A/N: Makasih buat yang udah review. Part kali ini no edit jadi mohon maaf jika ada beberapa kesalahan penulisan :p
Paradox © Viero D. Eclipse
Disclaimer: SHINee and DBSK/TVXQ are belongs to SM Entertainment, God and them self
Casts: Max Changmin, Lee Jinki 'Onew' and other K-Pop Boyband members.
Pairing: ChangNew (Max Changmin x Lee Jinki 'Onew')
Genre: Mysteri, Fantasy-Sci-fi, Adventure, Drama, Romance
Rated: T
Warning: AU, Shounen Ai, Referensi ilmiah fiktif, Padat deskripsi, OOC, Typo(s), Redundansi, Miss-words
Don't like? Don't read!
-Part 2-
Reality
Semua ini bukan mimpi.
Melainkan sebuah jala realitas yang mau tidak mau haruslah dihadapi juga.
Sugesti itu terus saja meracuki labirin penalaran. Semenjak penemuan milik mendiang sang ayah telah terkuak tepat di hamparan kedua matanya, dilema seakan mengombang-ambingkan hidup Changmin. Warisan dan juga peninggalan yang ia terima—tidak hanya sekedar harta dan kekayaan belaka. Tapi juga sebuah eksperimen ilegal yang sudah terputus masa penelitiannya.
Kini, gambaran mengenai apa yang harus dilakukan Changmin selanjutnya seakan blur. Karena sejatinya, semua ini terlalu cepat untuk diterima ke dalam akalnya. Terlalu cepat dicerna rasio.
Namja itu lantas termenung, dengan posisi tubuhnya yang masih terbaring tepat di atas ranjang. Pagi menyongsong hari. Dan segenap permasalahan ini seakan mampu menyuramkan cerahnya lentera pagi. Gelap. Semua serasa begitu gelap. Karena cahaya pemecahan masalah itu seolah meredup dengan bengisnya.
"Apa yang harus kulakukan dengan 'project' itu sekarang?"
Project...
Ya. Itulah subtansi inti dari masalah yang harus segera ditindaklanjuti. Penemuannya yang satu itu tak dapat diabaikan begitu saja. Ayahnya sudah berpesan bahwa ia haruslah melanjutkan penelitian itu. Akan tetapi, bagaimana Changmin bisa melanjutkannya jika orientasi dan sasaran dari project itu saja tidak ia ketahui
"Changmin-ssi! Sarapan Anda sudah kami persiapkan di ruang makan!" Suara dari salah seorang pelayan mansion terdengar keras dari balik pintu, sukses membuat lamunan Changmin terpecah. Dengan lemas, namja itu beranjak dari hamparan ranjangnya dan menatap ke arah pintu.
"Arasso. Aku akan segera ke sana."
Respon singkat itu sudah cukup untuk membuat sang pelayan melangkah pergi meninggalkan kamar tuannya. Sang pemilik mansion kini hanya dapat menghela napas pasrah. Sebuah buku bersampul merah darah yang terletak di dekat ranjang telah menjadi pusat atensinya. Sebuah lentera. Ya, benar. Kelak, buku itulah yang akan menjadi sebuah lentera pemandu hidupnya.
Jurnal... 'Tri-Angle'
'Shim Yunho. Kau benar-benar menyusahkanku.'
.
.
"Seperti yang bisa Anda lihat sendiri, Changmin-ssi. Semenjak Anda pergi meninggalkan mansion ini, Tuan Yunho sudah merenovasi beberapa bagian ruangannya. Ia menambahkan sebuah aula di beranda belakang. Dan juga memperluas perpustakaan lamanya. Ruang kantornya masih tetap berada di sebelah utara mansion ini. Dan bahkan, kolam renangnya juga masih tersedia di beranda tengah."
"Oh, begitu. Lalu perubahan yang ada di lantai atas?"
"Untuk lantai atas, beliau telah menambahkan ruang observasi dan juga sebuah planetarium kecil. Ada sekitar enam buah kamar kosong dan tiga di antaranya merupakan kamar tidur biasa yang sudah lama tak dipakai lagi. Tapi Anda tak perlu khawatir, Changmin-ssi. Kami sudah membersihkan semuanya. Anda bisa menggunakan kamar-kamar itu kapan saja."
Changmin menganggukkan kepala mendengar semua penjelasan itu. Sebagai seorang butler yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun pada keluarga Shim, Leeteuk benar-benar melakukan tugasnya dengan baik. Ia menjelaskan secara terperinci mengenai hal-hal yang sudah seharusnya diketahui oleh Changmin. Mulai dari beberapa bagian mansion hingga hal-hal yang sudah dilakukan oleh sang atasan semasa hidupnya. Namun, dari semua penjelasan itu, masih ada beberapa hal yang mengganjal di hati Changmin.
