CinDeidara
Disclaimer: Seiryuu Tayuya
Disclaimer asli: Om Kishi en Om Disney
Mari kita lanjutkan ceritanya... Kita? Lu aja kali, gw enggak! Putih, diem lu! Suka-suka gw mau ngomong apa! Mulut juga, mulut gw kok! Tapi mulut lu 'kan mulut gw juga! Cerewet lu! Bacot lu!
"Woooi!! Kalo gitu terus, kapan mulainyaaa!?" teriak Pein yang sudah capek menunggu pertengkaran sesama narator itu.
Gomen, Leader-sama... Udah, lanjutin sonoh! Cih! Mari kita lanjutkan ceritanya...
"Ehem!" Pein mendehem. "Cepat cari dia! Sekarang!" perintahnya.
"Hai!"
.
"Ouji-sama! Di mana dikau!?"
"Ouji-sama! Lu di mana!?"
"Gah! Bacot banget sih lu pada! Gw jadi ga bisa sembunyi tau!" terdengar suara dari semak-semak di belakang mereka.
Mereka menoleh ke semak-semak tersebut. Tampak seorang lelaki berambut perak dan bermata ungu. Dialah Sang Pangeran!
"Bego lu, Ouji-sama! Kami udah nyariin lu selama 3 jam tau!!" omel Kakuzu.
"Ouji-sama, kenapa anda sembunyi!? Bikin repot tau!" sambung Kisame.
"Kemarin, Otou-sama bilang ke gw kalo dia mau ngadain pesta dansa buat nyari calon menantu-nya. Tapi gw ogah ikutan, makanya gw sembu—Akh! Keceplosan!" Sang Pangeran baru menyadari kalau ia baru saja membuka rahasianya sendiri.
"Sou... ka?" tanya Kisame dengan senyum 'manis'-nya.
"Kalo gitu... Ayo kita kembali ke istana, Ouji-samaaaa..." sambung Kakuzu sambil menyeret Sang Pangeran.
"Woooi!! Lepasin gw!! Kuzu, Same, lepasin!!"
.
Sang Pangeran baru saja selesai diceramahi setelah 2,87453 jam+48,36982 menit+51,10237 detik+7,89021 milisekon. Dan sekarang keadaan menjadi sunyi-senyap bagai malam kudus.
"..."
"..."
"Eto... Otou-sama..." Sang Pangeran memecahkan gelas—eh, keheningan. "Aku ga mau ikut pesta dansa. Makanya... Yah, gitu deh... Hehe..." lanjutnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"..."
"Oi, Otou-sama denger nggak?"
"Hidan-chan!"
"Na-nani?"
"Pesta dansa itu, hal yang wajib bagi seorang pangeran!"
"Ta-tapi..."
"Ga ada 'tapi-tapi'! Sekarang, cepat masuk ke kamarmu!" perintah Pein murka. Ditambah lagi dengan piercings di wajahnya yang membuat wajah murka-nya semakin seram.
Pangeran yang bernama Hidan itu langsung pergi meninggalkan Pein yang masih murka.
.
"Hah... Otou-sama ga tau, ya? Gw 'kan... ga bisa dansa!!" keluh Hidan di kamarnya. "Aargh!! Ngeselin!! Nuebelin!! Ngeselin!! Nyebelin!!" Sang Pangeran pun melempar-lempar bantalnya, menginjak-injak kasurnya, menendang-nendang tembok kamarnya, memecahkan jendela kamarnya, dan menyebarkan noda darah di mana-mana. Alhasil, rusaklah barang-barang tak berdosa itu.
--
Sekarang kita lihat keadaan Cindeidara...
"Masa' gw harus nyiapin 100 piring dango buat makan malam sih, un? Si Itami... Ga takut jadi gendut apa, un?"
"..." Cindeidara tidak menyadari bahwa ada... eto... sepasang—Satu. Ya! Satu mata yang memperhatikannya dari tadi. Hah...
'Fu fu fu... Jadi dia Cindeidara ya? Sepertinya dia memang anak yang baik sepertiku. Yosh!' batin si pemilik mata tadi.
