Fate [Chapter 02]

Hari ini adalah hari pertandingan akan diadakan. Team basket Teiko tengah bersiap-siap di bench yang ada di sana. Mereka semua meletakkan tas mereka di atas kursi. Akashi yang tengah berdiri di samping Yukiteru, melihat tangan gadis itu gemetar, keringat muncul di pelipis gadis itu.

"Yuki, kau terlihat tidak sehat," ucap Akashi sambil menggenggam tangan Yukiteru.

"Aku baik-baik saja," ucap Yukiteru dengan cepat sambil melepaskan genggamannya dengan cepat pula.

Akashi hanya terdiam sambil terus menatap mata gadis yang ada di sampingnya saat ini.

"Gomen. Kalau kau seperti tadi, orang lain akan curiga," ucap Yukiteru sambil menundukkan kepalanya.

"Curiga dengan apa?" Tanya Akashi sambil mengangkat satu alisnya.

"Hubungan kita yang sebenarnya," jawab Yukiteru sambil membalikkan badannya dari Akashi.

"Kau terlalu berusaha keras untuk menyembunyikannya. Apa sebegitu tidak terimanya kau dengan hal ini?" Ucap Akashi, terus menatap punggung Yukiteru.

Yukiteru hanya terdiam.

"Oi. Kalian sedang apa? Sekarang pelatih akan memberi pengarahan dulu," ucap Kise memecahkan kesunyian yang ada di antara Yukiteru dan Akashi.

"Hai," jawab Yukiteru sambil melangkahkan kakinya, berjalan menuju gerombolan anggota team basket Teiko yang lainnya.

"Ayo, Aka-cchi," ajak Kise sambil kembali berjalan.

Akashi hanya terdiam sambil melangkahkan kakinya. Saat mereka semua sudah berkumpul, pelatih menarik nafasnya dan memulai pengarahan singkatnya.

"Jadi yang akan bermain sebagai starter adalah Akashi Seijuro, Midorima Shintaro, Murasakibara Atsushi, Aomine Daiki dan Izuki Yukiteru."

"Hai," jawab mereka yang dipanggil namanya dengan serentak.

Saat itu pertandingan pun dimulai. Semua pemain langsung berjalan masuk ke dalam lapangan. Saat berjalan, Yukiteru dengan cepat mengikat satu rambutnya menjadi seperti ekor kuda. Semua pemain langsung berbaris berhadapan sesuai dengan team mereka dan membungkukkan badan mereka. Lalu mereka semua langsung bersiap di posisi mereka masing-masing.

Murasakibara maju sebagai pemain yang mewakili team basket Teiko dalam jump ball saat ini.

Prit!

Saat bola dilemparkan oleh wasit. Kedua pemain ini langsung melompat setinggi yang mereka bisa. Saat bola hendak jatuh, Murasakibara dengan cepat memukul bola itu ke arah bawah, lebih tepatnya ke arah Akashi. Dengan cekatan, laki-laki itu menangkap bola tersebut dan mendribble nya menuju ring lawan.

Seperti biasa, team basket Teiko bermain dengan sangat bagus. Semua pemain dari team basket Teiko terus bermain dengan maksimal. Saat ini, di mana waktu telah sampai di pertengahan babak pertama, score team basket Teiko sudah meninggalkan jauh lawan mereka.

Saat itu Akashi melihat ada suatu kejanggalan. Ia melihat Yukiteru yang tidak seperti biasanya. Kedua tangannya memegang kedua lututnya, badannya sedikit membungkuk. Nafasnya juga terlihat sangat terengah-engah, tidak, itu seperti kesulitan bernafas.

Akashi mencoba untuk menghampiri Yukiteru. Tapi gadis itu selalu mendapatkan passing bola basket dari yang lainnya. Hingga mau tidak mau gadis itu harus berlari dan mendribble bola tersebut hingga ia berhasil menyumbang score untuk Teiko.

Meskipun cara bermainnya tetap sama, yaitu cepat dan tak bisa terbendung oleh lawan. Fisiknya nampak tidak seperti biasanya.

"Yukiteru!" Panggil Aomine sambil passing bola basket yang ia pegang ke arah Yukiteru, karena saat ini ia sudah terdesak.

Dengan cepat, Yukiteru menangkap bola basket tersebut sebelum lawannya bisa menangkapnya. Lalu ia berlari dengan cepat dan gesit melewati lawan-lawannya, menuju ke ring. Tanpa ragu ia melompat dan melakukan lay-up.

BRUGH!

"Yuki!"

"Yukiteru!"

Semua orang di sana langsung terkaget saat melihat gadis yang baru saja mendarat dari lompatannya itu, jatuh terkapar di lapangan. Dengan cepat Aomine, Murasakibara, Midorima, dan Akashi berlari ke posisi Yukiteru terbaring saat ini.

"Dia tidak bernafas," ucap Aomine panik sambil mencoba untuk melihat keadaan gadis itu.

"Biar aku lihat," ucap Midorima dengan cepat. Ia mendekatkan satu jarinya di dekat hidung Yukiteru.

"Bagaimana?" Tanya Murasakibara sambil terus melihat ke arah gadis itu dengan tatapan khawatirnya. Bisa dilihat saat ini muka Yukiteru terlihat sangat pucat, keringat dingin membasahi dirinya.

"Dia bernafas, hanya saja sangat lemah. Kalau diperiksa sekilas, memang terlihatnya ia seperti tidak bernafas," ucap Midorima sambil menghela nafas. Yah, mungkin dia mencoba untuk tetap tenang saat itu.

"Tim medis!" Bentak Akashi yang tak kalah paniknya.

Saat itu tim medis berlari menuju lapangan sambil membawa tandu dan perlatan yang lainnya. Mereka langsung memindahkan Yukiteru ke tandu dan membawanya keluar dari lapangan.

"Kise. Kau maju sekarang," ucap pelatih sambil memerhatikan Yukiteru yang tengah dibawa oleh tim medis.

"Hai."

Kise langsung melepaskan jaketnya dan bersiap-siap.

"Teiko. Changing member."

Saat itu Kise langsung berjalan masuk ke dalam lapangan. Dan pertandingan kembali dimulai. Walaupun saat ini tampak jelas sekali rasa kekhawatiran semua team basket Teiko saat itu dari wajahnya. Termasuk juga dengan pelatih.

"Permisi," ucap salah satu tim medis yang tadi di samping pelatih klub basket Teiko.

"Ya?"

"Apa di sini ada wali dari Izuki Yukiteru? Kondisinya saat ini cukup parah, harus segera mendapatkan penanganan dari dokter," ucapnya.

Saat itu pelatih hanya terdiam. Jujur saja. Saat ini ia tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak bisa meninggalkan team begitu saja untuk sekarang ini. Ia ingin meminta Satsuki, tapi sayangnya saat ini Satsuki tidak ada di lokasi. Baru saja tadi ia meminta Satsuki pergi keluar untuk membeli minuman untuk jeda waktu istirahat nanti.

"Kuroko, apa kau tau di sini siapa yang paling dekat dengan Izuki Yukiteru?" Tanya pelatih sudah kehabisan akal.

"Kurasa, Akashi-kun," jawab Kuroko sambil terus memerhatikan Akashi.

"Baiklah. Kuroko, kau maju sekarang," ucap pelatih.

Kuroko terdiam beberapa saat. Lalu ia berdiri sambil menanggalkan jaketnya. "Hai."

Saat itu Kuroko bersiap di tempatnya.

'NEEEET'

"Teiko. Changing member. #4 Akashi Seijuro dengan #15 Kuroko Tetsuya."

Akashi yang mendengar hal itu langsung terdiam. Ia melihat ke arah pelatih di saat pelatih juga menatapnya. Ia juga melihat ada salah satu petugas tim medis di sana. Tanpa berkata apapun, ia berjalan keluar lapangan di saat Kuroko masuk ke dalam lapangan.

"Aku mengandalkanmu, Tetsuya-san," ucap Akashi saat berpapasan dengan Kuroko

"Hai, Akashi-kun," jawab Kuroko.

Saat itu pertandingan kembali dimulai. Akashi langsung berjalan cepat menghampiri pelatihnya itu.

"Ada apa?" Tanya Akashi dengan cepat.

"Kau harus ikut dengan Izuki saat ini ke rumah sakit," jawab pelatih dengan cepat.

Ia langsung menatap petugas tim medis itu, bisa ia lihat ekspresi petugas tim medis itu seperti tidak tenang.

"Wakarimashita," ucap Akashi sambil mengenakan jaketnya dengan cepat lalu membawa tasnya serta tas milik Yukiteru.

Dengan cepat, Akashi langsung berjalan dari sana bersama dengan petugas tim medis tersebut.

"Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Akashi dengan cepat sambil terus berjalan.

"Buruk. Hampir semuanya dalam kondisi yang sangat lemah. Tekanan darahnya, detak jantungnya, pernapasannya. Karena itu, kita harus segera membawanya ke rumah sakit," jawab petugas tersebut.

"Sudah menelpon ambulan?" Tanya Akashi lagi.

"Sudah. Kurasa ambulan nya sudah sampai," jawab petugas tersebut.

Bisa dilihat saat ini Yukiteru terbaring di 'tempat tidur beroda' nya, yang tengah digerakkan oleh petugas ambulan keluar dari ruang kesehatan yang tersedia di wilayah pertandingannya saat ini.

"Itu dia," ucap petugas itu sambil berlari ke arah Yukiteru, yang diikuti pula oleh Akashi.

