.
.
.
.
.
.
Woman Who Captures His Heart
.
.
.
Pair: Haehyuk
Rate: T semi M(?)
Warning: GS/ThreeShoot/Romance/Comedy(entahlah)
Summary: Demi Tuhan Hyukjae tak sengaja melakukannya, dia bahkan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga seorang Lee Donghae menjadi begitu tergila-gila padanya.
.
.
.
Pintu apartement mewah itu terbuka lebar sebelum terlihat Hyukjae yang dengan panik keluar dari sana. Tak dipedulikannya setelan yang dipakaianya terlihat berantakan karena ia asal memakainya dan rambutnya yang masih acak-acakan.
Ini gila, ini GILA!
Apa yang telah ia lakukan, terbangun di ranjang orang asing dengan keadaan tanpa busana!
"Baby, kau ingin pergi kemana?"
Wanita itu langsung menengok kebelakang hanya untuk melihat seorang Lee Donghae yang keluar dari apartement itu. Matanya terbelalak sebelum dengan reflek berlari secepat yang ia bisa menyusuri lorong yang seakan tak berujung itu.
Yah benar, orang asing yang Hyukjae maksud disini adalah Lee Donghae. Sang pewaris tunggal Lee's Group yang kaya raya.
"Baby, jangan lari!"
Hyukjae menengok.
"AAAA, kenapa dia mengejarku?!" Seru Hyukjae saat mendapati Donghae yaang ikut berlari di belakangnya. Wanita itu mempercepat langkah kakinya. Tak membutuhkan waktu lama untuknya menemukan lif tepat setelah belokan. Dengan panik ia memencet tombol lif sambil sesekali melihat ke arah datangnnya Donghae.
"Baby!"
Hyukjae semakin keras menekan-nekan tombol lif.
"Ayolah, kumohon kumohon!"
Ting!
Pintu lif terbuka, tanpa membuang waktu Hyukjae masuk kedalam lif dan segera menekan tombol pintu agar segera tertutup. Namun sepertinya keberuntungan belum berpihak pada wanita ini.
Brak.
Hyukjae reflek mundur hingga menempel di dinding lif yang dingin saat laki-laki yang sedari tadi mengejarnya menahan pintu lif. Donghae terengah sebentar sebelum ikut masuk ke dalam lif membuat Hyukjae mulai ketakutan. Apalagi saat laki-laki itu dengan matanya yang tegas mendekatinya. Dengan perlahan dan takut-takut Hyukjae mulai menggeser tubuhnya di sudut lif untuk membuat jarak sejauh mungkin. Dan perasaan wanita itu semakin tak karuan saat pintu lif terlanjut tertutup.
Hyukjae mulai berdoa memohon ampun atas dosanya dan meminta pertolongan saat itu tangan Donghae menepuk pundaknnya, membuat Hyukjae menutup matanya erat.
Selamatkan aku Tuhan, selamatkan aku!
"Baby, gwencana?"
Mwo?
Hyukjae kembali membuka matanya hanya untuk melihat iris cokelat itu menatapnya khawatir.
"Jangan berlari seperti itu dulu, tubuhmu kan masih sakit. Semalam kau berdarah, loh."Kata Donghae khawatir sambil melihat ke bawah saat menyebut 'berdarah' dikalimatnya, membuat wanita di depannya semakin menatapnya horor.
Apa yang orang ini maksud dengan dirinya yang berdarah?! Astaga! Astaga! Yang ia maksud tidak yang seperti Hyukjae pikirkan, kan?
"Baby?"
Dan kenapa orang ini terus memanggilnya baby-baby!
"Kenapa kau terburu-buru begitu? Kau belum mandi, belum sarapan, bahkan kau lupa memakai sepatumu, lihat!"Donghae menenteng sepatu hak milik Hyukjae, membuat wanita itu tersadar ia berlari sambil bertelanjang kaki.
" Aigo, kakimu pasti sekarang terasa sakit dan dinginkan? Aigo aigo, Babyku yang malang."Dapat Hyukjae rasakan laki-laki ini mengelus-elus kepalanya, menyebabkan bola mata wanita itu segera mengedar mencari jalan keluar dari sana.
Mencongkel pintu lif?
Hyukjae tak punya linggis.
Menyelinap di fentilasi udara?
Hyukjae kurang tinggi.
Menonjok orang ini hingga pingsan?
Hyukjae takut melakukannya.
Ah, otthokeh!
Ting.
Pintu lif terbuka.
"Cha, pegangan ya."
Hyukjae menatap Donghae heran namun sedetik setelahnya Donghae langsung mengangkat tubuh Hyukjae, membuat wanita itu memekik ketakutan. Donghae membopong Hyukjae keluar dari lif, tentu dengan Hyukjae yang sedang mengekspresikan kepanikannya. Lagi.
