"Eomma! Maafkan aku! Kumohon!" Kepal tangan kecil itu mengantuk daun pintu. "Aku tidak akan mengulanginya lagi..."

Suaranya makin mengecil ketika wanita yang melahirkannya itu menatapnya tajam. Joonmyeon menunduk. Tidak berani mendongak menatap mata bening yang marah itu.

"E-Eomma..."

Pada akhirnya, yang keluar adalah rengekan kecil yang kekanakan untuk remaja sepertinya.

"Maafkan Eomma, Myeon-ie, tapi kali ini kau sudah keterlaluan." Nyonya Kim berkata dengan nada yang lebih kasar dari biasanya. Ia benci memarahi putra semata wayangnya, tapi semua ini harus dilakukan agar putranya tidak melewati batas. Ini bentuk dari kasih sayang ibu, jangan salah paham. "Eomma rasa aku dan Appamu terlalu memanjakanmu selama ini. Kau sudah besar, Myeon-ie. Eomma tetap akan menghukummu karena keluar malam tanpa izin, dan kau tidak boleh menolak." Ia memberi jeda sebuah tarikan napas. "Ini semua demi kebaikanmu."

Kebaikan. Ya, kebaikan. Joonmyeon tetap menunduk. Walau Eommanya sangat lembut, tapi dia bisa jadi sangat mengerikan kalau dibantah. Remaja yang baru menginjak masa pubertas itu sendiri mengepalkan tangan, geram. Bibir bawahnya ia gigit sebagai ungkapan rasa kesal ketika Eommanya meninggalkan kamarnya, sesudah memutuskan bahwa mengurung Joonmyeon di kamarnya selama tiga hari adalah hukuman 'pembukaan' yang setimpal.

Kemarin malam memang ia diam-diam menyelinap keluar dari rumah tanpa seizing orang tuanya. Semua itu rela ia lakukan walau akan mencemari status 'anak baik'nya, demi bertemu dengan pujaan hatinya. Zhang Yixing juga adalah kakak kelas di sekolahnya. Ia siswa pindahan dari Cina setahun lalu. Punya passion kuat di bidang musik dan seni. Suaranya khas dan gerak tubuhnya begitu lincah, membuat Joonmyeon begitu terpesona sampai membuatnya tercebur masuk saluran air dan ditertawakan teman-temannya begitu pertama kali melihatnya tampil di acara seni sekolah.

Zhang Yixing adalah pemuda yang luar biasa dengan semua talentanya. Tapi di balik itu, ia juga manusia yang luar biasa dengan charisma dan kebaikan hatinya. Siapa yang menyangka Zhang Yixing akan turun panggung dan menghampirinya, lalu mengulurkan tangan dan menariknya keluar dari saluran air?

Zhang Yixing adalah pemuda sempurna dari segi fisik maupun sikapnya. Paras manisnya dan tubuhnya yang proporsional. Kelihaian jemarinya saat memetik senar gitar maupun saat memainkan tuts piano. Park Chanyeol sialan memberitahunya kalau Zhang Yixing akan tampil sebagai penghibur di sebuah kedai kopi di tengah Seoul. Huang Zitao menambahkan kalau Zhang Yixing memang sering tampil di kedai itu, bernyanyi sambil menarikan jemari pada gitar favoritnya.

Semua itu membuat Kim Joonmyeon kehilangan akal sehat. Malam itu juga, ia nekat melakukan aksinya—keluar malam untuk menonton Zhang Yixing-nya. Dan siapa menyangka Zhang Yixing menyadari kehadirannya, pemuda kecil berbalut jaket yang duduk di sudut kedai. Lalu setelah tepuk tangan dari audiens mereda dan Zhang Yixing kembali ke belakang panggung, sebelum Joonmyeon sudah hendak beranjak pulang, Zhang Yixing mencegatnya,

Mereka lalu berkenalan. Mereka lalu saling bicara, duduk berhadapan pada meja dua kursi yang khusus dipesan oleh Zhang Yixing. Malam itu, Joonmyeon menyatakan ketertarikannya. Zhang Yixing memintanya untuk memanggilnya 'Lay'. Kemudian Joonmyeon berkesempatan mencium lesung pipit pemuda itu, sementara ia sendiri menerima sebuah kecupan manis pada bibirnya.

Zhang Yixing mengantarnya pulang. Mereka berjanji akan bicara lebih banyak di sekolah. Joonmyeon masih tetap berdiri diam, dimabuk asmara seraya menatap mobil Zhang Yixing yang mulai menjauh menghilang.

Joonmyeon jatuh cinta.

.:xxx:.

