Desclaimer : Vocaloid punya Yahama n Crypton, Bukan punyaku...
(karena banyak Author pake Desclaimer, aku jadi ikutan pake... pinginnya sih Vocaloid milikku #plakk)


He Is Me?


Miku(o) POV


Aku berusaha membuka mataku yang terasa berat untuk terbuka dengan perlahan. Walau samar-samar pemandangan yang kulihat ini tidak asing. Pemandangan ini... kamarku, aku berada di kamarku.

Aku teringat sesuatu kejadian yang aneh dan bahkan mustahil untuk dialami seorang Miku yang termasuk dalam deretan primadona sepertiku. Suatu kejadian dimana aku adalah seorang laki-laki.

Aku bangkit dari tidurku.

"Ternyata itu semua hanya mimipi." Aku menghela nafas lega.

Tiba-tiba ada yang melihatku dari pintu kamarku. Ah, ternyata itu Meiko.

"Ah, Mikuo-kun, kau sudah sadar rupanya." 'DEG' Mi...Mikuo...kun? nama yang sama seperti dalam mimpiku. Jadi, semua itu bukan mimpi.

'kyung'
"Ukh!" kepalaku sakit. Aku menyangga kepalaku dengan salah satu tanganku.

"Mikuo! Jangan paksakan dirimu!" kata Meiko yang dari tadi berdiri di depan pintu, kini berlari kearahku.

"Mikuo? Kau tidak apa-apa?"

"Ng... Ya." Jawabku agak tenang.

"Hah... Mikuo, kau selalu saja memaksakan diri."

"A.. apa yang terjadi?" tanyaku.

"Mungkin kamu terlalu membawa banyak beban, memikirkan sesuatu mungkin? Atau kamu kelelahan? Jadi saat kami mengatakan hal itu, kamu tiba-tiba pingsan. Maaf ya, kami tidak memikirkan perasaanmu." Jawab Meiko panjang lebar.

"Ya, tak apa. Sudah seharusnya aku menerima kenyataan. Jika kalian menyimpan hal ini lebih lama, aku tidak tau bagaimana jadinya." Kataku. Meiko hanya tersenyum.

"Oh, ya! Aku hampir lupa! Tunggu sebentar." Meiko berlari keluar kamarku. Memang apa yang dia lupakan?

Tak lama setelahnya dia kembali sambil membawa sebuah mangkuk. Mangkuk bubur mungkin?

"Ini aku buatkan bubur."

"Ng, Arigatou." Kataku. Meiko tersenyum padaku, namun ada yang berbeda dari senyumannya. Senyum itu... seperti senyum jahil?

"Kuo-chan~ Mau aku suapi ~?" kata Meiko sambil naik ke atas ranjangku. What the? (An: gyaa! Mereka ga mau ngapa-ngapAin kok! Critaku anti hentai, echii, etc!)

"Ti... tidak usah! A... aku bisa makan sendiri kok!" tolakku gugup sambil blushing ditempat. Aku langsung merampas mangkuk itu dari tangan Meiko.

"Hihihi, baiklah." Dasar. Tak kusangka Meiko bisa seperti itu, apa sifat 'tante-tante'nya muncul? Pokoknya, itu membuatku kaget.

"Huft… Itidakimasu." Kataku dengan cemberut.

"Mikuo."

"Ng?" tanyaku sambil memakan buburku.

"Kaito sangat mencemaskanmu lho~ " Kata Meiko yang hendak keluar kamarku. Dia tak bisa menyembunyikan senyum jahilnya dariku.

"..." aku tidak mengatakan apapun pada Meiko. Aku tidak blushing, dsb. Sekarang benar-benar tidak ada alasan blushing untukku. Apa? Kalian ingin aku blushing? Pertama aku laki-laki dan dia juga, sayangnya ini bukan fanfic shonen-ai or yaoi, dan aku tidak mau menjadi maho. Kedua, walaupun aku perempuan aku tidak akan mau dengannya karena pamanku. (Padahal alasan sesungguhnya karena dia baka, aku tak mau merusak keturunanku karenanya.)

