Hello Everyone,

And, by the way, Happy Birthday Athrun!

Anyway, this day, this moment was stuck on mind all the time, despite some original ideas that has been occupied for quite some time.

I was barely could think of any other, let alone being fully concentrated to school subjects.

But, also, I'm aware that my modem's limit could end anytime soon.

So I was very delighted that today wasn't the day, since I really have to published it today!

Well, I hope you guys enjoy this as much as I am as I wrote it.

Happy Reading~


Disclaimer: Mobile Suit Gundam SEED and all of its characters belongs to Yoshiyuki Tomino, Sunrise, and Bandai respectively

Rate: T, well, this chapter sounds light, but I think just in case for later chapters

Genre(s): Drama, Friendship, Family, etc

Warning(s): Next Generation Fic, Post-GSD, OOC-ness, Typo(s), ER, FT, etc

Pairing(s): None for this chapter, may change in later chapters


Daughter of Spring and Autumn

I Need Your Help

Kaoru Hiyama

2015


Pulau Onogoro, 20 Oktober CE 91

Maple membuka kedua matanya yang terasa berat. Ia lalu menggerakan sebelah tangannya untuk meraih alarm bangun pagi di ponselnya yang semalam ia letakkan di meja samping tempat tidurnya. Setelah benda itu sampai ke tangannya, ia langsung mengarahkan matanya pada jam yang terlihat di layar depan.

"Great," gerutunya, lalu ia mendengus pelan "Satu menit sebelum alarm berbunyi… lagi."

Karena tidak bisa tidur lagi, Maple akhirnya bangun dan mengikat rambut pirangnya dengan menggunakan seutas pita sewarna motif biru tua di seragam militer orangtuanya yang ia gelangkan di pergelangan tangannya saat tidak digunakan seraya duduk di atas tempat tidurnya. Ia lalu meraih handuk yang tergantung di pintu lemarinya dan melangkah ke kamar mandi. Berpikir untuk mandi terlebih dahulu sebelum keluar dan sarapan bersama kedua orangtuanya.

Selepas mandi dan mengganti pakaian tidurnya dengan seragam sekolah, Maple menyempatkan diri melirik ke arah jendela di samping tempat tidurnya yang masih terhalang tirai. Setengah malas, Maple berjalan mendekati jendela itu dan menyibak tirainya, kemudian ia terdiam sementara matanya memandang ke luar jendela.

Tidak seperti biasanya, langit Pulau Onogoro pada pagi itu terlihat mendung. Sepertinya nanti akan turun hujan. Maple menghela napas, akhirnya memutuskan untuk mengambil payung yang tergeletak di atas meja belajarnya. Berpikir lebih baik berjaga-jaga dengan membawa payung sendiri, sekalipun ia tahu payung akan selalu tersedia untuknya—dibawakan pegawai keluarganya atau dipinjami teman sekelas ataupun penggemarnya—tanpa ia perlu meminta.

Dengan tas sekolah tersampir di bahunya, Maple membuka pintu kamar dan berjalan ke ruang makan untuk sarapan pagi bersama kedua orangtuanya.

"Manna-san, pagi," sapa Maple ketika ia melihat sosok wanita tua yang sudah lama bekerja pada keluarganya itu di dekat tangga.

Mendengar suara majikan kecilnya yang familier, Manna menoleh, dan senyum mengembang cepat di bibirnya ketika ia melihat gadis itu mendekat ke arahnya, "Selamat pagi Maple-sama."

Maple mengerutkan dahinya, lalu menghela napas berat ketika berhenti tepat di sisi Manna yang sudah renta, "Manna-san," katanya dengan nada mengeluh, "Aku kan sudah bilang berkali-kali, kau tidak perlu menambahkan kata 'sama' kalau memanggilku, cukup Maple saja."

Wanita tua itu tertawa pelan mendengar keluhan majikan kecilnya. Maple memang suka mengeluhkan hal-hal semacam ini, persis seperti ibunya pada masa kecilnya dulu. Tetapi ia sempat berpikir bahwa kekeraskepalaan Maple mungkin bukan hanya berasal dari ibunya saja, sebab dulu Cagalli menyerah saat ia mulai beranjak remaja. Dan sekarang Maple masih berkutat dengan keluhannya bahkan setelah ia menginjak usia 15 tahun.

"Maple-sama," kata Manna lembut, "Ini adalah cara saya menghormati anda sebagai cucu dari Uzumi-sama dan putri tunggal Cagalli-sama dan Athrun-sama. Dan saya harap Anda tidak keberatan setelah mendengar alasan ini."

"Tidak," sahut Maple, yang membuat Manna nyaris merasa begitu lega jika bukan karena perubahan raut wajahnya yang jelas membuat kata 'tidak' yang tadi diucapkannya tampak mempunyai maksud yang sama sekali lain dengan apa yang dipikirkan Manna pada awalnya.