Mereka semua langsung menuju ke arah mobil ambulan itu terparkir. Dengan cepat, Yukiteru langsung dibawa masuk ke dalamnya. Lalu salah satu petugas ambulan tersebut menghampiri Akashi.

"Kau wali dari Izuki Yukiteru?" Tanyanya.

"Ya," jawab Akashi dengan cepat.

"Baiklah. Ikut kami sekarang," ucap petugas tersebut sambil mempersilahkan Akashi ikut masuk ke dalam ambulan. Setelah Akashi masuk, ia menutup pintu ambulan tersebut dan masuk ke bagian pengemudinya. Tanpa membuang-buang waktu, ia langsung menjalankan ambulan tersebut menuju rumah sakit.

Di dalam ambulan itu sendiri terdapat 2 petugas yang berusaha menangani Yukiteru selama perjalanan. 1 petugas sibuk memasangkan alat bantu pernapasan untuk Yukiteru dan 1 petugas yang lainnya sibuk memeriksa kondisi Yukiteru.

"Alat bantu pernapasan ini tidak akan berguna jika ia tidak sadar," ucap petugas itu kepada temannya.

"Cukup sulit membangunkannya di saat kondisinya yang sekarang," jawab petugas yang lainnya.

Akashi hanya bisa terdiam melihat Yukiteru, tangan gadis itu terlihat gemetar. Ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain menggenggam tangan gadis itu.

Entah beberapa saat kemudian, petugas itu mencoba berbagai cara untuk membangunkan gadis itu. Mulai dari memanggil namanya terus-menerus hingga mengguncangkan tubuh gadis itu.

Tiba-tiba saja mata Yukiteru terbuka, tapi saat itu juga tubuhnya menjadi semakin menegang. Ia menarik nafasnya dalam-dalam. Terlihat sekali kalau saat ini ia sangat kesulitan dalam bernafas.

"Arrrh!" Teriak Yukiteru dengan lemas. Rasanya saat ini seakan-akan dia tengah dicekek tanpa ampun.

"Tenang. Tarik nafas dalam-dalam. Jangan panik," ucap petugas itu dengan cepat.

Yukiteru hanya menggelengkan kepalanya. Ia terus berteriak, walaupun teriakan itu sangat lemah. Tubuhnya terus menegang. Nafasnya sangat kacau saat ini.

"Yuki!" Panggil Akashi sambil mengeratkan genggamannya.

Yukiteru hanya terus berteriak, mencoba untuk mengambil nafas meskipun tidak bisa. Alat yang terpasang padanya seperti tidak berguna saat itu.

"Izuki Yukiteru, kau harus tenang. Cobalah untuk mengambil nafas sedikit demi sedikit," ucap petugas itu.

Respon yang diberikan Yukiteru selalu sama. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan terus berteriak lemah. Hingga mereka merasa mobil ambulan itu berhenti berjalan. Saat itu petugas yang menjadi sopir ambulan itu membukakan pintu ambulan tersebut. Akashi hanya bisa melepaskan genggamannya itu dan turun dari ambulan itu. Lalu 2 petugas yang lainnya pun ikut turun sambil mengeluarkan Yukiteru dan dengan cepat langsung membawa Yukiteru masuk ke dalam rumah sakit.

Saat itu Akashi diminta untuk mengurus administrasi Yukiteru. Beruntung Akashi adalah keluarga yang terkemuka. Ia langsung membayar semua yang harus dibayar saat itu tanpa ragu dan tanpa adanya kekurangan soal uangnya.

Setelah itu Akashi duduk terdiam, menunggu Yukiteru yang saat ini dalam penanganan medis di IGD. Kepalanya tertunduk.

'Jadi ini yang selama ini kau sembunyikan?'

Akashi hanya menghela nafasnya dengan berat. Saat itu ia melihat ada seorang laki-laki yang berlari menuju depan ruang IGD. Lalu saat laki-laki itu sampai di depan ruang IGD, ia menatap Akashi. Akashi melihat laki-laki itu mengenakan seragam yang berbeda dengannya. Rambut laki-laki itu berwarna hitam gelap. Bola matanya pun berwarna hitam bening.

"Akashi Seijuro, benar?" Tanya laki-laki itu.

"Ya," jawab Akashi tanpa mengalihkan pandangannya itu dari laki-laki yang saat ini berdiri di depannya. "Dan siapa kau?"

"Ternyata kau belum tahu. Yah, apa boleh buat. Aku Izuki Shun. Aku kakaknya Yukiteru. Bagaimana keadaannya sekarang?" ucap laki-laki tersebut.

"Saat ini Yuki masih dalam penanganan medis," jawab Akashi.

"Maaf karena sudah merepotkanmu," ucap Shun dengan tatapan seriusnya.

"Iie. Aku yang tidak bisa menjaganya," ucap Akashi.

"Tidak apa. Aku tahu betapa susahnya menjaga orang yang keras kepala sepertinya itu. Meskipun sudah sakit-sakitan seperti itu, dia tetap keras kepala untuk terus bermain basket," ucap Shun.

"Kalau boleh tau, dia sakit apa?"

"Kau belum tau?" Tanya balik Shun sambil mengangkat satu alisnya.

Akashi menggelengkan kepalanya. "Ia orang yang sangat tertutup."

Izuki terdiam beberapa saat. "Begitu. Sejak kecil ia punya penyakit asma akut dan daya tahan tubuhnya sangat lemah," jawab Shun memainkan jari-jarinya.

Akashi hanya terdiam. Shun pun hanya terdiam pula beberapa saat.

"Ada yang harus kau perhatikan saat bersama Yu-chan," ucap Shun memecahkan kesunyian yang ada.

"Apa?" Tanya Akashi dengan cepat.

"Jangan pernah menunjukkan pisau di depan Yu-chan."

"Kenapa?" Tanya lagi Akashi sambil mengangkat satu alisnya.

Klek!

Saat itu seorang perawat dan seorang dokter keluar dari ruang IGD.

"Shun," panggil dokter tersebut yang sepertinya sudah cukup kenal dengan laki-laki berambut hitam ini.

"Ya?" Sahut Shun sambil langsung berdiri dan diikuti pula oleh Akashi.

Dokter itu terdiam beberapa saat. "Tidak perlu setegang itu. Kondisi Yukiteru sekarang sudah membaik. Dia tinggal menormalkan kembali pernapasannya, setelah itu dia diizinkan untuk pulang."

Shun menghela nafasnya dengan lega.

"Baiklah. Saya pergi dulu. Jaga adikmu baik-baik," ucap dokter itu untuk terakhir kalinya, sebelum ia kembali jalan pergi dari sana.

Saat itu Akashi dan Shun langsung berjalan memasuki ruang IGD. Mereka melihat ada banyak ranjang yang berderet di sana, yang dibatasi oleh tirai-tirai. Saat itu mereka langsung berjalan ke arah ranjang di mana Yukiteru berbaring.

"Yu-chan," panggil Shun dengan cepat, nadanya kali ini lebih kekanak-kanakan. Ia langsung memeluk kepala gadis yang tengah berbaring itu dan mengelus rambutnya.

"Oni-chan," sahut Yukiteru, suara saat ini masih terdengar sangat lemah.

Akashi hanya terdiam memerhatikan Yukiteru yang saat ini tengah berbaring dengan alat bantu bernapas yang masih melekat di hidungnya. Saat Shun melepaskan pelukannya. Sepasang mata Yukiteru tertuju pada Akashi yang tengah berdiam diri, menatap gadis itu pula.

"Oni-chan, bisa tinggalkan kami berdua sebentar?" Tanya Yukiteru sambil menoleh pada kakaknya itu.

"Hai hai wakatta," jawab Shun sambil tersenyum dan berjalan keluar dari ruang IGD.

Setelah Shun keluar dari ruang IGD, Akashi berjalan sedikit lebih mendekat ke arah Yukiteru. Yukiteru hanya terus menatap Akashi sambil tersenyum.

"Gomen. Tadi aku hanya kelelahan bia-"

"Aku sudah tahu."

"Heh?" Respon Yukiteru sedikit menegang.

"Kakakmu sudah memberitahuku," jawab Akashi sambil terus menatap lurus ke arah mata Yukiteru.

Tangan Yukiteru langsung menggenggam erat selimut tipis yang ia gunakan saat ini.

"Souka. Ta-tapi ini tidak parah. Ak-ku masih bisa bermain basket seperti biasanya," ucap Yukiteru, terdengar sekali nada suaranya kali ini mulai goyah.

Akashi terdiam beberapa saat. "Aku mengerti sekarang. Betapa berusaha kerasnya kau menyembunyikan semuanya. Kau tidak ingin dikeluarkan dari team, bukan?"

"Ya. Kau pasti merasakan hal yang sama. Bagaimana rasanya kecintaanmu pada basket. Aku ingin terus bermain basket, walaupun tubuh ini sudah tidak mendukung lagi. Aku akan terus bermain sampai titik terakhir," jawab Yukiteru sambil mengangkat kepalanya dan menatap mata Akashi.

Akashi hanya tersenyum tipis. "Baiklah. Tapi cobalah untuk mengandalkanku. Kau punya aku. Kau tidak perlu menanggung rasa sakitmu sendirian."

Yukiteru hanya terdiam beberapa saat, ia kembali menundukkan kepalanya. "Gomen. Tapi aku tidak bisa. Kalau seperti itu, aku akan merepotkan Akashi-san. Aku tidak mau merepotkanmu."

"Kenapa?"

"Karena, sejak awal aku sudah menyukai Akashi-san," ucap Yukiteru dengan suara pelan.

