Dynasty Warriors series, still belongs to Koei.

.

Still behind the scene...

Scarlet : Waduh, kok keluarga Cao pada telat sih?

Nagi : Tenang Scarlet-chan. Pasti nyampe kok...

Scarlet : Tapi ini udah jam delapan. Kalo dia ga nyampe juga, bisa gue ganti perannya!

Cao Pi : Halo...(baru datang, keringetan)

Scarlet : Zihuan, napa lo telat?

Cao Pi : Mobil Papi mogok. Gue yang dorongin ke bengkel.

Scarlet : Trus kenapa kamu yang nyampe duluan?

Cao Pi : papi manggil helikopter abis bayar mobilnya yang mogok.

KRIIIIIIING!

Nagi : Ada telepon nih...(ngasi telepon)

Scarlet : Dari siapa, Nagi-san?

Nagi : Dari om Cao Cao. Katanya darurat!

Scarlet : (nyamber hape) Halo, Om...

Cao Cao : Semuanya, maaf Om ga bisa kesana. Om lagi ada di kantor imigrasi

Scarlet : Ada apa?

Cao Cao : Om ditangkep gara-gara pake helikopter, disangka tentara angkatan udara katanya. Tolong gantikan saya!

Nagi : Kenapa?

Scarlet : Terpaksa kita akan mengganti pemeran kita hari ini. Kamu mau kan, Cao Pi?

Cao Pi : Entahlah, terserah kalian...(buang muka)

Nagi : Acara akan kita mulai dalam 3...2...1... Mulai!


Zhuge Liang : Selamat sejahtera, Pembaca sekalian. Bertemu lagi dengan para jenderal yang tidak henti-hentinya berperang demi sebuah hiburan dari Koei. Inilah dia...

.

.

.

.

.

DW van Java

Episode : Cao Pi dan Ulat Sutera Emas

.

.

Zhuge Liang : Cerita ini bermula dari sebuah kerajaan bernama Wei yang makmur, dipimpin oleh Raja Cao Cao yang bijaksana. Kekuasaan ini membuat sepupunya yang lebih tua darinya, Cao Ren, iri melihatnya. Ia pun memikirkan untuk mencoba merebut tahta kerajaan Wei.

Cao Ren : Hm... Dia terlalu lama berkuasa. Seharusnya dia mati. Sebentar...

Zhuge Liang : Tak sengaja Ia melihat Cao Pi, anak Cao Cao yang terkenal dingin, namun serius sedang menatap jendela, melamun memikirkan kapan dia akan menikah di usianya yang telah beranjak dewasa.

Cao Ren : Hm, aku bisa memberinya tantangan mustahil. Hilang atau mati terbunuh, aku akan tetap aman sehingga aku bisa berkuasa...

Cao Pi : Ng...(masi ngelamun)

Cao Ren : HEI!

Cao Pi : GYAAA! BERUANG!(kaget)

Cao Ren : Hei, ini pamanmu! Seenaknya saja kamu mengejekku begitu...

Cao Pi : Maaf, Paman. Aku tidak tahu. Ada apa?

Cao Ren : Begini. Ayahmu itu sudah tua, tidak lama lagi akan menurunkan tahtanya kepadamu. Tapi, ada satu permintaannya yang belum terpenuhi selama hidupnya...

Cao Pi : Permintaan apa? Jangan sampai ayahku mati karena hal itu!

Cao Ren : Ulat Sutera Emas. Konon katanya, sutera itu tidak akan habis meski terus digunakan. Namun tempat itu dijaga oleh naga raksasa yang tak pernah tidur dan belum ada orang yang kembali dari tempat itu. Maukah kau menerimanya?

Cao Pi : Jika itu permintaan ayahku. Aku akan menerimanya!

Zhuge Liang : Atas tipu daya Cao Ren, Cao Pi yang tangguh menyanggupi tantangan itu. Keesokan harinya, Ia segera menyiapkan kapal megah beserta awak kapal berisi para pjuang tangguh dari negeri Wei. Di hari itu juga, Cao Pi berlayar mencari keberadaan Ulat Sutera Emas.

Cao Pi : Aku harus kemana dulu? Aku sudah di tengah laut...

Zhou Yu : (diiket di hidung kapal) OY, GA ADA PERAN YANG BAGUS DIKIT?

Zhuge Liang : Masi mending kamu jadi figuran. Daripada ga main sama sekali?

Zhou Yu : TAPI BUKAN JADI PATUNG DI IDUNG KAPAL JUGA DONG!

Zhuge Liang : Abaikan pembicaraan tadi. Zhou Yu, sekali lagi kamu ngoceh, kamu hilang kontrak dengan penulis!