"Wa ha ha ha ha! Wa ha ha ha ha!" terdengar suara tertawa ala pahlawan bertopeng dari luar jendela.
"!!!" Cindeidara kaget. Dia hampir saja memecahkan tumpukan piring yang sedang dibawanya. 'Suara siapa sih, un? GaJe banget...' batinnya. 'Kalo nggak salah, tadi asalnya dari luar jendela 'kan, un?' Cindeidara berjalan dengan waspada mendekati jendela tersebut.
Srek...
"Siapa, un?" Cindeidara membuka tirai jendela.
Tidak ada siapa-siapa di luar.
"Kucing garong ya? Gangguin aja, un..." Cindeidara pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Wa ha ha ha ha! Wa ha ha ha ha!" suara itu terdengar lagi.
"Siapa, un?"
"..." lagi-lagi tidak ada jawaban.
Cindeidara pun berjalan mendekati jendela tersebut.
"Wa ha ha ha ha! Wa ha ha ha ha!" suara itu muncul lagi.
Tanpa pikir panjang, Cindeidara langsung membuka jendela tersebut.
Grek!
"Baaa!!"
Sesosok hantu—eh... Sebut saja hantu! Baiklah, sesosok hantu muncul tiba-tiba di hadapan Cindeidara begitu jendela dibuka.
"Kyaaa!! Hantu, un!!" jerit Cindeidara.
PRANG!!
Cindeidara langsung memukul kepala hantu tersebut dengan panci yang dibawanya.
PRANG! PRANG! PRANG! PRANG!
"Kyaaa!! Hantu jelek, un!! Pergi sana, un!!"
"Uwoooh~!! Tobi anak baik!! Jangan pukul Tobi!! Gyaang~!!" suara tangis yang memilukan itu terdengar tiap kali Cindeidara memuulkan panci-nya kepada hantu itu.
"Un?" Cindeidara pun berhenti memukul hantu itu.
"Hiks... Sakit..." hantu tersebut mengelus-elus kepalanya yang sudah berbentuk seperti dango.
"Go-gomennsaia, un..."
"Hiks... Kamu..."
"Un?"
"Kamu... Beneran Cindeidara ya?"
"Un! Kenapa memangnya?"
"Kaya'nya kamu bukan anak baik ya..."
"Un!? Lu mau ngapain sih, un!? Ngajak berantem, un!?"
"Huh... Karena Tobi anak baik, Tobi perkenalin diri deh!"
Tiba-tiba, ruangan itu menjadi gelap.
"Kyaaa!? Kok jadi gelap, un!?"
Lalu, muncullah beberapa lampu sorot berwarna oranye, mengarah ke atas tungku.
"Dengan kekuatan anak baik, akan membantumu!!" (BGM: Sailormoon's Theme)
Makhluk hantu tadi muncul dengan narsisnya, memegang tongkat seperti lolipop di tangan kanannya, dan memakai jubah hitam berkerudung dengan gambar awan merah.
"..." Cindeidara swt. "Kelompok pelawak ya, un? Pulang aja sono. Ga ada duit, un."
"Eh, sembarangan! Tobi itu ibu peri tau!"
"Nani!? 'Ibu'!? Lu cewek, un!? Bukannya cowok!? Padahal suaranya cowok, un!" tanya Cindeidara syok.
"Eh, salah! Tobi itu bapak peri!" ralat makhluk bernama Tobi itu sambil menggoyang-goyangkan tongkatnya.
"I-itu tongkat apa, un?" tanya Cindeidara makin swt.
"Oh, ini? Ini bukan tongkat. Ini lolipop!" jawab Tobi polos. "Liat nih, bisa dimakan loh! Manis lagi! Mau coba?"
"Lolipop!?" Cindeidara berpikir bahwa lebih baik sekarang dia mati saja. "Yang bener aja! Masa' peri bawa lolipop sih!?" tanyanya.
"Suka-suka Tobi dong!" jawab Tobi.
"Jadi, ngapain lu ke sini, un?"
"Tobi ke sini buat bantuin Cindeidara!"
"Bantuin?"
"Yap!"
"Apa aja?"
"Yap!"
"..."
"..."
"..."
"Kok diem?" tanya Tobi.
