Realita membawamu terlepas dari ego.
Menuju dewasa,
Apa yang mutlak kau lakukan.
Dan ikatan takdir,
Membawamu melihat kenyataan manis melenakan,
Juga…
Dunia di titik nadir.
~XxX~
Melodys From Heart
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning(s): AU, OOC, alur dipaksain, nista, gak mutu, dialog gak niat, konflik gak jelas.
My first multichip fic in this fandom
Dedicated to Fidy Discrimination
~XxX~
"Aku Namikaze Naruto, siswa kelas G,"
Aku akan dibunuh!
Sakura mendelik. Otaknya memutar segala kemungkinan cara melarikan diri paling jitu. Namun, semua nihil. Ia bahkan tak mampu bergerak dari tempatnya. Orang asing berambut pirang tersenyum lebar di hadapannya, memerkenalkan diri dengan santai seolah tak mampu membaca raut ketakutan dari wajah Sakura yang perlahan memucat memikirkan apa yang akan dilakukan Tsunade-sama pada dirinya jika ia ketahuan membolos dan berurusan dengan murid belakang.
"Kau ini, Haruno Sakura, kan?" ia mengulangi kalimatnya, berusaha mendapatkan kejelasan dari apa yang didapatkan otaknya dari hasil mengingat singkat melalui petunjuk musim semi.
"A, aku, aku hanya… aku hanya fan Sakura, kok!"
Refleks bagus, dan Sakura bersyukur dengan itu. Ia memamerkan senyum kaku, sedikit kikuk. Sementara pemuda yang mengaku sebagai Namikaze Naruto itu mengerutkan keningnya, terlihat sedang berpikir keras atas pengakuan yang dibuat gadis di depannya. Gurat tak percaya yang ditunjukkannya makin membuat Sakura ketakutan.
"Aku tidak percaya, kau mirip sekali dengan gadis penghibur itu!"
Empat sudut melengkung berkedut di kening Sakura. Telinganya memanas, sedetik kemudian sebuah tinjuan penuh tenaga mendarat di wajah Naruto, membuatnya sukses terpintal jauh dari tempat Sakura berdiri. Gadis itu masih menyiapkan kepalan tangannya, kobaran api merah besar menjadi latar perasaannya. Sementara Naruto yang kini tengah 'menikmati' posisi ajaibnya hanya mengerang kesakitan.
"Aku bukan Gadis Penghibur! Tarik kembali jika kau masih ingin hidup, Baka!"
Suara lembut nan merdu terlepas dari Sakura. Kini yang keluar tak lebih dari suara-suara paling mengerikan yang pernah ada. Naruto bangkit dari posisinya. Merah di wajahnya seolah hadiah pertemuan yang diberikan Sakura. Dan ia yakin, luka lebam di wajah dan hidung yang berhasil membuat organ penciumannya berhulu seperti anak sungai itu akan menetap hingga beberapa hari. Yeah, setidaknya sambutan yang 'unik'.
"Kenapa kau harus semarah ini, sih? Aku kan tidak mengataimu!" Naruto membela diri sambil menyandarkan bahunya ke batang pohon seraya mengelus pipinya yang kini bengkak, setelah menyeka darah yang keluar dari hidungnya.
Benar-benar pukulan luar biasa dan ia nyaris tidak percaya ada gadis ramping yang manis berkekuatan gajah seperti itu. Tentu saja, pengecualian untuk Tsunade-sama dengan kekuatan yang jauh melebihi gadis ini. Jika gadis berambut pink itu berkekuatan gajah, maka Tsunade-sama adalah banteng beringas.
"Tidak mengatai kau bilang? Lalu, apa yang kau katakan tentang 'gadis penghibur' itu, hah? Dasar kau manusia rendah!"
Lembaga sensor, penggemar, atau apa pun itu tak lagi dipedulikan Sakura. Yang ada saat ini dalam kepalanya hanyalah bagaimana mendapatkan penjelasan tentang gelar menjijikkan yang baru saja dialamatkan pemuda di hadapannya pada dirinya. Tak peduli jika ia baru saja memaki orang yang baru ditemuinya itu beberapa menit yang lalu. Tak peduli jika bahkan popularitasnya anjlok sampai titik paling rendah sekali pun.