"AAAAA, TURUNKAN AKU! ANDWE! ANDWE!"
"Tenanglah Baby, kau tidak boleh jalan sendiri dulu. Tadi malam kau sudah bekerja keras, jadi sekarang tidak boleh capek-capek dulu, ne."Donghae mengedipkan matanya membuat Hyukjae justru semakin keras berteriak.
Melihatnya, Donghae mempercepat langkahnya mendekati salah satu kursi di lobby apartementnya. Lalu tanpa aba-aba mendudukkan wanita itu, memengang kedua pipinya, dan mencium bibirnya kilat. Hanya kecupan tapi sukses membuat wanita ini diam seketika.
Hyukjae membeku, ekspresi wajahnya membuat Donghae terkekeh.
Ah, betapa manis dan imutnya wanitanya ini.
Donghae berlutut dan mulai membersihkan telapak kaki milik Hyukjae yang sedikit kotor dengan lembut lalu perlahan memakaikan sepatu wanita itu dengan hati-hati. Selayaknya sang Pangeran yang menemukan Cinderellanya. Bukankah ini manis?
Ya, akan manis jika sang wanita memberikan sedikit perhatiannya dan ikut berpartisipasi, tapi lihat Hyukjae malah menutup mulutnya masih dengan keterkejutannya. Jantungnya berdebar dengan keras dan matanya mulai berkaca-kaca mengingat apa yang baru laki-laki ini lakukan.
Laki-laki ini mencuri ciuman darinya, laki-laki ini melecehkannya. Pikirnya tak terima.
Tidakkah dia ingat semalam dia sudah lebih dari sekedar dilecehkan? Lalu kenapa sekarang responnya seperti itu setelah dicium, Hyukjae memang aneh.
"Nah, sekarang kau ingin kemana Baby? Kau ingin kita kembali ke atas untuk sarapan? Atau kau ingin langsung pulang? Biar kuantar kemanapun kau inginkan."
Donghae mendongak saat tak mendapatkan jawaban dari Hyukjae.
"Baby?"
Tubuh Donghae langsung didorong kasar, membuatnya terduduk dilantai lobby itu. Sebelum ia dapat merespon apapun, Hyukjae sudah berlari keluar dari sana meninggalnya. Wanita itu menyetop taksi dan pergi dari sana secepat mungkin. Bahkan ia meminta supir taksi itu mengebut tanpa tahu bahwa ia tak membawa dompet atau uang sama sekali. Yang ia tahu sekarang, ia harus pergi sejauh mungkin dari sana.
Sedangkan Donghae yang ditinggalkan begitu saja mulai berdiri dan melihat pintu keluar, tak berniat mengejar. Dia perlahan tersenyum sambil mengusap tengkuknya.
"Mungkin dia malu." Ucapnya santai sebelum melangkah kembali ke apartementnya dengan hati semerbak bagai ladang bunga yang bermekaran.
Oh, Lee Donghae sedang jatuh cinta.
.
.
.
Lantai kayu kamar flat itu tertutup oleh puluhan tisu yang sudah digunakan. Seprai serta selimut ranjang sedang di dalam kamar itu juga terlihat berantakan. Laptop putih di atas kasur itu juga terbengkalai, menyala dengan menampilkan pencarian Google dengan kata kunci 'tanda-tanda gadis yang sudah tidak perawan'. Suara isakan sedari tadi masih memenuhi kamar itu, tepatnya dari wanita bernama Hyukjae yang kini duduk di atas kasur memeluk lututnya sediri. Sesekali ia akan mengambil tisu untuk menyeka air matanya yang tidak mau berhenti mengalir hingga malam begini.
Begitu sampai di flatnya setelah sukses melarikan diri tadi, otak Hyukjae mulai mencerna baik-baik apa yang terjadi padanya. Dan kesimpulannya hanya satu.
Ia sudah tidur dengan seorang pria.
Mencoba menyangkal ingatan malam panas yang ia lalu dengan laki-laki bernama Lee Donghae yang terus berputar di kepalanya, Hyukjae mulai mencari-cari informasi di internet. Dan entah dengan hipotesanya sendiri atau memang benar adanya, delapan puluh persen ciri-ciri yang tertera menunjukkan hasil yang paling ditakutkan wanita itu. Dia sudah mengeceknya sendiri. Semuanya.
Rasa takut, menyesal, dan marah bercampur aduk di dalam dirinya. Harusnya dia tidak minum, harusnya ia langsung pulang dari meeting itu tak perlu ikut jamuan, harusnya ia meminta Kangin memesankannya jus atau soda mungkin, air putih juga tak apa.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, dia sudah tidak gadis lagi. Isakannya semakin keras saat mengingatnya. Sedetik pikirannya akan membaik dengan berkeyakinan bahwa ia wanita dewasa berusia 27 tahun, bukankah wajar jika menghabiskan malam dengan seorang laki-laki? Tapi sedetik kemudian dia kembali terpuruk saat ingat dia hanya ingin melakukannya dengan suaminya kelak. Terus berputar seperti itu.