Sepasang mata Akashi langsung membulat. Mulutnya saat itu terasa terkunci.

"Aku tidak ingin membuat Akashi-san direndahkan oleh orang lain, karena kau bersama orang yang lemah sepertiku. Belum lagi, di sekolah aku hanya murid dari kelas regular. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dibicarakan orang lain saat tahu hal itu. Karena itu, aku berusaha menjaga jarak dengan Akashi-san dan menyembunyikan apa yang menjadi fakta," lanjut Yukiteru.

"Aku tidak peduli apa kata orang lain. Mereka tidak tahu siapa Yukiteru yang sebenarnya. Perempuan yang memiliki IQ di atas rata-rata, yang dapat memanipulasi hasil test nya sendiri, memiliki bakat di atas rata-rata saat bermain basket, berasal dari keluarga yang terkemuka, tapi ia menolak untuk diperlakukan istimewa oleh orang lain. Perempuan itu adalah milikku dan itu sudah pasti," ucap Akashi sambil menggenggam tangan Yukiteru.

"Aka-"

"Seijuro," sela Akashi dengan cepat.

Yukiteru terdiam beberapa saat dan tersenyum.

"Hai, Seijuro-kun."

.

.

.

Keesokan harinya, saat latihan basket dimulai. Kuroko seperti terus menerus menatap Aomine. Yukiteru yang menyadari hal tersebut, langsung menghampiri laki-laki berambut biru muda itu.

"Kuroko-san."

"Ah, ya?" Sahut Kuroko dengan cepat sambil menoleh ke asal suara tersebut.

"Ada apa?" Tanya Yukiteru sambil mengangkat satu alisnya.

"Apa maksudmu? Semuanya baik-baik saja," jawab Kuroko dengan datar dan cepat.

"Kurasa ada yang tidak beres," ucap Yukiteru sambil menatap serius laki-laki berambut biru itu.

Kuroko hanya terdiam beberapa saat.

"Kau sudah tahu kan kalau kita menang saat pertandingan kemarin?" Tanya Kuroko

"Ya, kau sendiri yang memberitahuku saat pagi tadi," jawab Yukiteru sambil mengangkat kedua bahunya.

"Aku merasa aneh dengan cara bermain Aomine-kun saat itu, tidak seperti biasanya," ucap Kuroko dengan suara pelan, sambil kembali menatap Aomine sekilas.

"Aneh seperti apa?" Tanya Yukiteru sambil mengerutkan dahinya.

"Seperti sekarang," jawab Kuroko sambil menundukkan kepalanya.

Yukiteru langsung terdiam, kali ini ia lah yang memerhatikan Aomine. Memang saat ini pun ada suatu kejanggalan dalam diri laki-laki berambut biru tua itu. Selama ini laki-laki tersebut lah yang memiliki spirit yang paling tinggi di antara yang lainnya saat bermain basket, tapi entah kenapa sepertinya itu sudah memudar seperti habis dimakan oleh waktu.

"Yuki."

Saat itu ia langsung menoleh ke asal suara tersebut. Ia melihat seorang laki-laki yang berdiri berdampingan dengan seorang laki-laki berambut hijau tua di samping garis terluar lapangan. Spontan Yukiteru langsung berjalan menghampiri kedua laki-laki tersebut.

"Ada apa, Aka-"

Saat itu Akashi langsung menatap mata Yukiteru dengan tatapan tajamnya. Yukiteru tahu maksud dari Akashi, tapi entah kenapa saat itu mulutnya menjadi kaku.

"Ada apa?" Tanya Yukiteru mengulang setelah menghela nafas.

Akashi hanya terdiam beberapa saat. "Yuki, karena kejadian kemarin, pelatih bilang kepadaku, untuk menjadikanmu sebagai pemain ke-7."

Yukiteru terdiam beberapa saat. Shock? Sepertinya begitu. Karena selama ini dia selalu dijadikan pemain ke-5, yang selalu bermain sebagai starter dan mendapatkan porsi waktu untuk bermain lebih banyak saat pertandingan. Tapi ia harus menghargai keputusan pelatih saat ini, mungkin bisa dibilang saat ini kepercayaan pelatih kepadanya mulai menurun karena kejadian kemarin saat pertandingan.

Yukiteru hanya tersenyum tipis. "Wakatta."

Setelah itu yang lainnya melanjutkan latihan mereka seperti biasa. Saat hari mulai gelap, semua anggota klub basket itu langsung membubarkan diri mereka.

Klek!

Gadis berambut hitam itu keluar dari ruang ganti. Ia melihat ke arah samping pintu, ada seorang laki-laki berambut merah berdiri di sana.

"Akashi-san?" Panggil Yukiteru dengan spontan.

Akashi terdiam beberapa saat sambil menatap mata Yukiteru. Lalu ia menghela nafasnya dengan panjang.

"Ayo."

Akashi langsung melangkahkan kakinya. Namun di saat itu juga Yukiteru hanya terdiam, menatap bingung laki-laki berambut merah itu.

"Ada apa?" Tanya Akashi sambil menghentikan langkah kakinya lalu menoleh ke belakangnya.

"Ayo kemana?" Tanya balik Yukiteru sambil memiringkan kepalanya.

Akashi hanya menghela nafas. "Sudah jelas pulang."

"Aku pulang naik sepeda," ucap Yukiteru dengan cepat.

"Sepedamu sudah pulang duluan," jawab Akashi dengan datar.

"Hah? Maksudmu?" Respon Yukiteru sambil mengerutkan dahinya.

"Aku menyuruh orangku untuk memulangkan sepedamu," jawab Akashi dengan nada yang sama.

"Kamu... kenapa selalu saja bertindak seenakmu sendiri?!"

Yukiteru menggaruk kepalanya dengan kencang, menahan emosinya.

"Ayo, sudah malam," ucap Akashi sambil kembali berjalan.

Yukiteru hanya bisa terdiam dan mengikuti Akashi dari belakang. Setelah sampai di depan sekolah, seperti biasa, mobil Akashi sudah ada. Mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil itu.

"Seijuro, aku tidak suka kalau kau terus bertindak seenaknya tanpa seijinku. Kalau kau mau mengajak pulang bareng, kenapa tidak bilang saja dari kemarinnya?" Ucap Yukiteru geram, pandangannya saat ini hanya ke arah luar jendela mobil.

"Untuk apa? Perintahku absolute. Kau harus mengikutinya," ucap Akashi dengan nada datar.

"Kau pikir aku ini siapamu hah? Pelayanmu, yang sekali diperintahkan langsung menjalaninya? Kalau begitu caramu, aku menyesal sudah mengungkapkan perasaanku padamu," ucap Yukiteru.

"Hentikan mobilnya!" Bentak Yukiteru yang membuat kaget sopir keluarga Akashi terkaget dan langsung menginjak rem.

Dengan cepat, Yukiteru membuka pintu mobil tersebut dan dan turun dari mobil. Lalu ia menutup pintu mobil itu dengan membantingnya sebelum Akashi ikut keluar dari mobil juga. Tanpa berpikir panjang, Yukiteru langsung berlari dari sana. Ia berlari cukup jauh dan sudah dipastikan itu membuatnya kelelahan.

Saat itu Yukiteru berdiri di sebuah restaurant makanan cepat saji, ia memutuskan untuk masuk ke dalam, hanya sekedar untuk membeli minum dan duduk untuk beristirahat.

Setelah ia membeli minuman dari sana, ia hendak mencari tempat duduk yang kosong. Saat itu, entah kenapa ia melihat sosok yang sangat familiar di matanya. Dan tepat sekali saat itu sosok yang diperhatikan oleh Yukiteru langsung menoleh kepadanya.

"Izuki-san."

"Harus berapa kali aku bilang kepadamu, jangan panggil aku dengan nama itu," ucap Yukiteru sambil duduk di kursi seberang dengan laki-laki yang menyapanya tadi.

"Kau mau dipanggil apa?" Tanya laki-laki berambut biru muda itu. Bisa dilihat, tangan kanannya saat ini sedang menggenggam sebuah gelas plastik yang sama seperti yang digenggam Yukiteru sekarang.

Yukiteru terdiam beberapa saat. "Yuki saja."

"Hai, Yuki," ucap Kuroko sambil tersenyum tipis.

"Ah, ngomong-ngomong kenapa kau di sini?" Tanya Yukiteru mencoba mengisi topik pembicaraan.

"Setiap pulang latihan aku selalu kemari. Aku suka vanilla milkshake nya," jawab Kuroko dengan datar.

"Oh." Yukiteru langsung meminum minumannya dengan penasaran, kebetulan ia juga membeli minuman yang sama dengan Kuroko.

Saat itu senyuman langsung mengembang di wajah gadis berambut hitam ini. "Benar! Milkshake nya enak."

"Benar kan? Kau tidak menyesal membelinya?" Tanya Kuroko sambil tersenyum juga.

Yukiteru mengangguk dengan cepat, tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya. Yah, seperti biasa kalau Kuroko dan Yukiteru sudah bertemu. Mereka langsung berbicara berbagai macam hal. Senyuman dan tawaan selalu mengisi pembicaraan mereka.

"Sebaiknya kita pulang sekarang," ucap Kuroko sambil melihat ke arah jam dinding yang ada di sana.

Yukiteru mengangguk pelan. "Ya, aku bisa dimarahi kalau pulang terlalu malam."

"Yuki, kau tinggal di mana?" Tanya Kuroko sambil kembali menatap gadis itu.

"Tidak terlalu jauh dari sini," jawab Yukiteru sambil mengangkat kedua bahunya.