Yeah, siapa yang bisa berpikir jernih ketika amarah berkuasa? Tidak ada, dan hal itu tentu saja tetap berlaku bagi Sakura. Bagaimana pun, dia hanya gadis berwajah malaikat. Bukankah tak ada yang menjamin, wajah dan hati selamanya harus bersisian?
"Hei Nona, aku mengatai Sakura. Kau hanya fan si pinky itu, kan?"
Untuk sesaat, Sakura sempat bersyukur mendengar kalimat orang itu. Bukan karena sudah tak memersalahkan dengan panggilan yang tadi ia berikan, namun bersyukur karena ternyata pemuda pirang itu percaya saja jika ia memang fan Sakura. Ya, setidaknya, identitas Sakura tak akan ketahuan untuk saat ini. Tapi, ia merenggut dalam hati. Rasanya, ia masih ingin memaki dan memukul orang itu hingga terlempar sejauh mungkin atau membenturkan kepalanya hingga ia sama sekali tidak ingat pada apa yang baru saja terjadi.
"Lagipula, memang benar kan? Kalau bukan pengibur, apalagi? Dia menyanyi untuk menghibur. Ya namanya, penghibur!" sangat yakin, Naruto menjelaskan argumennya.
Entah bagaimana kesimpulan yang ditarik oleh Sakura, yang ada di kepalanya hanyalah, apa orang ini kelewat pintar menafsirkan kata-kata atau saking bodohnya, ia bahkan tidak menyadari jika kata 'gadis penghibur' itu sedikit menyimpang.
"Hah, terserah sajalah! Aku tidak boleh ada di sini. Aku harus pergi!"
Sakura menghela napas, ia harus segera pergi dari sini jika benar-benar tidak ingin mendapat masalah. Yang paling penting, semoga saja ia tak lagi bertemu dengan orang aneh berambut pirang ini.
"Yeah, peraturan baru yang dibuat Nenek Tsunade tidak akan memaafkanmu!"
Sakura sejenak tersentak, kaget dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki itu.
"Kau tahu hal itu?" ia memandang lekat entitas yang berdiri santai di hadapannya.
Naruto mengangkat bahunya, menyampirkan sebuah senyuman.
"Tentu saja! Kami semua tahu hal itu, tapi, tak masalah,"
Sakura tertegun, tak menyangka jika murid belakang, yang mendapat predikat sebagai pengacau sekolah, pembuat onar, kasar, dan murid-murid paling sering mendapat makian tak mengenakkan, bisa menerima pengisolasian mereka.
Bukannya Sakura mendukung aksi mereka, menurutnya, mereka tetap bersalah ketika mencoba untuk membuat sensasi dengan tindakan anarkis di sekolah. Namun, apa mereka yang keras kepala itu, tak berniat mendapatkan penyamarataan hak selayaknya anak-anak lain?
"Kenapa? Padahal, selama ini kalian akan membuat kekacauan jika kalian mengganggap itu salah. Yah, walaupun itu hanya sebagian alasan kecil. Tapi, kali ini semua menyangkut harga diri kalian. Maaf, tapi kalian seolah-olah dibuang!"
Naruto tersenyum santai, seolah apa yang dikatakan Sakura hanyalah masalah biasa. Seolah 'pembuangan' bagi mereka adalah hal sederhana yang percuma untuk dipikirkan.
"Mereka tidak akan melakukan hal ini jika kami mengizinkan mereka untuk masuk. Sayangnya, kalian semua tidak akan mengerti!" Naruto berucap dalam serius, berusaha untuk berahasia pada gadis di depannya.
Kembali Sakura tertegun melihat perubahan air muka pemuda di hadapannya. Wajahnya serius, tatapan mata secerah langit musim panas terlukis sempurna, tatap yang tak bisa diungkap hanya dengan rangkaian seribu satu klausa berkonstruksi elegansi. Dan keyakinan yang entah darimana, berimbas pada Sakura. Membuatnya ingin melangkah memasuki dunia mereka.
Dunia yang mereka jaga dari penetrasi orang-orang yang mereka anggap tak pernah mengerti diri mereka. Dunia yang mereka cipta hanya untuk mereka. Entah dengan pondasi dan tujuan apa. Tapi, hanya dengan tatapan yang diberikan pemuda itu, Sakura dapat mengerti, bahwa dunia mereka ada untuk saling memahami. Mereka bukannya manusia-manusia tanpa rasa yang tak berguna seperti orang-orang yang tak mengerti mereka, mereka hanya berusaha untuk melindungi apa yang mereka yakini. Entah apa.
