"Akan ada murid baru di sekolah ini."
"Jadi kalian akan bersekolah di sini?"
.
.
.
.
When Jashin Met Megami
Chara di sini milik Om Kishimoto
Genre: Friendship, Drama, Family, Romance.
Warning: OOC (parrah), typos (jelas), EYD?, crack, nista, dll.
.
.
.
.
Tanpa mengurangi rasa hormat, bagi yang kurang berkenan dengan ceritanya, dipersilakan untuk memencet tombol 'kembali'.
.
.
Chapter 2: Ootsutsuki Brothers
Hari pertama di Akademi Konoha.
Kelima Ootsutsuki tiba di depan gerbang dengan diantar mobil hitam mengkilap. Pintu mobil terbuka dengan gerakan lambat. Kelimanya turun dengan dramatis. Angin bertiup perlahan, menerbangkan dedaunan demi dedaunan, mengiringi langkah keempat ksatria dan seorang putri di antaranya.
Oke, ini lebay. Intinya mereka saat ini sedang melangkah memasuki gerbang sekolah.
Beberapa siswa dan siswi yang kebetulan lewat, nyaris bertubrukan gara-gara tak sanggup mengalihkan pandang dari kelima selebritis dadakan tersebut.
Paling depan, berjalan seenaknya, bocah imut ceria berambut cokelat pendek model spike yang senang menebar senyum mempesonanya. Si bungsu Ashura.
Berjarak satu meter di sampingnya, berjalan dengan tenang pemuda berambut cokelat gelap panjang dengan potongan harajuku. Sikap dingin dan tatapan tajamnya membius siswi-siswi yang kebetulan menatapnya. Dialah Indra.
Paling belakang, berjalan pemuda berwajah bijak. Hagoromo si kembar bungsu. Sikapnya penuh hormat. Senyum sopan tak pernah lepas menghiasi bibirnya.
Di sebelahnya, melangkah dengan tegap si kembar sulung. Hamura. Ia tak banyak bicara. Tatapannya lurus ke depan. Tipikal yang tak suka basa-basi.
Di tengah keempat pemuda itu, berjalan dengan langkah anggun berbalut keangkuhan seorang dewi. Tuan Putri Kaguya. Dagunya terangkat. Wajahnya tanpa ekspresi. Rambut merah panjangnya bergerak seirama ayunan langkahnya. Serasi. Bak simfoni.
Empat pria tampan dengan satu dewi cantik jelita dalam balutan seragam sekolah.
Yeah. Ootsutsuki bersaudara siap mengguncang Akademi Konoha.
.
.
.
.
Terlahir sebagai seorang Ootsutsuki membuat masing-masing sadar sepenuhnya akan 'keistimewaan' yang dimiliki mereka. Come on. Tidak tahu Ootsutsuki? Benar-benar tidak tahu? Baik, sepertinya kau datang dari dimensi lain karena semua orang yang hidup di dimensi ini, tak ada yang tidak tahu seberapa hebat klan Ootsutsuki itu. Kalau masih penasaran seberapa panjang daftar kehebatan mereka, kau bisa membacanya sendiri di ensiklopedi khusus dunia ninja.
Sudah tahu?
Oke. Kembali ke cerita.
Tak pelak, segala keistimewaan itu membuat mereka—tanpa terkecuali—berada pada tingkat popularitas teratas.
Dan kau tahu, apa akibat populer? Dan apa hal merepotkan karenanya?
Ha. Lima Ootsutsuki muda ini sangat tahu. Dan masing-masing memiliki cara tersendiri untuk 'membereskan'-nya.
Tidak percaya?
Mari telisik satu per satu.
"Aku mau lewat." Cengiran penuh keceriaan. Senyum lima jari yang memikat. 'Hadiah kecil' itu cukup membuat para gadis di sekitarnya menjerit histeris. Tanpa banyak cakap, mereka langsung menepi memberi jalan pada sang idola, Ashura.
"Kubilang, minggir." Tatapan tajam menusuk. Aura dingin mencengkam. Ohoho. Adakah makhluk bosan hidup yang berani mati menantang tatapan mata seorang Indra Ootsutsuki?
"Permisi, bolehkah kami lewat?" satu ucapan sopan sembari sedikit membungkukkan badan. Jangan lupakan senyum ramah di wajah yang teduh. Membuat siapa pun luruh dan tanpa sadar bergerak mematuhi perkataan Sang Hagoromo.
Lain lagi dengan yang satu ini.
