Title : Memories in the Autumn
Author : J.H.I a.k.a Nurul Disandi Avogadro
Length : Ditentukan kemudian
Genre : Sad, Comedy (mungkin) *genre dapat berubah setiap part
Rated : Semua Umur
Cast : - Jung Hwa In (OC)
- Shim Hyun Seong Boyfriend
- Lee Jeong Min Boyfriend
- Jo Kwang Min Boyfriend
ANNYEONG HASEYO CHINGUDEUL
Huaa... puk puk puk. Apakah ada yang merindukan lanjutan fanfic ini ? ah... mianhae saya melanjutkannya agak lama. Baru punya waktu dan ide tadi malam. Maafkan saya juga jika di episode ini alurnya agak aneh. Jeongmal Mianhae.
FF Ini adalah murni pemikiran saya. Jadi... DON'T BE A PLAGIARISM
******* HAPPY READING *******
Preview part 1
"Iya... aku tahu. Kau kan selalu menggunakan inisial itu setelah selesai menulis cerita pendek. Kau pikir aku lupa ?".
"Ah... itu... iya.. aku yang menulisnya. Kenapa ? Apa ceritanya sangat aneh ?".
"Tidak. Justru ceritanya sangat keren. Aku menyukainya, kau benar - benar hebat Hwa In ah,".
"Ah... gomawo,"sahut yeoja yang dipanggil Hwa In itu dengan sedikit blushing.
"Eh... by the way, bisa kau ceritakan padaku kenapa kau bisa kembali kesini ?"
"5 bulan yang lalu Eommaku meninggal,"sahut yeoja itu dengan nada sedih "appa mengajakku kembali kesini karena sulit baginya hidup di negeri orang tanpa eomma. Aku bahkan terkadang berfikir. Appaku, dia benar - benar sangat menyayangi eomma. Sampai - sampai dia tidak cukup kuat untuk mengingat kembali memori bersama eomma. Aku selalu melihat appaku menangis ketika berada di dalam kamar tempat eommaku menghembuskan nafas terakhirnya. Appa. Dia benar - benar sangat menyayangi dan mencintai eomma,"lanjutnya dengan bercerita panjang lebar.
"Hmmm... kisah cinta yang sangat menarik. Aku salut dengan appamu. Haruskah kutanyakan, kenapa memilih kembali kesini ?".
"Seperti yang ku katakan tadi. Selain itu, appa juga mencoba bangkit tanpa harus berada di lingkungan yang mencetak banyak kenangan di detik - detik terakhir eomma,".
"Hmmm.. begitu yah ? Bukankah disini juga banyak kenangan keluarga kalian ? Aku rasa kenangan disini lebih banyak daripada kenangan di Gangnam,".
"Hmmm... iya juga sih. Aku juga kurang mengerti. Aku rasa appaku hanya ingin menginga kenangan indah di tempat mereka pertama bertemu. Bukan di tempat dimana mereka terpisah untuk selamanya,"jawab yeoja itu dengan nada yang agak sedih.
"Aku mengerti sekarang,".
Flashback off
"Hmmm... begitu yah rupanya,"ucap jeongmin menanggapiku ceritaku.
"Begitulah. Aku benar - benar tak menyangka jika berada disini akan mengungkap kembali kisah yang sudah lama ingin aku lupakan,".
"Sudahlah Hwa In ah. Jangan terlalu mengingat kenangan buruk itu lagi. Kau harus berusaha menerimanya dengan ikhlas. Bukankah ini adalah bagian dari takdir yang harus kau jalani ?"ucapnya sembari menatap dalam mataku
Aku hanya bisa tertunduk sekarang. Jeong Min benar. Meskipun aku terlalu banyak mengukir hal pahit dengan orang yang sangat aku cintai, bukan berarti aku harus lemah dan menyerah. Ini adalah bagian dari takdirku. Goresan hidup yang sudah di ukir untukku. Goresan yang sudah aku sepakati sebelum aku lahir dan melihat indahnya dunia. Dan kini, aku sudah melewati setiap goresan pahit yang harus kujalani. Aku memang masih tak mengerti. Tapi yang aku tahu tuhan sudah memiliki rencana indah untukku. Aku memejamkan mataku sejenak
"Tuhan, terima kasih karena sudah menghadirkan sosok - sosok yang memberikan segala jenis kenangan untukku,"ucapku dalam hati.
"Kau melamun ?"tanya Jeongmin sambil menggoyangkan bahuku pelan.