Kemudian Maple melanjutkan, "Itu… sama sekali tidak membenarkan apapun, Manna-san. Aku tetap merasa tidak nyaman setiap kau memanggilku dengan embel-embel 'sama'. Rasanya seakan-akan aku seumuran dengan mom dan dad—ah!"

"Nah, Maple-sama," kata Manna, "Sebaiknya kau ke ruang makan sekarang, Athrun-sama dan Cagalli-sama sudah menunggumu sejak tadi. Mereka bilang tidak akan mulai sarapan sebelum kau datang."

Tiba-tiba saja Maple merasa bersalah karena telah membuat kedua orangtuanya menunggu—dan mungkin telah menunda apapun yang sudah mereka rencanakan untuk dilaksanakan pagi ini. Tetapi sebelum ia sempat mengatakan apapun, tangan Manna sudah berada di bahunya, "Pembicaraan ini kita lanjutkan lain waktu saja, ya? Maple-sama."

Maple menghela napas panjang, lalu berkata pelan, "Ugh, baiklah."


"Pagi Mom, Dad."

Ketika tiba di ruang makan kalimat itu meluncur dari mulut Maple secara refleks, dan saat mendengarnya, baik Athrun maupun Cagalli segera menyudahi pembicaraan apapun yang sebelumnya mereka lakukan dan mengarahkan pandangan mereka pada gadis yang baru datang itu, dengan wajah tersenyum, "Pagi Maple."

"Maaf membuat kalian menunggu," Maple menuju meja makan dan langsung mengambil tempat di hadapan kedua orangtuanya, "Tadi aku—"

"Biar kutebak," sela Cagalli, "Kau pasti bertemu Manna-san dan berdebat soal caranya memanggilmu dengan tambahan 'sama' bukan? Katakan kalau aku salah."

Kedua mata Maple mengerjap-ngerjap tak percaya, "Wow… bagaimana Mom bisa—"

"Menduganya? Yah, aku ibumu, Maple. Dan aku pernah mengeluhkan hal yang sama padanya bertahun-tahun yang lalu," jawab Cagalli santai, lalu ia mengambil sandwich dari pemanas di dekatnya dan meletakannya di piring.

Maple tersenyum kikuk mendengar jawaban ibunya, lalu mengambil beberapa potong panekuk dan menuangkan madu di atasnya, "Lalu kenapa akhirnya kau menyerah, Mom?"

Cagalli tertawa pelan, lalu menggigit sandwich-nya sebelum menjawab, "Entahlah. Aku sudah lupa. Tapi mungkin saja itu karena berbagai hal yang kuhadapi pada saat itu membuat masalah itu terdengar begitu sepele."

"Oh ya?" tanya Maple, mendadak merasa begitu tertarik, "Seperti apa misalnya?'

"Seperti apa ya…" Cagalli meminum kopinya seteguk sembari ia berpikir, "Mungkin seperti perang, dan ayahmu."

Athrun—yang sebenarnya memilih untuk diam dan memperhatikan saja pada awalnya—nyaris tersedak ketika mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Cagalli. Memang, adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa ia dan Cagalli menghabiskan masa muda mereka untuk berperang dan memikirkan perdamaian dunia—dan cinta—serta bagaimana cara bertahan satu hari lagi dalam peperangan. Namun mendengar langsung bahwa dirinya termasuk salah satu hal yang menurut Cagalli bukan masalah sepele tetap saja mengejutkan.

Cagalli tentu saja menyadari hal ini, terlebih karena ia telah hidup bersama pria itu selama 15 tahun, bahkan lebih. Dan ia sempat tersipu selama beberapa saat yang menurutnya cukup panjang hingga mungkin saja bahkan Maple dapat merasakan keanehan atmosfernya. Tetapi saat melihat tidak adanya perubahan di raut putri semata wayangnya itu, ia diselimuti rasa lega yang datang bersama sedikit kesan bertanya-tanya dalam hati.

Apa ini artinya Maple belum pernah merasakan yang seperti ini?

"Oh," jawab Maple, kesan yang terdengar dalam suaranya hanya berkisar antara datar atau bosan. Seolah-olah ucapannya sebelum ini tidak meninggalkan kesan lebih dari gurauan orangtua semata. Seolah ia tidak mengerti. Dan ini makin menguatkan anggapan wanita itu bahwa mungkin saja anak gadisnya belum pernah berurusan dengan hal-hal seperti cinta.

"Ah," kata Maple kemudian, sambil melirik jam tangannya, lalu menyadari sesuatu yang lain selain bahwa waktu telah menunjukkan pukul setengah delapan, "Aku sudah harus berangkat sekarang..."

Cagalli tersenyum, mengesampingkan fakta lain. Ia harus menjawab ungkapan itu lebih dulu, "Oh, ya. Tentu saja"

Maple membalas senyuman itu, dan mengangguk pelan, "Baiklah. Mom, Dad, aku berangkat dulu."

"Hati-hati di jalan, Sayang."


