REINCARNATION

Cast: Byun BaekHyun

Park Chanyeol

MORE

Length: Chaptered

Disclaimer: Semua cast di FF ini adalah milik tuhan, orang tua dan agency nya. But, FF ini murni milik saya.

Warning: Typo (Always), Yaoi, BnB, Boyslove.

Summary: Dikehidupan sebelumnya, Chanyeol telah menyia-nyiakan calon permaisurinya dan mati dalam sebuah penyesalan mendalam. Akankah dikehidupan selanjutnya Chanyeol dapat bertemu kembali dengan pasangannya dan menebus segala kesalahannya dimasa lalu? Dan menghadapi masalah besar? Gender?. /"Kau Baekhyun-ku. Ta-tapi, mengapa laki-laki? Ya tuhan!"-Chanyeol.

.

.

.

.

"30 Hari sebelum perang. Kau sudah siap Pangeran Chanyeol?"

"Iya, Ayah. Bagaimanapun juga ini bukan perang pertamaku, aku pasti sudah menyiapkannya dengan matang."

"Baiklah. Saat eksekusi aku ingin kau untuk tidak terlalu jauh dengan Joonmyun."

Chanyeol membungkukkan tubuhnya saat pertemuan dengan Raja telah usai. Seperti yang mereka bicarakan, mereka akan memulai perang perebutan kekuasaan untuk yang kesekian kalinya bagi Raja dan Pangeran Chanyeol.

Setelah Raja dan para mentri kerajaan keluar dari ruang rapat, Songyi memasuki ruangan dan menghampiri Chanyeol.

"Ibu dengar Pangeran ibu akan menjadi pimpinan perang kambali."

"Ah Ibu." Chanyeol sedikit membungkuk. "Perang itu. Iya , aku akan menjadi pimpinan perang kembali, Ibu. Aku mohon doa dan restumu."

Songyi tersenyum lalu mengelus pipi putranya.

"Sebenarnya ada sesuatu yang perlu aku bicarakan pada Ibu."

"Bicaralah, sayang."

"Aku ingin membatalkan perjodohanku dengan Putri Baekhyun, Ibu."

"Dengan alasan?"

Chanyeol terdiam. Berusaha meyakinkan kembali hatinya. Sudah dari lama Chanyeol ingin membicarakan ini dengan Ibu nya. Dan ini adalah saat yang tepat.

"Raja membutuhkanku untuk menjadi pemimpin dan penerus. Permaisuri hanya akan memperlambatku dan menjadi kelemahanku. Jadi, aku mohon Ibu merestui keputusanku ini." Chanyeol kembali membungkukkan tubuhnya pertanda ia sedang memohon dengan sangat. Dan sang Ibu hanya melemparkan senyum manisnya.

"Kau tahu? Permaisuri itu bukan hanya seorang pendamping. Permaisuri itu adalah penyemangat Raja. Tanpa Permaisuri, Raja tidak akan menjadi Raja yang sempurnya. Melainkan tidak lebih dari setengah Raja. Putri Baekhyun tidak akan menjadi kelemahanmu, Ibu yakin dia akan menjadi orang yang berarti dan paling beruntung jika Putraku menikahinya, begitu juga sebaliknya."

"Tapi Ibu… Raja memberiku tanggung jawab yang begitu besar. Aku merasa terbebani dengan adanya Putri Baekhyun. Fokusku akan terbagi dua. Dan aku tidak ingin mengecewakan Raja, Ibu."

Chanyeol menunduk tidak berani menatap wajah Ibunya. Dirinya menjadi merasa kecil jika berhadapan dengan wanita yang yang sudah melahirkannya ini.

"Itu bukan beban. Ibu akan bicara sedikit kasar, dan Ibu harap kau tidak akan tersinggung."

"Jangan terlalu terobsesi dengan tahta kerajaan. Putra Ibu sudah dibutakan akan kemewahan sementara. Ibu yakin isi kepalamu hanya ada obesesi tentang kemenangan perang serta mahkota kerajaan. Pikirkan juga kehidupanmu. Pikirkan Pangeran. Ada seorang Putri yang menunggumu, menunggu kebahagiaan darimu. Kebahagiaan yang bukan hanya sekedar kekayaan atau tahta dikerajaan dengan menjadi Ratu. Tapi kebahagiaan cinta. Pikirkan juga keturunan yang akan menjadi penerusmu nanti."

Hening. Jujur saja, Chanyeol mulai goyah dengan nasihat Ibunya. Benarkan ia hanya silau dengan semua ini?

"I-Ibu. Maafkan aku."

"Tapi ini sudah menjadi keputusanku, Ibu." Chanyeol melanjutkan dalam hati. Sayangnya Songyi salah mengartikan.

Songyi memeluk Putranya, mengelus punggung lebar sang Pangeran dan mengucapkan kata-kata penenang.

.

.

.

.

Para Pangeran dikerajaan disibukkan dengan rencana-rencana rumit tentang perang. Sementara mereka melupakan dua Pangeran yang lain.

"Ini tidak adil bagiku!"

"Sudahlah, hyung-nim."

"Tidak bisa! Aku sudah cukup umur! Arrgghh!" Jongdae mengacak-acak tatanan rambutnya dan itu menjadi sangat berantakan. Sedangkan Kyungsoo hanya melihat hyungnya dengan tatapan datarnya.