Aku memakan bubur buatan Meiko sambil melamun. Aku harus bagaimana? Apa kata Luka, Rin, Len, dan teman-teman jika mereka tau tentang 'hal itu'? Mereka pasti akan menertawaiku karena 'hal itu', atau malah menjauhiku karena 'hal itu'? Tapi, jika aku terus-terusan menjadi Miku, itu tidak baik untuk masa depanku karena 'hal itu' (?). Ya, aku tau aku selalu mengulangi kata 'hal itu'. Apa kalian bingung kenapa aku selalu berkata 'hal itu'? Atau kalian tidak tau apa 'hal itu'? pokoknya hal itu membuatku STRees... dan, lebih lanjutnya silahkan baca dari awal, ok?

Selagi melamun, tanpa sadar bubur yang dibuat Meiko sudah habis kumakan. Padahal aku tidak tau bubur itu masuk tepat kemulutku atau tidak. (melamunnya terlalu parah kah?)

Aku menuju dapur untuk menaruh mangkukku. Kebetulan sekali, Kaito sedang menonton TV diruang tengah, sambil memakan es krim tentunya. Kaito langsung melihat kearahku dengan... gugup dan kaget?

"Ah, Halo Mikuo, maksudku Miku, ah! Mikuo. Maksudku Mi..."

"Tak apa Kaito-san, aku sudah tidak apa-apa kok. Lagipula kau boleh memanggilku Mikuo." Aku menyambar ucapan Kaito yang terbata-bata itu. Kaito tersenyum lega kepadaku. Walau Baka, dia sangat baik dan perhatian.

Aku meninggalkan Kaito menuju dapur, dan mencuci mangkuk tadi. Hm? Bagaimana? Sebagai perempuan aku adalah calon ibu rumah tangga yang baik kan? Sayangnya aku laki-laki, berarti sekarang jadi calon bapak rumah tangga yang baik? Hah... konyol.

Setelah selesai, aku kembali menuju ke ruang tengah dan duduk bersama Kaito.

"Ng... Kaito-san." Panggilku.

"Ya?"

"Menurutku, aku tetap menjadi perempuan atau laki-laki? Tapi, aku tidak tau laki-laki itu seperti apa, jadi aku agak ragu."

"Hm... aku juga tidak tau. Tapi, aku suka Miku-chan yang manis sih~" ujarnya menggodaku sambil mengayun-ayunkan stik es krimnya.

"Ba... BaKaito!" jawabku marah nan blushing. Aku melemparnya dengan bata... ah, bantal maksudku.

"Uwaa! Maaf-maaf, aku hanya bercanda. Memang kalau mau menjadi laki-laki, mau jadi laki-laki seperti apa? Yang pendiam dan cool? Yang macho dan nakal? Atau yang ceria dan bodoh?" wah... dia menambahkan dirinya sendiri dalam pilihanku.

"Ng... soal itu.."

"Menurutku Miku...O!yang apa adanya sudah bagus kok." Yak.. dia melupakan 'O'nya, dasar bodoh. Tapi, kata-katanya... membuatku senang.

"A... arigatou..." jawabku menunduk malu.

STOOOPP!
Lupakan soal 'blushing'. Ada hal yang lebih penting yang harus kusampaikan.

"Bagaimana dengan sekolahku?" tanyaku tegas. Kaito sempat kaget melihat perubahan emosiku yang cepat.

"Aaa... untuk sekolah sih... itu yang membuatku bingung..." jawab Kaito dengan wajah bodohnya.

"Kaito-san jarang berpikir sih…" ucapku pelan, sangat pelan.

"Hah? Apa kau bilang?" gezz… dia mendengarnya!

"Ng? Bukan apa-apa." Jawabku tersenyum palsu pada Kaito. Kaito terlihat curiga padaku. Biarlah...

Aku kembali memikirkan teman-temanku, Len, Rin, dan Luka. Aku ingin tetap menjadi Miku untuk mereka, terlalu banyak kenangan Miku bersama mereka. Namun… aku tidak bias terus-terusan membohongi mereka.

"Kaito-san."

"Ng." kali ini mulutnya penuh dengan eskrim. Dasar, seperti anak kecil! Dia merusak konsentrasiku, membuatku ingin tertawa saja.

"Bagaimana kalau sisa semester ini aku jalani sebagai Miku, kemudian setelahnya aku akan berperan penuh sebagai Mikuo?"

Kali ini dia menatapku dengan kaget, lagi? Es krimnya nya hendak dimasukkan ke mulutnya pun berhenti. Rasanya ingin ku masukkan paksa semua es krim itu.

