Butterfly

Summary : Apa yang kau lakukan jika seorang lelaki mengulurkan tangannya dan berkata mau terbang bersamaku ?

Pairing : V x Jungkook (GS)

Buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly

Chapter 2 – My True Feeling

Buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly

Jungkook Pov

Aku memandang skeptis pada pemuda di depanku. Aku sering mendapat tatapan itu. Tatapan yang berakhir dengan merendahkan entitasku. Aku terlalu sering mendapatkan tatapan itu. Aku terlalu sering dibicarakan di belakangku. Aku terlalu sering melihat orang bermuka dua. Terlalu sering hingga otakku merasa muak dan tak ingin melihat mereka lagi.

" Permisi ", ujarku sambil meninggalkan pemuda itu.

Jujur jika kalian bertanya apa yang paling aku hindari dan aku benci adalah cinta. Mereka mengatakan cinta dan pergi dengan cara menyakitkan. Membicarakanku seakan aku adalah hal yang paling pantas dibenci dan itu menakutkan. Aku sering ketakutan dengan hal itu dan hal itu yang menghambatku terbang. Sekali lagi aku hanya punya sayap serapuh kupu-kupu bukan sayap yang membentang kokoh seperti elang.

Pemuda itu mencekal tanganku. Jariku bergetar. Reflekku saat aku ingin melindungi diriku sendiri. Aku mencoba menajamkan pandanganku. Aku ingin mengintimidasi pemuda ini yang pasti sama saja dengan pemuda yang bertebaran di luar sana.

" Tanganmu ", ujarku dengan suara yang dingin.

Bahkan jujur saja aku menggigil mendengarkan suaraku saat ini. Aku melihat pandangannya tetap menuju ke arah mataku.

" Maafkan aku ", ujarnya lirih.

Aku menghempaskan tangannya. Aku tak pernah peduli dengan tatapan orang di sekitarku. Ya, aku tidak peduli dan mungkin yang tepat adalah aku pura-pura tidak peduli. Kulangkahkan kakiku dengan cepat sambil menahan napasku.

Setelah langkahku sampai di taman belakang kampus, aku memeluk diriku sendiri. Getaran ini masih ada. Getaran karena perasaan defensifku dan tak ada yang tahu selain diriku. Tanganku gemetar dan mataku seakan memanas. Aku terlalu takut dipandang rendah lagi. Aku sama sekali belum bisa mengangkat kepalaku seakan aku benar-benar sudah jatuh sejak lama. Ya, aku memang jatuh.

" Kendalikan dirimu ", gumamku.

Sungguh kenangan itu membuatku selalu merasakan hal ini. Aku benar-benar membencinya dan membenci diriku sendiri.

Buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly

Taehyung Pov

Mata itu memancarkan ketakutan yang tersembunyi. Ia terlalu terluka. Entah sebanyak apa lukanya aku tak pernah tahu. Oniks yang indah namun guratan ketakutan, kegugupan dan rasa rendah diri ada di sana. Aku tak pernah menyangka aku akan menjadi orang bodoh dengan mengatakan padanya untuk terbang bersamaku dan aku bahkan mencekal tangannya saat ia akan pergi.

Aku menyakitinya. Aku mungkin mengingatkannya pada masa lalunya yang buruk. Entah seberapa banyak luka yang ia derita. Aku ingin menghapusnya bahkan saat aku tidak tahu namanya. Shim Taehyung pabbo, gumamku pada diriku sendiri. Aku memutuskan pergi dari tempat ini. Napasku seakan tercekat saat mengingat bagaimana suara dingin gadis itu yang entah mengapa aku merasakan getaran ketakutan di sana. Ia menarik. Bukan dari artian aku ingin memanfaatkannya, namun ia punya potensi besar untuk menjadi orang dengan kepercayaan diri tinggi entah apa yang membuatnya menjadi serendah diri sekarang.

Aku hampir menabrak kakak perempuanku, Shim Baekhyun yang kini berkacak pinggang di depanku.

" Kau tidak melihatku sebesar ini heum ? " ujarnya sambil memperlihatkan perutnya yang membesar karena sedang hamil.

Aku melemparkan senyuman padanya. Senyuman yang selalu memperlihatkan kalau kami adalah saudara selain wajah kami yang mirip.

" Mianheyo, nuna. Aku hanya memikirkan sesuatu ".

Alisnya terangkat dan aku tahu dia sedang bingung.

" Kau memikirkan apa ? Jangan terlalu memikirkan pekerjaanmu. Aku tidak mau kejadian itu terulang ".

Aku tersenyum. Aku mengaitkan tangannya pada lenganku dan berjalan beriringan dengannya. Dengan lembut, aku membukakan pintu mobil dan membiarkan nuna tersayangku ini masuk. Seandainya dia tahu apa yang aku pikirkan.

Buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly

Jungkook Pov

Aku sengaja tidak membuka mulutku selama menunggu masuknya dosenku ke ruang kuliah ini. Interaksi antar teman-temanku cenderung memekakkan telingaku. Aku tak tahu mengapa aku sangat ini bercanda dengan bebas seperti mereka. Aku selalu ingin bebas tanpa memikirkan terlalu berat kehidupan permasalahan kuliah ini. Kuhela napasku. Takkan bisa karena aku dan teman-temanku berbeda.

