Sasuke kini sedang berada di pinggir sungai tak jauh dari klinik tempat Karin diperiksa. Mereka berdua sepakat tidak pergi ke rumah sakit dan lebih memilih pergi ke klinik—mati dia kalau pergi ke rumah sakit, pulang ke rumah hanya tinggal jari kelingking.
Pemuda itu menatap sungai tenang itu lamat-lamat sebelum akhirnya dengan perlahan dia melepas sneaker abu-abu yang dipakainya. Setelah itu kaus kakinya pun menyusul dan alhasil kini dia bertelanjang kaki.
Semilir angin dingin musim gugur bertiup sepoi-sepoi dan membuat helaian surai kelamnya pun bergoyang indah.
Dia menghela napas pasti. Satu demi satu langkah dia jalani dan ketika sudah tepat di pinggir sungai, Sasuke mencelupkan salah satu kakinya ke sana.
Dan refleks langsung mengangkatnya sejurus kemudian.
"Damn. So cold," umpatnya.
Coba bilang padaku air sungai mana yang tidak dingin di musim gugur.
Sekali lagi, Sasuke memantapkan niatnya. Dia mencelupkan kakinya yang lain dan dua detik kemudian pemuda itu langsung mengangkat kakinya cepat.
Coba bilang padaku orang mana yang mau bunuh diri tapi mengecek suhu airnya terlebih dahulu. Bilang padaku sekarang juga.
"Whatcha doing?"
Sasuke langsung menoleh cepat ke belakang ketika terdengar suara gadis yang sedari tadi dia tunggu. "I-ini tidak seperti yang kau pikirkan, Karin."
Karin tak menghiraukan perkataan Sasuke. Dia berjalan lurus menuju sungai tersebut dengan santai. "Kalau mau bunuh diri, ya langsung saja." Tepat sebelum tubuhnya jatuh dan dia basah kuyup, Sasuke menarik tubuh gadis itu dengan cepat.
"Are you crazy?!" seru Sasuke tak percaya. Karin terdiam. Dia mendelik tajam.
"Kau yang gila! Apa kau berniat melarikan diri hah?!"—duak. Satu low kick dialamatkan dengan mulus di betis kiri sang pemuda. Sasuke refleks berjongkok dan memegang kakinya yang baru saja mengalami musibah. Bukan main, rasa sakitnya luar biasa padahal gadis Uzumaki itu bukan anggota klub bela diri.
"Dasar sialan!" Belum puas dengan tendangan tadi, kedua tangan Karin yang gatal pun langsung menjambak rambut kelam sang pemuda. Dia mengguncang-guncangkan kepala pemuda itu tanpa ampun.
"Kau kenapa?!"
"Aku hamil, Bodoh!"
"HAH?!" Jambakan itu terhenti. Sasuke menatap gadis itu tak percaya sampai-sampai mulutnya pun membuka. "K-kau ... serius?"
"Tidak, aku bohong." Gadis Uzumaki itu berbalik dan berjalan menjauh. "Aku tidak hamil."
"Soal yang aku bilang mual dan merasa ada yang bergerak di dalam perutku itu karena kemarin aku baru saja merayakan pesta ulang tahun temanku. Aku makan banyak di sana. Lalu yang soal siklusku itu karena hormonku yang terganggu. Aku, kan sedang tertekan akhir-akhir ini dengan tugas yang menumpuk. Ah iya, sorry tidak memberitahukanmu soal pesta itu. Aku baru ingat."
Sasuke masih menatap gadis itu dengan pandangan cengo, kaget, dan terkejut.
Dua detik kemudian, terdengarlah sebuah teriakan yang membelah keindahan lazuardi sore berlembayung indah di musim gugur yang dingin ini.
"UZUMAKI KARIN!"
X.x.X
Lovable Couple (Okonomiyaki Girl and Her Prince)
Disclaimer: Naruto adalah hasil karya Kishimoto Masashi. Tidak ada keuntungan materi yang saya terima. Fanfic ini hanya untuk kesenangan semata
Warning: OOC, typo, AU
Summary: AU/Twoshot/Prekuel Blind Date/Rating T+/Berawal dari sebuah warung tenda okonomiyaki ketika dua insan itu sama-sama sedang patah hati. Teman lama yang sudah setahun lebih tak bertemu. Teman SMA yang dua hari kemudian tidur di ranjang hotel yang sama.
