FAITH

Part 2

By Hana Jaeri

Pairing : Yunjae

Cast : DBSK member dan karakter-karakter yang author bikin sendiri

Warning :: ini cerita YAOI, yang nggak suka nggak usah baca ! Ini fict hasil dari author aba-abal, cerita ngebosenin dan nggak jelas

.

.

.

.

.

Jaejoong terus menatap ponselnya yang ada ditangannya walau sudah 10 menit berlalu. Sentuhan-sentuhan tangan orang ahli yang sedang menata rambutnya dan memberikan make-up di wajahnya sama sekali tidak ia hiraukan. Hingga orang-orang itu selesai meriasnya, Jaejoong masih betah menatap ponselnya yang tetap diam tidak berdering sama sekali itu.

"Hyung," tepukan seseorang di bahunya membuat Jaejoong tersadar dan menoleh mendapati Junsu duduk di sampingnya.

"Hyung diam sekali hari ini?" tanya Junsu. Sebenarnya, pertanyaan itu hanyalah sebuah basi-basi. Junsu sudah tau jelas kenapa Jaejoong muram hari ini.

Jaejoong menghela nafas, "Tidak apa-apa," Jaejoong beralih menatap ponselnya lagi yang menampilkan foto Yoyo menggunakan baju kucing berwarna pink yang ia berikan pada hewan peliharaannya itu. Junsu menatap Jaejoong sendu. Benar bukan? Pasti hyungnya itu sedang memikirkan Yunho hyung. Jaejoong memang mengatakan kalau sudah 2 hari ini Yunho tidak memberi kabar. Tidak menelpon bahkan mengirim pesan.

Junsu mengalihkan pandangannya ke depan, menatap staf-staf yang sedang menyiapkan alat-alat pemotretan hingga matanya menangkap sosok Yoochun yang berjalan ke arah mereka.

"Mulainya masih lama?" tanya Junsu saat Yoochun sampai di depan mereka. Mendengar suara Junsu yang kelihatannya bukan untuknya, Jaejoong mengangkat kepalanya dan mendapati Yoochun berdiri di depan mereka.

"Sepertinya begitu, kata mereka masih ada yang salah dengan kameranya," Yoochun mengambil tempat duduk di samping kiri Jaejoong. Hingga kini Jaejoong duduk di antara Junsu dan Yoochun.

Mereka bertiga terlihat sangat tampan, walau hanya menggunakan kaos berlengan panjang milik produk yang mereka iklani. Jaejoong dengan kaos berwarna abu-abu. Rambutnya yang coklat terlihat sangat lembut dengan kulitnya yang putih susu. Junsu dengan kaos berwarna biru muda, dengan rambut yang ditata berdiri ke atas, terlihat sangat keren. Juga Yoochun dengan kaos berwana pink. Terlihat lembut namun tetap tidak menghilangkan kesan keren darinya.

Junsu dan Yoochun menekuk muka mereka. Mereka sudah selesai didandani sekitar 45 menit yang lalu, dan hingga saat ini, mereka sama sekali belum memulai pemotretannya. Jaejoong memperhatikan kedua dongsaengnya itu. Biasanya di saat seperti ini, Yunho yang menghibur dan menenangkan mereka agar mereka tidak badmood. Biasanya Yunho yang akan langsung berbicara pada manager mereka, mengatur agar pemotretannya bisa segera dimulai. Benar-benar leader yang perhatian dan bertanggung jawab.

Mengingat Yunho membuat Jaejoong menghela nafas. Bagaimana kabar pria itu sekarang? Apa yang sedang ia lakukan?

"Jaejoong-ah,Yoochun-ah, Junsu-ah! Ayo kemari! Pemotretannya akan dimulai!" seruan Minwon membuat Jaejoong tersentak. Sedangkan raut muka Junsu dan Yoochun langsung berubah tidak sekusut tadi.

Mereka bertiga segera menuju ke arah manager mereka yang sedang berada di tengah-tengah area pemotretan.

