Balik lagi bersama Tara! Akhirnya chapter ini telah di-update dan Tara nggak males ngelanjutin fanfic ini. Ingat kan tujuan Tara bikin fanfic ini? Hehe. Yasudah, Tara gak tau mau ngomong apa lagi. Oh ya, makasih yang udah mau mereview chapter kemarin!
Disclaimer: Kamichama Karin Chu © Koge Donbo
Warning: AU, OOC, Typo(s), monoton, deskripsi memusingkan, dll.
Chapter 1
Minggu pagi.
Berjalan-jalan sebentar tidak ada salahnya, bukan? Lagipula, cuaca hari ini tidak buruk juga.
Karin yang sudah berpenampilan cantik memakai sweater berwarna soft pink dan memakai celana jeans berwarna hitam dan sepatu kets putih. Rambut brunette ikalnya ia ikat dengan gaya ponytail.
Manis, bukan?
Gadis beriris zamrud itu melangkahkan kaki jenjangnya ke jalanan. Beberapa orang yang hanya berlalu-lalang hanya tersenyum kecil melihatnya—dan Karin tidak bisa untuk tidak membalas senyuman mereka.
Gadis periang yang ramah, ya?
"Hai gadis manis…" sahut seorang pria bertubuh kekar memakai pakaian serba hitam. Di belakangnya berdiri dua orang berpenampilan yang tak jauh berbeda dengan orang tersebut. Karin hanya diam tak menggubris sapaan dan senyuman dari mereka.
Salahkan Karin yang malah memilih gang sempit yang sepi seperti ini.
"Maaf…" gumam Karin sambil memutar badan dan mengambil langkah cepat meninggalkan sekelompok orang tersebut. Namun pria tersebut tak kalah cepat dari gerakan Karin—lebih cepat malah. Ia mencengkram erat lengan Karin.
"Ikut kami, yuk?" ajak salah seorang pria bertubuh kekar tersebut. Karin menelan ludahnya.
"Maaf, aku sedang buru-buru," jawab Karin sambil menunduk dan berusaha menarik tangannya—nihil, tenaga yang dimiliki pria itu jauh lebih besar dari tenaga yang dimilikinya.
"Jangan kalian ganggu dia," ucap seseorang, membuatnya menjadi perhatian dari Karin dan sekelompok pria tersebut.
"Mau apa kau, anak muda?" desis salah seorang dari mereka dan maju beberapa langkah ke depan orang tersebut. Wajahnya tertutupi oleh tudung jaketnya, membuat Karin tak dapat melihat tampang orang tersebut.
"Awas!" jeritnya pelan tatkala orang bertubuh kekar itu melayangkan kepalan tangannya ke arah orang itu. Karin menutup matanya rapat-rapat.
BUK!
"?"
"Cepat lari!" seru pemuda itu sambil menarik tangan Karin dan membawanya lari. Saat Karin menoleh kebelakang, didapatkannya ketiga pria itu yang lari ke arah berlawanan.
Cepat sekali…
Sampailah mereka di sebuah taman.
"Kamu tidak apa?" suara bariton yang familiar di telinga Karin berbicara.
"Um, ya, tidak apa. Arigatou." jawab Karin. Pemuda itu berbalik dan melepaskan tudung jaketnya. Ekspresi datarnya…
"Kazune-kun?!"
XXOXX
"J-Jin-sama!" sahut seseorang dari belakang. Jin yang sedang berjalan di dekat jembatan Tokyo menoleh ke belakang.
"Hoi, Kazusa. Oh ya, sudah kukatakan berkali-kali. Jangan panggil aku dengan embel-embel -sama, oke?" jawab Jin setelah gadis bersurai pirang pucat seperti Kazune yang dipanggilnya dengan nama Kazusa itu sudah berdiri di sebelahnya.
"Maaf, sudah kebiasaan," balas Kazusa sambil tersenyum. Terlihat rona merah tipis di pipinya setiap kali iris biru lautnya bertemu dengan iris onyx milik Jin—sayang, Jin tak menyadarinya.
"A-Ano…" gumam Kazusa pelan namun masih bisa ditangkap oleh indera pendengaran Jin. Jin yang mendengarnya pun hanya mengangkat sebelah alisnya pengganti kata 'apa'.
"Tidak jadi deh. Oke, sampai besok, ya, Jin-kun…" ujar Kazusa sambil berlari meninggalkan Jin yang masih keheranan.
Kazusa berjalan di atas trotoar tersebut, iris safirnya menatap ke bawah, melihat kakinya yang menapaki jalanan. Jantungnya terasa berdegup begitu kencang, rona merah tipis menjalar di pipi porselennya.
Baru saja melewati taman, Kazusa mendengar dua orang yang sedang bercakap—yang salah satu suaranya sangat dikenalinya.
"Untung aku lewat, mungkin kalau tidak sudah mereka apakan kamu," kata suara bariton. Hei…? Suaranya sangat familiar.
"Iya, arigatou ne, Kazune-kun,"
Kazune-kun…? Dengan gerakan cepat, Kazusa mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Didapatkannya seorang pemuda dengan ciri-ciri yang mirip dengannya, dan seorang gadis berambut brunette yang diikat dengan gaya ponytail.
