New Moon

-02-

.

.

.

TAMAT

.

.

.

Keesokan paginya, perasaanku benar-benar kacau. Aku tidak bisa tidur nyenyak, lenganku terasa nyeri dan kepalaku sakit. Perasaanku semakin kacau saat melihat wajah Jungkook tetap muram saat dia mengecup dahiku sekilas dan merunduk keluar dari jendela kamarku. Aku takut membayangkan waktu yang kulewatkan saat tidur tadi, takut Jungkook berpikir tentang yang benar dan salah lagi sambil memandangiku tidur. Kegelisahan itu seolah menambah pukulan bertubi-tubi dikepalaku.

Jungkook menungguku di sekolah -seperti biasa- tapi wajahnya masih muram. Ada sesuatu dibalik tatapannya dan aku tidak yakin apa itu—dan itulah yang membuatku takut. Aku tidak ingin mengungkitnya semalam, tapi aku tidak yakin apakah dengan menghindarinya justru memperburuk keadaan. Jungkook membukakan pintu untukku.

"Bagaimana perasaanmu?"

"Sempurna," dustaku, meringis saat suara pintu dibanting bergema di dalam kepalaku.

Kami berjalan sambil membisu, Jungkook memperpendek langkah untuk mengimbangiku. Begitu banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan, tapi sebagian besar mengharuskan aku untuk menunggu, karena pertanyaan-pertanyaan itu untuk Jin. Pertanyaan seperti bagaimana Namjoon pagi ini? Apa yang mereka katakan saat aku sudah pulang? Apa kata Suga? Dan yang paling penting apa yang dilihat oleh Jin akan terjadi dimasa mendatang menurut penglihatannya yang aneh dan tidak sempurna itu? Bisakah Jin menebak apa yang dipikirkan Jungkook, mengapa dia begitu muram? Apakah firasat ketakutan yang tidak mau hilang dari hatiku ini berdasar?

Pagi berlalu dengan lambat. Aku tidak sabar ingin bertemu Jin, walaupun tidak benar-benar bisa bicara dengannya kalau Jungkook ada di sana. Jungkook sendiri lebih banyak berdiam diri. Sesekali dia menanyakan lenganku, dan aku menyahutinya dengan berbohong. Jin biasanya mendului kami makan siang, dia tidak perlu mengimbangi orang lelet seperti aku. Tapi hari ini Jin tidak terlihat di meja. Jungkook tidak mengatakan apa-apa tentang tidak adanya Jin. Awalnya aku mengira kelasnya belum selesai, sampai aku melihat teman-teman yang sekelas dengan Jin di kelas bahasa Prancis jam keempat.

"Dimana Jin? Aku tidak melihatnya dari tadi" tanyaku pada Jungkook dengan sikap was-was.

Jungkook memandangi granola bar yang diremasnya pelan-pelan sebelum menjawab. "Dia menemani Namjoon." Jawabnya kemudian.

"Apa Namjoon baik-baik saja?"

"Dia pergi dulu untuk sementara."

"Apa? Kemana?"

Jungkook mengangkat bahu. "Tidak pasti kemana."

"Jin juga," kataku putus asa.

Tentu saja, jika Namjoon membutuhkannya maka Jin dengan senang hati akan pergi menemaninya.

"Ya. Dia pergi untuk sementara. Dia mencoba meyakinkan Namjoon untuk pergi ke Denali."

Aku menelan ludah, berusaha mengenyahkan sesuatu mengganjal yang tiba-tiba bersarang ditenggorokanku. Perasaan bersalah membuat kepalaku tertunduk dan bahuku terkulai. Aku membuat mereka terusir dari rumah mereka sendiri, seperti Suga dan Jimin. Aku benar-benar wabah penyakit.

"Lenganmu sakit?" kata Jungkook dengan nada bertanya.

"Siapa yang peduli dengan lengan tololku?" sergahku jengkel.

Jungkook tidak menyahut, dan aku meletakkan kepalaku di meja.

.

.

.

.

.

Sekolah telah berakhir hari ini, tapi kebisuan semakin menjadi dan tiak tertahankan. Aku tiak ingin menjadi orang yang memecah kebisuan, tapi rupanya hanya itu satu-satunya pilihan kalau aku ingin Jungkook bicara lagi denganku.

"Kau datang nanti malam?" tanyaku ketika Jungkook berjalan mengiringiku—sambil tetap membisu—ke trukku.

"Nanti?"

Aku senang karena Jungkook terlihat kaget.

"Aku harus kerja. Aku kan harus tukaran shift dengan Mrs. Newton untuk bisa libur kemarin."

"Oh," gumam Jungkook.

"Jadi kau akan datang kalau aku sudah dirumah, ya kan?" Aku tidak suka karena tiba-tiba merasa tak yakin tentang hal ini.

"Kalau kau menginginkannya."

"Aku selalu menginginkanmu," aku mengingatkannya, mungkin sedikit lebih bersungguh-sungguh daripada seharusnya.

Aku mengira Jungkook akan tertawa, atau tersenyum, atau setidaknya bereaksi terhadap kata-kataku. Tapi tidak.

"Baiklah kalau begitu," sahutnya tak acuh.

Jungkook mengecup keningku lagi sebelum menutup pintu trukku. Lalu dia berbalik dan berlari melompat dengan anggun ke mobilnya. Aku masih sanggup menyetir trukku keluar dari lapangan parkir sebelum kepanikan menghantamku telak-telak, tapi aku sudah kehabisan napas ketika sampai di Newton's. Jungkook hanya butuh waktu, aku meyakinkan diriku sendiri. Jungkook pasti bisa melupakannya. Mungkin Jungkook sedang sedih karena keluarganya harus pergi. Tapi Jin dan Namjoon sebentar lagi kembali, begitu juga Suga dan Jimin.

Kalau perlu, aku akan menjauh dulu dari rumah putih besar di tepi sungai itu—aku tidak akan pernah menjejakkan kaki lagi disana. Bukan masalah. Aku tetap bisa bertemu Jin di sekolah. Juga, aku akan bertemu dengan dr. Choi –secara teratur- di UGD. Untuk memeriksa luka dilenganku, mungkin.