"Ah...mianhae,".
"Ne... gwaenchana. Aku mengerti perasaanmu. Satu pesanku. Tetaplah menjadi yeoja kuat seperti dulu,"tuturnya sambil menekankan pada kata kuat.
"Ne, tentu saja,".
SKIP
Trrrttt...trrtt... smarthpone putihku kembali berbunyi setelah beberapa kali aku mendengarnya saat masih berada di kamar mandi tadi. Ah...ini kan baru jam 5 pagi. Siapa yang menelponku jam segini ? Ada perlu apa ? Sepertinya penting sekali.
"Yeoboseyo..."ucapku setelah menjawab telepon dari orang itu.
"Yak, Hwa In ah. Kau ini lama sekali mengangkatnya. Aku sudah meneleponmu puluhan kali,".
"Eh mianhae. Kau siapa ?"ucapku polos.
"Yak, jangan bertindak babo. Aku ini Jeongmin. Bagaimana bisa kau tidak mengenal suaraku,".
"Ah... mianhae, aku lagi rada - rada error sekarang. Ada apa ?"tanyaku kemudian.
"Cepatlah beritahu temanmu itu, aku sudah menemukan main cast untuk memerankan tokoh di naskahnya tersebut,".
"Mwo ? Sekarang juga ?".
"Tentu saja. Kita harus bertemu dengan para main cast tersebut. Sekalian untuk melihat sejauh mana skill mereka dalam memerankan adegan yang tertera pada naskah,".
"Harus ketemu dimana ? Jam berapa ?"tanyaku lagi.
"Di Micky Mouse cafe. Tepat pukul 10 KST,".
"Micky mouse cafe ? Dimana ? Aku tak pernah mendengar nama itu,".
"Datang saja ke pusat kota Seoul. Nanti kau akan menemukannya,".
"Hmm... baiklah, akan kusampaikan sekarang. Tapi aku tidak ikut kan ?"ucapku sambil mempermainkannya.
"Yak, baboya. Tentu saja kau harus ikut. Bagaimana bisa aku menelponmu jika kau tidak aku libatkan. Cepatlah, hubungi teman namjamu itu,".
"Ne. Ne. Arasseo,"sahutku sambil menutup telepon. Sejurus kemudian aku mencari kontak yang ada di smartphoneku. Aku langsung mencari nama itu. Yah... jo kwangmin. Aku langsung menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan.
"Yeoboseyo,"ucapnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Ah... mianhae Kwangmin ah. Aku mengganggumu ya ?".
"Ah.. gwaenchana. Waeyo ?".
"Hanya ingin memberitahumu, pihak Mirror TV meminta kita untuk bertemu dengan main cast yang akan memerankan seluruh adegan di naskahmu itu,"ucapku menjelaskan.
"Mwo ? Mereka sudah menemukannya ? Dimana ? Kapan ?".
"Yak. Jangan memberiku pertanyaan beruntun seperti itu,"ucapku dg nada yang dibuat setinggi mungkin "tentu saja mereka sudah menemukannya. Bukankah ini sudah satu bulan ?"lanjutku kemudian.
"Ah... ne. Kau benar. Lalu dimana kita akan melakukan pertemuan itu ?".
"Di Micky Mouse cafe pukul 10 KST,".
"Ah... ne. Arasseo,".
"Ingat. Jangan terlambat"ancamku kemudian sembari menutup teleponnya.
Aku dan Kwang Min berjalan melihat tepi demi tepi jalanan kota Seoul saat ini. Untuk apa lagi kalau bukan mencari yang namanya Micky Mouse cafe. Perlu aku klarifikasi. Meskipun kami berdua sudah lama tinggal di Seoul, namun nama Micky Mouse cafe itu masih asing di telinga kami.
"Mungkin saja itu adalah cafe yang baru dibuka,"celetuk Kwang Min yang sedari tadi berjalan di belakangku.
"Hmm.. bisa jadi,"ucapku sambil menghela nafas dengan berat "tapi ini sudah jam 09.30. Kita belum juga menemukan cafe itu,"sambungku kemudian.
"Apa kau tidak menanyakan dimana tempatnya ? Aku kira kau sudah tahu,".
"Ajik nan molla. Dia hanya memberi tahuku bahwa cafenya terletak di kawasan kota Seoul. Tapi tidak memberitahu dimana detail tempatnya," ungkapku panjang lebar
"Kenapa tidak kau tanyakan detail lengkapnya ? Kau pikir Seoul itu sempit ?".