X.x.X
Sejak kejadian itu, hubungan mereka berdua pun semakin dekat. Malah terkadang Karin suka bermain di rumah Sasuke. Entah hanya sekadar mengunjungi pemuda itu atau ingin menumpang makan. Pernah juga dia sampai menginap di rumah sang Uchiha. Bukan modus atau apa, kebetulan dia habis pulang dari acara jalan-jalannya dengan teman kampusnya dan dia terlalu lelah untuk pulang ke apartemennya. Kebetulan saja rumah Sasuke tak terlalu jauh dari kampusnya.
Tapi ada pengecualian. Dia akan konfirmasi dulu pada si empunya rumah apakah di sana ada kakak sang pemuda apa tidak. Dia tidak mau jadi korban bully dari Uchiha Itachi perihal kejadian di malam ulang tahun Shion tempo hari. Sudah cukup dari sang Nyonya besar, tidak terima kasih untuk si anak sulung.
Sasuke juga tak jauh beda dari Karin. Berhubung apartemen Karin lebih dekat dengan kampusnya, pemuda itu suka menumpang makan atau bermalam di sana untuk mengerjakan tugas. Lumayan, daripada harus bermalam di kampusnya. Selain itu, Karin juga suka membantunya mengerjakan tugas.
Sama seperti hari ini. Berhubung semalam Sasuke lembur mengerjakan tugas dan sekarang adalah hari Sabtu, pemuda itu asyik menonton TV di ruang tengah sendirian sedangkan si gadis masih sibuk di kamarnya entah sedang apa.
Tak lama kemudian, terdengar pintu kamar Karin terbuka dan gadis itu dengan santainya berjalan menuju sofa tempat Sasuke tidur. Uchiha itu mengangkat kepalanya sedikit dan ketika Karin sudah duduk, dia pun kini menidurkan kepalanya di paha mulus gadis itu.
"Sasuke."
"Hm?" balasnya cuek. Sedari tadi dia asyik zapping guna menemukan acara yang cocok. Namun naas, sekarang hari Sabtu dan lebih banyak acara hiburan di channel-channel swasta.
"Ke SMA yuk."
"Hah?" Sasuke memalingkan wajahnya. "Mau apa?"
"Nostalgia~ tiba-tiba aku ingin ke sana," ujarnya imut sembari memanyunkan bibirnya.
"Baiklah, aku juga sekarang sedang bosan," Sasuke terdiam sebelum akhirnya pemuda itu menyerigai, "jangan memanyunkan bibirmu seperti itu. Nanti kucium lho."
Duak.
Sasuke bangun dan mengelus kepalanya yang sakit akibat terantuk sofa tiba-tiba. Dia melirik gadis yang kini membanting pintu kamarnya dengan keras.
X.x.X
Karin sibuk berjalan-jalan di gedung utama yang terdiri dari ruang guru, ruang staf, ruang Kepala Sekolah, dan ruang kelas tiga. Sasuke sendiri sedang asyik bernostalgia di lapangan sepak bola yang terletak tepat di samping gedung utama.
Pemuda itu tersenyum samar melihat lapangan sepak bola itu. Terlalu banyak kenangan di sana, dari dia mulai masuk klub sampai akhirnya menjadi kakak kelas tingkat akhir. Entah saat latihan pertama, saat dimarahi oleh pelatih, dan yang terakhir adalah saat dia menjadi MVP di pertandingan terakhir angkatannya.
Rasa rindu tiba-tiba membuncah begitu saja di dadanya. Ingin sekali dia kembali berkumpul dengan teman-teman lamanya dan kembali bercerita mengenai masa lalu mereka.
Puas bernostalgia di sana selama sepuluh menit, Sasuke beranjak menuju gedung II yang terdiri dari kelas satu dan kelas dua. Dia ingin pergi ke kelasnya yang dulu, kelas 1-5 yang terletak di lantai dua tepat di pinggir tangga.
Sasuke tersenyum tipis saat melewati koridor gedung tersebut. Dia masih ingat jelas ketika dia mengganti sepatu di loker, bercengkerama dengan teman-temannya, terlambat masuk kelas, dan hal lainnya. Tepat di samping kanan ruang loker, terdapat tangga menuju lantai dua dan di samping kiri ruang tersebut terdapat koridor terbuka yang menghubungkan gedung itu dengan gedung utama.