Secara teknis, Maple memang bisa disebut Putri Raja. Secara teknis, Maple seharusnya diantar dengan limosin ORB oleh sopir keluarga.

Tapi tidak, ia tidak menjalankan tradisi lama itu.

Maple bahkan tidak pergi ke sekolah dengan menggunakan mobil pribadi.

Ia pergi dengan berjalan kaki.

Jarak tempuh antara rumahnya dengan sekolah dapat dicapai dalam waktu 15 menit dengan berjalan kaki, itu pun karena 7 menit pertama adalah waktu yang dibutuhkan oleh Maple untuk berjalan dari pintu rumah ke gerbang utama mansion.

Setelah mengenakan kaos kaki dan sepatu, Maple membawa tas sekolahnya dan melangkah keluar.

Udara pagi adalah salah satu alasan mengapa Maple lebih suka ke sekolah tanpa kendaraan. Ia menyukainya. Udara pagi yang dingin dan menenangkan. Di samping itu, cuacanya juga mendukung. Karena meski sewaktu bangun tadi ia melihat langit yang mendung, sekarang warna biru di langit ORB sudah terlihat begitu cerah. Dan pemandangan yang seperti ini tak akan pernah ia dapatkan jika ia memilih untuk pergi ke sekolah dengan mobil atau kendaraan lain.

Matahari mengintip lembut dari celah-celah awan di angkasa. Jalan raya yang masih sepi. Burung-burung yang beterbangan dengan kelompok-kelompok mereka di angkasa. Para mahasiswa dengan pakaian-pakaian ajaib mereka. Nenek-kakek yang berjalan pagi dengan anjing-anjing mereka. Anak-anak kecil yang bersiap-siap ke sekolah dengan teman-teman mereka.

Ah, pemandangan penuh inspirasi yang hanya bisa ditemui setiap pagi.

Maple sekolah di Onogoro International School, sekolah menengah milik negara yang memiliki sistem internasional dimana para siswa diperbolehkan memilih satu dari empat jurusan yang disediakan oleh sekolah mulai kelas dua; yaitu bidang eksakta, seni, olahraga, dan sastra. Maple menyukai seni—tentu saja, dan inilah yang kemudian mendasari pilihannya untuk mendalami bidang tersebut.

Hari ini Senin. Tetapi tidak sama dengan senin biasanya yang hanya menarik karena kelas menggambar sosok ada dalam jadwalnya atau hal lain yang berhubungan dengan urusan sekolah. Hari Senin ini menarik karena sesuatu yang lain.

Sesuatu seperti rencana besarnya.

Kelas pertama Maple dimulai jam 8 pagi dan selesai pada pukul 11, selepasnya ia kosong sampai jam 1 siang yang artinya ia punya sekitar dua jam untuk melakukan hal-hal yang tidak berhubungan dengan sekolah.

Oleh karena itu ia langsung melesat ke perpustakaan—atau perpustakaan digital, lebih tepatnya—dan meletakkan tas dan portofolionya di atas meja komputer sebelum menarik kursi, dan duduk di atasnya. Lalu ia mengibaskan rambutnya ke samping dan mengikatnya dengan pita kesayangannya.

Kemudian… memulai aksinya.

Jari-jarinya dengan lincah menari di atas keyboard komputer sekolah yang terhubung dengan internet itu, dan tampilan yang terlihat tampak seperti sebuah surat.

Atau sebuah e-mail, lebih tepatnya.


Dari: Maple

Subjek: [EMERGENCY] Aku butuh bantuanmu

Untuk: Paman Kira

.

Well, Paman Kira, kalau kau bertanya kenapa aku harus menulis kata 'emergency' di kolom atas, kupikir itu karena aku ingin agar kau membacanya secepat mungkin.

Apa kau masih ingat padaku? Hmm… semoga saja.

Oh ya, aku mengirimkan email ini karena aku merencanakan sesuatu mengenai orangtuaku, lagi. Seperti 6 tahun yang lalu.

Orangtuaku, well… Mereka sibuk, sangat sangat sibuk. Terutama belakangan ini. Untung saja mereka masih menyempatkan diri untuk sarapan dan makan malam bersama, karena kalau tidak… oh, aku pasti sudah kabur dari sini. Lagi, ya.

Tunggu, kenapa aku jadi bercerita panjang-lebar begini..? Maaf.

Sebenarnya, alasan aku menulis kepadamu adalah untuk meminta bantuan. Kudengar—dari cerita orangtuaku—kau sangat pemaksa, atau mungkin kau lebih nyaman dengan istilah sangat persuasif, dan aku sangat membutuhkan bantuanmu.

Paman Kira yang baik, begini. Sudah tiga tahun ini ulangtahun kami hanya dirayakan dengan makan malam di tempat yang sama, ulangtahunku di restoran A, papa di restoran B, dan mama di restoran C, setiap tahun. Aku serius. SETIAP TAHUN.