Hidup mereka sangat indah di depan mataku. Mereka hanya hidup seperti air yang mengalir dengan tujuan yang terkadang sungguh sangat nyaman. Tidak terlalu besar dan muluk-muluk. Mereka hanya ingin bekerja di beberapa perusahaan terkenal atau berakhir di departemen kesehatan distrik ataupun kota. Entah.

Aku sungguh ingin berpikir sederhana. Bukan seperti pikiranku saat ini. Aku mencintai ilmu biokimia, biomolekuler dan genetika dan kuakui aku terobsesi dengan ketiga ilmu itu hingga mungkin aku akan mengambil ketiganya dalam tugas akhirku. Aku agak tersentak saat Irene duduk di sampingku meski aku tidak memperlihatkan secara jelas dari gesturku. Irene Bae adalah sahabatku sejak semester pertama perkuliahanku di sini. Anak yang menyenangkan meski dulu ia pernah menjadi korban bullying.

Aku, maksudku kami, aku, Irene, Wendy dan Seulgi pernah mendapatkan pengalaman tidak menyenangkan semasa high school dan menjadi sahabat karena pengalaman masa lalu itu. Wendy dan Seulgi datang kemudian. Kami mulai bercanda meski candaan kami dipandang serius oleh para teman-teman sekelasku. Kami seperti kelompok tak tersentuh di sini. Jarang ada yang mau mendekati kami karena sikap dingin kami yang sebenarnya adalah bentuk defensif kami.

Aku memperhatikan bagaimana dosen di depanku menerangkan dasar penentuan status gizi yang penting dalam membuat program kesehatan di masa depan kami nanti. Entah berapa istilah yang kutulis hari ini. Antropometri, pengukuran menggunakan alat-alat yang bahkan aku sendiri sudah sangat mengenalnya. Aku tahu tidak semua mahasiswa akan fokus sepertiku namun inilah diriku, selalu terhanyut saat materi-materi itu mulai memasuki telingaku. Seakan sihir yang menyenangkan di otakku yang selalu berbicara dan mulai mengingat banyak hal.

Aku hampir menahan emosiku saat namaku lagi-lagi bersama dengan anak-anak yang menjadi sumber stressku di fakultas ini. Bukan tanpa sebab aku mengatakan, kelompok anak hits yang jarang menggunakan otak mereka yang bahkan kapasitasnya tak aku tahu berapa. Aku hampir mendecih saat salah satu dari mereka bilang tangannya sakit dan tidak ingin menuliskan apapun mengenai tugas kami. Aku sungguh ingin mendecih sekarang.

Semester lalu, aku seperti orang kesetanan dalam mengerjakan tugas karena mereka. Aku beberapa hari tenggelam dalam sakit kepala yang menyakitkan dan memaksaku untuk beristirahat meski nyatanya akhirnya aku sakit karena stress itu. Keluargaku memperingatkanku meski aku sama sekali hanya bersikap seolah-olah aku beristirahat meski saat mereka pulang, aku kembali tenggelam dalam kesibukan merapikan data dan laporan akhir dari pengambilan data kelompok kami.

Irene dan aku memiliki kesamaan. Kami selalu sinis pada orang tidak mau berusaha mengerjakan tugasnya. Aku sungguh hampir mengatai orang yang berada di meja sebelahku karena dia pernah mengatakan aku adalah tipe orang yang selalu menggantungkan sesuatu pada orang yang lebih tahu tentang tugasku dan aku tidak mau tahu. Sungguh aku benci orang-orang seperti itu. Aku menggertakkan gigiku meski tak menimbulkan suara yang terlalu keras.

Aku mungkin harus berterima kasih pada entitas Kim Daniel sekarang. Pemuda itu mengalihkan kekesalanku yang tak nampak dengan bertanya masalah ponselku yang hilang di kampus. Aku berbicara banyak hal hingga aku dan Irene pulang. Kami sempat bertukar pikiran tentang beberapa lagu saat di jalan hingga bercakap ringan sebelum aku kembali masuk ke gedung apartemenku yang berada di dalam sebuah gang.

Aku melambaikan tangan dan tersenyum ke arahnya saat ia memacu motornya menjauh. Aku masih tersenyum saat menyapa tetangga apartemenku yang berbicara di unitnya bersama beberapa tetanggaku yang sesama mahasiswa sebelum aku kembali ke kamarku. Saat aku menutup dan mengunci kamarku. Aku menghela napas. Terlalu sulit ternyata untuk selalu tersenyum dan bahagia. Tes. Air mataku kembali menetes. Memori itu masuk seperti berlomba-lomba muncul. Serasa tumpang tindih hingga akhirnya aku terlelap.

Buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly*buterflybuterfly

Hai, hai jumpa lagi di chapter baru. Aku senang banget baca respon yang masuk lewat review. Sungguh aku waktu nulis ini. Semua mengalir begitu aja. Entah. Semoga kalian suka dengan chapter baru ini. Aku berterima kasih banyak buat semua yang membaca, review, favorite maupun follow cerita ini. Aku mengapresiasi semua review yang masuk. Jujur itu dukungan besar buatku.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya...