Unforgettable Memories (Two-shots)
Second-shot
Story by Celia Viona
Indonesian Version
Characters were taken from Tiny Times Movies
Characters: Nan Xiang, Lin Xiao, Lily and Ruby
Genres: Friendship and Hurt/Comfort
Note: Ini adalah cerita kedua Celia. Cerita ini memakai Bahasa Indonesia. Tolong dibaca dan di review. Jika suka, tolong di follow dan favorite. Jika ada kesalahan ketik, mohon dimaafkan… Terima kasih dan selamat membaca…!
Isi surat Nan Xiang adalah…
"Teman-teman, pertama-tama aku berterimakasih karena kalian mau datang ke rumahku dan berhasil menemukan surat ini. Aku sebenarnya sangat bangga mempunyai teman seperti kalian bertiga. Aku mau meminta maaf atas kelakuanku selama sekitar satu bulan ini pada kalian. Aku terpaksa melakukan itu pada kalian karena aku tidak mau kalian bertiga tahu tentang penyakit yang aku derita ini.
Sebenarnya, aku menderita penyakit malaria yang sudah lumayan berat. Dokter pun berkata penyakit ini susah disembuhkan. Dokter juga berkata bahwa usiaku tinggal sekitar satu bulan lagi. Aku tidak ingin bercerita pada kalian tentang ini. Aku tidak ingin kalian sedih karena aku dan nantinya mempengaruhi nilai-nilai pelajaran kalian. Biarkan aku saja yang menanggung beban ini sendiri… Aku tidak ingin merepotkan kalian.
Di lembar berikutnya, aku menuliskan beberapa puisi untuk kalian baca. Puisi-puisi ini aku kumpulkan setiap harinya jika ada waktu luang. Kumpulan puisi ini adalah upaya permohonan maaf pada kalian semua tentang kelakuanku. Kuharap kalian bisa memaafkanku supaya aku bisa tenang selama kepergianku…"
Lin Xiao, Lily dan Ruby langsung membasahi pipi mereka dengan air mata. Mereka merasa bersalah pada Nan Xiang, terutama Lily karena sudah memarahinya. Lin Xiao langsung melihat lembar berikutnya yang berisi kumpulan puisi yang ditulis oleh Nan Xiang. Mereka langsung membacanya. Puisi pertama…
Lonely
Sendiri… Hidup sendiri…
Tanpa teman atau sahabat yang menemani…
Memberikan rasa sakit yang membekas di hati…
Diam… Tak bergerak…
Tidak berminat untuk melakukan apa yang mereka inginkan…
Dengan buku di genggaman…
Dan luka di hati…
Buku… Teman sehati…
Begitu dingin jika ditinggalkan… Namun hangat jika diterima…
Bagaikan bunga yang terus layu seiring berjalannya waktu…
Dan hati yang terus akan membeku…
Puisi itu mengingatkan Lily, Ruby dan Lin Xiao akan kejahatan mereka ketika di kantin. Mereka merasa bersalah pada Nan Xiang karena membentaknya waktu itu. Mereka tidak akan melakukan itu jika mereka tahu kejadian sebenarnya… Mereka membaca puisi kedua. Puisi kedua…
The Sort of Friend
I'd like to be the sort of friend that you have been to me…
I'd like to be the help that you've always glad to be…
I'd like to mean as much to you each minute of the day…
As you have meant, old friend of mine, to me along the way…
I'd like to do the big things and the splendid things for you…
To brush the gray from out your skies and leave them only blue…
I'd like to say the kindly things that I so oft have heard…
And feel that I could rouse your soul the way that mine you've stirred…
I'd like to give you back the joy that you have given me…
Yet that were wishing you a need I hope will never be…
I'd like to make you feel as rich as I, who travel on…
Undaunted in the darkest hours with you to lean upon…
I'm wishing at this time that I could but repay…