Dan yah, seperti yang pasti sudah bisa kau tebak jika kau juga punya anak remaja, aku bosan.

Aku ingin sesuatu yang baru.

Dan sebenarnya aku punya ide. Tapi aku membutuhkan bantuanmu.

Begini, aku ingin mengundang kalian semua—orang-orang dalam lingkaran kalian, maksudku, bukan semua orang PLANTs—untuk merayakan ulangtahun papa, yang juga merupakan hari besar dimana ia melamar mama. Dan jangan khawatir soal tempat, datang saja ke ORB. Aku yang akan mengurus lokasi dan pestanya.

Tapi tak akan ada pesta tanpa tamu, karena itulah aku butuh bantuanmu.

Aku ingin membuat ini berkesan, kumohon. Dan aku ingin bisa bertemu dengan kalian semua. Selama ini aku sudah banyak mendengar tentang kalian dan aku bisa mati penasaran jika tidak pernah bertemu sekalipun dengan tokoh-tokoh yang kukagumi.

Oh ya, sampaikan juga salamku pada Bibi Lacus, dan tolong sampaikan padanya kalau aku suka sekali lagu-lagunya.

Aku sayang padamu, semoga kau bisa tiba disini tepat waktu.

.

Salam sayang,

.

Maple

(N.B. kalau kau setuju, hubungi aku segera)

Maple menghela napas panjang. Kemudian merosot dan duduk bersandar pada bantalan tak empuk di belakangnya. Sebelah tangannya ia letakkan di dahinya, meski tak berkeringat.

Ia tegang. Seluruh tubuhnya gemetar, dan napasnya nyaris putus-putus.

E-mailnya sudah terkirim kepada pamannya yang berada di PLANTs.

Paman yang hanya pernah ditemuinya satu kali, itupun 6 tahun yang lalu.

Paman yang… mungkin akan terkejut melihat e-mail yang ia kirimkan.

Yah, semoga saja dia tidak terkena serangan jantung dan mati.

Well, meskipun tidak mungkin terkena virus mematikan atau radiasi nuklir, tapi coordinator masih mungkin terkena serangan jantung kan?

Semoga saja tidak.

Maple menghela napas sekali lagi, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Setelah ini mengirimkan formulir aplikasinya ke Copernicus High.

Gadis itu melirik arloji perak yang melingkari pergelangan tangan kirinya, sudah pukul 1 kurang 15, ia harus segera kembali atau Profesor Fllaga akan menghapus namanya dari daftar anggota perkumpulan seni Lyceum dan melarangnya memesan satu mint frappuccino ukuran sedang gratis di kafe milik Paman Andy—tempat wanita itu bekerja—setiap hari Kamis dimana klub seni itu berkumpul, dan tentu saja, berdiskusi mengenai seni.

Segera ia mengemasi tas dan portofolionya, lalu berjalan cepat-cepat karena kelas mengambar sosok yang diajar Profesor Fllaga berada di sayap utara, lantai 3, sedangkan ia saat ini berada di sayap barat, lantai 1.

Setengah tersengal—meski tepat waktu—Maple tiba di kelas Profesor Fllaga. Ini tahun terakhirnya, dan ia tidak boleh menyia-nyiakannya atau kesempatan untuk mendapatkan kursi di Copernicus High tinggal mimpi kosong belaka.

"Maple?"

Sembari memejamkan mata karena perasaan tak terdefinisi—antara panik dan lelah—Maple berusaha menoleh, ia seratus persen yakin yang sedang menyapanya adalah Profesor Fllaga sendiri.

Ternyata bukan.

Hanya seorang gadis, yang merupakan sahabat baiknya. Sayang tidak mempunyai cita-cita yang sama. Gadis itu—namanya Claudia—adalah siswi kelas eksakta yang sepertinya… sedang beristirahat. Dan Maple baru saja teringat kalau Claudia memang memiliki suara yang nyaris serupa dengan suara gurunya.

"Ya. Hei, Claud," kata Maple, "Maaf, tapi aku sudah harus masuk."

"Oh, silahkan," sahut Claudia, aksen Jerman-nya yang kental membuat ucapannya terdengar asing, "Kupikir kau terlambat dan Fllaga tidak mengizinkanmu masuk kelas, lagi"

Maple meringis, hal itu memang pernah terjadi beberapa kali, "Yah, dan aku tidak mau itu terulang lagi"

Dan kemudian ia membuka pintu kelas, lalu berjalan masuk dan menutupnya. "Ngomong-ngomong, ini studio, Claud," kata Maple sebelum beranjak masuk dan menuju tempat duduknya.


Kira menatap e-mail yang baru saja dibacanya itu nyaris tanpa berkedip.

Whoa, pikirnya. Enam tahun ia tidak bertemu atau mendengar sesuatu tentang keponakan kecilnya dan sekarang…

Ia mendapatkan sebuah e-mail darinya.

