"Sayang, bangunlah. Ini sudah pagi. Ayo bangun, Sakura-chan,"
"Sebentar...," sahutku dengan mata terpejam.
"Ayolah, Sakura-chan. Waktuku tak banyak lagi,"
"Iya iya, aku bangun. Ada apa, Naruto-kun?" tanyaku sambil mendudukan diri dengan nyawa yang masih setengah. Antara sadar dan tidak sadar, aku melihat bayangan Naruto yang sangat tampan dengan kemeja putih yang dikenakannya. Pelan dan pasti, aku merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menempel di bibirku. "Ada apa?" Naruto tak menjawab, hanya sebuah ukiran senyuman yang terukir manis di bibirnya.
"Jaga dirimu baik-baik," katanya kemudian.
"Naru...,"
"SAKURA, BANGUN! MAU TIDUR SAMPAI KAPAN, TUAN PUTRI?" teriakan terdengar keras.
BRUKK!
"Argh... ittai," ringisku kesakitan seraya mengusap pantatku yang mendarat dengan mulus di lantai kamarku.
"SAKURA!"
"Aku sudah bangun, Kaa-san," balasku akhirnya daripada mendapat teriakan dan bonus guyuran air dari nenek sihir yang menyamar jadi Kaa-san ku itu. "Menyebalkan," gumamku pelan.
.
On Rainy Day
by Kyu Amakusa
Naruto © Masashi Kishimoto
Romance | Hurt | Typos | OOC maybe
Uzumaki Naruto | Haruno Sakura
Don't Like, Don't Read
.
"Kaa-san, apa Naruto tadi ke sini?" tanyaku saat memakai sepatu, bersiap untuk berangkat ke sekolah pagi ini.
"Tidak. Oh iya, hari ini Tou-san akan pulang cepat. Jadi kau juga harus...,"
"Iya, aku juga akan pulang cepat, Kaa-san. Tapi bagaimana kalau hujan? Boleh hujan-hujan?"
"Beberapa hari ini tidak hujan, nanti pasti juga tidak akan hujan. Kaa-san sudah mengirim email ke Dewa Hujan tadi. Jadi, jangan cari alasan pulang telat," Kaa-san memperingatkanku.
"Baiklah," sahutku singkat. Setelah berpamitan dan mengecup kedua pipi Kaa-san, aku melangkahkan keluar rumah dan segera berlari kecil menuju depan gang rumahku.
"Terlambat lagi?" tanyanya setelah aku tiba di samping mobilnya. Ku buka pintu dan segera duduk di samping kursi kemudi dengan tenang.
"Maaf, Naruto-kun," sesalku kemudian.
"Hn. Hari ini kita tidak usah masuk, kita membolos. Jangan tanya kenapa, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," Naruto mulai menjalankan mobilnya. Aku hanya mengangguk dan diam tenang di tempat.
Sepanjang perjalanan, Naruto tidak bicara sama sekali, tidak berisik seperti biasanya. Apa ada sesuatu? Kenapa perasaanku tak enak begini? Apa dia mempunyai masalah sampai memasang wajah serius seperti itu?
"Sakura...," panggilnya pelan. Sepertinya kami sudah sampai di tempat tujuan karena Naruto memelankan kecepatan mobilnya.
"Iya?"
"Kau tahu kenapa beberapa hari ini tidak hujan?" dia memberhentikan mobilnya dan memandang keluar kaca mobil. Aku mengikuti arah pandangnya. Nampak sebuah gereja tua tapi terlihat rapi dan terurus berdiri kokoh di padang rumput yang lumayan luas. Di samping gereja tua itu, terdapat beberapa pohon sakura yang sedang tumbuh dengan suburnya.
"Entahlah, Naruto-kun," jawabku seraya mengikuti Naruto keluar dari mobil dan berjalan ke arah sebuah batu besar yang terdapat di sisi lain gereja tua itu.
"Awan sedang memuat air sebanyak-banyaknya," Naruto duduk di atas batu itu dan menonton pemandangan pohon sakura yang menari menggugurkan daunnya kerena hembusan angin. "Dan akan menjatuhkan air hujan di saat yang tepat, di mana seseorang membutuhkan hujan untuk menutupi kesedihan dan kehilangannya," lanjutnya.
"Apa maksudmu, Naruto-kun?"
Naruto menghela nafasnya pelan dan kemudian menatapku, "Aku akan menikah di tempat ini lusa."
Flashback...
"Sakura-chan...," seru Naruto suatu sore.
"Ada apa? Kenapa tidak bilang kalau ke rumahku?"
"Aku hanya ingin memberimu kejutan, Sakura-chan," Naruto berdehem yang kemudian berlutut di depanku dan mengeluarkan sesuatu dari saku hoodie birunya. Dia memasang wajah seriusnya saat menatapku.