Pemuda itu memilih untuk menaiki tangga ke lantai dua. Dia terus naik sampai akhirnya di anak tangga terakhir dia berhenti.
Dia menoleh ke bawah. Uchiha muda itu masih ingat dengan jelas peristiwa sekitar empat tahun lalu, saat dia masih kelas satu. Ketika itu dia baru saja kembali dari perpustakaan di lantai tiga guna memanggil peserta Olimpiade Fisika yang akan ikut bertanding bersamanya. Ketika dia sampai di sisi tangga, kepalanya refleks menoleh ke bawah saat mendengar suara jatuh yang cukup keras.
Seorang gadis dengan rambut terkuncir satu terjatuh di depan tangga dan semua buku yang dia bawa berceceran ke mana-mana. Sasuke menoleh ke sekelilingnya. Tak ada siapapun di sana dan hanya dia yang melihat kejadian itu. Mau tak mau dia pun turun ke bawah dan menolong sang gadis.
Tanpa sadar kedua sudut bibirnya naik mengingat kejadian itu. "Di sinilah tempat di mana aku jatuh cinta pada Karin untuk pertama kalinya," gumamnya tanpa sadar.
"Jatuh cinta pada siapa?" sahut sebuah suara tepat dari bawah tangga. Seorang gadis berkacamata menaiki satu anak tangga pertama dan menyender ke dinding. Dia melipat tangannya dan mendongak. Senyum lembut terpatri di bibirnya.
Sasuke sendiri kalang kabut. "I-itu..."
Sang gadis malah tertawa pelan. "Kapan?"
Pemuda itu memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rona tipis yang mulai menjalarinya. "Saat kau terjatuh dan aku menolongmu."
Karin terdiam sebentar sebelum akhirnya berseru. "Ah! Aku ingat kejadian itu."
Dia pun mulai bercerita.
"Saat itu aku terburu-buru pergi ke perpustakaan untuk menemui Kakashi-sensei selepas pulang sekolah. Aku tiba-tiba ditambahkan sebagai peserta Olimpiade Fisika karena satu peserta tidak jadi ikut karena sakit. Aku melupakan janji itu dan malah sibuk mengerjakan pekerjaan rumahku di kelas. Ketika aku ingat, satu jam sudah berlalu dan aku terburu-buru membereskan bukuku. Aku masih ingat dengan jelas saat itu kotak pensilku dan tasku tidak tertutup dengan benar, ditambah waktu itu aku membawa buku paket dan buku catatan Matematika di tanganku. Karena aku adalah anak kelas 1-1 dan kelasku terletak di lantai satu, aku refleks berlari dan alhasil ketika baru sampai ujung tangga aku sudah terjatuh karena tidak menjaga keseimbangan," cerita Karin. Dia menahan senyumnya saat melihat Sasuke yang tampak tertarik dengan ceritanya.
"Aku sibuk mengeluh sakit pada sekujur tubuhku dan saat itu juga seorang anak laki-laki menolongku. Dia sibuk membereskan barang-barangku sementara aku mencari kacamataku yang terjatuh. Anak itu menyodorkan barang-barangku yang sudah tersusun rapi tepat saat aku menemukan kacamataku. Ketika aku memakainya kembali, aku sungguh kaget," Karin berdehem sebentar sebelum menaikkan volume suaranya, "pangeran sekolah menolongku!"
Kemudian gadis itu tertawa.
Sasuke tersenyum dan melanjutkan cerita gadis itu. "Aku menolongmu karena kulihat tidak ada murid lagi yang berkeliaran di sekitar sini. Kebetulan aku ada di sisi tangga dan melihat kejadian itu. Mau tak mau aku harus menolongmu. Ketika aku membereskan tasmu, tak sengaja aku melihat kartu peserta olimpiademu. Aku yang memang disuruh ke lantai satu untuk mencari peserta pengganti langsung menyimpulkan kalau ternyata kaulah yang disuruh Kakashi-sensei aku jemput. Setelah itu kita berkenalan dan bersama-sama ke lantai tiga menuju perpustakaan."
"Kita menjadi semakin dekat dari hari ke hari, bukan? Awalnya aku pikir kau murid yang menyebalkan karena begitu cuek bahkan saat aku memintamu mengajariku. Tanpa sadar, aku menaruh perhatian lebih padamu karena ternyata kau sebenarnya itu orang yang baik. Ketika olimpiade selesai, aku sudah putus asa karena tak dapat lagi mengobrol denganmu. Tapi ternyata kau menghampiriku di kelas."
