Summary : Kehidupan manis seputar Gaara dan Hinata. Setiap chapter memuat cerita yang berbeda dan tidak berhubungan dengan chapter sebelumnya. /AU / typos / absurd / OOC /
Warning : AU, typos, OOC, dll.
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Our Sweet (c) Fujiwara Hana
GaaHina cute pair ^_^
Hinata's POV
Chapter 2
Kupandangi benda lembut ringan berwarna putih yang tertarik oleh gravitasi bumi. Menempel di helaian rambut gelapku. Kuusap perlahan sehingga berjatuhan. Ini terlalu lembut. Kugosokkan kedua tanganku dengan cepat menimbulkan gelenyar kehangatan walau sesaat. Kuhembuskan udara melalui mulut menimbulkan uap yang bisa dikatakan jelas terlihat.
"Lama sekali," aku berkata pada diri sendiri. Ketukan kakiku terdengar jelas ketika ujung sepatuku menyentuh bangku yang kududuki saat ini.
Duduk sendiri ditemani hembusan angin yang cukup kencang sungguh tak menyenangkan. Selain dinginnya menusuk tulang, aku juga risih melihat beberapa pasangan sedang bermesraan di sekelilingku. Walaupun cuaca sangat dingin setidaknya janganlah berbuat hal yang tidak layak ditonton didepan umum.
"Bosan~" keluhku entah yang keberapa kali kulantunkan. Bodohnya aku yang tidak membawa sarung tangan untuk sekadar mengurangi suhu dingin ditubuhku. Salahkan sifat pelupaku yang sedari dulu tak pernah hilang. Kugosok kembali tanganku walau tak begitu membantu menekan suhu yang dingin ini. Seluruh persendianku terasa kaku akibat duduk di bangku di sebuah taman terbuka. Setidaknya masih ada pohon di atas tempatku duduk dengan begitu lelehan salju agak berkurang mengenai kepalaku.
PLUK.
Aku termangu. Kepalaku tiba-tiba terasa hangat. Aku mengangkat tanganku, mengelus kepalaku yang kini terlindungi topi dari wol berwarna coklat yang sangat hangat. Dan ketika ku tolehkan kepalaku ke arah kiri, kulihat ia sedang duduk disampingku menyesap kopi hangatnya. Uap mengepul di atas kopinya.
Hening.
Aku rasa aku memandangnya terlalu lama. Surai merah maroon-nya melambai-lambai. Jade-nya yang terlihat mengintimidasi namun tetap terlihat menawan. Ia tidak mempunyai alis namun tetap tidak menurunkan level ketampannya. Tidak. Harusnya aku tidak memandangnya terlalu lama. Bukannya aku seharusnya marah? Bukannya aku sekarang harus menanyakan apa alasan ia datang terlalu lama sehingga membuatku membeku disini?
"Maaf membuatmu menunggu,"
Aku hanya mengangguk singkat. Membenarkan letak topiku yang agak melorot. Aku bingung memulai percakapan darimana. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya dikarenakan ia pindah sekolah. Terpaan angin yang cukup kuat membuatku menggigil. Gigiku bergemeletuk tak karuan. Harusnya aku memakai pakaian yang lebih tebal tadi.
"Kemarikan tanganmu," ia memerintah. Telapak tangan pucatnya menunggu sambutan tanganku.
"Untuk apa?" tanyaku bingung.
Ia diam saja sembari menarik paksa tangan kiriku. Kemudian bersama dengan tangan kanannya, ia masukkan tangan kami di dalam saku jaketnya yang tebal. Aku sedikit merona.
"Kau belum berubah,"
Aku mengernyit bingung.
Ia mengangkat tangan kirinya. Setelah sampai di depan wajahnya, ia menunjuk kedua pipinya mengahadapku dan kemudian menunjuk pipiku. Aku agak terbengong, setelahnya ia tersenyum lepas dan mencubit hidungku menimbulkan warna agak merah.
Tanganku yang bebas melepaskan cubitannya di hidungku. Mengelus-elus hidungku yang agak sakit aku cemberut pura-pura marah. Tetapi ia tidak memperdulikan ekspesiku malahan terus-terus tersenyum. Menyebalkan.
"Jadi apa yang ingin kau sampaikan sehingga tega membuatku menunggumu selama berjam-jam?" aku agak menekankan pada kata-kata 'berjam-jam' padanya. Aku berharap alasannya harus logis sehingga aku tidak menyesal menunggunya disini dengan bosan dan kedinginan.
Ia diam saja dan tersenyum sedikit sekali. Jade-nya yang menawan agak sipit.
Aku terhenyak. Degup jantungku berdetak dengan berisik. Udara disekitarku agak berat kuhirup. Aku agak ragu. Dengan perlahan aku menarik tangan kiriku yang tadinya masih berada di dalam saku jaketnya. Meletakkan telapak tanganku di depan wajahku aku terbelalak. Mulutku menganga saking syoknya.
Gaara menolehkan kepalanya ke arahku masih dengan tersenyum kecil. Tatapan matanya seolah mengatakan 'bagaimana?'. Setelah lama ia menunggu reaksiku namun tak kunjung mendapatkan jawabannya ia mendekat ke arahku. Membisikkan kata-kata di telingaku.
"Bagaimana? Hm?" tutur katanya terdengar lembut ditelingaku. Kedinginan yang sedari tadi menyelimuti tubuhku sedikit berkurang. Pemandangan disekelilingku berubah di mataku. Bagiku sekarang disini hanya ada aku dan Gaara ditemani butiran-butiran salju yang turun.
"Kirei," jawabku agak terisak. Aku terharu, sungguh. Ini merupakan sifat termanis dari Gaara. Aku tidak menyangka Gaara akan seromantis ini. Kupandangi lagi cincin bermata putih di jari manis tangan kiriku. Indah dan cantik. Sangat.
Gaara bergerak mendekat padaku kemudian memelukku erat. Menyembunyikan wajahku yang telah penuh oleh airmata bahagia didadanya. Mengusap-usap helaian indigo-ku dengan halus dan sesekali menciumnya. "Jangan menangis, Hinata," bisiknya lembut.
Aku tidak mengindahkan perintahnya. Aku masih tersedu. Rasa bahagia ini terasa meluap. Rasa bahagia ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku membalas pelukannya dengan erat. Mencengkeram jaketnya membuat bekas lipatan. Aku sungguh malu, semua orang memperhatikan kami. Aku semakin menyelusupkan wajahku pada dada Gaara.
Ya. Sekarang aku tahu jawabannya. Alasan mengapa aku tidak bisa marah pada seorang Sabaku Gaara.
Itu karena ...
Aku ...
Mencintainya ...
Sangat mencintainya ...
Chapter 2 End
AN : maaf kalau chap 2 ini agak aneh, -_-
Thanks to : virgo24 : ini udah lanjut : ). suli hime : XD ini lanjutannya, makasih : D. blackeyes947 : ini chap2-nya : D. Uchihaii : makasih : D XD.
Mind to review?