"Apa yang terjadi, hyung? Kenapa lama sekali?" tanya Yoochun pada Minwon yang hanya 1 tahun lebih muda dari mereka.

"Hanya sedikit masalah dengan kamera dan pihak produknya. Tapi aku sudah membereskannya," Minwon tersenyum seraya menepuk punggung Yoochun yang ada di sampingnya dengan pelan. Minwon melirik Jaejoong yang sedang memperhatikan staff-staff yang lalu lalang di depan mereka. Minwon menarik nafas pelan dan menarik senyumnya.

"Baiklah, aku tinggal dulu. Lakukan dengan baik, ne?"

"Ne. gomawo, hyung," balas Junsu dengan senyumnya. Minwon akhirnya beranjak meninggalkan mereka bertiga yang akan segera memulai pekerjaan mereka.

.

.

.

"Yak, Junsu-sshi, agak geser ke kiri,"

"Jaejoong-sshi, pandangannya kurang ke atas, yak, oke!"

"Yoochun-ssi, siap ne!"

Seruan fotografer serta bunyi kamera dan flash nya memenuhi studio foto ini. Setidaknya sudah sekitar 25 menit sejak pemotretan ini dimulai.

"Yak, agak ke kiri. Oke! Baiklah, kita break 15 menit!" lagi-lagi sang fotrografer memberikan instruksi.

Setelah itu, Yoochun, Junsu dan Jaejoong segera pergi ke kamar ganti. Karena untuk pemotrtan selanjutnya, mereka akan menggunakan wardrobe yang lain. Setelah sekitar 5 menit, mereka bertiga akhirnya keluar dari kamar ganti. Berbeda dari yang sebelumnya, mereka masing-masing kini mengenakan jaket yang berbeda-beda. Jaejoong dengan jaket kuning tua dan coklat dengan syal yang menghiasi lehernya, Junsu dengan jaket merah tuanya, dan Yoochun dengan jaket coklat berbulu putihnya. Karena saat ini sedang musim dingin,maka pakaian itulah yang akan mereka iklankan. Tapi seperti biasanya juga, ketiga pria itu tetap terlihat tampan.

Yoochun dan Junsu beranjak untuk mengambil segelas kopi, sedangkan Jaejoong memutuskan untuk duduk di sebuah kursi yang ada di salah satu sisi studio ini. Jaejoong berjalan dengan membawa ponselnya di tangan kanannya, hingga ia menoleh ke kanan dan melihat sebuah laptop yang menyala tengah menganggur di atas sebuah meja staff.

Jaejoong berbelok dan menghampiri laptop itu. Hmm, sepertinya ini milik salah seorang staff dari Cjes.

"Twitter, ya?" gumam Jaejoong saat melihat layar laptop itu. Tiba-tiba saja muncul sebiah ide di kepala Jaejoong. Jari-jari Jaejoong bergerak di keyboard dan pointer laptop itu. Tidak apa-apa kan ini dipakai? Toh ini milik staff Cjes, batin Jaejoong.

Halaman yang dibuka Jaejoong telah muncul. Dengan seksama Jaejoong mengamati layar laptop itu.

"Mwoya!" gumam Jaejoong. Mata Jaejoong melebar sedikit dan kembali mengamati subuah foto yang kini terpampang di hadapannya.

"Tohoshinki Tone Live Tour 2012 in Yokohama"

Kira-kira begitulah judul foto yang sedang diperhatikan oleh Jaejoong. Jaejoong menscroll halaman itu dan terus mengamati foto-foto itu. Matanya menatap tidak percaya pada foto seseorang yang sangat ia kenal itu.

"Yunnie.. pirang?" guman Jaejoong tercekat.

Sejak kapan rambut Yunhonya berubah menjadi pirang? Seingat dia, saat Yunho terakhir kali datang ke rumahnya, rambut Yunho masih berwarna hitam. Lalu setelah tiba di Jepang,Yunho juga tidak pernah memberitahukan tentang rambut barunya itu. Apa Yunho menggantinya saat ia tiba di Jepang? Kenapa Yunho tidak memberitahunya?