"Kalau boleh tahu, apakah mansion ini memiliki lebih dari satu ruang lab?"
"Ruang lab lain? Ah, maaf. Setahuku mansion ini hanya memiliki satu ruang lab saja, Changmin-ssi. Yakni ruang lab utama yang ada di sebelah aula. Selain itu tidak ada lagi." Pernyataan itu membuat Changmin bertopang dagu. Leeteuk tak menunjukkan tanda-tanda untuk berbohong. Sejatinya hal ini tidaklah terlalu mengejutkannya.
'Sudah kuduga... pasti tak ada yang tahu dengan ruang lab rahasia yang tersembunyi di perpustakaan waktu itu.'
"Uhh, maaf. Apakah ada hal lain yang bisa kubantu, Changmin-ssi? Sepertinya, ada sesuatu yang mengganjal di hati Anda," Leeteuk tampak skeptis. Changmin menggelengkan kepalanya.
"Ah, ani. Aku hanya ingin tahu saja. Mungkin, ayahku memiliki alternatif ruang lab lain di mansion ini. Ternyata aku salah." Namja raven itu berdiplomasi dengan mulusnya. Karena ia tak ingin ada orang luar yang tahu mengenai persoalan ruang lab rahasia itu. Ya. Semakin sedikit yang tahu, maka akan menjadi lebih baik.
"Lalu, apa kau mengetahui tentang project terakhir ayahku sebelum ia meninggal?"
"Project terakhir?" Leeteuk mencoba mengingat-ngingat sesuatu. "Aku tidak tahu dengan spesifikasi project terakhir yang beliau kerjakan. Karena Tuan Yunho selalu merahasiakan penelitiannya dari orang internal dalam mansion. Namun yang jelas, saat itu ia sempat membuat perjanjian kerja sama dengan beberapa... orang asing."
"Orang asing?" Changmin menautkan alisnya. Dan sang butler menganggukkan kepalanya.
"Itu benar, Changmin-ssi. Tuan Yunho terlihat membicarakan sesuatu dengan beberapa orang asing di kantornya saat itu. Orang-orang asing berpakaian aneh. Ya, benar! Pakaiannya sangat aneh. Seperti bukan pakaian di era ini. Dan semenjak itulah Tuan Yunho tampak begitu fokus pada project-nya sampai hari dimana ia meninggal dunia."
Kesaksian Leeteuk sungguh tak bisa dianggap remeh. Kini Changmin benar-benar semakin penasaran. Enigma terus saja bermunculan dari balik riwayat sang ayah. Sebuah perjanjian. Orang-orang asing dengan pakaian aneh. Sebenarnya sang ayah sudah terlibat dalam hal apa?
Dan project manusia itu...
"Apa ada hal lain yang ingin Anda ketahui, Changmin-ssi?" sang butler kembali melontarkan tanya. Sejatinya Changmin sudah mulai mengerti dengan apa yang harus ia lakukan. Sebuah arah untuk menghadapi dilema ini semakin terlihat. Mencari aman. Ya. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah bermain secara aman. Karena sepertinya, sang ayah sudah merancang segenap keadaan ini untuk ia kelola nantinya.
"Sudah cukup. Kau boleh pergi sekarang, Leeteuk."
"Baiklah. Aku permisi dulu, Changmin-ssi."
Bersamaan dengan berlalunya sang butler, Changmin pun lantas terduduk di sebuah sofa kecil yang ada di dekatnya. Jemarinya terlihat merogoh sesuatu yang ada di dalam saku celana. Dan jurnal Tri-Angle itupun kembali menjadi panoramanya.
"Jika spekulasiku benar, maka orang-orang asing itu adalah..." lembar pertama kembali dibuka. Kedua obsidian Changmin lekas menatap runtutan teks yang ditulis oleh ayahnya itu. Sebenarnya ia mulai bosan dengan beberapa teks sama dan klise yang sudah ia baca berulang kali itu. Namun, rasa bosan yang tersemat seolah bertransisi menjadi rasa kuriositas tinggi tatkala pencerahan mulai bermunculan sedikit demi sedikit.
"Orang-orang itu terus memohon padaku untuk menyelesaikan project ini. Era mereka telah mengalami sebuah krisis yang begitu besar. Aku tak pernah menyangka bahwa dimensi futuristik akan menjadi sebuah mimpi buruk bagi segenap umat manusia. Sejatinya, aku berpikir, apakah masa depan bisa diubah dengan project ini? Ini adalah project yang rumit dan sangat tidak realistis jika diserahkan padaku..."
