I WILL TRY TO TRUST YOU
Cast : Uzumaki Naruto , Gaara , slight NaruSasu
Genre : Romance , Hurt/Comfort , Friendship
Rate : masih T
WARNI:YAOI,BXB,HOMO,MAHO,GUY,RAPE,LEMON,ALURGJ,TYPOBERSERAKAN
HALLO MINNA-SAN! KYUU BALIK LAGI. EMANG KYUU INI AUTHOR MASIH BAU KENCUR, JADI TOLONG PENGERTIANNYA YAA. HEHEHEH, TAPI KYUU BAKAL BERUSAHA KOK BIAR FF KYUU BANYAK YANG REVIEW. HAHAHAH :-D
SO, PLEASE ENJOYED! ;-)
"Hiks..hiks..kaa-san,tou-san" Naruto menangis sejadi-jadinya setelah menggali dan menceritakan masa lalunya yang pernah membuat keluarga kecilnya ini menjadi korban atas perbuatannya, dan hampir membuat Naruto meninggalkan keluarga kecilnya ini.
"Sudahlah Naruto, itu sudah masa lalu biarkanlah menjadi pelajaran untukmu. Lagipula tou-san salut padamu, kau bisa menjadi pribadi yang dewasa saat mengalami hal itu. Kau juga sudah menjaga cintamu sebaik yang kau mampu, hanya saja ketika itu kalian masih belum waktunya memikirkan hal sejauh itu. Apalagi kalian ingin menjauh dari pengawasan orang tua kalian, ku rasa itu benar-benar belum waktumya, makanya Sasuke lebih memilih ambisi dan egonya daripada dirimu dan semua yang kau lakukan untuknya" jelas Minato.
"Iya Naruto, ayolah jangan terpuruk dengan masa lalumu. Kaa-san juga dengar dari teman sekolahmu bahwa semenjak kejadian itu kau selalu menolak orang-orang yang menyatakan cintanya padamu" sahut Kushina. Naruto pun menoleh pada kaa-sannya dengan kaget, bagaimana ibunya ini tau kalau ia masih terpuruk dengan masa lalunya.
Mengerti arti tatapan anaknya, Kushina pun bicara "kami masih mengkhawatirkanmu Naruto, maka dari itu kaa-san menyuruh beberapa temanmu untuk memperhatikanmu. Kami takut kau melakukan hal-hal yang nekat dan membahayakan dirimu sendiri. Tapi setelah mendapatkan semua informasi tentangmu di luar rumah, kami memutuskan untuk percaya padamu dan memperbolehkanmu mengambil keputusan setelah kau menyelesaikan SMA-mu. Lagipula itu masa depanmu sendiri, jadi kau harus matang-matang memikirkannya. Dan kami yakin kau sudah memikirkannya, bukan begitu?" Kushina memberI penjelasan pada anaknya dengan senyuman manisnya.
"Kenapa?" lirih Naruto sembari menundukkan kepalanya dan mengepalkan tangannya.
"KENAPA KALIAN MELAKUKAN SEMUA INI PADAKU? AKU SUDAH MERUSAK KEBAHAGIAAN KALIAN? KENAPA?!" Naruto berteriak, tangan yang ia kepalkan kini berpindah mencengkram kepalanya, tangisannya pecah tidak bisa ia pendung lagi.
Kushina dan Minato saling memandang setelah mendengar teriakan anak tunggalnya, seakan mengerti pikiran masing-masing, mereka pun memutuskan memberikan jawaban pada anaknya.
"Karena kau adalah anak kami"
Deg
Naruto yang menunduk pun akhirnya mengangkat kepalanya sambil membulatkan matanya setelah mendengar jawaban kedua orang tuanya lalu melihat ke arah tou-sannya dan kaa-sannya.
"Kebahagiaan kami adalah dirimu, Naruto. Maka dari itu kami percaya padamu, kami mohon padamu bahagiakan kami. Kaa-san percaya kau tidak akan salah memilih keputusan untuk masa depanmu. Jika kau bahagia, kami juga ikut bahagia. Itulah kebahagiaan kami, bukankah begitu tou-san?" Minato tersenyum menanggapi pertanyaan istrinya.
"Kaa-san.. hiks hiks, aku berjanji akan membahagiakan kalian. Hiks.. hiks.. hiks..arigattou,," Naruto menangis memeluk Kushina, Minato pun tersenyum melihat pemandangan di depannya. Ia pun tidak bisa menahan tangannya untuk mengelus puncak kepala Naruto, ia beruntung di anugerahi anak seperti Naruto.