Ia tidak menyalahkan gadis itu, sungguh. Apalagi orangtuanya. Mungkin ia sendiri juga akan melakukan hal yang sama bila ditempatkan di posisi mereka. Mengetahui bahwa seantero PLANTs hanya mempunyai anak laki-laki di saat mereka baru saja mempunyai seorang anak perempuan. Sungguh wajar jika sebagai orangtua, sikap protektif mereka menjadi alasan untuk merahasiakannya.

Kira menoleh ke balik punggungnya.

Sekarang, melihat Lacus dan seorang bayi perempuan dalam dekapannya—anaknya yang ketiga—sungguh ia bisa membayangkan betapa histerisnya Cagalli, atau Athrun, ketika tahu bahwa anak pertama mereka—yang seangkatan dengan kedua putra kembarnya dan putra beberapa temannya—adalah seorang gadis. Dan itu cukup logis untuk dijadikan dasar atas tindakan mereka.

Kira kembali memfokuskan diri pada e-mail dari keponakannya. Merasa bahwa ungkapan 'beberapa hal pantas ditunggu' ternyata ada benarnya. Dan ia baru saja melihat buktinya, secara nyata.

Sejujurnya, ia menganggap kedua 'adik'nya agak berlebihan, dulu. Tetapi setelah melihat betapa haus wanitanya para remaja laki-laki belasan tahun di PLANTs, ia justru berpikir untuk mengikuti jejak Athrun dan Cagalli yang menyembunyikan anak perempuan mereka. Tak memberitahu seorangpun.

Tapi mana mungkin?

Lacus terkenal. Ia seorang diva di masa lalu, seluruh penduduk PLANTs tahu bahwa gadis—bukan, wanita—berambut merah jambu dengan jepit aneh serupa dua buah bumerang Australia klasik di rambutnya adalah Lacus Clyne-Hibiki, dan ia tak bisa menyalahkan siapapun jika mereka tahu perkembangannya. Tahu kapan dia hamil, kapan dia melahirkan, bahkan tahu hari ini dia akan berada dimana.

Ia sendiri? Well, nyaris sama saja.

Sebagai mantan pilot Freedom ia sangat dikenal oleh masyarakat PLANTs, terutama karena ada seorang penulis biografi ambisius yang bersikeras menuliskan sebuah buku untuk… The Legendary Freedom, Pilot. Dan hari-harinya dipenuhi dengan wawancara, rapat, pertemuan—pendekatan—pribadi oleh para politikus baru, konferensi pers, keluarga, dan pertemuan mingguan dengan para teman lama; singkatnya, tak ada waktu untuk diri sendiri.

Beruntung Kira menyekolahkan kedua putranya di sekolah berasrama, PLANTs Academy, di December City. Jika tidak, ia pasti kewalahan. Karena bahkan sewaktu hanya berdua dengan Lacus pun—sekarang sudah bertiga—jadwalnya selalu padat. Ia nyaris tak bisa bernapas sendirian.

Selalu ada orang di sampingnya, dan ia selalu bersama seseorang.

Dulu, ketika ia dan Lacus hanya mempunyai si kembar Noir dan Blanc dan keduanya masuk asrama sekolah, Kira punya waktu setidaknya 8 jam di hari minggu untuk duduk di beranda kamarnya, menghadap ke langit, dan merenung. Bernapas bersama angin dan ingatan yang jauh.

Mengingat dan menilai ulang pilihan-pilihan yang dilakukannya di masa lalu, dengan sudut pandang baru. Atau… menelepon Athrun—mencoba mengorek informasi pribadinya, atau Cagalli—untuk tujuan yang sama dengan Athrun, atau Murrue—menanyakan kabarnya dan kabar kedua orang sebelumnya, atau Mwu—hanya ingin bicara, atau Andy—mendengarkan curhat pria itu tentang pacar barunya…

Hal-hal yang sekarang tidak bisa dilakukannya.

Sejak kelahiran putri kecilnya—yang sudah ia tekadkan untuk menjadi putri bungsunya—Freedert, yang diberi nama oleh seantero PLANTs, karena pada tahun itu juga 'biografi'nya rilis ke publik—setahun yang lalu, satu agenda lama kembali ke kehidupannya, yakni membantu Lacus kalau-kalau wanita itu benar-benar sedang dalam hectic mode.

Kira menghela napas, permintaan bantuan itu terasa seperti tawaran berlibur sejenak dari segala hiruk-pikuk PLANTs dan ketenarannya. Juga, sebuah pengingat bahwa waktu regenerasi sudah hampir tiba karena pada hari-hari seperti ini, 19 tahun yang lalu… ialah perencananya.

Dan tahun ini, giliran keponakannya.


Pulau Onogoro, 28 Oktober CE 91

.

Dari: Paman Kira

Subjek: Akan kulakukan

Untuk: Maple

.

Senang mendengar darimu lagi, Maple.

Jujur saja, rasanya aneh.