"Ini masih terlalu pagi, hyung-nim. Aku tidak siap dengan suara indahmu." Tidak mengurangi rasa hormatnya terhadap kakaknya, Kyungsoo berusaha melembutkan perkataannya.

"Arrggghh! Ini tidah adil! Bahkan Chanyeol hyung mendapatkan perang pertamanya di usia yang begitu muda."

"Itu karena Chanyeol hyung-nim berusaha dengan kekuatannya, bukan dengan mulutnya."

"Bahkan dia sudah mendapatkan jodohnya! Dan aku belum!"

"Berhentilah membandingkan hyung-nim, kau tidak akan mendapatkan perangmu jika kau masih saja seperti anak kecil."

"…" Jongdae memandang Kyungsoo bingun.

"Ck! Dasar!"

Hening.

Kyungsoo beranjak dari tempatnya duduk dan melangkah keluar dari ruang bersantai.

"A-apa tadi dia mengumpat? Oh! Ini yang pertama kalinya dia mengumpat! Ayah! Kyungsoo mengumpaaattt! Oh tidak! Ayah! Ibu! Kyungsoo!"

Lebih baik kita tinggalkan Pangeran Jongdae.

Ketika seorang Pangeran keluar dari wilayah kerajaan, tentu saja mereka mendapatkan pengawalan dari beberapa pengawal atau bahkan prajurit dari kerajaan. Seperti salah satu pangeran kita, ia mendapatkan pengawalan dari lima prajurit kerajaan dan dan dua pengawal biasa hanya untuk pergi berjalan ke sebuah pasar di wilayah penduduk.

"Ck! Menyebalkan. Mereka selalu memanjakanku. Aku sudah besar untuk pergi berjalan sendiri!"

"Pe-permisi Pangeran. Pangeran barusaja mengumpat." Tegur salah satu pengawal kerajaan.

"A-apa? Serius? Aku? Mengumpat? Oh tidak, ya tuhan." Kyungsoo panik sambil memegang bibirnya, membuat gesture seolah memilin kedua bibirnya dengan perasaan bersalah.

"Yang keberapa? Yang keberapa?" Tanya Kyungsoo tidak meninggalkan nada takutnya.

"I-ini baru yang pertama kali, Pangeran."

"A-ayahhh, maafkan akuu. Aku melanggar perintahmu untuk tidak mengumpat pada siapapun. Maafkan akuu."

Lihatlah betapa menggemaskannya pangeran kecil kita ini. Kedua mata bulatnya mulai memerah siap menurunkan cairannya. Hey, tidakkah kalian berpikir? Ini hanya masalah kecil, begitu pula dengan sang Raja yang tidak akan tahu atau mendengar umpatan Kyungsoo kecilnya. Kyungsoo terlalu polos. Dia akan merasa bersalah atas sesuatu yang dilanggarnya dan akan melakukan pengakuan dosa kepada Ibu atau Ayah nya. Bahkan untuk sesuatu yang kecil sekalipun.

Tetapi sepertinya air mata itu tidak jadi keluar setelah atensinya berpindah pada sesuatu yang lebih menarik.

Untuk sekedar informasi, mereka sudah melewati pasar sedari tadi dan kini menuju rumah warga dengan melewati hutan. Hanya melewati tidak memasuki.

Sementara sang Pangeran mulai melangkahkan kakinya menuju hutan.

"Tunggu Pangeran, kita tidak bisa memasuki hutan, Yang Mulia Raja melarangnya." Salah satu pengawal memperingati tentang larangan Raja.

"Paman, aku tidak memasuki, ini hanya di pinggir hutan. Ayolah~ kalian juga akan ikut bersamaku. Hanya untuk menemui seseorang. Aku janji setelah ini akan langsung pulang." Kyungsoo mencoba membujuk pengawalnya dan pengawalnya memutuskan untuk memberikan bungkukan kepada Pangeran, pertanda ia setuju.

"Assa! Kaja paman."

Dengan langkah ringan serta wajah yang riang, Kyungsoo berjalan menuju objek yang menarik perhatiannya.

Seorang gadis dengan pakaian khas anggota kerajaan seperti yang ia kenakan dengan menjinjing keranjang yang penuh dengan buah berry hitam.

"Pu-putri."

"Ah, Pangeran."

Sang Putri merasa terkejut atas kunjungan sang Pangeran tetangganya. Sementara Kyungsoo melebarkan senyumnya begitu melihat Putri yang didepannya menunjukan senyumnya.

"Sedang apa Putri berada disini? Ini cukup jauh dari kerajaan kalian." Kyungsoo memulai obrolan.

"Kebiasaan pagiku yang membawaku kesini, Pangeran." Sang Putri tersenyum sambil menunjukkan keranjang buahnya dan Kyungsoo mengerti itu.

"Um, mau mengobrol sebentar denganku, Putri?"

"Suatu kehormatan bagiku, Pangeran."

Mereka mencari sebatang pohon yang bisa dijadikan untuk tempat duduk. Setelah menemukannya, merekapun duduk dengan tenang.

"Putri."

"Pangeran tidak lupa kan dengan kesepakatan kita?"

"Um, Iya. Maaf noona, aku melupakannya."

"Aku tahu kebiasaanmu, Pangeran." Putri tersebut mengusap lembut pipi Pangerannya.

Mereka sudah sangat dekat untuk melakukan interaksu tersebut.

"Pangeran sedang apa disekitar hutan?" mulailah percakapan mereka kembali, namun dengan keadaan yang tidak begitu cangung seperti saat mereka bertemu beberapa menit yang lalu.

