Matahari baru saja merangkak naik, suara alaram yang begitu menggebu-gebu menggambarkan bahwa semangat pagi seharusnya seperti itu. Ya, seharusnya...

... tapi untuk ukuran perempuan ini sepertinya kita harus melarat ulang pagaraf pertama tadi.

Mata cantiknya yang terus menutup mengistirahatkan tubuh kini perlahan mengerjap terbuka. Merenggangkan tubuhnya sebentar sebelum alaram mungil nan lucu itu dilayangkan menuju tembok dan berakhir mengenaskan.

Membuka jendela kamarnya, menemukan kota Seoul saat baru menunjukkan pukul enam pagi suasana kota begitu ramai.

Pukul enam pagi? Tunggu sebentar.

Setelah mengecek kembali jam melalui ponselnya yang tertera bukan jam enam dalam bentuk digital, melainkan jam tujuh lewat beberapa menit.

"SHIT! Demi bakpao Minseok yang kumakan kemarin, pagi yang sangat menyenangkan!" serunya lalu buru-buru memasuki kamar mandinya.

Ya, yang menyenangkan adalah mandi diburu waktu, sarapan hanya segelas air putih saja, rambut yang dibiarkan dikuncir kuda tanpa disisir dulu, wajah yang hanya dipoles bedak seadanya dan setipisnya saja.

Sungguh, penampilan yang menyedihkan untuk wajah cantik seukuran perempuan ini.

Xi Luhan, kau perempuan yang tidak terduga sama sekali.


"Sassy Lady and City Cool Man."

Xi Luhan (ex)EXO-M | Oh Sehun EXO-K | slight!ChenMin and others

Romance | Friendship | Humor (I... think ._.)

Lenght: Chaptered | Rated: bisa T, bisa T+, bisa semi M, sesuai chpater.

WARNING! : GS, drama-adict, menye-menye.

Disclaimer: semua cast yang kalian tahu dari dunia K-pop bukanlah milikku (berdoa saja, semoga Sehun milikku #slapped), mereka sepenuhnya milik Tuhan YME dan keluarga mereka masing-masing. Aku hanya yang memiliki plot cerita ini atas nama ©Hwang0203 dan kuharap kalian bisa membuat cerita khayalan kalian sendiri daripada harus meniru orang lain ._.

.

.

Chapter 1 : Americano Accident

.

.

Kereta baru saja turun di daerah Incheon. Luhan keluar dari gerbong kereta berdesak-desakan dengan yang lain yang juga ingin keluar maupun masuk. Sungguh, penampilannya bahkan tiga kali lebih kacau daripada saat Luhan menunggu kereta di stasiun dekat daerah apartemennya.

Blouse yang kusut, rambut coklat madu yang kini digerai terlihat berantakan, wajah yang tertekuk seolah Luhan adalah makhluk paling aneh. Lebih baik ke toilet stasiun sebentar untuk membenahi kembali penampilannya sebelum menjadi bahan tertawaan oleh para karyawan lain di kantor. Masih ada dua puluh menit sebelum jam masuk kantor, Luhan masih punya waktu lima menit membenahi penampilannya dan lima belas menit untuk jalan kaki dari stasiun ke kantornya.

Timing yang pas sekali.

.

.

Sehun baru saja memasuki basement untuk memakirkan mobilnya. Mobil hadiah dari hyung-nya karena predikatnya menjadi lulusan terbaik di Seoul University yang bergengsi itu. Pakaiannya memang formal dan agak berlebihan. Kemeja putih bergaris hitam vertikal yang ditutupi jas abu-abu yang menawan. Tanpa ada dasi yang mengikat lehernya, terlalu mencekik. Sepatunya pantofel hitam mengkilat –aslinya ini sepatu ayahnya yang dibelikan Hyung sebagai oleh-oleh dari Italia. Tapi karena ukurannya terlalu kecil dan daripada dibiarkan tidak terpakai di rumah... Sehun pakai saja tidak masalah kan?

Salahkan ibunya yang terlalu heboh untuk mendadani Sehun layaknya anak perempuan yang nanti siang akan melakukan kencan pertamanya.

Padahal ini hanya pekerjaan, oke? Apalagi Sehun itu anak laki-lakinya, bungsu pula. Hell, yeah.