'Tak salah lagi. Aku yakin bahwa spekulasiku benar. Ini sungguh sulit dipercaya.' Determinasi perlahan terlahir. Memiliki spekulasinya sendiri, Changmin lantas menutup buku jurnal itu dan beranjak dari sofanya. Ia harus segera kembali melakukan kroscek pada project misterius itu lagi.
Meski sebenarnya ia segan melakukannya...
Namun ia sudah tak punya pilihan lain.
.
.
KRAAAKK!
Rak buku kembali digeser. Dan pencahayaan remang kembali menjadi lentera dalam gelapnya ruang laboratorium itu.
Dengan langkah perlahan, Changmin menapakkan kakinya untuk masuk ke dalam. Atensinya mendapati lagi panorama lab yang begitu hampa dan hening itu. Entah mengapa, setiap kali ia masuk ke dalamnya, selalu saja ada gejolak aneh yang terasa. Sebuah gejolak dimana ia seolah terhunus dengan hawa yang begitu dingin dan menusuk. Jantungnya juga berdebar keras tak beraturan.
Dan ia sungguh tak paham, mengapa semua fenomena itu bisa terjadi padanya.
'Mungkin, gejolak ini hanyalah sugesti yang tak berdasar saja...' Ya. Mungkin saja begitu.
Mencoba mengabaikan itu, ia pun melanjutkan langkahnya untuk menyusuri altar tengah. Barisan tabung kaca berisi life fluid telah kembali menghantam penglihatannya. Dan hanya ada satu tabung life fluid yang menjadi destinasinya saat ini. Sebuah tabung... dengan 'objek hidup' yang ada di dalamnya.
Tri-Angle, Project CG-2185 AD.
"Sepertinya ia masih belum sadarkan diri."
Realita didapat. Changmin sudah berdiri tepat di hadapan project itu. Sebuah project yang sudah digariskan untuknya. Namja yang ada di dalam tabung itu tak menunjukkan perbedaan yang berarti. Keadaannya tetap sama. Ia terdiam dengan kedua matanya yang terpejam rapat. Tak bergerak sedikitpun dan seolah enggan menunjukkan tanda-tanda adanya kehidupan.
Sepertinya, situasi ini lebih rumit dari kelihatannya.
Changmin menghela napasnya melihat itu.
"Bagaimana aku bisa membuatnya sadar? Aku bahkan bingung harus melakukan apa terhadapnya."
Titt!
Titt!
Suara yang dihasilkan oleh mesin pendeteksi denyut nadi itu seolah menyadarkan Changmin dari dilemanya. Obsidiannya lantas melirik sejenak ke arah mesin pendeteksi denyut nadi yang ada di samping tabung life fluid. Layar monitor yang memaparkan sebuah angka kalkulasi baru, telah sukses menarik atensinya secara penuh.
"Lima kali denyutan dalam satu menit?" dahi Changmin berkerut serius. Denyut nadi dari subyek utamanya telah bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Progress yang cukup pesat untuk sesosok manusia yang sudah berada dalam keadaan koma selama setahun lebih.
"Dari dua kali menjadi lima kali permenit. Harusnya, jumlah normal untuk namja seusianya adalah 60 hingga 80 kali permenit. Itu jika diukur dari denyutan nadi arteri radialisnya. Meski jumlah denyutnya jauh dari normal, tapi setidaknya, ia memiliki harapan untuk hidup." Putra Shim Yunho itu lantas bertopang dagu sejenak. Seharusnya, ada sebuah cara untuk meningkatkan denyut nadi namja itu dalam waktu cepat. Atau mungkin, sebuah cara untuk membuat fungsi organ-organ tubuh dan jantungnya bereaksi secara normal. Namun, ia sungguh bingung untuk menemukan solusi seperti itu.
Tak membutuhkan waktu lama untuk kembali pada subtansi dari observasinya. Changmin mengamati lagi secara cermat keadaan dari namja itu. Obsidiannya memicing tatkala menatap puluhan kabel-kabel yang terhubung di tubuh sang project.
"Selain kabel yang terhubung pada mesin pendeteksi denyut nadi, puluhan kabel string yang terpasang di tubuh namja ini juga terdiri dari selang penyambung nutrisi dan reaktor untuk menstimulus sistem sensorik dan motoriknya. Tapi dari semua itu, kenapa ayah tidak memasang sadapan elektrokardiograf pada tubuhnya? Aku juga perlu melacak sinyal jantungnya 'kan?" Jemari Changmin lantas menyentuh hamparan tabung itu. Namja yang ia amati sepertinya terlihat begitu lemah dan sangat rapuh. Spekulasi pun muncul di otaknya.
