Want to Feel Loved
2.
Sebuah sofa besar di ruang televisi terpencil di sudut rumah ini merupakan tempat satu-satunya di mana Chanyeol diizinkan untuk mengistirahatkan tubuhnya. Chanyeol tidak pernah sekali pun merasakan rasanya terlelap di samping Kris, ia tidak pernah melihat wajah tenang Kris ketika tertidur, ia juga tidak pernah terbangun di pagi hari dan disambut oleh pemandangan sang kekasih yang terbaring di sampingnya. Meski Chanyeol kini resmi telah dipinang oleh Kris, namun ia tetap merasa sendiri.
Sudah cukup sering Chanyeol dipertemukan dengan Baekhyun. Entah itu ketika Baekhyun sedang dirangkul mesra oleh Kris, atau tertidur di sofa bersama Kris, atau bahkan sedang melakukan sesuatu yang cukup intim. Namun tak sekali pun Chanyeol mencoba mengajak Baekhyun berbicara atau sebaliknya. Bila Baekhyun berkunjung ke rumah untuk menemui Kris, ia akan menganggap Chanyeol seolah tak ada.
Seringkali saat Chanyeol dan Baekhyun berpapasan di dalam rumah, dengan sengaja Baekhyun akan membenturkan bahunya keras ketika ia berjalan melewati Chanyeol. Meski secara fisik Baekhyun terlihat begitu mungil dan lemah, tetapi perilakunya tidak sama sekali seperti itu. Baekhyun sering mengatai Chanyeol, memakinya, dan apa pun itu yang dapat menyakiti Chanyeol.
Sebenarnya menurut Chanyeol, bila ia diberikan pertanyaan mengenai siapa yang lebih kejam di antara Kris dan Baekhyun, Chanyeol mungkin akan menjawab keduanya karena memang mereka berdua sama saja; akan merasa senang melihat Chanyeol menderita. Dan alasan mengapa Chanyeol tidak melawan sama sekali perbuatan buruk mereka karena ia berpikir bahwa ia memang pantas dibenci. Chanyeol memiliki pikiran seperti itu sebab ia menganggap kalau dirinya merupakan perusak hubungan Kris dan Baekhyun.
Chanyeol sesungguhnya tidak pernah meminta dipasangkan dengan Kris. Lagipula Chanyeol itu orang yang terlalu polos untuk bahkan memikirkan seorang pasangan hidup. Ia tidak pernah menempatkan asmara dalam hidupnya sebagai sebuah prioritas. Pribadi dan seleranya yang terlalu kekanak-kanakan membuatnya sering dipandang naif. Meski begitu, Chanyeol tetap disukai banyak orang karena sikap manisnya, keramahannya, serta kebaikan hatinya.
Sebagai contohnya ia hanya menuruti apa yang dikatakan orang tuanya ketika ia diberitahukan akan dipasangkan dengan seseorang dari keluarga teman orang tuanya yang kaya raya. Walau Chanyeol bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan, tetapi ia tidak gila akan harta. Chanyeol menerima perjodohan tersebut karena selain dirinya yang tidak ingin melawan kedua orang tuanya, ia juga terbujuk oleh orang tua Kris yang berkata bahwa mereka ingin putra mereka—Kris dipasangkan dengan seseorang yang dapat membawa Kris ke dalam pergaulan yang baik, bukan dengan seseorang seperti Baekhyun.
"Kalau kubilang bangun kau harus langsung bangun!" sebuah seruan membangunkan Chanyeol dari tidur singkatnya, ia menerima sebuah tamparan di pipi. Kris tidak pernah membangunkan Chanyeol di pagi hari atau sedini ini. Jadi Chanyeol asumsikan bahwa orang yang baru saja membangunkannya itu adalah Baekhyun. Karena hanya Kris dan Baekhyun-lah yang akan memperlakukan Chanyeol dengan buruk seperti ini.
"Gosh, kau ini benar-benar tidak berguna seperti apa yang Kris katakan."
Chanyeol perlahan bangkit dari posisinya untuk duduk—agak sedikit sulit karena ia merasa masih begitu lelah setelah kemarin malam menangis terlalu lama dan ia tidur hanya sebentar. Dan benar, ia pun langsung dihadapkan pada Baekhyun yang kini sedang berdiri sambil berkacak pinggang di samping sofa. Baekhyun terlihat begitu mengintimidasi.