"Itu karena pensilmu terbawa olehku. Aku takut kau tidak punya pensil lagi tahu."
"Hei!" Karin cemberut mendengarnya. "Tapi setelah itu muncul gosip yang tidak-tidak."
"Dan entah bagaimana awalnya kita benar-benar menjadi dekat dan bahkan menjadikan satu sama lain sebagai rival dalam berbagai hal."
Mereka berdua tersenyum.
"Kau ...," Karin kembali buka suara, "kenapa bisa jatuh cinta padaku?" Dia kembali ke topik semula.
Sasuke terdiam mendengar pertanyaan itu. Dia menghela napas panjang. "Saat aku pertama kali melihatmu, entah kenapa sekilas aku melihat wajah ibuku pada dirimu."
"Yang benar saja. Seingatku posisi jatuhku memalukan—ditambah sikapku berbanding terbalik dengan ibumu yang lembut."
"Kata siapa aku pertama kali melihatmu saat itu?" goda Sasuke jahil. Dia menahan senyumnya saat melihat wajah terkejut gadis itu.
Dia kembali melanjutkan. "Aku pernah melihatmu sekali di ruang kesehatan. Aku lupa detailnya seperti apa ... namun kalau tidak salah saat itu kakiku berdarah ketika sedang bermain sepak bola. Aku pertama kali melihatmu di sana, saat kau terbaring di sisi ranjang yang lain. Tapi setelah itu kau langsung mengubah posisi tidurmu."
"Hanya karena itu?"
"Tidak juga. Aku mendengar desas-desus tentang anak terpintar di kelas 1-1 dan yah ... kau tahu. Gosip selalu tersebar ke mana-mana. Tapi jujur, aku merasa senang saat tahu bahwa kau ikut Olimpiade Fisika waktu itu."
"Ish, jadi kau menyukaiku ketika aku terjatuh, begitu?"
"Bisa dibilang," Sasuke tersenyum. Dia mencondongkan tubuhnya dan menatap wajah gadis itu lamat-lamat. "Karin..."
"Hm?" Karin berjalan menuju sisi tangga yang lain dan mendongak, menatap Sasuke yang tepat berada di atasnya. "Apa?"
"Ketika aku bertemu denganmu di warung tenda waktu itu, aku merasa semuanya akan berubah."
"Maksudmu?" Karin mengernyitkan alisnya heran. Dia menatap Sasuke tak mengerti.
Pemuda itu sendiri terdiam. Kedua sudut bibirnya naik dan pembuluh vena di wajahnya melebar. Tanpa sadar jantungnya berdegup dua kali lebih kencang.
Sasuke menghela napas panjang.
"Ternyata aku jatuh cinta padamu lagi. Untuk kedua kalinya."
Gadis itu terdiam. "A-apa?" ujarnya gugup sembari menahan dirinya untuk tak memerah menyamai warna rambutnya.
Karin mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia bisa merasakan kalau seluruh oksigen di sekitarnya terenggut dan tanpa sadar dia pun menahan napasnya. Tapi gadis itu tersenyum malu-malu. Bahkan pipinya kini terasa sangat panas.
"Kupikir aku mengalami hal yang sama denganmu. Gejala yang membuatku tidak bisa tidur karena selalu memikirkan kenapa jantungku berdetak lebih cepat ketika aku bersamamu."
X.x.X
Karin masih asyik sibuk chatting dengan kekasihnya ketika dia ingat bahwa dia ada kelas setengah jam lagi. Ponselnya dia lempar asal dan ketika dia terbangun dari posisi berbaringnya, dia baru sadar kalau dia baru saja melempar hadiah ulang tahun dari ayahnya enam bulan yang lalu.
"Argh shit!" umpatnya kesal. Tidak mau membuang-buang waktunya dengan meratapi ponsel keluaran terbarunya itu, Karin segera membuka lemari dengan cepat, mengganti baju, mengambil mantel dan syalnya, mengambil tasnya di kasur, memakai sepatunya asal, dan kemudian keluar dari apartemennya dengan terburu-buru.
Mana ada adegan hampir terpeleset di tangga lagi.
Berhubung gadis itu tinggal di lantai dua, dalam keadaan terburu-buru seperti ini, dia lebih memilih menggunakan tangga darurat dibanding menunggu kotak besi panjang itu mengantarnya ke satu lantai di bawahnya.