Zhou Yu : "..."(diem)

Zhuge Liang : Cao Pi sedang meraba patung yang terpasang di hidung kapal. Tak disangka, terdengar suara degupan jantung di telinganya. Cao Pi mundur karena tersentak kaget, sementara patung kayu tersebut menoleh ke belakang.

Cao Pi : Siapa kamu?

Zhou Yu : Jangan takut. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya tersiksa karena hanya menjadi figuran di cerita ini...

Cao Pi : Lagian, kamu udah kebanyakan fans. Wajar cuma dipinggirin. Apakah kau mendengar pembicaraanku?

Zhou Yu : Benar. Temuilah pertapa Pang Tong di Negeri Shu. Bantulah dia dan dia akan membantumu...

Cao Pi : Lalu, dia sedang dimana? Hei, patung! Jiah, malah diem...

Zhuge Liang : Cao Pi sangat bingung dengan perkataan patung kayu ajaib itu. Namun Ia tetap melanjutkan perjalanannya berdasarkan saran patung itu. Ia berlayar di negeri Shu dan bertemu sesosok lelaki bercadar yang kering kerontang. Dialah Pang Tong yang malang. Pejuang Wei yang disebut sebagai Wynauts(?) segera mengambilkan makanan untuknya. Namun sekawanan binatang yang terbang mengambil makanan tersebut.

Zhang He : Idih, cyiiiiiin! Apaan yang terbang ituh? Jijay!

Cao Pi : Mereka para perompak udara. Kita akan lawan mereka!

Zhang He : Yakin, Mas Ganteng?

Xu Huang : Dasar bencong. Ya iyalah!

Dian Wei : Demi Yang Mulia, saya akan melawannya!

Xu Zhu : Hei, mereka mengambil makananku!

Zhuge Liang : Wynauts yang perkasa dan setengah jantan itu menyerang para perompak yang akan merebut makanan mereka. Setelah para perompak kabur, mereka memberikan makanan yang tersisa untuk Pang Tong.

Cao Pi : Tuan, maaf soal yang tadi. Ini makanan yang kami punya sekarang...

Pang Tong : ah... Sepertinya enak sekali. Terima kasih, Anak Muda...

Cao Pi : Sekarang, maukah anda memberitahu dimana Ulat Sutera Emas disembunyikan?

Pang Tong : Dekat Tebing Merah, Kerajaan Jin. Aku yakin masih disimpan disana...

Cao Pi : Terima kasih atas informasinya...

Pang Tong : Tapi, kamu harus ingat bahwa naga yang menjaga ulat itu bukan naga sembarangan. Salah melangkah, nyawa taruhannya...

Cao Pi : Hah, itu tidak akan terjadi padaku!

Zhuge Liang : Melihat semangat Cao Pi yang semakin berkobar, Ia pergi bersama pejuangnya menuju Tebing Merah, bekas dari pertempuran Chibi yang memakan banyak jiwa. Banyak anak kecil tewas karena terjepit disana selama bertahun-tahun.

Zhang He : KITA BAKAL METONG!

Jia Xu : DIEM LU BENCONG! (iket Zhang He)

Cao Pi : burung itu akan singgah di pemukiman. Kita akan mengikutinya...

Zhuge Liang : Cao Pi segera mengarahkan kapalnya mengikuti arah burung camar yang dilihatnya. Tak terasa Cao Pi dan Wynauts telah sampai di kerajaan Jin yang tidak kalah makmur dengan Wei. Ia segera menghadap Raja Sima Yi, raja di Jin waktu itu.

Cao Pi : Saya kesini karena sedang dalam pencarian Ulat Sutera Emas. Saya membutuhkannya untuk membebaskan ayah saya. Mohon izin dari Baginda...

Sima Yi : Aku memberi izin untukmu. Dengan satu syarat...

Zhuge Liang : Raja Sima Yi merogoh sakunya, kemudian diambil dan disebarnya ribuan gigi taring naga. Ketika Sima Yi memukulkan senjata yang mirip kemoceng itu ke lantai, setiap gigi taring yang terjatuh berubah menjadi serdadu perang lengkap dengan armornya. Wynauts sangat kebingungan karena mereka telah kalah jumlah.

Sima Yi : Para serdadu perangku yang tak terkalahkan akan menghancurkan kalian semua! MWAHAHAHAHA...Uhuk, uhuk...

Wang Yi : Yang Mulia, kita tidak akan mungkin melawan orang sebanyak ini!

Cao Pi : Ingat jumlah perompak udara yang melebihi mereka? Aku yakin kita bisa mengalahkan segerombolan taring naga ini!

Sima Yi : Serdadu Naga Tidur, HABISI MEREKA!

Zhuge Liang : Tawa Seram, apa urusanmu memanggil serdadumu dengan julukanku?