Hyukjae adalah gadis yang lugu, dia tinggal jauh dari orang tuanya untuk bekerja di kota besar. Sedari dulu dia tak pernah berpacaran karena terlalu terpesona dengan hal-hal seperti animasi, komik, serta game yang berbau petualangan. Membuat asmara sangat tabu baginya namun kreatifitasnya terasah dengan baik. Jadi tak heran ia diterima di perusahaan besar dengan mudah tapi masih single sampai sekarang.
Tentu ia berfikir untuk menjalin hubungan dengan laki-laki kelak, menikah, lalu punya anak. Tak perlu hidup kaya asal mereka bahagia. Ia juga tak punya kriteria lelaki idaman, baginya asal orang itu menyayanginya dengan tulus saja sudah cukup. Dia hanya ingin kehidupan yang lurus tanpa lika-liku.
Dan saat ia dihadapkan dengan Lee Donghae beserta permasalah yang dibawa lelaki itu untuknya, membuat segalanya menjadi jungkir balik tak karuan. Bagaimana jika tak ada yang mau menikah denganya kelak karena dia sudah ternoda? Hyukjae semakin keras menangis. Ciuman pertamanya, malam pertamanya, kegadisannya, hilang begitu saja.
Tapi tunggu dulu.
Hyukjae tiba-tiba berhenti menangis saat sesuatu terlintas diingatannya. Bukankah ini pemerkosaan? Dan dia bisa menuntut orang bernama Lee Donghae itu dan meminta ganti rugi.
Ya, benar. benar sekali.
Hyukjae akan melakukan visum sebagai bukti dan menyewa pengacara. Tapi tiba-tiba raut wajah wanita itu memburam.
Donghae itu kaya kan, bagaimana jika ia menyewa pengacara yang lebih mahal dan lebih hebat. Malah dia yang dimasukan ke penjara nanti. Bukannya dapat keadilan tapi justru dia yang semakin rugi. Dia harus bagaimana sekarang!
"HUWEEEE, EOMAAAA!"
.
.
.
Pagi ini tidak terasa seperti biasanya bagi Hyukjae, ia berjalan lesu ke kantornya. Tidak melakukan rekor lari pagi yang sehat dan penuh adrinalin seperti biasa. Adrenalinnya sudah cukup terkuras habis seharian kemarin karena manusia bernama Lee Donghae. Hyukjae menghela nafas, ia membolos tidak masuk kerja kemarin dan membuat Kangin begitu marah di telepon karena banyak pekerjaan menunpuk dan proyek iklan departement store sudah mulai harus dicari konsepnya. Wanita itu hanya bisa berdoa tidak akan ada sesi kedua untuk kemarahan atasannya itu.
Saat sampai di lantai tempatnya bekerja ia justru dikejutkan oleh Sungmin yang sudah menunggunya di depan pintu lif dengan sumpringah, seakan kedatangan Hyukjae adalah berkah dan mukzizat yang telah lama ia nantikan. Sahabatnya itu langsung menariknya dengan semangat.
"Wae?"
"Ayo cepat, kau tak akan percaya dengan ini."
Sungmin menarinya ke arah bilik kerjanya, tapi masih kurang beberapa langkah lagi Hyukjae langsung berhenti. Matanya terbelalak dan mulutnya menganga mendapati pemandangan di depannya. Tangannya gemetar menunjuk objek besar disana.
"I-itu?"
Sungmin menganguk-angguk semangat.
Di sana, tepatnya di atas meja Hyukjae sekarang ada sebuah karangan bunga. Mawar merah, dengan ukuran yang super besar. Tingginya dan lebarnya mungkin mencapai satu meter dengan ratusan mawar yang tertata begitu apik nan cantik.
"Aih aih, Hyukkie kenapa kau tak bilang jika sekarang kau punya kekasih? Kukira kita sahabat."Sungmin pura-pura cemberut.
"Mwo? Aku tak punya kekasih."
"Lalu dari siapa? Jangan-jangan kau punya pengemar rahasia!" Sungmin heboh bertepuk tangan sendiri.
Dari pada dari pengemar rahasia, Hyukjae lebih percaya jika bunga ini salah alamat. Dengan ragu-ragu Hyukjae mendekati rangkaian mawar itu, mengamatinya sejenak sebelum mengambil secarcik kertas yang ada diantara kuntum mawar itu. Ia membukannya.
For my sweet Hyukjae
LDH
"Siapa? siapa?" Jiwa penggosip Sungmin bangkit, ia merebut kertas itu dari tangan sahabatnya.