TUK

Piikiran Jaejoong buyar saat sesorang meletakkan segelas kopi hangat di samping laptop itu.

"Minumlah," kata orang itu sambilmengambil tempat di samping Jaejoong. Jaejoong menoleh. Minwon.

Jaejoong hanya menggangguk pelan dan kembali menatap layar laptop di depannya.

"Mencari berita tentang Yunho, huh?" tanya Minwon seraya menyesap kopinya.

Jaejoong menoleh kembali ke arah Minwon dan menatapnya tajam.

"Aku tidak akan mengacaukan pemotretan ini,"

"Tidak..tidak.." Minwon menggeleng pelan. "Aku tidak bermaksud seperti itu,"

"Aku minta maaf, Jaejoong-ah," lanjut Minwon. Ia menatap ke arah Jaejoong yang saat ini masih menatapnya, menunggu kelanjutan kata-katanya.

"Aku tau, kau sudah bukan anak kecil lagi dan kau pasti bisa mengatur waktumu. Aku juga tidak bermaksud menyalahkan Yunho. Aku hanya khawatir bagaimana jika kau terlambat terus. Mianhe," jelas Minwon.

"Tidak, tidak. Ini bukan salahmu. Seharusnya aku tidak membentakmu, mian,"

"Tidak, ini salahku telah menyudutkanmu seenaknya," Mereka bertatapan sejenak hingga akhirnya tawa kecil keluar dari bibir mererka masing-masing.

Minwon mengambil gelas kopi yang ia bawakan untuk Jaejoong tadi ke hadapan pria itu.

"Gomawo," balas Jaejoong sambil tersenyum. Jaejoong menyesap kopinya dan kembali menatap layar laptop. Melihat Jaejoong, Minwon juga jadi ikut-ikutan melihat ke arah laptop itu.

"Itu.. Yunho?" seru Minwon tidak percaya saat melihat sosok yang ia kenal dalam foto itu. Jaejoong menggumam dan mengangguk menjawabnya. Ia sendiri saja tidak percaya melihat kekasihnya tiba-tiba berubah warna rambut secara ekstrim seperti itu. Ini pertama kalinya Yunho mengecat rambutnya menjadi pirang. Yah, meskipun begitu bagi Jaejoong, kekasihnya itu tetap terlihat tampan dan keren di matanya.

"Astaga.. Aku tidak menyangka dia berani melakukan hal semacam itu," kata Minwon lagi.

"Hmm… aku juga," ucapan Jaejoong membuat Minwon menatapnya heran.

"Kau tidak tahu?"

Jaejoong menggeleng.

"Dia tidak memberitahuku sama sekali. Dia juga sudah tidak mengabariku 2 hari ini," suara Jaejoong terdengar sendu di telinga Minwon.

Minwon menggerakan tangannya mengelus punggung Jaejoong sesaat. Mencoba menenangkan. "Dia mungkin masih sibuk, seperti yang kau katakan kemarin,"

Jaejoong masih tetap diam menatap foto Yunho di depannya, "Mungkin, iya," gumam Jaejoong pelan. Sangat pelan hinga sepertinya Minwon tidak dapat mendengarnya.

Minwon menepuk bahu Jaejoong pelan, "Sudahlah. Sebagai permintaan maafku karena sudah memarahimu kemarin, bagaimana kalau kita pergi minum? Aku yang traktir,"

Jaejoong mengerutkan keningnya sejenak, "Boleh saja."

"YAK, ayo siap-siap semuanya!" seru seorang staff di kejauhan. Sontak suasana yang tadinya santai langsung berubah dengan staff-staff yang berkeliaran dengan cepat. Jaejoong dan Minwon juga langung bangun dan Jaejoong merapikan bajunya sekali lagi.

