Prak!

"Uh ... dasar alarm berisik!" Lantas kembali bergulung dalam balutan selimut tebal. Hawa sekitar masih dingin. Sepasang netra itu memejam lagi, hendak ke alam mimpi sampai nanti siang.

Lalu dengkuran halus pun terdengar.

Sepuluh menit kemudian yang ...

Hening.

Damai.

Tenang.

Tenteram tanpa gangguan.

Kenikmatan hakiki bagi seonggok daging bernyawa yang kembali terlelap di atas kasur. Kantuk di wajahnya masih membalur. Begitu nyenyaknya tidur, dengan satu mimpi indah beralur.

Suasana idaman.

Sayangnya, sayang, jam weker yang dikatakannya sebagai "alarm berisik" itu berdering lagi, meski sudah dibanting jauh dari tempat aslinya. Menderingkan suara yang membuncah ke seluruh ruangan, sampai ke telinganya, hampir saja pekak oleh suara dering yang keras terdengar.

Mau tidak mau, manusia terlelap itu terjaga. Bangkit dengan terpaksa, pula berekspresi kesal dan mengantuk. Menghampiri si jam weker yang tergeletak di lantai, masih berdering berisik membangunkannya.

Drap! Drap! Drap! Drap!

"Jiaaah!"

Set-!

"Dasar jam weker berisik! Jam berapa, sih, ini!?"

Emosi marahnya redam seketika. Raut wajah sekonyong berganti, dari marah nyaris mengamuk menjadi pucat terkejut seperempat mati. Bibirnya terbuka sedikit, hendak berucap, namun hilang kalimat. Otaknya menyadari sesuatu, selepas berhitung dengan waktu.

Sedetik kemudian, kamarnya menjadi gaduh. Oleh ribut derap langkah yang membuat sesak dan penuh.

Grudak-gruduk-gruduk-gruduk!

"Seragamku mana? Duh, sepatuku juga kemarin basah! Astaga, buku-buku pelajaran hari ini juga belum siap! Haaah, bagaimana ini?! Kelihatan sekali aku tidak niat sekolah!"

Gruduk-gruduk-gruduk!

Set-!

"Eh-!?"

Gedubrak!

Dia mengaduh sebentar, kakinya terjerat selimut tebal yang sempat dilemparnya ke lantai, pelampiasan sesaat dari rasa yang memburu, surai cokelatnya tergerai bebas dan berantakan. Di sela ia mengatur napas, masih dengan terengah, Erzsië berseru frustrasi ...

"AKU KESIANGAN!"

Lantas disusul dengan teriakan penuh rasa putus asa dari seorang siswi yang terlambat sekolah.

Tanpa mematikan alarm, handuk di balik pintu kamar Erzsië raih, setengah berlari menuju kamar mandi. 'Ah, sudahlah. Mandi bebek saja! Lalu semprot parfum yang banyak!' pikir Erzsië ketika mengunci pintu kamar mandi.

Lupakan tentang kebiasaannya; menyanyi di kamar mandi dengan botol sampo sebagai microphone jejadian, dan tangannya yang menggestur seakan ia sedang menggunakan headset. Atau rutinitas melamun selama lebih dari setengah waktu mandinya, alangkah menyita waktu. Forget it, Erzsië harus cepat.

Masalahkanlah nanti soal Erzsië yang berantakan dandanannya, atau tergesa dan berakhir terlambat ke sekolah, uhh, kembarannya pasti sudah mendahului sejak tadi.

Tanpa Erzsië menyadari, ada yang mengikuti alur tingkah lakunya barusan ...

... seseorang yang berada tepat satu tingkat rumah di bawah kamarnya.

Di lantai bawah, tepatnya di ruangan di mana tuan rumah dapat tamu, ada yang menyimak seluruh kegiatannya. Dia menebak-nebak, menduga satu-satu, menerka, dan membatin seorang diri.

'Woh, ricuh.'

Erzsebet Héderváry.

Gadis berusia delapan belas tahun yang berupawani persis dengan Erzsië.

'Dugaanku benar, dia ketinggalan informasi tentang hari ini.'

Namun ekspresinya begitu cuek, seperti tidak peduli, seolah 'ah-bodo-amat-bukan-urusanku' terucapkan dengan jelas melalui air mukanya.