"Mencurigakan, un. Lu orang gila ya, un?" Cindeidara balik nanya.
"Tobi itu anak baik! Tobi bakal bantuin apa aja!" tegas Tobi.
"Un... Kalo gitu, siapin 100 piring dango, un!"
"Kok minta tolong e=nggak sopan sih? Nanti Tobi nggak bantuin loh..."
"Ga jadi deh, un... Gw bisa kerjain sendiri, un..." Cindeidara membalikkan tubuhnya.
"Hwaaa! Matte! Tobi bantuin deh!" Tobi mencoba menghentikan Cindeidara. Cindeidara pun menghentikan langkahnya. "Tapi..." lanjut Tobi.
"Tapi apa, un?" tanya Cindeidara heran.
"Nyanyiin ini dulu ya!" Tobi memberikan Cindeidara selembar kertas.
"Lagu apa ini, un?" Cindeidara swt.
"Udah! Nyanyiin aja!" perintah Tobi lagaknya bos.
"Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini ingin itu, banyak sekali... Semua semua, dapat dikabulkan. Dapat dikabulkan dengan Pak Peri Tobi... Aku ingin seratus piring dango... Hai, Peri Tobi datang... La la la, aku sayang sekali... Peri Tobi... La la la, aku sayang sekali... Peri Tobi..."
"Waaai!! Sugoi!!" puji Tobi sambil menepuk tangannya.
Cindeidara meremas kertas itu, tampak beberapa aksen marah di kepalanya. "Lagu apa sih ini, un!? Aneh tau!! Gw malu nyanyiinnya!!"
"Itu mantra buat ngucapin permintaan! Sekarang permintaan Cindeidara akan Tobi kabulkan!" Tobi mengacungkan tongkat—eh lolipop-nya.
'Bukannya dari tadi...' batin Cindeidara jengkel.
"Yosh! Seratus piring dango, muncullah!" ucap Tobi sambil mengayunkan lolipop-nya.
POFF!
Dalam sekejap, 100 piring dango muncul di hadapan mereka.
"Tuh, liat! Tobi hebat 'kan?"
"Su-sugoi, un!"
"Yuhuuu~ Cindeidara, we're home!!" terdengar suara yang berasal dari pintu masuk.
"Gawat! Konan, Saori, sama Itami udah pulang, un!" seru Cindeidara panik.
"Ya udah deh! Tobi pergi dulu ya! Bubay!" Tobi melambaikan tangannya dengan lebay lalu menghilang.
'Dateng tiba-tiba, pergi juga tiba-tiba... Kaya' maling, un...' pikir Cindeidara.
"Cindeidara, mana dango gw!?" panggil Itami.
"Tuh, ada di atas meja." jawab Cindeidara.
"Bawain dong! Capek nih!" pinta Itami manja.
'Dasar... Banyak maunya, un...' batin Cindeidara.
--
"Emang tadi habis ngapain aja, un? Habis fitness buat ngurusin badan, un?" tebak Cindeidara asal.
"Sembarangan! Lu kira gw gendut apa!?" protes Itami.
'Badan udah kaya' dango gitu... Masih ga mau ngaku lagi, un...'
"Gw tadi habis ke salon, manicure-pedicure, ke spa, ngerawat wajah, trus nyari cowok deh!" Itami mulai bercerita.
'Itu mah... Apanya yang bikin capek, un?' "Terus? Dapet cowok, un?" tanya Cindeidara.
"Dapet kok... Dia juga ngajak gw jadian..."
'Nani!? Ada cowok yang mau jadi pacar Itami!? Bumi mau kiamat, un!'
"Tapi gw tolak!" lanjut Itami.
"Nanda, un?"
"Habisnya... Dia 'kan kakek-kakek!"
'Kakek-kakek... Pantesan... Pasti Itami dikirain nenek-nenek...'