"Sudah sana! Fighting Jaejoong-ah," Minwon menepuk bahu kanan kanan Jaejoong memberinya semangat. Jaejoong mengulas senyum terima kasih dan segera beranjak menyusul Yoochun dan Junsu yang ternyata sudah bersiap-siap terlebih dahulu.

.

.

.

"Untuk JYJ!" seru Jaejoong dan Minwon sebelum bersulang dan meminum soju mereka.

"Haahh.. mashita," ucap Minwon dengan mulut penuh tteokboki. Uap nafasnya dan asap tteokboki keluar dari mulutnya bercampur dengan udara malam yang dingin ini.

Jaejoong menggosokan tangannya dan mulai menyantap tteokboki lagi. Melihat tteokboki di depan mereka akan habis, Minwon segera tanggap, "Ajhuma, tolong tteokbokinya satu lagi,"

"Kenapa kau pesan lagi, Minwon-ah?"

"Kulihat kau masih ingin makan, jadi kupesankan lagi,"

"Aishh, aku bisa gendut nanti," canda Jaejoong. Tapi meskipun begitu dia tetap memasukkan tteokboki dalam mulutnya.

"Tapi memang tteokboki di sini yang paling enak," lanjut Jaejoong. Kemudian seorang ajhuma datang membawakan sepiring tteokboki ke meja mereka.

"Kamsahamnida," Minwon berterima kasih. "Tentu saja, tidak ada yang menjual tteokboki seenak di sini,"

Minwon menuangkan soju lagi ke dalam gelasnya dan menegaknya. Dia memandangi Jaejoong yang masih saja melahap tteokboki di depannya.

"Tumben kau tidak minum banyak hari ini, Jaejoong-ah? Biasanya kau yang paling banyak minum,"

"Hmm? Yunho yang melarangku minum," jawab Jaejoong tenang. Meski begitu, mengingat Yunho membuat Jaejoong sedikit kesal. Sampai sekarang saja Yunho masih belum menelponnya.

"Yunho.." gumam Minwon.

"Wae? Kau mau memarahiku lagi?" Jaejoong memincinkan mata.

"Ani..ani.." jawab Minwon cepat.

Drtt..drrtt…

Jaejoong dengan cepat meraih ponselnya di sakunya. Wajahnya berubah berseri-seri dan ceria saat menatap ponselnya. Seperti ekspresi orang yang mendapatkan hadiah sebuah rumah seharga 1 miliar.

"Wae?" tanya Minwon penasaran.

"Yunho" jawab Jaejoong singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.

Jaejoong masih asik membalas pesan dari orang yang ditunggu-tunggunya beberapa hari ini tanpa menyadari perubahan raut muka orang yang duduk di hadapannya.

.

.

.

"Yaah.. Hujan," Junsu memandang ke arah halaman depan gedung Cjes yang terguyur hujan melalui jendela di lantai 4.

"Hujan?" sahut Jaejoong.

"Iyaa. Kalau begitu aku pulang dulu Jae hyung, Yoochun," pamit Junsu. Dan tanpa menunggu jawaban, ia langsung berjalan ke luar studio dan pergi mengambil mobilnya yang terparkir di tempat parkir bawah tanah.

Jaejoong mengalihkan pandangannya ke Yoochun yang sedang merapikan barangnya.

"Kau juga mau pulang?" tanya Jaejoong yang hanya dibalas anggukan kepala Yoochun.

"Yoochunnie, aku boleh ikut mobilmu lagi? Kau ingat, mobilku sedang di servis hari ini," Yoochun berhenti mengemasi barangnya dan menatap hyungnya dengan pandangan bersalah.

"Maaf, hyung. Aku harus pergi ke acara pers konferensi Yoonhwa. Dia memintaku datang hari ini,"

"Benarkah? Baiklah.." sahut Jaejoong pelan.

Yoochun maju mendekati Jaejoong dan menepuk bahunya pelan, "Maaf, hyung,"

Jaejoong mengangguk, " sana pergi," kata Jaejoong sambil tersenyum. Yoochun balas tersenyum dan beranjak mengambil tasnya.