"LDH? Nugu?" Sungmin berfikir, menebak-nebak teman kantor mereka yang cocok dengan inisial itu.
Hyukjae tersentak saat menebak satu nama.
LDH. Lee. Dong. Hae.
Mata Hyukjae langsung menatap ngeri karangan bunga di depannya. Kenapa laki-laki itu mengirimi ia bunga mawar sebanyak ini? Ini menakutkan.
"Lee Donghyuk? Tapikan dia sudah punya istri."Sungmin masih sibuk mengira-ira saat Hyukjae merasakan ponselnya bergetar. Hyukjae mengernyit saat tahu itu nomor tak dikenal.
"Yabaseo?"
"Baby!"
Jantung Hyukjae rasanya melompat keluar saat mendengar suara yang selalu menyebutnya Baby itu. Hyukjae sangat tahu suapa ini, amat sangat tahu.
"Hyukkie baby, apa mawarnya sudah sampai? Kau suka? Itu kukirim dengan sepenuh hatiku khusus untukmu."
Hyukjae langsung melempar ponselnya sembarangan hingga menghantam bilik kerjannya, untung tidak pecah atau rusak. Jantung wanita itu berdebar begitu cepat dan bulu kuduknya terasa meremang. Ia mengesek-gesek lengannya sendiri.
Dari mana orang itu tahu tahu nomornya?
Lee Donghae, dia orang yang benar-benar menakutkan. Batin gadis ini ngeri tanpa tahu seluruh pegawai wanita menatap iri padanya. Siapa yang tidak, dikirimi rangkaian mawar cantik super besar di meja kerjamu? Betapa beruntungnya wanita ini.
"Aku juga ingin mawar." Ungkap Sungmin sambil mengandai-andai tanpa tahu Kyuhyun sudah di sebelahnya.
"Kau suka mawar?"
Sungmin mengangguk tanpa sadar.
"Terutama yang berwarna pink, pasti cantik."
Kyuhyun menganguk-anguk. Mawar pink, ya.
Sedangkan ditempat berbeda Sang Direktur Lee kita sedang senyum-senyum sendiri sambil melihat data diri wanita pujaannya. Apapun yang tertulis disana terasa begitu menarik untuknya dan membuatnya penasaran hingga ingin terus membaca dan membaca lagi. Bahkan fot itu terlihat lebih menawan dari model kelas dunia berbusana mini sekalipun.
Katakanlah Donghae mulai gila, gila karena seorang wanita bernama Lee Hyukjae.
Tapi laki-laki itu memang sudah terperangkap jerat pesona wanita itu. Ia masih ingat betul malam dimana ia bisa begitu beruntung merasakan manisnya wanita itu, menyentuh lembut kulit putih pucat itu, dan menghirup wangi yang begitu memabukkan itu.
Belum lagi cara wanita itu mengeliat resah, mengerang serta mendesah di bawahnya benar-benar terlihat manis namun sexy disaat bersamaan. Membuat ia yang biasanya memiliki kontrol diri yang kuat, langsung takluk dan berubah liar karena tak bisa menahan diri. Jangan salahkan dia, salahkan daya tarik wanita itu yang begitu kuat menariknya.
Tapi diantara itu semua hal itu yang paling Donghae sukai adalah bagaimana jutaan kupu-kupu itu bertebangan diperutnya saat iris kelam itu menatapnya, serta debar jantungya yang seperti berdetak hanya untuk wanita itu seorang. Itu benar-benar luar biasa.
Senyum Donghae tak pernah pudar sedari dua hari yang lalu. Bahkan sekarang saat sekretarisnya masuk membawa dokumen untuk ditanda tangani ia menandatanganinya sambil menyenandungkan lagu-lagi cinta yang sedang trend. Membuat sekretarisnya keheranan.
"Apa ada berita bagus, Direktur? Anda terlihat senang sekali hari ini?"
"Tidak juga, tapi sekretaris Han..."
"Ya, Direktur?"
"Kau pernah jatuh cinta?"
"Ya?"
"Aku pernah, dua hari yang lalu." Donghae tertawa setelahnya.
Awalnya sekretarisnya itu kebingungan tapi tak lama ia langsung mengerti dan hanya tersenyum maklum sebelum mohon diri. Ia menghentikan langkahnya yang akan mencapai pintu saat Donghae memanggilnya lagi.
"Ya, Direktur?"
"Pesankan paket makan siang yang enak, pastikan dari chef terbaik kita dan kirimkan ke-"
"Ketempat yang sama dimana mawar anda dikirim, Direktur?" Sekretaris Han memotongnya sambil tersenyum membuat Donghae terkekeh.
"Benar sekali!" Donghae mengambil secarcik kertas dan menuliskan sesuatu disana sebelum melipatnya menjadi dua dan memberikannya pada sekretarisnya.
"Pastikan ini juga ikut dikirim."