'Telat bangun? Apa saja yang dia lakukan semalam, eh?' batinnya seraya mengunyah roti bakar tak berselai walau segores pisau. Ini seleranya, ah, sudahlah. Ia lirik arloji yang melingkar elegan di pergelangan tangan kiri, Erzsië terlewat empat puluh menit dari waktu seharusnya dia bangun. Biasanya, dia dan Erzsië sudah melesat dan bergegas ke sekolah.

Lalu belajar seperti biasa sampai sore. Lalu bertemu beberapa guru selama pelajaran dan waktu istirahat. Lalu senggangnya diselingi menyapa kawan satu sekolah, bercanda satu sama lain. Lalu seperti biasanya. Barangkali, tiada yang spesial atau khusus untuk hari ini. Lalu pelajaran lagi. Lalu ...

Glek!

Drap! Drap! Drap! Drap!

... lalu setelah pikiran linimasa ke-'lalu-lalu-lalu'-annya barusan, Erzsebet sejenak menjeda diri. Huh?

'Turun tangganya bisa pelan-pelan, nggak, Mbak?'

Suara kaki bersandal sebelah jebat dan berkaus kaki, setengah berlari menuruni anak tangga dengan gerakan tidak santai. Seperti orang terburu-buru; dan sebenarnya, memang terburu-buru. Sementara itu, yang sedari tadi menyimak hanya tetap monoton menyimak, sembari menyeruput teh susunya yang mendingin.

'Pasti setelah ini heboh menemukan sarapannya di hadapanku,' pikir Erzsebet lagi, menebak apa yang akan dilakukan kembarannya beberapa detik ke depan. Menyeruput teh sekali, lantas bahunya mengendik, membatin, lagi, 'Sengaja sekalian kusiapkan tadi.'

Drap! Drap! Drap!

'Eh?'

Netra violetnya mengikuti Erzsië, menatap keheranan. Tebakan Erzsebet salah. Meleset total. Erzsië justru paruh berlari menuju pintu depan yang berjarak sekitar lima meter dari ruang tamu, melewatinya, Erzsië melewatkan sarapannya.

Namun, ada "hal lain" yang membuatnya lebih heran. Terburu ia menyeruput habis teh susunya, memanggil gadis yang sama-sama berusia delapan belas tahun itu tiga detik kemudian. "Erzsi ...?"

Yang dipanggil sepertinya ak mendengar. Entah karena saking tergesa atau apa, sekarang ia mengacak-acak sepatu di rak, sembari bergumam-gumam tidak jelas tentang sepatunya yang hilang, tugas belum dikerjakan, sampai jaringan penambatan akademi yang sering "macet".

Alangkah riweuh-nya ...

"Erzsië, kamu ..."

"Astagaaa! Sepatuku mana!?" Disela sekali.

Lagi, berusaha memanggil. Suaranya mengeras satu oktaf. "Er ..."

"Duh! Mana ponselku belum penuh waktu diisi daya!" Ngegas. Lagi-lagi, Erzsebet disela.

"Erz ..."

"Kalau sampai sepatuku yang cokelat itu tidak kutemukan, aku akan cekeran!" Disela kembali dengan ujaran seenak jidat.

Twitch!

Perempatan siku imajinatif. Erzsebet mengulum seringai, mengepalkan tangan di sisi kanan depan wajahnya. Cukup sudah, rempong betul gadis satu ini. "Erzsië!"

"Hu- huh?" Panggilan barusan manjur, sampai ke telinga Erzsië, menyentaknya sesaat. Panggilan itu rupanya berlanjut, Erzsebet menyambung kalimatnya, "Kamu mau ke mana?"

Kembarannya lebih dulu menyela, untuk yang entah keberapa kalinya, memotong dengan nada ngegas yang tidak santai, "Astaga, Erzsebet! Kamu kok belum berangkat, sih? Ayo cepat, keburu terlambat, nih!"

"Heeh?" Erzsebet mengerjap berulang kali. Mengambil roti bakar yang masih tersisa di piringnya, menggigit sekali. Heh? Apa? "Err, El ... Kautidak berencana untuk membawa handukmu ikut ke sekolah, kan?"