Sima Yi : Daripada aku bingung harus pakai nama apa. Lebih baik menggunakan nama yang sering kudengar...

Zhuge Liang : Iya juga sih... -_-'a

Cao Pi : Dalang, kapan kita bertarungnya? Keram nih!

Zhuge Liang : Oh, iya. Cao Pi dan para pejuangnya segera memulai pertempuran dengan serdadu dari taring naga tersebut. Mereka semua berhasil memenangkannya, dan kini tidak ada lagi yang mampu menghalangi Cao Pi selain naga raksasa penjaga Ulat Sutera Emas.

Cao Pi : hah... hah... hah... Akhirnya selesai juga. Semuanya, kalian berjaga-jaga di kapal. Aku akan mencari binatang pusaka itu.

Dian Wei : Baik, Yang Mulia...

Zhuge Liang : Cao Pi melihat sesuatu yang bersinar dari kejauhan. Ia yakin bahwa Ulat Sutera Emas berada di sebuah taman yang bersinar itu. Namun dalam perjalanan masuk ke taman, sesosok wanita cantik yang diduga anak Raja Sima Yi mencegatnya.

Zhen Ji : Kau pahlawan sejati. Aku belum pernah melihat pangeran setangguh dirimu...

Cao Pi : Apa maumu kesini? Kau mau menghalangiku juga?

Zhen Ji : Justru aku ingin membantumu. Kau bisa menggunakan pengetahuanku tentang kelemahan naga itu, asal kau mau menikahiku.

Cao Pi : Baiklah, aku akan menikahimu...

Zhuge Liang : Zihuan, kenapa malah mundur? Seharusnya kamu yang lawan naga itu sendirian!

Cao Pi : Males ah. Mumpung dapet jalan pintas, mendingan dipake aja.

Zhuge Liang : Tapi kamu tidak boleh curang! Kalau kamu curang, ceritanya ga seru, terus anak-anak yang membaca juga akan mengikutinya!

Cao Pi : Bodo amat gua!

Zhuge Liang : Ikutin cerita, atau kamu akan kehilangan kontrak!

Cao Pi : Iya deh! Maaf, ya. Tapi aku terpaksa harus melawannya sendiri.

Zhuge Liang : Jangan pasrah juga dong...

Cao Pi : Gue males main kalo gitu!

Zhuge Liang : Ya sudah. Cao Pi menelusuri taman tersebut. Semakin dekat perjalanannya menuju Ulat Sutera Emas, ribuan tengkorak bertebaran dimana-mana. Namun ketakutan itu tidak membuatnya mundur begitu saja, hingga akhirnya Ia berhadapan langsung dengan Naga Begadang.

Cao Pi : HEI, NAGA SIAlAN! AKU TIDAK TAKUT PADAMU!(angkat pedang)

Zhuge Liang : Ketika naga itu menoleh dan mencakarnya, dua bilah pedang yang dipegang Cao Pi patah mendadak. Cao Pi berusaha untuk lari, namun naga tersebut sudah mencengkramnya dan senjata yang dia miliki saat ini adalah pedangnya yang telah terbelah dua.

Sementara itu...

Dian Wei : Semuanya, lihat! Ada cahaya yang mendekat!

Xu Huang : Itu Yang Mulia Cao Pi!

Jia Xu : Yang Mulia masih hidup!

Zhuge Liang : Mereka melihat sesosok lelaki dengan rambut hampir terbakar membawa sebuah sangkar dan gulungan benang emas. Di sebelahnya, tampak sesosok wanita cantik yang akan dinikahinya.

Cao Pi : SEMUANYA! KITA PULANG DAN BEBASKAN AYAHKU!

Zhuge Liang : Akhirnya, Cao Pi pulang bersama Zhen Ji dan Ulat Sutera Emas yang dimaksud oleh Cao Ren. Meski rencananya gagal, dengan terpaksa Ia membiarkan Cao Cao kembali ke pelukan anaknya. Namun usianya yang sudah lanjut membuatnya harus mewariskan kekuasaannya...

Guo Huai : Maadkan aku, Anakku. Uhuk, uhuk... Aku tidak mampu lagi memerintah kerajaan ini, uhuk...

Cao Pi : Tapi, ayah belum mengajarkanku cara memerintah kerajaan. Aku masih belum siap!

Zhen Ji : Jangan khawatir. Aku bisa melakukan sesuatu untuk mengatasinya.

Zhuge Liang : Zhen Ji mengeluarkan dan mendendangkan sebuah lagu dengan serulingnya. Nyanyian yang lembut itu membuat ayah Cao Pi tertidur dengan pulas. Bahkan, Cao Pi tahu lagu yang sedang dinyanyikan oleh kekasihnya.

