S E R I B U B A N G A U K E R T A S

.

A U T H O R

ERU. HOSHI. I

.

D I S C L A I M E R

MASASHI KISHIMOTO

.

SONGS:: Yui Makino-You are My Love (sakura version), Ikimonogatari- Seishun Line, Kourin-Ai Shiteru and Surface- Sunao na Niji.

.

Menurut mitos, jika kau melipat seribu bangau kertas maka keinginanmu akan terkabul…

Jika perlu, sepuluh ribu pun akan aku buat.

.

.

Aku tahu dari awal…

Tidak ada jalan untuk melepaskan diri dari kenyataan ini…

Walaupun begitu…

Aku selalu berusaha menolak takdir…

"Bodoh."

Hari ini, salju turun lebat sekali. Dalam waktu semalam saja, seluruh Rumah Sakit sudah tertutupi oleh selimut putih karya sang Dewi Kristal Es. Beberapa hari ini aku tidak dapat tidur, begitu juga kemarin malam… Aku hanya terduduk di atas kursi roda mengawasi salju yang jatuh perlahan satu persatu, menyentuh tanah dan membeku.

"Aku akan mati… Pada musim semi,ya… Betapa ironisnya…"

Ahh… Lagi-lagi tawa miris mewarnai bibir ini, mengalihkan pandanganku dari jendela lalu melihat ke arah mereka yang sedang tertidur lelap di atas ranjang hangat. Aku, merasa iri pada mereka yang masih punya kontrak panjang pada Tuhan, aku iri sekali…

"Ceh… Apa yang kau harapkan lagi Naruto? Apakah kau tidak cukup dengan hal ini?"

Aku meremas kemejaku di mana jantung ini berada, rasanya sakit sekali… Perih, seperti luka yang tidak terlihat. "Ayah…."

Maafkan aku ayah…

Jangan menangis…

Ku mohon… Jangan sesali hal ini…

"Seharusnya anak yang meletakkan bunga di atas makam orang tuanya… Bukan sebaliknya."

BUKAN SEBALIKNYA…

Ahh… Aku menangis lagi, bukan karena sedih dengan kematian yang melangkah mendekat, tetapi untuk seseorang yang kecewa… Tidak bisa meletakkan harapannya lagi di atas punggung ini.

Sebab…

Perjalanan ini akan segera berakhir dan sudah waktunya menurunkan tas berat berupa kehidupan di pemberhentian bernama akhirat.

"Aku ini… Apa sudah harus menyerah, ya…"

.

.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi suster Sakura!!" Seperti biasa, seorang suster berambut merah jambu masuk ke kamar kami sembari membawa obat-obatan yang harus rutin di minum. Aku mendesah dari balik selimut, menatap muka Gaara yang melukiskan kesempurnaan dan kesakitan dalam sekali aduk seolah mengerti perasaan tertekan ini…

Aku ingin berhenti meminum benda itu… Aku tahu, meskipun di minum tidak membawa perubahan apapun… Toh, aku tetap akan mati 'kan?

MATI.

"…to!"

"Naruto!"

Sebuah telapak tangan bergoyang di depan muka-ku, aku melihat di balik sela jari sebuah wajah dengan raut cemas. Sedikit kaku aku tersenyum berusaha menepiskan perasaannya, "Iya?"

"Ini obatnya, jangan lupa di minum ya? Uhm… Nanti siang, dokter Tsunade mau bicara dengan kamu." Ia pun menaruh senampan obat dan gelas lalu berlalu meninggalkan kamar, meninggalkan aku dalam keraguan…

Keraguan?

Kau ragu akan apa Naruto? Sudah jelas 'kan?

Kamu itu akan mati.

Untuk apa lagi ragu… Semua ini sudah jelas, bagai membaca buku dan sekarang kau harus menutupnya karena sudah terlalu lama terbuka. Seandainya kematian sesederhana itu…

"Oi… Tenang sajalah…" Gaara bangkit dari tempat tidurnya, berjalan ke arah tempat tidurku. Aku melihat ia menggenggam sesuatu tampak seperti sebuah tas kertas, menatap wajahnya yang sedikit bersemu merah. "Ini… D-dari Temari, katanya di pakai kalo dingin."

