Cast : find by yourself

Warning! 18+

.

.

.

Malam itu Mingyu lapar, ia menuju ke dapur. Membuat sedikit makanan untuk perutnya dan juga Jeonghan. Mingyu bisa memasak juga berkat Jeonghan yang selalu mengajarinya setiap beliau berkutik di dapur. Kali ini giliran Mingyu yang harus mengurus mamahnya.

Mingyu membuka kulkas, mengambil semua bahan-bahan yang ia perlukan. Memasaknya tahap demi tahapan. Tak lupa juga ia mencicipi masakannya terlebih dahulu. Setelah semuanya siap, ia menyediakan 2 piring berisikan nasi secukupnya. Ia memang sengaja menaruh nasi langsung pada piring, agar tidak ribet. Dan juga jus jambu kesukaan Jeonghan. Selesai!

Mingyu menaruh satu persatu makanan itu pada meja makan.

"Mamah! Makan dulu yuk mah!" Teriak Mingyu yang mengarah ke kamar Jeonghan. Namun tak ada jawaban.

"Mamah! Mamah lagi ngapain sih?" Panggilnya sekali lagi. Namun jawaban masih seperti tadi.

"Mamah kemana sih?" Gumam Mingyu. Karena Mingyu tidak sabar, ia memutuskan untuk memasuki kamar Jeonghan.

Toktoktok! Toktoktok!

"Mamah! Ayo makan dulu mah! Mamah!" Tidak ada jawaban juga. Mingyu mulai berpikir yang tidak seharusnya ia pikirkan. Pikirannya masih negatif. Ia berpikiran bahwa terjadi sesuatu dengan Jeonghan. Mungkin.. Bunuh diri. Atau mungkin.. Tertidur. Ia menggoyang-goyangkan knop pintu, namun ternyata pintu itu dikunci oleh beliau dari dalam. Mingyu semakin penasaran. Lalu ia mendobrak pintu kamar Jeonghan. Jika memang nantinya Jeonghan sedang tertidur, Mingyu siap untuk diomel-omel oleh Jeonghan karena telah mengganggu tidurnya.

BUKK! BUKK!

BRAAAKKK!

"Ma.. mamah.." Mingyu sangat terkejut. Ternyata dugaannya dari tadi semuanya salah. Ia melihat Jeonghan tersandar pada kepala springbed, beliau memakai baju tidur tipis berwarna pink pastel yang hanya diikat oleh tali pita yang ada di bagian pinggang. Jadi jika tali itu terpisah oleh ikatannya, maka terbukalah semuanya. Setengah badannya tertutup oleh selimut tebalnya, dan.. beliau menatap kosong keluar jendela. Tatapannya terlihat menyeramkan. Tidak berkedip sekalipun.

"Mamah.." panggil Mingyu pelan. Namun Jeonghan tidak menoleh ke arahnya. Ada apa ini sebenarnya? Mingyu semakin tidak mengerti dengan sikap Jeonghan. Ia pun mendekati Jeonghan secara perlahan. Tangan kanannya terus memegangi dadanya, karena detak jantungnya sangat tidak beraturan saat ini.

"Mamah.." Mingyu memanggil sekali lagi. Ia tepat berdiri di samping Jeonghan yang sedang tidak memandangnya. Perlahan ia sentuh rambut panjang Jeonghan. Tangannya gemetar. Setelah telapak tangannya benar-benar mendarat di kepala Jeonghan, Mingyu lega. Tidak ada reaksi apa-apa terhadap Jeonghan. Namun Jeonghan perlahan memejamkan matanya. Terlihat seperti seorang wanita yang sedang merasakan kenikmatan.

"Ke.. kenapa? Tingkah mamah persis seperti Wonwoo disaat aku akan menciumnya di kampus." Gumam Mingyu dalam hati.

"Emm.. Ma.. mamah.." panggilnya gugup. Akhirnya Mingyu memberanikan diri untuk duduk di samping Jeonghan. Jeonghan masih saja menghadap ke jendela dan memejamkan matanya. Mingyu mencoba menyentuh kedua pipi Jeonghan dengan kedua tangannya. Mungkin sentuhannya bisa membuat Jeonghan merasa lebih baik.

