Hiruk pikuk terdengar dari segala penjuru Kohona High School. Semua siswa sibuk mempersiapkan acara kelasnya masing-masing. Termasuk pula kelas 11-A. Semua bahu-membahu membuat setting panggung, membenahi kostum, dan ada yang membantu untuk make up artist.
Tetapi, diantara semua kesibukan itu, tak sedikitpun terlihat tanda-tanda kehadiran dari si Blonde Naruto.
"Dimana Naruto?" tanya Tenten panik sambil membawa-bawa baju pangeran yang nantinya akan dikenakan oleh Naruto. Wajahnya terlihat lelah setelah berlari kesana kemari.
"Aku belum melihatnya dari tadi." Jawab Ino yang sedang mendandani Hinata.
Tenten mengurut keningnya. "Bisa-bisanya anak itu menghilang, padahal sebentar lagi pementasan akan dimulai. Kalau ketemu, akan aku hajar anak itu" pikir Tenten.
Terdengar suara hentakan langkah yang sangat cepat dari arah luar kelas. Suara langkah itu semakin lama terdengar semakin keras, menandakan ada seseorang yang terburu-buru itu semakin dekat.
Brak! Pintu di buka dengan keras.
Munculah sesosok Naruto Uzumaki dengan tampang yang berantakan.
"Darimana saja kau!" bentak Tenten.
"Maafkan aku Tenten-chan. Saat aku ke toilet, tiba-tiba pintunya macet dan aku tidak bisa keluar. Kalau tidak ku dobrak, mungkin aku akan terjebak selamanya disitu." Jelas Naruto. "Aku curiga ada yang sengaja menunciku agar pertunjukan ini gagal." Lanjutnya.
"Sudah, jangan pikirkan itu. Sekarang cepat ganti bajumu dan bersiap-siaplah." Tenten memberikan Naruto kostum pangeran.
Di sana, di sebuah sudut kelas bedirilah seorang pemburu sedang mendengus tidak suka.
↗Anne Garbo
→Snow White←
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Warning : peringatan warna warni ada disini. Tapi yang paling saya ingatkan adalah
Saat anda menemukan ranjau typo, dimohon agar jangan diinjak
"Hinata, kau cantik!" puji Ino setelah selesai mendandani Hinata.
"I..Ino terlalu me..memuji." balas Hinata dengan rona di wajahnya.
"Aku serius. Sungguh!"
Ino membawa Hinata keluar dari tempat make up dan membawanya ke atas panggung.
"Hey semuanya! Bagaimana?" tanya Ino ke penjuru kelas sambil menampilkan Hinata di sampingnya.
Suara-suara terdengar. Semuanya memuji bahkan terkagum-kagum atas paras cantik Putri salju di hadapan mereka. Rambut panjang warna ungu gelapnya dibiarkan tergerai dengan bentuk bergelombang, lalu di permanis dengan bando pita merah khas Putri salju. Riasan yang ia kenakan sangat alami, cantik serta cocok untuk wajahnya yang memang sudah indah walau tanpa di poles sedikitpun. Belum lagi dengan baju Putri salju yang ia kenakan. Hinata benar-benar seperti putri yang keluar dari buku dongeng.
Semua terkagum-kagum. Apalagi si pemburu. Matanya seakan tak ingin lepas dari sosok yang berada di atas panggung. Melihat orang itu. Melihat wajah itu. Melihat rona yang semakin dilihat semakin merah, semakin manis. Membuat bibir sang pemburu melekung sedikit ke atas.
Tetapi pada saat mata sang pemburu teralihkan kepada sesosok pangeran yang berdiri tak jauh dari Putri salju, lengkungan bibirnya berubah kearah bawah.
→Snow White←
Pertunjukan di mulai. Kelas 11-A dipenuhi oleh beberapa siswa yang ingin menonton pertunjukkan ini. Tenten selaku narrator berdiri di tengah panggung.
Tenten membacakan isi narasinya. Tak lama, masuklah Ino yang sedang memerankan sosok ratu. "Sekarang ratu adalah wanita tercantik di seluruh negeri, dan sangat bangga dengan kecantikannya. Dia memiliki cermin, yang dia pandangi sosoknya tiap hari dan bertanya."
"Cermin, cermin, cermin di dinding. Siapa di negeri ini yang paling cantik?" tanya Ino sang ratu pada sebuah cermin di hadapannya.
Lalu cemin itu, yang disuarakan oleh Shikamaru dengan suara mati segan hidup tak maunya menjawab, "Anda, ratuku. Hanya anda yang paling cantik."