"Wow, Mikuo. Kau pintar sekali!" ucap Kaito.

"Hehe, arigatou." Walau diluar aku tersenyum, sebenarnya didalam aku berkata "makanya sekali-sekali gunakan otakmu, baka!" entah mengapa jika dekat Kaito aku jadi jengkel. Aku harus menyingkirkan perasaan buruk ini.

"Mikuo, kamu sudah semakin dewasa ya... Aku bangga padamu." Tiba-tiba Meiko datang dan tersenyum padaku.

Dewasa? Aku? Aku hanya bisa blushing dan tersenyum pada Meiko.


Keesokan harinya aku masuk sekolah seperti biasa, dan bersikap seolah tidak ada apa-apa. Yang harus kulakukan hanya menghabiskan sisa semester ini sebagai Miku, mungkin minggu ini terakhir kalinya Miku bertemu dengan mereka, karena semester ini tinggal satu minggu lagi. Aku masih merasa agak tidak percaya.

"Miku! Hayo! Pelajaran pertama BIOLOGI lho!" panggil Rin sambil menekan kata Biologi. Cih! Dasar!

"Ukh! Iya-iya! Nggak usah ditekan begitu kenapa!" Jawabku… Ah, jawab sisi 'Miku'ku jengkel.

Pelajaran minggu ini lanjutan dari pelajaran minggu lalu, perubahan perempuan. Berarti sekarang laki-laki.
Sederetan kata yang dikeluarkan Kiyo-sensei kali ini masuk ke telingaku dan langsung ditransfer ke otakku, tidak keluar ke telinga satunya lagi. Aku mengerti, semuanya jadi jelas. Apa yang dijelaskan Kiyo-sensei sangat cocok padaku. Ini berarti aku benar-benar laki-laki.

Entah mengapa pelajaran Biologi kali ini mulai menyenangkan, apalagi dengan candaan Kiyo-sensei.

Hm... aku merasa seseorang memperhatikanku. Aku menoleh ke belakang namun tak mendapati siapapun. Yah, mungkin hanya perasaanku saja.

"Hm... aneh." Ucap Len ketika kami sedang beristirahat.

"Aneh apanya Len?"

"Tidak biasanya Miku terlihat menikmati pelajaran biologi."

"Eh? Benarkah?" tanya Rin kaget.

"Ya, dari tadi aku memperhatikannya. Sepertinya sangat menikmati pelajaran kali ini." ho... jadi dia yang memata-mata'iku dari tadi.

"Oh... apa itu pujian Len-sama?" ujarku sambil melemparkan senyuman deadglare, kotak jus negiku pun kuremas karena jengkel.

"Hm... mungkin saja." Ujar Len acuh tak acuh.

"Um... untuk apa Len memperhatikan Miku?" hm... benar juga apa kata Rin. Untuk apa Len memperhatikanku?

"Buffttt!" tiba-tiba Len yang menyeruput minumannya langsung menuntahkannya kembali.

"Ah, Itu.. A.. Hanya kebetulan saja..." jawab Len terbata-bata. Kenapa sikapnya jadi aneh begitu?

"Ahh~ Len mencurigakan, ih~ jangan-jangan Len suka sama Miku ya?" goda Rin. Eh? Suka?

"R... Rin! itu tidak benar!" Len berusaha menyangkal omogan Rin dengan blushing. Sikap yang mencurigakan itu... apa benar Len suka padaku ya?

Aku hanya bisa memiringkan kepala karena bingung.


Sudah beberapa hari setelah kejadian itu. Aku juga semakin merasa ada yang memandangiku setiap saat. Apa aku punya stalker? Apa peduliku. Sebentar lagi aku juga pindah, dalam arti pindah dari Miku menjadi Mikuo.

Sikap Len juga aneh akhir-akhir ini. Setiap aku mata kami bertemu dia langsung mengalihkan matanya dariku, padahal biasanya dia tersenyum. Lalu, setiap aku menghampirinya dia selalu terlihat salting dan menjauhiku. Apa Len membenciku ya? Tapi bagus juga, itu mempermudahku untuk melepas Miku jika ada yang membenciku.

Tapi ada keraguan yang menyelimutiku. Aku putuskan untuk bertanya pada Len.

"Len?" Len hendak menghindar dariku. Tapi aku berhasil mencegahnya, mudah saja mencegah anak kecil seperti dia bagiku.