"Aku pergi dulu, hyung," Yoochun melambaikan tangannya dan berjalan ke luar studio. Sedetik setelah Yoochun keluar, Minwon berjalan masuk ke dalam studio.

"Kau tidak pulang, Jaejoong-ah?" tanya Minwon heran melihat Jaejoong masih ada di dalam studio.

Jaejoong menghempaskan tubuhnya ke sofa di sampingnya, "Aku tidak bawa mobil hari ini."

Minwon meletakkan beberapa kertas yang ia bawa tadi ke atas meja dan menatap Jaejoong, "Lalu bagaimana kau datang ke sini tadi pagi?"

"Aku pergi dengan Yoochun. Tapi sore ini dia ada acara," Jaejoong menghela nafasnya. Lelah.

"Bagaimana kalau aku yang mengantarmu?" tawar Minwon.

Jaejoong langsung menatap Minwon dengan tatapan terima kasih, "Tidak apa-apa?"

"Tentu saja. Ayo!" Minwon tersenyum dan berjalan keluar. Jaejoong langsung berdiri dari duduknya dan menyambar tasnya mengikuti Minwon keluar.

.

.

.

"Kenapa memandangiku terus?" tanya Minwon heran. Ia mengalihkan pandangannya sesaat dari jalanan dan melirik Jaejoong.

"Tidak," jawab Jaejoong tanpa melepas pandangannya pada Minwon.

Jaejoong terus memperhatikan pria yang sedang menyetir di sampingnya itu. Tubuh yang kekar, yang dibalut kemeja kotak-kotak berwarna biru dan putih, kakinya yang panjang, matanya yang tidak terlalu sipit, hidungnya yang mancung, serta rambut hitam pendeknya yang membuat penampilannya makin segar.

"Kau tampan," kata Jaejoong tiba-tiba membuat mata Minwon melebar.

"Ya! Apa maksudmu?"

"Kau juga masih muda. Kau hanya satu tahun lebih tua dariku bukan?" tanya Jaejoong.

"Lalu?" tanya Minwon yang masih heran dengan perkataan artisnya itu.

"Tapi kenapa kau masih tidak punya pacar, ya?" pertanyaan Jaejoong sukses membuat mata Minwon melebar lagi. Hampir saja dia menginjak rem mobilnya, tapi untung saja dia langsung bisa mengendalikan diri. Tidak lucu kan kalau ia berhenti tiba-tiba di tengah jalan.

"Hahahaha," Jaejoong tertawa tiba-tiba. Membuat Minwon lagi-lagi menatap Jaejoong heran.

"Hahaha, lihatlah mukamu tadi sangat lucu," kata Jaejoong di sela-sela tawanya.

Minwon mendengus kesal. Dia dikerjai Jaejoong.

"Jangan marah, aku hanya bercanda," sahut Jaejoong seraya menepuk bahu Minwon pelan.

Minwon memutar bola ia kembali melirik Jaejoong yang masih tersenyum lebar di sampingnya. Jaejoong terlihat lebih ceria hari ini. Berbeda dengan Jaejoong kemarin yang murung dan sering menekuk mukanya. Mungkin ini gara-gara kekasihnya akhirnya mengirimnya pesan kemarin.

Minwon menghela nafas pelan dan berkonsentrasi pada jalanan di depannya lagi.

.

Minwon menghentikan mobilnya di depan rumah Jaejoong. Minwon menoleh menatap Jaejoong yang tertidur. Minwon tersenyum kecil. Tangannya terulur hendak membangunkan pria manis itu. Namun gerakannya terhenti saat melihat muka lelah Jaejoong. Ia jadi tidak tega membangunkan pria di sampingnya itu.