"Semakin lama, putri dari ratu pun semakin dewasa dan semakin cantik. Putri itu bernama Putri salju. Selain cantik, Putri salju juga baik dan disayangi oleh seluruh penjuru kerajaan. Sehingga, ketika sang ratu bertanya kepada cermin,," Tenten menghentikan narasinya agar dapat dilanjutkan oleh Ino.
"Cermin, cermin, cermin di dinding. Siapa di negeri ini yang paling cantik?"
Cermin pun menjawab, "Anda, ratuku. Itu wajar andalah yang tercantik, dan itu benar. Tetapi Putri salju masih seribu kali lebih cantik dari anda."
Wajah Ino berubah merah karena marah. dia terlihat seakan mengamuk, iri dan benci kepada putri salju. Dengan geramnya Ino memanggil pemburu.
Pemburu itu datang. Melangkah perlahan ke arah ratu yang sedang terbakar emosi.
"Ada perlu apa seorang ratu seperti anda memanggil saya?" tanya sang pemburu. Mata onyx nya memandang dingin, membuat Ino sekejap merinding saat bertemu pandang dengannya.
"Bawa putri salju ke hutan, lalu bunuh dia! Bawalah jantung dan hatinya kembali kepadaku untuk ku makan!" titah sang ratu.
"Baik ratuku." Ucap sang pemburu yang diperankan oleh Sasuke sambil memperlihatkan seringai kejamnya.
Ino dan Sasuke meninggalkan panggung. Setting panggung berubah. Layar dengan latar hutan diturunkan. Lalu masuklah Sasuke dan Hinata. Sasuke memegang tangan Hinata dengan amat posesif. Menuntunnya ke tengah panggung.
Wajah Hinata terlihat ketakutan. Dia berusaha meronta, tetapi tak kuasa karena tenaga sang pemburu begitu kuat menahannya.
"Kumohon, kumohon pemburu yang baik. Tolong jangan bunuh aku." Pinta Hinata dengan nada memelas. Ia duduk bersimpuh tepat di hadapan sang pemburu. Dalam hati Hinata bersyukur sampai saat ini penyakit gagapnya belum kambuh.
Sasuke, sang pemburu melunak mendengar permohonan Hinata. Dengan perlahan dipindahkan tangannya untuk memeluk sosok mungil di hadapannya.
Seluruh kru yang di belakang panggung kaget. Apalagi Hinata. Seingatnya saat latihan tidak ada adegan peluk-pelukan seperti ini. Seharusnya cukup dengan menggenggam kedua tangan saja, seharusnya. Tapi si pemburu mana mau sih menyianyiakan kesempatan.
"Baik, aku tidak akan membunuhmu."
"Ta..ta.. i..itu.. i.. i…i.." Hinata yang masih kaget tiba-tiba lupa dialog yang akan dia ucapkan. Wajahnya memerah. Dia bingung dan penyakit gagapnya pun kambuh.
Sasuke yang melihat tingah lucu Hinata hanya bisa menahan senyum. Sebenarnya sih, niat memeluk Hinata sudah sedari tadi ingin dia lakukan. Hanya saja tidak ada waktu, karena Hinata sibuk menenangkan diri di belakang panggung. Jadi, pada saat ada kesempatan, kenapa tidak di coba saja. Toh dia tidak akan rugi.
Sasuke meregangkan pelukannya. Telunjuk tangan kanannya diarahkan di bibir Hinata yang bergetar. "Ssssst…" bisik Sasuke. Hinata terpaku sesaat. Wajah mereka begitu dekat. Kalau boleh, Hinata ingin pingsan saja daripada sedekat ini dengan Sasuke.
"Nanti aku akan berburu hewan sebagai ganti jantung dan hatimu."
Sasuke bangkit berdiri. Menatap lembut sesosok putri salju di hadapannya. "Jagalah dirimu, Hime." Ucapnya lalu menghilang ke balik layar.
Tenten menepuk keningnya frustasi. Darimana sih ide improvisasi si Uchiha satu itu. Harusnya, kalimat yang akan dia ucapkan seperti, 'Walaupun aku tidak membunuhmu, binatang-binatang liar akan datang dan memakanmu.' nyatanya, kenapa si pemburu malah menasehati si putri salju. Tenten benar-benar tidak habis pikir.
Sekarang bukan Sasuke yang Tenten khawatirkan tetapi Hinata. Wanita itu masih duduk terpaku di tengah panggung. Masih syok atas perlakuan si Uchiha hingga dia panik dan kehilangan konsentrasi.