"Hanya sedang jalan-jalan pagi, Baekkie noona."

Yang dipanggil Baekkie noona hanya tersenyum manis.

"Apa memetik berry hitam juga kebiasaan pagimu, noona?" Kyungsoo balik bertanya.

"Tidak setiap pagi, hanya di sabtu dan minggu pagi seperti saat ini."

"Untuk apa noona memetik berry sebanyak ini?"

"Hanya untuk persediaan dan untuk membuat cup cake."

"Benarkah? Bisakah aku mencoba satu cup cake buatan noona? Aku ingin sekali mencobanya. Yaa noona?" Kyungsoo mengeluarkan wajah memelasnya, takut untuk di tolak oleh sang Putri.

"Pangeran tidak perlu memohonpun aku akan membuatkannya untuk Pangeran. Aku akan mengatarkannya pada pangeran nanti sore. Setelah cake siap. Aku janji akan mengantarkannya untuk kalian selagi hangat."

"Terimakasih noona!"

Kyungsoo tanpa ragu memeluk Baekhyun dengan sangat erat. Dan Baekhyun pun tanpa ragu juga membalas pelukan sang Pangeran kecil sambil mengusap pucuk kepalanya.

"Aku iri. Di usiaku ini aku masih dikawal oleh prajurit dan juga pengawal kerajaan. Mereka tidak bisa melepaskan pengawasan dariku. Dan itu membuat aku risih. Aku tidak terlalu suka."

Kyungsoo mulai merajuk. Jarang-jarang ia bertemu dengan calon kakak iparnya ini. Dan setiap bertemu, pasti Baekhyun akan menjadi sandaran untuk Pangeran kecil dari Kerajaan Park.

"Hey, Pangeran meliat sekelilingku? Akupun dikalawal oleh beberapa pengawal kejaraanku. Bahkan hanya untuk mengambil berry. Mereka selalu dan tidak akan melepas pengawasannya dariku. Dan itu atas perintah Raja, Ayahku. Beliau juga memeberikanku kuda putih sebagai kendaraanku agar tidak kelelahan saat mencari berry hutan yang jaraknya cukup jauh dari wilayah kerajaan. Seperti Ayahku, Ayahmu, Raja Soohyun juga melakukannya untukmu. Mereka mempunyai alasan dan tujuan yang sama. Mereka menyayangi anak mereka, dan tidak ingin membiarkan keturunannya terluka barang segorespun. Mereka sangat menyayangi kita. Anaknya."

"Aku juga tahu tentang itu. Tapi ini berlebihan, noona. Tujuh pengawal hanya untuk menemaniku berjalan ke pasar." Kyungsoo masih merajuk dan masih belum melepaskan pelukannya. Bahakan mulai bersandar pada dada Putri cantik ini.

"Bahkan saat aku seusia Pangeran, ayah memberikan sepuluh pengawal untuk putrinya yang nakal ini." Baekhyun sedikit tertawa mengingat dulu Ayahnya sangat menghawatirkan Putri kecilnya.

"Benarkah?"

Kyungsoo mendongakkan kepalanya guna melihat wajah Putri Baekhyun dengan jelas.

"Umm –Baekhyun mengangguk- tapi Pangeran lihat sekarang. Aku hanya ditemani oleh dua pengawal dan tiga kuda putih. Itu artinya Ayahku sudah mulai percaya bahwa Putri 'Kecilnya' sudah menjadi 'dewasa'. Dan kau juga akan mengalami hal sepertiku. Hanya perlu waktu." Baekhyun menoel jung hidung mungil Kyungsoo sambil tersenyum.

"Lagi-lagi, noona memberikanku pelajaran. Ini akan aku ingat sampai kapanpun."

"Sebagai imbalannya, noona mau mendengarkan aku cerita? Ini hanya sebentar. Aku janji."

Dan dijawab anggukan oleh Baekhyun.

"Ketiga ibuku selalu menceritakan cerita ini padaku sebelum aku tidur. Disebuah daerah ada mata air suci yang tidak pernah tercemar selama ratusan tahun. Walaupun mata air itu keluar dari tempat pembuangan. Tapi saat mengalir dan berkumpul disuatu tempat, air itu tidak kotor dan bau melainkan jernih. Konon, dulu ditempat itu terjadi kemarau panjang dan beberapa anak Raja ingin mengubah desanya. Mereka menggali dan terus menggali mencari mata air tersembunyi. Saat para kakak kelelahan, si bungsu tidak menyerah. Ia terus saja menggali dan menggali. Hingga menemukan mata air itu. Dan para kakak mengetahuinya. Mereka tidak terima jika si bungsu yang mereka anggap lemah itu mengalahkannya."

"Lalu?"

"Lalu mereka membuat suatu rencana untuk membunuh si bungsu, setelah terbunuh, bungsu dibuang oleh saudaranya kedalam jurang. Namun rasa egois dari para saudara membutakan mereka. Mereka semua ingin dipandang sebagai pahlawan oleh rakyatnya. Dan mereka mulai saling membunuh dan berakhir dengan tidak ada satupun dari mereka yang selamat. Mereka mati sia-sia"

"Ah, menyedihkan sekali. Lalu mata airnya?"

"Mata air itu terus mengalir. Memberikan kesuburan bagi para rakyat dan tidak ada kemarau lagi. Mata air itu mengalir sampai dasar jurang dan menggenang di tempat sang Pangeran bungsu terbujur. Secara ajaib Air itu membuat tempat peristirahatan bagi sang Pangeran Bungsu. Selesai."