"Kau mau apa? Kenapa bersikap seperti itu? Kau tahu, saat kau sedang serius, itu adalah sisi menakutkan darimu," akuku.
"Hahahaha, aku mohon, Sakura-chan. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu sekarang," pintanya dengan mimik lucu yang tak mampu menahanku untuk tidak tertawa. Kejadian itu masih berlanjut sampai dia menarik nafas panjang, mengisyaratkan kalau dia benar-benar ingin serius.
"Sudah?" tanyanya yang ku tanggapi dengan anggukan kepala. "Menikahlah denganku," lanjutnya yang kemudian membuka sesuatu yang ia sembunyikan dari tadi.
"Apa kau sedang melamarku?" Naruto mengangguk senang dengan senyum lima jarinya. "Tapi kenapa cincin ini membeku? Kau tidak ikhlas memberinya padaku, Naruto-kun?" tanyaku setelah melihat isi kotak kecil itu. Sebuah cincin yang membeku berbentuk balok.
"Bukan begitu, Sakura-chan. Aku ingin kau menjawabnya tidak sekarang, kau bisa menjawabnya saat kita lulus nanti. Dan jangan berpikir itu terlalu lama, karena kita masih mempunyai banyak waktu untuk menikmati bersama," jelasnya.
"Baiklah. Tapi sepertinya kau sudah tahu apa jawabanku jika ku jawab sekarang, Naruto-kun," sahutku sambil tersenyum. "Aku akan menjaga agar es ini tidak mencair, tetap membekukan cincin ini sampai tiba waktunya. Aku mencintaimu, Naruto-kun," segera, aku memeluk Naruto erat.
Flashback end...
"Siapa gadis itu, Naruto-kun?"
Deg! Deg! Deg! Entah kenapa detak jantungku jadi tak beraturan begini. Apa aku harus menjawab lamarannya? Cincin yang dia berikan juga masih membeku.
"Kau mengenalnya," Naruto menatapku dengan manik sapphire-nya. "Tapi sebelum itu, aku ingin mengatakan hal penting padamu. Maafkan aku, Sakura," lanjutnya.
"Kenapa kau minta maaf, Naruto-kun? Apa kau berbuat salah?"
"Maaf, aku membohongimu selama ini, Sakura. Aku hanya mempermainkanmu, kau hanya menjadi pelampiasan cintaku. Aku tak sungguh-sungguh mencintaimu. Kau hanya gadis bodoh yang gampang sekali dibohongi dan dipermainkan," jawabnya.
"Jangan bercanda, baka," aku tertawa mendengarnya. Apa dia salah makan tadi pagi?
"Aku tidak bercanda, Sakura," Naruto menatapku serius. Saat aku coba mendalami apa yang ada di kedua matanya, dia mengalihkan pandangannya dariku. "Aku tidak mencintaimu," katanya, membuatku seperti terkena hujaman benda tajam berulang kali tepat di ulu hatiku. Rasa sakit dan sesak menyelimutiku.
"Naru...,"
"Naruto-kun, kau sudah datang?" seorang gadis berambut indigo tiba-tiba datang dan berlari ke arah Naruto. Sebuah ukiran senyum tulus terpantri di wajah tampan Naruto. Gadis indigo? Bukankah dia gadis yang sekelas dengan Ino? Dan bukankah gadis ini sangat menyukainya sampai mengikuti Naruto kemana saja saat dia berkeliaran di sekolah – kata Ino? Bagaimana bisa gadis asing
"Maaf, aku terlambat, Hinata-chan,"
"T-tidak apa-apa," semburat tipis muncul di kedua pipi gadis yang di panggil Hinata itu saat Naruto mengusap puncak kepalanya. "A-ano... Apa dia S-sakura, Naruto-kun?"
"Hn. Sakura, ini Hinata, Hyuuga Hinata. Dia calon istriku, kami akan menikah lusa depan."
_FIN_
Becanda~
_Te Be Ce_
Hai, minna ^o^)/
Sepertinya chapter ini makin pendek ya, minna? -w-)a gomen ne, tugas akhir menggila u,u
Ini semua pada yang rekues happy ending ya? Ya, tunggu saja bagaimana akhir cinta mereka *smirk* /heh
Special thanks for Princess NaSa, Guest, agusajisaputro, By-U, Nagasaki, Ns, Ryan Kurosaki, Cindy elhy, Naru-kun93, hime koyuki, My, LoveNaruSaku, caesar, and silent reader :3
Bagaimana dengan chapter ini, minna? Semoga tidak mengecewakan ^^
Terimakasih sudah menyempatkan membaca fanfict ini ^^
Review, saran, kritik, flame, pertanyaan, ide cerita selanjutnya kirim ke alamat di bawah ini *nunjuk kotak review*
Mind to review, minna? ^^