Mungkin jauh lebih baik jika Jungkook membawaku pergi saja, daripada keluarganya tercerai berai seperti itu. Depresiku sedikit berkurang saat aku mulai membayangkan bisa berduaan dengan Jungkook tanpa ada yang mengganggu. Seandainya Jungkook bisa bertahan sampai akhir tahun ajaran ini, ayah tidak akan lagi bisa melarang. Kami bisa pergi ke luar kota untuk kuliah, atau berpura-pura itulah yang kami lakukan.

.

.

.

.

.

Waktu berjalan sangat lambat. Aku ingin bertemu lagi dengan Jungkook, berdoa semoga dia sudah bisa mengatasi saat-saat terburuknya, apapun itu. Aku berharap saat aku bertemu lagi dengan Jungkook nanti, semua kembali seperti semula, baik-baik saja. Semua pasti akan normal lagi. Kelegaan yang kurasakan waktu berbelok memasuki kawasan tempat tinggalku dan melihat mobil perak Jungkook terparkir di depan rumahku yang sangat besar dan luar biasa. Dan itu membuatku gelisah. Aku bergegas masuk lewat pintu depan, berseru sebelum benar-benar berada di dalam.

"Ayah? Jungkook?"

Saat aku berseru, terdengar jelas alunan music acara Sports Center yang ditayangkan ESPN bergema dari ruang duduk.

"Di sini," ayah menyahut.

Aku menggantungkan jas hujan dan bergegas mengitari sudut ruangan. Jungkook duduk di kursi, sementara ayahku disofa. Mata keduanya sama-sama tertuju ke layar televisi. Fokus itu normal saja bagi ayahku. Tapi tidak demikian halnya bagi Jungkook.

"Hai," sapaku lemah.

"Hai Tae.." sahut ayahku, matanya tidak beralih dari layar televisi. "Kami baru saja makan pizza dingin. Kalau tidak salah masih ada di meja"

"Oke." Jawabku singkat.

Aku menunggu di ambang pintu. Akhirnya Jungkook menoleh sambil tersenyum sopan.

"Sebentar lagi aku menyusul," janjinya. Matanya beralih lagi ke televisi.

Sejenak aku hanya bisa bengong, shock. Tidak seorang pun di antara mereka sepertinya menyadari hal itu. Aku bisa merasakan sesuatu, mungkin kepanikan, bertumpuk di dadaku. Aku kabur ke dapur. Pizza-nya sama sekali tidak menarik perhatianku. Aku duduk di kursi, melipat lutut dan memeluk kedua kakiku. Ada yang tidak beres, mungkin lebih parah daripada yang kusadari.

Obrolan ayah dan Jungkook terus berlanjut dari depan layar televisi. Aku bisa saja bergabung dengan mereka dan menikmati siaran olahraga itu, tapi entahlah. Perasaanku benar-benar tidak enak. Aku berusaha mengendalikan diri, memberi penjelasan masuk akal pada diriku. Hal paling buruk apa yang bisa terjadi? Aku tersentak. Jelas itu pertanyaan keliru. Sulit rasanya bernapas dengan benar.

Oke, aku berpikir lagi, hal paling buruk apa yang sanggup kuterima? Aku juga tidak terlalu menyukai pertanyaan itu. Tapi aku memikirkan berbagai kemungkinan yang kupertimbangkan hari ini tadi. Menjauh dari keluarga Jungkook. Tentu saja. Jungkook tidak mungkin berharap Jin juga akan kujauhi. Tapi kalau Namjoon tidak bisa didekati, berarti lebih sedikit waktu yang bisa kuhabiskan bersama Jin. Aku mengangguk sendiri—itu bisa kuterima. Atau pergi dari sini. Mungkin Jungkook tidak ingin menunggu sampai akhir tahun ajaran, mungkin harus sekarang juga.

Meja yang ada dihadapanku, tergeletak hadiah-hadiahku dari ayah dan ibu yang kutinggalkan di sana semalam. Kamera yang tidak sempat kugunakan di rumah keluarga Choi tergeletak di sebelah album. Sambil menarik napas panjang kusentuh sampul depan album cantik yang dihadiahkan ibuku padaku, teringat pada ibu. Entah bagaimana, sekian lama hidup tanpa ibuku tidak membuatku lantas bisa lebih mudah menerima kemungkinan hidup terpisah selamanya darinya. Dan ayah akan tinggal sendirian di sini, ditinggalkan. Hati mereka bakal terluka...

Tapi kami akan kembali, bukan? Kami pasti akan datang berkunjung, bukan begitu? Aku tidak bisa memastikan jawabannya. Aku meletakkan pipiku ke lutut, memandangi benda-benda yang menjadi ungkapan cinta kedua orangtuaku. Aku tahu jalan yang kupilih ini akan sulit. Dan bagaimanapun, aku memikirkan skenario terburuk—yang paling buruk yang bisa kuterima.

Aku menyentuh album itu lagi, membalikkan sampul depannya. Sudut-sudut logam kecil sudah tersedia di halaman dalam untuk meletakkan foto pertama. Bagus juga idenya, merekam kehidupanku di sini. Aku merasakan dorongan yang aneh untuk mulai. Mungkin aku tidak punya waktu lama lagi di Forks. Aku memainkan tali kamera, penasaran dengan film pertama di dalamnya. Mungkinkah hasilnya akan mendekati sosok aslinya? Aku meragukannya. Tapi Jungkook tampaknya tidak khawatir hasilnya akan kosong.

Aku terkekeh sendiri, mengenang tawa lepasnya semalam. Tawaku terhenti. Begitu banyak yang berubah, dan begitu tiba-tiba. Membuatku merasa sedikit pusing, seakan-akan aku berdiri di tepi tebing curam yang sangat tinggi. Aku tak ingin memikirkannya lagi. Kusambar kameraku dan berjalan menuju tangga.