"Hinata!" teriak Tenten dengan suara tertahan.
Hinata mendengarnya dan langsung berusaha menenangkan diri. Dia menarik nafas, dan mencoba mengingat-ingat dialog selanjutya.
Ekspresi Hinata mendadak berubah menjadi ekspresi ketakutan. Ketakutan putri salju karena ditinggalkan sendiri di hutan besar. Dia melihat ke kanan dan ke kiri dengan cemas. Bola matanya melebar menyadari hari semakin gelap.
Putri salju berjalan, berlari, dan terjatuh hingga menemukan sebuah rumah kecil. Saat mendekat, pintunya tidak terkunci. Putri salju lelah dan tertidur begitu saja di rumah mungil itu.
Tak lama, datanglah 7 kurcaci yang tentu saja terkejut melihat seorang wanita cantik tertidur di rumah mereka. Mereka takjub akan kecantikan wanita itu. "Demi Tuhan! Demi Tuhan!" mereka berseru. "Dia begitu cantik."
Putri salju terbangun mereka menanyakan siapa dia dan bagaimana dia telah menemukan jalan ke rumah mereka. Putri Salju bercerita bagaimana ibunya telah mencoba membunuhnya, bagaimana pemburu membiarkannya hidup, bagaimana ia menjalankan seluruh hari, akhirnya datang ke rumah mereka.
"Menetaplah di rumah kami." Ucap Sai si kurcaci biru.
"Itu jika anda bisa memasak," ucap kurcaci kuning, Shion.
"Menjahit, merapihkan tempat tidur, mencuci, merajut, dan terus semuanya hingga bersih dan teratur." Lanjut Sakura, si kurcaci pink. Putri salju Hinata mengangguk patuh.
"Kami pulang malam hari, sebab siang hari kami menghabiskan waktu di tambang." Kali ini kurcaci hijau, Lee yang bicara.
"Makan malam harus siap saat kami pulang." Tegur Choji, kurcaci jingga.
"Anda akan sendirian pada saat kami tak ada." Ucap kurcaci ungu, Shino.
"Waspadalah tehadap ratu, dan jangan biarkan siapapun masuk." Saran kurcaci merah, Kiba karena khawatir.
Putri salju mengangguk dan tersenyum tulus kepada para kurcaci. "Terimakasih."
Para kurcaci terpesona. Penonton pun ikut terpesona setelah melihat senyum putri salju Hinata.
Putri salju dan 7 kurcaci berjalan ke belakang panggung dan digantikan oleh sosok ratu jahat. Ratu itu terlihat merasa senang setelah menyingkirkan putri salju. Dia melihat cermin miliknya dan bertanya kembali, "Cermin, cermin, cermin di dinding. Siapa di negeri ini yang paling cantik?"
Cermin menjawab, "Anda, ratuku. Itu wajar andalah yang tercantik, dan itu benar. Tetapi Putri salju di atas gunung sana masih seribu kali lebih cantik dari anda."
Sang ratu terkejut mendengar ini, dan ia tahu bahwa ia telah ditipu. Pemburu itu tidak membunuh putri salju. Karena hanya 7 kurcacilah yang tinggal di atas gunung, dia langsung tau bahwa mereka telah menyelamatkannya. Dia resah dan segera merencanakan bagaimana dia akan membunuh putri salju.
Ratu merasa tak tenang. Bolak-balik sambil menggumamkan rencana terbaik untuk membunuh putri salju. Tiba-tiba terlintaslah sebuah ide brilian di kepalanya. Dia mengambil sebuah apel merah nan ranum dari meja dan mengambil sebuah botol berisikan racun dari balik jubahnya. Sang ratu menuangkan cairan itu ke atas apel hingga seluruh permukaan apel terlumuri oleh racun itu. Melihat hasil pekerjaanya, sang ratu tertawa puas.
"Putri salju akan mati, walaupun imbalannya adalah nyawaku sendiri!"
→Snow White←
"Bagaimana peranku tadi?" tanya Ino kepada Tenten di belakang panggung.
"Sangat bagus! Kau benar-benar cocok jadi peran jahat Ino."
"Huh~ pedas sekali ucapanmu Tenten."
Tenten hanya mengangkat bahu. Sebenarnya dia tidak begitu menghiraukan perbincangannya dengan Ino, karena ia saat ini sedang khawatir. Khawatir karena mulai saat ini adegan akan semakin berat dan sulit. Semoga saja para pemain bisa berakting dengan baik.