"Atau mungkin... memasang sadapan itu akan berdampak fatal untuk namja ini? Sepertinya ia benar-benar sangat kritis. Aku tak boleh sembarangan dan bertindak gegabah. Tubuhnya terlalu sensitif untuk kuhubungkan dengan beberapa perangkat luar. Ia harus berada di dalam tabung life fluid ini dulu..."
Setelah segenap fakta itu tersemat ke dalam nalarnya, Changmin hanya dapat mendesah pelan dan menyandarkan punggungnya di hamparan tabung. Diliriknya lagi namja itu dengan tatapan pasrah. Kontur lelah mewarnai paras putra Shim Yunho itu secara utuh.
"Aku benar-benar membutuhkan bantuan. Project ini tak bisa kukerjakan sendiri. Aku harus mencari seseorang yang bisa kupercaya dan bisa menjaga rahasia ini rapat-rapat..."
Pemecahan telah didapat. Hanya ini satu-satunya cara agar Changmin dapat melanjutkan project yang diwariskan oleh sang ayah. Jemarinya lantas mengeluarkan sebuah ponsel yang sudah tersemat di saku celananya. Ada satu nama yang terngiang kuat di dalam benaknya.
Satu nama... dari seseorang yang kelak akan membantunya dalam konspirasi penelitian penuh enigma itu.
"Kyuhyun-ah? Bisakah kau ke tempatku sekarang? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."
.
.
"Sebuah... project?"
Cho Kyuhyun menautkan kedua alisnya. Ruang tengah dari mansion milik Changmin seakan menjadi tempat bernaung dan juga saksi bisu yang menemani eksistensinya. Atensinya sudah mendapati sang kawan yang terduduk tepat di hadapannya. Setelah hampir setahun mereka tak pernah bertemu, kini acara reuni kecil itu harus diwarnai dengan sedikit kejutan.
"Ya, benar. Project ini adalah peninggalan dari mendiang ayahku yang harus segera kulanjutkan. Dan aku butuh bantuanmu untuk hal ini." Changmin menjelaskan dengan begitu serius. Namja itu menyilakan kedua tangannya di dada sembari bersandar, menanti respon Kyuhyun. Dan ia pun tetap bergeming menatap raut tak terdefinisi yang dipaparkan kawan baiknya semasa kuliah itu.
"Aku sungguh tak mengerti. Saat di SM-E dulu, kau selalu saja menduduki peringkat tertinggi dalam hal riset dan juga berbagai karya penelitianmu sendiri. Kau bahkan tahu bahwa kemampuanku masih jauh di bawahmu, Changmin. Tapi, kenapa sekarang kau justru meminta bantuanku? Bukankah, hal ini bisa kau selesaikan sendiri dengan mudah?"
Keskeptisan Kyuhyun adalah hal yang wajar. Changmin sudah dapat memprediksi respon itu. Ia pun lantas menghela napas pasrah. Sejatinya, bagian tersulit dari semua ini adalah untuk menjelaskan segala sesuatu yang mungkin—ia sendiri bingung untuk menyampaikannya.
"Project ini lebih rumit dari kelihatannya. Karena baru kali ini aku dihadapkan dengan bentuk eksperimen yang sepertinya tak lazim untuk dilakukan oleh ilmuwan manapun. Dan lagi, aku memiliki spekulasi bahwa project ayahku tidak berasal dari... era kita."
"Tidak berasal dari era kita? Apa maksudmu?" Kyuhyun semakin tak paham. Dan Changmin hanya merespon itu dengan meletakkan sebuah buku tepat di depan meja kawannya.
"Apa ini?"
"Itu adalah Tri-Angle. Sebuah jurnal yang ditulis ayahku sendiri mengenai project yang sedang kita bicarakan ini." Kyuhyun mengerutkan dahinya. Dengan perasaan ragu, ia pun lantas meraih buku bersampul merah darah itu dan mencoba untuk membuka lembaran pertama.
Changmin kembali melanjutkan penjelasannya.
"Dalam buku itu, disebutkan bahwa kemungkinan besar, ayahku menerima project ini dari beberapa orang asing dengan gaya berpakaian yang aneh. Dan lagi, ia menyebutkan bahwa project ini berasal dari era 'mereka'. Mereka di sini dalam tanda kutip bukanlah era kita, Kyuhyun. Tapi merupakan era yang lain."
Kyuhyun semakin skeptis. Segenap cerita Changmin seakan blur untuk diterima ke dalam logikanya. Namun, runtutan teks dimana Shim Yunho menuliskan kesaksiannya sungguh tidak kontradiksi dengan pernyataan putranya.