.
.
.
.
Sungguh , semalam adalah tidurnya yang paling nyenyak. Akhirnya ia bisa mendapatkan kepercayaan orang tuanya lagi, mulai sekarang ia akan menjalankan rencana untuk masa depannya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membahagiakan orang tuanya bagaimana pun caranya. Ia akan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran dan tidak terjebak untuk yang kedua kalinya. Ia benar-benar akan memikirkan rencana masa depannya matang-matang. Hmmm,, atau bisa ia sebut sebagai cita-citanya, ia pasti akan meraihnya. Dengan itu ia bisa mengejar Teme-nya, hanya itu satu-satunya jalan yaitu meraih cita-citanya.
Orae juhnbutuh nuhreul wihae junbihan
Nae sone bitnaneun banjireul badajwuh
Oneulgwa gateun maeumeuro jigeumui yaksok giuhkhalge
Would you marry me? Na..na..na..naaa~..
Naruto menyanyikan lagu yang ia dengar dari airphone miliknya, sambil melihat pemandangan dari jendela bus. Ia menarik sedikit ujung bibirnya membuat sebuah senyuman kecil, ia lega saat ia sudah membicarakan semua isi hati dan keinginannya pada kedua orang tuanya tadi malam.
.
.
FLASHBACK ON
"Tou-san, kaa-san, aku sudah memutuskan langkah apa yang ku ambil setelah ini." Naruto berkata yakin pada kedua orang tuanya.
Setelah mereka mengakhiri drama dan menengarkan curahan hati Naruto. Akhirnya mereka memaksa Naruto untuk mengatakan tujuannya setelah resmi lulus SMA saat wisuda besok.
Menarik nafas sebentar lalu membuangnya, Naruto pun melanjutkan kata-kata yang sempat tertunda "tetapi aku ingin memohon izin kepada kalian, dan aku berharap untuk kali ini percayalah padaku. Aku janji tidak akan merusak kepercayaan kalian lagi, dan aku juga berjanji tidak ada rahasia lagi dalam hidupku untuk kalian. Jadi kalian tidak perlu mencari info tentangku dari teman-temanku atau mengkhawatirkanku lagi. Tugas kalian hanya percaya dan memberi dukungan padaku, dan…." Naruto menatap kedua orang tuanya dengan tatapan serius, dan saat melihat ayahnya ia pun melanjutkan perkataannya dan menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya.
"tou-san tolong damai dengan kakek yaa, Pleaaaaassseee!" Naruto memandang tou-sannya dengan mata yang penuh dengan linangan air jatuh dari matanya atau kita sebut air mata buaya, pose wajah yang memelas, ingusnya melumber kemana-mana. Hahahah, jangan Tanya Minato harus berbuat apa?
"Ahh, sudah sudah hentikan wajah mengerikanmu itu Naruto. Menjijikan sekali, lihatlah tou-san sampai OOC begini, lalu apa maksudmu menyangkut-nyangkut kakek mesum itu hah?!" Minato membentak anaknya yang membawa nama kakek-kakek yang menyebalkan menurutnya. Minato dengan orang tuanya juga sudah lama memiliki masalah yang belum terselesaikan. Masalah saat Naruto terkena masalah saat itu, kakek Naruto menyuruh Minato agar menyerah pada anaknya yang tega mengacuhkan keluarganya. Berhubung ikatan keluarga mereka bisa di bilang terlalu kuat, akhirnya Minato dan Kushina membantah keinginan yang tidak wajar kedua orang tua Minato. Bagaimana bisa orang tua mencampakkan anaknya, seburuk apapun anaknya itu adalah tanggung jawab orang tua. Bukan begitu?
"Sebenarnya apa rencanamu Naruto? Kau tau kan kakek mesum itu bertengkar dengan tou-san gara-gara masalahmu waktu itu"
"Aku tau tou-san, tapi aku membutuhkan kakek. Aku ingin melanjutkan sekolahku di Seoul tou-san,kaa-san" Naruto menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Kau serius Naruto?" Tanya Minato dan Kushina secara bersamaan.
"Tentu saja, aku sangat serius. Kalian tau kan aku suka sekali dengan musik, bukankah kakek harusnya bangga padaku karena bakatnya turun padaku. Lalu untuk apa kakek mendirikan sekolah musik tetapi salah satu keluarganya tidak ada yang sekolah disana, kan mubadzir(?) namanya" Naruto memulai khotbahnya(?).