"Keberatan kalau aku mengantarmu pulang? Ini sudah malam, kurasa berbahaya untuk perempuan jalan sendirian," ucap Kuroko sambil menggendong tasnya dan berdiri dari bangkunya.

Yukiteru terdiam beberapa saat. "Baiklah."

Yukiteru pun ikut berdiri dan menggendong tasnya. Lalu mereka berdua berjalan keluar restaurant tersebut. Sepanjang perjalanan mereka pun diisi oleh candaan dan tawaan. Hingga mereka berdua sampai di sebuah rumah yang bisa dikatakan besar dan mewah. Pagarnya pun cukup besar.

"Ini rumahmu?" Tanya Kuroko.

"Ya. Kapan saja kau boleh kemari," ucap Yukiteru sambil tersenyum.

"Baiklah. Aku akan pulang sekarang," jawab Kuroko.

"Hm. Terima kasih sudah mau mengantar," ucap Yukiteru sambil sedikit membungkukkan badannya.

"Ja na, Yuki," ucap Kuroko sambil mulai melangkahkan kakinya dan melambaikan tangannya pada Yukiteru.

"Ja~"

"Ojou-sama?"

Saat itu Yukiteru langsung menoleh ke arah asal suara tersebut. Ia melihat ada penjaga rumahnya, membukakan pintu pagar untuknya. Yukiteru langsung masuk ke dalam rumahnya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hanya ekspresinya saja yang menunjukkan kalau ia sedang senang saat ini.

.

.

.

"Yuki, ohayou," sapa Kuroko saat melihat Yukiteru masuk ke dalam kelas. Laki-laki itu langsung berjalan menuju gadis berambut hitam itu dan tersenyum.

"Ohayou, Kuroko-san," sahut Yukiteru sambil membalas senyuman Kuroko.

"Yuki, kau keberatan kalau aku minta kau memanggilku dengan nama kecilku?" Tanya Kuroko dengan suara pelan.

Yukiteru terdiam beberapa saat, lalu ia tersenyum. "Baiklah, Tetsuya."

Saat itu Yukiteru berjalan menuju kursinya dan meletakkan tasnya di atas mejanya. Kuroko hanya mengikutinya dan duduk di kursinya sendiri, yang ada di depan Yukiteru. Tak lama kemudian, bel berbunyi dan guru yang mengajar masuk ke dalam kelas. Semua murid di sana langsung duduk rapi. Saat ketua kelas di sana berdiri, semua murid di sana langsung ikut berdiri pula dan memberi salam. Lalu semua murid di sana langsung duduk kembali dan pelajaran pun di mulai.

Tok tok tok!

Saat itu guru yang tengah menerangkan pelajaran langsung berhenti dan menoleh ke arah pintu. Pintu itu terbuka dan seorang guru masuk ke dalam kelas tersebut. Guru itu langsung berbicara pada guru yang sedang mengajar di kelas Kuroko dan Yukiteru saat ini.

"Baiklah. Izuki Yukiteru, rapihkan barang-barangmu. Mulai sekarang, kau akan dipindahkan ke kelas khusus," ucap guru itu sambil menatap Yukiteru.

Yukiteru hanya terdiam kaget. Saat itu Kuroko langsung menghadap ke belakangnya.

"Ayo cepat," ucap guru itu lagi.

"Hai," ucap Yukiteru sambil memasukkan semua barang yang ada di mejanya saat ini ke dalam tas lalu berjalan keluar kelas bersama guru yang tadi.

"Izuki Yukiteru, kita akan ambil buku pelajaran baru mu dulu di perpustakaan," ucap guru itu.

"Hai," jawab Yukiteru sambil terus berjalan.

'Apa yang terjadi?'

Yah, seperti yang dibayangkan. Kelas khusus berbeda dengan kelas regular. Ia memiliki 1 lantai tersendiri dengan jumlah murid yang sedikit. Ia memiliki kurikulum tersendiri dan perpustakaan, serta lab tersendiri pula. Kelas khusus diprioritaskan untuk anak-anak dari keluarga ternama dan memiliki IQ di atas rata-rata. Hanya murid dari kelas ini juga, yang memiliki hak untuk menjadi School Council President.

Yukiteru dan guru tersebut terus menaiki tangga hingga sampai di lantai yang paling atas, yaitu lantai dimana kelas khusus berada.

'Atmosfernya jelas sangat berbeda.'

"Ditambah dengan adanya kau, untuk saat ini murid kelas 2 di kelas khusus berjumlah 25 orang. Lebih banyak dari jumlahnya dari kelas 1 dan 3 yang hanya berjumlah 20 orang," ucap guru itu sambil terus berjalan.

Saat itu mereka langsung berjalan ke perpustakaan. Di sana ada penjaga perpustakaan yang tengah sibuk mendata buku-buku pinjaman yang baru dikembalikan oleh para murid. Saat itu guru yang berada di depan Yukiteru itu langsung memberinya 1 paket buku, yang pastinya itu berbeda dengan yang biasa ia punya, buku-buku pelajaran itu lebih tebal dan pastinya itu berat. Lalu guru itu juga memberi Yukiteru 1 tas yang biasa digunakan untuk laptop.

"Ini barang yang akan kau pakai di kelas khusus," ucap guru itu.

"Hai," jawab Yukiteru dengan cepat. Tangannya saat ini terasa pegal karena membawa cukup banyak barang.

"Sekarang kutunjukkan lockermu dan kelasmu," ucap guru itu sambil kembali hanya terus berjalan mengikuti guru itu hingga sampai di depan locker-locker yang berjajar di sepanjang koridor.

"Ini lockermu dan ini kuncinya," ucap guru itu sambil memberikan Yukiteru sebuah kunci. Gadis itu langsung menerima kunci tersebut dan membuka lockernya dengan kuncinya.

"Ini jadwal pelajaranmu," ucap guru itu sambil menyerahkan Yukiteru selembar kertas.

"Arigatou," jawab Yukiteru sambil menerima kertas tersebut.

Saat itu Yukiteru langsung menyusun semua barang-barangnya di dalam locker nya lalu ia membawa buku mata pelajaran jam sekarang dan tas laptop yang sudah menjadi hak miliknya. Tanpa membuang-buang waktu guru itu langsung mengantarkan Yukiteru ke kelasnya.

Saat itu mereka langsung masuk ke sebuah kelas. Bisa dilihat semua murid di sana bertatapan serius. Suasana yang sangat berbeda dengan kelas regular.

'Tch. Inilah alasan kenapa aku tidak ingin masuk ke kelas khusus,' batin Yukiteru sambil melihat sekitarnya. Walaupun di sana ada 2 wajah yang sudah tidak asing lagi untuknya, yaitu Akashi dan Midorima.

Saat itu ia melihat seorang guru wanita yang tadinya sedang mengajar itu, langsung menoleh ke Yukiteru dan tersenyum lembut.

"Aku Nagano Airu, wali kelas di kelas ini. Bagaimana kalau kau juga memperkenalkan dirimu kepada yang lainnya?" Ucap guru itu dengan suara halus.

Yukiteru terdiam beberapa saat. "Watashi wa Izuki Yukiteru. Yoroshiku."

"Kau boleh duduk di kursi kosong, samping Akashi," ucap guru itu tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.

Tubuh Yukiteru menegang sekilas, tapi mau tidak mau ia harus mengikuti kata-kata gurunya itu. Kalau tidak, ia mungkin akan menghambat jalannya kelas nanti. Ia langsung berjalan menuju kursi kosong itu dan duduk. Dengan cepat pula ia langsung membuka tas laptopnya dan menaruhnya di atas meja, lalu menyalakannya. Ia menaruh tas laptopnya itu di gantungan samping mejanya dan menaruh buku yang ia bawa di laci bolong bawa mejanya. Ia melihat sekelilingnya, semua murid di sana menggunakan laptop yang sama. Saat ini ia menoleh sekilas ke arah Akashi, ia melihat laki-laki berambut merah itu tengah sibuk memerhatikan penjelasan dari gurunya tersebut. Yukiteru pun memutuskan untuk memerhatikan gurunya saat ini.

.

.

.

Bel istirahat makan siang pun berbunyi, semua murid di sana langsung mematikan laptopnya dan berjalan keluar dari kelas. Berbeda dengan Yukiteru yang masuk duduk berkutat dengan buku pelajarannya saat ini. Bagaimanapun juga ia harus menyesuaikan dirinya dengan pelajaran di kelas ini.

"Kesulitan di kelas ini?"

Saat itu Yukiteru langsung menoleh ke asal suara tersebut, ia melihat Akashi tengah berdiri di sampingnya.

"Izuki, bagaimana bisa kau masuk ke kelas khusus?" Tanya Midorima sambil mengangkat satu alisnya.

"Mana kutahu, tiba-tiba saja aku disuruh pindah kelas," jawab Yukiteru sambil mengangkat kedua bahunya.

"Sebenarnya kau berasal dari keluarga terkemuka, bukan?" Tanya lagi Midorima.

Yukiteru hanya terdiam. Selama ini di kelas regular, ia selalu mengatakan kalau dia ini berasal dari keluarga sederhana. Berlagak seperti orang sederhana, sebisa mungkin pergi ke sekolah tanpa menggunakan mobil dan sopir.

"Ya, kalau kau mau tau, dia ini anak dari perusahaan ternama saat ini. Aku kenal orang tuanya dan juga sebenarnya saat ini aku dan dia-"

"Ah, aku lapar. Sebaiknya aku ke cafetaria sekarang," sela Yukiteru dengan cepat sambil berdiri dan berlari keluar dari kelas.

