Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Shelter © Porter Robinson

.

.

.

Pairing: Naruto x Rin

Rating: M

Genre: romance/family

Setting: dunia ninja

.

.

.

Sekuel dari "You Are My Shelter 2"

.

.

.

A Daughter For Naruto

By Hikasya

.

.

.

Chapter 2. Berjanjilah untuk kembali lagi

.

.

.

Beberapa orang kini berhadapan dengan Hokage keenam yaitu Hatake Kakashi. Salah satunya adalah Naruto.

Mereka berdiri sambil mendengar penjelasan Kakashi mengenai misi yang akan dilaksanakan. Mereka sangat terkejut.

"Apa!? Hanabi diculik!?" seru mereka semua kecuali Sai.

"Ya, begitulah," ucap Kakashi yang melipat tangan di dadanya. "Mereka membawa Hanabi ke Bulan."

"Ini gawat sekali," sahut Haruno Sakura yang ikut dalam misi ini.

"Kita harus secepatnya menyelamatkan Hanabi," kata Nara Shikamaru yang bersikap santai.

"Ya. Itu benar, Kakashi-sensei," Naruto mengangguk dengan wajah yang sangat serius.

"Kapan kami bisa berangkat ke sana?" tanya Sai.

"Sekarang."

Kakashi mengangguk. Semuanya saling pandang dan kemudian mengangguk kompak.

"Kami mengerti," balas mereka kompak lagi.

"Kalau begitu, cepatlah pulang dan persiapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk dibawa ke sana. Dua jam lagi, kita berkumpul di sini."

"Baik!"

Kemudian mereka keluar dari ruang Hokage. Kakashi menyaksikan kepergian mereka sampai hilang dari pandangan.

Tapi, Naruto berhenti sejenak di dekat pintu ruang Hokage yang sudah tertutup. Yang lainnya sudah pergi kecuali Sakura.

Naruto sedang merenungkan sesuatu sehingga Sakura penasaran lalu bertanya.

"Ada apa, Naruto?"

Naruto tersentak dari lamunannya yang menghanyutkan. Ia pun tersenyum.

"Ah, bukan apa-apa kok."

"Sepertinya ada yang kau pikirkan."

"Itu..."

Naruto terdiam sebentar. Sakura menunggu jawabannya dengan sabar.

Beberapa detik kemudian, Naruto menjawabnya.

"Rin akan tinggal sendiri lagi jika aku tinggalkan. Apa lagi sekarang bahaya besar sedang mengancam kita. Aku... Tidak bisa meninggalkan istriku dalam keadaan seperti ini."

"Oh," Sakura tersenyum. "Urusan itu, biar Rin tinggal bersama Tsunade-sensei. Kau antarkan saja Rin ke rumah Tsunade-sensei. Pasti Rin aman di sana."

"Benar juga."

"Masalahmu sudah terpecahkan. Sekarang kau merasa lega, kan?"

"Iya."

"Sekarang pulanglah. Pasti Rin menunggumu."

"Ya. Terima kasih, Sakura."

Dengan tawa yang mengembang, Naruto kembali bersemangat lagi. Sakura senang melihatnya.

Mereka pun berjalan bersama menuju keluar kantor Hokage. Tawa dan canda mewarnai pembicaraan mereka.

.

.

.

"Aku pulang!"

"Selamat datang!"

Rin membuka pintu dengan cepat dan langsung memeluk Naruto.

GREP!

Naruto sangat kaget karena Rin memeluknya dengan tiba-tiba. Rin membelit pinggangnya dengan erat.

"Rin-chan... Ada apa?"

"Naruto."

"Ya?"

"Naruto."

"Apa?"

Naruto heran dan melihat Rin tersenyum. Wajah mereka sangat berdekatan.

"Tidak ada."

Usai mengatakan itu, Rin melepaskan pelukannya dari Naruto. Naruto pun ternganga. Rin pergi meninggalkannya.

"Rin-chan! Tunggu!"

Naruto menangkap tangan Rin dengan cepat. Rin menoleh dan mendapati Naruto yang berwajah kusut.

"Ada sesuatu hal yang ingin kuberitahu padamu."

"Apa itu, Naruto-kun?"

"..."

Naruto terdiam. Wajahnya semakin kusut. Rin memperhatikannya dengan bingung.

"Aku... Harus pergi melaksanakan misi sekarang juga," sambung Naruto lagi.

"..."

Giliran Rin yang terdiam. Wajahnya berubah total menjadi kusut, tapi setelah itu, ia tersenyum.

"Begitu ya. Kau akan pergi lagi."

"Ya."

"Aku akan siapkan perlengkapanmu. Tunggu sebentar."

Rin melepaskan tangannya yang digenggam Naruto. Ia bergegas pergi ke kamar, dan Naruto mengikutinya.

"Rin-chan."

Rin menoleh. Matanya menangkap adanya pancaran rasa khawatir di mata biru itu.

"Kenapa Naruto?"

"Keadaan dunia di sini sangat berbahaya. Beberapa meteor jatuh ke bumi, dan menimpa beberapa desa termasuk desa Konoha ini," jelas Naruto yang berwajah kusut. "Kau harus mengungsi bersama para warga lainnya."

"Apa?"

Kedua mata Rin terbelalak keluar. Naruto kembali menjelaskannya lagi.