Tas tangannya ia biarkan berayun-ayun atas kendali tangannya. Sehun melangkah santai ke dalam kantor tanpa ekspresi meskipun beberapa wanita disana memekik melihat Sehun seperti model catwalk.

Oh, siapa sangka ada dewa Zeus yang mau melangkahkan kakinya memasuki gedung kantor yang sama sekali tidak agung?

"Kau Oh Sehun yang nantinya jadi Direktur di Divisi Perencanaan?" seseorang yang di belakangnya menepuk pundak sembari melantunkan sederet kalimat tadi padanya tanpa sopan santun.

Sehun mengerutkan keningnya dulu dan bertanya-tanya siapa dia yang berani sekali menepuk pundaknya seolah dia teman lama yang hilang? Hanya Jongin saja yang berani melakukan itu, itupun sudah jarang semenjak mereka memasuki bangku kuliah dulu.

"Ah, maaf." cicit lelaki itu begitu peka jika tatapan Sehun tidak suka mengarah pada telapak tangannya yang asyik nongkrong di pundak Sehun. "Aku asisten Presdir Wu, kau dimintai menemuinya jika datang. Ikuti aku." Lelaki itu sama sekali tidak takut sama sekali pada tatapan tajam Sehun, padahal hal itu sudah membunuh beberapa karyawan wanita yang kini tergolek lemah akibat tatapan mata Sehun.

Ow, hina aku berlebihan dalam menggambarkan sosok Tuan Oh.

Sehun melangkah mengikuti lelaki mungil berkacamata di depannya. Sampai akhirnya di tingkungan lorong lobi malah bertemu karyawan wanita yang sepertinya akrab dengan asisten Presdir Wu ini.

"Pagi, Jongdae!"

"Pagi juga, Noona."

Mata hamster wanita itu melirik Sehun yang ada di belakang asisten yang bernama Jongdae. Awalnya menatap Sehun sembari decak kagum terdengar lalu selebihnya hanya bersikap formal dan ramah.

"Ah, ini atasan baru divisi kami?" tanya Minseok, hanya anggukan dari Jongdae sebagai jawaban. Minseok mengulurkan tangannya pada Sehun. "Hai, aku Kim Minseok, salah satu karyawan di divisi yang kau pimpin nanti. Mohon kerjasamanya!"

Ramah dan menarik. Tapi sayangnya Sehun adalah exspressionless. Datar.

Minseok bahkan berpikir kalau ia bukan punya atasan seorang manusia, melainkan robot yang dirancang seperti manusia umumnya agar mata manusia mudah terperdaya akan kehebatan ilmiah-teknologi jaman sekarang.

"Tumben aku tidak bertemu rusa-mu, Noona. Terlambat lagi?"

Minseok mengendikkan bahunya singkat, "Kurasa begitu, Dae-yah. Kuharap ia tidak menghancurkan jam weker yang kubeli untuk ke seratus empat puluh tujuh kali."

"Wow," decak Jongdae. "kita bicarakan nanti siang saja, aku harus mengantar Sehun menemui presdir Wu." seolah sadar ada Sehun diantara mereka, Minseok memberikan mereka berdua jalan menuju lift yang ada disana sebelum kembali sesak mengingat jam kantor yang mepet.

"By the way, kau terlihat berbeda Noona." kata Jongdae sebelum ia dan Sehun memasuki lift.

Minseok yang mendapat komentar dari Jongdae, mendadak tersipu. Lantas menampilkan seulas senyum. "Terima kasih." katanya sebelum berbalik arah.

Sehun hanya berharap kalau ia tidak memiliki hal memalukan apapun yang merusak citranya yang ia bangun dari SMP sampai saat ini.

.

.

Luhan baru saja duduk di kursinya. Komputernya masih mati dan kertas absen menunjukkan waktu terlambat Luhan hanya berkisar empat menit dari jam seharusnya. Dan ini sudah berlangsung seminggu. Ia berharap kalau saja gajinya tidak dipotong.

Karena bulan ini ada kabar bahwa ZARA ataupun Channel mengeluarkan item musim semi terbaru. Luhan tidak ingin kelaparan di awal bulan padahal baru saja dua minggu lalu ia membawa uang gajian pulang.

"Pagi semua!" sapanya pada penghuni ruangan divisi perencanaan yang hanya dihuni enam orang; termasuk dirinya.

"Pagi,"

"Hei! Pagi, Lu."