Akashi langsung terdiam beberapa saat. "Midorima, aku duluan."

Akashi langsung berjalan keluar kelas dan mengejar gadis berambut hitam itu. Saat ia melihat gadis itu, ia langsung menahan lengan gadis itu.

"Apa?" Sahut Yukiteru dengan cepat sambil menoleh ke arah Akashi.

"Ada apa denganmu?"

"Tanyakan itu pada dirimu sendiri," jawab Yukiteru dengan cepat sambil melepaskan genggaman Akashi

Tapi Akashi meresponnya dengan menggenggam lengan Yukiteru semakin kencang hingga gadis itu merintih kesakitan.

"Akashi-san, sakit."

"Kalau kau tidak mau merasakannya lebih dari ini, ikut aku," ucap Akashi.

"Untuk apa?! Aku tidak menerima perintah dari kau!" bentak Yukiteru yang sukses membuat banyak pasang mata melihat mereka berdua.

Tanpa mengucapkan satu katapun, Akashi melepaskan genggamannya dan membalikkan badannya, lalu berjalan dari sana. Yukiteru hanya terdiam. Lalu ia kembali melangkahkan kakinya berlawanan arah dengan Akashi.

Yukiteru terus berjalan tanpa tahu arah tujuannya saat ini. Cafetaria? Entahlah. Saat ini nafsu makannya sudah menghilang sepenuhnya.

"Ah!"

Respon Yukiteru sedikit berteriak saat ada yang menariknya masuk ke ruang kelas yang kosong. Ia melihat ada 3 orang perempuan yang seumuran dengannya. Satunya menjaga pintu dan 2 yang lainnya tengah berdiri di depan Yukiteru, tatapannya bisa dibilang cukup tidak bersahabat.

"Ada apa ini?" Tanya Yukiteru dengan cepat sambil mengerutkan dahinya.

"Kau beraninya mengabaikan Akashi-sama tadi," jawab salah satu gadis itu sambil mendorong kepala Yukiteru dengan satu jarinya.

"Kalian tidak tahu permasalahannya," ucap Yukiteru dengan datar.

"Apa katamu? Jangan mentang-mentang kau anak baru di kelas khusus, kau jadi berani seperti itu dengan School Council President," ucap yang lainnya sambil menjambak rambut Yukiteru.

'Oh. Jadi Akashi juga menjabat sebagai School Council President di sekolah ini?' Batin Yukiteru seperti orang yang ketinggalan zaman.

"Ah! Kuperintahkan untuk lepaskan ini," ucap Yukiteru dengan cepat. Tatapan tajam menghias wajahnya saat ini. Salah satu dari mereka mulai merasa takut saat menatapnya, tapi ada juga yang menatapnya semakin tidak suka.

Buk!

Rasa sakit mulai menjalar di perut Yukiteru. Yah, mungkin itu adalah efek dari salah satu mereka yang menendang perut Yukiteru dengan satu dengkulnya.

"Kau pikir kau siapa hah?! Jangan sok berlagak seperti Akashi-sama!"

"Maaf saja, tapi aku juga benci kalau harus meniru orang bodoh sepertinya," ucap Yukiteru sambil terus menahan rasa sakitnya dengan mencengkram pelan perutnya sendiri.

"Kau bilang Akashi-sama bodoh? Hahaha. Kau lah yang bodoh!"

Buk!

Satu tinjuan mendarat dengan sangat keras di wajah Yukiteru hingga berbekas di ujung bibirnya.

Brak!

"Hentikan!"

Saat mendengar suara tersebut, semua orang yang ada di ruangan saat itu langsung menoleh ke arah pintu yang dibuka secara paksa tadi. Ia melihat seorang laki-laki berambut merah masuk ke dalam ruangan itu, tatapan tajam menghiasi wajahnya saat ini.

"Ak-akashi-sa-sama."

Perempuan-perempuan tadi langsung menjauh dari Yukiteru. Beberapa saat Akashi terus menatap Yukiteru, tapi gadis berambut hitam itu enggan membalas tatapan Akashi.

"Jadi, siapa yang berani melukai pacarku?" Akashi langsung menoleh ke arah ketiga perempuan itu.

"Pa-pacar? Go-gomen. Kami tidak tahu kalau dia adalah pacarmu," jawab salah satu dari mereka.

"Kupastikan kalian semua akan mendapat hukuman yang berat untuk hal ini," ucap Akashi sambil menarik tangan Yukiteru keluar dari ruangan tersebut.

Tanpa berbicara satu katapun, Akashi menarik gadis berambut hitam itu menuju ke UKS. Ia tidak melihat ada guru yang berjaga di UKS saat ini. Laki-laki berambut merah itu hanya memberi kode pada gadis yang ada di sampingnya saat ini untuk duduk di ranjang yang ada, lalu ia mengambil sebuah kotak P3K dan duduk di samping gadis berambut hitam itu.

"Lukanya tidak parah," ucap Yukiteru sambil mengusap luka yang ada di ujung bibirnya dengan ibu jarinya.

"Bohong. Yang memukulimu tadi adalah anggota klub judo," jawab Akashi sambil membuka kotak P3K nya. Ia mengambil sedikit obat dan kapas

"Akashi-san, aku bisa sendiri," ucap Yukiteru sambil menghindar saat Akashi hendak mengobati luka Yukiteru

Saat itu tangan kiri Akashi langsung bergerak dan menahan kepala Yukiteru. "Diam!"

Lalu tangan kanan Akashi yang memegang kapas yang sudah diberi sedikit obat itu kembali bergerak untuk mengobati luka Yukiteru. Mau tidak mau Yukiteru hanya bisa terdiam, ia memerhatikan Akashi yang saat ini tengah sibuk merawat lukanya.

'Serius sekali dia. Padahal ini hanya luka kecil. Yah, setidaknya dia mengurangi jarak pandangnya dengan lukaku. Ini terlalu dekat. Bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya,' batin Yukiteru merasa sedikit sesak. Jantungnya berdebar-debar.

'Ada apa denganku? Kenapa terasa sangat menyesakkan? Tidak mungkin asmaku tiba-tiba kambuh di saat seperti ini,' batin Yukiteru lagi, tanpa bisa mengalihkan pandangannya dari laki-laki yang ada di depannya saat ini.

"Sudah selesai," jawab Akashi sambil kembali merapihkan semua barang yang tadi ia gunakan ke dalam kotak P3K dan mengembalikannya di tempat yang semula.

"A-arigatou," ucap Yukiteru sambil menundukkan kepalanya.

"Ya," jawab Akashi sambil kembali berjalan ke arah gadis berambut hitam itu dan menatapnya dengan jarak yang cukup dekat.

Spontan Yukiteru sedikit mundur. "Ada apa?"

"Mau sampai kapan kau menyembunyikan hubungan kita?"

Yukiteru terdiam beberapa saat. "Apa maksudmu? Bukannya aku sudah bilang kalau aku menyesal sudah mengungkapkan perasaanku?"

"Jadi kau ingin menariknya kembali?" Tanya balik Akashi sambil mengangkat satu alisnya.

"Ya kurang lebih seperti itu," jawab Yukiteru dengan cepat.

"Sayangnya itu tidak bisa ditarik kembali," ucap Akashi sambil duduk di samping Yukiteru dan menatap langit-langit UKS.

"Aku tidak suka dengan sikapmu yang suka memerintah itu," jawab Yukiteru tanpa memandang Akashi.

Saat itu Akashi terdiam beberapa saat dan tertawa pelan. "Benar juga. Itu karena dari awal kau memang tidak suka diperintah bukan? Kau sama denganku. Kau terbiasa dengan sikap memerintah."

Yukiteru hanya mengerutkan dahinya. "Maaf saja, aku memang suka memerintah orang, tapi aku tidak separah dirimu."

"Itu karena kau selalu berakting menjadi orang miskin di sekolah ini," jawab Akashi sambil menghela nafas.

"Yah tapi sekarang aku sudah tidak bisa berakting lagi," ucap Yukiteru sambil menghela nafas juga.

"Karena ayahmu memindahkanmu ke kelas khusus?"

"Apa?! Jadi tou-san yang melakukan hal ini?" Respon Yukiteru dengan cepat dan sedikit teriak.

"Ya, beberapa hari yang lalu, aku melihatnya datang ke sekolah dan bertemu dengan kepala sekolah," jawab Akashi sambil mengangkat kedua bahunya.

Yukiteru hanya terdiam.

"Yuki?"

"Apa?"

"Besok hari minggu, bagaimana kalau kita pergi jalan?" ucap Akashi sambil menatap Yukiteru dari samping.

"Jadi ceritanya kau mengajakku untuk kencan?" Tanya balik Yukiteru sambil mengangkat satu alisnya

"Jawab saja, mau atau tidak?" Ucap Akashi dengan cepat sambil mengalihkan pandangannya.

Yukiteru terdiam beberapa saat. Ia tersenyum tipis. "Baiklah."

"Tempatnya bebas sesuai dengan maumu. Besok pagi kujemput di rumahmu," ucap Akashi.

Saat itu kepala laki-laki tersebut langsung menoleh ke arah pintu UKS yang terbuka. Ia melihat seorang laki-laki berambut biru berdiri di sana. Akashi yang melihat laki-laki itu langsung berdiri lalu berjalan menuju jendela dan memandang pemandangan di luarnya.

"Tetsuya?" Panggil Yukiteru sambil berdiri dengan spontan.