Pertama, aku mengambil gambar kamarku. Kamar yang tidak banyak berubah sejak ibuku tinggal disini. Tidak banyak lagi yang bisa kulakukan malam ini—diluar sudah terlalu gelap—dan perasaan itu semakin kuat, sekarang bahkan nyaris menjadi keharusan. Aku akan merekam segala sesuatu tentang Forks sebelum harus meninggalkannya. Perubahan akan datang. Aku bisa merasakannya. Bukan prospek menyenangkan, tidak bila hidup saat ini sudah begitu sempurna. Aku sengaja berlama-lama di kamar sebelum turun lagi ke bawah, sambil menenteng kamera, berusaha menepis kegelisahan yang berkecamuk dihatiku, memikirkan jarak aneh yang tidak ingin kulihat di mata Jungkook. Dia pasti bisa mengatasinya. Mungkin Jungkook khawatir aku akan kalut bila dia mengajakku pergi. Akan kubiarkan Jungkook mengatasi perasaannya tanpa ikut campur. Dan aku akan siap bila nanti ia memintaku.

Aku sudah siap dengan kameraku saat aku menyelinap diam-diam ke ruang duduk. Aku yakin tidak mungkin Jungkook tidak menyadari kehadiranku, tapi dia tetap tidak mendongak. Aku merasakan tubuhku merinding saat perasaan dingin menerpa perutku; kuabaikan perasaan itu dan kuambil foto mereka. Barulah mereka menoleh memandangku. Kening ayah berkerut. Wajah Jungkook kosong, tanpa ekspresi.

Aku tersenyum puas melihat hasil jepretan kameraku, meski ayah ribut sekali karena tidak ingin difoto. Tapi tetap tidak menghindar saat aku kembali mengambil gambarnya. Kemudian, aku meminta Jungkook untuk memotret aku bersama ayah. Kamera kulemparkan padanya dan sengaja menghindar dari mata Jungkook.

"Kau harus tersenyum Taehyung." gumam Jungkook.

Aku menyunggingkan senyum terbaikku, dan Jungkook berhasil mengambil gambar kami.

"Sini kufoto kalian." Ayah mengusulkan.

Aku tahu ayah hanya berusaha mengalihkan fokus kamera dari dirinya. Jungkook berdiri dan dengan enteng melemparkan kamera itu kepada ayah. Aku bangkit dan berdiri di samping Jungkook, dan pengaturan itu terasa formal dan asing bagiku. Jungkook mengaitkan sebelah lengannya ke bahuku, dan aku merangkul pinggangnya lebih erat. Aku ingin menatap wajahnya, tapi tidak berani.

"Senyum Tae.." ayah mengingatkanku lagi.

Aku menghela napas dalam-dalam dan tersenyum. Lampu blitz seakan membutakan mataku.

"Cukup sudah potret-memotretnya malam ini," kata ayah kemudian, menjejalkan kamera kecelah di antara bantal-bantal sofa, lalu berguling di atasnya.

"Kau tidak perlu menghabiskan satu rol film sekarang juga."lanjutnya.

Jungkook menurunkan tangannya dari bahuku dan menggeliat melepaskan diri dengan sikap kasual. Lalu Jungkook duduk lagi di kursi. Aku ragu, lalu duduk bersandar lagi di sofa. Mendadak aku merasa sangar ketakutan sampai-sampai tanganku gemetar. Kutempelkan kedua tanganku ke perut untuk menyembunyikannya, meletakkan daguku ke lutut dan memandangi layar televisi di depanku, tak melihat apa-apa.

Setelah acara berakhir, aku bergeming di tempat duduk. Dari sudut mata kulihat Jungkook berdiri.

"Sebaiknya aku pulang," katanya.

Ayah tidak mengangkat wajah dari tayangan iklan. "Sampai ketemu lagi."

Aku berdiri dengan sikap canggung—tubuhku kaku setelah duduk diam sekian lama—lalu mengikuti Jungkook ke pintu depan. Ia langsung kemobilnya.

"Kau menginap tidak?'" tanyaku, tanpa ada harapan dalam suaraku.

Aku sudah bisa menebak jawabannya, jadi rasanya tidak terlalu menyakitkan.

"Tidak malam ini."

Aku tidak menanyakan alasannya. Jungkook naik ke mobilnya dan menderu pergi sementara aku berdiri di sana, tidak bergerak. Aku nyaris tidak sadar hujan telah turun. Aku menunggu, tanpa tahu apa yang kutunggu, sampai pintu di belakangku terbuka.

"Taehyung, sedang apa?" tanya ayah, terkejut melihatku berdiri sendirian di sana, air hujan menetes-netes membasahi tubuhku.

"Tidak sedang apa-apa."' Aku berbalik dan terseok-seok kembali ke rumah.

Malam itu sangat panjang, aku nyaris tidak bisa beristirahat.

.

.

.

.

.

Pagi menjelang, perasaanku semakin tidak karuan. Selain takut, aku mulai tidak sabar. Sampai berapa lama lagi ini akan berlangsung? Kebisuan itu berlangsung sepanjang pagi dimulai aku bertemu dengan Jungkook dilapangan parkir sekolah. Jungkook berjalan di sampingku, bungkam seribu bahasa, sepertinya tidak pernah benar-benar menatapku. Aku mencoba berkonsentrasi pada pelajaran-pelajaranku, tapi bahkan bahasa Inggris pun tiak mampu menarik perhatianku. Mr. Berty sampai harus dua kali mengulang pertanyaan tentang Lady Capulet sebelum aku sadar dia menujukan pertanyaan itu padaku. Jungkook membisikkan jawaban yang benar dengan suara pelan, lalu kembali mengabaikanku.

Saat makan siang, kebisuan terus berlanjut. Rasanya aku seperti hendak menjerit setiap saat. Jadi, untuk mengalihkan pikiran aku mencondongkan badan, melanggar garis batas tidak kasatmata, dan berbicara pada Jessica. Memintanya untuk mengambil gambar dengan teman sekelas dengan alasan atas permintaan ibuku.

Sudah bisa ditebak, perang potret pun terjadi. Kulihat mereka mengedarkan kamera ke sekeliling meja, tertawa terbahak-bahak, berpose, dan mengeluh karena difoto dalam keadaan jelek. Anehnya, tingkah mereka terasa kekanak-kanakan bagiku. Mungkin aku saja yang sedang tidak mood untuk bersikap layaknya manusia normal hari ini.

"Waduh," kata Jessica dengan nada meminta maaf saat mengembalikan kamera padaku.