Semua tokoh yang ada dalam fanfiksi ini bukan milik saya

Fanfiksi ini adalah hasil karya orisinil yang menyusupkan fiksi dalam fakta

EXO (c) SM Entertainment

Kosmos (c) Crell

.

Tidak ada keuntungan finansial yang diambil dari pembuatan fanfiksi ini.

.

.

.:xxx:.

"Eomma sudah memberitahu sekolahmu kalau kau izin karena kepentingan keluarga hari ini."

Joonmyeon mengerang. Menghukumnya sih boleh saja, tapi tidak perlu berlebihan seperti ini, kan? Kalau sudah begini, bagaimana dia bisa bertemu dengan pangera—ups, Lay-ge-nya? Ia tidak memberitahu Eommanya perihal calon menantu keluarga Kim itu, tapi tetap saja...

Joonmyeon merasa keputusannya untuk mengenakan celana pendek dan kaus putih tipis itu salah. Eommanya menyuruhnya untuk seharian membersihkan mansion tempat tinggal mereka dan meliburkan semua pembantu untuk beberapa hari. Joonmyeon tidak masalah dengan itu semua.

Yang jadi masalah adalah orang yang Eomma tunjuk untuk mengawasi hukumannya.

"Tidak perlu Yifan-ge untuk semua ini, Eomma."

"Jangan merajuk. Kalau Eomma tidak menyuruh Yifan untuk mengawasimu, siapa tahu kau akan menyewa orang untuk membersihkan mansion ini, sementara kau sendiri malas-malasan sambil nonton tv."

"Aku tidak akan begitu, Eomma."

"Sekali tidak tetap tidak. Sekarang lakukan tugasmu. Yifan akan datang sepuluh menit lagi."

Sepuluh menit kemudian Yifan benar-benar datang. Ia menampik permintaan maaf Nyonya Kim yang merasa terlalu banyak merepotkannya. Yifan balas berkata bahwa ia senang bisa membantu kakaknya membesarkan buah hati mereka, terlebih Joonmyeon anak yang menyenangkan. Dan merupakan hal yang biasa bagi remaja untuk bertindak di luar akal mengingat hormon mereka tengah melonjak dan sesekali butuh didisplinkan.

Lalu kedua orang tuanya berangkat menuju kantor. Mansion itu akhirnya sepi sekali lagi. Joonmyeon mengawasi kepergian limosin hitam itu dari lantai atas degan tatapan mata nanar.

Eomma dan Appanya tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Mereka tidak tahu betapa busuknya Yifan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada anak tunggal mereka.

"Aku yakin tidak ada yang menyuruhmu berhenti."

Joonmyeon tidak mengacuhkan ucapan sinis itu. Alisnya mengernyit, sudut matanya berkedut. Ia sedang kesal sekarang, dan ia tidak butuh dipanasi oleh tingkah Yifan yang menyebalkan. Tidak, terima kasih.

"Kau tidak dengar aku? Lihat, sebelah sini masih kotor."

Tapi ia sudah keterlaluan.

"Bisakah kau diam? Aku sedang berusaha membersihkannya. Kau tidak lihat?"

Suara Joonmyeon tidak pernah sekasar ini. Tapi mau bagaimana lagi. Dia. Sedang. Kesal. Sekali.

Yifan berdecak. Menyingsingkan lengan kemeja putih mahal yang dikenakan.

"Kau mulai berani. Bicaramu mulai kasar pada orang yang lebih tua."

Ia melangkah maju, menghampiri remaja di bawah umur yang mematung di depan jendela.

Joonmyeon tidak bergerak ketika tubuh kekar Yifan berdiri tegap di belakangnya, memerangkapnya dengan jendela. Ia tidak menoleh, tidak bergerak. Ini bukan pertama kalinya Yifan melakukan ini.

Yifan meniadakan jarak di antara mereka, memastikan tubuhnya mendempet erat antara Joonmyeon dan jendela. Lalu menunduk dan berbisik pada telinga bocah di depannya.

"Di mana sopan santun yang kuajarkan padamu?"

Ditutup dengan jilatan sensual. Joonmyeon bernapas gemetar.

"M-Maafkan aku, Ge. Aku sedang kesal."

Akhirnya ia meminta maaf. Joonmyeon menelan ludah. Yifan mendengus geli, menebar hangat pada lehernya.

"Kenapa? Karena Eommamu mengurungmu sehingga kau tidak bisa bertemu dengan Zhang Yixing-mu?"

Deg.

Tangan Yifan menjulur, memenjarakan Joonmyeon. Membuat bocah yang membeku kaget itu tak bisa lari ke manapun.