"Gomen. Tadi aku mendengar kalau Yuki habis dihajar oleh murid kelas khusus, makanya aku datang kemari. Tapi kalau sudah ada Akashi-kun, kurasa Yuki akan baik-baik saja," ucap Kuroko dengan cepat. Matanya sekilas melihat ke arah Akashi.

"Aku tidak apa-apa. Arigatou," jawab Yukiteru dengan cepat sambil tersenyum.

"Ah, ini terima lah," ucap Kuroko sambil menyerahkan sebuah roti yang masih terbungkus dengan rapih.

"Roti isi krim keju? Tetsuya, kau masih ingat?" Tanya Yukiteru sambil menerima roti tersebut dengan semangat.

Kuroko hanya mengangguk dan tersenyum tipis. "Aku pergi dulu."

Dengan cepat Kuroko langsung melangkahkan kakinya keluar dari sana. Yukiteru hanya menatap Akashi yang saat ini hanya terdiam, menatap keluar jendela.

"Roti isi krim keju. Itu favoritmu?" Tanya Akashi tanpa menoleh ke arah gadis itu.

"Ya," jawab Yukiteru sambil membuka bungkus roti tersebut dan memakannya.

"Bagaimana dia bisa tahu?" Tanya Akashi lagi.

"Dia? Maksudmu Tetsuya?" Tanya balik Yukiteru.

"Jawab saja," jawab Akashi dengan cepat.

"Yah mungkin karena saat kelas 1, aku pernah tertangkap basah olehnya sedang memborong roti isi krim keju di toko roti," jawab Yukiteru setelah menelan rotinya.

"Souka."

.

.

.

Seperti biasa, semua anggota klub basket saat ini berkumpul di ruang olahraga untuk bermain basket. Hal yang berbeda adalah latihan kali ini tidak ada Aomine. Saat ini, latihan sudah selesai. Para anggota klub bakset sudah membubarkan diri mereka, kecuali Akashi, Midorima, Murasakibara, Kise, Kuroko, Satsuki, dan Yukiteru. Seperti biasa, mereka melakukan kegiatan sukarela mereka, yaitu merapihkan ruang olahraga.

"Satsuki," panggil Yukiteru sambil berjalan menghampiri gadis berambut pink yang tengah melamun itu.

"Ah, ya, Yu-chan?" Sahut Satsuki agak terkaget.

"Ada masalah?" Tanya Yukiteru sambil menatap serius gadis yang ada di depannya saat ini.

Satsuki terdiam beberapa saat. "Akhir-akhir ini Dai-chan menjadi aneh. Kau pasti tahu kalau dia orang yang sangat menyukai basket, tapi entah kenapa setelah ia menyadari kalau ia punya skill yang sangat bagus dalam bermain basket, ia menjadi orang yang seperti kehilangan arah."

"Apa pelatih sudah bertindak?" Tanya lagi Yukiteru sambil mengerutkan dahinya.

Satsuki menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Wakaranai. Pelatih sudah berbicara pada Dai-chan. Entah berbicara apa aku tidak tahu, tapi sepertinya itu bukan hal yang terlalu bagus. Karena itu, Dai-chan membolos latihan. Dia bilang padaku tadi, 'aku tidak peduli berapa kali aku akan bolos latihan, asalkan nanti saat pertandingan menang.' Setelah dia bilang begitu, aku tidak berani menanyakan apa-apa lagi padanya."

Yukiteru terdiam beberapa saat. "Di mana Aomine-san sekarang?"

"Terakhir kali aku melihatnya, dia sedang menuju atap," jawab Satsuki.

"Aku akan segera kembali," ucap Yukiteru dengan cepat sambil berjalan keluar ruang olahraga.

"Ada apa?" Tanya Akashi sambil berjalan mendekati Satsuki, namun matanya melihat ke araha Yukiteru yang sedang berjalan cepat keluar dari ruang olahraga.

"Yu-chan menanyakan soal Dai-chan," jawab Satsuki sambil menundukkan kepalanya.

"Souka."

Beberapa saat kemudian, Yukiteru kembali ke ruang olahraga. Kali ini ia tidak sendirian, ia bersama seorang laki-laki berambut biru tua.

"Yuki-cchi, Mine-cchi," panggil Kise sambil menghampiri mereka.

"Kise-san, boleh kupinjam bola nya?" Tanya Yukiteru dengan tatapan seriusnya

"Hai," jawab Kise sambil menyerahkan bola tersebut pada Yukiteru.

"Kita mulai sekarang," ucap Yukiteru sambil berjalan menuju tengah lapangan, yang diikuti pula oleh Aomine.

"Ada apa ini?" Tanya Satsuki panik.

"One-on-one. 5 point untuk menang," jawab Yukiteru sambil mendribble bola basket yang ia pegang sekarang, tatapannya tajam dan lurus pada satu titik, yaitu Aomine.

Aomine langsung merebut bola basket yang dipegang oleh Yukiteru dan mendribblenya dengan cepat. Yukiteru langsung mengejarnya. Namun, saat sudah berada di dekat ring, Yukiteru langsung berlari berlawanan arah dengan Aomine. Spontan Aomine langsung melakukan shoot dengan caranya yang sangat khas.

Brak! Brugh brugh!

Dahi Aomine langsung mengerut karena shoot nya yang tadi digagalkan oleh Yukiteru. Ia menghalau bola basket itu sebelum masuk ke dalam ring. Yukiteru yang mengejar dan kembali mendapatkan bola basket itu langsung mendribblenya dengan cepat. Aomine langsung berlari dan berusaha menghalangi Yukiteru yang gerakannya bisa dibilang cukup cepat dan gesit. Tanpa berpikir panjang, Yukiteru langsung melakukan lay-up dengan cepat. Beruntung saat itu Aomine kurang cepat dan bisa dibilang cara bermainnya cukup meremehkan gadis berambut hitam ini.

Saat ini bagian Aomine yang mendribble bola. Dengan gesit pula Aomine membawa bola itu ke arah ring. Walaupun saat ini ia cukup terganggu dengan keberadaan Yukiteru. Tapi ia tetap berhasil mencetak score dengan melakukan lay-up juga.

Yukiteru pun kembali mendribble bola, ia terus membawa bola basket itu menuju ring. Walaupun bola basket yang ia pegang selalu kena rebut oleh Aomine, tapi ia selalu berhasil untuk mengambilnya kembali. Hingga ia terdesak saat itu, mau tidak mau melakukan three points. Ia shoot bola tersebut. Saat itu mata Aomine fokus pada bola yang melambung cukup tinggi itu.

Deg!

Sepasang mata Aomine langsung membulat saat menyadari kalau lawannya saat ini tidak ada di depannya lagi. Ia melihat ke belakangnya, dan di situ lah lawannya berada. Gadis berambut hitam itu tengah melompat di dekat ring dan mendorong bola basket itu untuk masuk ke dalam ring.

Tidak Aomine saja yang kaget, tapi yang lainnya juga. Seakan-akan mereka semua seperti sedang melewatkan sesuatu. Yang mereka rasakan saat itu hanyalah hembusan angin di dalam ruangan itu terasa kuat.

Pertandingan kecil ini terus berlanjut, Aomine kembali mendribble bola nya dengan cepat menuju ke arah ring. Tapi saat itu juga ia langsung berhenti berlari. Ia melihat kedua tangannya sendiri. Matanya terus membulat.

Ia tidak percaya, kalau bola yang di-dribblenya saat ini menghilang begitu saja. Ia bahkan tidak melihat sosok lawannya ada saat ia masih mendribble bola basket tersebut. Ia baru menyadari hal itu saat Yukiteru bersiap melakukan lay-up.

'Tidak. Kalau begini, aku akan kalah.'

Aomine berlari dengan kekuatan penuh, ia berlari menuju ring nya dan ikut melompat saat Yukiteru melompat. Aomine mencoba untuk menghalau bola basket tersebut.

"Ah!"

Mata Yukiteru langsung menatap Aomine dengan tatapan tidak percaya.

BRUGH!

Semua orang langsung terkaget saat Yukiteru mendarat dari lompatannya seperti orang yang jatuh dari gedung. Gadis itu langsung jatuh terkapar begitu saja.

"Yuki!"

Mereka semua langsung menghampiri Yukiteru kecuali Aomine. Ia seperti enggan melihat gadis itu. Saat Akashi mencoba untuk mengangkat gadis itu, ia baru menyadari kalau sebelah dahi gadis itu berdarah.

"Cepat ambil kotak P3K!" Bentak Akashi.

"Ba-baik," ucap Satsuki sambil berlari ke ujung lapangan untuk mengambil kotak P3K serta air lalu kembali berlari posisi Yukiteru terkapar saat ini. Ia langsung merawat luka tersebut, ia dibantu juga oleh Kise dan Kuroko.

"Aku melihatnya."

Saat itu Akashi dan Murasakibara langsung menoleh ke asal suara tersebut. Saat itu Midorima menatap tajam Aomine yang tengah berdiri terdiam.

"Kau menyenggol badan Izuki dengan sikumu," ucap Midorima sambil menaiki posisi kacamatanya.

Saat itu Satsuki langsung berhenti melakukan aktivitasnya, membiarkan Kise dan Kuroko yang melanjutkan merawat luka di dahi Yukiteru tersebut. Ia langsung berdiri dan berjalan mendekati Aomine.

"Dai-chan, apa itu benar?"

"Tch. Aku tidak sengaja," ucap Aomine sambil berjalan pergi dari sana.

Srek!

Saat itu Aomine langsung berhenti berjalan. Ia melihat ada gunting di samping wajahnya. Rasa ngilu langsung terasa di pipinya. Ia melihat juga kalau sedikit rambut di sampingnya berjatuhan di bahunya. Ia menoleh ke belakang.