Asal tahu saja, Luhan cukup terkenal bahkan semenjak SMP. Siapa yang tidak kenal Xi Luhan perempuan keturunan Cina? Dia gadis yang baik, cerewet, cantiknya hampir seperti Barbie yang ada di televisi –bahkan ada yang mengakui Luhan lebih cantik dari Kim Taehee si aktris paling cantik sejagat Korea Selatan.

Luhan bisa saja menjadi aktris atau anggota girlband kalau saja beberapa sifat (yang hanya diketahui orang-orang terdekat saja) buruknya hilang dan layak diterima khalayak publik.

Seperti yang kukatakan, Xi Luhan itu perempuan yang cantik, baik, supel dan juga terkenal galak jika sudah marah. Kesukaannya terhadap sepak bola yang berlebihan serta mata yang berkelap-kelip bagaikan mata rusa atau bintang menjadi daya tarik kedua selanjutnya.

Hanya saja, disaat teman-temannya memilih bertunangan, menikah, memiliki anak atau barus saja ada yang menggencarkan aksi pendekatan terhadap incarannya, Luhan justru santai memakan pocky sembari menertawai aksi pelawak Korea di televisi. Oh, jangan lupakan Luhan juga pecinta drama serta boyband yang kelewat muda dibanding umur perempuan rusa itu.

Disaat semuanya getar-getir untuk dipertemukan dengan jodohnya, Luhan seenaknya mengatakan kalau jodohnya itu makanan. Dia punya ramen, permen karet, beberpa bungkus camilan seperti Lays atau Chocopie.

Ya ampun...

Aku sempat meragukan dia perempuan jika punya poin pecinta sepak bola serta pecinta camilan.

Karena poin seperti itu khusus untuk para lelaki seumuran Luhan.

Mari kembali ke setting cerita, Luhan melirik di belakangnya yang berbatasan langsung dengan kursi serta meja kerja rekan seumur serta teman yang mengertinya; Kim Minseok.

"Tumben sekali dia belum datang," gumamnya. "Apa Minseok sudah datang tadi?" serunya pada penghuni team dua divisi perencanaan.

"Oh, tadi dia pergi ke kantin kantor. Kurasa dia tidak sarapan pagi ini." celutuk rekannya, Kim Jonghyun, sebagai jawaban dari pertanyaan Luhan.

Perempuan ini memilih untuk tidak peduli terhadap Minseok. Karena jika perempuan berpipi bakpao menemukan Luhan terlambat seperkian kalinya, dipastikan wajahnya akan hitam karena serangan api naga Minseok.

Kejam, sungguh perumpaan yang terlalu berlebihan.

Minseok adalah kawan yang baik yang selalu membelikan jam weker mini untuk membangunkanmu agar tidak telat, selalu menasehatimu kalau kau datang terlambat lagi. Tapi menurut Luhan, dia merasa seperti punya dua ibu; satu di Beijing dan satunya lagi dalam wujud Minseok.

Pikiran Luhan buyar sampai pintu ruangan mereka terbuka, memperlihatkan Minseok dalam balutan blouse dengan warna cerah mencolok yang tidak biasa. "Selamat pagi!" sapanya pada semua orang; kecuali Jonghyun karena duo Kim (Kim Minseok dan Kim Jonghyun) di tempat mereka terkenal suka berangkat pagi-pagi sekali.

Berbanding terbalik dengan Luhan. Miris.

Alis Luhan mengkerut melihat penampilan Minseok yang terlihat cerah, berbanding terbalik dengan biasanya. Yang lain pun akan berpikiran sama dengan Luhan. Ada apa ini?

Lihatlah Minseok! Gadis itu memakai blouse putih yang ditutupi rompi kuning cerah –secerah matahari saat ini–, bukan celana jins melainkan rok kain satin panjang selutut yang warnanya senada dengan rompi, rambut yang biasanya diikat satu asal-asalan atau digerai dengan hiasan bando kini dikepang kecil pada sisi depan lalu disambung di belakang kepala membentuk bando. Apalagi wajahnya... tolong siapapun beri tahu Luhan bahwa Minseok menggunakan eyeshadow tipis bewarna soft pink. Warna yang mencolok sekali meski tidak terlalu disadari eksistensi eyeshadow tersebut.

Ini bukan Minseok yang... tomboy?