Ketika sudah sampai di lantai dasar, Karin langsung berlari menuju pintu utama sembari tetap mengecek tasnya. Untunglah tidak ada barang yang tertinggal.
Dia kembali mengumpat kesal saat sadar harus menyeberang jalan untuk menunggu bus di halte di seberang gedung apartemennya itu. Masalahnya adalah ... kenapa tiba-tiba jalanan menjadi ramai?
Dia menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal. Baru saja ingin menelepon taksi, sebuah taksi kosong melaju ke arahnya dan tanpa pikir panjang dia pun menyetopnya.
"Universitas Konoha," ujarnya langsung ketika membuka pintu belakang dan duduk di sana.
Karin sibuk menenangkan dirinya yang panik. Dia berharap semoga dia tidak telat datang dan melewatkan kelas dari dosen killer-nya. Gadis itu menghela napas panjang. Punggungnya dia senderkan pada kendaraan yang akan membawanya menuju instansi penunjang masa depannya.
X.x.X
Ketika dia pulang, gadis itu sama sekali tak terkejut ketika mendapati sepatu laki-laki berada di antara jajaran sepatunya—toh Sasuke sendiri sudah mengetahui password apartemennya dari dulu. Dia menghela napas panjang. Apa Sasuke datang untuk memarahinya?
"Oke, oke aku tidak membalas chat-mu. Ponselku rusak karena tidak sengaja aku lempar," ujarnya begitu masuk ke ruang tengah. Dia menaruh tasnya di samping sofa yang dia duduki. Mantel dan syal yang melilit lehernya dia lepas dan ditaruhnya di sofa tunggal di samping sofanya. Dia melirik Sasuke di sebelahnya takut-takut. "Sorry..."
Sebuah ponsel berwarna putih keperakan tersodor ke arah gadis itu. "Ponselmu sudah kubenarkan," ujar Sasuke santai.
Karin kaget dan menerima ponselnya dengan senang. Tidak sia-sia punya kekasih anak elektro. Dia menyikut pelan lengan pemuda di sampingnya. "Thank you~"
"Tapi tadi awalnya memang sulit kunyalakan. Jadi aku membelikanmu ini," timpal Sasuke sembari mengangkat boks kecil dan langsung diserahkannya pada sang gadis.
Gadis Uzumaki itu menerimanya dengan heran. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya berkata, "Ini? Ponsel baru? Untuk apa?"
Sasuke mencubit pipi tirus gadis itu. "Tadi, kan sudah kubilang kalau ponselmu susah kunyalakan. Tapi ternyata setelah kucoba lagi baru ponselmu itu bisa menyala. Mengerti, Nona?"
"Aa! Iya! Iya! Sudah lepaskan!" serunya sembari melepas paksa tangan Sasuke dari pipinya, "sakit tahu..."
Sebuah tangan dengan santainya mengacak rambutnya yang sudah tersisir rapi. "Simpan saja ponsel yang kubelikan itu. Atau mau kau jadikan ponsel khusus untuk berhubungan denganku?"
Karin menatap kekasihnya itu takjub. Tidak sia-sia berpacaran dengan anak konglomerat. "Boleh memangnya? Tapi bukankah kau membeli ini dengan kartu ayahmu?"
"Ayahku tahu kok. Aku sudah minta izin. Lagipula itu bisa dijadikan cadangan kalau-kalau ponselmu rusak," balas Sasuke santai sembari merangkul pundak gadis itu. Karin menatap boks ponsel yang dia pangku dengan senang. "Thanks a lot!"
Sebuah kecupan pun mendarat di pipi kiri sang pemuda.
X.x.X
"Aku bisa gila. I'm going crazy!"
Sasuke hanya bisa menghela napas untuk kesekian kalinya. Dia tidak tahu harus merespon seperti apa pada curhatan tiga puluh menit kekasihnya itu. Matanya melirik arloji hitamnya. Sudah tiga puluh dua menit lebih tepatnya. Dia mengambil sushi ikannya dengan santun kemudian mengunyahnya.
"Teman-temanmu itu terlalu terobsesi apa bagaimana sih?"
Karin menatap pemuda di sampingnya itu tajam. Kalau tidak ingat mereka sedang berada di restoran sushi, gadis itu sudah teriak-teriak atas respon cuek yang diberikan oleh kekasihnya itu.