Bisa ia lihat Akashi lah orang yang memegang gunting itu saat ini. Entah kapan atau dari mana ia mengambil gunting tersebut. Tatapannya yang membuat merinding semua orang.

"Akui lah, kau memang sengaja melakukannya. Kau tidak mau mengakui kalau kau masih lemah. Kau tidak bisa menerima kekalahan, apalagi kau dikalahkan oleh seorang perempuan," ucap Akashi sambil menodongkan guntingnya.

Aomine hanya terdiam. Badannya gemetar hebat. "Baiklah. Aku akui semua yang dikatakan Akashi benar."

Setelah berkata seperti itu, Aomine langsung berjalan keluar dari ruang olahraga tanpa memerdulikan yang lainnya.

"Dai-chan," ucap Satsuki dengan suara pelan. Terlihat jelas saat ini matanya berkaca-kaca.

Saat itu Akashi terus memerhatikan Yukiteru yang saat ini kepalanya sedang dililiti perban oleh Kise. Saat itu pula mereka semua melihat sepasang mata Yukiteru terbuka dengan perlahan.

"Yu-chan?" Panggil Satsuki dengan cepat sambil duduk di samping Yukiteru.

Yukiteru mencoba untuk bangun walaupun kepalanya masih terasa sakit.

"Yuki, jangan memaksakan diri dulu," ucap Kuroko. Ekspresinya sangat terlihat kalau ia sedang cemas.

"Aku tidak apa-apa," jawab Yukiteru sambil terus memegang kepalanya.

"Yuki, kita ke rumah sakit sekarang," ucap Akashi sambil mengeluarkan HP nya dari kantong celananya.

Saat itu tangan Yukiteru langsung menggenggam lemas tangan Akashi dan menggelengkan kepalanya.

"Aku ingin pulang," ucap Yukiteru.

Akashi hanya terdiam beberapa saat. Ia menatap mata gadis itu. "Aku akan telepon sopir untuk menjemputmu."

Saat itu Akashi langsung berdiri dan berjalan keluar ruang olahraga. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, ia kembali berjalan masuk ke dalam ruang olahraga. Ia melihat Yukiteri masih duduk di posisi yang sama dengan tadi.

"Yuki, kau bisa berdiri sekarang?" Tanya Akashi sambil berjalan mendekati Yukiteru dan yang lainnya.

Yukiteru hanya mengangguk. Ia mencoba untuk berdiri walaupun kepalanya saat ini terasa sangat sakit. Ia terus mencoba untuk berdiri hingga ia benar-benar merasa kehilangan keseimbangannya. Beruntung Akashi mau membantu untuk menahannya saat itu.

"Jangan memaksakan diri," ucap Akashi sambil kembali membantu Yukiteru untuk duduk.

"Tapi-"

"Ini perintah!" Ucap Akashi dengan cepat menyela kalimat Yukiteru.

"Yu-chan, gomene. Karena Dai-chan, kau seperti ini sekarang," ucap Satsuki sambil menundukkan kepalanya.

"Aku tidak apa-apa. Ini juga bukan sepenuhnya salah Aomine-san," ucap Yukiteru sambil tersenyum tipis.

"Hah? Bukannya sudah jelas Mine-chin menyenggol badan Yuki-chin hingga jatuh dengan sikunya?" Tanya Murasakibara memastikan. Dahinya saat ini sedikit mengerut.

"Yah, memang begitu. Tapi ia tidak akan melakukan hal itu kalau aku tidak mendesaknya terlalu keras," jawab Yukiteru sambil menundukkan kepalanya.

"Tapi Yuki-cchi, saat duel tadi, aku melihat ada yang tidak biasa denganmu. Kau lebih cepat dari biasanya, bahkan mata kami semua cukup sulit untuk mengikuti gerakanmu tadi. Kau juga berhasil menghalau shoot dari Mine-cchi saat tadi. Bagaimana bisa?" ucap Kise sambil terus memerhatikan Yukiteru.

Yukiteru terdiam beberapa saat. "Wakaranai. Saat tadi aku merasa badanku sangat ringan, tapi aku tidak sadar kalau itu membuatku jadi lebih cepat pula dari biasanya. Aku juga merasa seperti ada kekuatan yang tidak biasa dari dalam diriku."

"Heh? Kau juga merasa seperti itu?" Tanya Murasakibara dengan cepat.

"Ya, Murasakibara-san juga?"

"Ya, kupikir itu hal yang aneh juga. Tapi aku tidak peduli," jawab Murasakibara sambil mengangkat kedua bahunya.

"Murasakibara-san, apa yang kau rasakan saat itu?" Tanya Yukiteru penasaran.

"Sesuatu yang aneh. Entah kenapa saat bermain basket saat ini, aku seperti ingin sekali menghancurkan semua yang ada di depanku, walaupun itu teman sendiri," jawab Murasakibara dengan suara pelan, pandangannya saat ini menuju ke bawahnya.

Yukiteru terdiam beberapa saat. "Kurasa Aomine juga merasakan hal yang sama."

"Bagaimana bisa?" Tanya Kuroko sambil mengerutkan dahinya.

"Ya, sebelum ia berubah, kau bisa melihat kemampuan Aomine yang meningkat drastis bukan? Tapi setelah itu, mungkin dia menjadi bingung dan kesal, karena tidak ada yang bisa mengalahkannya. Dan pada akhirnya dia jadi seperti yang sekarang," ucap Yukiteru.

Semuanya hanya terdiam. Tidak ada seorang pun yang ingin membuka suaranya saat itu.

"Permisi."

Semua pasang mata yang ada di ruang olahraga langsung menuju ke arah pintu yang terbuka lebar. Mereka semua melihat seorang laki-laki yang mengenakan seragam yang biasa digunakan oleh seorang sopir.

"Oh, sudah datang," ucap Akashi dengan datar.

Tanpa mengucapkan satu katapun, Yukiteru kembali mencoba untuk berdiri.

Grep!

Mata Yukiteru langsung membulat saat menyadari kalau sekarang ia sedang digendong ala bridal style oleh Akashi. Yang lainnya hanya terdiam kaget, namun ada juga yang menyeringai.

"Akashi-san, mereka akan tahu," ucap Yukiteru dengan suara pelan sambil mencoba melepaskan dirinya.

"Kenapa? Cepat atau lambat mereka pasti akan tahu kalau kita ini sudah dijodohkan," jawab Akashi yang sukses mbuat orang lain cengo.

"Heh? Yuki-chin sudah bersama Aka-chin? Sayang sekali. Padahal aku suka dengan Yuki-chin," ucap Murasakibara dengan nada biasanya.

"Jangan percaya, aku belum bilang setuju dalam hal ini," ucap Yukiteru dengan cepat.

"Yah, tapi kurasa cocok juga kalian," ucap Kise tanpa menghilangkan seringaiannya.

"Apa maksudmu hah? Sudah jelas aku tidak cocok dengan setan merah ini," jawab Yukiteru dengan cepat.

"Setan merah?" Ucap Midorima dengan pelan. Suara deheman keluar begitu saja dari mulut Midorima. Yah, mau bagaimana lagi, ia perlu berjuang keras saat ini untuk menahan tawanya.

Tanpa berbicara apa-apa, Akashi langsung membalikkan badannya dan berjalan keluar ruang olahraga. Sopirnya yang saat ini membawa tas Yukiteru dan Akashi pun ikut berjalan. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, mereka sudah masuk ke dalam mobil saat ini dan mobil itu mulai berjalan.

"Akashi-san, boleh kuminta sesuatu?"

"Tidak."

"Heh? Baiklah. Aku minta maaf soal yang tadi. Aku tidak terbiasa dengan hal seperti itu. Tiba-tiba saja mulutku dengan spontan langsung menyangkalnya," ucap Yukiteru sambil menundukkan kepalanya.

Akashi hanya terdiam, pandangannya saat ini ke arah luar jendela.

"Aku mohon, ini sangat mendesak," ucap Yukiteru dengan suara yang lirih.

"Apa?" Tanya Akashi dengan datar dan cepat

"Izinkan aku menginap di rumahmu," jawab Yukiteru sambil terus menundukkan kepalanya.

Akashi terdiam beberapa saat. "Boleh saja. Tapi untuk apa?"

"Tidak mungkin aku pulang dalam keadaan seperti ini. Masalahnya akan jadi rumit kalau Tou-san dan Kaa-san tahu kejadian ini," jawab Yukiteru sambil menyentuh perban yang melilit di kepalanya.

"Souka."

"Kita langsung pulang," titah Akashi pada sopirnya.

"Wakarimashita," jawab sopirnya tersebut.

"Yuki, kau telepon orang tuamu dulu. Beritahu mereka kalau kau akan menginap di rumahku," ucap Akashi sambil menatap ke arah gadis yang ada di sampingnya itu.

Yukiteru langsung meresponnya dengan anggukan. Ia mengambil HP nya dari dalam tas nya. Lalu ia langsung menelpon orang tuanya.

"Halo? Yuki, ada apa?"

"Kaa-san, hari ini aku akan menginap di rumah Seijuro," ucap Yukiteri dengan cepat, tatapannya saat ini terarah pada laki-laki yang duduk di sampingnya.

"Hm. Okay. Pastikan kau tidak merepotkan di sana ya."

"Hai. Wakatta," jawab Yukiteru dengan semangat.

"Sudah ya. Kaa-san masih ada rapat."