"Hmm, lalu apa yang membuat mata air itu ajaib?"

"Konon jika noona meminumnya, semua keinginan noona akan terkabul. Kecuali kematian dan kehidupan."

"Maksudnya?" Baekhyun sedikit bingung dengan yang Kyungsoo maksud kematian dan kehidupan.

"Jika noona menginginkan kematian seseorang, air itu tidak akan mengabulkannya, begitu pula jika noona menginginkan kehidupan seseorang. Itupun mustahil."

"Ah iya. Ada yang tertinggal. Setelah si Pangeran Bungsu menemukan mata air, Pangeran sempat meminumnya dan tanpa sadar berucap 'Aku bersyukur, Aku mohon, berikanlah kesuburan dan kemakmuran bagi rakyatku."

"Selesai?"

Dan dijawab anggukan oleh Kyungsoo.

"Baiklah Pangeran kecil-"

Baekhyun menghentiakan ucapannya saat melihat Kyungsoo cemberut setelah dirinya menyebutkan kata 'kecil' untuk Kyungsoo. Dan setelahnya Baekhyun terkekeh kecil.

"Arrachi~, Baiklah pangeran tampan noona. Mataharinya sudah mulai meninggi. Kau harus pulang."

"Baiklah noona. Sampai nanti. Aku menuggu cake mu sore nanti."

Baekhyun tersenyum dan menggangguk.

"Noona pergi. Sampai jumpa nanti sore, Pangeran Kyungsoo."

Baekhyun menaiki kudanya lalu pergi dengan melambaikan tangannya pada Kyungsoo.

.

.

.

.

Setelah Baekhyun menghilang dari pandangannya, Kyungsoo memutuskan untuk pulang. Selama di perjalanan Kyungsoo tidak ada hentinya untuk tersenyum.

"Paman tahu? Baekkie noona begitu cantikkan? Aku rasa aku mencintainya paman"

"Tapi Pangeran…"

"Hm, ya aku tahu, paman. Mereka sudah dijodohkan."

Kyungsoo kembali murung, bahkan memperlambat laju jalannya. Tapi sedetik kemudian, wajah nya kembali ceria. Mengingat sesuatu.

Kyungsoo berbalik, menghadap dua pengawalnya serta lima prajurit kerajaan.

"Dengar. Aku mencintai kalian, paman-pamanku. Jadi jangan pernah mengalihkan perhatian kalian dariku. Aku mencintai kalian!"

Sepertinya ucapan Baekhyun membekas di otak si Bungsu.

.

.

.

.

Pangeran tertua.

Asal kalian tahu, dia sendiri tidak menginginkan menjadi yang tertua. Walau masih ada satu diatasnya.

Chanyeol. Dia selalu mematuhi perintah Rajanya. Atau bisa kita sebut ayahnya. Tapi untuk kali ini, ia harus menentangnya. Perjodohan antar keturunan, itu menurutnya sangat konyol. Sangat-sangat konyol. Tidak bisakah mereka, para orang tua, membiarkan anak nya memilih sendiri jalan kehidupannya?

Jawabannya tentu tidak. Meskipun Chanyeol tahu sang Ayah melakukan ini demi kebaikannya. Ayahnya hanya ingin agar Chanyeol tidak salah memilih calon Permaisuri nantinya dan mendapatkan masalah.

"Aku begitu pengecut."

Berjalan dihalaman Istananya sambil merenung.

"Aku begitu egois."

"…"

"Tapi ini demi kebaikan kerajaan."

Setelah menjernihkan pikirannya, Chanyeol mempercepat jalannya menuju rumah hewan peliharaannya. Di sini, mereka memelihara beberapa binatang dengan wilayah yang terpisah dari kerajaan. Putri Yoora memiliki ayam petarung, Pangeran Joonmyun memiliki beberapa Bunglon langka, Pangeran Jongdae memiliki dua ekor burung merpati merah muda. Um sebenarnya Ia mewarnai bulu mereka…

Pangeran Kyungsoo memiliki seekor serigala betina berbulu putih yang begitu jinak.

Sedangkan

Pangeran Chanyeol

Memiliki

Tiga ekor Kelinci mungil. Masing masing berwarna putih, cokelat dan warna senja.

Oke, katakan dia yang paling konyol. Tapi percayakah kalian jika aku katakan hewan yang dipelihara Pangeran sulung kita adalah hewan kesukaan Putri Baekhyun?

Sedikit cerita.

Ini terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu.

Saat perjodohan itu diumumkan, Putri Baekhyun dan Pangeran Chanyeol selalu dipertemukan. Bahkan Baekhyun kecil diminta untuk beberapa malam menginap di kerajaan keluarga Park, demi pendekatan keduanya.

Pasar warga desa adalah tempat paling menakjubkan bagi keduanya. Walaupun berjalan didampingi hampir dua belas pengawal –delapan diantaranya pengawal Putri Baekhyun- mereka seakan tidak memperdulikannya. Di pasar desa, mereka bisa menemukan hal-hal menakjubkan yang warga desa jual. Seperti bola kasti, peluit, serta layang-layang.

Saat melewati penjual hewan, Baekhyun kecil menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada segerombolan kelinci mungil yang berada didalam kandang.

"Ada apa Putri Baekkie?" Chanyeol kecil bertanya hati-hati setelah melihat raut wajah sedih Baekhyun nya.