Minwon menarik tangannya dan terus memperhatikan wajah Jaejoong. Pandangannya makin lama makin lekat memandang pria yang sedang tertidur itu. Dia terlihat sangat… menawan. Raut kelelahan di wajah Jaejoong berubah menjadi wajah polos yang sedang tertidur. Terlihat manis di mata Minwon. Kulit wajahnya yang putih bersih, rambut coklatnya yang menjutai menyentuh wajahnya, serta bibir merahnya yang agak terbuka itu.

Tanpa Minwon sadari, tangannya perlahan bergerak mendekati wajah Jaejoong. Tapi Minwon tidak berniat menghentikannya. Tangannya terus bergerak mendekati wajah Jaejoong. Tiba-tiba muncul keinginan dalam dirinya untuk menyentuh wajah putih di sampingnya. Mencoba merasakan halusnya kulit wajah Jaejoong.

Seperti terbangun dari dalam mimpi, Minwon tersentak mentap tangannya yang kini hanya berjarak 1 senti dari pipi Jaejoong. Minwon segera menarik tangannya dan membentulkan posisi duduknya dengan gelisah. Ia mengusap-usap wajahnya berusaha menghilangkan pikiran gila yang muncul dalam kepalanya tadi.

"Apa yang kau lakukan Minwon! Kau melanggar janjimu sendiri! Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu?" umpat Minwon dalam hati. Ia mengacak rambutnya dan kembali menatap Jaejoong yang masih tertidur.

Entah kenapa rasa itu muncul lagi. Rasa berdebar-debar dan rasa ingin menyentuh Jaejoong. Perasaan yang ingin ia hilangkan sejak dulu. Masih ia ingat bagaimana dirinya dulu yang masih merasakan indahnya perasaan ini. Juga ia masih ingat dirinya yang juga merasa sakit karena perasaannya ini.

Tangan Minwon terulur lagi dan dengan lembut menyentuh sehelai rambut coklat Jaejoong dan memainkannya lembut di jarinya.

"Jaejoong-ah," gumamnya pelan.

Pikiran Minwon melayang ke masa lalu, masa 4 tahun yang lalu saat ia masih baru mengenal perasaan ini. Dirinya yang waktu itu baru diangkat sebagai salah satu staff grup music papan atas, DBSK. Saat itu ia pertama kali bertemu dengan Jaejoong dan member DBSK lainnya. Awalnya ia merasa biasa saja pada semua member dan beranggapan bahwa mereka orang-orang yang sangat baik.

Namun pandangannya perlahan-lahan berubah saat mengenal Jaejoong lebih lama. Perlahan-lahan ia mulai mengagumi sosok Jaejoong. Penampilan Jaejoong yang menawan dengan sifatnya yang ramah pada semua orang. SIfat hangat Jaejoong itu perlahan membuat hati Minwon berdebar-debar.

Awalnya Minwon ingin mengabaikan perasaan itu. Tapi ia malah jadi semakin tidak bisa melepaskan pandangannya dari sosok manis itu. Perasaan ingin bertemannya dengan Jaejoong perlahan berubah menjadi perasaan ingin mendekatinya lebih dekat. Padahal waktu itu ia tahu jika Jaejoong mempunyai hubungan khusus dengan Yunho. Tapi saat itu ia selalu merasakan dorongan dari dalam dirinya untuk terus dekat dengan Jaejoong, tidak peduli Jaejoong sudah bersama Yunho atau orang lain, (NOO!)

Sejak saat itu Minwon terus mendekati Jaejoong. Sejak itu pula ia harus berkali-kali menelan rasa sakit saat Jaejoong lebih memperhatikan Yunho daripada dirinya. Tapi, hei! Bukankah itu wajar jika Jaejoong lebih memperhatikan kekasihnya daripada seorang staff DBSK. Tapi entah kenapa ia masih tidak mau menyerah. Minwon selalu merasakan sesuatu yang berbeda jika ada di dekat Jaejoong. Ia merasa lebih hidup dan senang saat melihat tawa Jaejoong.