Akhirnya Minato menhela nafas pendek, sepertinya ia mulai menyerah dengan sifat keras kepala versi Kushina mini ini.
"Hhhh! Yasudahlah, lusa setelah hari wisudamu kita akan ke Seoul, kita bicarakan bersama kakek dan nenekmu. Kau juga harus siap-siap jika kau memang mencintai musikmu, karena tou-san yakin kakekmu tidak akan segan-segan jika masalah tentang musik. Kau mengerti?"
Naruto pun mengangguk mantap sembari tersenyum cerah setelah mendapat persetujuan tou-sannya.
"Baiklah, sekarang naiklah ke kamarmu sudah larut. Ayo kita juga Kushina"
Akhinya mereka bubar ke habitat masing-masing dan mengucapkan selamat tidur bersama.
FLASHBACK OFF
"Oi anak muda, kau mau turun atau tidak?" Tanya sopir bus pada Naruto.
Naruto tersentak dari lamunannya, ia tidak sadar jika sudah sampai di depan sekolahnya.
"Ah maaf, terimakasih paman" ucap Naruto sambil tersenyum ke arah sopir bus.
.
.
Naruto berhenti di depan gerbang sekolahnya dan melihat gedung sekolahnya, tidak terasa ia sudah menjalani hidup sendiri tanpa orang yang dicintainya. Dua tahun sudah ia berusaha melupakan orang terkasihnya, tetapi tetap tidak bisa ia lakukan. Yah mungkin karena sekolah ini, disini ia bertemu dan memulai awal menjalin kasih dengan dia makanya ia susah untuk menghilangkan perasaannya.
Naruto berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ruangannya, bisa di bilang saat ini suasana sekolahnya ramai mengingat jika hari ini adalah hari wisudanya. Ia tidak sabar pergi ke Seoul untuk menjalankan rencana untuk masa depannya nanti.
"Oiii Narutoooo!" sapa segerombolan anak dari arah belakangnya.
Ia pun menoleh dan memberikan cengirannya sembari mengangkat tangan kanannya ke atas berniat membalas sapaan teman-temannya.
"Yo Yahiko, Nagato, Sasori, Dei-chan, Hidan, Konan-chan!" mereka pun ber-high five ria.
"Hei jangan panggil namaku dengan embel-embel chan, dasar kepala jabrik kuning sialan! Lihatlah kau jadi seperti durian!" sengit Deidara.
"Hei hei sudahlah jangan bertengkar seperti itu, ini aku sudah siapkan pisau masing-masing satu ya." Kata Pain melerai. Entah dari mana ia dapatkan pisau itu, mungkin mencuri di dapur tetangga mana tau.
"DASAR IDIOT!" teriak Naruto dan Deidara.
"Haduh kalian ini tidak bisa kah bersifat seperti manusia normal hah?" Hidan berniat menengahi.
"Diamlah kakek tua, kau juga manusia tidak normal. Lihatlah rambutmu itu kau apakan? Style-mu tidak modis sekali." Kata Deidara dengan pandangan tajam ke arah Hidan.
"Iya, kau itu apa tidak tau yang namanya seni? Benar-benar norak sekali. Kau tau rambutmu seperti kucing kecemplung(?) jamban(?)" Sasori ikut-ikutan.
"Diam kau wajah bayi! Tidak ada yang mengajakmu bicara! Kalian tau, aku sudah habis uang banyak ke salon untuk mewarna rambutku dan meluruskannya. Karena ajaran Dewa Jashin itu harus menempuh jalan yang lurus, dan aku mewarna rambutku menjadi putih karena artinya bersih" Hidan menjelaskan maksudnya dengan wajah yang bersungut-sungut.
"Menempuh jalan lurus kan bukan berarti rambutmu kau luruskan kakek, dan percuma jika rambutmu putih jika kau tak pernah mandi sama saja tidak bersih" Konan pun ikut-ikut berdebat sesuatu yang tidak penting ini.
Akhirnya Hidan pun bungkam, memang benar ia jarang mandi karena ia malas jika harus mengantri di kamar mandi apartement kumuhnya yang hanya disiapkan satu kamar mandi untuk semua penghuni apartemen.
"Kalian sedang apa disini huh? Cepat kalian ke Aula sebelum acara di mulai, dan pastikan wali kalian datang. Mengerti?" suara seorang guru pun menginstrupsi obrolan mereka.