"Mereka tidak bahagia, Pangeran." Matanya masih tertuju pada kelinci-kelinci itu.

"Mereka bersedih."

"…"

"Aku bisa merasakannya…"

Chanyeol kecil, yang memang sudah jatuh cinta pada sang Putri tertegun. Ia merasa harus melakukan sesuatu untuk Putri nya.

"Apa yang bisa aku lakukan Putri Baekkie?"

"B-Baekkie ingin mereka bebas, Pangeran…"

Tak ada jawaban, yang ada hanya Chanyeol yang berjalan mendekati si penjual hewan kelinci tersebut.

"Ehem.." Chanyeol sedikit berdeham untuk membawa perhatian si penjual.

"Yang mulia Pangeran. Ada yang bisa saya bantu?" Pria itu berdiri dan membungkuk setelah tahu siapa yang menegurnya.

"Berapa harga semua kelinci ini, paman penjual kelinci mungil?"

Si penjual tidak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya. Yang ada dipikirannya adalah sang Pangeran yang akan membeli semua dagangannya.

"Du-dua puluh keeping emas lion, sepuluh keeping perak d-dan delapan keping tembaga merah, Ya-yang mulia." Lihat? Bahkan ia gemetar dengan hanya menyebutkan harganya.

Chanyeol yang terkejut dengan mahalnya harga kelinci ini pun hendak protes, sebelum suara kembali mengintrupsinya.

"I-itu harga yang sepadan untuk kelinci-kelinci langka ini, Pangeran."

Sedikit berfikir dan iapun menyetujui penawaran.

"Diterima."

Dan dengan secepat kilat, Chanyeol membuka kunci lima kandang kelinci dan secepat itu pula kelinci-kelinci yang berada didalamnya berhamburan, berlari menyelamatkan diri dan memasuki hutan. Sementara si penjual hanya menganga tidak percaya dengan apa yang dilakukan Pangerannya ini.

"Paman Kim, berikan apa yang paman penjual kelinci mungil ini mau."

Chanyeol kecil memerintah seorang pengawalnya dan tentu saja langsung dituruti oleh pengawalnya itu. Sementara Chanyeol mengembalikan fokusnya kepada Baekhyun kecil yang mulai berjalan mendekati salah satu kandang kelinci.

"Pa-pangeran.. mereka terluka…"

Mata indah Baekhyun masih memancarkan kesedihan setelah melihat tida ekor kelinci mungil tidak berlari membebaskan diri mereka dan malah meringkuk di sudut kandang, tak memberontak. Baekhyun menyadarinya, dan setelah ia mencari tahu, ternyata kaki mereka terluka.

"Aku tidak bisa meninggalkannya, Pangeran."

Chanyeol tak ambil pusing, langsung saja ia menggendong ketiga kelinci yang Baekhyun maksud.

"Baiklah, kita akan merawat mereka sampai mereka sembuh dan setelahnya kita bebaskan mereka. Bagaimana Putri?" Chanyeol tersenyum melihat anggukan antusias dari Baekhyun nya. dan akhirnya mereka mulai berjalan meninggalkan pasar dengan Chanyeol yang menggendong dua kelinci mungil berwarna Putih dan cokelat, sedangkan Baekhyun nya menggendong kelinci berwarna oranye.

"Mereka pasti akan merasa senang. Aku akan mengasihi mereka."

Dan setelahnya kalian tahu sendiri bagaimana kelanjutannya kan?. Ya, Baekhyun dan Chanyeol merawat ketiga kelinci itu, bahkan memanggil tabib khusus hewan untuk mengobati kaki kelinci mereka. Mereka berjanji bahwa setelah ketiga kelinci ini sembuh, mereka akan melepaskannya. Namun Baekhyun ingkar. Dia memohon dan membujuk Chanyeol agar mau merawatnya lebih lama. Ia tidak akan siap jika dipisahkan dengan kelinci mungil kesayangannya. Akhirnya Chanyeol memutuskan untuk memeliharanya bukan merawatnya lagi.

Chanyeol cukup tahu bagaimana cara mengambil hati Baekhyun kecil. Chanyeol meminta Ayahnya untuk membuatkan kandang kerukuran 10x10 meter hanya untuk tiga kelinci mungil. Tujuannya hanya untuk membuat para kelinci merasa mereka tidak dikurung, melainkan bebas seperti di hutan. Ya, hutan yang mungil juga tentunya.

Chanyeol tidak akan pernah lupa akan hari itu. Tidak akan. Setelah menyuruh beberapa pembantu kerajaan untuk memberikan makan dan membersihkan kandang hewannya, Chanyeol memutuskan untuk kembali ke kerajaan. Namun langkahnya terhenti setelah melihat siluet seseorang yang sangat ia kenal.

Dan ketika ia menoleh kebelakang, tebakannya benar.

"Ah, Pangeran Chanyeol."

Baekhyun membungkuk memberi hormat pada Chanyeol dengan selalu melemparkan senyumnya. Sungguh, ia sangat menawan.

"Baekhyun? Sedang apa disini? Ini sudah mulai senja, tidak seharusnya kau disini." Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun yang sendirian. "Dan dimana pengawalmu?" Tanya Chanyeol heran saat melihat Baekhyun hanya datang sendirian.

"Paman Jung didepan, pangeran. Menjaga kudaku." Baekhyun menjawabnya dengan senyum.

"Lalu ada perlu apa kau kemari? Apa Ayah yang menyuruhmu?"

