Summary : ino kini menjalani kehidupan SMA barunya. Namun, semua itu ada alasannya. Oleh karena itu ia memilih sekolah di konoha gakuen agar ia tak terjangkit oleh masa lalunya. Akan tetapi, disana ia bertemu seorang pemuda berkulit pucat yang ia sebut dengan tuan kertas putih. Yang membuatnya jatuh cinta 'sekali lagi' semua kehidupannya ditulis dalam diary pribadinya. Dengan judul berbeda di setiap chapternya, ia memulai kehidupan SMA nya
DEAR DIARY
Chapter 2
"namanya adalah Sai"
Fanfic SaiIno AU!
Desclaimer : masashi kisimoto-sensei
.
.
.
.
.
.
.
.
"t-tt-tuan kertas putih?" ucapku terkejut melihat sosok yang kufikirkan tadi.
"ino-chan?" iamenyebut namaku.
Wushh..
Sialan…..
Aku teringat lagi akan hal itu. Blushing lagi kan?
Mampus! Mampus! Mampus! Lihat? Aku sudah mengatakannya tiga kali.
TIGA KALI!
Sekarang aku benar benar stress. Berimajinasi uban ku akan tumbuh setelah ini. Semoga aja nggak.
Ku sandarkan kepalaku diatas meja berbantalkan lipatan tangan. Seraya menengok kearah jendela. Langit senja, memang selalu membuatku nyaman dan tenang. Seakan stress-ku hilang ditawan kontras orange-nya itu.
Kreet….
Suara geseran pintu yang membuatku sontak menegakkan kepala dan menengok ke sumber suara.
"gomen. Apakah aku menganggumu?" ujar lelaki yang kukenal.
"oh, Tuan kertan putih toh," Ujarku seraya menopang dagu dengan tanganku.
"nggak kok, nggak juga" tambahku.
"oh, begitu. Apa yang kau lakukan disaat senja begini?" Tanya dia.
"tak ada. Lagipula kau juga kenapa ada disini disaat senja begini?" aku bertanya kembali.
"melukis" jawabnya singkat.
"melukis?"
"ya"
"bolehkah aku melihatnya?" Tanya ku yang sekedar iseng.
"tentu," lalu, dia menyodorkan selembar kertas kanvas yang sejak tadi dipegangnya.
Setelah aku memegang dan melihatnya, betapa terkesimanya aku
Pemandangan kelas yang kosong dengan jendela yang berlatar langit sore yang sangat kontras. Bangku-bangkunya yang tak bertuan dan kondisi ruangan kelas yang semakin gelap, sesaat diterpa cahaya terasa menggambarkan'kesepian yang merindukan adanya keramaian'
Ya, aku bukan seniman sih.. tapi sangat jelas lukisan itu menggambarkannya.
"sudah selesai?" ucapnya.
"yaa.. eh.. hehehe maaf ya aku terlamun tadi," ujarku
"memang apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya nya kembali.
"S-E-S-U-A-T-U" aku mengejanya.
Dia tersenyum sambil ber-oh.
Sriingg…
Oh tuhan…. Kenikmatan apa yang kau berikan padaku hari ini? Senyumnya lebih hangat dari sinar matahari manapun. Hatiku pun ter-enyuh saat melihatnya.
Dengan keadaan blushing, aku menutupi mukaku dengan lukisannya.
"senyummu sangat indah" kata yang tak sengaja keluar dari mulutku.
"eh?aku?" dia melongo seraya melihatku.
"eeehhh!? M-mm-mm-ma-maafkan aku, aku hanya bercanda lho? Iya.." sial malu banget!
"bb-ba-bbagaimana jika kita pulang bareng saja? Suhunya sudah mulai dingin.." ajakku.
"ya, tentu,"
Saat itulah mungkin kami berdua mulai akrab..
Baru mungkin lho..
Langitnya mulai gelap, namun masih terlihat terang. Malam masih malu untuk menampakkan wujudnya. Langit masih bimbang antara malam atau siang. Kini, dia ada diantaranya..
Sudah beberapa menit aku berjalan dengannya tapi,
Aku masih belum berani membuka pembicaraan..
Sesekali aku melirik kearahnya yang sejak tadi sibuk melihat kearah depan dengan tatapan kosong. Ya, memang jelas kalau biasanya orang berjalan selalu melihat kedepan sih.. hehe../gaje bos!
"ino-chan, sampai disini ya! Terima kasih sudah menemaniku pulang. Asal kau tahu, belum ada perempuan yang pernah mengajakku pulang," ujarnya seraya memberhentikan langkahnya.
"ahh! Masa iya? .. yasudah, kalau begitu sampai jumpa!" aku melambaikan tanganku lalu dia pun pergi. aku belum menanyakan namanya, dia mulai pergi. Bagaimana ini?
Ayo Ino! Jangan sampai kau menyesal!
Sosoknya semakin jauh. Dengan sekuat tenaga aku berteriak…
"HEI! NAMAMU SIAPA!?.." aku berteriak sampai-sampai menciptakan gema.
Terlihat dari jauh, Tuan kertas putih menengok kearahku dan berteriak.
"PANGGIL SAJA AKU SAI!" teriaknya seraya tersenyum cerah.
Senyum itu lagi...
Aku sangat menyukainya, tapi...
Kok, rasanya ada yang berbeda ya?
Keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menyelimuti rambut blonde , kalian pasti tahu aku habis mandi.
Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, tiba-tiba saja aku teringat buku diary-ku. Segera, aku langsung mengambil buku itu. Ya, sejak aku mulai memasuki kelas enam SD, aku tak pernah lupa untuk menulis dibuku itu setiap hari.
Setelah mengambil pulpen, aku langsung menuliskannya..
Dear diary,
Kurasa, pendapatku tentang kehidupanku di sekolah ini tak sepenuhnya salah. Mungkin karena aku terlalu posesif dengan semua kejadian masa laluku..
Padahal kenyataannya, aku hanya ingin menuntut ilmu dan bukan ber-drama sinetron. memang rasanya agak sensitif. Toh, begini-begini juga aku hanya seorang pelajar.
Kuharap semua yang kuakatakan ini memang benar terjadi.
Disamping itu semua, kini aku sudah mengetahui orang yang selalu kuberi nama Tuan kertas putih. Namanya adalah Sai. Aku belum mengetahui marganya.
Tapi, aku ingin sekali mengenalnya lebih dekat..
Mungkin bisa jadi dia adalah yang 'kedua'
Hahaha... aku hanya bercanda, tapi juga berharap ^_^
Sampai disini, salam Yamanaka Ino.