"Oh, atau boleh kuralat, Lay-mu?"

Otaknya berputar, tapi tak ada yang ditemukan. Joonmyeon betul-betul kaget. Darimana Yifan tahu soal Lay-nya? Darimana orang ini tahu tentang sesuatu yang bahkan Eommanya pun tak tahu?

"Yifan-ge..." Ia mengerang ketika tangan Yifan meraba pantat kanan. "Bagaimana kau bisa...?"

Remasan berulang kali ia rasakan. Pikiran Joonmyeon yang kalut makin tak bisa diandalkan kala kabut nafsu menyelubunginya. Dipacu oleh jari tengah Yifan yang main-main menusuk masuk lubang kecilnya. Ia mengeluarkan jerit kecil ketika Yifan memaksa jarinya masuk begitu dalam hingga satu ruas jari masuk walau masih terhalang celana tipisnya.

"Ah! Aah!"

Bagi Yifan, desahan bocah kecil itu adiktif.

"Kuakui, kabur malam hari untuk bertemu diam-diam dengan pacarmu di kedai kopi itu adalah tindakan gila. Kau tahu, kalau Eommamu menangkap basah kenakalanmu ini, hukumanmu akan jauh lebih berat."

"Yifan-ge..." Joonmyeon membusungkan badan, kepalaya bersandar pada dada Yifan di belakangnya. Tidak kuat menerima ministrasi berlebih seperti Yifan yang mulai menyusupkan jemarinya masuk dalam celana. "Aah!"

"Kau harusnya berterima kasih padaku yang sudah meringankan beban hukumanmu."

Lalu semuanya tiba-tiba terang. Klik.

Joonmyeon membuka mata. Ucapan Yifan barusan membuatnya tersadar.

"Kau memberitahu Eomma."

Ia menuduh. Yifan menyeringai, lalu menarik turun celana Joonmyeon. Perlahan.

"Aku hanya kebetulan berada di kedai kopi yang sama, pada waktu yang sama." Kulit Joonmyeon hangat. Yifan menahan diri untuk tidak mengecup tiap sentinya. "Aku hanya bercerita pada Nyonya Kim bahwa aku melihat putranya sedang berada di tempat yang jauh dari rumah tanpa izin orang tuanya." Pengakuan itu ia tutup dengan menolehkan Joonmyeon menghadapnya. "Apa tindakanku salah!"

Raut muka bocah itu jelas berteriak, ya, ia salah.

Ekspresi Joonmyeon mengeras. Rahangnya mengatup. Geram. Tangan yang semula lemas karena hormon itu kini menegang, secara refleks menjulur lalu mendorong Yifan sekuat tenaga,

"Kau!" Raungnya. "Semua ini gara-gara kau!"

Yifan jelas tak bergeming sedikitpun dengan dorongan tanpa tenaga itu. Lingkar tangannya pada pinggang Joonmyeon jelas lebih kuat daripada dorongan si bocah.

"Kalau kau tidak memberitahu Eomma, Eomma takkan tahu dan semua ini takkan terjadi! Aku akan menjalani hidupku seperti biasa tanpa perlu dicurigai oleh Eomma dan kau—mmh!"

Yifan membungkamnya dengan ciuman paksa. Mencengkeram dagu bocah yang memberontak itu dengan kuku-kuku jarinya. Melesakkan lidah panjangnya masuk gua hangat, bertarung basah dengan lidah lain yang menolak kalah.

"Ngghh!"

Ciuman mereka pendek. Ketika Yifan melepasnya, seuntai liur masih menyatukan mereka.

"Seperti yang Eommamu bilang," Bisik pria dewasa itu. "Ini semua demi kebaikanmu."

Ucapan Yifan membangkitkan kemarahan Joonmyeon lagi. Muak dengan semua omong kosongnya.

"Kau sialan!" Remaja itu kini mendorong pundaknya, tapi sia-sia saat Yifan sudah merengkuhnya erat. Kadang ia heran apakah Yifan itu perwujudan singa dan cakar-cakarnya. "Sialan, sialan! Jangan berpura-pura baik di hadapanku! Kau bajingan, kau keparat! Kau, kau—umhh!"

Ia dibungkam lagi.

Yifan melarikan jemari di antara rambut hitam Joonmyeon, meremasnya lalu menariknya ke bawah, membuat remaja itu mendongak paksa. Memberinya keleluasaan memperkosa bibir yang sudah lama tak perawan.

"Nghh... aah!"

Yifan mengaduh ketika Joonmyeon memberi perlawanan, menggigit keras bibir bawahnya.