Tanpa bicara apa-apa, tahu-tahu saja beberapa tubuh telah bergelimpangan mengenaskan. Detik selanjutnya, ia sudah bebas melenggang. Yeah, siapa yang mau dibasmi semudah membasmi kecoa oleh tangan kokoh Hamura?
Ohoho. Praktis bukan?
Ootsutsuki tak pernah gagal. Tak pernah terbantah. Tak pernah kalah.
Tapi kali ini, rupanya ada pengecualian.
"Siapa kau?" Ashura mengernyit jijik melihat pemuda cantik berkuncir pirang di depannya.
Pantas senyum sejuta pesona miliknya yang biasanya tak pernah gagal menaklukkan wanita, kali ini tidak mempan sama sekali pada sosok itu. Jelas saja. Yang berdiri di depannya ini seorang pria. Pria tulen! Atau mungkin pria cantik jadi-jadian. Ah, Ashura berpikir untuk membuktikannya nanti (?).
"Mau apa kau?" desis Indra tajam. Tatapan matanya jelas menunjukkan ketidaksukaan mendapati pria berkulit hiu dengan kadar ketampanan jauuuuh di bawahnya, berani menghalangi jalannya.
"Ada perlu apa?" lagi-lagi dengan senyum dan nada sopan. Hagoromo masih saja bersikap ramah kendati makhluk aneh bercadar di depannya mengacungkan telapak tangan tanda isyarat agar berhenti.
Sementara Hamura, sesuai kebiasaannya yang tak suka basa-basi, sudah menggerakkan tubuhnya ketika tiba-tiba gerakannya terhenti. Tangan berotot menahan laju tinjunya, sementara lututnya tertekan dan tak dapat leluasa bergerak.
Dalam hati, Hidan berulangkali mengucap syukur karena ia tak pernah absen melatih otot. Terbukti, kali ini latihan rutinnya bersama dia berguna menahan serangan lawan untuk sementara.
.
.
Beberapa belas jam sebelumnya.
"Ashura Ootsutsuki, berambut cokelat pendek dengan gaya spike."
"Indra Ootsutsuki. Berambut cokelat panjang ala harajuku dengan alis separuh. Heh? Alis separuh? Hmm ... Lalu ada tanda kebiruan di sekitar matanya. Oke, noted."
"Berikutnya, Hagoromo Ootsutsuki. Tinggi dan berkulit pucat. Rambut merah pucat sebahu dengan gaya spike. Tanpa a-lis? Hei! Ini serius? Murid baru ini tak punya alis?"
"Ckck. Selanjutnya, Hamura Ootsutsuki. Bertubuh tinggi. Rambut berwarna cerah dengan poni di sebelah kiri. Mata berwarna keputih-putihan. Juga tidak punya alis."
"Apa? Ini aneh! Apa-apaan ini. Kenapa semua bermasalah dengan alis?"
"Kaguya Ootsutsuki. Rambut merah panjang. Punya tanda lahir di dahi. Bola mata keputih-putihan dengan alis seperemp-HEH? Alis seperempat? Yang benar saja!"
"Demi kulit hiu! Aku berani bertaruh. Lima orang ini pasti berwajah je—"
DUKK.
"Aaaaakkhh! Siala―hei! Apa yang kau lakukan sih, hiu jadi-jadian!" Deidara, si pirang yang sedari tadi sibuk membaca data murid baru sembari bermonolog mengomentarinya, kini memegangi kepala blondenya yang baru saja ditimpuk sepatu.
Sepasang matanya melotot ke arah rekannya yang duduk di kursi seberang dengan ganas. Sungguh, Deidara tidak akan marah pada rekannya yang tak seperti manusia itu jika saja sepatu yang dilemparkan ke kepalanya bukan sepatu dengan gigi hiu tajam-tajam di bagian bawahnya. Bisa dibayangkan betapa sakitnya kepalanya saat ujung gigi-geligi tajam itu mengenainya.
Sang pelaku, Kisame, hanya balas menatap Deidara dengan tatapan datar.
"Aku prihatin denganmu, Deidara," sahutnya tenang.
Mendengar kalimat pria hiu yang diucapkan dengan nada serius, mau tak mau membuat Deidara segera mengubah sikap duduknya. Sepasang matanya menatap Kisame lekat-lekat dengan tatapan ingin tahu campur sedikit cemas. "A-ada apa denganku?" tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri.