"Katakan jika koran ataupun media memuat berita kehancuran dunia. Siapapun beritahu aku!" seru Luhan histeris. Minseok memutar manik matanya malas sebelum mendudukan bokong seksinya di kursi tepat di belakang Luhan.

"Kenapa? Aku hanya ingin tampil beda." bela Minseok begitu tahu maksud kalimat Luhan tadi.

"Berbanding tiga ratus enam puluh derajat? Hebat sekali! Ah, mungkin aku yang sakit; iya, benar." celutuk Luhan menelungkupkan kedua pipinya seperti cover film Home Alone.

Aih, Luhan si drama addict. Hampir saja Minseok menyumpal mulut Luhan dengan berkas yang dibawanya untuk diketik ulang.

"Berhenti mengejek jika kalian ingin berita bahagia." – Minseok

"Kalau kau bicara si Hell Pak Youngmin keluar, lady, itu berita basi." Sahut Yongguk yang menyesap secangkir kopi paginya.

"Ugh, sepertinya aku lupa jika yang perempuan hanya aku dan Luhan."

"Bukan perempuan, tapi perawan tidak laku." gumam Jonghyun yang langsung dihadiahi tumpahan kopi yang panas milik Yongguk di kemeja Jonghyun oleh Luhan dan juga gumapalan kertas bekas yang dibiarkan berdebu yang kini mengenai kepala Jonghyun oleh Minseok.

"Ya! Perempuan gila!" sentak Jonghyun paling tidak terima perlakuan Luhan padanya.

Jonghyun, kuharap kau ingat kalimat yang kuketik jika 'Luhan bisa jadi galak kalau ia marah', kau memancingnya untuk marah, Jong.

#Poor Kim Jonghyun.

"Jadi beritanya...?" sambung Yongguk.

"Oh," tangan Minseok yang akan mencekik Jonghyun kini mengendur. Kali ini kau selamat, Jonghyun. "Kalian tahu jika General Manajer alias leader team kita akan digantikan yang baru menggantikan si Hell Pak tua Youngmin?"

"Wow, pujianmu sadis." komentar Luhan begitu Minseok mendeskripsikan atasan mereka dulu, Kim Youngmin.

"Dia masih muda, bayangkan! Bahkan diantara kita dia adalah maknae. Aku sih tidak masalah kalau muda tapi wajah menipu orang jika seumuran Pak Youngmin," Minseok berhenti sebentar untuk menarik nafas, "masalahnya dia tampan. Ku yakin dewa Zeus pun iri melihatnya!" sontak Minseok menjerit histeris sendiri mengingat pertemuan singkat antara dirinya, Jongdae dan juga si General Manajer yang baru. Persis seperti fangirl.

"Cih, mengataiku bahwa aku berlebihan. Dirinya sendiri pun begitu." sindir Luhan dan Minseok tersadar lalu menghentikan aksinya. "Ingat Jongdae, bakpao." lanjut Luhan.

"Jadi... si General Manajer itu yang membuatmu berpenampilan seperti ini, Seokkie?" tanya Gongchan.

"Tentu tidak. Ini inisiatifku sendiri."

"Oh... ingin tampil beda di depan Jongdae?" goda Luhan diselingi senyum mengejek.

"Tidak tahu." jelas sekali jawaban dari Minseok untuk menghindari topik seputar 'Kim Jongdae', malah makin membuat kelima temannya gencar menggoda perempuan berpipi bakpao.

"Seokkie, kalau jam makan siang temani aku di Cafe biasanya ya?"

"Jangan bilang Yixing mau menemuimu."

"Ya. Bersama keponakan manis, Junhee."

"Ck, ayolah!" Minseok berkacak pinggang. "tidak pernah ya sekali pun terlintas di kepalamu untuk menemui ataupun berkencan dengan lelaki? Apa kau itu lesbian?!"

"Kim Minseok!" potong Luhan. "Aku tidak tertarik menjalin hubungan. Kedua, aku bukan lesbian."

"Ck, sudahlah. Aku harus mengetik ulang berkas ini." Minseok membanting map bewarna hijau daun lalu mendudukkan bokongnya di kursi memunggungi Luhan.

Yeah, pertemanan yang baik 'bukan?

.

.