Aku tidak punya saudara sedarah selain Cagalli, dan saudara temu besar seperti Athrun, dan mereka menikah… jadi, kurasa aku tak akan mempunyai keponakan lain kecuali jika kau punya saudara.

Lagipula, ini kali pertama aku mendapatkan e-mail dari anggota keluarga yang meminta bantuan selain Lacus, dan sungguh, rasanya menyenangkan juga. Terima kasih.

Oh ya, mengenai permintaanmu, jangan khawatir. Aku bisa mengaturnya. Dan… kau beruntung karena aku termasuk salah satu Dewan, dan yah—aku persuasif, jadi kau bisa mengandalkanku.

Mengenai acaranya kuserahkan padamu, aku tidak akan bisa mengaturnya dari sini. Tidak ada waktu.

Tanggal 29 kan? Akan kupastikan semuanya hadir, termasuk sepupu-sepupumu. Beritahukan saja nama tempatnya, karena aku yakin aku sudah mengenal ORB dengan baik, dan aku punya navigator handal.

Salam,

.

Kira

Maple membaca e-mail dari pamannya dengan senyuman seriang anak kecil yang baru diberi satu kantong yang isinya terdiri dari berbagai macam permen berukuran besar. Ia menutup laptopnya, hari sudah malam. Sudah waktunya tidur karena besok hari besar.

Dan ia yakin semua orang akan datang.

Maple yakin ia sudah menyiapkan semuanya; ruangan, ok; konsumsi, siap; undangan, sudah disebarkan; transportasi, tentu saja sudah; keamanan, ok; dan faktor utama yaitu kerahasiaan, sudah.

Mamanya sudah ia beritahu, dan wanita itu setuju meski tidak begitu paham. Sedangkan Papanya, jangan.

"Sekarang waktunya memberi kejutan untuk Papa," kata mamanya kemarin.


Keesokkan harinya...

ORB agak mencurigakan, sungguh.

Kalau tak mengenal tempat dan keadaan, mungkin Athrun akan tertipu dengan mudah. Tapi ia mengenal ORB dengan sangat baik. Mengingat lamanya waktu yang ia habiskan di negara itu sebagai admiral utama, dan pendamping sang representatif.

Bicara soal representatif, dia juga aneh.

Sikap Cagalli sebulan terakhir sungguh tidak wajar. Ia yang biasanya terbilang workaholic—sampai manna-san, dan dirinya sendiri harus selalu mengingatkannya dari waktu ke waktu—secara mendadak mengubah jadwal kerjanya. Dan belakangan ia juga lebih sering menghabiskan waktu bersama Maple. Cagalli bahkan meminta asistennya untuk mengosongkan jadwalnya setelah jam 4 sore, yang bertepatan dengan jam pulang sekolah Maple. Well, bukan berarti Athrun tidak menyukai perubahannya. Ia justru sangat bersyukur saat mengetahuinya. Tetapi, sekali lagi… rasanya aneh.

Athrun menggelengkan kepalanya, kemudian menghela napas panjang.

Ketika berusaha mengembalikan konsentrasinya pada file berisikan laporan yang harus diperiksanya, benaknya malah mengambang pada hal lain. Sesuatu yang terjadi di masa lalu kembali berputar di dalam ingatannya. Seperti film lama yang diputar kembali. Pada hari-hari di masa lalu yang sudah lama pergi.

"Maafkan ibu, Nak. Malam ini sepertinya kau akan menginap di rumah Yamato lagi."

Pria itu menyandarkan bahu dan kepalanya ke sandaran kursi di belakangnya. Menyerah. Jika ingatan itu tidak juga menyerah. Mungkin dirinyalah yang harus mengalah dan membiarkannya kembali.

Pada saat itu, bayangan akan sosok sang ibu terlihat semakin nyata dalam renungannya. Wanita itu—dengan rambut bergelombang yang dipotong pendek dan berwarna biru serupa langit malam, mata zamrud yang tampak dipenuhi penyesalan, dan seulas tarikan ke atas yang mengiba di bibir tipisnya—berbicara kepadanya dengan suara yang begitu akrab. Suara yang lebih dikenalnya dibandingkan suara siapapun di dunia.

Lenore menyelipkan helaian pendek rambutnya ke belakang dengan gerakan lembut yang sepertinya sudah terlanjur mengakar dalam dirinya sejak lama. Ia memotong rambutnya sangat pendek, dan dengan potongan seperti itu, jelas angin tidak bisa menerbangkan rambutnya dengan liar.

Rambut anak laki-lakinya malah lebih liar terbangnya karena lebih panjang, beruntung sebuah topi hijau menahannya dengan kuat.

Ini hari ulang tahunnya, dan ia sungguh berharap ibunya bisa pulang lebih awal sehingga mungkin mereka bisa merayakannya di suatu tempat, restoran keluarga, mungkin. Atau setidaknya, mengingatnya. Tapi… tidak bisa, dan ia tahu diri. Ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya, "Mm, aku mengerti."

