Fragile Sight

BL/Yaoi / KookV - Jungkook x Taehyung / dldr.

.

.

.

Jungkook selalu menyukai langit sore. Lukisan jingga kemerahan di langit Seoul, tak ada yang lebih mampu mengingatkannya akan Taehyung sebaik yang langit sore lakukan. Karena Jungkook pernah mengecat rambut Taehyung dengan warna jingga yang segar. Terkenang, betapa bahagianya Taehyung setiap kali Jungkook akan mengubah warna rambutnya, pemuda itu tersenyum. Mengintip ke dalam ruangan dari balik pintu depan sebuah bangunan yang tampak sudah berusia. Taehyung di dalam sana terlihat manis – dan akan selalu begitu.

Musik karya Franz Liszt - La Campanella, lagu yang paling sering Taehyung mainkan mengalun indah, nada yang berasal dari jemari Taehyung yang menari-nari di grand piano tua milik sebuah panti asuhan. Pemuda manis itu terus bermain tanpa menyadari kedatangan seseorang. Jungkook, orang yang baru saja memasuki sebuah ruang musik di panti asuhan itu meletakkan jari telunjuknya di bibir, memberi gesture pada beberapa anak kecil yang duduk manis agar tidak mengeluarkan suara apapun. Kumpulan bocah menggemaskan itu mengangguk polos dan mengikuti apa yang Jungkook lakukan. Kedatangan si pemuda tampan dengan sangat mudah menarik perhatian bocah-bocah itu. Jungkook mengambil tempat, duduk di kursi yang paling dekat dengan Taehyung, pemuda itu menggendong seorang bocah lelaki berusia sekitar 3 tahun yang tampak mengantuk dan memangkunya sembari mengusap pelan punggungnya sampai bocah itu tertidur.

Denting piano Taehyung berakhir. Menghasilkan tepukan riuh yang berasal dari telapak tangan mungil bocah-bocah tanpa orang tua itu. "Taehyung oppa memang yang terbaik!" Seru seorang anak perempuan kemudian berlari dan memeluk Taehyung, setelahnya anak-anak yang lain jadi ikut menghambur ke dalam pelukan pemuda manis yang kini tertawa bahagia itu. "Terima kasih, aku menyayangi kalian semua."

"Permainan yang bagus, sayang. Seperti biasa." Taehyung terkejut. Suara itu, suara menenangkan yang sangat dikenalnya, yang paling ia sukai. Suara Jungkook.

"Ah. Kau sudah datang?" Taehyung tersenyum cerah menyambut kedatangan Jungkook.

Ketika hendak meraih lengan Jungkook tangan Taehyung bersentuhan dengan sebuah tangan mungil. Taehyung langsung terkekeh kecil, menyadari kalau saat ini kekasihnya sedang menggendong seorang anak. Tangannya terangkat, meraba tangan mungil dengan jemari gemuk itu pelan. "Apa dia tertidur?" Taehyung mendongak, seolah mengarahkan pandangannya pada Jungkook.

Jungkook mengangguk sebagai jawaban, Taehyung dapat merasakannya. Pemuda manis itu mencoba untuk meraba wajah si bocah, jemarinya menelusuri tiap lekuk wajah menggemaskan itu dengan sangat hati-hati – ujung jarinya menyentuh mata sipit dengan bulu mata tipis, pipi tembam berisi, hidung mungil tak terlalu mancung, dan yang paling dikenalinya adalah bibir tebal si bocah. Takut membangunkan si monster kecil, Taehyung tertawa pelan kemudian bertanya untuk memastikan, "Namjoonie?"

"Ya." Jawab Jungkook singkat sambil tersenyum. Jungkook tahu betul kenapa Taehyung tertawa. Karena Jungkook memang sangat, sangat sulit untuk berdamai dengan monster kecil yang terlelap di dekapannya saat ini. Dua orang keras kepala yang hampir tak pernah akur, kini terlihat seperti sepasang ayah dan anak batitanya. Suatu moment yang sangat jarang terjadi di dalam sejarah. Taehyung senang, tentu saja, walalupun pemuda manis itu tak bisa melihatnya secara langsung.

"Aigoo uri Namjoonie ~." Seru Taehyung gemas, meraih dan mencubit pelan pipi berisi Namjoon yang terasa sangat halus.

Anak-anak yang tadi mendengarkan Taehyung bermain piano sudah berhamburan keluar ketika seorang wanita paruh baya yang merupakan pemilik panti itu datang dan memanggil mereka untuk makan malam. Jadilah sekarang hanya tersisa mereka berdua, eh tidak, bertiga ditambah seorang bocah lelaki yang masih terlelap dalam gendongan Jungkook.

.

.

.

"Dia berat." Jungkook mengeluh singkat, lelah juga menggendong Namjoon. Beberapa saat kemudian ia hanya mendengus karena sang kekasih tampaknya sama sekali tak berniat membantu atau ber-empati sedikit pun.

"Jangan beralasan, menggendongku saja kau bisa."

"Tapi aku lebih suka menggendongmu dari pada monster cilik ini." Taehyung hanya terkekeh mendengar keluhan Jungkook. Pemuda manis itu rasa akan lebih baik membiarkan kekasihnya sedikit berlama-lama dengan Namjoon. Tae aslinya memang jahil.

"Sudahlah, lagi pula kalian berdua cocok, sifat kalian sama persis kerasnya seperti batu. Ayo kita antar saja ke kamarnya." Taehyung menjulurkan lidahnya pada Jungkook lalu tertawa, setelahnya ia meninggalkan kekasihnya itu dan kembali berjalan dengan tongkatnya. Jungkook yang sudah tertinggal dibelakang hanya menggeleng kecil. Tersenyum manis melihat tingkah Taehyung. Ah, Jungkook jadi jatuh cinta lagi, 'kan.