"Lepaskan aku! Jangan sentuh aku lagi mulai sekarang! Akh!"

Yifan masih memegang kendali atas kepala Joonmyeon. Ia menelengkannya, membuat leher putih mulus itu terpampang tanpa perlindungan.

"Ssh. Benar-benar. Remaja zaman sekarang memang sulit diatur."

Joonmyeon memberontak ketika Yifan menancapkan taringnya, menyesap daerah yang sudah memerah. Memberi kecupan pada bagian leher yang kini membiru. Sebuah tanda. Sebuah klaim.

"Kau bajingan busuk! Kau pengkhianat! Aku membencimu! Aku membenci—Aah!"

Plak!

Joonmyeon membelalak menyadari Yifan barusan memukul pantatnya.

"Hentikan!"

Plak!

"Aah!"

Plak!

"Sakit! Hentikan! Hiks..."

Joonmyeon mulai menangis.

Plak!

"Yifan-ge! Yifan-gee!"

Plak!

"Ini adalah hukuman untuk bocah pembangkang sepertimu."

Plak!

"Hiks... Hentikan! Hentikan! Sakit sekali!"

"Namanya juga hukuman," Yifan menyeringai. Tendensi sadis memang kadang tak bisa selalu disembunyikan. "Tidak seharusnya membuatmu merasa nikmat, kan?"

Plak!

"Ge! Aah!"

"Ini untuk keluar di malam hari."

Plak!

Setitik air mata mengalir. Pantatnya terasa panas. Sakit. "Ahh! Sudah, sudah! Kumohon!"

Yifan tidak menyanggupi, tentu saja. Tamparan demi tamparan terus melayang. Joonmyeon terus menjerit kala ia merasa telapak besar itu mendarat tanpa sayang pada bongkah kenyalnya.

"Ge..." Joonmyeon sampai tersedak tangisnya sendiri. "Pantatku sakit... Hiks... Ampun..."

Tapi pria itu masih belum puas. Seringainya masih berkembang lebar.

Memutuskan hukuman bocah itu masih jauh dari memuaskan, ia menyudahi pukulannya. Joonmyeon seketika ambruk ke tubuhnya, menangis pelan diselingi sedu sedan.

Sesakit itu?

Yifan bisa yang lebih sakit lagi. Tenang saja.

"Ini untuk berkata kasar padaku."

Jarinya hanya dilumasi liur belaka, dan kini sedang bergoyang berusaha masuk lubang sempit Joonmyeon.

"Ummh!" Joonmyeon meremas lengan Yifan. "Nhh... aah!"

"Ini untuk berkata bahwa kau membenciku."

Dilesakkan makin dalam. Jari tengah Yifan telah masuk seluruhnya.

"Yifa—aahh!"

"Oh... yah..." Demi apa, Yifan tidak tahu kalau mendengar pekik sakit itu bisa membuatnya makin panas. Libidonya tumpah-tumpah sekarang. "Kurang? Kau mau lagi? Hah?"

Telunjuk menggelitik lubang Joonmyeon.

"Ahh, Yifan-gee! Tidak, jangan... ahh! Nghh... ummh..."

"Kau mendesah, hm? Kau menikmatinya? Kau suka merasakan gerak jariku, Myeon-ie? Dasar anak nakal."

"Ahh, tid-aah! Tidak! Tidak! Aku membencimu! Aku membencimu!" Yifan mengeratkan jambakannya. "Nyaaah!"

"Katakan kau membenciku sekali lagi, dan aku akan menambah jariku. Satu jari untuk satu kalimat."

Bocah itu terengah-engah. Mukanya merah. Ini bukan pertama kalinya ia diperlakukan semesum ini, tapi bukan berarti ia sudah terbiasa.

"Ahhh... hah..."

"Aku tidak main-main, Manisku."

Suara Joonmyeon melemah. Ia merengek merasakan dua jari kakak sepupunya kini bergerak liar di dalamnya. "Yifan-ge..."

"Bagus. Begitu, tarik napas. Lihat." Yifan mencium bibirnya. "Kau cantik sekali."

"Aku tidak cantik!"

"Kau cantik." Yifan menjilat pipi Joonmyeon, yang kemudian menutup mata. "Wajahmu cantik."

Ciuman pada matanya.

"Matamu cantik."

Pada lehernya.

"Kulitmu cantik."

Pada tangannya.

"Tanganmu cantik."

Terus, ke bawah.

"Dadamu."

"Yifan-ge! Tidak, hentikaaanh!"