"Kazune!" panggil Kazusa, yang langsung mendapat perhatian dari kedua orang tersebut. Kazune -yang masih dengan wajah tanpa ekspresinya- langsung memberi isyarat pada Kazusa untuk mendekat. Dan tentu saja Kazusa berlari kecil mendekat ke arah mereka.
"Hai, Kazusa-chan…" sapa Karin sambil tersenyum. Sepertinya dia mengenali gadis itu…
"Oh, hai, Karin-chan. Lama tak bertemu, ya?" balas Kazusa juga membalas senyumannya Karin.
Flashback
Kazusa berjalan ke arah sekolahnya, Sakuragaoka High School. Di sana, berdirilah seorang gadis yang hanya diam terpaku sembari menatap gerbang sekolah tersebut. Padahal sebentar lagi upacara penerimaan murid baru akan dimulai.
"Eto… apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kazusa pelan. Dilihatnya gadis tersebut yang tersentak dan langsung menoleh ke arahnya. Mata hijau emerald-nya terlihat tak memancarkan cahaya, namun Kazusa tidak menyadarinya karena gadis tersebut tersenyum ke arahnya.
"Aku hanya gugup, jadinya melamun, deh. Kau murid baru kelas sepuluh, bukan?" tanya Karin sambil menatap lurus mata Kazusa.
"Ah, souka. Iya, aku murid baru kelas sepuluh, kau sendiri?" Kazusa balik bertanya.
"Iya. Aku juga baru pindah ke kota ini, makanya aku gugup," Karin tersenyum.
"Oh, ya? Memangnya kamu berasal dari kota mana?" tanya Kazusa sambil menarik Karin dan membawanya masuk ke dalam sekolah, melihat penjaga sekolah yang sebentar lagi akan memarahi mereka karena bercakap terlalu lama di depan gerbang.
"Osaka." jawab Karin singkat.
"Kenapa?" tanya Kazusa. Mungkin dia sudah terlalu jauh untuk bertanya lagi, tapi apa boleh buat? Dia sudah terlanjur kepo.
Karin tertawa kecil, "Entahlah, aku hanya bosan di Osaka. Makanya aku pindah ke sini," ujarnya. Yah, jawaban yang sederhana namun cukup tidak masuk akal.
"Oh, ya. Aku belum tahu namamu, aku Karin. Hanazono Karin," kata Karin tiba-tiba. Benar juga, Kazusa sudah bertanya terlalu jauh namun dia belum menanyakan nama gadis di sebelahnya ini.
"Oh, Karin-san. Aku Kazusa. Kujo Kazusa," jawab Kazusa.
"Kujo…? Namanya familiar." gumam Karin. Kazusa hanya tersenyum tipis.
"Kamu masuk kelas apa?" tanya Kazusa ingin mencari topik baru yang bukan hal pribadi.
"Kelas X-A, kamu?" Karin balik bertanya.
"Aku kelas X-D. Wah, coba saja aku kelas X-B, pasti kelas kita bersebelahan!" ujar Kazusa. Kelas X-D, bersebelahan dengan lab Fisika dan kelas X-C, dan di lantai dua. Sementara kelas X-B bersebelahan dengan kelas X-A dan ruang BK, dan di lantai satu. Jadi, bisa dibilang kalau kelasnya Karin dan Kazusa berjauhan.
"Oh iya, baiklah Kazusa-chan, upacara penerimaan murid baru akan dimulai. Aku harus mencari barisan kelasku. Kuharap kita bisa bertemu!" ujar Karin.
"Oke, Jaa ne, Karin-chan!"
Dan di sana, mereka berpisah…
End of Flashback
"Cerita kalian sok dramatis," komentar Kazune setelah mendengar cerita yang baru saja dituturkan oleh Kazusa dan Karin.
"Memang begitu pada kenyataannya!" balas Kazusa mendelik tajam ke kakak kembarnya ini. Sementara Karin hanya tersenyum tipis.
"Nah, sudah sore. Sebaiknya aku pulang duluan," ujar Karin dan langsung membalikan badan, berlari meninggalkan keduanya.
"Jaa ne, Karin-chan! Hati-hati di jalan!" seru Kazusa sambil melambaikan tangannya.
"Iya!" balas Karin. Kazune hanya diam sambil menatap punggung Karin yang semakin lama semakin menjauh, hingga tak terjangkau oleh pandangannya.
XXOXX
CKLEK!
Karin menutup pintu rumahnya perlahan, kembali melihat foto anak laki-laki, temannya masa kecil.
"Coba saja kalau kau tidak pindah ke Korea untuk selamanya, Yuuki-kun…" gumam Karin pelan.
# To Be Continue #
Hiahaha! Dan ternyata, anak laki-laki itu adalah Yuuki! :D
Nah, minna, bagaimana dengan pendapat kalian tentang chapter ini? Dan sekali lagi, Tara mengucapakan terimakasih bagi yang sudah mem-fave, mem-follow, dan me-review fanfic gaje Tara ini. Arigatou ne! Sampai ketemu lagi di chapter selanjutnya!