Di panggung Hinata sedang berakting membersihkan ruangan. Dia memegang sapu dan sesekali berdendang kecil. Tak lama, sebuah tembok kayu yang terletak di atas panggung yang digunakan sebagai ilustrasi sebuah pintu diketuk oleh seseorang.
Hinata mengintip dari balik celahnya dan ia melihat sesosok nenek tua berambut merah putih (karena uban) sedang tersenyum kepadanya.
"Ada apa ya nek?" tanya putri salju lembut sambil mengintip.
"Saya adalah petani penjual apel, ingin menawarkan sebuah apel yang ranum ini kepada anda. Bukalah pintunya."
"Saya tidak diizinkan untuk membiarkan siapapun masuk. Para kurcaci telah melarang saya."
"Jika anda tidak ingin, saya tak bisa memaksa anda," kata nenek petani. "Tetapi, cicipilah setidaknya satu gigitan, untuk menghargai nenek tua yang telah jauh-jauh berjualan apel kesini." Ucap si nenek petani apel sambil menyodorkan salah satu buah apel.
Putri salju terdiam. Dia terlihat seakan menimbang-nimbang.
"Lihatlah apel ini. Warnanya merah menggoda. Rasanya pun pasti sangat manis." Goda si nenek.
Putri salju menelan ludahnya. Selain kasihan kepada si nenek, sebenarnya dia juga tergoda untuk mencicipi apel itu.
"Ba..baiklah. Hanya satu gigitan." Ucap putri salju.
Putri salju membuka pintu dan mengambil apel itu. Hanya satu gigit, sang putri salju jatuh ke tanah dan mati.
Sang nenek senang. Dia tertawa mengerikan.
"Dasar anak bodoh! Mudahnya kau terjebak dalam perangkap seperti itu." Dia tertawa. "Sekarang akulah wanita yang paling cantik di negeri ini!" ucapnya lagi lalu meninggalkan putri salju seorang diri.
Tak lama setelah perginya sang nenek petani datanglah ke-7 kurcaci. Mereka terkejut hingga menjatuhkan peralatan tambang mereka dan segera berlari ke arah sang putri salju. Mereka menangis atas kepergian sang putri nan baik hati.
Mereka bahu membahu mengangkat putri salju ke dalam peti kaca. Mereka menangis dan terus saja menangis.
Tenten kembali menarasikan cerita, "Putri Salju berbaring di peti mati waktu yang sangat lama, dan dia tidak membusuk. Dia berbaring di sana seolah-olah ia sedang tidur. Suatu hari seorang pangeran muda tersesat di hutan dan menemukan peti yang berisikan putri salju."
Naruto datang dengan gagah. Wajahnya terlihat terkejut saat melihat sesosok wanita cantik sedang tertidur dalam peti. Sang pangeran menghampiri peti itu. Lalu datanglah 7 kurcaci. Mereka mengusir pangeran karena mereka kira pangeran sama jahatnya dengan sang ratu. Tetapi pangeran bersikeras meyakinkan bahwa dia bukanlah orang jahat.
Pangeran itu mendapatkan keyakinan dari para kurcaci lalu bertanya perihal yang terjadi. Kurcaci menceritakan semuanya. Pangeran merasa simpati kepada putri salju dan menatap putri salju dalam diam. Semakin dilihat, pangeran merasakan perasaan yang aneh pada dirinya.
"Kurasa, aku telah jatuh cinta padanya. Andaikan aku bisa membangunkannya," ucap si pangeran.
Sebenarnya dalam inner Naruto dia sudah sangat berdebar-debar karena adegan berikutnya adalah adegan pangeran akan membangunkan si putri salju. Hinata juga tidak kalah gugupnya. Di balik wajahnya yang tenang seolah sedang tertidur, tetapi rona di wajahnya yang semakin jelas itu adalah bukti bahwa dia sedang gugup berat.
Naruto memajukan tubuhnya sedikit ke Hinata. Pelan.. pelan.. pelan.. Hingga tiba-tiba dia merasakan benda tumpul menempel di tengkuk belakangnya. Saat dia menengok, matanya terbelalak kaget mendapati Uchiha Sasuke menodongkan pedang kayu ke tengkuknya. Tatapan Uchiha itu dingin, seolah seperti pemburu yang akan membunuh korbannya.
"Menjauhlah darinya!" desis Sasuke dengan nada mengancam.
Naruto meneguk ludahnya dan segera berdiri. Hinata yang berada dalam peti bertanya-tanya kenapa terdengar suara Sasuke, namun tidak sedikitpun berani membuka matanya.