"Kenapa? Kalau kalian mengatakannya, kurasa, semua akan mengerti!" suara Sakura melembut, tatapan emerald-nya melirih sebagai ganti tatapan luas langit biru.
Naruto tersenyum, ia memasukkan kedua tangannya dalam saku celana, kemudian berbalik membelakangi Sakura.
"Kau tidak boleh melanggar aturan, Nona!" ujar Naruto sebelum akhirnya menghilang dari pandangan Sakura.
Gadis itu menautkan alisnya, masih merasa bingung. Namun, akhirnya hanya memutuskan untuk tidak tahu tentang 'aturan' yang mungkin saja mereka sepakati dalam dunia mereka.
"S-Sakuuraaa-chaan…?"
Terkejut, Sakura menoleh was-was demi mendapati Hinata yang memandangnya dengan raut wajah yang tak mampu digambarkan, antara terkejut, tak percaya, dan takut. Tentu, ia baru saja mendapati sahabatnya mengobrol dengan siswa pirang dari kelas belakang yang terlarang untuk di dekati, meski tak tahu apa yang telah mereka bicarakan. Tapi, melanggar aturan dengan alasan apa pun, tetap saja melanggar.
Sakura menelan ludah, berusaha untuk merilekskan diri sekaligus kembali memutar otak untuk menenangkan Hinata. Ya, kalau perlu membungkam mulutnya untuk tak mengatakan apa pun tentang apa yang baru saja dilihat si Miss Perfect itu.
"Eh, a, ano. Itu… Hinata-chan, apa yang kamu lakukan di sini?" Sakura mengalihkan pembicaraan.
Hinata yang masih agak terkejut, mengalihkan pandangan ke arah sebelah kanannya. Tak perlu mengatakan sesuatu, Sakura juga akan tahu. Dan seketika, mata Sakura membulat, jauh dari tempatnya, nampak Kurenai-sensei sedang menjelaskan struktur batang pohon.
"H-hari inii, adaa out class study. La-lagipula, Sakura-chan, apa yang Sakura-chan lakukan dengan orang tadiii?" Hinata berusaha mencuri pandang di balik punggung Sakura, mencoba untuk melihat orang yang kini sudah menghilang itu.
"Ah, sudahlah! Jangan dipikirkan. Ayo, Hinata-chan, kita ke tempat Kurenai-sensei!"
Sakura tersenyum ceria sambil memasang topeng yang biasa ia gunakan di atas panggung. Hinata yang tak pernah melakukan interaksi langsung dengan penggemar otomatis terhipnotis saja.
Tentu, model catwalk atau majalah, tak melakukan interaksi seperti penyanyi yang mengharuskan ada komunikasi dengan penonton yang menyaksikan. Jadi, meski Hinata pemalu seperti itu, tetap saja dapat menguasai panggung. Walaupun, ia harus melatih mentalnya untuk tidak menganggap eksistensi ribuan pasang mata itu ada. Yang perlu ia lakukan hanyalah, bagaimana menampilkan aura elegansi dalam dirinya ketika menyusuri catwalk.
~XxX~
"Hei Naruto, darimana saja, kau?" ucap Pein kasar, rasanya muak sekali ia melihat salah satu anggota kelasnya lagi-lagi membolos. Dan itu cukup membuat dia selaku ketua kelas kembali harus bertanggung jawab pada Killer Bee-sensei yang hari ini mengisi kelas kimia.
Bocah pirang itu berjalan santai ke arah Pein, dengan tatapan malas, ia menjawab, "Perhitungan bukan pelajaran yang menyenangkan buatku. Jadi, berjalan-jalan sebentar tak apa, kan?"
"Tak apa, katamu? Aku harus ditahan di ruangan Killer Bee dengan kedua tangan dan kaki diikat karena dia mengira aku akan segera memukulnya jika dipaksa. Dan itu semua karenamu! Sekarang dengan santai kau katakan bahwa itu tak apa?" tatapan panas dan aura bara api menjadi latar sempurna bagi mental Pein.
Sementara Naruto yang masih memandangnya setengah hati hanya menampakkan wajah kusut. Dia bukannya marah atau kesal diperingati oleh Pein seperti itu, namun kata-katanya untuk saat ini sungguh tak tepat dengan suasana hatinya yang… err… sedikit meminta kedamaian.