"Sepertinya kami menghabiskan filmmu."

"Tidak apa-apa. Aku sudah memotret semua yang perlu kupotret kok."

.

.

.

.

.

Sungguh luar biasa bagaimana seseorang bisa terlihat begitu... begitu... tidak terlukiskan. Seribu kata pun takkan mampu menandingi foto ini. Dengan cepat aku melihat-lihat sekilas foto lain dalam tumpukan, lalu menjejerkan tiga diantaranya di tempat tidur. Foto pertama adalah foto Jungkook yang sedang ada didapur, sorot matanya yang hangat memancarkan kegembiraan. Foto kedua adalah foto Jungkook dan ayah saat mereka menonton ESPN. Perbedaan ekspresi Jungkook tampak nyata. Sorot matanya tampak hati-hati disini, tidak ramah. Masih tetap sangat tampan, namun wajahnya terkesan lebih dingin, lebih menyerupai patung, kurang hidup. Terakhir foto Jungkook dan aku berdiri berdampingan dengan sikap canggung. Wajah Jungkook sama seperti dalam foto terakhir, dingin dan menyerupai patung.

Kekontrasan diantara kami sangat menyakitkan. Ia tampak bagai dewa. Aku tampak sangat biasa, bahkan untuk ukuran manusia, nyaris polos. Kubalik foto itu dengan perasaan tidak menyenangkan. Bukannya mengerjakan PR, aku malah begadang untuk memasukkan foto-foto itu ke album. Dengan bolpoin aku membuat catatan di bawah semua foto, nama-nama dan tanggalnya. Aku sampai pada foto Jungkook dan aku, tanpa memandanginya terlalu lama, melipatnya jadi dua dan menyelipkannya ke sudut logam dengan sisi Jungkook menghadap ke atas.

Setelah selesai, aku menjejalkan tumpukan foto kedua kedalam amplop yang masih baru, lalu menulis surat terima kasih yang panjang untuk ibu. Jungkook masih belum datang juga. Aku tidak ingin mengakui dialah alasanku begadang hingga larut malam begini. Aku berusaha mengingat kapan terakhir kali Jungkook tidak datang, tanpa alasan, tanpa menelepon... Ternyata tidak pernah. Lagi-lagi, aku tidak bisa tidur nyenyak.

.

.

.

.

.

Sama seperti dua hari sebelumnya, suasana di sekolah juga tetap penuh kebisuan yang menegangkan dan membuat frustrasi. Aku menghela napas lega saat melihat Jungkook menungguku di lapangan parkir, tapi kelegaan itu sirna dengan cepat. Tidak ada perubahan dalam dirinya, kecuali mungkin Jungkook lebih menjauh. Sulit rasanya mengingat alasan dari semua kekacauan ini. Hari ulang tahunku rasanya telah lama berselang. Kalau saja Jin kembali. Segera. Sebelum keadaan jadi makin tak terkendali lagi. Tapi aku tidak bisa bergantung pada hal itu. Aku sudah memutuskan kalau aku tidak bisa bicara dengan Jungkook hari ini, benar-benar bicara, aku akan menemui dr. Choi besok. Aku harus melakukan sesuatu.

Sepulang sekolah Jungkook dan aku akan membicarakannya sampai tuntas, aku berjanji pada diriku sendiri. Aku tak mau menerima alasan apa pun. Jungkook mengantarku ke trukku, dan aku menguatkan diri untuk melontarkan tuntutan.

"Keberatan tidak kalau aku datang ke rumahmu hari ini?" tanya Jungkook sebelum kami sampai ketruk, menduluiku.

"Tentu saja tidak."

"Sekarang?" tanya Jungkook lagi, membukakan pintu untukku.

"Tentu," aku menjaga suaraku tetap datar, walaupun tidak menyukai nada mendesak dalam suaranya. "Aku hanya akan memasukkan surat untuk ibu ke bus surat dalam perjalanan pulang. Sampai ketemu di rumah."

Jungkook memandangi amplop tebal di jok trukku. Tiba-tiba dia mengulurkan tangan dan mengambilnya.

"Biar aku saja" ujarnya pelan. "Dan aku akan tetap lebih cepat sampai di rumah daripada kau."

Jungkook menyunggingkan senyum separo favoritku, tapi kesannya lain. Matanya tidak memancarkan senyum itu.

"Oke," aku setuju, tak mampu membalas senyumnya. Jungkook menutup pintu, lalu berjalan ke mobilnya.

Memang benar Jungkook sampai lebih dulu dirumahku. Jungkook sudah memarkir mobilnya ditempat ayah biasa parkir waktu aku menghentikan trukku didepan rumah. Itu pertanda buruk. Berarti Jungkook tidak berniat lama-lama di rumahku. Aku menggeleng dan menghela napas dalam-dalam, berusaha menabahkan hati.

Jungkook turun dari mobil waktu aku keluar dari trukku, lalu berjalan menghampiriku. Dia mengulurkan tangan, mengambil tasku. Itu normal. Tapi Jungkook menaruh tasku ke jok truk. Itu tidak normal.

"Ayo jalan-jalan denganku," ajaknya, suaranya tanpa emosi.

Jungkook meraih tanganku. Aku tidak menjawab. Aku tak punya alasan untuk memprotes, tapi aku langsung tahu apa yang kuinginkan. Aku tidak menyukainya. Ini gawat, ini benar-benar gawat, suara di kepalaku berkata berulang-ulang. Tapi Jungkook tidak menunggu jawabanku. Ditariknya aku ke sisi timur halaman, tempat hutan berbatasan dengan halaman. Aku mengikutinya meski dalam hati menolak, berusaha berpikir disela-sela kepanikan yang melandaku. Inilah yang kuinginkan, aku mengingatkan diriku sendiri. Kesempatan untuk membicarakannya sampai tuntas. Jadi mengapa kepanikan ini mencekikku?

Kami baru beberapa langkah memasuki pepohonan ketika Jungkook berhenti. Kami bahkan belum sampai di jalan setapak—aku masih bisa melihat rumahku. Begini kok dibilang jalan-jalan. Jungkook bersandar di pohon dan memandangiku, ekspresinya tidak terbaca.