"Te-terima kasih…" Wah… Sebuah sweater, berwarna biru langit seolah ingin di serasikan dengan warna mataku… Tidak kusangka Gaara mempunyai perasaan sentimentil seperti ini, dan…

"Kertas o-origami?" Tanganku menggenggam sebungkus kertas berwarna-warni, beralih menatap Gaara dengan penuh tanda tanya di ujung ranjang. "Dariku… Kalo kamu mau melipat Bangau Kertas… Sebaiknya pakai yang berwarna… Jangan kertas koran." Ia memegani kepala belakangnya, menyembunyikan wajah yang bersemu. Aku bahagia sekali, campur aduk… Ingin menangis, tertawa, berlari, kegirangan, berteriak… "Terima Kasih!!!!" Namun, kuputuskan aku cukup memberikan senyum yang paling lebar untuknya menunjukkan barisan gigi yang selama ini aku kagumi dan senyum hangat yang juga aku warisi dari ayah… Aku harap dia tidak lupa dengan senyum ini, Hei… Gaara, jika aku memiliki kehidupan di masa yang akan datang… Aku pinta kau jadi kakakku, ya?

"Heeiii!! Yang di sana!! Dunia jangan di jadikan milik berdua dong!!!" Kiba berteriak memecahkan keheningan di antara kami. Aku hanya menggaruk kepalaku berusaha menghilangkan ketegangan yang sempat kurasakan saat menatap mata Gaara, sementara si kepala merah itu menatap Kiba dengan tajam, membuatku ingin tertawa.

"Siapa juga yang kayak gitu!! Emang lo kira kita lagi ngapain?!" Aku membalas Kiba sementara tanganku membuka lipatan sweater dan mengepaskannya di tubuh.

"Nyuci…" Kata Sai tenang, di atas ranjang sambil membaca buku, dia ini… Selalu ngaco deh!! Hanya dia ini yang karakternya sulit aku pahami… Mungkin jika aku mati nanti, aku baru bisa melihat senyum tulusnya… Sai.

"Hei-hei! Jangan ganggu Naruto!" Neji berseru di samping kiriku, aku menahan senyum saat melihat rambut kebanggaannya itu acak-acakan akibat tidur. Meskipun umurnya di atas kami, aku merasa sama sekali tidak kaku saat berbicara dengannya… Dia selalu berbicara, takdir-takdir… Hahaha! Mungkin suatu saat nanti dia bakalan jadi peramal, ya…

Iya… Suatu saat nanti. Saat di mana aku tidak ada lagi di sekeliling mereka…

Aku menghentikan pandangan dari mereka, ke arah luar jendela di mana semua tampak putih. Kehangatan sweater yang memeluk tubuh, tampaknya tidak bisa memecahkan bongkahan es di dalam sini…

Di sini…

Di hati ini…

.

.

I Knew it right from the beginning.

That there's no way to escape reality.

But, even so…

I tried to defy fate.

THERE'S NO WAY WE CAN ESCAPE FROM OUR FATE…

"Che!"

Nakahara Chuuya, jelas mengambil alih keadaan hati ini. Sebab, setiap aku berpikir sendirian dalam ruang kosong di hati… Semua jadi begitu puitis. Lagipula, sejak kapan seorang pengacau seperti aku bisa berpuisi? Jika mendengarnya tentu kau akan tertawa…

Lagi-lagi aku menolak menemui si Nenek tua itu… Aku benci untuk mengakuinya, kalau aku memang khawatir dengan diri ini…

Aku takut, aku takut akan kematian…

Aku takut… Apakah kematian ini, akan begitu menyakitkan ataukah cepat dan tidak terasa?

Sebab…

"Eh…"

Kukira aku sendirian di sini… Benar, di bagian belakang taman Rumah Sakit di bawah pohon cemara. Tempat ini aku temukan beberapa minggu lalu sewaktu melarikan diri dari Kak Shizune, sangat teduh dan hanya ada satu kursi panjang sepanjang pohon itu. Waktu tidak ada salju, sangat indah di sini… Banyak orang yang melarikan diri ke bawahnya, tetapi sekarang… Dingin dan tertutup salju. Kukira aku sendirian di sini…

"Eh…"

Kukira begitu… Dia, sedang apa di sini? Aku sama sekali tidak mengenal wajahnya… Dia juga tidak memakai pakaian pasien rumah sakit, wah… Mukanya putih seputih salju yang menutupi bahunya…

EH?!

Berapa lama dia duduk di sini sampai salju bisa duduk manis di sekitar tubuhnya? Aku menoleh khawatir pada orang itu, dia bisa kena radang dingin ataupun Hipotermia.

"Siapa di sana?"

Aku terkejut… Padahal aku sudah berada tepat di depannya, bagaimana bisa dia tidak melihatku? Matanya juga terbuka lebar, apakah…

"Kakak?"

Dia buta?

"Eh… Aku bukan kakakmu…" aku berkata sambil menggerakkan kursi roda mendekati tempat duduknya. Semakin aku mendekat, semakin jelas pula aku melihat raut wajah yang menggambarkan kecemasan. "Tidak apa-apa… Aku bukan orang jahat." Seperti aku dahulu…

"… Memangnya kau kira aku ini anak kecil?!" Ketus sekali balasannya untukku. Baru sekali ini aku melihat orang seperti ini, seperti magnet dia menarikku semakin dekat dengannya. Tidak pernah aku merasa seperti ini, hangat… Dalam kerimbunan salju yang turun, anehnya hati ini menghangat dan berusaha mengembangkan senyum setiap aku menatap muka yang putih itu.