"Baik."
.
.
.
"Kangin-shi!"
"Aku bilang tidak ya tidak."
"Kumohon!"
"Kau ini keras kepala, TIDAK! Jelas?"
"Tapi Kangin-shi banyak karyawan disini yang lebih kreatif dari pada aku, Kyuhyun misalnya."
"Kau ini memperhatikan rapat kita tadi tidak sih? Kyuhyun memang masuk ke tim nantinya, bagaimana dia bisa menggantikanmu? Sedangkan dia punya porsi pekerjaan sendiri."
Hyukjae bengong, mencoba mengingat-ingat rapat tadi. Selain dia dinyatakan ikut andil dalam pembuatan iklan untuk departement store, dia tak memperhatikan yang lainnya. Dia terlalu sibuk mengurus ponselnya yang terus bergetar karena mendapatkan pesan setiap setengah jam sekali dari seseorang yang bernama Lee Donghae. Isi pesannya berfariasi, mulai dari dia bilang rindu, sayang, hingga menceritakan apa yang sedang laki-laki itu lakukan padanya. Membuat Hyukjae ingin membanting ponselnya sendiri. Tapi tidak, dia tidak membanting ponselnya. Ia hanya mematikan ponselnya lalu menaruhnya ditempat yang paling tak terlihat olehnya.
"Kalau begitu gantikan aku dengan siapa saja, aku tak masalah diberi proyek lainnya. Dua proyek sekaligus juga tak apa, asal aku tak perlu ikut ke tim itu. Ya ya?"
"Kau bilang tadi kau kurang kreatif, kenapa sekarang kau minta dua proyek?"Kangin yang membalik kalimatnya membuat Hyukjae tak berkutik.
"I-itu..."
"Lee Hyukjae."
"Ne, Kangin-shi."
"Kuberitahu kau satu hal, kau itu diminta langsung oleh Presdir kita untuk masuk ke dalam tim."
"Mwo?"
"Presdir mengatakan itu permintaan klien kita. Karena itu namamu ada dibagian teratas tadi."
Hyukjae tak bisa berkata-kata.
Klien mereka? Oh Hyukjae tahu siapa pelakunya.
"Lagi pula kau ini aneh sekali harusnnya kau senangkan dapat proyek besar, malah ingin keluar. Sudah sana kembali bekerja!" Tangan Kangin mengibas dengan gaya mengusir.
Dengan lesu wanita itu keluar dari ruangan atasannya, berjalan menunduk seperti orang berduka cita. Tentu ia akan senang mendapat proyek sebesar itu karena sudah pasti nanti selain mendapatkan banyak bonus juga bisa bertemu artis macam Super Junior, siapa yang tidak mau. Tapi masalahnnya jika Hyukjae mengambil proyek ini maka intensitas dirinya bertemu dengan Lee Donghae semakin besar.
Hyukjae tak mau itu terjadi. Ia tak mau bertemu dengan laki-laki itu lagi! Karena laki-laki itu terus menerornya, dan ini membuatnya gila. Dosa apa yang pernah dia lakukan hingga harus bertemu dengan orang seperti itu.
Keluh kesah dalam pikiran wanita itu terpotong saat ia mendengar bisik-bisik disekitarnya, dan saat ia mendongak seluruh karyawan terutama yang berjenis kelamin perempuan memperhatikannya.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" Tanyanya heran dan tak ada yang menjawab, namun segalanya terjawab saat ia sampai di bilik kerjanya.
Lagi-lagi Hyukjae hanya bisa melongo. Di meja kerjanya sekarang terdapat sepaket makan siang lengkap, dari lebel yang tertera itu berasal dari salah satu restoran Prancis yang mahal di Seoul. Ingin tahu kemana perginya rangkaian mawar super besarnya yang tadi pagi memenuhi meja kerjanya? Sudah ia sumbangkan di lobby kantor sebagai hiasan selamat datang di sana. Tapi sekarang setelah bebas dari teror mawar merah, lagi-lagi meja kerjanya dikirimi hal yang aneh-aneh. Sebenarnya tidak aneh, hanya wanita ini saja yang berpresepsi bahwa itu aneh. Karena dia sendiri sudah aneh.
"Hyukkie! Mr. LDH ini benar-benar perhatian padamu. Tadi pagi mawar merah sekarang makan siang super mewah, kyaa!" Sungmin mulai heboh sendiri, bisa dipastikan berita tentang Hyukjae yang mendapatkan kiriman-kiraman nan romantis itu sudah menyebar keseluruh kantor, lengkap dari lantai paling bawah hingga yang teratas. Tak terkecuali.
Sungmin mengambil secarcik kertas yang terselip di paket makanan itu. Ia menahan tawa heboh ala fansnya sebelum membaca isi kertas itu dengan begitu keras. Agar seluruh orang mendengarnya.