Jungkook berlari kecil mengejar Taehyung, menyematkan jari pemuda manis yang lebih tua 2 tahun darinya itu ke dalam celah jemarinya. Kedua tangan itu terpaut erat, memberi kehangatan bagi keduanya di hari yang mulai gelap. "Jalannya begini saja, sayang." Dan Taehyung hanya mengangguk sebagai respon. Pipinya memanas, bahagia.

Sementara Jungkook, dengan pencahayaan yang sudah mulai berkurang di sekelilingnya masih sempat mencuri pandang pada bocah bertubuh gembul yang masih digendongnya, terlelap pulas. Pemuda tampan itu tersenyum, gigi kelincinya sampai terlihat. Well, Jungkook akui Taehyung benar, Namjoon memang menggemaskan – hanya kalau sedang tidur, Jungkook menambahkan.

.

.

.

.

.

Sesampainya dirumah, Taehyung langsung menuju ke sofa, mendudukkan dirinya lalu berbaring menelungkup. Rasanya lelah sekali, tongkat pemuda manis itu tergeletak begitu saja di sisinya. Jungkook yang baru selesai mengunci pintu menyusul ke dalam. Menemukan kekasihnya yang sudah menelungkup di sofa. Jungkook terkekeh gemas. "Aigoo, sayang. Sudah mengantuk, hm?"

Jungkook berlutut di sebelah Taehyung yang berbaring dan hanya kelihatan pucuk kepalanya saja. Jemari panjangnya menelusup diantara helaian rambut Taehyung yang sangat halus, mengusapnya pelan dengan sayang. "Mandi dulu baru tidur."

Taehyung hanya melenguh pelan karena terganggu. Dengan jahil Jungkook mendekatkan hidungnya untuk mencium kepala Taehyung lalu mendengus. "Huh, rambutmu bau. Sepertinya kau harus keramas." Mendengar itu si manis langsung terduduk, menyampaikan protesnya pada si tampan yang kini sudah mengacak-acak rambutnya gemas. "Ya! Jangan menggangguku. Mau tidur!" Taehyung merajuk dengan bibir mengerucut. Mengeluarkan aegyonya berharap Jungkook akan luluh dan membiarkannya tidur. Tapi tampaknya Taehyung kurang beruntung malam ini. "Tidak, sayang. Mandi sekarang, aku akan membantumu keramas."

Taehyung hanya mengangguk pasrah, memajukan bibirnya sekali lagi yang mendapat kecupan singkat dari Jungkook. Pemuda itu mencubit pipi tirus Taehyung. "Duluanlah, aku akan menyusulmu." Jungkook mencubit hidung bangir kekasihnya sekali lagi.

"Baiklah." Taehyung menerima tongkatnya dari Jungkook, pemuda manis itu lalu berjalan pelan menuju kamar mandi.

.

.

.

Jungkook memandang punggung kecil Taehyung yang berjalan dengan tatapan sendu. Jungkook tidak sanggup lagi. Setiap kebohongan yang disampaikannya bagai belati yang melukai hati Taehyung – juga hatinya. Pemuda itu meraih ponselnya yang bergetar beberapa saat yang lalu, mengusap layar datarnya dengan ibu jari dan menampakkan sebuah pesan masuk, pesan dari Ji Eun. Menghela napas kasar, Jungkook mengusap wajahnya frustasi. Taehyung sudah cukup menderita untuk tetap bersama laki-laki sepertinya, Jungkook sangat sadar akan hal itu. Namun Jungkook tidak siap untuk meninggalkan kekasih manisnya –atau lebih tepatnya tidak siap ditinggalkan.

Tiap kali melihat binar mata polos Taehyung, hati Jungkook tergores. Sebagai manusia yang masih berperasaan dan tahu bagaimana sakitnya perasaan yang dilukai, Jungkook berulang kali berniat untuk menyampaikan semua perbuatan brengseknya pada sang kekasih manis. Jungkook siap untuk dicaci maki, dibenci, rela jika Taehyung memukulinya bahkan membunuhnya. Asalkan… Taehyung tidak pergi darinya.

Tak cukup dengan pengkhianatan yang dilakukannya, Jungkook juga menyimpan rahasia pahit yang selama ini dikuncinya rapat-rapat. Satu hal yang paling ditakuti oleh pemuda tampan itu. Jungkook hanya tidak sanggup, membayangkan Taehyung meninggalkannya ketika kekasih manisnya itu mengetahui semuanya, sama saja mencabut nyawanya saat itu juga.

Jungkook hanya tidak ingin Taehyung tahu, sebuah kenangan yang bagi Jungkook adalah dosa terbesarnya. Dan pada kenyataannya, Jungkook sudah menyiksa dirinya sendiri. Pemuda tampan itu secara tidak langsung telah meremukkan hatinya sendiri secara perlahan.

.

.

.

.

.

.

.

Haloo~ #ciumsatusatu

kalau banyak yang gemes, kesel, sebel, emosi, tercekat sama sy dilampiasin sama kookie aja, skrg udah jd seme kan jd kuat #eaaa sy mah apa atuuh cuman bisa cinta kaliaaan ~ :* /dirajam

sepertinya banyak yg ngga ngeh/? sama taetae yang bisa melihat sesuatu ya, padahal ada disitu/? #lupakan

Oiya yang mau denger atau buat yang belum tau La Campanella silahkan dicari atau ngga main piano tiles 2 aja ada kok disitu XD I personally love it~

saya bilang lagi yaa, cinta kaliaaaaan :* #lari