Cao Pi : Sayang, kenapa kamu nyanyiin lagu "Live While We're Young"-nya One Direction?

Zhen Ji : Ini bukan seruling biasa. Efeknya akan berbeda sesuai lagu yang sedang dinyanyikan. Lagu itu adalah mantra untuk penyembuhan.

Cao Pi : Kamu yakin lagu begitu bisa nyembuhin bokap gue?

Zhen Ji : Lihat saja nanti...

Zhuge Liang : Cao Pi sedikit merasa aneh pada kekasih barunya, sehingga setiap malam Ia selalu memeriksa kondisi ayahnya yang tertidur pulas. Hingga pada malam ketiga, Cao Pi melihat keanehan pada tubuh ayahnya.

Cao Pi : Sayang, bangun!

Zhen Ji : Ah, kenapa sih?

Cao Pi : Ada sesuatu yang aneh pada ayahku! Kita harus beritahu paman Cao Ren juga!

Zhuge Liang : Cao Pi langsung membawa kekasihnya untuk membangunkan pamannya, Cao Ren.

Cao Pi : Paman Ren, bangun!

Cao Ren : Ran, Ren, Ran, Ren... Sangka Gula Aren!

Cao Pi : Salah sendiri namanya Paman Cao Ren...

Cao Ren : Ada apa kamu bangunkan Paman malam-malam begini?

Cao Pi : Ada sesuatu yang terjadi pada ayah. Ikut aku!

Zhuge Liang : Merekapun berlari menuju kamar Cao Cao. Dan alangkah terkejutnya ketika yang mereka lihat saat itu bukanlah seorang lelaki tua penyakitan, melainkan seorang pemuda tampan yang sedang tertidur.

Cao Ren : Zihuan, dimana ayahmu? Bukankah seharusnya dia tidur disini?

Cao Pi : Itu ayahku! Aku melihatnya sendiri! Zhen Ji berusaha untuk menyembuhkannya.

Zhuge Liang : Tak lama kemudian, lelaki yang diduga seumuran Cao Pi itupun terbangun.

Guo Huai : Hah, tidur itu enak sekali. Hei, kenapa kalian berada di kamarku? Dan kenapa kalian memandangiku seperti itu?

Cao Pi ; Ceritanya panjang. Akan lebih jelas jika Ayah melihatnya sendiri.(menyerahkan sebuah cermin)

Zhuge Liang : Memang benar yang dikatakan Cao Pi. Pemuda tampan di hadapan mereka adalah Cao Cao, ayahnya Cao Pi.

Cao Pi : Ayah tertidur selama tiga malam. Zhen Ji yang menyembuhkan Ayah. Aku selalu memeriksa keadaan Ayah selama tertidur.

Zhen Ji : Itu benar, Ayah Mertua. Aku punya seruling ajaib dan mantra yang bisa menyembuhkan anda, sehingga mampu memerintah kerajaan Wei kembali.

Cao Ren : Aku tidak percaya. Nona, maukah kau melakukan hal yang sama padaku? Aku rela memberimu apa saja!

Zhen Ji : Aku harap begitu. Tunggu sebentar...

Zhuge Liang : Zhen Ji kembali mendendangkan lagu dengan serulingnya. Alunan lagu tersebut membuat Cao Ren tertidur pulas hingga tak pernah bangun. Cao Pi berterima kasih kepada Zhen Ji karena telah membantunya.

Cao Pi : Sayangku, aku sangat berterima kasih atas bantuanmu. Tanpamu, entah apa yang akan terjadi padaku ataupun kerajaan Wei saat ini. Maukah kau menikahiku?

Guo Huai : Aku... Tidak mungkin aku jadi begini. Penyakitku sembuh, aku bisa memerintah kerajaan kembali...

Zhen Ji : Cao Pi, sebenarnya aku mau menikahimu, tapi...

Cao Pi : Tapi apa, Sayangku?

Zhen Ji : Aku ingin menikahi ayahmu saja. Dia lebih tampan dari dirimu...

Cao Pi :Kau menikahi... APA?

Zhuge Liang : Dan akhirnya, meski Cao Pi memiliki pakaian baru berbahan sutera emas yang diambil dengan taruhan nyawanya, Zhen Ji justru ingin menikahi ayahnya yang lebih dewasa dan lebih tampan darinya. Dengan terpaksa, Cao Pi harus menerima Zhen Ji yang dikasihinya sebagai ibu barunya...

.

.


Disini gunung, disana gunung,
Di tengahnya pohon noni.
Disini bingung, disana bingung,
Kok endingnya gini?

.

.

Tidak perlu banyak bicara, yang penting bisa ketawa. Sampai jumpa lagi di kisah berikutnya!