Jujur saja, Sehun mendapatkan pekerjaan dengan mudahnya dan langsung jabatan tinggi sebenarnya bukan hasil kerja kerasnya selama ini atau otak encernya.

Semua ini murni diatur dan diperlihatkan seolah ini memang usaha Oh Sehun.

Sayangnya sudah seperti drama murahan, s*cks it!

Padahal hari ini hari pertama tapi Sehun sudah membolos setengah hari. Setelah bertemu Presdir Wu Yi Wei, yang merupakan rekan kerjasama bisnis sekaligus sahabat sang ayah, memberinya petuah dan beberapa hal singkat tentang perusahaannya, Sehun langsung meluncurkan mobil hadiah dari Hyung menuju ke tempat yang sangat ingin di kunjungi Sehun.

Yap, daerah pinggiran kota Seoul di gedung tua bertingkat dua yang ditelantarkan. Berkatnya dan Jongin, gedung tua itu tidak jadi dihancurkan dan dijadikan markas oleh kedua sahabat ini.

Markas studio dance.

Luarnya saja yang gedung tua lusuh mirip rumah-rumah berhantu. Sesungguhnya di dalam sana tidak jauh berbeda dengan studio dance yang dihuni orang-orang berduit.

Ya; power of money yang berpengaruh di dunia.

Baru saja Sehun membicarakan Jongin pada pikirannya, saat memakir mobilnya di belakang geudng sudah terparkir mobil Mercedes hitam yang langsing. Siapa lagi yang tahu tempat ini selain dirinya dan Jongin? Oh, mungkin ada beberapa dari orang-orang yang mengenal mereka berdua.

Benar dugaannya. Begitu pintu kaca itu terbuka dan langsung ke ruang dance di lantai bawah, sudah terdengar alunan musik jazz yang dicampur dubstep ringan (FYI: seperti lagu 'My Lady'). Menemukan Jongin yang meliuk-liukkan tubuhnya beserta perempuan yang menyenandungkan tempo nada lagu jazz-dubstep ringan ini.

"Tak kusangka kau akan kabur di hari pertamamu bekerja, Man." celutuk Jongin.

"Kau tahu aku datang?"

"Suara mobilmu terdengar. Hei, mobil baru? Suaranya lain seperti biasanya."

"Ya, kemarin baru datang. Hadiah dari Se Hyun Hyung."

"Se Hyun Hyung?" pekik Jongin, "berbanding terbalik denganmu, Oh."

"Diamlah, Kim."

Mereka melupakan satu orang yang duduk di sofa kecil yang terlihat jengah atas pertengakaran dua sahabat ini.

"Ah, hai Noona. Maaf aku tidak melihatmu tadi. Suara orang ini membuatku kacau."

"Tidak apa." Senyum tipis itu terkembang dari perempuan itu. "Maaf dan selamat atas kelulusanmu ya. Aku tidak menemani kalian saat jadi Sarjana kemarin. Pihak musikal seenaknya menambah jadwal dua hari manggung."

"Sudah kubilang tidak apa-apa, lagipula apa untungnya bagi Sehun jika kau datang?"

"Panggil dia Noona, Jong. Meski kau pacarnya, hormatlah sedikit. Kau ini belum jadi suaminya, jangan seenaknya." Sehun juga ikut mendudukkan dirinya di atas sofa kecil bergabung dengan perempuan itu.

"Wow, aku tidak tahu kau mengambil kelas manners and ethic saat kuliah."

"Kau hebat Noona bisa bertahan selama empat tahun bersama sahabat hitamku."

Perempuan itu menoleh ke arah Sehun. "Aku juga tidak tahu. Tapi hatiku merasa nyaman."

"Jangan mulai dengan kata-kata cheessy. Aku mual." Perempuan itu tertawa renyah.


Jam makan siang sudah berdentang semenjak lima menit yang lalu. Beberapa rekan kerja Luhan sudah bangkit menuju kantin kantor ataupun restoran yang dekat sini. Bahkan sepuluh menit sebelum jam makan siang, Minseok mendului Luhan untuk makan siang bersama Jongdae, melupakan permintaan Luhan pagi tadi.

Perempuan itu benar-benar...

Entah kenapa kali ini duduk di depan meja kerjanya daripada makan siang lebih menyenangkan. Setidaknya jika tidak mengingat Yixing bersama anaknya sekaligus keponakan Luhan, tentu saja Luhan sudah berseru riang 'Selamat makan' di kantin kantor.