Baekhyun menggeleng.

"Tidak Pangeran. Tapi Kyungsoo yang menyuruhku. Tadi pagi kami tidak sengaja bertemu di pinggir hutan saat aku sedang memetik beberapa berry, dan Kyungsoo memintaku untuk dibuatkan beberapa cupcake."

Baekhyun mengangkat keranjang makanan yang ia bawa dan memberikannya pada Chanyeol.

"Anak itu pasti sudah merepotkanmu." Chanyeol mengusap pipi putih Baekhyun. "Mau istirahat sebentar? Masuklah, Ibu pasti senang kau datang."

"Ani, tidak usah Pangeran. Aku belum meminta ijin untuk pergi terlalu lama. Ah, dan juga Kyungsoo sama sekali tidak merepotkanku. Aku juga membuatnya sedikit lebih banyak agar kalian juga bisa menikmatinya."

Chanyeol tersenyum. Pikirannya mulai kacau. Dan itu semua karena Baekhyun. Ya tuhan. Chanyeol sangat mencintai wanita didepannya ini.

"Baiklah, aku juga akan mencicipinya. Ayah dan para Ibu juga pasiti akan sangat menyukai kue buatanmu. Jadi sekarang mari ku antar kau kedepan. Kau harus segera pulang sebelum malam."

Dan Baekhyun hanya bisa tersenyum sambil mengangguk. Sementara disisi lain.

"Aish! Kan aku yang ingin bertemu dengan Baekkie noona! Kapan lagi aku akan bertemu dengan dia. Aku akan meminta pada Ayah agar bisa berkunjung ke Kerajaan paman Byun besok." Dan Kyungsoopun terkikik.

Jadi selama ini dia mengupingi Chanyeol dan Baekhyun. Sebenarnya bukan hal yang disengaja, melainkan Kyungsoo memang sedang menunggu kedatangan Baekhyun. Namun kakaknya menghalangi ia untuk bertemu dengan Baekhyun.

Setelah melihat Chanyeol kembali dari mengantar Baekhyun, Kyungsoo langsung saja menghampiri Chanyeol.

"Hyung."

"Ah Kyungsoo. Ada apa?" Chanyeol sedikit mengusak rambut Kyungsoo.

"Itu pasti untukku." Kyungsoo menunjuk sebuah keranjang yang Chanyeol bawa.

"Ini untuk semuanya, Kyungsoo-ya." Chanyeol tersenyum. "Aniya, aku yang meminta Baekkie noona untuk membawakannya. Jadi semua itu adalah milikku." Kyungsoo memajukan bibirnya beberapa senti dan Chanyeol hanya bisa terkikik geli melihat adiknya ini.

"Baekhyun membawa banyak. Sudahlah, ayo kita nikmati." Chanyeol berjalan mendahului Kyungsoo namun baru beberapa langkah, suara Kyungsoo mengintrupsi.

"Hyung.."

"Aku dengar hyung akan membatalkan pengikatan dengan Baekhyun noona. Apa itu benar?"

Kyungsoo memandang Chanyeol dengan tatapan seriusnya. "Hm, hyung belum memutuskan, masih mimikirkannya."

"Jika hyung benar-benar membatalkan pengikatan dan membuat Baekhyun noona bersedih. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan menjadikan Baekhyung noona permaisuriku."

Kyungsoo berucap lantang tanpa ada keraguan didalam setiap katanya. Bahkan Kyungsoo tidak melepaskan kontak matanya dengan Chanyeol yang memandangnya dengan bingung walau tak terelakkan ekspresi terkejutnya.

"Dasar kau ini. Lakukan semaumu adik kecil." Chanyeol kembali mengusak rambut Kyungsoo sambil terkekeh lalu kembali berjalan meninggalkan Kyungsoo.

"Begitukah?"

.

.

.

.

SEOUL, 2016

"PARK CHANYEOL! PARK CHANYEOL! FIGHTING!"

Setiap sabtu jam 4 sore. Suara riuh itu akan berkumandang dan seakan tidak ada habisnya. Semuanya adalah segerombolan siswi SMA/SMU yang sedang melihat pertandingan kecil-kecilaan yang memang rutin diadakan setiap hari sabtu oleh sekelompok tim basket dari sebuah perguruan tinggi Seoul.

PRIITTT!

Suara peluit panjang dari pelatih mengakhiri pertandingan yang sedang berjalan. Setelah semua anak buahnya berkumpul sang pelatih memeberikan pengarahan tambahan sebelum pulang.

"Fans mu." Seorang pria menyenggol bahu dari temannya. Seolah mengejek temannya karena para gadis yang membuat fansclub untuk temannya.

"Mereka hanyalah sekelompok anak-anak labil, Jongin. Mungkin saja besok mereka akan berpindah mengidolakanmu."

Yang dipanggil Jongin hanya bisa terkekeh.

"Belajar dari pengalaman, dan lagi mereka sudah menjadi fansmu selama kurang lebih tiga tahun terakhir. Dan kau masih menyebutnya 'labil' Chanyeol?"

Chanyeol tidak memperdulikan omongan Jongin dan malah membereskan peralatannya setelah semuanya beres Chanyeol memindahkan pandangannya menuju kumpulan siswi SMA itu. Seperti sedang mencari seseorang.

"Hey. Kau aneh."

Jongin berjalan disamping Chanyeol setelah menyusul Chanyeol keluar dari area lapangan basket.

"Aneh? Bagaimana yang aneh?"