"Sasuke," rajuknya sembari menggoyangkan kakinya di bawah meja, "aku harus bagaimana? Aku selalu bilang kalau aku sudah punya kekasih, tapi mereka tidak percaya. Katanya karena mereka belum pernah melihat aku berjalan bersama kekasihku."
Dengan tenang, Sasuke mengambil ocha-nya. "Kau yakin masih tidak ingin kuantar-jemput? Supaya teman-temanmu juga percaya kalau—"—duak.
"Uhuk! Uhuk!" Sasuke memukul dadanya yang baru saja tersedak. Beginilah sulitnya punya kekasih yang terkadang bisa bersikap tak berperikemanusiaan. Belum lagi tulang keringnya yang baru saja ditendang oleh gadis yang duduk di hadapannya.
"Kau," tunjuk Karin menggunakan sumpit yang dipegangnya, "berani memboncengku dengan motormu itu ... kupastikan kau yang lebih dulu masuk rumah abu."
"Ayolah, namanya juga laki-laki. Kalau ngebut itu hal biasa."
"Tapi aku belum mau masuk rumah abu, Bodoh!" Karin mengambil sushi cuminya dan mengunyahnya dengan kesal. "Ketika kau mengantarku dengan mobil Itachi-san saat ke pesta ulang tahun Shion-san waktu itu dengan aman saja aku sudah merasa bersyukur."
"Itu karena yang kupakai adalah mobil Niisan. Mana berani aku macam-macam dengannya. Lagipula aku saat itu belum punya SIM, kalau aku kena tilang karena berkendara di atas kecepatan rata-rata, bisa dibunuh aku nanti," jelas Sasuke sembari mengambil sushi ikan di hadapannya.
Karin menghela napas pasrah. Dia menelungkupkan kepalanya di atas meja. "So ... what should I do? Aku benar-benar malas pergi ke tempat seperti itu. Ini sudah terulang untuk kesekian kalinya, Sasuke..."
Pemuda di hadapannya masih asyik makan dengan tenang. "Aku juga mengalami hal yang sama denganmu tahu. Tuh, sepupumu."
Gadis Uzumaki itu mengangkat kepalanya. "Aku tidak heran ...," lirihnya pasrah sejurus kemudian.
"Tidak marah?"
"Untuk apa marah?"
Mereka berdua sama-sama terdiam. Sasuke dan Karin saling berpandangan lalu kemudian berjabat tangan.
"I feel you, Bro."
"Yeah, I feel you too."
X.x.X
"Sasuke kumohon. Kepalaku bisa meledak jika kau tidak menuruti permohonanku kali ini. Aku diajak kencan buta lagi oleh mereka dan ini akan menjadi kencan buta terakhirku jika aku membawa kekasihku ke sana. Jadi, aku mohon datanglah bersamaku," pintanya penuh harap sembari menyisir rambutnya di depan cermin.
Orang di ujung telepon sana menghela napas pasrah. "Aku juga diajak kencan buta oleh sepupumu. Jam tujuh nanti."
Karin menggeram kesal. Dia menatap bayangannya sendiri dengan tajam. "Ini konspirasi, Sasuke. Pasti ada link yang menghubungkan antara mereka dengan teman-temanmu."
"Tentu saja ini konspirasi. Naruto bilang kalau sepupunya akan datang ke kencan buta kali ini."
"Oh My God..."
"Jadi bagaimana? Kapan aku menjemputmu?"
Gadis itu melirik jam dinding yang tepat tergantung di atas meja riasnya. "Sekarang juga bisa. Aku sudah siap kok."
"Aku bawa mobil, motorku masih di bengkel."
"Oke, oke. Kutunggu. Begitu sampai sana, kau lebih dulu masuk, oke? Aku akan menyusulmu lima menit kemudian."
"Roger, Nona."
Setelah itu sambungan pun terputus. Karin menghela napas panjang sembari membenarkan riasannya di depan cermin.
Sorot matanya berubah. Dia mengepalkan tangannya erat dan menatap bayangannya dengan berapi-api.
"Tunggu saja. Kencan buta yang menyebalkan ini akan segera berakhir!"
...
Setengah jam kemudian, Sasuke dan Karin berhasil membuat seluruh orang di meja nomor tujuh berteriak terkejut—kecuali dua orang.
