Chapter 2
Rakuzan, sekolah favorit di Kyoto, sekolah no.1 yang memiliki banyak murid berbakat dan berprestasi didalamnya. Mau di bidang olahraga, seni atau pun akademik. Arisa sangat beruntung dapat lulus test dan di terima di sekolah ini. Terkadang ia berpikir tidak percaya bisa masuk kesekolah ini, pada hari ini, di upacara penerimaan murid baru. Arisa tak bisa berhenti tersenyum karena saking senangnya. Tapi, itu tak berlangsung lama. Setelah sambutan-sambutan dari pihak sekolah yang bersangkutan kini saatnya sambutan dari murid baru yang mendapat nilai test tertinggi. Seorang guru yang menjadi pemimpin upacara memanggil nama orang tersebut. Arisa melihat dengan kedua matanya sendiri. Seorang laki-laki bersurai merah itu berjalan menaiki panggung dan berdiri didepan podium untuk memberi sambutan kepada semuanya sebagai perwakilan murid baru karena mendapat nilai tertinggi ketika test masuk dan ia memperkenalkan dirinya.
"Saya Akashi Seijuurou…"
Arisa benar-benar tak menyangka, kalau ia kembali satu sekolah dengannya. Arisa tidak fokus dengan apa yang sedang disampaikan. Jantungnya terus berdebuk kecang. Pandangannya tak bisa ia lepaskan dari orang tersebut. Ia terus berpikir. Apa ini takdir? Atau kebetulan?. Waktu yang tidak bisa berputar tapi dapat terulang kembali dengan versi yang berbeda. Ini kesempatan Arisa, ia ingin mencoba kembali mengenalnya, dekat dengannya. Agar masa-masa yang sia-sia seperti waktu itu tidak terulang lagi. Arisa ingin berubah. Saat melihat Akashi di podium memberi sambutan bagai seorang raja yang sedang memerintah bidak-bidaknya. Arisa menjadi yakin kalau ia menyukai Akashi.
Suara decit dari lantai yang bergesekan dengan karet alas sepatu mereka memenuhi satu gedung olahraga indoor milik SMA Rakuzan ini. Arisa yang kebetulan sedang membereskan bola-bola basket atas perintah guru olahraganya membantu beberapa manajer tim basket Rakuzan yang kualahan mengambil bola-bola basket untuk latihan tim mereka. Arisa tak segaja melihat Akashi juga ikut berlatih bersama senior-senior tim basket Rakuzan. Teryata Akashi juga ikut tim basket ini. Malah yang lebih mengejutkan. Tersebar berita Akashi menjadi Kapten tim baru Rakuzan padahal ia masih kelas 1.
"Hey…oujo-chan! Bisa berikan satu bola basketnya." Seorang senior tim basket itu memanggil Arisa. Tubuhnya sangatlah tinggi. Jangakauan tangannya pun lebar dan panjang. Arisa pernah mendengar kalau tim basket di Rakuzan tak terkalahkan. Mungkin Karena banyak orang-orang hebat seperti mereka.
"Dozoo…" Arisa mencoba untuk mempass bola basket tersebut kepada orang itu. walau ia agak malu melakukannya, melihat orang-orang itu berlatih membuat Arisa ingin mencobannya.
"Nice pass…Arigatou!" puji orang bersurai hitam panjang sebahu tersebut sambil menunjukan senyum diwajahnya yang cantik kepada Arisa. Lalu ia mulai mendrible kembali bola itu menuju ring. Arisa kembali memperhatikan Akashi yang sedang memantau permainan pemain-pemain basketnya secara jeli dengan emperor eyes-nya yang banyak dibicarakan orang. Tanpa sadar Arisa sampai terpatung memandangi Akashi.