"Oke, ayo kita bicara," kataku. Nada suaraku terdengar lebih berani daripada yang sebenarnya kurasakan.

Jungkook menghela napas dalam-dalam. Dan entah kenapa perasaanku semakin kacau.

"Taehyung, kami akan pergi."

Aku juga menghela napas dalam-dalam. Aku kira aku sudah siap. Tapi tetap saja aku bertanya.

"Mengapa sekarang? Setahun lagi—"

"Tae, sudah saatnya. Lagi pula, berapa lama lagi kami bisa bertahan di Forks? Appa tidak terlihat seperti sudah berumur tiga puluh tahun, apalagi dia mengaku sekarang usianya 33. Kami harus memulai dari awal lagi secepatnya, bagaimanapun juga"

Jawaban Jungkook membuatku bingung. Aku memandanginya, berusaha memahami maksudnya. Jungkook balas menatapku dingin. Dengan perasaan mual, aku pun memahami maksudnya. Aku menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menjernihkan pikiran. Jungkook menunggu tanpa sedikit pun tanda tidak sabar. Butuh beberapa menit baru aku bisa bicara.

"Oke," kataku. "Aku ikut."

"Tidak bisa Taehyung. Kemana kami akan pergi... itu bukan tempat yang tepat untukmu."

"Di mana kau berada, di situlah tempat yang tepat untukku." Sanggahku langsung.

"Aku tidak baik untukmu, Tae. Mengertilah.."

"Jangan konyol," Aku ingin terdengar marah, tapi kedengarannya malah seperti memohon.

"Kau hal terbaik dalam hidupku." Ujarku, suaraku terdengar bergetar.

"Duniaku bukan untukmu," ucap Jungkook muram.

"Apa yang terjadi pada Namjoon, itu bukan apa-apa Jungkook! Bukan apa-apa!"

"Kau benar." Jungkook sependapat. "Persis seperti itulah yang bakal terjadi."

"Kau sudah berjanji! Di Phoenix, kau berjanji kau akan tinggal—"

"Sepanjang itu yang terbaik untukmu," Jungkook mengoreksiku.

"Tidak! Ini masalah jiwaku, kan?"

Aku berteriak, marah, kata-kata berhamburan dari mulutku— namun entah bagaimana tetap saja terdengar seperti memohon-mohon.

"Dr. Choi memberitahuku dan aku tidak peduli Jungkook. Aku tidak peduli! Ambil saja jiwaku. Aku tidak menginginkannya tanpa kau—itu sudah jadi milikmu!"

Jungkook menarik napas dalam-dalam dan beberapa saat menerawang menatap tanah. Ketika akhirnya Jungkook mendongak, matanya tampak berbeda, lebih keras—seperti emas cair yang membeku keras.

"Taehyung, aku tidak ingin kau ikut denganku."

Jungkook mengucapkan kata-kata itu lambat-lambat dan jelas, matanya yang dingin menatap wajahku, memerhatikan sementara aku menyerap semua perkataannya. Sunyi sejenak saat aku mengulangi kata-kata itu berkali-kali dalam pikiranku, memilah-milah untuk mendapatkan maksud sesungguhnya.

"Kau... tidak... menginginkanku?" Aku mencoba mengucapkan kata-kata itu, bingung mendengarnya diucapkan dalam urutan seperti itu.

"Tidak."

Kutatap matanya, tidak mengerti. Jungkook balas menatapku tanpa ampun. Matanya bagai topaz— keras dan jernih dan sangat dalam. Aku merasa seolah-olah bisa memandang kedalamnya hingga berkilo-kilometer jauhnya, namun di kedalaman tidak berdasar itu aku tidak melihat adanya kontradiksi dari kata yang diucapkannya tadi.

"Well, itu mengubah semuanya."

Aku terkejut mendengar nada suaraku yang kalem dan tenang sekarang, tidak bergetar seperti sebelumnya. Pasti karena perasaanku sudah mati rasa. Aku tidak menyadari apa yang Jungkook katakan padaku. Itu masih tetap tidak masuk akal. Jungkook mengalihkan pandangan ke pepohonan saat bicara lagi.

"Tentu saja, aku akan selalu mencintaimu... sedikit-banyak. Tapi peristiwa malam itu membuatku sadar, sekaranglah saatnya berubah. Karena aku... lelah berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diriku Taehyung. Aku bukan manusia." Jungkook menatapku lagi, bagian-bagian dingin wajahnya yang sempurna memang bukan manusia.

"Aku membiarkan ini berlangsung terlalu lama, dan aku minta maaf untuk itu."

"Jangan." Suaraku kini hanya berupa bisikan. Kesadaran mulai meresapiku, menetes-netes bagai asam dalam pembuluh darahku.

"Jangan lakukan ini."

Jungkook hanya menatapku, dan kelihatan dari matanya kata-kataku sudah terlambat. Jungkook sudah melakukannya.

"Kau tidak baik untukku, Taehyung."

Jungkook membalikkan kata-kata yang diucapkannya tadi, jadi aku tidak bisa membantahnya. Aku tahu benar aku tidak cukup baik baginya. Aku membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, kemudian menutupnya lagi. Jungkook menunggu dengan sabar, wajahnya bersih dari segala emosi. Kucoba sekali lagi.

"Kalau... kalau memang itu yang kau inginkan."

Jungkook mengangguk satu kali. Sekujur tubuhku terasa lumpuh. Aku tak bisa merasakan apa-apa dari leher ke bawah.

"Tapi aku ingin meminta sesuatu, kalau boleh," katanya.

Entah apa yang dilihatnya diwajahku, karena sesuatu berkelebat diwajahnya sebagai respons. Tapi sebelum aku sempat memahaminya, Jungkook telah mengubah ekspresinya menjadi topeng tenang yang sama.

"Apa saja," aku bersumpah, suaraku sedikit lebih kuat.

Sementara aku menatapnya, mata beku Jungkook mencair. Emas itu berubah menjadi cair lagi, melebur, membakar mataku dengan kekuatan teramat besar.

"Jangan lakukan sesuatu yang ceroboh atau tolol," perintahnya, tidak lagi dingin. "Kau mengerti maksudku?"