Owari
Review Reply Area:
Erry-kun: khusus buat lo cukup dengan bertatap muka saja.
Syalala Lala: udah kuperbaiki haha. Wah makasih lo udah ngereview panjang lebar kayak gitu. Seneng deh :)
yana kim: makasih ya udah ngereview. Wah ini fanfic SK-ku yang pertama kali kamu review lho haha. Btw, fanficmu bagus deh ada perkembangannya dari chapter satu sampai chapter sepuluh.
Terima kasih banyak bagi yang sudah mereview (fave juga follow) fanfic ini.
...
Oneshot yang diubah menjadi twoshot.
Saya baru saja mengalami musibah (walaupun sebenarnya terjadi sekitar tiga minggu yang lalu). Flashdisk saya yang berharga, yang berisi data-data penting mulai dari tugas sekolah, musik, foto, sampai fanfic, hilang. Akibatnya ada tujuh fanfic yang siap publish (tujuh kalau saya tidak salah ingat), lima di antaranya SasuKarin, pun hilang tak berbekas. Alhasil saya harus mengetik ulang, termasuk fanfic ini.
Sebenarnya karena insiden FD hilang itu, ada beberapa detail yang saya ubah karena saya tidak mengingat detail di fic itu sampai akhirnya fic ini pun menjadi seperti ini (ada juga yang saya ubah karena ga cocok). Tapi overall walaupun lebih asyik ngetik di fic yang pertama (yang sebelum FD hilang), di sini semuanya lebih kesusun dan detailnya lebih diperhatikan (saya pribadi paling suka adegan yang di tangga hehe).
Saya heran kenapa lebih nyaman ngetik dengan gaya seperti ini. Maybe because this style suit me well?
Ada beberapa adegan yang emang terinspirasi dari K-drama. Saya juga heran kenapa style nulis saya malah jadi kayak gini (jadi kayak K-drama). Kalau ada genre K-drama, saya masukin nih fic ke genre itu. Bagi yang familiar dengan K-drama mungkin ngerti apa yang saya maksud di sini. Oh iya, adegan menusuk makanan terinpirasi dari Pinocchio, adegan bunuh diri terinpirasi dari Heard it Through Grapevine, dan adegan penjelasan Karin soal kebanyakan makan terinspirasi dari Playfull Kiss.
Btw, apakah ada plothole di sini?
Omake
Sasuke baru saja keluar dari kampusnya dengan wajah kusut. Dia baru saja dimarahi oleh dosennya karena telat mengumpulkan tugas, belum lagi adegan saat kekasihnya memutuskannya kemarin sore masih terbayang di kepalanya.
Ah iya, dia hampir saja melupakan pesta ulang tahun calon kakak iparnya itu. Ditambah lagi ini. Mana sempat dia membeli hadiah untuk Shion kalau selama ini pikirannya hanya tersita untuk tugas dan hal itu.
Pemuda itu memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum kembali ke rumah. Lagipula bus pasti sedang ramai pada jam-jam segini.
Karena dia belum makan dari siang, ditambah cuaca yang dingin, perutnya pun berbunyi. Sasuke terus berjalan mencari tempat makan yang enak. Dia terus berjalan sampai akhirnya tak sengaja melihat sebuah warung tenda.
Sasuke tersenyum tipis. Saat itu juga dia baru teringat perkataan temannya kalau ada warung tenda okonomiyaki enak yang terletak di Blok 2.
Mengingat makanan itu, mau tak mau otaknya langsung menampilkan memori seorang gadis bersurai merah terang berkacamata. Teman SMA-nya dulu yang sangat menyukai okonomiyaki.
Dia menahan senyumnya. Warung tenda tersebut berada di seberang sana dan dia harus—beruntunglah dia! Sekarang lampu merah dan lampu pejalan kaki berwarna hijau. Sasuke langsung melangkahkan kakinya cepat dan langsung meninggalkan tempatnya semula.
Pemuda itu terus berjalan menuju warung tenda tersebut. Ketika dia baru saja sampai di pintu warung itu, netra kelamnya langsung menangkap sesosok gadis yang duduk di dekat penggorengan—dekat dapur. Gadis yang baru saja dia pikirkan beberapa saat yang lalu.
Tanpa sadar kedua sudut bibirnya naik.
"Siapa yang menyangka kalau aku bisa bertemu dengan Gadis Okonomiyaki di sini."