"Athrun…" tangan Lenore bergerak dari belakang telinganya, dan berpindah dengan gerakan penuh kasih-sayang ke arah wajah anaknya. Jemarinya terasa dingin saat ia menyentuh pipi anaknya.

Athrun masih terlalu muda untuk mengerti rasa bersalah ibunya ketika itu. Dan ia dibesarkan di bawah pengawasan ayahnya yang mendidiknya dengan ketegasan seorang prajurit. Seolah mempersiapkannya untuk pekerjaan itu di masa depan.

Tetapi sekarang, bertahun-tahun setelah kejadian itu, dengan disela-selai oleh serentetan kematian dan pertarungan yang pada saat terjadi terasa seolah tak akan berakhir meski akhirnya berakhir juga, ia baru bisa memahaminya.

Tatapan mata itu… senyum yang mengiba itu… mata yang dipenuhi rasa bersalah itu…

Adalah wujud permohonan maaf terbaik yang bisa diberikan ibunya semasa hidupnya.

"Admiral Zala."

Suara asistennya. Athrun menggeleng pelan, kembali memusatkan perhatian pada realitas. Jam kerja, laporan; dunia nyata.

Pria itu—Cagalli, yang mulai banyak menghabiskan waktu dengan wanita-wanita seusianya, bersikeras agar ia memecat asisten perempuannya dan menggantinya dengan asisten laki-laki—berdiri di depan meja kerjanya. Membawa beberapa berkas baru yang sepertinya harus ditelaah lagi. Athrun berkesah. Pekerjaan lagi, kah?

"Representatif meminta kehadiran Anda di ruangannya."

"Cagalli?" ia bertanya, secara refleks, kemudian menambahkan dengan nada yang lebih formal, "Apa dia menyebutkan alasannya?"

"Tidak," si asisten menggeleng, "Hanya saja, beliau meminta saya menggarisbawahi dua kata; penting dan mendesak."

"Ya Tuhan," gumam pria bermata zamrud itu, terkejut dan bertanya-tanya, "Semoga saja tidak buruk."

Si asisten mengangguk, kemudian memberi hormat, "Saya juga berharap demikian."

Athrun kembali menghela napas, kerutan yang lalu terlihat di sudut bibirnya tidak memenuhi kriteria untuk disebut sebagai senyuman, meskipun sekilas, "Terima kasih atas laporannya."

"Saya permisi, Admiral."

"Silahkan."


Sewaktu Athrun tiba di ruangan Cagalli yang terletak di sisi bangunan yang berseberangan dengan tempat ia bekerja, dan membuka pintu, wanita itu langsung menghambur ke arahnya, dan, dengan gerakan cepat yang terkesan tergesa, ia memeluknya.

Kedua lengan Cagalli melingkari tubuhnya sementara wajahnya terbenam sepenuhnya di dadanya. Ada keintiman dalam situasi ini, namun jelas sekali bukan itu tujuannya. Dekapan Cagalli memendarkan semacan sentakan tak kasatmata. Emosi dan beban. Kesedihan, dan juga kekhawatiran.

Athrun merengkuh tubuh istrinya, sedikit lebih erat hingga jarak di antara mereka nyaris setipis cemeti. Napas wanita itu menghangatkan bagian depan seragam kemiliterannya, dengan intensitas yang mengejutkan. Cagalli jelas tidak dalam situasi yang baik. Dan mereka bukan lagi remaja dengan hasrat yang meledak-ledak seperti dulu.

Pasti ada sesuatu yang terjadi.

"Maple, Athrun," suara Cagalli melirih, wajah berpaling hingga hela napasnya terasa lebih kuat pada lengannya daripada dadanya, "Kisaka bilang, dia tidak ada di sekolah."

"Cagalli," Athrun mendorong wanita itu sehingga mereka berdiri berhadapan satu sama lain dengan jarak yang memungkinkan untuk saling bertatapan dan berbicara dengan jelas. Matanya menatap langsung ke mata Cagalli yang dipenuhi kecemasan, seperti waktu itu. "Apa kau sudah bertanya pada Manna-san?"

"Mm," ia mengangguk, kemudian menundukkan kepalanya. Alisnya melengkung ke bawah dan bulu matanya memberi kesan sedih pada kedua mata ambarnya. "Manna-san juga mengatakan Maple belum pulang."

Alis mengerut, "Mungkinkah dia pergi ke PLANTs lagi?"

"Tidak," Cagalli menggeleng, kemudian ia mengangkat wajahnya hingga mereka bertatapan lagi. "Aku sudah menanyakannya pada petugas port, tidak ada yang membeli tiket dadakan menuju PLANTs hari ini."

Berkebalikan dengan beberapa menit sebelumnya, Athrun kembali menarik Cagalli dalam satu dekapan sempurna. Ia mengistirahatkan dagunya di bahu wanita itu, dan mengusap punggungnya. "Dia putri kita, Cagalli. Jangan khawatir, kita pasti akan menemukannya. Dalam keadaan baik-baik saja."