Aku mengangguk tak berdaya. Mata Jungkook mendingin, sikap menjaga jaraknya kembali lagi.

"Aku memikirkan ayahmu, tentu saja. Dia membutuhkanmu. Jaga dirimu baik-baik—demi dia."

Lagi-lagi aku mengangguk. "Baiklah," bisikku.

Jungkook tampak rileks sedikit.

"Dan aku akan menjanjikan sesuatu padamu sebagai balasannya," katanya. "Aku berjanji ini kali terakhir kau bertemu denganku. Aku tidak akan kembali. Aku tidak akan menyulitkanmu lagi. Kau bisa melanjutkan hidupmu tanpa gangguan dariku lagi. Nantinya akan terasa seolah-olah aku tak pernah ada."

Lututku pasti mulai gemetar, karena pohonpohon mendadak bergoyang. Bisa kudengar darah menderas lebih cepat di belakang telingaku. Suara Jungkook terdengar semakin jauh.

Jungkook tersenyum lembut. "Jangan khawatir. Kau manusia—ingatanmu tak lebih dari sekadar saringan. Waktu akan menyembuhkan semua luka bagi jenismu."

"Kalau ingatanmu?" tanyaku. Kedengarannya seperti ada yang menyumbat tenggorokanku, seolah-olah aku tersedak.

"Well—" Jungkook ragu-ragu selama satu detik yang singkat—"aku tidak akan lupa. Tapi jenisku... kami sangat mudah dialihkan perhatiannya." Jungkook tersenyum, senyumnya tenang dan tidak menyentuh matanya.

Jungkook mundur selangkah menjauhiku. "Aku sudah mengatakan semuanya, kurasa. Kami tidak akan mengganggumu lagi."

Kata "kami" yang Jungkook ucapkan menggugah perhatianku. Itu membuatku terkejut; kukira aku sudah tak bisa menyadari apa pun lagi.

"Jin tidak akan kembali," aku tersadar.

Entah bagaimana Jungkook bisa mendengarku—mulutku tidak mengeluarkan suara—tapi sepertinya dia mengerti. Jungkook menggeleng pelan, matanya tak pernah lepas dari wajahku.

"Tidak. Mereka semua sudah pergi. Aku tetap tinggal untuk berpamitan denganmu."

"Jadi Jin sudah pergi?" Suaraku hampa oleh rasa tak percaya.

"Sebenarnya dia ingin berpamitan, tapi aku meyakinkan dia, perpisahan seketika justru lebih baik bagimu."

Kepalaku pusing; sulit rasanya berkonsentrasi. Aku pernah merasakan sakit yang sangat saat kakiku patah, tanganku terasa terbakar karena gigitan vampir. Itu sangat sakit, tapi sakit yang ini sangat berbeda. Aku tidak berdarah, tapi terasa begitu menyakitkan, menyesakkan. Aku berusaha bernapas normal. Ini semua seperti mimpi buruk, mimpi teramat buruk bagiku.

"Selamat tinggal Taehyung." kata Jungkook, suaranya tetap tenang dan damai.

"Tunggu!" aku tersedak oleh kata itu, menggapainya, memerintahkan kakiku yang terasa berat untuk membawaku maju.

Aku kira Jungkook juga mengulurkan tangan untuk menggapaiku. Tapi tangannya yang dingin mencengkeram pergelangan tanganku dan merapatkannya ke sisi kiri dan kanan tubuhku. Jungkook membungkuk, dan menempelkan bibirnya sekilas ke dahiku, sangat sebentar dan terasa menyakitkan. Mataku terpejam.

"Jaga dirimu baik-baik," desahnya, rasa dingin menerpa kulitku.

Terasa tiupan angin sekilas yang tidak wajar. Mataku terbuka. Daun-daun pohon maple bergetar oleh embusan angin pelan yang menandai kepergiannya. Jungkook sudah pergi. Dengan kaki gemetar, mengabaikan fakta bahwa tindakanku itu tak ada gunanya, aku berjalan mengikutinya memasuki hutan. Bukti kepergiannya langsung lenyap. Tak ada jejak kaki, daun-daun diam kembali, tapi aku terus berjalan tanpa berpikir.

Aku tak sanggup melakukan hal lain. Aku harus terus bergerak. Kalau aku berhenti mencarinya, semuanya akan berakhir. Cinta, hidup, makna... berakhir.

Aku berjalan dan berjalan. Waktu tak ada artinya lagi bagiku sementara aku berjalan pelan menembus semak belukar. Berjam-jam telah berlalu, tapi rasanya baru beberapa detik. Mungkin waktu terasa membeku karena hutan tampak sama tak pedulinya betapapun jauhnya aku melangkah. Aku mulai khawatir aku hanya berputar-putar dalam lingkaran, lingkaran yang sangat kecil, tapi aku terus berjalan. Sering kali aku tersandung, dan, setelah hari makin gelap, aku juga sering terjatuh.

Akhirnya aku tersandung sesuatu—karena sekarang sudah gelap gulita, aku tak tahu benda apa yang membuatku tersandung—dan tak bisa bangkit lagi. Aku berguling ke samping, supaya bisa bernapas, dan bergelung di rerumputan yang basah. Sementara aku berbaring di sana, aku merasa waktu terus berjalan tanpa aku menyadarinya. Aku tak ingat berapa lama waktu telah berlalu semenjak malam turun.

Apakah di sini selalu segelap ini di malam hari? Padahal seharusnya ada sedikit cahaya bulan yang menerobos gumpalan awan, bersinar menembus kanopi pepohonan, dan menerpa tanah. Tapi malam ini tidak. Malam ini langit hitam pekat. Mungkin tak ada bulan malam ini mungkin ada gerhana bulan, bulan baru. Bulan baru. Aku gemetaran, meski tidak kedinginan. Hitam pekat untuk waktu yang sangat lama sebelum aku mendengar mereka memanggil-manggil.

Seseorang meneriakkan namaku. Sayup-sayup dan teredam tetumbuhan basah yang mengelilingiku, tapi itu jelas namaku. Aku tidak mengenali suara itu. Terpikir olehku untuk menjawab, tapi aku linglung, dan butuh waktu lama untuk menyimpulkan aku sebaiknya menjawab. Saat itu. teriakan itu sudah berhenti.

