng minum itu, masih terasa hangat. Menandakan bahwa beberapa menit yang lalu ada seseorang yang menggenggamnya. Seseorang?
Deg
Pemuda itu tersentak, tangisnya tiba- tiba pecah seakan ingin merobek langit menjadi dua. Kaleng minuman itu terjatuh dari tangannya yang gemetaran. Ia menangis seperti berteriak, amat kencang dan menyakitkan. Ia pegangi dadanya yang sesak. Tuhan, rasanya sakit sekali.
"Jongin! JONGIN!" teriak pemuda itu terjatuh dari bangku taman, ia menangis keras sekali. Dan menenggelamkan wajahnya diantara telapak tangan dan lutut. Mengapa? Mengapa pesawatnya harus delay tadi dan menyebabkan penerbangan ditunda hingga 7 jam? Mengapa Tuhan seperti tidak memberikan jalan untuknya dan—Jongin bersatu?
"KIM JONGIN!" pemuda manis itu masih berteriak amat keras.
Dan—
Tangisan Baekhyun terhenti ketika seseorang berhenti tepat dihadapannya, nafas memburu ia dengar diarah seseorang yang kini berdiri sembari menunduk memegangi lutut, bisa dibaca bahwa pemuda itu berlari amat kencang hingga sampai ketujuannya. Desahan nafas itu pernah ia dengar—masih ingat jelas dipikirannya.
Pemuda manis itu mendongakkan wajahnya, menatap seseorang yang kini memandangnya seakan tidak percaya. Air mata jatuh di pipi pemuda tampan yang tersenyum manis dihadapannya. Demi Tuhan, pemuda itu menangis? Dia menangis?
Tanpa menunggu lama, pemuda manis itu berdiri tegap, menghapus air mata yang kembali jatuh dan mencoba tersenyum. Sama halnya dengan sosok tampan yang kini berhadapan dengannya. Mata mereka sama—tersirat kerinduan yang amat memuncak. Seakan kerinduan itu adalah beban yang mengikat mereka dimasa lalu.
"Baekhyun—kau datang?"
Pemuda manis—Baekhyun, mengangguk dan memandang pemuda tampan amat lirih dan pilu. Ia tersenyum dan mengapus air matanya dengan cepat. "Aku datang, Jongin."
Apa yang bisa dilakukan pemuda tampan bernama Jongin itu jika tidak tertawa kecil dan menghapus air matanya. Air mata itu jatuh begitu saja, menandakan bahwa ia begitu bahagia. Merasa penantiannya terjawab sudah walau waktu—menghambatnya. Ia tidak mau jika Baekhyun melihatnya lemah seperti ini. Ia begitu terharu atas kehadiran Baekhyun yang amat ia inginkan selama ini. Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun.
Kebahagiaan itu belum berakhir ketika ia melihat ditelinga Baekhyun, terpasang piercing yang mereka pasang beberapa tahun yang lalu. Ada piercing berinisialkan 'J' disana. Baekhyun memasangnya lagi? Apa berarti—
"Bolehkah aku memelukmu?" tanya Jongin tanpa melepas tatapan matanya dari Baekhyun. Wajah Baekhyun yang tampak cantik, menggemaskan, dan tidak terlupakan. Baekhyun-nya tetap seperti dulu, yang berbeda hanya rambut coklatnya yang sedikit lebih panjang dan garis wajahnya yang semakin tegas. Dia cantik. Postur tubuh mungil Baekhyun bahkan tidak berubah, begitu juga dengan suaranya.
"Bolehkah aku memberimu jawaban terlebih dahulu?" Baekhyun mengusap air matanya yang masih saja tidak berhenti. Jongin membantu Baekhyun, mengusap air mata itu dengan amat lembut. Dan seketika mereka terdiam, meneliti kerinduan pada tubuh satu sama lain. Sentuhan kulit yang tidak pernah mereka lakukan sejak lama.
"Kau cantik, Baekhyun."
Kali ini tanpa pikir panjang, Jongin langsung memeluk Baekhyun. Membenamkan tubuh mungil pemuda manis didalam dekapannya. Baekhyun yang terkejut hanya bisa tersenyum bahagia dan membalas pelukan Jongin. Menyengkram pakaian dibagian punggung Jongin. Demi apapun, ia tidak mau melepas Jongin lagi. Besarnya cintanya pada Jongin selama ini adalah kekuatannya untuk bertahan hidup. Disaat ia terpuruk atas kehilangannya, cintanya pada Jongin yang menjadi penguat. Atas itu semua, Baekhyun ingin berterima kasih… ingin kembali—
Baekhyun sedikit menjinjit agar bisa mendekatkan bibirnya ke telinga Jongin. Berbisik disana…
"Jawabanku adalah—
Jika merusak kebahagiaan itu pada awalnya
Kau akan kembali dengan rintangan yang menyakitkan
Lalui itu!
Kemudian kau bisa mendapatkannya lagi
—ya"
Cinta itu perjuangan
Bukan permainan
Jangan pernah mempermainkan cinta
Jika tidak mau kehilangan cinta itu selamanya
The End
Jangan di bash/report abuse ne? tolong hargai kerja keras author.
Nanti kalau review minimal 20, author bakal ngasih ff yg laennya.