Ponselnya berdering menjeritkan ringtone lagu dari band favoritnya, My Chemical Romance, serta ada nama konta 'Ratu Kegelapan; Yixing' yang berkedip-kedip. Mau tidak mau Luhan menekan gagang telepon bewarna hijau di layar ponsel lalu menempelkannya di telinga.

"Aku baru sampai. Cepatlah sebelum Junhee merengek ke kedai eskrim!"

"Lalu kenapa kita tidak bertemu di kedai eskrim saja?!" tanya balik Luhan; heran.

"Karena kedai eskrim langganan Junhee ada di sekitar Jung-gu. Sangat jauh dari kantormu, bukan? Cepatlah atau kutelepon Baba-mu!" dan sambungan telepon terputus. Sempat-sempatnya Luhan mendengar suara Junhee yang merengek.

Demi keponakannya, Luhan mengehela nafas.

.

Sebenarnya Yixing dan Luhan bukanlah saudara sepupu ataupun apa. Mereka hanya teman dekat semenjak Yixing pindah rumah di daerah kompleks rumah Luhan yang ada di Beijing. Mereka merasa dekat karena perbedaan umur mereka hanya dua tahun saja.

Hingga saat SMP mereka sama-sama menerima tawaran beasiswa pertukaran pelajar di Seoul. Sayangnya Luhan dan Yixing ada di sekolah berbeda. Untungnya saat SMA, Yixing menjadi adik kelasnya dan bergabung bersama Minseok. Jadilah mereka bertiga terkenal seantreo sekolah.

Minseok yang lucu tapi atlet taekwondo, Luhan yang seperti Barbie tapi paling sulit untuk didekati kaum Adam (terkecuali satu orang bersejarah pada saat itu), dan si kalem Yixing yang bisa menggaet hati si ketua OSIS –Kim Junmyeon. Kau boleh memanggilnya Suho kalau mau (ingatlah kalau hanya Yixing yang boleh memanggil nama asli Suho)

Wajar jika mereka merasa bahwa mereka bukanlah teman, melainkan kakak-adik mengingat mereka sama-sama anak tunggal yang kesepian. Orangtua mereka pun menganggap Luhan atau Yixing sebagai kakak atau adik bagi anak mereka.

Lupakan soal asal-usul, kali ini Luhan ingin sekali menyemburkan makian sayang kepada Yixing jika tidak ada Junhee –keponakan tersayangnya.

Lihatlah. Anak laki-laki yang baru saja merayakan ulang tahun keempat langsung memeluk Luhan erat begitu Bibi kesayangannya datang. Selanjutnya bermanja-manja; semisal melaporkan kekejaman Yixing yang dialami bocah itu. Sedangkan ibu bocah itu hanya menyesap kopinya santai.

Dasar, mirip sekali dengan Yixing.

"Jiejie, Junmyeon punya kenalan. Dia pengacara muda yang hebat. Akan kuatur jika kau mau."

Luhan mendelik. Tuh kan? Pasti membahas hal ini jika tiap kali Yixing menemuinya saat jam makan siang.

"Ya ampun, Xing! Biarkan aku bebas. Aku bisa memilih pilihanku sendiri nantinya."

"Lalu pilihanmu adalah melajang seumur hidup? Hebat! Aku harus menyiapkan trofi jika itu benar-benar terjadi."

Luhan buru-buru menutup kedua telinga Junhee rapat-rapat atas lontaran kalimat frontal yang tidak pantas diperdengarkan anak kecil. "Kau mau mengotori telinga polos anakmu, hah?" protes Luhan.

Yixing menghela nafasnya. Meletakkan cangkir kopinya pada tatakan. "Junhee, kau mau cheessecake bukan? Pesanlah ke kakak kasir disana dan tunggu sampai ibu jemput; oke?"

Bocah laki-laki itu menurut apa yang dikatakan ibunya setelah Yixing menyerahkan sejumlah uang untuk harga cheessecake yang dipesan anaknya.

"Kutebak ini masalah serius."

"Ini masalah serius memang."

Luhan mengerutkan keningnya heran. Tidak biasanya adik kesayangannya berbuat hal yang serahasia seperti ini. Biasanya juga blak-blakan seperti tadi.