"Try for dessert, Baby. It tasted as sweet as you. LDH. Ooh, Hyukkie dia sangat romantis!"
Tentu seluruh wanita disana hanya bisa menatap iri pada Hyukjae. Mendapatkan kiriman bunga dan paket makan siang super mahal? Seluruh wanita akan meleleh dibuatnya.
Sedangkan Hyukjae? Ia merasa ini sama sekali tidak romantis. Justru ia merasa ini menakutkan.
"Kau menadapat makan siang steak, Hyukkie. Ah, baunya enak! Aku benar-benar penasaran siapa Mr. LDH ini."
Hyukjae melirik Sungmin yang membuka paket makan siang untuknya itu. Ya memang ada seporsi steak, salad buah, dua minuman yang Hyukjae tak tahu isinya, serta tentu saja dessert sebuah cake strawberry yang tadi Donghae tulis di pesannya jika rasanya semanis dirinya.
Kepala Hyukjae mulai pening, ia mulai stres. Terlalu banyak hal tak terduga yang ia alami belakangan ini. Dan semua hal itu tak bisa diterima akal sehatnya sendiri. Ia ingin hidupnya kembali normal, itu saja! Wanita itu dengan pasrah duduk dikursi kerjanya, meratapi nasipnya. Tak dipedulikan orang-orang disekitarnya yang masih saja betah melihatnya. Ia juga tak berselera untuk makan makanan itu sekarang.
"Aku juga ingin steak." Keluh Sungmin tak sadar jika Kyuhyun lagi-lagi sudah ada disebelahnya.
"Kau suka steak?"
Sungmin mengaguk.
"Apalagi yang matangnya medium, itu enak sekali."
Kyuhyun menganguk-angguk, steak medium ya.
.
.
.
Seperti biasa malam itu setelah turun di halte dekat flatnya, Hyukjae akan meneruskannya dengan berjalan kaki. Sebenarnya dia tidak pulang sendiri, ia mengajak Sungmin bersamannya. Sungmin akan menginap di flatnya malam ini atas permintaannya. Sahabatnya itu sekarang sedang mampir ke salah satu mini market di dekat sana membeli bahan-bahan makanan untuk makan malam serta pesta kecil-kecilan mereka. Ia mengajak Sungmin dengan alasan ia rindu pesta sahabat dengannya, tapi sebenarnya ia ingin mendiskusikan sesuatu yang lebih mendesak.
Begitu mendesak tapi Hyukjae menyadarinya begitu lambat.
Tadi saat ia selesai dengan konsep-konsep iklan yang akan ia ajukan untuk departement store itu, tiba-tiba saja ia menyadari sesuatu. Dan itu masih tak jauh-jauh dari orang bernama Lee Donghae itu. Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul dikepalanya.
Bukankah dia dan lelaki itu telah tidur bersama, berhubungan intim. Nah yang jadi masalahnya adalah, apa laki-laki itu memakai pengaman saat melakukannya atau tidak?
Kalau iya, Hyukjae akan sangat bersyukur.
Kalau tidak, wajah Hyukjae langsung memucat saat itu juga.
Cara terbaik adalah dengan menanyakannya langsung pada Lee Donghae itu, tapi tentu saja Hyukjae tak akan melalukan hal memalukan seperti itu. Belum lagi perilaku menakutkan laki-laki itu padanya, membuat hal itu menjadi pilihan terakhir. Karena itu ia berencana mendiskusikan ini dengan Sungmin. Mereka tak mungkin membahasnya di kantor, jadi ia mengajak Sungmin menginap di flatnya. Sungmin memang biang gosip tapi dia tahu batasannya, jadi Hyukjae tak perlu khawatir. Lagi pula Hyukjae tak akan menyebutkan jika itu adalah dirinya, ia akan memutar cerita untuk mengelabui Sungmin tentu saja.
Wanita itu menaiki anak-anak tangga yang mengantarkannya ke lantai tiga tempat flatnya berada. Memasukan kunci lalu membuka pintu sebelum masuk kedalam, namun saat ia akan menaruh sepatunya Hyukjae tiba-tiba menyadari sesuatu.
Kenapa lampu flatnya menyala?
Astaga! Pencuri!
Dengan panik Hyukjae berlari menuju ruang tengah namun matanya langsung terbelalak karena shock melihat pemandangan didepannya. Ia sama sekali tidak mendapati pencuri disana, yang ada justru sesosok lelaki tampan yang sibuk memasak di dapurnya yang kecil. Orang ini masih memakai kemeja kerjanya, hanya saja jas serta dasinya sekarang digantikan dengan apron biru milik Hyukjae yang justru membuatnya semakin tampan dan menawan.
Hyukjae merasakan geli, seperti ada yang mengelitiki perutnya dari dalam, jantungnya pun berdetak keras seperti akan meledak. Kenapa keberadaan lelaki itu di dapurnya terasa begitu pas?