"Ah... aku sudah mencoba bertanya. Dia hanya bilang cafenya ada di pusat kota. Ah...Aku rasa direktur gila itu ingin bermain - main denganku,".
"Mwo ? Direktur gila ? Hei dia itu partner kerja kita. Kenapa bisa kau mengatainya begitu ? Dan untuk apa juga dia mempermainkan kita ?"tanya Kwang Min dengan raut setengah bingung.
"Tentu saja. Mengerjai partnernya. Direktur apa lagi kalau bukan direktur gila ?,"omelku dengan nada yang dibuat kesal.
"Yak, Hwa in ah, kau lihat itu kan ? Micky Mouse cafe. Aku menemukannya,"teriak Kwang Min yang sontak menghentikan aksi mendumelku.
"Ah.. syukurlah. Ayo kita masuk,"ucapku dengan sisa semangat yang hanya tertinggal separuh saja.
"Yak... Hwa In ah, kenapa kau lama sekali ? Kau hampir terlambat,"teriak seseorang dari arah meja pelanggan. Aku dan Kwang Min pun mengarahkan mataku ke arah sumber suara itu.
"Yak. Lee Jeong Min baboya. Kau mau kubunuh eoh ?"teriakku sambil mengumpat dan sontak membuat si Kwang Min yang sedari tadi mengikutiku menjadi terbengong - bengong dibuatnya.
"Hahahhaha... aku sangat senang sekarang. Sudah lama aku tidak melihat ekspresi membunuhmu itu. Aku benar - benar merindukannya,"ucapnya disertai dengan gelak tawa dan sontak namja 4D disampingku sekarang semakin kebingungan dengan suasana sekarang.
"Berhenti tertawa babo. Kalau tidak aku akan benar - benar membunuhmu,".
"Yak... duduklah. Aku hanya bercanda. Lagi pula ini baru pukul 09.45 KST. Masih belum terlambat kan ?".
"Iya. Aku tahu. Tapi mengerjai seseorang disaat sambil bekerja bukanlah hal yang bagus setan cermin !"ucapku dengan penekanan pada kata setan cermin.
"Mwo ? Setan cermin ? Aishh... kau ini,"gerutunya dengan nada yang seolah-olah sedang kesal "aku menyerah sekarang. Duduklah,"lanjutnya lagi.
Akupun langsung mengeluarkan smirk ku sambil mengambil kursi kosong yang ada di depannya sembari mengajak Kwang Min untuk duduk. Tentu saja dia merasa bingung sekarang. Bagaimana tidak suasana yang tadinya saling mengumpat dan saling mengejek tiba - tiba saja berubah menjadi seperti suasana pertemuan penting .
"Sebenarnya ini ada apa ? Bukankah kita akan bertemu dengan pihak Mirror TV ?"bisik Kwang Min yang sebenarnya suaranya terdengar keras dan dapat di tangkap oleh indera pendengaran Jeong Min.
"Ssst... diamlah,"timpalku padanya.
"Hmm... kenapa harus disini. Suasananya sangat tidak formal sekali,"ucapku dengan nada setengah mengejek.
"Aku tidak suka dengan suasana yang terlalu formal. Lagipula tempat ini akan kujadikan salah satu dari sekian latar tempat yang ada di naskah itu,"ucapnya menjelaskan.
"Hmmm... ide yang bagus. Suasananya juga tidak buruk. Apa cafe ini baru dibuka ?".
"Tentu saja. Cafe ini baru diresmikan sekitar dua bulan yang lalu,".
"Sepertinya kau tahu banyak tentang cafe ini,"ucapku menimpali.
"Pastinya. Cafe ini milik No Min Woo. Sahabat kecilku sekaligus seorang manager yang bekerja di perusahaanku. Awalnya aku datang hanya untuk melihat-lihat saja. Akan tetapi setelah melihat suasananya aku jadi berpikir ini bisa dijadikan tempat bagus untuk latar film. Sekalian sambil membantunya untuk promosi cafe ini. Lagipula membantu teman bukan hal yang buruk kan ?"tuturnya panjang lebar.
"Ah... kau benar. Kau selalu bisa memanfaatkan sebuah peluang Jeong Min ah,"ucapku memujinya dan sudah kupastikan sekarang dia merasa sangat tersanjung.
"Seorang pebisnis memang harus bisa memanfaatkan peluang bukan ?"tanyanya padaku.