"Tetapi sensei, kau kan tau bahwa kami tidak memiliki siapapun untuk menjadi wali kami. Yah kecuali Naruto, sensei juga tau bahwa semua masalah sekolah kami urus sendiri" kata Konan.
Sang guru pun baru ingat dan merasa bersalah, ia lupa bahwa mereka adalah anak dari panti asuhan yang di sekolahkan oleh pemerintah.
"Tunggu sensei, apa bisa jika orang tuaku yang menjadi wali mereka? Lagipula wali tidak terlalu di butuhkan untuk acara ini" usul Naruto.
"Yah baiklah terserah kalian, kuurasa Kepala Sekolah bisa mengerti tentang keadaan kalian" ucap Guru itu sembari tersenyum.
"Osh, kami akan ke Aula sekarang" sahut Naruto sambil mengajak teman-temannya berjalan menuju Aula.
.
.
.
Setelah selesai acara, para murid pun bubar dan keluar dari Aula dan membuat kenang-kenangan dengan teman-teman mereka. Begitu pun dengan Naruto dan kawan-kawan, mereka berencana untuk mampir ke rumah Naruto dan menginap.
"Paman, Bibi terima kasih sudah menjadi wali kami" kata Konan pada Minato dan Kushina.
"Tidak apa, bukan masalah besar. Dan jangan sungkan-sungkan dengan kami, kalian juga. Anggap kami adalah orang tua kalian, kami akan menunggu kalian di rumah" jawab Kushina sembari tersenyum manis pada teman-teman Naruto.
Minato dan Kushina pun menaiki mobil mereka dan memutuskan untuk pulang. Sedangkan Naruto dan teman-temannya berjalan ke arah halte bus untuk menunggu bus datang bersama-sama berkunjung ke rumah Naruto.
Perjalanan mereka pun di selingi oleh tawa bersama, bercerita, dan jangan lupa mereka tak luput untuk mengejek satu sama lain. Dan tak terasa mereka pun sampai di rumah Naruto dan berkumpul bersama-sama dengan kedua orang tua Naruto. Mereka paling senang jika berkunjung di rumah ini, karena mereka bisa merasakan perasaan hangat yang tidak pernah mereka rasakan. Perasaan memiliki keluarga, yah semacam itulah.
"Hiks..hiks..hiks" Konan tiba-tiba menangis. Semua mata pun menoleh ke arahnya.
"Konan-chan kenapa sayang?" Tanya Kushina yang duduk di sebelahnya.
"Hiks aku tidak mau hiks berpisah dengan kalian hiks hiks" Konan pun menjawab dengan nada bergetar di tengah tangisannya.
Jadilah semua teman-teman Naruto merasa sedih, mereka berfikir setelah semua lulus pasti memiliki kesibukan masing-masing dan tidak bisa berkumpul seperti ini lagi
Naruto yang melihat kesedihan pada teman-temannya pun akhirnya angkat bicara.
"Tidak! Kita akan tetap bersama setelah ini, kita akan berjuang bersama lagi. Aku membutuhkan kalian, jadi kalian tidak boleh jauh-jauh dariku" jelas Naruto secara tegas.
Semua melihat ke arah Naruto yang dengan tatapan 'apa maksudmu?'. Naruto yang mengerti tatapan mereka pun akhirnya menjelaskan.
"Aku mengerti kalian ini tidak punya cita-cita dan tujuan hidup, maka dari itu aku ingin mengajak kalian untuk menata hidup kalian yang tidak jelas asal-usulnya" jelas Naruto.
"Hei durian, kau berniat mengejek atau menghina kami huh?" sungut Deidara.
"Tenanglah Dei-chan, dengarkan dulu penjelasanku. Aku ingin mencapai cita-citaku, karena itu aku membutuhkan kalian".
"Bukankah cita-citamu menjadi artis Go Internasional, kau tau kami tidak memiliki bakat apapun" putus Konan.
"Bukan kalian tidak bisa, hanya saja kalian malas belajar. Dan untuk kali ini aku mohon kalian membantuku, aku janji jika kalian sudah bisa paling tidak mengikuti kemampuanku yang sekarang, aku yakin setelahnya kalian akan menikmatinya. Kalian tau kan bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak suka dengan musik, begitu juga dengan kalian. Bagaimana? Aku akan mengajari kalian nanti untuk persiapan tes masuk ke Universitas SM International di Seoul"
"UAPPAA? SEOULL?" Semua penghuni berteriak kaget saat mendengarkan penjelasan terakhir Naruto. Bukan hanya teman-temannya saja, bahkan Minato dan Kushina pun juga kaget. Sebenarnya apa yang di pikirkan oleh anaknya ini? Benar yang punya sekolah kakeknya Naruto, tapi kan kalau suruh nyekolahin teman-temannya juga kan bisa bangkrut kakeknya.