Yifan tidak mengacuhkannya. Kini mendorong Joonmyeon ke belakang hingga terantuk jendela transparan, mengangkat kaus Joonmyeon dan mulai menggeluti dua puting merah yang merekah.

Ia menjilat bibir.

Joonmyeon mulai kesulitan bernapas. Yifan memainkan putingnya sembarangan, dan jari di dalamnya mulai menyentuh buntal manis yang membuatnya hanya bisa melihat putih.

"Ge..."

"Hmm?"

"Aku... aku masih tetap membencimu..."

Ia tak tahu apa yang membuatnya bicara begitu.

Yifan berhenti. Lidahnya berhenti menggelitik putingnya. Bibirnya berhenti menyesap. Jarinya berhenti memijat prostat, lalu keluar dengan gerakan yang tidak pelan.

Joonmyeon menghembuskan napas panjang. Mengambil waktu jeda untuk istirahat sejenak. Tapi degup jantungnya tidak melambat ketika ia melihat Yifan membuka kancing kemejanya satu persatu.

Lalu menanggalkannya. Memamerkan dada bidang dan otot perut, semua kegagahannya pada bocah kecil di depannya.

"Peraturan diubah," Yifan menjulurkan badan, menempelkan tubuh mereka tanpa mengizinkan sedikitpun jarak. "Sekali lagi kau berkata kau membenciku, yang berikutnya masuk dalam lubangmu bukan lagi jariku."

Joonmyeon mulai bergerak gelisah. Memalingkan muka ketika bibir Yifan hendak menyentuhnya, membuat bibir itu salah dan malah mendarat pada lehernya.

"Ge... tidak, aah. Hentikan. Ini... ini salah. Kita punya hubungan darah. Kita tidak seharusnya—"

Masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang diacuhkan. Yifan tuli dan buta.

Pekik kesakitan Joonmyeon justru adalah makanannya. Desah yang keluar karena dipaksa itu adalah bara nafsunya.

"Ummh! Ngghhh!"

"Uhh... yah..."

"Yif—ngghh!"

"Kulum yang benar, Manisku," Yifan terengah di atas tubuh Joonmyeon, yang terkapar lemas di atas lantai. "Atau kau yang akan kesakitan nanti. Kali ini aku tidak akan pakai pelumas."

"Yifa-aannh.." Joonmyeon memejamkan mata. Berusaha meminta keringanan. "Mulutku sakit..."

"Rileks. Jangan terlalu tegang. Ahh..."

"Cukup. Cukup, ge! Jangan sentuh aku..."

Bocah ini terlalu banyak melawan.

"Bagaimana kalau begini saja," Yifan merunduk, menjilat cuping bibir Yifan. "Satu hari saja aku tidak menyentuhmu, maka kau takkan bisa melihat Lay-ge-mu itu keesokan harinya. Dan seterusnya."

Mata hitam melebar. "Kau bercanda. Kau tidak akan— Kau tidak bisa—"

"Oh, tidak, tentu saja." Tawa Yifan kejam. "Aku akan. Dan aku bisa."

.

.

[end]

AN: This fic was supposed to be a oneshot only but you guys made me write thiiiis! Seriously I hate you guuuys! Kalian semua begitu menyebalkan sampai bikin saya ga nahan nulis lanjutannya! /plak/

No, but, seriously, this fic won't have too much words ehehe. Lain sama Lubang Hitam yang jumlah wordsnya habis-habisan, kalau ini lebih ke pelepas lelah aja buat Crell :3 Dan ngomong-ngomong, hampir semua reviewnya isinya sama: 'Awalnya aku ga tau yang nulis ini tuh Crell sampai aku baca AN-nya'

/tabok reviewer satu-satu sama bantal yang ada ilernya Yifan/

Just kidding, guys :3 Saya cinta kalian semua~ Thanks buat semangatnya, ya, ehehe. Please don't have too much faith on this fic. Ini murni pwp yang berarti akan minim plot. Oh iya, ada yang nanya juga Lubang Hitamnya kapan. Hmm... akhir Februari, mungkin? Estimasi seperti itu, kesibukan Crell belum selesai soalnya :3

Btw, Crell ketawa karena tiap (ya, setiap) review yang masuk dan non-anon protes terus soalnya smutnya dipotong tanpa ampun sama Crell. Ehehe. Author satu ini emang nyebelin mampus. Hajar aja dia x3 Smut perdana Crell adanya di Lubang Hitam, jadi tunggu di fic itu aja yaa. Sejauh ini Crell kasih foreplay aja terus, otthe~?

Terakhir, follow, fav, review, PM, dan apapun itu saya terima dengan senang hati! Terima kasih untuk yang sudah membaca chapter ini!