"Jie, Xi Baba selalu mengeluhkan seret jodohmu padaku. Aku lebih muda dua tahun darimu, aku menikah lebih dulu darimu. Tidakkah kau merasa kasihan pada kedua orangtuamu? Karena kau anak tunggal dan hanya kau harapan mereka, Jie." Yixing melantunkan kalimatnya menggunakan Mandarin. Tentu saja karena cafe cukup ramai dan tidak bisa begitu gamblang membicarakan privasi yang bisa saja ditangkap telinga manusia penguping.

Luhan mengerti pembicaraan ini. Luhan mengerti apa per bait kata oleh Yixing.

Baba dan Mamanya sudah memasuki dekade kelima, ada keinginan bagi mereka menimang cucu. Mereka punya anak perempuan yang jika diumur dua puluh lima masih lajang tanpa alasan jelas, tentu saja di mata orang-orang anak perempuan mereka seperti tidak berguna.

Memang, Luhan merasa tidak berguna lagi semenjak sepuluh tahun lalu ketika dunianya dijungkir balikkan.

Luhan bukan tidak pengalaman untuk berkencan. Berkali-kali mengikuti kencan buta yang direncakan Yixing ataupun Minseok dan juga atas pengalamannya sendiri. Sayangnya Luhan tidak menemukan hal yang klop.

Ditambah pula masalah tentang hal itu.

Rasanya ingin terjun dari Namsan Tower saja.

"Jie tidak mempersalahkan hal itu dalam kasus kali ini bukan?"

Skakmat!

"E-eh, ini lain cerita, Xing. Tentu saja tidak." kuharap begitu sayangnya tidak.

Entahlah Yixing boleh bernafas lega atau tidak, bisa saja Luhan berbohong kan? Tapi Luhan memang pintar berakting, jadinya Yixing tidak bisa menemukan celah yang bisa dijadikan bukti bahwa Luhan mengelak dan berbohong.

"Baiklah. Aku harus pulang, si kecil Yi Joon pasti rewel tidak menemukanku siang ini. Aku titip salam untuk Minseokkie Unnie saja ya." Pamit Yixing bangkit dari kursi besi itu dan menghampiri si sulung Junhee yang berdiri manis di depan meja kasir.

"Sampai jumpa nanti, Luhan Imo!" pamit Junhee sebelum masuk ke dalam taksi bersama ibunya. Luhan hanya tersenyum dan membalas lambaian tangan bocah itu padanya. Setelah taksi itu berbelok di tikungan sana, barulah Luhan melemas seperti balon yang dilepas gasnya.

"Baba... Mama... maafkan Luhan." Gumam Luhan yang mungkin hanya bisa didengar angin.

Yang dibutuhkan Luhan hanya Americano; ia harus mabuk Americano.

.

.

xx

.

.

Sehun mampir sebentar di kedai kopi atau cafe dekat kantornya. Sekedar menyesap Americano yang membuatnya rileks tidak ada salahnya 'kan?

Di meja kasir sepi antrian, barulah Sehun sadar jika hampir berakhir jam makan siang. Pantas saja cafe nampak begitu sepi. Hanya ada beberapa murid seragam SMA yang menikmati waktu sebelum pulang ataupun beberapa karyawan yang tetap ngeyel berada disini daripada kembali ke kantor.

Misalnya perempuan yang ada di samping meja kasir dengan ponsel menempel di daun telinga.

"Tolong ijinkan aku sebentar, menadadak aku tidak enak badan ... ini aku berada di rumah Yixing sekedar istirahat, kan lumayan ada yang mengurusku." cih, Sehun hampir saja memberikan umpatan kecil pada perempuan itu yang beralasan tidak masuk akal. Mencoba membolos, heh? Dilihat dari pakaian perempuan itu terlihat sekali sebagai karyawan kantoran, terutama perusahaan Pak Wu yang ada di dekat sini.

"Permisi, aku pesan Americano less sugar." pesan Sehun pada penjaga kasir.

"Maaf, apa Americano pesananku sudah ada?" tiba-tiba perempuan itu sudah ada disampingnya dan menanyakan pesanan yang sama dengannya.

Eoh, dunia sempit, bung.

"Sebentar lagi, mohon tunggu sebentar." penjaga kasir itu menjawab ramah pada perempuan yang Sehun tidak kenal.