Sampai akhirnya Minwon nekat menyatakan perasaannya pada Jaejoong karena perasaannya yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. Dengan segenap keberanian yang ia punya, ia menyatakannya pada Jaejoong. Jaejoong tentu saja sangat terkejut. Dan seperti yang Minwon pikir sebelumnya, Jaejoong menolakknya. Tentu saja karena saat ini Jaejoong sudah bersama sesorang yang sangat ia cintai, Yunho.

Persaaan sakit yang ia terima saat itu beribu-ribu kali lebih sakit dari rasa sakit saat melihat Jaejoong bersama Yunho. Jaejoong yang merasa tidak enak langsung meminta maaf berkali-kali dengan membungkukkan badannya. Meskipun Minwon merasa sangat sakit, tapi perasaannya yang tidak ingin jauh dari Jaejoong tetap terasa. Maka ia memutuskan untuk tetap dekan dengan Jaejoong walau hanya menjadi sahabatnya dan berusaha mengubur perasaannya itu dalam-dalam agar tidak mengganggu Jaejoong. Untung saja Jaejoong yang sangat baik hati itu tidak merasa terganggu pada kehadiran Minwon. Jaejoong malah merasa senang karena ia mendapatkan sahabat baru.

Perlahan-lahan perasaan itu berhasil ia kuburdan ia kini menjadi sahabat dari orang yang ia cintai. Walaupun hanya sebagai sahabat, Minwon tetap merasa senang, karena ia tetap bisa berada di dekat Jaejoong.

"Eghh.." erangan kecil Jaejoong membuat Minwon kembali ke dunia saat ini. Dengan cepat ia menarik tangannya yang tadi masih bermain dengan sehelai rambut Jaejoong itu.

"Eghh, sudah sampai ?" suara Jaejoong sediki parau karena kondisinya yang baru bangun. Matanya mengerjap pelan menyesuaikan dengan kegelapan dalam mobil Minwon.

"I..iya," Minwon membetulkan posisi duduknya dengan kaku.

"Baiklah," Jaejoong mengambil tasnya dan menoleh ke arah Minwon. "Gomawo, Minwon-ah, sudah mengantarku,"

"Ne," jawab Minwon pelan. Jaejoong segera membuka pintu mobil dan beranjak keluar.

"Sekali lagi, gomawo,Minwon-ah," sahut Jaejoong lagi sambil tersenyum. Minwon hanya mengangguk dan membalas dengan senyuman tipis.

"Hati-hati di jalan, ne," ucap Jaejoong sebelum menutup pintu mobil Minwon.

Minwon segera saja mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah Jaejoong membelah kegelapan.

.

.

.

3 days later, Nagoya, Japan.

Yunho menghempaskan tubuhnya ke salah satu kursi dan menghela nafas panjang. Ia memejamkan matanya berusaha menghilangkan rasa lelah dan berusaha mengabaikan suara bising staff-staff yang lalu lalang mempersiapkan alat-alat konser.

Yunho membuka matanya saat merasakan ada seseorang yang duduk di sampingnya.

"Ini, hyung," ucap Changmin sembari menyodorkan sebotol air dingin ke depan Yunho. Yunho dengan senang hati langsung mengambilnya dan meminumnya. Begitu juga dengan Changmin, ia juga langsung meminum airnya sendiri.

"Haah.." Changmin sedikit mendesah lega saat merasakan kesegaran air dalam kerongkongannya. Changmin menyandarkan tubuhnya, berusaha menghilangkan lelah setelah gladi bersih selama lebih dari 2 jam itu tadi.

Yunho hanya terdiam. Pikirannya melayang ke kekasihnya yang ada di korea. Bagaimana kabar Jaejoong? Apa yang sedang ia lakukan? Yunho menghela nafas, ia sudah 4 hari tidak memberi kabar pada Jaejoong. Terakhir ia mengirim pesan pada Jaejoong 4 hari yang lalu saja itu karena ia mencuri kesempatan saat ia pergi ke kamar mandi.