Pada dasarnya Baekhyun memiliki wajah yang menggemaskan, ia juga terlihat lucu dan murah senyum. Namun itu semua tidak ditunjukkan di hadapan Chanyeol. Imejnya akan berubah seketika menjadi seseorang yang tidak sama sekali ramah, berperilaku kasar—bahkan lebih kasar dari Kris, dan memiliki tempramen yang buruk.
"Apa kau yang membuatkan Kris makan malam?" tanya Baekhyun lagi, ia kemudian menampar pipi Chanyeol keras untuk yang kedua kalinya ketika yang ditanyai tidak lekas menjawab. Chanyeol mengeluarkan rengekan kecil karena merasa terkejut dan takut telah diberikan sebuah perlakuan yang tidak baik di pagi hari oleh Baekhyun. Chanyeol tidak berani menatap Baekhyun, jadi ia pun menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Aku …, aku yang membuatnya …"
"Oh, kau yang membuatnya?" Baekhyun kemudian mendengus kesal, ia diam sesaat untuk meredam amarahnya. Namun apa daya, karena sudah terlanjur membenci Chanyeol dari awal, Baekhyun pada akhirnya tetap meluapkan amarahnya dengan menarik helaian rambut Chanyeol sangat keras dan menyeretnya agar terjatuh dari sofa. Baekhyun tahan tubuh Chanyeol agar terus terbaring di lantai dengan menginjakkan kakinya pada tubuh Chanyeol, tepat di tulang rusuk. "Sudah berapa kali kukatakan, jangan berlagak manis di hadapannya!"
Chanyeol tidak dapat memberi respon karena sulit untuk berbicara pada saat yang sama di mana harus menahan rasa sakit. Jadi ia pun hanya merintih pelan ketika Baekhyun menginjak tubuhnya lebih keras. Tetapi untungnya tak lama setelah itu, Baekhyun cepat-cepat menghentikan perlakuannya tersebut saat terdengar Kris memanggilnya.
"Baekhyun, kau di situ?" suara Kris terdengar semakin mendekat. Baekhyun pun segera menjauhkan tubuhnya dari Chanyeol setelah sebelumnya memberikan tatapan mengancam pada Chanyeol.
"Yeah, aku di sini!" Baekhyun menyahut panggilan sang kekasih, ia lalu berjalan ke arah sumber suara Kris sambil merapikan kain pakaiannya yang agak kusut. Baekhyun abaikan Chanyeol yang masih terpaku di lantai dan meringis kesakitan, ia segera meninggalkan ruangan itu setelah menutup pintunya rapat-rapat.
Baekhyun tahu betul bagaimana cara memberikan siksaan fisik untuk Chanyeol. Ia baru saja menginjakkan kakinya pada tubuh Chanyeol tepat di mana terdapat sebuah luka yang pernah diberikannya beberapa hari lalu saat ia dengan sengaja mendorong tubuh Chanyeol untuk dibenturkan pada sudut meja.
Baekhyun selalu menyakiti tubuh Chanyeol pada bagian tubuh yang sama untuk waktu yang lama, berbeda dengan Kris yang akan menyakiti Chanyeol di bagian tubuh mana saja—asalkan dapat melampiaskan amarahnya.
Seperti halnya Baekhyun yang selalu menyakiti perasaan Chanyeol untuk hal yang sama. Baekhyun senang membuat Chanyeol iri akan hubungan mesra dirinya dengan Kris. Ia sering secara sengaja mengecup mesra bibir Kris, memeluk tubuh Kris erat, atau hal intim lainnya ketika mendapati Chanyeol memperhatikan mereka dari kejauhan.
Semua itu Baekhyun lakukan hanyalah demi membuat Chanyeol menyerah pada pernikahannya dengan Kris. Namun tampaknya, hari demi hari Chanyeol tidak terlihat merasa akan menyerah meski memang ketakutan yang dipancarkan dari sorot matanya tidak pernah memudar.
"Apa yang kaulakukan di ruangan ini?" tangan Kris secara otomatis merangkul tubuh Baekhyun dekat, mereka kemudian pergi menjauh dari ruang televisi terpencil itu.