"Hehehe…" Juga tidak dapat menolong diriku yang tertawa kecil, membuat dirinya merasa terganggu. Kenapa? Aku merasa seperti ini?

"Kau ini bodoh,ya?" Mukanya mengkerut, aku hanya terkesiap berusaha menghindari mata hitam yang seolah terfokus pada tubuh ini… Membuat jantungku berdebar tidak karuan dan melukiskan semburat merah jambu tidak beraturan di sepanjang garis pipi.

"Apa katamu, Tako!?" Ternyata hanya pada orang ini, aku bisa mengeksperesikan diriku yang sesungguhnya. Naruto si mulut besar yang senang berbuat onar, terkenal seantero sekolah yang kini terpaksa berjalan di atas kursi roda atas diagnosis dokter bahwa Kanker Otak telah perlahan menggerogoti tubuhnya.

"Tako?! Kau kira aku gurita?!" Ahaha… Dia ini bodoh sekali… Aku melihat mukanya yang begitu putih sekarang sedikit memerah, wah… Ternyata ada juga orang yang tampak begitu tampan saat sedang marah, ya?

"Kau sedang apa di sini?" Tanyaku, menggerakkan kursi roda dan mengambil tempat tepat di samping kakinya yang panjang menjulur di atas salju. Menunggu jawaban, aku tidak dapat melepaskan pandangan dari mukanya… Aku melihat kesedihan di sana, kekosongan, kekecewaan dan keterpurukan… Aku merasa sama.

"B-bukan urusanmu 'kan?!" Bodoh… Dia ini!! Kenapa berusaha menyembunyikan perasaan sendiri, sih?! Kalo khawatir dan takut bilang saja… Kau itu masih punya waktu yang banyak tahu! Bukan seperti aku…

Hah… Salju turun perlahan lagi, menggambarkan kedinginan teramat sangat. Awannya begitu mendung, menutupi matahari yang selama ini aku kagumi, yang selama ini aku jadikan pedoman kehidupan. Aku dan dia sama-sama terdiam dalam keheningan seolah memahami perasaan satu sama lain yang sedang gundah… Yang sudah lelah pada ketidakpastian, kenapa selalu ada garis tipis di antara ketakutan dan kenekatan? Jika aku, maka akan di masukkan ke katagori apa? Mungkin… Kemunafikkan, ya?

"Hey, kau sendiri sedang apa di sini?" tanyanya, aku menoleh dan melihat kearah wajah yang semakin putih akibat pantulan salju, "Kurasa kau pasien di sini 'kan?" Angin kering menerpa wajah, membangunkanku dari keterkejutan.

"Aku… Sedang menunggu, sama sepertimu." Aku setengah berbohong, memang benar, kok… Aku sedang menunggu sesuatu… Yang bingung di antara dua pilihan, seseorang dan kematian.

"Sama."

"Ohh… Kakakmu, ya?"

"Iya."

"Kau sendiri, kenapa ada di tempat seperti ini? Bukankah bisa duduk di ruang tunggu? Di sana lebih hangat 'kan?" Aku melipat tangan di antara lengan, mengusir dingin yang mengunci tubuh.

"Aku tidak suka di sana…"

"Eh? Kau tidak suka keramaian?"

"Ahh… Bodohnya…"

Bingung, aku Cuma tidak bisa menangkap apa yang ia katakan… Kenapa dia benci keramaian? Dia yang sama denganku… Punya pandangan yang sama… Perasaan yang sama… Kenapa? Apakah karena…

"Uhm… Apakah karena kau benci di lihat oleh orang lain dengan tatapan sedih dan seolah membuatmu lemah?" Menurutku…

"Iya." Eh? Ternyata benar…

Seolah tidak percaya, mata ini berkilauan menatap muka itu yang mengguratkan keputus-asaan, muka yang selama ini kukira hanya milikku seorang. Aku merasa kaku, sudah tidak mau membahas topik ini sebab sudah tidak ada waktu lagi untuk mempertanyakan hal tidak jelas seperti itu…

"Jadi… Uhm, kau suka salju?"

"Tidak. Aku sering kena radang dingin…"

"O-oh…"

"….."

"Uhm, namaku Naruto. Uzumaki Naruto, kamu?"

"Sasuke."

"Uhm… Sasuke? Seperti Satsuki… Apa kamu lahir di malam bulan purnama?"

"Ceh, anak sok tahu…"

"Artinya benar, ya? Wah!!"