"Hey…Awas!" Arisa terkejut mendengar teriakan seseorang. Tanpa belum sempat menoleh apa yang terjadi, seseorang tiba-tiba menangkap sebuah bola yang tadinya akan mengenai kepala Arisa. Orang bersurai blond yang menolong Arisa itu kembali mendrible bola tersebut dengan kecepatan yang luar biasa sampai-sampai tidak mungkin untuk direbut, dengan gerakan cepat ia langsung mengubah posisinya menjadi posisi menembak. Dengan kuat ia mendorong pergelangan tanganya. Membuat bola tersebut melayang diudara dan masuk kedalam ring yang bisa dibilang lumayan jauh. Kalau seandainya ini pertandingan sungguhan, orang ini sudah pasti akan mendapat three point.
"Kau tidak apa-apa?" tanya orang tersebut seraya tersenyum kepada Arisa.
"D-daijoubu desu…" Arisa agak sedikit terkejut. Karena jika saja orang ini tidak menghentikannya tadi, sudah pasti bola itu akan mengenai kepalannya.
"Yokatta." Orang itu kembali tersenyum. Arisa menebak-nebak kalau orang yang ceria dan bersemangat seperti dia merupakan murid kelas 2.
"Hayama, sedang apa kamu disana? Cepat latihan." Pintah si kapten itu teralih perhatiannya kepada kejadian itu. ia juga menatap Hayama dengan tatapan tajam.
"Hai-hai…Bye-bye!" Hayama masih saja sempat memberi senyuman unuk Arisa sebelum ia pergi untuk bergabung bersama anggota yang lain. Mata Arisa mengikuti orang itu hingga kedua manik hitam miliknya bertemu dengan kedua manik yang berbeda warna milik Akashi. Dadanya tiba-tiba mulai terasa sesak. Tatapan orang itu memang menuju kearahnya. Arisa sempat membuang wajahnya sejenak karena kaget kalau Akashi melihat kearahnya. Sampai orang itu tanpa alasan mendatanginya.
"Ada perlu sesuatu kesini?" tanya Akashi tiba-tiba membuat Arisa semakin gugup.
"I-Iie, aku hanya disuruh membantu saja oleh guru Olahraga." Jawab Arisa berusaha menekan suaranya yang gemetar agar tidak terdengar olehnya. Entah kenapa ketika dekat dengan orang ini aura yang berkali-kali lipat lebih besar dari tubuh kecilnya membuat orang-orang didekatnya gemetar.
Sebuah bola berguling dan menyentuh kaki Arisa dan seseorang yang tadi meminta bola basket itu berlari kearah mereka.
"Sei-chan, kamu jangan menakut-nakuti oujou-chan ini ya. Kasihan kan kalau ia ketakutan." Ucapnya dengan nada bercanda yang sangat-sangat Akashi tidak suka.
"Reo, lari mengelilingi lapangan sekolah selama 10 menit."
"Nani?!"
"C-chotto mate, Senpai tidak melakukan kesalahan apa-apa, tidak perlu dihukum." Tiba-tiba tatapan tajam Akashi menghujami Arisa. Saat itu juga Arisa tidak bisa lagi berkata-kata.
"Reo…Apa aku harus mengulanginya lagi?" ucapnya benar-benar dingin.
"Wakatta-wakatta…"
Reo pun menuruti perintah kaptennya itu tanpa ada bantahan atau pembelaan untuk dirinya sendiri. Apa sebegitu takutnyakah mereka pada Akashi?
"Kamu, Arisa Shiganori dari SMP Teiko, bukan?"
"I-iya…"
"Seharusnya kami tau, tidak ada orang yang bisa menentangku, semua perkataan ku adalah Absolut." Ucapan yang sangat-sangat egois. Entah kenapa Arisa bisa menyukai orang yang perangainya luar biasa buruk seperti dia. Arisa tak heran kenapa Akashi tau namanya, sebagai mantan ketua OSIS sudah pasti ia tau nama seluruh murid pada angkatannya. Tapi yang membuat Arisa sangat sedih hanya keegoisan dari sang Kaisar saja.
To be Continued...