TBC
Starring:
Deidara as FemDei, Cindeidara
Konan as Konan, sang ibu tiren -digeplak- maksudnya, sang ibu tiri
Sasori as FemSaso, Saori a.k.a kakak tiri Cindeidara
Itachi as FemIta, Itami a.k.a kakak tiri Cindeidara
Kisame as Kisame, sang pelayan
Kakuzu as Kakuzu, sang pengawal
Pein as Pein, sang raja
Hidan as Hidan, sang pangeran
Zetsu as Zetsu, sang narator
Tobi as Tobi, sang ibu (?) peri
A/N: Gomen kelamaan nunggu. Gara-gara ulangan sih. Belom lagi nanti masih ada Ulum. Mungkin ini fic terakhir Sei sebelum Ulum...
Behind the scene:
"Eeekh!?"
"Nanda, Senpai?" tanya Tobi.
"Ma-masa' gw jadi Cinderella!?"
Cinderella
"Eee!? Nani!?" Akatsuki lainnya syok.
"Kalo Dei senpai-chan jadi Cinderella, berarti Tobi jadi Pangeran dong!" Tobi buru-buru membuka kertas yang diambilnya.
Ibu peri
"Huwaaa!? Kok Tobi jadi ibu peri sih!?"
Kakak tiri-1
"..." Sasori terdiam pucat.
"Gyahaha!! Sasori jadi kakak tiri-nya!" Kisame menertawakan Sasori.
"Cerewet! Emang lu sendiri jadi apa!?"
"Liat nih!" Kisame menunjukkan Sasori kertas yang didapatnya.
Pelayan
"..." Sasori diam.
"Well, at least, gw ga usah jadi okama 'kan?" Kisame sok inggris.
"Ha? 'Obama'?" tanya Tobi tulalit. "Tobi mau jadi Obama dong!"
"'Okama' tau! O-ka-ma! Banci! Bukan 'Obama'!" respon Kisame.
Kakak tiri-2
"Ini... Mata gw yang rabun, ato apa?" Itachi tidak mempercayai apa yang dia dapat.
"Mata lu tuh yang rabun.." jawab Kakuzu.
"Cerewet lu! Emang lu sendiri jadi apa?" tanya Itachi kesal.
"Tunggu, gw buka dulu..."
Pengawal
"Fuuuh... Untung gw ga usah jadi banci kaleng segala... Tapi, kalo jadi pengawal, gajinya gede nggak ya?" Kakuzu sibuk menghitung.
Itachi hanya bisa berdiam diri, seperti patung. 'D*amnit! Kenapa harus Kuzu yang jadi pengawal sih!? Ga gw aja!?' rutuk Itachi dalam hatinya.
Ibu tiri
"Masa' gw jadi ibu tiri sih!? Yang bener aja!" keluh Konan. Konan yang tadinya pingin melecek kertas itu, mengurungkan niatnya. "Huh! Untung aja lu kertas! Coba kalo lu bukan kertas, udah gw hancurin lu!"
'Konan-chan jadi ibu tiri... Cocok juga...' pikir Pein.
"Apa lu liat-liat!?" omel Konan.
"Ah, eh—Nggak kok!" Pein menggelengkan kepalanya.
Raja
"Konan-chan jadi ibu tiri, tapi gw jadi rajanya. Gimana sih?" komen Pein (pura-pura) kecewa begitu melihat kertas yang didapatnya.
Nurani Pein: "Yeah!! Gw jadi raja!! Gw jadi penguasa!!" (BGM: We are the Champion)
Saking senangnya, Pein sampe joget-joget ala Inul Daratista.
"Tuh Leader... Ngapain joget-joget sih? Dasar stress..." ujar Kisame.
'Khu khu khu... Rekam ah... Siapa tau nanti bisa untung banyak. Khu khu khu..." batin Kakuzu sambil mengambil handycam butut-nya dengan lensanya yang sudah retak.
'Nih orang—Malu-maluin aja sih!' batin Konan.
BLETAK!
Pein mendapat 'hadiah spesial' dari Konan.
Narator
"Yah... Jadi narator doang..." komen Zetsu putih. "Tapi kita 'kan jadi nggak usah banyak gerak." sambung Zetsu hitam.
Sasori teringat sesuatu. "Hei, berarti yang jadi pangerannya itu..."
Pangeran
"Breng-sensor-!! Jashin-sama, mengapa Engkau menyiksa Hamba-Mu ini!?" seru Hidan.