"Mamah.. Lihat aku mah.." Mingyu mulai menggerakkan kepala Jeonghan menghadap ke wajahnya. Tiba-tiba Mingyu kaget. Jeonghan membuka matanya dan tersenyum dengan Mingyu. Mingyu merasa aneh dengan sikap Jeonghan.

"Mamah.." panggilnya lagi.

Jeonghan malah mengangkat dagunya mendekat ke wajah Mingyu.

"E..ehh..eh.. ada apa ini?" Batin Mingyu. Matanya membulat melihat wajah Jeonghan yang perlahan mendekat ke wajahnya. Mingyu gugup. Kemudian Mingyu mengalihkan tangannya dari pipi Jeonghan ke lengan Jeonghan agar sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi.

"Mamah!" Mingyu meninggikan volume suaranya. Hingga tubuh Jeonghan ikut terguncang.

"Ah! Apa? Ada apa pah?" Jeonghan terkejut sadar, namun mulutnya berucap lain.

"Papah?" Batin Mingyu. Ia mengerutkan dahinya sekilas. Otaknya mengolah kata terakhir yang diucapkan oleh Jeonghan. Kenapa Jeonghan memanggilnya dengan sebutan papah? Jeonghan masih kepikiran dengan Seungcheol. Atau mungkin kejiwaan Jeonghan sedang terganggu karena kepergian Seungcheol.

"Aku Mingyu mah! Anak mamah!"

"Papah sudah meninggal!" Mingyu menepuk-nepuk pelan dadanya sendiri. Untuk meyakinkan Jeonghan bahwa dia bukanlah Seungcheol.

"Hahaha.. ih papah sukanya gitu." Jeonghan memang benar-benar terganggu jiwanya. Jeonghan menganggap Mingyu adalah Seungcheol.

"Mah! Aku Mingyu mah! Mingyu!"

"Terserah papah saja lah." Mingyu semakin bingung bagaimana caranya menyadarkan dan mengingatkan kembali mamahnya.

"Yasudah! Sekarang mamah makan dulu. Ayo mah!"

"Makan disini saja pah. Mamah capek, pengen disuapin sama papah. Yayaya?" Jeonghan bertingkah genit didepan Mingyu. Sebenarnya ia jijik dipanggil dengan sebutan papah. Ia hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Jeonghan.

Kemudian Mingyu keluar mengambil makanan yang sebelumnya sudah ia siapkan di meja makan untuk Jeonghan.

Jam menunjukkan pukul 12.30 malam. Mingyu sudah selesai menemani Jeonghan, hingga Jeonghan tertidur. Sekarang giliran Mingyu yang harus tidur. Hampir 2 jam Mingyu diajak curhat dengan Jeonghan tentang masa-masa sekolahnya dahulu. Mingyu kembali menuju kamarnya sendiri. Ia memaksakan dirinya agar segera terlelap dari tidurnya. Karena besok ia ada tes skripsi, jadi ia harus bangun pagi. Namun entah kenapa, mata Mingyu belum bisa terlelap. Pikirannya masih tertuju ke Jeonghan. Masih memikirkan bagaimana cara menyembuhkan halusinasi mamahnya, agar ia tidak dipanggil dengan sebutan papah lagi.

Mingyu menatap langit-langit kamarnya. Ia juga mengingat moment-moment indah bersama Seungcheol disaat beliau masih hidup. Namun tiba-tiba terdengar suara hentakan barang jatuh yang cukup keras hingga terdengar sampai kamar Mingyu.

BRAAAKKK!

Mingyu kaget. Apa yang ia pikirkan, buyar seketika. Rasa takut mengelilinginya sekarang. Ia ingin melihat keluar untuk memastikan bahwa itu hanya kerjaan kucing kesayangannya yg mencari mangsa di malam hari. Tapi biasanya kucingnya sibuk sebelum jam 12 malam. Dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul 12.30. Itu berarti ada sesuatu yang lain. Apakah papah datang untuk mengunjungi rumah ini? Karena Mingyu takut, akhirnya Mingyu menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut dan pergi tidur.

Next?