Naruto tau kalau Sasuke cemburu. Tetapi dia tidak menyangka akan seperti ini tindakan yang akan temannya lakukan. Menerjang masuk ke panggung dan merusak drama? Heh, cara Uchiha kah itu?
"Seorang sepertimu tak pantas jatuh cinta kepada sang putri salju." Ancam Sasuke lagi.
Naruto mengangkat sebelah alisnya heran. Putri salju? Jadi, si Teme nya ini sedang merubah cerita nih? Dia menyeringai lebar. Lebih baik dia ikuti saja permainan temannya itu.
"Apa maumu pemburu? Kau tak berhak melarangku."
Semua kru di belakang panggung was-was mengenai kelanjutan pertunjukkan mereka. Para pemeran kurcaci yang masih di panggung pun hanya terbegong-bengong melihat 2 orang yang sedang beradu acting itu.
"Bertarunglah denganku, untuk menentukan siapa yang pantas membangunkan putri salju!" ajak sang pemburu.
Pangeran menyetujui ide itu lalu mencabut pedangnya. Lalu terjadilah adu pedang diantara mereka. Kru di belakang panggung harap-harap cemas. Para kucaci kabur ke belakang panggung. Tinggalah Hinata yang masih pura-pura tertidur, dan kedua pria yang sedang bertarung.
Suara adu pedang kayu pun terhenti. Hinata bingung harus bagaimana. Mau membuka mata, tetapi takut menghancurkan cerita. Dia tau, walaupun tak yakin bahwa Sasuke pasti telah mengacaukan pertunjukkan.
Penasaran. Hinata sungguh penasaran dengan apa yang terjadi. Mendadak suasana menjadi sepi. Yang terakhir kali ia dengar adalah suara Naruto, tapi tidak jelas dia bicara apa karena dia ada dalam peti. Rasa penasaran Hinata semakin kuat saat dia merasa ada seseorang di dekatnya. Karena tak tahan dengan rasa penasarannya, Hinata mencoba untuk mengintip sebelah matanya, untuk sekedar melihat apa yang terjadi.
Hanya sebentar. Hinata hanya mengintip sangat sebentar lalu kembali menutup mata. Wajahnya memerah bukan main. Bagaimana tidak, saat ini wajah Uchiha Sasuke semakin lama semakin dekat dengannya.
Hinata bingung. Hinata takut. Pikirannya sudah meracau kemana-mana. Masalahnya, jika bersama Naruto, mereka sudah sepakat hanya pura-pura saja. Paling ada jarak sekitar 2-5 cm. yang penting tidak kena tapi cukup meyakinkan para penonton. Nah ini, sama Sasuke? Hinata bukannya merasa ge-er, tapi Manusia satu ini sukaaaa banget ngerjain dia.
Sasuke senaaaang sekali melihat ekspresi Hinata yang seperti ini. Pura-pura tenang tapi gugup minta ampun. Wajahnya merah, sudah seperti tomat. Sangat senang hingga sengaja saja dia perlambat untuk bisa melihat wanita di depannya ini lebih kasihan juga sih. Dan sayang juga kalau hanya dilihat saja. Toh buah ranum itu terlihat lebih menggoda daripada biasanya.
Hinata menahan nafasnya saat merasa hembusan nafas Sasuke terasa di wajahnya. Gugup dan takut pikirannya benar-benar terjadi. Mendadak semuanya terasa sunyi. yang terdengar hanyalah deru nafas Sasuke dan suara debaran jantungnya.
Hinata merasa aneh saat merasakan benda lembut mendarat di keningnya. Dia bingung, tetapi masih enggan membuka matanya hingga terdengar suara bisikan lembut di dekat terlinganya, "Bukalah matamu."
Hinata diam mencerna maksud suara itu. Dia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dia memiliki spekulasi sendiri, tapi takut mengakui bahwa spekulasinya mungkin saja benar.
"Kalau tidak mau buka mata, aku akan mencium di tempat yang lain." Goda Sasuke dengan suara yang rendah dan masih dekat dengan telinga Hinata.
Mendengar itu, secepat kilat Hinata membuka matanya. Dia dapat melihat Sasuke menyeringai kearahnya. Wajahnya tambah memerah saat dia ingat kalau ini masih di atas panggung, dan mereka masih menjalankan pertunjukkan.
"Sa..sasu.. eh.. tu..tu…tu…tu..tu…" Hinata tergagap.
"Hinata, inprovisasi!" teriak Tenten.