"Akhir-akhir ini aku melihat perjuanganmu. Seakan-akan kau ingin menjadi lebih terkenal. Sebenarnya apa tujuanmu? Ah, dan satu lagi. Aku juga sering melihatmu mengamati satu persatu fans mu itu. Apa kau sedang mencari seseorang? Atau kau sedang tertarik dengan salah satu fans setiamu itu?"

Jongin bertanya dengan nada serius. Sudah lama ia mengamati salah satu sahabatnya yang menurutnya aneh ini.

"Hm, ya. Aku sedang mencari seseorang."

"Siapa?"

"Seorang wanita cantik dari masa laluku."

Jongin bertambah bingung. Masa lalu? Apa maksudnya?. "Ah, jadi kau mencari teman masa kecilmu? Begitu? Cinta pertamamu?" Kini Jongin bertanya dengan nada menggodanya.

"Ya bisa dibilang seperti itu. Aku mencarinya karena ingin memperbaiki kesalahan yang aku buat dulu."

Dan setelahnya, Jongin hanya bisa mengangguk.

"Kyungsoo?"

"Hhh, Kau lagi."

Mereka bertemu dengan seorang lelaki berperawakan mungil bermata bulat besar bernama Kyungsoo yang baru saja keluar dari gerbang kampusnya.

"Hhh, kau lagi. Dunia sangat sempit ternyata." Kyungsoo berucap jengkel melihat seseorang yang ia anggap sebagai pengganggu di hidupnya.

"Hey, kau kasar sekali pada kekasihmu." Jongin merangkul Kyungsoo setelah itu mengecup pipi gembilnya.

"Aku merasa tidak pernah menjawab pernyataan cintamu, hitam!"

"Ya, ya, ya. Terserah kau saja sayang. Chanyeol, kami duluan. Ada urusan penting dengan kekasihku ini. Bye!"

"Dasar gay menjijikkan." Chanyeol mencibir.

"Hey, kau akan merasakan kebahagiaan jika kau mau mencoba memasuki dunia kami." Dan Jongin hanya terkekeh sambil terus berjalan bersama Kyungsoo.

Setelah Jongin dan Kyungsoo berjalan memasuki area kampus kembali, Chanyeol memutuskan untuk juga melanjutkan perjalanan pulangnya. Apartemen nya berada dekat dengan kampus, jadi cukup berjalan kaki selama 15 menit.

Terhitung, ini sudah reinkarnasinya untuk yang ketiga kalinya. Namun belum juga ia bertemu dengan seseorang yang dicarinya. Dikehidupan kali ini suasananya lebih modern. Chanyeolpun terlahir sebagai anak dari golongan kaya. Hidupnya sangat bahagia. Namun ia masih mencari Baekhyun untuk membagi kebahagiaannya.

Ini tidak adil. Ia bertemu dengan keluarga masa lalunya. Ia bertemu dengan Yoora yang sekarang kembali menjadi kakak kandungnya. Joonmyun sebagai dosen pembimbingnya, Jongdae sahabatnya yang masih saja cerewet, dan Kyungsoo, adik manjanya yang menjadi juniornya di kampus.

Dan dia terjebak dengan sahabat-sahabat gay nya. ia hampir frustasi tidak menemukan Baekhyun, bertambah frustasi dengan sahabat-sahabat gay nya yang setiap berkumpul pasti membawa kekasih laki-lakinya. Dan Kyungsoo menjadi salah satu dia antara mereka. Kyungsoo menjadi kekasih Jongin, sahabatnya.

Chanyeol sudah bertemu mereka, tapi masih belum bisa bertemu dengan Baekhyun. Apa dia lahir di tempat yang berbeda? Ya tuhan, harus cari dimana lagi?

"Baekkie… Bagaimanapun caranya, aku harus bisa menemukanmu."

.

.

.

.

Chanyeol baru saja menyelesaikan urusan kamar mandinya ketika ia mendapatkan pesan dari Kris. Salah satu dari lima sahabatnya.

"Hey, cepat kesini."

Chanyeol sudah tahu dimana tempat yang dimaksud Kris. Mereka biasanya memang berkumpul untuk bersenang-senang disebuah club mewah milik keluarga Kris. Dan memang dia sudah terlambat lebih dari satu jam karena ketiduran. Bukan masalah menurutnya.

Setelah bersiap, Chanyeol mengambil kunci mobilnya dan langsung saja pergi menuju club milik Kris.

.

.

Hingar bingar musik yang mengalun serta suara berisik yang dikeluarkan oleh orang-orang yang berada disini tidak membuat Chanyeol merasa senang dan malah menyesali keputusannya untuk datang kemari. Menurutnya mebuang-buang waktu hanya untuk mendengar ocehan Jongdae tentan seorang incarannya yang selalu menolaknya. Namanya Xiumin, salah satu seniornya. Sepengetahuan Chanyeol, Xiumin itu termasuk salah satu siswa berprestasi jadi mana mungkin mau dengan Jongdae yang cerewet dan bodoh. Yah walaupun tidak terlalu bodoh.

"Berhentilah mengoceh! Kau dari dulu tidak pernah berubah selalu berisik dan menggagguku." Chanyeol memijit keningnya dan memilih untuk meninggalkan sahabat-sahabatnya. Ia perlu istirahat. Ini sudah cukup malam dan melewati waktu tidurnya. Ia juga cukup tahu bahwa teman-temannya tidak akan pulang maka Chanyeol memilih untuk memasuki kamar VIP untuknya dan teman-temannya.