"Ah... kau benar,".
"oh... iya Hwa In ah. Aku rasa kita melupakan seseorang,".
"Siapa ?". "Orang yang disampingmu,"ucapnya sambil menoleh kearah Kwang Min "apa benar kau yang bernama Jo Kwang Min ?"lanjutnya bertanya pada Kwang Min yang sedari tadi sedang berusaha mencerna apa yang sedang kami bicarakan.
"Ah... ne, jeoneun Jo Kwang Min imnida. Bangapseupnida"ucapnya sopan.
"Ah... ne. Bangapta,".
"Aishh... kau terlalu formal Kwang Min ah,"ucapku menimpali Kwang Min.
"Hahaha... wajar saja Kwang Min sepergi itu. Bukankah ini pertama kalinya kami bertemu ?"ucap Jeong Min padaku.
"Ah, ne. Kau benar,"sahutku"oh iya Kwang Min, dia ini direktur mirror TV tempat dimana kau mengirimkan naskahmu. Namanya Lee Jeong Min. Dia teman akrabku saat SMP dulu,"lanjutku menjelaskan pada Kwang Min.
"Temanmu ? Tapi aku tidak pernah melihatnya setelah aku kembali ke Korea,".
"Tentu saja. Dia ikut orang tuanya ke Paris setelah lulus SMP. Sejak saat itu kami tidak lagi menjalin komunikasi. Dan dia juga baru kembali 2 tahun yang lalu".
"Ah... begitu ? Apa kalian sangat akrab ?".
"Tentu saja. Kami adalah sepasang sahabat ketika sedang galau dan bersedih. Akan tetapi ketika kami bosan, kami akan menjadi seperti tom and jerry,"celetuk Jeong Min sambil tersenyum.
"Oh... pantas saja dia berani menyebutmu direktur gila,"ucap Kwang Min sambil membocorkan apa yang kukatakan saat di jalan tadi.
"Mwo ? Kau bilang aku direktur gila ?"tanya Jeong min meminta penjelasan padaku.
"Tentu saja kau gila. Meminta bertemu tetapi dengan mengerjai partnermu terlebih dahulu. Bukankah itu gila ?".
"Ah... ne, ne, mianhae,"ucapnya tidak tulus.
"Arasseo,"sahutku dengan nada setengah ikhlas "oh iya, kapan para main cast nya datang ? Aku rasa ini sudah pukul 10.15 KST,"lanjutku dengan bertanya pada Jeong Min.
"Ah... mianhae. Aku lupa memberi tahumu. Mereka agak terlambat dikarenakan ada beberapa permasalahan,".
"Permasalahan apa ? Tidak kah mereka bisa mengatasinya ?".
"Tentu saja tidak. Cast namjanya harus menyelesaikan syuting terlebih dahulu. Sementara cast yeojanya terlambat karena penerbangan dari jepang ke korea delay selama 3 Jam,".
"Eoh begitu ? Cast yeoja nya dari Jepang yah ternyata ?".
"Bukan begitu. Hanya saja dia memiliki job penting di Jepang. Biasalah, untuk menaikkan popularitas,"jelasnya secara detail.
"Hmmm... ne, ne , ne. Arasseo,".
"Hmm... mmm... Kwang Min ah ,"panggil jeong min.
"Ne waeyo jeong min ssi ?".
"Aish... jangan panggil aku seperti itu . Kita seumuran. Panggil Jeong Min saja,".
"Ah... ne Jeong Min ah. Waeyo ?".
"Hanya ingin bertanya, sejak kapan kalian berdua menjadi sangat akrab ?".
"Aku lupa. Tapi kami sudah sangat akrab sejak masih kecil. Rumah kami bersebelahan. Dulu kami berdua selalu bermain bersama dengan hyungku,"cerita kwangmin panjang lebar. "Hyung mu ?".
"Ne. Aku punya hyung kembar. Hanya lebih tua 6 menit dariku. Sejak kecil Hwa In selalu bermain bersama kami,".
"Waaw... menarik. Sejak masuk SMP aku sering main ataupun mengerjakan tugas di rumah Hwa In. Tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu ? Kau bilang rumahmu dan Hwa In bersebelahan ?".
"Ah... itu karena aku dan seluruh keluargaku pindah ke Jepang setelah aku lulus Sekolah Dasar,".
"hmmm... begitu rupanya. Apa waktu itu Hwa In gadis yang nakal ?"tanya jeong min dengan antusiasnya.