"Apa kau baik-baik saja? Sepertinya kamu menjauhiku belakangan ini..." Tiba-tiba Len menunduk lemas, sepertinya menyesal mendengar pengakuanku.

Terjadi keheningan diantara kami.

"Temui aku sepulang sekolah disini." Len meninggalkanku tanpa memperlihatkan wajahnya sama sekali. Membuatku penasaran saja.

Aku banyak melamun hari ini, antara perubahan sikap Len yang aneh, dan apa yang hendak dibicarakan Len sepulang sekolah.

'KRIIINGGG! KRIIINGGG! KRIIINGGG!'
Bunyi bel sekolah yang mirip penjual eskrim keliling di kompleks rumah.

Aku menunggu Len angkat bicara padaku, namun sepertinya dia masih menunggu anak-anak lain pulang.

"Len! Ayo pulang!"

"Maaf Rin, aku ada urusan sebentar. Maukah kamu menunggu diparkiran?" Len berkata dengan senyuman yang... kata fans Len bilang itu senyuman maut. Tentu saja senyuman maut Len membuat Rin bungkam.

"Ah, ok."

Apa begitu seriusnya kah yang mau dibicarakan Len? Sampai-sampai Rin, sang soulmate dari Len pun tidak boleh mengetahui apa yang mau Len bicarakan?

"Um... Miku..." Len berbicara dari tempatnya yang jaraknya hanya lewat 2 bangku dariku.

"Ya?"

"Aku... sebenarnya... aku..." eiits! Tunggu sebentar! Ini...

"Daisuki yo, Miku..." Ini acara penembakan kan? Baka Len! Diriku cowok!

Wajah kami sama-sama merona merah, sepertinya laki atau perempuan jika ditembak apapun gendernya pasti akan merona.

"Len, maaf aku tidak bisa."

"A.. apa tidak dipikirkan dulu?" Jiah.. Len... naluri Miku-ku sudah berkata:
1. Len pendek, kalau jalan bareng gimana?
2. Kalau ada cewek liat kami jalan bareng, aku pasti bakal didamprat habis-habisan sama para fansnya.
3. Diriku cowok, ya Kami-sama!

"Maaf Len."

"A... aku akan berusaha menaikkan tinggi badanku untukmu! La.. lalu aku akan meminta para fansgirls ku untuk tidak mengganggumu!" wow, hebat juga kamu Len. Bisa menebak apa yang kupikirkan, kecuali aib besar nomor tiga tentunya.

"Maaf Len, aku tidak bisa memberitahumu alasannya. Sayonara." Aku pergi meninggalkan Len yang sangat kecewa. Aku telah menghancurkan harapan teman terbaikku, maafkan aku Len. Secara tidak sengaja pula aku mengatakan selamat tinggal pada Len, dasar aku ceroboh.


Akhirnya satu miggu telah berlalu, dan libur semester pun segera tiba. Di semester berikutnya aku tidak mungkin hilang begitu saja kan? Tentu saja Kaito sudah menegosiasikannya dengan para guru. Guru-guru setuju akan merahasiakan identitasku dan menjadikanku murid pindahan.

Saat jam terakhir, aku dan wali kelasku yang ternyata Kiyo-sensei itu, memasuki kelasku yang sedang gaduh. Serentak semua menjadi diam. [An: parah sekali kamu Miku(o), wali kelas sendiri bisa tidak tau...]

"Anak-anak ada yang ingin Miku-chan sampaikan kepada kalian." Kata Kiyo-sensei sambil memandangku. Anak-anak yang lain juga mengikuti menatapku dengan tatapan heran, apalagi Rin dan Len.

"Um... Teman-teman, aku akan pindah sekolah liburan semester kali ini. Aku tau ini terlalu mendadak, tapi..." kenapa mulutku bergetar?

"Jadi kita tidak bisa bertemu lagi, semester depan..." gawat, rasanya aku ingin menangis.

"... atau tidak akan bertemu lagi selamanya, sebagai Miku..." ucapku sangat pelan... aku menahan emosiku dan mencoba tersenyum. Sebagai laki-laki aku harus tegar, iya kan? Tapi, sepertinya sekarang perasaanku belum menjadi lelaki sepenuhnya.

Tiba-tiba Rin berdiri dari bangkunya sambil menunduk.