"Hanabi juga diculik dan dibawa ke Bulan. Karena itu, aku dan teman-temanku harus menyelamatkan Hanabi secepatnya. Kita akan berangkat bersama. Lalu dua jam lagi, aku harus pergi berkumpul ke kantor Hokage."

"Oh, tidak! Hanabi-chan!"

"Jangan khawatir. Hanabi pasti baik-baik saja."

"Tolong, selamatkan Hanabi, Naruto!"

"Ya. Serahkan padaku."

Naruto mengangguk. Wajahnya masih kusut. Rin memahami kegelisahan Naruto, dan mencoba untuk menenangkannya.

"Berusahalah dan berjanjilah untuk kembali lagi."

"Ya. Aku berjanji."

"Aku percaya kau bisa melakukannya."

"Terima kasih, Rin-chan."

Naruto tersenyum dan memegang dagu Rin. Ia mengecup bibir Rin dengan lembut. Rin juga tersenyum usai Naruto menjauh dari bibirnya.

"Ayo, kita bersiap-siap sekarang!"

"Ya, Naruto."

Keduanya masuk ke kamar dan mempersiapkan segala sesuatu yang penting untuk dibawa.

.

.

.

Tak lama kemudian, Naruto mengantarkan Rin ke tempat Tsunade. Senju Tsunade yang kini telah pensiun dari jabatan Hokage, memilih tinggal di desa Konoha bersama Shizune.

Wanita tua berusia lebih dari setengah abad itu, masih kelihatan cantik. Ia dengan senang hati menyambut kedatangan Naruto dan Rin.

"Jangan khawatir, Naruto. Rin akan aman bersamaku di sini."

"Terima kasih, Tsunade-Obaasan."

"Naruto, hati-hati."

Rin memasang wajah suram. Sorot kedua matanya meredup. Naruto menatapnya dengan senyuman.

"Iya. Kau tenang saja. Sesuai janjiku, aku akan kembali lagi."

"Semoga kau baik-baik saja, Naruto."

"Ya. Kau juga ya."

Naruto tersenyum lagi dan membelai puncak rambut Rin. Rin juga tersenyum tapi di dalam hatinya, rasa khawatir itu tetap ada.

"Aku pergi! Sampai jumpa lagi, semuanya!"

"Sampai jumpa lagi, Naruto!"

"Selamat berjuang!"

Orang yang menyahut paling akhir adalah Tsunade. Naruto melambaikan tangan dan kemudian melompat ke udara.

WHUUUSH!

Ia pun menghilang dari mata Rin. Rin masih melambaikan tangannya.

"Apakah Naruto dan yang lainnya akan baik-baik saja?"

Tsunade yang berdiri di sampingnya, mengangguk cepat.

"Ya. Mereka pasti baik-baik saja. Mereka adalah ninja-ninja yang terbaik di desa ini. Apa lagi suamimu itu adalah pahlawan dunia yang sangat digemari para gadis. Tentunya ada yang sebanding dengannya yaitu Uchiha Sasuke."

"Uchiha Sasuke? Siapa dia?"

"Eh? Kau belum pernah bertemu dengannya ya?"

"Belum."

"Oh ya, benar juga. Sasuke, kan, pergi berkelana setelah bertarung dengan Naruto di lembah kematian."

"Uhm... Jadi, dia siapa, Obaa-san."

"Uchiha Sasuke itu dahulunya rival Naruto sewaktu di sekolah ninja dulu. Tapi, sekarang mereka sudah menjadi seperti saudara."

"Oh."

"Kau sangat beruntung menikahi Naruto karena berkat kegigihannya, Sasuke kembali lagi ke desa ini. Semua orang sangat menyayanginya, termasuk aku, tentunya."

Tsunade tertawa lebar. Rin terpaku, sedetik kemudian ia juga tertawa.

"Naruto... Dia sungguh baik, perhatian dan penyayang. Karena itulah, aku mencintainya."

"Semua gadis berharap mendapatkannya tapi kau yang berhasil mendapatkannya."

"Iya."

Sesaat hati Rin merasa bahagia karena hiburan dari Tsunade. Tsunade memegang bahunya dengan erat.

"Ayo, masuk dulu! Aku akan buatkan teh hangat untukmu."

"Terima kasih, Tsunade-Obaa-san. Tapi, aku merasa mual sekarang."

"Mual? Sejak kapan?"

"Sejak tadi pagi."

"Apa Naruto tahu?"

"Tidak."

"Hmmm... Aku akan periksa keadaanmu dulu."

"Iya."

Rin mengangguk sambil menjinjing sebuah tas besar. Tsunade membimbingnya sampai masuk ke rumah.

Jauh dari sana, sebuah benda yang menyerupai meteor jatuh dan menabrak sebuah tebing hingga menimbulkan ledakan yang sangat besar.

DHUAAAR!

Naruto berhenti dan mendarat di sebuah atap bangunan. Ia memandang pemandangan ledakan itu dengan ekspresi hampa.

"Lagi-lagi terjadi," wajahnya berubah menjadi serius. "Aku harus cepat-cepat mengatasi kekacauan ini! Rin-chan, Hanabi-chan, dan semuanya! Aku akan berusaha menyelamatkan kalian!"

WHUUSH!

Ia melompat tinggi lagi. Arah tujuannya adalah ke kantor Hokage sekarang.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

Terima kasih ya.

Kamis, 14 Juni 2018