"Naruto, apa maksudmu? Kau kan tau tou-san sedang ada masalah dengan kakekmu, kenapa kau tambah-tambahi lagi?" tegur Minato.
"Tenanglah tou-san, aku akan mengurus masalah tou-san dengan kakek. Maka dari itu kita harus cepat-cepat berangkat ke Seoul, karena aku juga ingin meminta bantuan orang disana untuk mengajari mereka nanti" Naruto melihat ke arah satu persatu temannya.
"Memangnya siapa yang akan kau temui disana? Sejak kapan kau mempunyai teman disana?" Tanya Minato heran.
"Ah bukan teman, lebih tepatnya seorang Paman. Iya kan kaa-san?" Naruto mengalihkan pandangannya ke arah Kushina sembari tersenyum.
Kushina pun ikut tersenyum dan berkata "iya, aku juga rindu sekali pada rubah kecilku. Bukankah sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu dengannya".
"Tapi Naruto, kita masih belum ada biaya untuk berangkat ke Seoul. Kau tau kan keadaan kami? Jika kau bisa menunggu sedikit lama mungkin kami bisa mencarinya" kata Hidan dengan nada penyesalannya.
Naruto yang mengerti apa maksud Hidan pun berkata "Kalian tenang saja, aku akan mengurusnya".
"Apa maksudmu Naruto? Dapat darimana kau uang sebanyak itu?" Tanya Minato heran, sebab Naruto tidak bekerja. Pulang sekolah langsung pulang, uang dari mana coba.
"Aku bekerja santai tou-san, aku hanya mengarangkan lagu untuk seseorang yang menyewa jasaku lalu merekam dan me-mixingnya lewat aplikasi NUENDO yang ada di laptop milikku. Setelah itu ku jadikan kaset lalu kukirimkan lewat Kantor Pos. Dan satu lagu projek yang aku buat, aku bisa mendapatkan paling sedikit 600 ribu rupiah, lalu ku masukkan rekening tabungan milikku. Dan karena rencana ini sudah kususun dari awal jadi aku harus memenuhi target. Dan sekarang uang yang ada di tabunganku mungkin sudah cukup setelah aku bekerja mengarang lagu selama 3tahun ini." Jelas Naruto.
Mereka pun hanya bisa diam, kagum dengan usaha Naruto selama ini. Orang tuanya pun baru tahu jika anaknya sudah ada kemajuan sepesat ini, jika begini mereka tidak akan ragu lagi bila harus membiarkan Naruto mencapai cita-citanya.
"Baiklah, aku harap lusa kita sudah harus siap berangkat ke Seoul. Karena aku sudah memesankan tiketnya, tou-san dan kaa-san juga ikut ya? Aku sudah pesan 9 tiket untuk kita, heheheheh" Naruto tidak bisa menyembunyikan nada gembiranya.
Teman-temannya hanya bisa menangis dalam hati, sedangkan Konan sudah menangis tersedu-sedu. Begitu pula dengan Minato dan Kushina, mereka benar-benar tidak percaya dan yang dilakukan Naruto selama ini di luar dugaan mereka.
.
.
.
.
.
Seoul, Universitas SM International
"HUWAAAAAHHH SUPER JUNIOOORRR" teriakan membahana yang rata-rata dari kaum Hawa ini.
Dari dalam dua mobil merah bermerk Honda Accord keluarlah 13 orang pemuda tampan nan menawan yang menjadi idola para kaum Hawa ini.
"Ck, mendokusai. Kenapa tiap hari kita di beri makan teriakan yang tidak ada merdunya sama sekali sih?" kata salah satu pemuda berambut nanas dengan nada malasnya sembari mengorek-ngorek telinganya secara bergantian.
"Ku kira kau sudah terbiasa Shika, karena aku sudah terbiasa" kata pemuda berambut coklat panjang.
"Bagaimana denganmu…" pemuda berambut coklat itu menoleh pada kawan di sebelahnya.
"Sasuke?"
"Hn" yah hanya di jawab gumaman tidak jelas dari pemuda yang berambut seperti pantat ayam bernama Sasuke ini.