Si lawan bicara membelalak, otaknya berpikir, mencerna kalimat Erzsebet yang baru saja diucapkan. And she just realized something ... "E- eh?" Erzsië melirik ke bahu kanannya, di mana handuk pinjaman warna paler green lemon ter ... uhh, "gantung"? Dengan indahnya di bahu kiri.

Setelah menggigit sarapannya lagi, gadis berkeping netra ungu kembali berucap, "... dan, itu, di rambutmu, masih ada jaring rambut. Riasanmu juga bermasalah; ahh, kau bedakan pakai foundation? Bukannya tidak boleh?" Hap! Kemudian melahap gigitan terakhir dari roti bakar usai berucap.

Erzsië perlu waktu untuk mencerna kalimatnya. Sekali, dia menoleh ke bahu kiri. Lalu, tangannya menyentuh wajah, menggosokkan jemari berulang kali dengan gerakan monoton; maju dan mundur. Terasa sesuatu yang tebal. "E ... eh?" Erzsië keheranan.

Kembarannya menangkap maksudnya. "Apa karena terburu-buru akibat terlambat bangun tidur, kautidak bisa membedakan mana foundation dan mana bedak?"

'Padahal perbedaannya jelas sekali. Dari merk, tulisan dan kemasan, sampai warna wadahnya bahkan berbeda.' Erzsebet sweatdrop. 'Jelas begitu, tidak bisa membedakan?'

Seperti yang Erzsebet duga, lagi, lawan bicaranya membelalak.

"Astagaaa!"

'Ugh, pasti aku kelihatan bodoh sekali di sekolah nanti. Untung Erzsebet mendapatiku!'

Erzsië melesat kembali ke kamar lagi.

Wajah rupawan yang bersemu karena malu.

"Kacau-kacau-kacau-kacaaau!"

•••

Tunggu. Sebentar.

Erzsebet menatap langit-langit melalui sudut kiri matanya, tampak mengingat sesuatu.

Ingatkah dia untuk memberi tahu kepada kembarannya tentang kegiatan sekolah hari ini?

Hap!

Sekeping roti bakar dilahapnya kembali, hanya satu suapan, lancar jaya mengisi perut. "Ng?" Setelah ditelan, Erzsebet baru sadar kalau itu tadi adalah jatah sarapan kembarannya.

"Oh ... sudah telanjur kutelan."

.

-o0o-


finished with a hanged ending. (2)

and no lies for now. /plak!

.

a/n: *ikut celingukan* *lirik sana-sini* *lirik reader*

nyengir, pura-pura tidak kenal* *pergi* /HEH!

Err, gu- guten nacth, reader- (karena saya publikasinya malam).

*sengaja A/N ditaruh di tengah-tengah dua setting cerita yang ditulis panjaaang agar tak kelihatan* *pacman-pacman*

Okay, saya tahu Anda sekalian emosi soal fanfiksi receh ini nggak update setiap hari, padahal di summary-nya ada tagar dari event yang mengharuskan pesertanya memublikasikan tujuh tulisan untuk tujuh prompt dari delapan yang disediakan.

Tapi ...

"..."

"..."

"..."

"... forgive me."

... huh. Iya, cuma dua kata. Itu saja, cukup.

'kay, pasti banyak yang protes "nggak bertanggung jawab" atau semacamnya, tapi saya sendiri juga nggak mau FFN diblok sama jaringan di perangkat saya sejak tanggal tiga Juni lalu.

Apalagi aku bukan ahlinya buat romansa, bisanya bagian angst, huhu. Biasanya juga tentang cinta-cintaan ... cinta tanah air tapi. :"D

Yang di bawah ini, silakan dibaca, bagian yang seharusnya menjadi chapter ketiga dari fanfiksi bertema romansa picisan ini. Admit it as my redemption chapter.

:)

... also for AusHun shipper(s), bisa tebak berapa jumlah kata dalam chapter ini? :D


*-0-o-0-*

.

Brek!

"Hngh!"

Dia menghela napas, batinnya cukuplah sekadar memaklumi tanpa mengata-ngatai. 'Oh, Erzsië?' Lembut, tangannya tergerak dinamis, menyamankan kepala saudarinya di atas pangkuan. Gerakannya begitu hati-hati, agar Erzsië tidak terjaga dan linglung ketika bangun dengan kesadaran yang tidak penuh.

Erzsebet menarik napas dalam. Membelai kepala saudarinya yang dimahkotai oleh surai cokelat semi tua sepinggang.