Beberapa saat kemudian hujan membangunkanku. Kurasa aku tidak benar-benar tertidur; aku hanya terhanyut dalam kondisi tak sadar dan tak bisa berpikir, bertahan dengan segenap kekuatan ke perasaan kebas yang membuatku tak bisa menyadari apa yang tak ingin kuketahui. Hujan sedikit membuatku gelisah. Aku menggigil. Kubuka belitan tanganku yang melingkari lutut untuk menutupi wajah.

Hingga beberapa saat kemudian aku merasa seperti ada yang memanggil namaku dan menghampiriku. Aku seperti orang yang kehilangan arah, hanya menatap kosong orang itu. Bahkan aku tidak tahu kalau ternyata orang itu menggendongku sampai suara yang sangat kukenali membuatku tersadar. Suara yang akan kukenali dimanapun.

"Tae, sayang, kau baik-baik saja?"

Itu suara ayah

"Ayah?" Suaraku terdengar pelan, terdengar seperti anak kecil yang memelas pada orang tuanya.

"Aku di sini, Sayang"

Aku merasa tubuhku dipindahkan, dan sejurus kemudian, aku bisa mencium bau khas jaket sheriff ayahku yang terbuat dari kulit. Ayah terhuyung-huyung menggendongku.

"Mungkin sebaiknya aku saja yang membopongnya," Seseorang menyarankan.

"Tidak perlu," jawab ayah, agak terengah.

Ayah berjalan pelan-pelan, tersaruk-saruk. Kalau saja aku bisa mengatakan padanya untuk menurunkanku dan membiarkan aku berjalan sendiri, tapi tak ada suara yang keluar dari kerongkonganku. Di mana-mana ada lampu, dipegang segerombolan orang yang berjalan bersamanya. Rasanya seperti pawai. Atau prosesi pemakaman. Aku memejamkan mata.

Ayah berhasil menggendongku melewati pintu rumah dan membaringkanku di sofa ruang duduk.

"Ayah, aku basah kuyup," sergahku lemah.

"Tidak apa-apa." Suaranya serak.

Kemudian ayah berbicara pada seseorang. "Selimut-selimut ada di dalam lemari di puncak tangga."

"Taehyung?'' tanya sebuah suara baru.

Aku memandangi lelaki berambut kelabu yang membungkuk di atasku, dan baru mengenalinya setelah beberapa detik yang berlalu teramat lamban.

"Dr. Gery?" gumamku.

"Benar, Sayang" jawab lelaki itu. "Kau terluka, Tae?"

"Aku tidak apa-apa," dustaku.

Kata-kata itu cukup benar untuk menjawab pertanyaannya. Tangannya yang hangat menyentuh dahiku, dan jari-jarinya menekan bagian dalam pergelangan tanganku. Kulihat bibirnya bergerak-gerak saat ia menghitung, matanya tertuju pada jam tangan.

"Apa yang terjadi padamu?" tanyanya, nadanya biasa-biasa saja.

Aku membeku dalam genggaman tangannya, kurasakan perasaan panik di pangkal tenggorokanku.

"Kau tersesat di hutan?" desak si dokter.

Aku menyadari beberapa orang ikut mendengarkan. Tiga lelaki jangkung berwajah gelap—dari La Push, reservasi Indian Quileute di sepanjang garis pantai, kalau tidak salah, berdiri berimpitan memandangiku. Mr. Newton ada disana bersama Mike dan Mr. Weber, ayah Angela; mereka memandangiku, tidak terang-terangan seperti orang-orang asing itu. Suara-suara berat lain berdengung dari arah dapur dan di luar pintu depan. Setengah isi kota pastilah mencariku tadi. Ayah berada paling dekat denganku. Ia mencondongkan tubuh untuk mendengar jawabanku.

"Ya," bisikku. "Aku tersesat."

Dokter mengangguk, berpikir, jari-jarinya dengan lembut memeriksa kelenjar di bawah daguku. Wajah ayah mengeras.

"Kau lelah?" dr. Gery bertanya. Aku mengangguk dan memejam dengan patuh.

"Menurutku tak ada yang mengkhawatirkan," kudengar dokter itu bicara pelan pada ayah beberapa saat kemudian.

"Hanya kelelahan. Biarkan dia tidur untuk memulihkan kekuatan. Besok aku datang untuk mengecek keadaannya."

Dokter terdiam sebentar. Ia pasti melihat jam tangannya karena lalu menambahkan, "Well, hari ini maksudku."

Terdengar suara berderit saat mereka samasama bangkit dari sofa.

"Apakah benar?" bisik ayah. Suara-suara mereka terdengar lebih jauh sekarang. "Mereka sudah pergi?"

"Dr. Choi meminta kami untuk tidak mengatakan apa-apa," dr. Gery menjawab.

"Tawaran itu datang sangat tiba-tiba; mereka harus segera memilih. Siwon tidak ingin kepindahannya diributkan."

"Pemberitahuan singkat kan tak ada salahnya," gerutu ayah.

Suara dr. Gery terdengar tidak enak waktu ia menimpali. "Ya, Well, dalam situasi ini, ada baiknya bila memberi peringatan."

Aku tidak mau mendengar lagi. Aku merabaraba, mencari pinggiran selimut yang dihamparkan seseorang di atas tubuhku, lalu menariknya hingga menutupi telinga. Kesadaranku hilang-timbul. Aku mendengar ayah mengucapkan terima kasih dengan suara berbisik pada para sukarelawan saat satu demi satu mereka pulang. Aku merasakan jemarinya membelai dahiku, disusul kemudian dengan dihamparkannya selimut lain.

Aku mendengar ayah beberapa kali menerima telepon. Menjelaskan bahwa aku sudah ditemukan dan dalam keadaan baik-baik saja. Kemudian, telepon terakhir membuat ayahku sedikit terdengar panik. Aku mendengar tentang kebakaran.

"Ada apa?" tanyaku.

Ayah bergegas menghampiriku. "Maaf membuatmu terbangun. Sayang"

"Ada yang terbakar, ya?"

"Tidak ada apa-apa," ayah meyakinkan aku. "Hanya api unggun di tebing-tebing sana."