"Tidak apa-apa, aku hanya bosan." Alasan bodoh memang. Namun Kris tetap mempercayainya dan tak mempertanyakan hal lainnya.
Setelah beberapat saat, Chanyeol dapat mendengar Baekhyun tertawa geli dari kejauhan seolah Baekhyun melupakan apa yang telah dilakukannya pada Chanyeol. Baekhyun benar-benar dapat menjaga imejnya sebagai pribadi yang manis di hadapan orang lain dengan sandiwara yang sempurna. Ia mempermainkan peran baik dan buruknya dengan baik dan seimbang.
Tiba-tiba saja gaduh obrolan di antara Kris dan Baekhyun berhenti begitu saja, kemudian terdengar sebuah gema yang memekakan telinga, seperti sesuatu yang jatuh lalu pecah ke lantai.
"Chanyeol!" Kris memanggilnya tiba-tiba, ia terdengar gusar.
Chanyeol ingin menghampiri Kris, namun butuh waktu yang lama untuk hanya dirinya berdiri. Dengan bertumpu pada sebuah meja, akhirnya Chanyeol perlahan bangkit untuk berdiri sembari menggigit bibirnya keras-keras untuk meredam sebuah rintih kesakitan. Rasa sakit memar di tubuhnya semakin memburuk akibat apa yang telah Baekhyun lakukan padanya.
Belum sempat ia berdiri tegak sepenuhnya, Kris menarik lengannya paksa untuk diseret ke ruang makan—membuat kepala Chanyeol merasa sedikit sakit karena akhir-akhir ini ia tidak dapat melakukan sebuah aktivitas yang terlalu cepat dan tiba-tiba.
Di sana. Terlihat bagaimana makan malam yang kini sudah menjadi basi itu kini terlihat tak keruan. Makanan beserta piring-piringnya berserakan di mana-mana. Chanyeol melirik ke pemandangan sebuah gelas beling yang Kris baru saja pecahkan. Ruang makan tersebut benar-benar terlihat kacau.
"Jadi kau tidak suka kalau aku tidak memakan makan malamnya?" tanya Kris menekan, ia memerangkap tubuh Chanyeol ke dinding di balik punggungnya. Mereka saling berhadapan satu sama lain. Begitu dekat. Hingga Chanyeol dapat merasakan deru napas Kris ke wajahnya. Kris menatap Chanyeol tajam.
Chanyeol menelan ludahnya ketakutan sebelum menjawab dengan nada bergetar, "I-itu bukan aku yang melakukannya."
"Lalu siapa yang melakukannya? Tidak mungkin Baekhyun yang melakukannya, dia bukan pengacau seperti kau!"
"Bukan aku yang—"
"Bersihkan ini semua. Ketika aku kembali, semuanya harus kembali seperti semula."
Chanyeol hanya menganggukkan kepalanya, tak berani mengucap sepatah kata pun untuk merespon. Ia tak sadar bahwa ternyata ia sedang menangis ketika Kris berkata padanya,"Dan aku benci melihatmu menangis terus, aku muak melihatnya. Selain menyusahkan hidup orang, kau juga ternyata lemah."
Chanyeol beruntung, kali ini Kris tidak memberikannya kekerasan fisik yang berlebihan. Ia merasa sedikit lega karena hari ini Kris dan Baekhyun akan pergi keluar, setidaknya Baekhyun hari ini tidak akan ada untuk menyakitinya.
Omong-omong soal Baekhyun, di mana dia?
Tanpa berkata apa pun lagi, Kris meninggalkan Chanyeol untuk menghampiri Baekhyun yang ternyata lagi-lagi didapati sedang berdiam diri di ruangan Chanyeol. Inilah salah satu yang Kris benci ketika ia mengundang Baekhyun ke rumahnya. Kehadiran Chanyeol akan selalu menyita perhatian Kris lebih sehingga membuatnya mengabaikan Baekhyun.
"Hey, apa yang kaulakukan di sini? sudah kubilang ini bukan tempat yang cocok untuk …" Kris menggantung ucapannya ketika terlihat Baekhyun seperti tak mendengar Kris berbicara dan sedang sibuk dengan apa yang dilakukannya. Sayangnya Kris tidak dapat melihat apa yang Baekhyun lakukan karena sang kekasih duduk memunggunginya. Terlihat tangan Baekhyun tak mau diam, jadi karena merasa penasaran, Kris pun menghampiri Baekhyun lebih dekat lalu menepuk pundaknya. "Baekhyun?"