"Yah… Daripada nama seperti makanan?"

"Heyy!! Itu nama yang bagus tauu!!"

"Hn… Apa katamu-lah Dobe…"

"Do-Dobe?!! Tako TEME!!"

"Hmpp… Baka, Usuratonkachi…"

"EHH!!!! Jangan panggil aku seperti itu Tako Temeee!!!"

"Hmmpp…"

"K-kau tertawa, yaaaa?!!"

"Dobe."

"Teme."

Tanpa terasa, es abadi di hati ini mulai mencair…

.

.

Maka ikatan apakah yang kami dapatkan?

Sebab aku tidak mengerti dengan perasaan ini…

Maka inikah jawaban atas pencarian yang selama ini aku lakukan?

Sebab aku bingung atas dirinya…

Maka apakah yang mengikatku pada dunia?

Sebab aku merasa seperti akan meninggalkannya…

"Sasuke."

"Sasuke."

"Sasuke."

Sepanjang waktu… Hanya kata itu yang di keluarkan bibir ini bagai sebaris puisi… Aku tidak dapat menghentikannya, melipat bangau kertas berwarna-warni sambil bergumam tanpa tujuan.

Aku ini… Menyedihkan, ya?

Kenapa?

Kenapa setiap orang di takdirkan mati? Jika akan berakhir kenapa harus di mulai…?

Sebab aku, takut saat napas ini tidak lagi mengisi paru-paru dan mata ini berhenti menyaksikkan dunia.

Kemana aku akan pergi?

Pertanyaan demi pertanyaan mengiang di dalam kalbu.

"Sasuke… Apakah kau tahu?"

Maka… Apakah ia yang dapat menjawab kalbu ini?

Sebab aku sudah berhenti mencari jawaban.

.

.

.

Karena, sudah saatnya untuk berhenti berkelana…

Satu demi satu bangau kertas berjatuhan ke atas lantai.

Seiring dengan tetes darah yang mengalir turun dari sudut bibir.

Apakah sudah waktunya?

.

.

.

SAAT UNTUK AKU MENYERAH?

Saya ERU. HOSHI. I

Mengucapkan Terima Kasih yang sebesarnya kepada mereka yang menyempat diri untuk membaca dan me-review cerita saya.

Pertama kali me-review cerita orang, yang saya tuliskan hanyalah kemarahan dan kebencian. (Hey, bagi yang tertawa… Baguslah, sebab saya senang melihat orang tertawa.)

Yah… Saya, juga tidak mengerti kenapa saya bisa mencaci-maki hasil karya kalian. Tetapi, sekarang saya sudah sadar dan berusaha menjadi lebih bijak lagi, (Hehee-someone told meh!).

Terserah anda mau menganggap saya apa, munafik, pembohong, pendendam, sok atau apa-lah… Saya tidak terlalu peduli. Sebab sekarang, saya seperti ini… Tidak ada masa lalu dan masa depan, yang ada Cuma saat ini. Dan inilah saya.

::

Pendapat saya, jika review anda tidak hanya berputar di kata 'Apdeth' 'Update', bisa lebih baik jika di tambahi kesan atau pesan kalau bisa kritik, mungkin… Tanpa kalian sadari mereka tersenyum dan mengulangi membaca review kalian, berkali-kali. Ini Cuma pendapat saya, entah salah atau benar.

::

FIC di atas, memang di sisipkan cerita kehidupan saya. Masih boleh di lanjutkan? Lagu yang saya tulis di atas, sebaiknya di putar saat membaca fic ini. Sedikit membangkitkan feel-nya, menurut saya.

::

Saya lega dengan perkataan kalian, yah… Sebagian besar memberikan saya pelajaran baru, kalau masih di berikan kesempatan saya akan memberikan review yang lebih baik lagi di fic kalian.

::

Untuk beberapa kesalahan penulisan fic, saya ini juga manusia 'kan? Yang juga tak luput dari kesalahan. (Saya ini orang egois dan tidak mau mengalah, terlalu pede… Hal yang tidak bisa saya ubah.) Jika kalian mau tolong ingatkan saya, jika saya bertindak berlebihan sebab sudah tidak ada lagi yang mampu mengerti diri ini.

::

One day you might look at me and laugh,

Your overjoyed face will be turning pale,

In the night rain, the big tree's leaves

Will be blown by November wind,

Only to be watched by an abandoned dog.

-Nakahara Chuuya.

::

Maka apakah yang dapat menjawab pertanyaan ini?

Kenapa harus ada kehidupan jika harus di tutup dengan kematian?

Akhirnya dapat terjawab…

Aku hidup untuk…

Bertemu dengan kalian.

TEMAN.

-I AM ERU. HOSHI. I-