"Tidak juga. Dia gadis yang sangat baik. Eomma dan appaku sangat menyayanginya,". "
Berhenti bicara berlebihan Kwang Min ah. Aku tidak sebaik yang kau katakan,"ucapku menimpali.
"Sudahlah lupakan. Sepertinya main castnya sudah menuju ke arah kita,"potong Jeong Min sambil menunjuk ke arah dua orang yang sedang berjalan ke arah kami.
"Annyeong haseyo,"sapa seorang yeoja dengan ramahnya.
"Ah... annyeong haseyo,"ucap jeongmin tak kalah ramahnya "apa kau yang bernama Jung Hwan Ae ?"tanyanya lagi.
"Ah ne. Majayo. Jeoneun Jung Hwan Ae imnida. Bangapseupnida sajangnim,"ucapnya yang sontak membuatku batuk ketika mendengarnya.
"Jangan terlalu formal. Aku masih terlalu muda,"sanggah Jeong Min sopan "oh iya, apa kau yang bernama Lee Gi Kwang ?"tanyanya lagi sambil menoleh namja yang sedarj tadi berdiri di samping yeoja tersebut.
"Ne,"sahutnya singkat.
"Ah... baiklah, silahkan duduk,"ucap Jeong Min pada mereka. Melihat hal ini kadang aku berpikir bahwa dia benar - benar terlalu baik menjadi seorang atasan.
"Ne,"jawab mereka bersamaan.
"Hwan Ae ah, Gi Kwang ah, perkenalkan, mereka adalah partner kerjaku dalam project ini. Yeoja ini adalah Jung Hwa In. Dia yang akan jadi sutradara kalian. Dan namja yang disebelahnya adalah Jo Kwang Min. Dia adalah orang yang menulis naskahnya,"ucap jeongmin memperkenalkan kami pada mereka. Aku dan Kwang Min hanya bisa tersenyum dan bersalaman dengan mereka. Jujur saja. Aku benar - benar gugup sekarang.
"Bagaimana ? Kau sudah siap ?"tanya Jeong Min pada Hwan Ae setelah melihat mereka selesai membaca naskahnya.
"Ah. Ne. Aku sudah siap sajangnim,".
"Baiklah. Tunjukkan pada kami sekarang,".
"Gi Kwang ah, aku mohon jangan pergi,".
"Maafkan aku Hwan Ae ah. Aku sangat tidak pantas untukmu,".
"Karena apa ?".
"Kau tahu ? Aku hanya seorang seniman yang tidak mempunyai tujuan jelas. Itu sangat berbeda denganmu,".
"Cukup. Cukup. Akting kalian benar - benar bagus,"ucap Jeong Min kagum
"Benarkah ?" tanya Hwan Ae berbinar.
"Tentu saja. Bagaimana dengan kalian Kwang min ah, Hwa In ah ?"tanya jeongmin pada kami.
"Ne. Sangat bagus,"sahut kami serempak.
SKIP
Lokasi syuting
Siang terik dengan matahari di atas kepala. Sangat panas. Maklum saja, sekarang kan sedang musim panas. Syuting take pertama dengan latar taman sudah selesai. Aku beristirahat di bawah pohon sambil sesekali menyeka keringat yang mengucur di kepalaku.
"Eonni...,"sapa seseorang dari depanku.
"Ah... ne, Hwan Ae ah, ada apa ?"ucapku setelah melihat yeoja itu duduk disampingku.
"Apa eonni masih marah ?"tanyanya lagi.
"Tentang apa ?"sahutku menghela napas berat.
"Kejadian waktu itu. Aku benar - benar menyesal tak memberitahumu sedari awal,".
"Sudahlah. Aku tidak marah. Hanya sedikit kecewa. Tapi aku juga tak bisa menyalahkanmu. Itu bukan keinginanmu kan ?".
"Ah... kau kecewa. Meskipun itu bukan keinginanku. Aku juga benar - benar merasa bersalah,".
"Tidak apa - apa. Aku sudah mulai kuat sekarang. Meskipun rasa takut dan trauma itu masih ada,"ucapku tertunduk sedih.
TO BE CONTINUE
Sekedar penjelasan. Jika kalian agak bingung dengan apa yang ada di episode ini dan jika kalian bingung HYUN SEONG yang tak kunjung muncul, jawabannya akan ada di episode2 selanjutnya.
TERIMA KASIH
DAN JANGAN LUPA RCL NYA ... !