Kisame menarik napas. Tatapan matanya masih sedatar tadi. "Kau sudah tak tertolong lagi."
Bola mata Deidara membulat. Bibirnya yang terbuka turut membulat.
"M-maksudnya tidak terto―"
BRAKK.
Pintu menjeblak terbuka dengan kasar. Oh, pastikan pintu malang itu tidak rusak mengingat betapa seringnya dibanting-banting oleh penghuninya.
Namun suara keras tersebut sukses membuat kepala hiu dan kepala blonde sontak menoleh.
"Hidan!" Kisame menegakkan punggungnya.
"Hidan-senpai!" Deidara ikut-ikutan latah memanggil nama senpai-nya yang bertubuh kekar itu.
Hidan tak merespons kalimat kedua rekannya. Ia hanya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Gestur tubuhnya menunjukkan ada hal darurat yang harus diselesaikan.
"Mana Kakuzu?" tanya Hidan ketika tak mendapati sosok bercadar hitam yang biasanya tak pernah terpisahkan dari kalkulator jumbonya.
Kisame yang sudah menguasai keterkejutannya berdehem satu kali. "Sebaiknya kau bersyukur, tidak ada Kakuzu di sini. Jika saja bendahara pelit itu melihatmu membanting pintu seperti tadi, kau bisa habis dicekik dengan cadarnya."
Kisame sama sekali tidak bohong. Dua minggu lalu, Deidara lah yang hampir menjadi korban. Gara-garanya pemuda cantik itu merasa dikerjai oleh Kisame, lalu karena kesal, ia membanting-banting pintu. Sebenarnya tindakan Deidara sama sekali tidak membahayakan nyawa pintu cokelat tersebut jika saja Deidara tidak membantingng dan memukulinya dengan sepatu gigi hiu milik Kisame.
Jadilah pintu itu rusak dengan baret-baretan artistik penuh nilai seni. Tapi jelas saja Kakuzu si pecinta kerapian dan keteraturan langsung menggeram marah begitu mengetahui hal itu. Beruntung, Kisame menyodorkan diri menjadi tumbal dan membiarkan Kakuzu mencekiknya dengan cadar hitamnya.
Jelas saja Kisame bisa selamat. Ingat? Dia itu pria ke-hiu-hiu-an. Dengan mudahnya, ia membebaskan diri dari cadar Kakuzu berkat gigi dan kulitnya yang tajam. Semua itu telah menyelamatkan Deidara dari jurang kematian.
Aduh, memang rumit hubungan antara pria hiu jadi-jadian dan pemuda cantik jadi-jadian.
Baiklah, tapi itu tidak penting dibahas sekarang.
Kembali ke cerita.
Hidan menggelengkan kepala menanggapi Kisame. "Itu tidak penting lagi sekarang."
"Wow. Apakah senpai membawa berita baru dari-nya?" Deidara ikut bersuara. Pemuda itu menatap Hidan dengan sorot mata cerah bercampur penasaran.
Kisame menyipitkan matanya. Entah kenapa ia tidak suka mendengar Deidara menyebut Hidan dengan panggilan 'senpai', sementara dirinya hanya diteriaki 'pria hiu jadi-jadian' oleh si blonde itu. Ini tidak adil, Kami-sama!
"Hn." Hidan menarik sedikit ujung bibirnya ke bawah. "Dia sudah menjatuhkan titah. Tradisi menghadapi anak baru tetap harus dilakukan, tapi kali ini bukan anggota OSIS biasa yang melakukannya."
Kisame yang kembali memusatkan perhatian pada Hidan mengangkat alis imajinernya, "Lalu?"
"Aku tidak suka mengatakan ini." Sudut bibir Hidan semakin tertarik ke bawah 27 derajat.
"Sudah, katakan saja," ujar Kisame cepat. Ia sudah tak sabar.
Hidan menarik nafas. Ia lalu menatap Kisame lurus-lurus. "Kita, kitalah yang harus melakukannya."
Tik.
Tik.
Tik.
"UAPAAH? Menghadapi makhluk-makhluk tanpa alis itu?" Deidara menjerit ngeri.
.
.
Dan di sinilah mereka semua.
Dalam hati, Deidara memaki-maki kesal. Ia sempat menyaksikan sendiri bagaimana makhluk rambut cokelat di depannya ini telah merebut perhatian nyaris seluruh gadis yang melewati gerbang sekolah.
Huh, apa kelebihannya dibanding dengan diriku? Aku juga punya senyuman ceria yang tak kalah menawan dari senyumannya, batin Deidara keki.