Lagi. Telinga Sehun menangkap lantunan lagu My Chemical Romance. Oh, milik gadis itu. Tidak disangka perempuan berpenampilan anggun malah menyukai genre lagu yang begitu mengejutkan jantung.

"Oh, Xing! Aku pergi ke rumahmu, aku sudah meminta ijin dari kantor jadi tidak perlu cemas." dan saat itu tepat pesanan perempuan ini datang. Langsung saja tas kertas yang memuat empat gelas kopi Americano disambar seolah perempuan itu diburu waktu. Tentu saja beresiko.

Karena resikonya adalah salah satu gelas Americano yang posisinya tidak tepat tersebut langsung jatuh dan isinya mengenai tepat sepatu pantofel milik Sehun.

Sepatu pantofel... dari Itali.

Apalagi dari merek terkenal.

Good news!

Sehun dan perempuan itu sama-sama memekik. Keduanya saling pandang beberapa detik sebelum melihat kondisi naas sepatu pantofel milik Sehun.

Ewwh... menurut Sehun itu mengerikan.

Baginya yang perfeksionis, tentu hal mengejutkan jika salah satu penampilannya harus hancur; misal, seperti kejadian ini.

"Maaf!" perempuan itu menggumamkan kata maaf terus-menerus. Sehun mendengus tidak percaya sepatu kebanggaannya harus rusak oleh Americano panas.

Tidak bisa dipercaya.

"Kau..." bahkan Sehun tidak bisa berkata-kata untuk membalas perkataan Luhan. "Apa yang kau lakukan, perempuan bodoh?!" pekiknya setelah beberapa kata terkumpul menjadi kalimat yang pas untuk memaki perempuan ini.

Perempuan itu yang tadinya membungkuk penuh hormat dan meminta maaf kini menegakkan kembali dan matanya memincing menantang Sehun.

"Maaf Tuan, jika aku bodoh, perusahaan manapun tidak akan menerimaku berkerja." bantah perempuan itu galak.

Sehun sempat tertawa pelan bermaksud mengejek, "Tapi lihat, kebodohanmu membuatku jadi korban. Sepatu dari Itali milikku jadi korban. Harusnya kau pakai kepintaranmu untuk berhati-hati dan tidak ceroboh!"

"Aku tidak menggunakan kepintaran disini, aku menggunakan kesopanan. Karena aku salah bertindak ceroboh –bukan bodoh– aku meminta maaf dengan sepenuh hatiku. Apa aku salah, Tuan?"

"Tidak, tidak. Kau kira minta maaf semudah kau mengunyah bubur, heh?!"

Lagu dari My Chemical Romance mengalum membuat argumen mereka terhenti. Mendadak saja perempuan ini kaget, marah, atau apalah ekspresi itu tidak bisa ditebak Sehun.

"Aku sudah meminta maaf. Ini salahku. Jika kita bertemu, aku berjanji akan mengganti sepatu Italia milkmu. Aku permisi karena aku punya urusan penting daripada argumen-mu. Selamat siang, Tuan!" sepertinya nada pada kata 'argumen-mu' dan 'Tuan'. Lalu perempuan itu seenaknya pergi meninggalkan Sehun dalam ketersimaan atas hal ceroboh yang dilakukan perempuan itu padanya.

Oh, shit!

Perempuan itu... berani sekali.

.

.

|| To Be Continue ||

.

.

xx

.

.

A/N: Aku minta maaf buat kalian yang nunggu fanfic ini. Sebenarnya, saya pengen hari jumat chp 1 di publish. Tapi, sepertinya anonymox saya gak mau kerja. Jadinya, saya usaha keras buat donlot tor browser di laptop kakak saya (yeah, mozilla firefox di kompi saya saat ini gak bisa buat seraching apapun). Maaf, semoga chapter satu ini membuat reader-nim memaafkan saya.

Bagaimana chapter satu ini? Kurang panjang atau mungkin kalian bisa temukan konflik yang baru tercipta? Well, berhubung masih chapter satu, konfliknya masih belum mau keluar. Dan juga... HunHan kan terkenal dengan Bubble tea, kenapa aku nggak masukin Bubble Tea sebagai icon couple mereka dan kenapa harus Americano? Menurutku, di cerita ini Mereka sudah dewasa; bukan remaja labil. Jadi Americano memberi kesan bahwa mereka dewasa dan berkelas.