"Orang-orang itu terus memohon padaku untuk menyelesaikan project ini. Era mereka telah mengalami sebuah krisis yang begitu besar. Aku tak pernah menyangka bahwa dimensi futuristik akan menjadi sebuah mimpi buruk bagi segenap umat manusia—tunggu sebentar, dimensi futuristik?" Kyuhyun kembali menautkan kedua alisnya. Tak membutuhkan waktu lama baginya untuk mencerna segenap makna dari frase itu. "Ja-Jangan-jangan ini..."
Changmin menganggukkan kepala. "Itu benar. Kemungkinan besar project ini berasal dari era futuristik. Atau bahasa sederhananya... masa depan."
Hening.
Kyuhyun menganga syok. Seakan tak percaya dengan semua realita yang terjabar di hadapannya. Changmin paham bahwa mungkin, kawan baiknya itu pasti telah menganggap marga Shim sebagai sebuah marga yang penuh kegilaan. Ia tak akan percaya begitu saja dengan semua ini. Tak masuk akal. Sejatinya, Changmin sendiri juga masih sulit untuk memercayai semuanya.
Namun, apa daya? Inilah kenyataan yang sudah terjadi.
Sebagai manusia, ia tak memiliki kuasa untuk melawannya.
"I-Ini sungguh tidak mungkin! Bagaimana bisa project ini berasal dari masa depan? Kembali ke masa lalu itu sangat mustahil! Konsep itu di luar logika manusia—"
"Awalnya aku juga tak percaya dengan semua ini, Kyuhyun." Changmin menghela napasnya. "Aku bahkan sempat berpikir bahwa semua ini adalah halusinasi. Tapi tidak. Semua ini adalah kenyataan. Besar kemungkinan bahwa project milik ayahku ini benar-benar berasal dari masa depan. Ada beberapa bukti yang mengarah ke sana."
Changmin menegaskan dengan sangat serius. Kontradiksi dengan Kyuhyun masih memaparkan raut syok.
"Tapi bagaimana bisa? Setahuku, melompat ke masa depan itu mungkin masih bisa terjadi. Karena hal itu tidaklah bertentangan dengan hukum relativitas. Tapi jika kembali ke masa lalu... bukankah hal itu akan menjadi rancu? Dan lagi... mereka ke era kita melalui apa?" Changmin bertopang dagu untuk sesaat.
"Mungkinkah... mereka kemari dengan menggunakan wormhole?"
"Wormhole? Tapi bagaimana bisa? Medan wormhole itu sangat tidak stabil dan membutuhkan banyak energi negatif agar tidak meledak menjadi blackhole dengan ujung yang tidak pasti! I-Ini sungguh membingungkan!" Kyuhyun menggertakkan jemarinya di atas meja sembari menyangga keningnya dengan telapak tangan kanannya. Semua misteri ini membuatnya pusing.
"Selama ini, konsep penjelajah waktu hanya menjadi konsep yang sifatnya teoritis belaka. Dan sekarang, jika konsep itu benar-benar dapat direalisasikan..."
Changmin menyibakkan parasnya ke samping. Sedikit tertunduk untuk menyelami semuanya. Ada banyak hal yang tak bisa digapai ke dalam batas penalaran mereka. "Tak ada yang dapat menebak bagaimana entitas era futuristik yang sesungguhnya. Segalanya bisa saja terjadi, Kyuhyun."
"Ini sungguh gila..." Kyuhyun menghela napas pasrah. Ia pun mencoba untuk menganalisis semuanya dengan kapasitas logika yang ada.
"Jika memang mereka mengirim project itu kemari dari masa depan, setidaknya, project itu pasti merupakan benda mati. Itupun jika memang mereka menggunakan wormhole sebagai salah satu alternatifnya. Karena kau tahu sendiri dengan medan gravitasi wormhole yang tak beraturan itu. Jika tidak distabilkan, maka tubuh makhluk hidup yang melalui saluran itu bisa tercabik-cabik dan hancur lebur."
Changmin membisu. Kyuhyun lantas menyandarkan diri di bantalan kursinya dan kembali melanjutkan penjelasannya. "Mereka tak akan mengambil resiko dengan menghancurkan diri mereka sendiri untuk mengirimkan project ini pada ayahmu. Dan lupakan proses perpindahan dengan mengubah tubuh menjadi molekul-molekul atom. Penyatuan kembali unsur tubuh yang terpecah masih sangat mustahil untuk diaplikasikan—"
"Aku paham dengan analisismu itu. Tapi sayangnya, aku harus menyatakan bahwa ekspektasimu itu tidaklah benar, Kyuhyun," sergah Changmin dengan raut miris. Kyuhyun terhenyak mendengar itu.