Lelaki itu mendongak, mempertemukan iris cokelatnya dengan iris hitam milik Hyukjae, sebuah senyuman segera ia hadiahkan untuk wanita itu.
"Selamat datang, Baby."
Hyukjae menahan nafasnya tanpa sadar, seluruh darahnya serasa berkumpul di pipinya yang memanas. Pipinya memerah, tersipu.
"Kenapa kau pulang terlambat? Ponselmu juga tak aktif, membuatku khawatir saja. Hampir saja aku menyuruh sekretarisku untuk mengecek kantormu." Kata lelaki itu sambil berjalan mendekati Hyukjae, ia membelai rambut halus wanita di depannya lalu mencium keningnya sayang.
Sedangkan Hyukjae masih saja mematung. Bagaimana tidak, ia masih tak percaya seorang Lee Donghae ada di flatnya.
Donghae tersenyum melihat reaksi Hyukjae, ia suka saat mengejutkan wanita ini. Ia lalu memegang tangan wanita itu lalu mengirinya ke sofa sebelum mendudukan gadis itu disana.
"Aku sudah buatkan pasta untuk makan malam, kau tidak keberatan kan?" Seperti dihipnotis Hyukjae langsung menjawab.
"Tidak." Jawaban yang membuat Donghae semakin lebar tersenyum.
"Tunggu disini, kuambilkan."
Hyukjae mengamati Donghae yang beranjak kembali ke dapur sebelum ia sadar dengan keadaan disekitarnya.
Mwoya, kenapa dia malah diam saja! Ada orang asing masuk ke flar miliknya! Dia malah main setuju saja saat ditawari pasta.
"Donghae-shi apa yang kau lakukan disini?" Ia bertanya cemas, namun yang ditanya justru terkekeh sambil kembali membawa sepiring pasta yang masih hangat. Apron biru sudah menghilang dari tubuhnya, membuat Hyukjae sedikit kecewa. Sebelum sedetik kemudia wanita itu sadar dan segera menepuk keningnya, apa yang ia pikirkan.
Hyukjae terkejut saat Donghae sudah duduk manis di sebelahnya dengan jarak yang begitu dekat, hingga bahu mereka menempel satu sama lain.
"Donghae-shi, bagaimana kau bisa masuk?"
"Rahasia. Panggil saja Donghae, Baby. Kita tidak sedang bekerja. Nah, sekarang kau harus makan. Aku tahu kau pasti sangat lelah karena proyek iklannya kan? Aigo aigo Babyku yang malang." Tangan Donghae membelai kepala Hyukjae. Donghae rasa tak penting wanita ini mengetahui jika ia membeli keseluruhan tempat ini demi mendapat kunci flatnya.
Donghae mengambil garpu menggulung pasta lalu menyodorkannya pada Hyukjae.
"Aku tidak pandai memasak, tapi aku belajar seharian membuat ini. Jadi makan yang banyak ya Baby. Ayo aa!"
Pasta itu masuk ke dalam mulut Hyukjae dengan mudah tanpa perlawanan berarti, ia mengunyahnya dengan cemas.
"Enak, kan?" Hyukjae tidak tahu, ia tak bisa merasakan apa-apa karena keberadaan laki-laki ini sudah merenggut seluruh fungsi inderanya.
Suapan demi suapan masuk kedalam mulut Hyukjae, meski begitu wanita itu mulai melirik-lirik pintu keluar flatnya. Ia berencana lari jika ada kesempatan. Namun pikirannya terpotong saat sebuah benda lubak menyentuh sudut bibirnya. Ia terkejut saat mendapati wajah Donghae yang begitu dekat dengannya. Laki-laki itu menjilat sisa saus pasta yang ada di sudut bibir Hyukjae.
Membuat keda mata itu bertemu pandang dan keduanya terdiam. Bola mata Donghae sesekali melirik bibir gemuk di depannya.
Hyukjae bingung dengan situasi ini, tapi belum sempat ia berfikir lebih lanjut Donghae sudah terlanjur menciumnya. Membuat Hyukjae terkejut luar biasa, ia mencoba mendorongnya tapi sia-sia karena lengan laki-laki itu sudah merengkuhnya kuat. Bibir tipis itu bergerak lembut di atas bibirnya. Membuat lagi-lagi Hyukjae merasa digelitiki dari dalam. Wanita itu menutup matanya saat indera penciumannya menangkap aroma maskulin milik Donghae dan semakin terpejam rapat saat merasakan bagaimana Donghae mengulum bibir atas dan bawahnya bergantian.
Donghae akan menjauhkan wajahnya sejenak memberikan Hyukjae kesempatan untuk menarik nafas sebelum kembali mempertemukan bibir mereka. Tangan Donghae mulai membelai pinggang Hyukjae sebelum memerasnya pelan membuat kedua belah bibir wanita itu terbuka membuka jalan untuk lidahnya.