"Kau tak kehilangan apa pun kecuali kesabaranmu, kan? Itu bukan masalahku. Sebaiknya kau mengurangi emosi burukmu jika tidak ingin tekanan darahmu naik!"
Kali ini Pein sudah akan melayangkan tinjunya ke arah Naruto, jika saja sekretaris kelas, Konan, tak datang memanggil mereka. Ya, dihadapan Konan, mana bisa Pein berkutik. Bagaimana pun otoritas yang selama ini diberikan secara mutlak pada Pein beserta seluruh tanggung jawabnya, ia tak akan mampu untuk tak berhenti bersikap sok sopan atau sok manis di hadapan gadis yang menahan sebelah hatinya itu.
Meski siapa pun tahu, gadis manis berambut kelam itu terkenal dengan kekasaran tinggat akut yang bahkan di luar perkiraan. Ya, jika dia gadis sopan dan feminism seperti penampilannya, ia tak akan berada di kelas belakang, bukan? Dan walau tahu seperti itu, tetap saja Pein menyukainya. Tentu, batasan apa yang tak tertembusi oleh satu kata berstruktur sihir itu?
"Sebenarnya kau dari mana sih, Naruto? Kau buat masalah lagi dan tak mengajakku? Ke mana solidaritasmu, heh?" ujar Konan tanpa memedulikan Pein yang kini memandangnya salah tingkah.
Hah, ini akan terdengar sangat menggelikan, tapi, kriminal sekolah sekelas Pein yang bahkan pernah memukul Asuma-sensei, bahkan dapat menjadi sangat kikuk di hadapan wanita yang disukainya. Mungkin akan lumayan masuk akal jika wanita itu adalah wanita kalem penuh pesona dan wibawa, namun jika dia juga kriminal yang keluar masuk ruangan Anbu lantaran kekacauan yang dibuatnya, semua akan terlihat sangat bodoh.
Mungkin akan timbul pertanyaan bodoh lainnya di dunia, bagaimana mungkin cinta dapat memiliki sihir sedemikian kuatnya hingga melumpuhkan kekacauan paling gawat? Jawabannya hanya satu, cinta juga bodoh!
"Bukan seperti itu, aku hanya baru saja menemui seorang peri yang menangis!" Naruto tersenyum tipis sesaat, membuat dua orang berjubah hitam di sebelahnya saling melirik.
"Peri menangis? Apa kepalamu terbentur? Oh, dan kau dapat darimana lebam di wajahmu itu, bodoh?" Pein mengabaikan penasaran dalam kepalanya, kalimat yang ia keluarkan dibenarkan oleh Konan yang berada di antaranya dan Naruto.
"Oh lebam ini? peri merah jambu yang memberikannya. Kalian tahu, kan? Di sekolah ini, ada peri sok kuat yang sedang bersembunyi!"
Pein dan Konan sekali lagi saling melirik, penasaran yang bergumul dalam kepala mereka terkalahkan oleh satu kata diam. Ya, memilih untuk diam lebih baik daripada melihat Naruto mengamuk dan membangkitkan kekuatan monster saat dia marah. Kalau itu terjadi, sebagian sekolah akan dia hancurkan.
"Peri merah jambu, fan Sakura? Heh, menggelikan!"
~XxX~
Suara dari hati
Kebohongan terungkap
Peri merah jambu dan pangeran pirang
Kisah akan segera ditorehkan oleh sebuah kesalahan…
.
The next chap!
"Ba, bagaimana kau tahu?"
Sakura nyaris rubuh dari pijakannya. Tak menyangka akan mendapati orang itu kini berada di hadapannya.
"Aku akan mendapatkan Sasuke…!"
Kalimatnya terdengar meyakinkan, namun satu kenyataan akan menghancurkan satu hati yang tertelungkup rapi dalam kubangan yang manis.
.
.
A/N: Huwaa… akhirnya chap dua selesai juga! *nari-nari*
Maaf, chap dua lebih abal dari chap sebelumnya. Kiyo gak ngedit atau apa pun, benar-benar mengejar deadline yang di buat sendiri. Kiyo gak punya banyak waktu, jadinya Cuma bisa buat fic gagal gini.
Semoga ada yang bersedia membaca.
Kritik membangun dan saran atau pun pertanyaan-pertanyaan diterima via Review. So, review please!
_Kiyo_