"Ekspektasiku salah? Apa maksudmu?"
"Maksudku adalah... project yang dikirimkan oleh mereka, bukanlah sebuah benda mati." Putra Shim Yunho itu beranjak dari kursinya. Segeralah ia berdiri membelakangi Kyuhyun dan berjalan menuju ke perpustakaan. Sedang yang ditinggalkan tampak mengerutkan dahinya. Bingung.
"Jika bukan benda mati, lalu apa?"
Changmin menghentikan langkahnya. Ia hanya tertunduk tanpa berpaling menghadap ke belakang.
"Ikutlah denganku. Kau akan tahu jawabannya dengan cara melihat project itu dengan mata kepalamu sendiri."
.
.
"M-Manusia?"
Lagi-lagi Kyuhyun harus menatap sebuah bentuk realita yang sangat sulit untuk dipercaya. Pucat. Entitas project yang sudah terlihat tepat di hamparan mata, nyatanya mampu untuk membuat namja ikal itu beraut pucat. Ia seakan tercekat dan tak dapat menguntai kata untuk sesaat.
"Jangan kau pikir bahwa namja yang ada di dalam tabung life fluid itu sudah mati, Kyuhyun. Ia masih memiliki denyut nadi." Changmin yang tadinya terlihat bersandar di hamparan dinding lab, kini melangkahkan kakinya untuk berdiri di samping Kyuhyun.
"Ia bernama Lee Jinki. Berumur 24 tahun. Dari secarik kertas yang kutemukan di sela mesin kontrol, sepertinya ia dikirim dari era futuristik. Tepatnya tahun 2185 A.D (Anno Domini)."
"2185 A.D? Era yang sangat jauh sekali dari era ini. Era kita masih menginjak tahun 2013," gumam Kyuhyun. Ia tak menyibakkan pandangannya sedikitpun dari tabung life fluid. Changmin mengangguk affirmatif.
"Benar. Dan aku sangat yakin bahwa life fluid biru ini juga berasal dari era mereka. Aku menemukan beberapa senyawa baru yang tak pernah kuketahui sebelumnya. Dan melihat dengan lamanya durasi namja ini bertahan di dalamnya, aku pun berkesimpulan bahwa life fluid ini memiliki khasiat yang jauh lebih advance."
Changmin lantas mendaratkan jemarinya pada hamparan tabung. Seolah ia ingin menyentuh paras dari subyek observasinya. Meski tekstur kaca yang bening itu telah menjadi tameng untuk menghalangi kontak fisik yang ingin ia rajut, namun entah mengapa, ia dapat merasakan sensasi hangat tak terdefinisi dengan hanya berada di dekat project ayahnya.
"Aku tak pernah menyangka bahwa mendiang ayahmu pernah mengerjakan project semacam ini, Changmin. Mencoba menghidupkan seorang manusia dari masa depan..." Kyuhyun berkomentar takjub. Changmin hanya tertunduk mendengar itu. Kedua tangannya tampak dikepalkan dengan erat.
"Inilah alasanku untuk memilihmu, Kyuhyun. Kau adalah satu-satunya orang yang bisa kupercaya saat ini. Aku harap kau merahasiakan project ini dari siapapun. Karena kau tahu sendiri bahwa menggunakan manusia sebagai objek penelitian seperti ini, sejatinya sungguh sangat ilegal di mata dunia." Kyuhyun mengangguk paham dengan permintaan itu.
"Arasseo. Kau bisa memercayakan hal ini padaku. Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk membantumu."
"Gomawo." Changmin menganggukkan kepala dan mengguratkan simpulan senyum tipis. Kembali dipandangnya sosok project yang ada di hadapannya itu.
"Kini, kita harus mencari cara untuk menghidupkannya. Aku bahkan belum yakin apakah namja yang ada di dalam tabung life fluid ini benar-benar manusia atau bukan. Aku belum memeriksa struktur tubuh dan organ dalamnya. Ia masih terlalu rawan untuk dikeluarkan dari dalam life fluid."
Keheningan terjadi sejenak. Kyuhyun tampak bungkam dalam pemikirannya sendiri. Sedangkan sang kawan masih tak jua melunturkan pandangannya dari entitas tabung. Namja berambut ikal itu lantas melirik ke arah mesin pendeteksi denyut nadi. Suara yang dihasilkan mesin itu membuatnya mengerutkan dahi.
"Lima kali berdenyut dalam satu menit?"
"Ah... iya, benar. Nadinya berdenyut lima kali permenit. Dan menurutku, hal itu merupakan kemajuan yang cukup bagus. Karena saat pertama kali aku menemukan namja ini, nadinya hanya berdenyut dua kali saja dalam satu menit." Kyuhyun bertopang dagu mendengar itu. Sepertinya ia memiliki spekulasinya sendiri. Dan melihat respon pasif dari rekannya itu, Changmin pun menghela napasnya.