Hyukjae merasa pusing saat lidah Donghae bergerak dalam mulutnya, tubuhnya perlahan melemas dengan sendirinya. Bahkan ia hanya menurut saat Donghae membimbing tangannya agar melingkar dilehernya dan perlahan mendorong tubuhnya agar merebah di sofa. Hyukjae sudah terbuai dengan kenikmatan yang diberikan oleh laki-laki ini.
Ciuman Donghae turun keleher Hyukjae sebelum mulai menjilatnya. Semua yang ada dalam wanita ini terasa manis di lidah Donghae. Dan yang jelas begitu adiktif.
"Ah!"Hyukjae memekik pelan saat Donghae menggigit lehernya sebelum menjilat dan menghisapnya kuat, membuat Hyukjae merasa semakin pusing dan tak berdaya.
Laki-laki itu mendekat kearah telinga Hyukjae.
"Aku menginap ne, Baby?" Bulu kuduk Hyukjae meremang saat mendengar suara berat Donghae yang membisikan hal itu, terdengar sangat sexy di telingannya. Otak Hyukjae langsung kosong, segalanya berubah putih tiba-tiba.
"Ng.."Ia melengguh saat merasakan tangan Donghae yang menyusup dibalik kemejanya mengelus punggunya lembut. Tanpa tahu lengguhannya membuat laki-laki di atasnya itu semakin gila, Hyukjae seperti menjawab 'Ya' atas pertanyaannya tadi.
Donghae kembali menciumi leher Hyukjae kali ini lebih gencar, membuat wanita itu mulai mengeluarkan desahannya. Suhu tubuh keduanya semakin panas dan nafas mereka semakin terengah.
Hyukjae membuka matanya hanya untuk melihat langit-langit flatnya. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum realitas melandanya.
Tunggu, Tunggu dulu!
Apa yang dia lakukan?! Astaga!
Ia terlalu terbuai hingga tak sadar dengan kelakuannya sendiri, bahkan ia terkejut mendapati dirinya yang pasrah merebah di sofa dengan laki-laki ini di atasnya. Astaga!
Hyukjae mulai mendorong tubuh berat di atasnya sekuat tenaga, mencoba menghentikan apapun yang dilakukan Donghae.
"Donghae-shi, tung-gu! Tunggu dulu!"
Seperti tuli, Donghae tak mau melepaskan Hyukjae dan terus menciumi wanita itu. Dan ekspresi Hyukjae langsung berubah horor saat merasakan tangan Donghae yang mulai meraba pahanya.
"Donghae-shi, a-apa yang kau lakukan?! Berhenti!"
"Hyukkie, kenapa pintunya terbuka? Kalau ada pencuri ba-"
Kalimat Sungmin terpotong saat melihat adegan didepannya.
Wanita kelinci ini mematung dengan seluruh belanjannya langsung terjatuh ke lantai menimbulkan suara ribut yang mampu membuat dua manusia di sana langsung melihat kearahnya.
Hyukjae ikut terkejut saat melihat Sungmin.
Habislah dia.
.
.
.
TBC
Respon ff ini yang sangat bagus justru buat aku takut, beneran. Takut kalau nanti kalian kecewa sama lanjutannya karena gak sesuai harapan.
Yah, yang penting aku udah berusaha semaksimal mungkin sesuai kemampuanku. Selanjutnya tinggal aku serahkan sama kalian semua hehe
Itu udah kejawab ya tentang status keperawanan Hyuk hahaha
Maaf kalo jelek. Maaf untuk typo dan kesalahan penulisan lainnya.
Makasih banget buat review, saran, serta kritiknya.
Last chap aku post 3 hari lagi, kalo masih ada yang mau lanjut.
See u next chapter :D
Special Thanks: kasihgwnama, dekdes, minmi arakida, jewel0404, aiko chan, SapphirePetalsCherry, nyukkunyuk, BunnyEvilKim, kakimulusheenim, babyhyukee, mizukhy yank eny, D. E. K, Yenie Cho94, Rezy. K, nurul. p. putri, cikatatsuya, hyukieraa, Dochi risma, siti. sisun, novianakim, xiuxian13, NayLee, Heldamagnae, PurpleLittleCho, jung. hajaejewels, firaamalia25, Cique, jihyuk44, nanaxzz, Agriester jewel, Meonk and Deog, ibessemalina, Guest, faridaanggra, malaallrise. silver, eunhaeyeah, Haehyuk546, narty2h0415, ryesung, Guest, unyuk, 143 is 137, Agriester jewel, isroie106, nice guest, megajewels2312, hyukjae86, FN, HAEHYUK IS REAL, kartikawaii.