"Gheee!? Berarti Dei-pon jadi pasangan Hidan!?" tanya Itachi syok.
"Nggak mau! Gw minta tuker peran!" teriak Hidan.
"Nggak boleh! Lagian, kalo udah dapet perannya, jangan ganti lagi. Ya 'kan, Leader-sama?" Kakuzu menegaskan.
"Hm! Betul!" jawab lainnya –minus Dei en Hidan- kompak.
"Gw ga mau, un!!"
"Gw juga ga mau!!"
"Mana sudi gw jadi pasangan orang gila kaya' Hidan, un!?"
"Nani!? Banci cerewet!!"
"Tengkorak sinting, un!!"
"Teroris murahan!!"
"Udah dong... Jangan berantem," Itachi meleraikan.
"Lagian juga, gimana gw jadi cewek, un? Gw 'kan cowok, un!"
"Lu pake jurus 'itu' aja, Dei-pon!" Itachi mengusulkan.
"Jurus 'itu', un!?"
Itachi mengangguk kecil.
"?" yang lainnya jadi bingung.
"Un..." Dei mulai membentuk sebuah segel dengan kedua tangannya. "Henge no Jutsu!"
POFF!!
Pemandangan di sekitar tempat itu jadi berasap. Sedikit-sedikit, asap itu mulai menghilang.
"Ne~!?" Akatsuki lainnya tidak bisa mempercayai apa yang sedang mereka lihat; seorang gadis cantik berambut pirang panjang digerai. Poninya menutupi mata kirinya. Kulitnya berwarna tan. Dia juga memakai jubah akatsuki. Yap! Itulah Deidara female version!!
"Berhasil!" seru Itachi bangga.
"Dei senpai-chan!?" tanya Tobi tidak percaya.
"Kirei ne~!!" Pein mengacungkan ke-2 jari jempolnya.
"Dei? Beneran?" kepala Sasori hampir copot saking kagetnya.
"Kyaa!! Dei-kun—eh, Dei-chan jadi cantik!!" seru Konan gemas.
"..." Kakuzu menjatuhkan anak-anak dan pacarnya karena terpana melihat FemDei.
"..." Zetsu pingsan.
"Woo!! Lebih cantik dari putri duyung!!" teriak Kisame.
"Oh, Jashin-sama! Terima kasih! Engkau memberikan daku kesempatan buat jadi pasangan cewek cantik!" Hidan langsung menyembah kalung Jashin-nya dengan 'air terjun' mengalir.
"Tadi lu bilang minta tuker peran..." sahut Kisame.
"Kalo gitu, gw aja yang jadi pangerannya!" ucap Itachi nafsu.
"Ga boleh! Dei partner gw! Gw yang jadi pangerannya!" timpal Sasori.
"Tachi-chan sama Saso-kun senpai curang! Tobi juga mau jadi pangerannya!" timpal Tobi.
"Gw aja yang jadi pangerannya! Gw 'kan Leader di sin—" tiba-tiba wajah Pein jadi pucat. "—Eto... Ga jadi..."
BLETAK!
BRAK!
Konan menggebrak meja. "Nggak boleh!" serunya. "Kuzu-kun, tadi lu bilang kalo udah dapet perannya, jangan ganti lagi 'kan?"
"Iya," jawab Kakuzu.
"Hah..." menyesal-lah tiga orang tersebut karena tidak mendapat peran sebagai Sang Pangeran.
"Yes!! How lucky I am!!" teriak Hidan norak sok inggris.
"Bajunya gimana, un?" tanya Dei.
"Tenang aja! Lu pake baju gw!" jawab Konan.
"Emang muat?" tanya Kisame.
"Pasti muat! Dei-chan 'kan langsing, nggak kaya' lu yang badannya gede gitu..." jawab Konan sembari berjalan ke kamarnya untuk mengambil baju-bajunya.
"Hiks... Biarin aja kalo badan gw gede... Hiks..." Kisame menangis bombay. Air mata hiu mengalir dari hidungnya.
"Dasar cengeng! Masa' gitu aja nangis sih?" ejek Zetsu putih. "Hiu murahan!" timpal Zetsu hitam.
"Hiks... Biarin aja..." jawab Kisame.
TBC