Ah! Benar!Kenapa ia tidak menelponnya saja sekarang. Yunho segera meraih ponselnya dan mengetik deretan angka yang sudah ia hafal di luar kepala. Namun belum selesai ia mengetik angka-angka itu, ponselnya bergetar dan berkedip-kedip.

Ara is calling

Yunho mengernyitkan dahinya. Untuk apa Ara menelpon. Yunho melirik jam tangannya, sudah jam 11 malam. Yunho bingung apakah ia harus mengangkatnya atau tidak. Karena awalnya ia ingin menelpon Jaejoong

"Yeobseo," sapa Yunho yang akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan Go Ara.

"Yeobseo," suara Ara yang ceria terdengar dari ujung telepon.

"Changmin-san, bisa ke sini sebentar?" teriak seorang staff.

Changmin yang dari tadi asik mengistirahatkan dirinya menghela nafas panjang dan berdiri menghampiri staff tersebut. " Hai,"

"Ara, ada apa menelpon malam-malam?" tanya Yunho sembari melihat Changmin yang beranjak menghampiri staff itu tadi. Tapi meskipun begitu, pikirannya masih menuju pada Jaejoong.

"Mianhe, oppa. Apa aku mengganggu?"

"Ani..aniyo," sanggah Yunho halus. "Waeyo?"

"Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengobrol. Oh, iya! Bagaimana konser kalian, oppa?"

Yunho melirik jam tangannya lagi, malam semakin larut. "Konser? Baik! Untung saja banyak yang datang ke konser ini,"

"Benarkah? Chukkae , oppa!" sahut Ara dengan nada cerianya lagi.

"Gomawo," jawab Yunho. Setelahnya, ada saja yang dibicarakan Ara. Yunho sebenarnya ingin mengakhiri panggilan itu. Tapi ia tentu tidak akan tega menyakiti hati Ara yang notabene adalah seorang wanita. Yunho tetap menanggapi obrolan Ara walaupun tidak seceria Ara. Haahh, mungkin ia harus menunda niatnya untuk menelpon Jaejoong terlebih dahulu. Mungkin ia bisa menelponnya jika ada waktu lagi. Jaejoong pasti akan mengerti.

.

.

.

TBC

Chap 2 update , yeeyy :D

tapi miaan soalnya chap ini agak geje T.T hhehe

saya mau bikin yunjae broken dulu di sini *evilaugh* *ditabok yj*

queersky : jinjaa? huaa, aku juga sbenernya pengen dtg ke peramal juga nanyain ttg yj tapi di sini nggak ada peramal *clingak-clinguk* T.T iyaa bener , yj baek" aja.. amiinn :D

Elsita : gomawo :D waah, kalo di ff ini yj mau aku siksa dulu , haha *evil*, thanks for review ^^

Lee sorA : amiin :D iyaa, aku juga akhir" ini jadi kangen sama yj momen T.T thanks uda review ^^

HISAGIsoul : gomawo :D iyaa, abis si jae nggak bisa berhenti mikirin yunho, keke,

Marcia rena : kekeke, anaknya yj banyaak sih, jadi yj stress mikirin anak"nya trus cerai :p

toriyjysm : keke, eh? aku waktu itu baca tweetnya org di TL, tapi dia juga nggak ngasih tau link peramal itu , jadi aku nggak bisa ngasih tau :( mianhe chingu~

anon : lanjut? okeee~

Jung baby shippo : lanjut sampe ending? aku juga maunya kayak gitu... jadi ff ini tetep bakal aku lanjutin sampe end, bukan ff ini aja, tapi ff yg lain juga :) cuman mgkin updetnya bakal agak lama, soalnya aku kadang" males update , hhehe :p

okee~ makasih semuanya yang uda mau review *kiseu satu-satu* 3

jangan bosen buat baca sama review nih ff yaa :D

buat yg baca atau nggak sengaja baca, thanks for reading :) hope you enjoy it:)

and I always waiting for your review, so, review yaahh :D