"Kalian menghalangi jalanku, cepat minggir" suara dingin dari belakang mereka pun menginstrupsi.
Dengan terpaksa mereka pun akhirnya memberikan jalan pada orang tersebut. Terlihatlah pemuda berambut merah darah dengan ekspresi dingin terpasang di wajahnya. Ia pun berlalu meninggalkan teman-temannya dan diiringi teriakan-teriakan para penggemarnya.
"Hhhh! Sampai kapan Gaara akan seperti itu? Bukankah kejadian itu sudah lama? Lagipula dia sudah tidak ada disini" pemuda berambut coklat dengan tattoo segitiga terbalik tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka.
"Tidak semudah itu Kiba, aku yakin jika kau ada di posisi Gaara pasti kau juga akan mengalami hal seperti dirasakan oleh Gaara" ucap sang Leader dari kelompok mereka.
"Kau benar Itachi-hyung, itu karena…"
"Itu karena Gaara tidak memiliki semangat yang membara untuk hidup!" perkataan Shino tiba-tiba terpotong dengan munculnya pemuda hijau yang mempunyai rambut seperti batok kelapa dengan tangan yang di kepalkan. Sehingga Shino hanya merutuki Rock Lee dalam hati yang berani-beraninya menyela pembicaraan orang.
"Nyaamm,,Nyaamm,,sebaiknya kita,,Nyaam,,ke kelas" pemuda berbadan gendut dengan memakan kripik muncul.
"kau benar Chouji, kajja hyungdeol" ajak sang magnae Ranmaru.
Mereka pun menyetujui ajakan Ranmaru dan kembali ke kelas mereka tanpa mempedulikan teriakan-teriakan yang bisa merusak gendang telinga jika tidak terbiasa.
Kelas yang tadinya hanya di huni orang-orang malas pun akhirnya mereka kembali bersemangat setelah tau beberapa member Super Junir memasuki kelasnya. Sebenarnya hanya satu orang yang menghilang, dan member lainnya pun tahu sebenarnya kemana ia pergi. Di kelas ini memang hanya ada murid-murid terpilih saja, jadi tidak heran jika semua member berada dalam satu kelas.
.
.
Di atas atap gedung terlihatlah seorang pemuda berambut merah berkulit pucat yang terduduk dengan tiang sebagai penyangga tubuhnya sedang memandang sendu hamparan langit sembari menikmati angin yang menerpa wajah datarnya. Inilah yang biasa ia lakukan jika tidak ada pekerjaan yang selalu menuntutnya.
Drrtt..Drrtt..Drrt..
Getaran di kantong celananya membangunkan ia dari lamunannya. Ia pun merogoh kantong celananya dan segera mengangkatnya.
"Hallo, ada apa hyung?"
"….."
"Eoh, arraseo. Aku akan memberitau mereka nanti".
"….."
"Hn"
Ia pun menutup teleponnya dan segera beranjak untuk menemui member lainnya, 'huh,pekerjaan ini lagi' batin Gaara.
Setelah berjalan menyelusuri koridor yang sepi karena semua penghuni memilliki kegiatan masing-masing yaitu belajar. Hanya Gaara saja yang memang sering berkeliaran dan tidak seberapa memperdulikan pelajarannya, Gaara seperti kehilangan semangatnya karena telah di tinggalkan sang matahari yang dulu menerangi hatinya. Padahal ia dulu tidak seperti ini, ia juga merindukan saat-saat bersama orang terkasihnya dulu yang tega mengingkari janjinya untuk tidak meninggalkannya. Dan sekarang ia berani meninggalkan Gaara untuk selamanya, percuma ia menyanyi dan masuk ke dalam dunia Musik jika tidak ada orang terkasih yang sudah menjadi matahari hatinya.
Menurutnya Musik adalah Dia, Mataharinya.
NARUKO…..
Jaa minna-san, maap yee kalau kyuu pakai mata uangnya Indonesia. Dan untuk sedikit bahas Korea-nya, kyuu memang gak tau tulisannya gimana. Tiap kyuu baca ff korea tiap author penulisan untuk bahasa Korea berbeda-beda. Jadilah kyuu ngikutin kata hati saja, hehehe.. jangan lupa RnR yaa, maaf juga kyuu gak bisa bales lewat review. Tapi kalau ada yg PM di akun kyuu pasti dib alas kok. Heheheh :D
So, see u next time guys. ;-)