Hening.

Suara ketukan, berulang.

"Athrun-sama, Cagalli-sama."

Suara Kisaka.

Keduanya saling melepaskan diri dari pelukan intens itu secara serentak. Sebelah tangan Cagalli beranjak turun dan meraih tangan suaminya. Athrun bisa merasakan keringat dingin di tangan Cagalli yang bersentuhan dengan tangannya sendiri. Ia menghela napas pelan, dan menggenggam tangan Cagalli. Menariknya ke sisinya.

"Masuk, Kisaka."

Pria itu membuka pintu, memberi hormat secara formal, kemudian berkata, "Seseorang baru saja melaporkan bahwa ia melihat gadis dengan ciri-ciri mirip Maple di dekat Morgenroete."

"Morgenroete?" tanya Athrun, sementara Cagalli belum mengatakan apapun. Meski genggaman tangannya yang semakin erat menunjukkan kekhawatirannya, "Apa kau sudah mengkonfirmasinya?"

Kisaka mengangguk, "Aku sudah menghubungi Erica Simmons, tetapi belum ada jawaban."

"Kurasa kita harus memastikannya sendiri, Athrun," Cagalli menolehkan kepalanya, kecemasan masih menghiasi matanya, "Seingatku Erica sedang mengambil cuti hari ini."

"Baiklah," sahut Athrun, Kisaka mengangguk, "Akan kusiapkan kendaraannya."


Morgenroete. Ketika Athrun, Cagalli, dan Kisaka tiba di tempat itu, kelihatannya hanya ia sendiri yang tidak siap menyaksikan keadaannya. Pabrik senjata milik ORB itu disulap jadi semacam aula besar untuk acara ulang tahun. Athrun bahkan tidak mau bertanya bagaimana caranya.

Kemudian, itu. Ucapan selamat ulang tahun.

Well, tak akan mengejutkan jika yang mengucapkannya hanya Maple, Erica, Mwu, Murrue, Andy, atau beberapa rekan mereka di Bumi. Tapi tidak. Bukan hanya mereka. Ada Kira, Lacus, Yzak, Shiho, Dearka, Miriallia, Shinn, Lunamaria, Meyrin, dan beberapa orang lainnya dari rekan-rekan seperjuangannya pada masa perang. Juga… anak-anak mereka.

"Kalian," kata Athrun, "Benar-benar. Kurasa kalian harus berhenti memikirkan hal-hal semacam ini."

Ia berhenti sejenak, mata zamrudnya tertuju pada seorang pria berambut coklat secara spesifik dan intens, "Terutama kau, Kira."

Kira mengangkat kedua tangannya setinggi bahu, tanda menyerah, "Apa? Bukan aku. Aku tidak merencanakan semua ini, Athrun. Sungguh."

"Kalau begitu…"

"Aku, Dad," Maple, yang sebelumnya berada di balik perlindungan beberapa kerabatnya di Bumi—mengingat ia belum bisa dipercaya untuk berada di tengah-tengah para remaja laki-laki dari PLANTs—melangkah maju dan berdiri di hadapan orangtuanya. "Aku yang merencanakan semua ini."

"Maple? Tapi…"

"Regenerasi, Athrun," Kira berujar, "Sudah waktunya bukan? Well, harus kuakui keponakan kecilku selalu punya kejutan untuk semua orang. Terutama orangtuanya."

Ada jeda sepanjang hela napas, "Tapi yah, aku membantunya mewujudkan semua ini. Dan Lacus-lah yang membantu Cagalli mempersiapkan aktingnya."

Ia menoleh pada Cagalli, dan wanita itu tersenyum, "Maaf."

"Selamat ulang tahun, Dad," ujar Maple, terdengar begitu senang, "Kuharap kau menyukai pestanya."

Athrun mengendarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia masih belum bisa membayangkan bagaimana cara mereka mengubah interior Morgenroete menjadi seperti ballroom besar dengan meja buffet dan panggung kecil—mungkin untuk tempat bernyanyi atau semacamnya—atau kemana mereka memindahkan proyek-proyek dan gundam yang diparkirkan disini.

Matanya menatap kehangatan yang menyeruak di dalam ruangan itu. Kehadiran teman-temannya. Anak-anak yang berkumpul. Dan pesta ini. Oh, ya ampun. Benar-benar tak terbayangkan.

Tapi… ia harus membalas ucapan mereka, kan?

Jadi…

"Terima kasih," ungkapnya, agak canggung karena luapan haru, "Terima kasih, untuk pestanya."


A/N:

Honestly, I think this is too short and lack of something important.

But... I can't find it. And the deadline is today so I have no choice but to published it.

Hope you like it!

By the way, send me reviews so I could get back to you or maybe know what did I miss. Except for the fact that it was shorter than the previous,

'cause I've known that already!

Anyway, Happy Thursday~

Love,

.

K. Hiyama