"Mi... Miku... kau bilang kita akan selalu bersama kan...?" air mata mulai membasahi pipi Rin.

"La... lalu kenapa kamu tidak bilang dari awal?" Suara bentak Rin mengema di seluruh kelas. Rin berlari meninggalkan kelas.

Ini semua salahku.

"Rin! Tunggu!" aku mengejar Rin secepat yang kubisa. Aku berlari mengelilingi sekolah. Namun aku tidak bisa menemukannya.

"Cih! Sial. Kemana perempuan itu?" ucapku jengkel.

"Miku!" tiba-tiba Len memanggilku, ternyata dia juga mengejarku.

"Len? Sedang apa disini?"

"Jadi... karena kamu mau pindah sekolah, itu alasanmu menolakku?"

Cih! Lelaki pisang ini! Masih saja membahas soal itu! Waktuku tidak banyak tau!

"Sudahlah, aku harus menemukan Rin sekarang!"

"A... aku akan membantumu!" ujar Len. Aku tersenyum pada Len, Len menjadi memerah karena senyumanku. Mungkin jika aku punya fans, mereka juga menyebutnya senyuman mautku, kah?

"Kita berpencar Len."

"Haik."

Aku hendak mengitari sekolah ini lagi.

"Mikuo." Eh? Suara ini…

"Kaito-san?"

"Aku sudah mencarimu kemana-mana, ternyata kamu disini."

"A... apa sudah selesai?"

"Ya. Mereka setuju menjadikanmu murid pindahan. Jadi sekarang kita harus segera pulang."

"Ta… tapi… Rin…"

"Bukannya ini sudah sesuai rencana Mikuo?"

"Um… iya."

Aku berjalan mengikuti Kaito ke gerbang sekolah. Kaito menaiki mobilnya.

"Miku, ayo."

"Hnn…" aku menolehkan leherku ke belakang. Tidak ada siapa-siapa disana. Maafkan aku Luka aku tidak memberitahumu, maafkan aku Len, dan maafkan aku… Rin.

Dengan agak kecewa. Aku menaiki mobil Kaito. Kaito sudah bersiap mengoper gasnya.

"Miku!"

"Ri… rin?" aku membuka kaca mobil Kaito. Dan melihat Rin menangis disana.

"Rin?" ucapku.

"Miku! Aku… aku…" 'Brrrrmm!' Kaito menancapkan gasnya dan berjalan dengan kencang.
BaKaito! Rin mau ngomong, kamu jalan! Baka! Baka!

Kira-kira apa yang mau dibicarakan Rin tadi ya? Kepalaku masih keluar dari jendela, menatap Rin yang semakin lama menjauh... walau kenyatannya akulah yang menjauh.


To Be Continue...


An:
Akhirnya~ chap 2~! #nangis guling-guling.
Maafkan kelebay-an ku disini.. habis, aku STRess mikirin chap 2 ga update-update. Akhirnya setelah sekian lama... update juga! (QwQ)/
Um... maaf klo crita kali ini aneh nan bertele-tele... habis diriku sangat bingung... A

Terima kasih buat yang udah nge-preview, waktu ada ngepreview fanficku rasanya senang sekali~ (walau Cuma sedikit, tpi rasanya seneng banget) QwQ #nangis haru
Makasih buat yang udah bela-bela'in ngepreview fanficku disekolah... Makasih buat yang udah ngingetin soal typo... QwQ
Trus... soal Mikuo yang ga sadar akan ehemitunyehem aku juga agak bingung, habis diTV ga bilang soal itunya sih... (dapet inspirasi dari TV waktu ada anak perempuan yang ternyata laki-laki) #plakk
Um... ok, rencananya di chap selanjutnya ato chap selanjutnya lagi (?) Mikuo akan... stttt... rahasia... ntar aja deh... walau rencananya mengecewakan juga gpp deh ya~ XD #plak

Sebenernya aku mau chap 2 ini lebih panjang, tapi waktunya ga memungkinkan. Jadi cuma sampai sini aja. Aku jadi tau rasanya dikejar deadline... (padahal nggak dikejar)
Maunya cerita ini cuma sampe chap 3, tapi skarang kayaknya jadi chap 4...
Eh... tapi An masih bingung endingnya gimana... Mungkin ada saran? Please Preview! ^^