Ia sangat tidak terima jika anak baru yang belum ada sepuluh menit menginjakkan kaki di Akademi Konoha ini telah berhasil menarik perhatian para penghuninya ketimbang dirinya yang sudah puluhan tahun bersekolah di sana. Ini tidak adil, Kami-sama!
Lain halnya dengan Kisame yang mendadak berkerut-kerut mendapati sapaan tak ramah dari makhluk rambut cokelat panjang. Kisame tidak suka orang yang sikapnya tak ramah. Ya, kalau mau jujur, Kisame lebih menyukai tipikal polos dan manis, apalagi yang rambutnya panjang dan berwarna pirang. Guess who?
Sementara di sebelahnya, Kakuzu sedang menerka-nerka dari balik cadar hitamnya, berapa kira-kira keuntungan yang akan masuk ke kas OSIS jika pemuda-pemuda tampan seperti keempat orang di depannya ini dibudidayakan dengan sebaik-baiknya.
Berbeda lagi dengan Hidan. Pelajar tingkat dua Akadaemi Konoha itu benar-benar harus mengerahkan lebih dari 40% tenaganya untuk sekedar menahan gerakan ringan pemuda sangar di depannya. Oh well, ingatkan dia untuk menambah porsi latihan ototnya nanti.
"Maaf, adakah yang bisa kami bantu?"
Kisame mengumpat dalam hati. Kata-kata Hagoromo yang diucapkan dengan tenang dan bijak itu justru menyiratkan bahwa mereka, para Ootsutsuki, sama sekali tidak terganggu dengan cegatan gerombolannya, para Akatsuki.
"Hentikan basa-basi yang tak perlu. Aku muak melihat makhluk hiu jadi-jadian di depanku."
Kuping Kisame langsung tegak mendengar kalimat yang tiba-tiba saja diucapkan pemuda di depannya dengan sarkastis. Cukup! Cukup hanya Deidara saja yang boleh menyebutnya hiu jadi-jadian!
Darah Kisame memanas. Si Indra sialan ini memang berlidah tajam.
Menahan geraman dalam hatinya, Kisame mendesis, "Berkacalah dahulu sebelum mengatai orang lain, rupamu saja tak lebih baik dari hulk berambut panjang."
Crap.
Indra Ootsutsuki rupanya juga berdarah panas. Kisame bisa melihat wajah pemuda itu yang berubah tersinggung dan memerah marah. "Jangan sembarangan bicara, hiu kerdil."
"Oh." Kisame mengangkat dagunya angkuh. Ia sudah terlanjur naik darah mendengar Indra menyebutnya hiu jadi-jadian.
Penegasan sekali lagi, ia hanya rela jika Deidara yang menyebutnya begitu. Sembari melipat tangan, Kisame berujar, "Kau yang sebaiknya jangan banyak berlagak. Tidak lihat, sedang berhadapan dengan siapa? Kita seri sekarang. Satu lawan satu."
Anehnya, Indra justru mendengus keras mendengar kalimat terakhir Kisame. Kisame bisa mennagkap ekspresi menertawakan dan meremehkan kalimatnya barusan. Apa maksudnya?
Indra sedikit memiringkan kepala tak kalah angkuh. Tatapan matanya terlihat meremehkan. "Kau melupakan Nee-sama."
"Indra, berhenti." Kalimat pendek itu tiba-tiba diucapkan dengan sangat tenang oleh Hagoromo.
Kisame menyipitkan matanya. Ia menatap Hagorormo sekilas, lalu menyorot sosok satu-satunya yang mengenakan rok dan sedari tadi tak mengeluarkan suara. Kisame kembali menatap Indra dan berujar, "Dia hanya seorang perempuan."
Mengindahkan teguran halus Hagoromo, Indra justru menyeringai. "Kau salah. Justru dia lah yang seharusnya paling pertama kau waspadai."
.
.
.
TBC
.
.
.
A.N:
O-em-ji. Aku tidak percaya telah benar-benar iseng menuliskan cerita dengan memakai chara-chara pelosok seperti di atas. Hyaaaaa XD
Hidup Jashin x Kaguya! #plak. Hidup Akatsuki x Ootsutsuki! #dor.
Makasih yaa yang sudah mampir dan bertahan untuk nyempetin baca. Hiks, maafkan tulisan nistaku ini, kakak-kakak~~
Unleash your imagination! :D