"Api unggun?" tanyaku. Suaraku tidak terdengar ingin tahu. Nadanya mati.

Ayah mengerutkan kening. "Beberapa anak dari reservasi berulah aneh-aneh." dia menjelaskan.

"Mengapa?" tanyaku muram.

Kentara sekali ayah tidak ingin menjawab. Ia menunduk memandangi lantai di bawah lututnya.

"Mereka merayakan kabar itu." Nadanya getir.

Hanya ada satu kabar yang terpikir olehku, meski aku berusaha untuk tidak memikirkannya. Kemudian potongan-potongan informasi itu mulai menyatu.

"Karena keluarga dr. Choi pergi," bisikku.

"Mereka tidak suka ada keluarga dr. Choi di La Push—aku sudah lupa soal itu."

"Konyol," gerutu Charlie

Sesaat kami hanya duduk berdiam diri. Langit tak lagi gelap di luar jendela. Di suatu tempat dibalik hujan, matahari mulai terbit.

"Taehyung?" ayah bertanya. Kupandangi ia dengan gelisah.

"Dia meninggalkanmu sendirian di hutan?" tanya ayah.

Aku berkelit dari pertanyaannya bagaimana ayah tahu ke mana harus mencariku. Pikiranku mengelak dari kesadaran yang mau tak mau mulai datang, datang dengan cepat sekarang.

"Pesanmu," jawab ayah, terkejut.

Ia merogoh saku belakang jinsnya dan mengeluarkan kertas kumal. Kertas itu kotor dan basah, dengan bekas lipatan silang-menyilang yang menandakan kertas itu sudah dibuka dan dilipat lagi berulang kali. ayah membukanya lagi, mengangkatnya sebagai bukti. Tulisan cakar ayam di sana sangat mirip tulisanku sendiri.

Pergi jalan-jalan dengan Jungkook, menyusuri jalan setapak.

Sebentar lagi pulang.

"Waktu kau tidak pulang-pulang, aku menelepon ke rumah keluarga dr. Choi, tapi tidak ada yang mengangkat," cerita ayah pelan.

"Lalu aku menelepon rumah sakit, dan dr. Gery memberi tahu kalau dr. Choi sudah pindah."

"Mereka pindah ke mana?" gumamku.

Ayah menatapku. "Jungkook tidak memberi tahu?"

Aku menggeleng, hatiku ciut. Mendengar namanya disebut seakan melepaskan sesuatu yang sejak tadi mencakari hatiku—rasa sakit yang membuatku tak bisa bernapas, terperangah oleh kekuatannya yang luar biasa. Ayah memandangiku dengan sikap ragu saat menjawab.

"dr. Choi menerima pekerjaan di rumah sakit besar di Los Angeles. Kurasa gajinya pasti sangat besar."

LA kota yang panas terik. Mustahil mereka benar-benar pindah ke sana. Aku teringat mimpi burukku dengan cermin itu... cahaya matahari berpendar-pendar dari kulitnya— Kepedihan mengoyak hariku saat aku teringat wajahnya.

"Aku ingin tahu apakah Jungkook meninggalkanmu sendirian di tengah hutan sana," desak ayah.

Mendengar nama Jungkook membuatku sangat tersiksa. Aku menggeleng kalut, putus asa ingin lepas dari cengkeraman kepedihan itu.

"Akulah yang salah. Dia meninggalkanku di jalan setapak, aku masih bisa melihat rumah ini... tapi aku mencoba mengikutinya."

Ayah hendak mengatakan sesuatu; dengan sikap kekanak-kanakan aku menutup kedua telingaku.

"Aku tidak bisa membicarakan ini. Aku ingin ke kamarku ayah.."

Sebelum ayahku bisa menjawab, aku sudah menghambur turun dari sofa dan tersaruk-saruk menaiki tangga ke atas. Seseorang datang ke rumah untuk meninggalkan pesan untuk ayah, pesan yang menuntunnya untuk menemukanku. Sejak menyadari hal itu, kecurigaan sudah timbul di benakku. Aku menghambur ke kamarku, menutup pintu, dan menguncinya sebelum berlari ke CD player disamping tempat tidurku.

Semua masih tampak persis seperti sebelum aku meninggalkannya. Kutekan bagian atas CD player. Kaitannya terlepas, dan tutupnya perlahan mengayun terbuka. Kosong. Album yang diberikan ibu untukku tergeletak dilantai disamping tempat tidur, persis ditempat aku terakhir kali meletakkannya. Kubuka sampulnya dengan tangan gemetar.

Aku hanya perlu melihat halaman pertama. Sudut-sudut logam kecil di dalamnya tak lagi menjepit foto. Halamannya kosong, yang tertinggal hanya tulisan tanganku sendiri di bagian bawah:

Jungkook Choi, dapur ayah, 13 September.

Aku berhenti di sana. Sudah kuduga Jungkook akan sangat cermat menghapus semua jejaknya. Nantinya akan terasa seolah-olah aku tak pernah ada. Aku merasakan lantai kayu halus di bawah lututku, lalu telapak tanganku, kemudian menempel di kulit pipiku. Aku berharap bakal pingsan tapi sayangnya, ternyata aku tidak kehilangan kesadaran.

Gelombang kepedihan yang tadi hanya menerpaku kini menerjang tinggi, menggulung kepalaku menyeretku ke bawah. Aku tak muncul lagi di permukaan.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Review

little sweetrara : Iyaaaa… tetap baca cerita ini yaaa… terima kasih sudah review… ah, Stand by me.. itu salah satu ost favorite ku…

: jangankan kamu, aku aja cengar cengir sendiri pas part itu. Ketawa jin dicerita ini beda sama realitanya.. wkwkwkwk.. terima kasih sudah review…

taevaille : iya chapter 1 kepanjangaaaan… haha… terima kasih sudah review…

bxbblegumt : doain aja semoga aku masih bisa menyempatkan untuk terus post sampe breaking dawn 2.. hihihi… terima kasih sudah review…

Daaaan…. Terima kasih juga untuk semua yang membaca cerita ini.. semoga tidak mengecewakan.. sampai jumpa di chapter selanjutnya…. Annyeong~~