"Kau tidak ikut berpesta?"

Ternyata didalam kamar sudah ada Kris dan Jongin serta Kyungsoo yang berada dipangkuan Jongin. "Kalau yang kau maksud adalah berpesta dengan Jongdae, aku akan dengan senang hati menolaknya." Dan disambut kekehan oleh kedua sahabatnya itu.

"Kau juga ikut menginap?" kali ini pertanyaan Chanyeol tertuju untuk Kyungsoo.

"Ya, dan si hitam ini yang memaksaku." Kyungsoo memberikan tinjuan kecil di hidung Jongin saat Jongin mencoba untuk menciumi lehernya kembali.

Chanyeol hanya menatap mereka jijik. Dosa apa yang ia perbuat hingga Kyungsoo, adik masa lalunya yang polos menjadi gay dan lebih paranya berpacaran dengan orang mesum seperti Jongin.

Tak ingin ambil pusing, Chanyeol memutuskan mengambil posisi untuk tidur.

.

.

.

.

Hari ini Chanyeol bangun lebih awal karena ada pertemuan dengan dosen pembimbingnya, Joonmyun. Tapi sepertinya ada yang bangun lebih pagi darinya.

Kyungsoo.

Anak itu sudah rapih dan siap untuk meninggalkan kamar VIP ini. Setelah menyelimuti Jongin dan Sehun, Kyungsoo bergegas keluar. Chanyeol tersenyum, Chanyeol tahu jika Kyungsoo itu juga mencintai Jongin, tapi setiap dia mengamati tingkah laku Kyungsoo, seperti Kyungsoo memendam perasaan juga pada Sehun.

.

.

Chanyeol sudah siap untuk pertemuannya dengan sang dosen untuk membicarakan tentang beasiswanya. Chanyeol dan Joonmyun memang cukup dekat. Cukup dekat untuk seorang paman kepada saudaranya. Ya, mereka adalah saudara jauh dari ibu Chanyeol.

"Prestasimu menurun. Kau tidak bisa seperti ini terus, beasiswamu bisa di cabut, Chanyeol." Joonmyun duduk didepan Chnayeol setelah mengambil salah satu buku tebal. Mereka sekarang berada di perpustakaan kampus.

"Ayah pasti akan mengurusnya kembali."

"Kau itu sudah bersar, jangan limpahkan semua masalah pada ayahmu." Joonmyun sedikit menoyor kepala Chanyeol setelah mendengar jawabannya.

"Kau memikirkan dia lagi?"

"…"

Tak mendapatkan jawaban dari Chanyeol, Joonmyun mengehela napasnya. Keponakannya yang satu ini memang sedikit gila karena cintanya pada seorang gadis. Yang sama sekali belum ditemukannya.

"Ini sudah selesai? Aku ingin istirahat."

"Ya! Park Chanyeol!"

Tak menghiraukan teriakan Joonmyun, Chanyeol tetap berjalan keluar perpustakaan. Kepalanya masih sedikit pusing karena minuman yang ia minum tadi malam. Tidak banyak memang, namun mengandung kedar alcohol yang tinggi.

Saat melewati lapangan sepak bola di halaman kampus Chanyeol tercengang melihat seseorang yang sangat dikenalnya.

"Ya tuhan!"

Chanyeol terus saja mengikuti seseorang itu yang sedang berjalan bersama dengan dokter kampusnya dan mengenakan pakaian dokter juga.

Setelah memastikan pengelihatannya, Chanyeol langsung saja berlari menyebrangi lapangan untuk menghampiri seseorang itu, tapi tiba-tiba.

"Ya! Park Chanyeol! Awas!"

BUK!

Dengan cepat, bola yang ditendang salah satu pemain bola yang memang sedang berada dilapangan mengenai wajahnya. Chanyeol tidak pernah menyadari bahwa ada yang sedang bermain dilapangan ini.

Chanyeol tersungkur jatuh dengan pandangan yang memburam. Tapi seketika ingatannya kembali. Orang itu. Ia harus menemuinya.

"Hey, Chanyeol? Kau tidak apa-apa?" Sehun yang juga berada di lokasi kejadian langsung saja menghampiri Chanyeol, tapi Chanyeol tidak mengindahkan pertanyaannya. Matanya terus tertuju pada orang yang ia cari yang sekarang hilang dibalik koridor kampusnya.

"C-Chanyeol. Hidungmu berdarah!"

"APA?!"

Chanyeol histeris sambil memegang hidungnya yang ternyata memang mengeluarkan darah segar.

BRUK!

Dan seketika Chanyeol pingsan ditempat.

.

.

.

.

TBC!
hay, balik lagi nih.

Mudah mudahan ga kecewa ya sama Chapter satu ini^^ hehe.

Seneng banget sama review kalian, ga nyangka banget bakal banyak yang berminat wkwk. Apa lagi klo ngeliatin fav&fol nyahh

Oke boleh dong aku targetin hehe. Gamau kyk MS nih/? Hehe. Aku mau nargetin reviewnya. Klo review nya ga mencapai target, aku juga gabisa update tepat waktu. Gaada bahan semangat/? Wkwk. Target gaakan aku sebutin tapi yang pasti –kira-kira- 40+^^

Maka dari itu, review lah walau hanya sekedar kata-kata semangat!^^ karena kalian juga semangatku/? Ayo saling menyemangati^^

KIM

PAI~