"Aku berharap, ada suatu cara untuk dapat membuat denyut nadinya menjadi normal dengan cepat. Tapi aku sendiri tak tahu, hal apa yang bisa menjadi sumber kekuatan namja itu. Mungkin... cara itu bisa ditemukan melalui jurnal Tri-Angle milik ayahku?" Changmin berspekulasi. Dan Kyuhyun lantas menyodorkan buku itu pada kawannya.
"Di dalam buku itu, aku sempat membaca pernyataan ayahmu yang menyebutkan bahwa kau memiliki link dengan project ini. Dan ia juga menyatakan bahwa semasa hidupnya, ia tak pernah berhasil membuat project ini menggapai kesadarannya. Dan lalu, kau mengatakan saat pertama kalinya kau menemukan namja ini, denyut nadinya berdetak dua kali dalam satu menit?" Kyuhyun mengakhiri penjelasan retorisnya. Changmin mengerutkan dahinya mendengar semua rangkaian premis itu.
"Dan poinmu?"
"Poinku adalah... jika prediksiku benar, maka aku yakin bahwa sebelum kau menemukan namja ini, nadinya tak pernah berdenyut, Changmin."
"M-Mwoh?" kedua obsidian Changmin membelalak mendengar itu. "Jadi maksudmu, kedatanganku kemari telah membuat nadinya berdenyut?"
"Tepat sekali. Aku yakin bahwa ini merupakan pertama kalinya bagi namja itu untuk mendenyutkan nadinya. Dan itu adalah berkat kehadiranmu, Changmin. Mungkin bentuk link yang dimaksud oleh ayahmu adalah ini. Secara tak langsung, kaulah... sumber kekuatan dan juga nyawa dari namja itu."
Hening.
Changmin terhenyak mendengar itu. Konklusi yang diguratkan Kyuhyun ada benarnya juga. Ia tak sadar jika namja karamel itu kembali berfungsi saat berada di dekatnya. Ia tak pernah menyangka bahwa sebuah cara yang ia cari untuk menghidupkan project itu, ternyata berasal dari dirinya sendiri.
Mencengangkan.
Semua realita itu sungguh sangat mencengangkan.
"Sebaiknya kau jangan jauh-jauh dari namja ini, Changmin. Karena aku yakin, semakin ia berada di dekatmu, maka denyut nadinya akan semakin bertambah. Dan aku yakin, segenap organ tubuhnya akan segera berfungsi dengan normal. Ia pasti akan menggapai kesadarannya." Kyuhyun tampak begitu yakin dengan konklusinya. Changmin masih terhenyak dengan kenyataan itu. Kedua obsidiannya kembali menatap nanar pada sang project.
"Sebenarnya siapa namja ini? Mengapa ia begitu bergantung padaku?"
"Bergantung, ya?" Kyuhyun melipat kedua tangannya sembari memiringkan kepalanya ke samping. Seringai usil terpapar di parasnya.
"Aku jadi teringat pada suatu novel percintaan yang pernah kubaca waktu itu. Ada dua insan manusia dimana yang satu harus menderita dalam penantian karena orang yang ia cintai terbaring dalam keadaan koma. Konon katanya, meski sang kekasih telah mengalami sudden cardiac death, namun berkat penantian yang diguratkan olehnya, nadi dari kekasihnya perlahan berdenyut kembali."
"Mwoh?" Changmin bertampang aneh mendengar itu, tak mengerti sama sekali dengan poin yang disampaikan Kyuhyun. Dan kekehan pelan terlontar dari mulut rekannya.
"Aku menceritakan itu sebagai alegori saja, Changmin. Situasimu saat ini benar-benar mirip dengan gambaran novel tadi. Siapa tahu saja, namja yang menjadi project-mu itu kelak akan menjadi pelabuhan cintamu. Hahaha!" Justifikasi itu membuat Changmin melotot. Semburat merah terpapar di parasnya bersamaan dengan gejolak emosi yang sedikit memuncak. Apa-apaan yang sudah dikatakan kawannya itu? Apakah ia menganggap bahwa apa yang sudah terjadi, tak lebih dari sekedar lelucon?
"Pe-Pelabuhan cintaku? Sembarangan! Kesimpulan macam apa itu? Situasiku tak bisa disamakan dengan alur dalam novel itu!"