"Hai," jawab Yukiteru untuk terakhir kalinya sebelumia memutus sambungan teleponnya. Gadis itu langsung menghela nafas dengan panjang.

Beberapa saat kemudian, mereka sampai di kediaman keluarga Akashi. Saat itu sopir keluarga Akashi langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk majikannya.

"Perlu digendong lagi?" Tanya Akashi sambil menyeringai.

"Tidak perlu, kepalaku sudah membaik sekarang," jawab Yukiteru dengan cepat. Ia menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan rambut panjangnya.

Akashi hanya terdiam, ia langsung menggendong tasnya dan keluar dari mobilnya, yang diikuti pula oleh Yukiteru. Kedua orang itu langsung berjalan masuk ke dalam rumah milik keluarga Akashi.

"Mau tidur di kamar tamu atau di kamarku?" Tanya Akashi sambil kembali memunculkan seringaiannya.

"Tentu saja di kamar tamu," jawab Yukiteru dengan cepat.

Saat itu Akashi langsung berhenti berjalan dan menarik tangan Yukiteru, mendekat ke arahnya.

"Kau yakin tidak ingin tidur bersama pacarmu? Bukannya ini kesempatan yang langka, Nona Izuki?" Tanya Akashi, yang lebih tepatnya berbisik di samping telinga Yukiteru.

"Aku tidak tertarik, lagipula sejak kapan kita pacaran?" Jawab Yukiteru dengan cepat sambil mencoba untuk mendorong Akashi, menjauh darinya.

"Masih tidak mau mengakuinya juga?"

Akashi langsung mendorong Yukiteru hingga punggung gadis itu menabrak sebuah daun pintu yang ada di dekat mereka.

"Akashi-san!" Bentak Yukiteru berusaha untuk menjauh dari laki-laki berambut merah itu.

"Ya?" Sahut Akashi sambil membuka pintu tersebut lalu kembali mendorong Yukiteru masuk ke dalam ruangan tersebut. Lalu dengan cepat Akashi langsung menutup pintunya dan menguncinya. Yukiteru melihat ke sekelilingnya, ruangan ini adalah kamar yang luas dan mewah.

"Biar kutebak, ini kamarmu?" Tanya Yukiteru sambil mengangkat satu alisnya.

"Yah, kurasa ini akan jadi kamar kita untuk semalaman ini," jawab Akashi sambil melempar asal tasnya dan berjalan mendekati Yukiteru.

"Heh, kau tidak berpikir yang macam-macam kan?" Tanya Yukiteru sambil berjalan mundur.

"Menurutmu?" Tanya balik Akashi sambil terus berjalan mendekati Yukiteru.

"Akashi-san, kuperingati kau-"

Brugh!

Saat itu Yukiteru menabrak tempat tidur berukuran king size yang ada di belakangnya. Otomatis membuatnya jatuh terbaring di sana. Kesempatan itu langsung digunakan Akashi untuk mendapatkan posisi di atas Yukiteru.

"Akashi-san, menjauhlah!" Bentak Yukiteru sambil mendorong dada laki-laki yang ada di atasnya saat ini.

"Aku tidak menerima perintah dari orang lain," ucap Akashi dengan cepat.

"Aku akan teriak!" Bentak Yukiteru, terdengar suaranya saat ini mulai goyah.

"Percuma saja, tidak akan ada yang mendengarmu," jawab Akashi sambil mengusap ujung kepala Yukiteru.

Ia menatap mata gadis itu yang mulai ketakutan. Yukiteru memeluk tasnya dengan erat dan memejamkan matanya dengan kuat pula.

Cup!

Saat itu Yukiteru merasa ada yang menyentuh pipinya. Ia langsung membuka matanya saat ia mendengar suara tempat tidur. Ia melihat Akashi berbaring di sampingnya.

"Baka, tidak mungkin aku melakukannya sekarang," ucap Akashi sambil tertawa pelan.

Yukiteru langsung menghela nafasnya dengan panjang. "Jangan mempermainkanku seperti itu," jawab Yukiteru dengan suara pelan dan lirih. Kepalanya menghadap berlawanan dari Akashi.

Tangan Akashi langsung bergerak memutar kepala Yukiteru menghadap ke arahnya. Yukiteru hanya menurutinya, ia menatap mata milik Akashi di saat Akashi juga menatap matanya. Yukiteru hanya terdiam bagaikan sedang dihipnotis oleh mata Akashi. Yukiteru memegang pipi Akashi dengan satu tangannya.

"Kau tahu, aku selalu jatuh cinta pada matamu," ucap Yukiteru dengan suara pelan.

Akashi hanya terdiam, ia seperti kehabisan kata-kata saat mendengar ucapan Yukiteru tadi. Saat itu juga ia melihat Yukiteru mengedipkan matanya dengan cepat dan berkali-kali. Lalu gadis itu langsung mengambil posisi duduk.

"Gomen. Lupakan saja kata-kataku tadi," ucap Yukiteru dengan cepat.

Akashi ikut mengambil posisi duduk di samping Yukiteru. "Tidak akan."

"Tapi itu aneh," ucap Yukiteru tanpa menatap Akashi.

"Tidak juga. Pertama kali aku tertarik padamu juga saat melihat matamu saat bermain basket," ucap Akashi sambil tersenyum tipis.

Perlahan Yukiteru menoleh ke arah Akashi.

"Akashi-san," ucap Yukiteru dengan suara pelan.

"Sudah berapa kali aku mengingatkanmu untuk memanggilku dengan nama kecilku?" Tanya Akashi sambil menghela nafasnya.

"Gomen. Aku selalu lupa," jawab Yukiteru sambil menggaruk tengkuk lehernya sendiri.

"Tapi sepertinya kau tidak pernah lupa memanggil Kuroko dengan nama kecilnya," ucap Akashi sambil mengalihkan pandangannya.

"Entahlah itu reflek," jawab Yukiteru sambil mengangkat kedua bahunya.

Akashi hanya terdiam. Ia memutuskan untuk berdiri dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamarnya. Yukiteru hanya terdiam juga saat itu.

Setelah beberapa saat kemudian, Akashi kembali keluar dari kamar mandinya. Ia mengenakan baju yang biasa ia pakai saat akan makan malam bersama dengan ayahnya, yaitu kemeja putih dengan rompi abu-abunya. Ia melihat Yukiteru yang tertidur pulas di tempat tidurnya. Saat itu laki-laki berambut merah itu langsung memanggil pelayannya.

"Akashi-sama?" Panggil pelayannya itu sambil membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam kamar Akashi, yang pastinya ia dahulukan dulu dengan mengetuk pelan pintu kamar Akashi.

"Aku ingin kau membelikanku sesuatu," ucap Akashi.

.

.

.

"Oi, Aka- ah, Seijuro. Kau yakin aku harus mengenakan ini?" Tanya Yukiteru dengan suara keras. Yah, bagaimanapun juga saat ini ia sedang berada di kamar mandi yang ada di kamar Akashi.

"Pakai saja yang ada," jawab Akashi setelah menghela nafas.

Yukiteru hanya terdiam. Setelah beberapa saat, akhirnya ia memutuskan untuk berjalan keluar dari kamar mandi. Akashi yang sudah menunggunya dari tadi langsung menoleh ke arah gadis itu dan tersenyum tipis.

"Sudah siap?"

"Apa maksudmu hah? Ini hanya makan malam biasa. Kenapa harus pakai baju se-formal ini?" Ucap Yukiteru sambil melihat dress yang sebenarnya itu bukan miliknya.

"Makan malam setiap hari di sini memang seperti itu. Ikuti saja yang ada," jawab Akashi sambil menepuk ujung kepala Yukiteru.

"Tapi aku tidak suka. Makan malam di rumahku saja tidak seperti ini," ucap Yukiteru sambil mengerutkan dahinya.

Akashi hanya terdiam lalu menghela nafasnya dengan panjang.

"Setidaknya hargailah aku yang sudah membeli baju itu," ucap Akashi sambil membalikkan badannya.

"Jadi kau tidak ikhlas membelinya?" Tanya Yukiteru sambil mengangkat satu alisnya.

"Tidak juga. Aku memang suka melihatmu pakai dress," ucap Akashi dengan cepat dan suara pelan.

"Hah? Apa katamu?" Respon Yukiteru dengan cepat.

"Sepertinya tou-san sudah ada di ruang makan. Ayo, jangan sampai membuatnya menunggu terlalu lama," ucap Akashi sambil melihat arlojinya dan berjalan keluar dari kamarnya.

"Tch. Aku tidak pernah mengerti orang ini," ucap Yukiteru jengkel, mau tidak mau saat ini ia ikut berjalan dengan Akashi, menuju ruang makan. Di mana kepala keluarga Akashi sudah menunggu mereka berdua.


TO BE CONTINUED


Halo, author kembali hadir XD Chapter kali ini lebih sedikit dari yang sebelumnya. Huehehe. Authornya terlalu semangat buat nge-publish chapter baru :"v Tapi 4 hari kedepan nanti, kayanya author nggak bisa nge-update kilat dulu. Maklum. Berhubung ada ujian :"


Reply review:

Niechan Seicchi : Iya. Chapter pertama dibikinnya pas authornya lagi niat, jadi kebablasan :"v Itu dia. Tapi mulai di chapter ini OC nya mulai dibongkar identitasnya. Abisnya gregetan sendiri authornya(?) /tergaplok OC nya/

Uchiharuno Sierra : huehehe. Ini chapter 2 nya udah ada. Sankyu supportnya. Sebisa mungkin authornya update kilat 'v')9

LeafandFlower : Sankyu :3 okesip diusahakan ya.