Hinata terhenyak. Dia ingin menyelamatkan pertunjukkan ini.
"Tu..tuan Pemburu, te..terimakasih telah menyelamatkan saya." Ucap sang putri salju.
Setelah itu, putri salju dan pemburu saling jatuh cinta. Pangeran yang melihat betapa besar cinta sang pemburu ke putri salju pun membantu mereka untuk menyingkirkan sang ratu jahat. Para kurcaci pun ikut membantu. Sang ratu terdesak dan akhirnya mati bersama cermin miliknya.
Akhir kisah, putri salju dan pemburu hidup bahagia selamanya di dalam hutan bersama 7 kurcaci.
→Snow White←
Tenten mengelap keringatnya saat seluruh penonton telah pergi dari kelas mereka. Hari ini adalah hari yang berat. Dibilang lancar sih juga tidak. Kacau juga tidak. Hanya saja, perang mental membuatnya begitu lelah.
Di hadapan Tenten saat ini berdirilah sesosok manusia angkuh yang tak ingin disalahkan atas kekacauan pertunjukkan tadi.
"Kau ini, benar-benar… Apa sih yang kau pikirkan?" omel Tenten. Tapi percuma saja dia mengomel, toh daritadi tidak ada sedikitpun respon yang ia dapat dari si Uchiha satu ini.
"Yasudahlah, yang penting pertunjukkannya bisa berjalan sampai selesai, walaupun endingnya berubah drastis. Berterimakasihlah pada teman-teman yang lain, karena mereka mau membantumu improvisasi."
"Hn." Balas si Uchiha yang berhasil menyulut kembali kekesalan Tenten.
Belum sempat Tenten mengomel kembali, Sasuke sudah menghilang. Yah, begitulah Uchiha.
→Snow White←
Sasuke melihat Hinata yang sedang tertidur di sebuah kursi di tempat make up. Hinata yang masih menggunakan kostum putri saljunya terlihat sangat terlelap dalam tidurnya. Sepertinya dia lelah setelah serangkaian kejadian yang disebabkan oleh Sasuke. Apalagi, gadis manis yang polos itu harus putar otak untuk improvisasi.
Sasuke menghampiri Hinata. Mengamati gadis itu dari dekat. Mulai dari rambutnya, bulu matanya, pipinya, hidungnya, lalu ke bibirnya. Sasuke agak menyesal sih, kenapa tadi dia tak langsung saja cium bibirnya. Tapi gak nyesel juga sih, dia suka mengerjai wanita satu ini.
Tapi entah kenapa yaa, makin di pandang bibir merah ceri itu semakin menggoda. Sasuke berusaha menahan dirinya. Tapi nyatanya,, di dekatkan juga wajahnya ke wajah sang Heiress Hyuuga.
Cup.
"Wake up, Snow White." Bisik Sasuke.
Sasuke geli sendiri menyadari tindakannya tadi. Dia terkekeh, lucu pada diri sendiri.
Tapi tanpa di sadari oleh Sasuke, bola mata perak itu perlahan terbuka. Menatap bingung sosok dihadapannya yang sedang menahan tawa.
"Sasuke-kun?" ucap Hinata.
Sasuke malu. Dia takut ketahuan telah mencium diam-diam. Tanpa dia inginkan wajahnya memerah.
Hinata yang melihat tingkah laku aneh Sasuke hanya memandang heran. Memangnya ada yang aneh pada saat dia tertidur ya? Seingatnya dia tertidur dalam keadaan biasa saja. Bibirnya tidak terbuka dan tidak ada liur kan? Hinata mencoba berfikir. Seingatnya dia tadi terbangun karena merasakan tekanan aneh di bibirnya lalu tak lama dia mendengar suara Sasuke seperti memanggilnya snow white kalau tidak salah.
Apa dia dicium oleh Sasuke ya? Eh, cium? Hinata langsung menyentuh bibirnya. Tidak mungkin kan Sasuke menciumnya saat tertidur?
Sasuke melihat Hinata menyentuh bibirnya, bertambah panik. 'Jadi, ketahuan nih?' pikirnya.
"Maaf." Kata Sasuke memecah keheningan diantara mereka berdua. "Aku tidak sengaja mencium mu saat tertidur."
Hinata lemas. Tidak sengaja cium katanya? Terus, ekspresi menahan tawa itu maksudnya apa coba? Senang kalau Hinata gak sadar gitu?
Pandangan Hinata mulai memburam tertutup airmata. Siapa juga yang tidak menangis saat ciuman pertamanya diambil secara diam-diam, dan dilakukan secara tidak sengaja pula. Kami-sama pasti sedang benci Hinata saat ini.