"Hei, kenapa tidak? Setahuku, kau tak pernah tertarik pada yeoja manapun saat kita masih duduk di bangku kuliah dulu. Mungkin saja, kau akan menaruh hati pada namja imut ini nantinya? Aku yakin, kau tak ingin mendapatkan gelar sebagai seorang aseksual 'kan, Changmin? Jadi..." gema tawa kembali terlontar keras. Dengan raut ketus, Changmin hanya memutar bola matanya, sarkastik.
"Bercandamu sangat tidak lucu, Kyuhyun. Kupikir kau ini adalah orang dengan tipe study oriented stadium akhir. Ternyata spekulasiku salah. Kau masih sempat-sempatnya melirik novel semacam itu. Mengejutkan..."
"Ah, aku memang cerminan orang dengan orientasi belajar yang sangat tinggi. Tapi aku juga manusia yang membutuhkan hiburan saat titik jenuh menghantamku, Changmin-ah. Novel-novel percintaan itu tidaklah terlalu buruk. Kita dapat memahami banyak hal yang tak terduga di luar ilmu sains yang selalu kita pelajari di kampus—"
"Dan sayangnya, aku tak terlalu tertarik dengan hal itu." Changmin menyergah dengan raut ketus. Kyuhyun kembali terkekeh dan menggelengkan kepalanya dengan ironi.
"Sepertinya jika dibandingkan dengan novel percintaan, boleh kukatakan bahwa kau lebih tertarik dengan eksperimen ini?"
"Tentu saja. Aku tak ingin membuang waktuku untuk membaca hal-hal seperti itu—"
"Ya, ya. Kau lebih memilih eksperimen ini daripada novel percintaan. Dengan kata lain, kau lebih senang menghabiskan waktumu dengan 'namja itu' daripada dengan novel~" lagi-lagi Kyuhyun menjebak argumen yang dilontarkan Changmin dengan lihainya. Kini, frase itu memiliki makna yang sangat ganda. Sang penyandang marga Shim hanya dapat memutar bola matanya kembali dengan malas. Sebenarnya apa yang dipikirkan Kyuhyun? Apa namja ikal itu memiliki niat terselubung untuk menjodohkannya dengan subyek eksperimen mereka sendiri?
Entahlah.
"Sudahlah, cukup. Kita tak bisa main-main lagi, Kyuhyun. Mulai sekarang, kita berdua harus fokus pada project ini. Kita harus dapat menyelesaikan apa yang sudah ditinggalkan oleh ayahku. Apapun yang terjadi."
Atmosfir canda itu kini bertransisi menjadi sebuah situasi yang lagi-lagi terwarnai dengan keseriusan. Kyuhyun menghentikan gema tawanya dan mulai menganggukkan kepala simbolik affirmatif. Changmin lantas menatap sesosok namja yang merupakan entitas dari project mereka itu.
'Setiap kali aku berada di dekat namja ini, jantungku selalu berdebar keras tanpa kutahu apa sebabnya. Sebuah link... sepertinya, yang dikatakan oleh ayah memang benar. Aku seperti merasa memiliki sebuah ikatan yang cukup erat dengan namja ini. Sebuah ikatan yang tak dapat kujabarkan dengan kata-kata. Ia bergantung padaku dan sepertinya, lambat laun, aku juga akan merasakan hal yang sama...'
Kedua obsidian itu melembut. Jemarinya kembali menyentuh hamparan tabung kaca itu secara perlahan. Suara denyut nadi namja itu seakan menyatu dengan debaran jantungnya sendiri. Terhanyut.
Changmin sungguh terhanyut dengan sensasi tak terdefinisi itu.
"Kajja, Changmin-ah. Kita segera keluar dari sini."
"... ne."
Kyuhyun lantas melangkahkan kedua kakinya untuk segera keluar dari ruang lab. Sebelum Changmin melakukan hal yang sama, ia pun melayangkan pandangannya lagi ke arah project itu. Sebuah determinasi mulai terbangun dalam diri putra Shim Yunho itu.
Apapun yang terjadi nanti...
'Aku pasti akan menghidupkanmu. Karena kau sudah menjadi bagian dari ketetapan takdirku, Lee Jinki...'
TBC
A/N: Buat yang komen soal kesamaan FF ini sama FF one piece saya yang Holy Orders, emang sama kok. Ini kan cuma FF rewrite yang saya jadiin changnew. Untuk yang FF Holy Orders yang AceLu gak saya lanjutin dikarenakan feel saya yang udah terkikis. Jadi ya sebagai gantinya, saya ngelanjutin yang ini. Toh inti plotnya juga sama. Hahaha! :p
Besok saya bakalan apdet lagi. Jadi, stay tune ya~ wkwkwkwkwkwkwkwk~
Makasih sekali lagi buat yang udah baca dan ninggalin review~