Baekhyun tersentak, ia segera membalikkan tubuhnya untuk menghadap pada Kris dan melenguh terkejut. "Oh God! kau mengejutkanku, Kris."
Kris tersenyum, senang melihat wajah terkejut yang Baekhyun menggemaskan. Namun senyum itu perlahan hilang dari wajahnya ketika ia melihat sesuatu dalam genggaman tangan Baekhyun yang tampak aneh. "Apa yang ada di tanganmu?"
"Uh? Oh," Baekhyun terlihat gugup, namun ia sembunyikan kegugupannya itu dengan tertawa renyah dan berkata, "bukan apa-apa. Aku hanya meminta kertas, boleh? aku sedang berencana membuat sebuah kejutan untukmu."
"Kejutan yang diberitahukan bukan sebuah kejutan lagi, Byun Baekhyun."
Baekhyun tersenyum berseri menanggapinya, untuk mengalihkan topik pembicaraan, ia kemudian berucap, "Well, apa yang kautunggu? Kita tidak ingin tertinggal pesawat, 'kan?"
"Kau benar." Kris berdecak kesal, ia melirik sekilas pada sofa di sampingnya—sebuah tempat untuk Chanyeol tidur. "Maaf, si tolol itu jadi selalu mengganggu waktu bersama kita."
"Oh, sudahlah, Kris." Katanya lembut. Nada bicara palsu favorit semua orang. "Lagipula kau jangan begitu keras padanya, kautahu itu bukan perbuatan yang baik."
"Baekhyun, aku tidak suka kalau kau membelanya." Ucap Kris seolah ia marah. Untuk beberapa saat mereka hanya saling berpandangan, lalu Kris menghela napas panjang dan membalas senyuman Baekhyun. Ia kemudian merangkul Baekhyun erat. "So, who's ready for the honeymoon?"
"Me!" seru Baekhyun antusias, ia kemudian terkikik geli saat Kris mencubit pipinya pelan.
"God, aku tidak sabar untuk membuatmu menjadi milikku seutuhnya."
Baekhyun hanya tersenyum, ia melekatkan tubuhnya pada Kris dengam memeluknya erat.
"Nanti, kalau kita sudah bersama, berapa banyak anak yang kauinginkan?" tanya Kris santai.
Senyum Baekhyun lenyap seketika, wajahnya terlihat muram. Namun Kris tidak memperhatikan suasana hati Baekhyun yang kini berubah drastis. Lagipula Baekhyun dengan mudahnya menyembunyikan kemuramannya tersebut dengan tersenyum lebih lebar dan berkata, "Entahlah, berapa pun—um, bisa kita pergi sekarang? Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini."
"Okay, okay. Kita pergi sekarang juga."
.
Yang membuat Baekhyun muram, yang membuat dirinya tiba-tiba merasa sedikit canggung di dekat Kris adalah karena ia baru saja mengetahui faktanya bahwa ternyata meski Kris terlihat begitu benci pada Chanyeol dengan memberikannya siksaan setiap hari, tetapi pada saat yang sama Kris memiliki nafsu tersendiri untuk dapat membuat Chanyeol mengandung keturunan mereka yang pertama. Entah apakah itu semua karena sebuah kebetulan yang dilakukan sekali saja, atau entah Kris ternyata memang memiliki ketertarikan pada Chanyeol.
Kemungkinan dan bayangan mengenai Kris yang ternyata melakukan hal yang begitu intim bersama Chanyeol tanpa sepengetahuan Baekhyun membuat Baekhyun merasa kesal sendiri, cemburu, dan marah. Tetapi Baekhyun lebih memilih untuk bertingkah seolah ia tidak tahu apa-apa sebelum melakukan sebuah tindakan.
Sepertinya Kris tidak tahu apa-apa, pikir Baekhyun sambil mengepal kertas hasil medis dari sebuah rumah sakit yang menyatakan bahwa Chanyeol kini sedang mengandung tersebut dengan remasan yang erat.
Bukankah lebih baik kalau segera dilenyapkan sebelum Kris tahu?
.
.
.
tbc