Sasuke bertambah panik saat melihat bulir airmata siap tumpah dari kedua pelupuk mata Hinata. Dia bingung bagaimana cara agar wanita ini tidak menangis.
"Maaf, itu tidak sengaja." Katanya lagi.
Tes. Air mata Hinata telah menetes. "Ti..ti..tidak se..sengaja.." ucap Hinata diantara isakannya.
Sasuke menggaruk belakang kepalanya. Aduh, bagaimana lagi ini?
Tiba-tiba otaknya terlintas ide bagus. Seringai nakal pun kembali menghiasi wajahnya.
"Aku membangunkanmu dari tidur panjang, Hime. Seperti cerita yang kita mainkan tadi." Sasuke mendekat. Diulurkan tangannya untuk menghapuskan air mata di pipi Hinata. "dan seperti cerita tadi, jika ada seseorang yang membangunkan snow white dari tidurnya, maka snow white harus menjadi milik orang itu."
Wajah Hinata memerah. Dia diam menatap kelereng onyx yang seakan menyihirnya.
"Saat aku kesini, aku melihat Snow white yang sedang tertidur. Aku jatuh cinta padanya, dan menginginkan dia menjadi milikku. Jadi, aku tidak sengaja mencium mu Hime." Wajah Sasuke mendekat dan kembali mengecup pelan bibir Hinata. "Karena aku ingin agar kamu menjadi milikku."
Mendengar itu, Hinata pingsan seketika.
Di sisi lain kelas, mereka para kru siswa siswi 11-A melihat kejadian itu dari awal hanya bisa menahan tawa.
→Snow White←
Hinata bingung dengan teman-temannya hari ini. Seingatnya, dia tidak ulang tahun hari ini, dan tidak ada perayaan apa-apa, tetapi kenapa malah banyak yang memberinya ucapan selamat?
"Selamat ya Hinata! Aku tunggu traktiranmu." Ucap Kiba.
"Selamat untuk apa?"
"Ah, kau tak perlu malu begituuu…" goda Kiba sambil meyikut bahu Hinata pelan.
"Hey, kalian bisa terlambat kalau berjalan lambat begitu!" teriak Lee sambil berlari mendahului mereka. "Oya Hinata.. Selamat yaa..!"
"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Hinata kepada Kiba.
Kiba merangkul bahu Hinata. Jangan kaget dengan adegan ini, karena seperti yang diketahui, mereka ini sudah berteman dari TK. Jadi, adegan seperti itu sihh.. biasa.
"Kau benar-benar tidak ingat?" tanya Kiba penuh selidik.
"Tidak ingat mengenai apa?" tanya Hinata balik.
"Drama kemarin loh~ benar-benar tidak ingat?"
"Kau membuatku bingung, Kiba."
Kiba menghela nafas pasrah. "Kau kan sudah jadian dengan Uchiha Sasuke"
Sing… Hinata membeku.
Tes tes.. semoga saja pendengarannya tidak salah.
"Karena sudah jadian itulah, makannya kami ucapkan selamat. Nah~ karena aku temanmu, aku minta traktir ya Hina.. Eh Hinata? Hey Hinata!"
"Ki..kiba se..sepertinya itu…"
Belum sempat Hinata menyelesaikan kalimat sanggahannya, tiba-tiba muncul tangan pucat melintang antara dia dan Kiba. Tangan itu dengan kuatnya mendorong Kiba menjauh lalu memeluk Hinata dengan posesif.
"Menjauhlah dari wanitaku!" ucap Sasuke dengan nada mengancam.
Kiba mengangguk. Dia segera pamit ke Hinata lalu kabur ke kelas.
Hinata yang masih dalam dekapan Sasuke meneguk ludah, gugup.
"Sa..sasuke.." panggil Hinata.
"Hn?" Sasuke menatap wanitanya dengan perhatian penuh.
"Ba..banyak orang ya..yang me..menyangka kalau ki..kita ber..ber..berpa..ca..ran." ucap Hinata gugup. Dia hanya memandang sepatunya agar tidak bertatapan dengan Sasuke. Mau bagaimana lagi, kalau dalam posisi seperti ini, wajah mereka sangatlah dekat.
"Kenapa memang? Itu kan kebenaran."
Wajah Hinata memerah. "Se..sejak ka..kapan? A..aku…"
Sasuke memindahkan kedua tangannya ke pipi Hinata. Menahan agar wajah cantik itu hanya menatapnya. "Kemarin. Kan kau sudah ku cium." Jawab Sasuke dan jangan lupa dengan seringaiannya.