A portion of the gladness that you've strewn along my way…
And could I have one wish this year, this only would it be…
I'd like to be the sort of friend that you have been to me…
Puisi ketiga…
My Precious Friend
We all need someone to talk in our life…
A friend to whom we run in times of stress or strife…
A friend who's always there throughout the years…
A friend we know will care and take away our fears…
A friend who's always near, waiting for our call…
To wipe away our tears, and lift us when we fall…
A loving friend indeed, on whom we can depend…
To fulfill our every need,
Thank you, precious friend…
Ketiga puisi itu sudah membanjiri muka Lily, Lin Xiao dan Ruby. Puisi sederhana yang memiliki arti kuat dan terpendam. Mereka tidak menyangka bahwa Nan Xiang menyukai puisi-puisi. Tinggal satu puisi lagi. Puisi yang ditulis oleh Nan Xiang sendiri. Puisi keempat…
Sahabat Terbaikku
Kalian adalah sahabat terbaikku…
Ketiga sahabat yang mengerti aku…
Ketiga sahabat yang mewarnai hari-hariku…
Ketiga sahabat yang tak terlupakan…
Kalian selalau ada untukku…
Kalian selalu mau mendengarkan ceritaku…
Kalian menjadi teman bicaraku…
Yang selalu mendukungku…
Ketiga sahabat yang selalu hadir menemaniku…
Kuucapkan terima kasih untuk itu…
Ketiga sahabat terbaikku, selamanya…
Setelah semua sudah selesai dibaca oleh ketiga gadis itu, mereka semua terdiam dan terlihat seperti merenung. Semuanya diam dan memasang ekspresi yang sama di muka masing-masing. Mereka tidak bisa percaya bahwa Nan Xiang akan begitu cepat pergi… Lily dan Ruby sudah yakin bahwa itu adalah surat terakhir Nan Xiang sebelum dia pergi meninggalkan mereka semua, tapi tidak dengan Lin Xiao.
Lin Xiao memiliki keyakinan bahwa Nan Xiang itu tidak meninggal. Ia yakin sekali bahwa temannya itu masih hidup, tetapi sayangnya Lily dan Ruby tidak bisa percaya akan hal itu… Lin Xiao yang pintar itu tidak bisa percaya sebelum dia melihat tubuh Nan Xiang. Tapi, semuanya tidak mempercayainya dan Lin Xiao juga tidak punya bukti tentang itu.
Waktu demi waktu berlalu… Mereka bertiga hidup seperti biasa tanpa Nan Xiang. Mereka merasa bahwa ada sesuatu yang kurang bagi mereka, yaitu Nan Xiang. Mengingat Nan Xiang baik selama ini, mereka tidak bisa menyangka kalau Nan Xiang pergi secepat itu, kecuali Lin Xiao yang tidak percaya bahwa Nan Xiang meninggal.
Notes: Puisi pertama "Lonely" dibuat oleh Kiriko Alicia… Author sudah izin padanya dan Alice memberikan izin untuk memakainya… Terima kasih, Alice!
Puisi kedua "The Sort of Friend", author tidak tahu siapa yang membuat… Puisi ini author temukan di salah satu web, dan author lihat puisi itu bagus, jadi author memakainya…
Puisi ketiga "My Precious Friend", author juga tidak tahu siapa yang membuat… Sepertinya, puisi ini author temukan di web yang sama dengan puisi kedua… Author memakainya karena author lihat puisi ini bagus sekali…!
Puisi keempat "Sahabat Terbaikku" adalah puisi yang author buat sendiri… Author merancang kata-kata dalam puisi itu sampe kepala author pusing…! Tapi akhirnya, puisi itu jadi juga… Kalau jelek, maafkan ya…
Bagaimana ceritanya?
Berikan pendapat di review box ya…
O ya, author berencana membuat sequel dari cerita ini…
Dijamin seru banget deh…!
Bantuin author menemukan judul yang tepat ya… Tulis di review box…
Terima kasih sudah membaca… Silahkan di review…!