Hm.

Huft ...

Dia menggosok hidung. 'Bau minyak aromaterapi.'

•••

Arthur kebetulan melangkah ke bagian depan bus, mengeceki satu-persatu peserta HISHA's Great Study Tour 2019 yang duduk di semasing bangku. Hanya dengan sejurus tatapan singkat pada salah satu bangku, lantas beralih ke bangku lain. Hanya memastikan.

"Oh, keliling, Arth?" Sapaan Amelia membuat langkahnya berhenti sejenak, pun Arthur menoleh. "Oh? Hm."

'Ah, cuek sekali.' Jawaban singkat itu tak ayal memelaskan tatapan netra Amelia. Kembali, gadis berdarah Amerika itu melontar ujar, "I see. Sepertinya menjadi Ketua Organisasi Siswa Intra Akademi itu tugasnya banyak sekali, ya, hehe."

Amelia terkekeh canggung, berbalas dengusan dan tatapan sinis dari lawan bicara. "Hm." Sesingkat itu. Tanpa tambahan apapun. Hawa dingin dari Arthur jelas dirasakan Amelia.

'Kalau denganku, kamu secuek ini, ya, Artie?'

"Ah, Arth-"

"Tidak ada hal yang penting lagi untuk dibicarakan, 'kan, American? Jika tiada, maka aku permisi," sela Arthur dengan nada bicara yang begitu dingin seraya berlalu. Meninggalkannya, enggan menjalin konversasi.

'Sebenarnya, salahku denganmu itu, apa?'

Amelia menyendu.

•••

...

...

...

"Sentimental Love Hearts"

Untukmu, sang penanti cintarona yang tanpa balasan.

Yang mengaguminya dengan mati rasa;

rela menerus disakiti oleh sikap laksana demuri darinya,

ternamun selalu menunggu cintanya berbalas dengan romansa yang mencipta rona.

...

...

...

•••

"Jaga, Arth?"

Arthur mengendik sekali. "Yeah, menjalankan kewajiban, Lif."

Jawabannya kembali berbalas, "Okeee. Selamat dan semangat berjaga, Ketos kebanggaan sekolah!" Arthur terkekeh, tersenyum ringan menanggapi. "Thank you."

Bangku-bangku yang Arthur netra selanjutnya tampak sesak oleh manusia-manusia teler yang tertidur tidak nyenyak. Wajar, lah. Siapa pula yang bisa tertidur dengan nyenyak di dalam bus yang melaju dengan kecepadan sedang semi tinggi? Tetapi, kalau spesies manusia yang memang sudah memiliki kemampuan ngebo di mana saja, Hercules misalnya, itu lain cerita.

.

Sampailah ia pada bangku bus yang diduduki oleh dua kakak-beradik berwajah serupa, yang mana salah satunya duduk di atas pangkuan yang lain. Dua kembar itu, salah satunya ialah Elizabeta, sekelas dengannya di kelas XI Mathematics and Nature Sciences . Yang satunya ... kalau Arthur tidak salah ingat, namanya Er, Ers, Erzsebet?

"Erz ... sebet?" Menoleh. Berarti betul Arthur memanggil namanya. "Hm?"

"Oh, Arthur. Ada apa?"

"Ah ..." Si remaja berdarah Inggris mengusap tengkuknya lirih. Hendak memulai basa-basi dengan kembaran dari "teman" sekelasnya.

Begitu lenting, sedinamis nada. Supel. Disambung dengan basa-basi biasa. Membuang beberapa menit yang membosankan di dalam bus. Membuka interaksi di tengah puluhan manusia yang terlelap di atas bangkunya masing-masing. Saling bertanya tentang kelas dan tugas masing-masing, tanpa membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan orang lain di sekitar.

Sesekali melontar canda, mencairkan canggung.

Berlanjut begitu.

Sampai Arthur bertanya,


"Ah ... cerita ini sudah tamat, 'kan?"


Kuingin membagimu satu cerita

Terpentaskan di atas panggung kehidupan nyata

Dari sebuah yang dinyanyikan oleh para pemeran utama kita;

hope

sad

life

death

fate

wish

ill

pray

kill

love

hate

okay

cry

glad

past

they

she

he

we

you

... and ...

me.

:)

.

Only

DxxxAxx