Mata Hinata kunang-kunang. Ucapan itu, wajah yang dekat itu dan seringaian jahil itu. Hinata tidak tau kenapa jantungnya berdetak sangat cepat seperti ini. Dan wajahnya, pasti sudah sangat memerah. Malu, aneh, tak nyaman dan kaget, itu yang dia rasakan.
"Kau lupa? Apa mau ku ulang hm?"
Hinata kehabisan nafas, dan pingsan di pelukan Sasuke.
→Snow White←
FIN
.
.
.
.
.
(Ternyata ada tambahan.)
"Hinata bangun."
Terdengar sebuah suara berat. Suara itu cukup mengganggu hingga Hinata menggeliat dari tidurnya.
"Harus ku cium berapa kali agar kau terbangun hah?" suara itu terdengar kembali.
Hinata membuka matanya dan mendapati Sasuke menatapnya intens.
"Sasuke-kun kenapa bisa ada disini?" tanya Hinata polos. Masih terkena pengaruh ngantuk mungkin.
Disini maksud Hinata adalah kediaman Hyuuga. Jadi, pertanyaan Hinata, bagaimana bisa orang itu masuk ke kediaman Hyuuga lebih tepatnya di kamarnya pagi-pagi buta?
"Jendelanya tidak terkunci, jadi aku masuk saja." Jawab Sasuke ngawur.
"Oh." Hinata ikut ngawur. "Lalu, sedang apa disini?" tanyanya lagi sambil mengucek matanya. Oh~ Hinata yang saat ini terlihat sangat manis di mata Sasuke.
"Tentu saja untuk membangunkan putri salju." Jawabnya sambil menyentuh bibir Hinata dengan ibu jarinya.
Blush. Hinata merona. Mungkin dia sudah sadar sepenuhnya.
"Eee..eee.. aa..apa?"
"Aku takut jika bukan aku yang membangunkanmu, kau akan jadi milik orang lain."
"Ma..maksud Sa..Sasuke-kun?"
"Aku akan mencium dan menunggumu sampai bangun setiap kali kau tertidur, agar aku menjadi orang pertama yang kau lihat, Hime." Jelas Sasuke.
Bruk. Hinata lagi-lagi pingsan setelah digoda oleh Sasuke.
Lagipula siapa yang tahan coba kalau digoda seperti itu oleh seorang Uchiha Sasuke?
FIN
(Beneran)
Anne tau..Anne tau fic ini jauh banget dari prespeksi (bener g sih tulisannya) reader sekalian.. (yang mungkin udah pikir yang enggak-enggak tentang rencacanya Sasuke)
Anne sebenarnya udah mikirin triknya Sasu yang lain seperti si Sasu nya ngebakar sekolahan, atau gantiin Hinata jadi Snow White, tapi karena ada kemalasan dalam meng-edit cerita, jadi Anne gak apa-apain dengan rencananya Sasuke.
Lalu, mohon maaf klo pas bagian drama bikin reader bingung. Sebenarnya mau d benerin, tapi... sekali lagi karena malas edit (apalagi dalam event yang kita kenal sebagai libur lebaran ya) jadi Anne gak benerin. Dan sebenarnya juga mo dibikin detail pas drama nya, tapi nanti bukan jadi two shot karena bakalan panjang dan akan nambah chap (jangan lupa faktor malas juga).
Tolong jangan lemparin Anne pake batu, pake duit aja yang lebih enak #plak
Terakhir, Anne berterimakasih kepada Reader yang berbaik hati mau me-review fic tak jelas ini. Maaf gak bisa di balas satu2.
Nadya Funadya, Rosecchi, Momoka, Minji-d'BlackJack, Miss kurama-chan gak login, n, Lily Purple Lily, Lyla Lonyx, nindylovesasuhina, diarnandini, HanYessie3424, chizu, Keikobuu89glogin, Minami Eika, , LeoRio, akdifta, ray phantomhive, Indigo Mitha-chan, Nilafishy94, Guest.
Dan khususon untuk Mr. Valeria Lucifer = saya akan mencoba eksperimen dengan pair lain.
Nah~ sekarang Anne tunggu review nya yaa..
yang manis boleh, yang pedes boleh.. asalkan ada review yang nyangkut, aduh,, Anne senang sekali.
Thanks
Best Regards,
Anne Garbo.
Note : yang ini sudah saya edit yaa..jadi selamat membaca.
