Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : Typos (I didn't check it), OOC, Lemon Implisit, Canon Universe, Fluffy and Angst :B
Di bawah 16 tahun gak boleh masuk, tapi kalau nekat, not my fault
Don't Like? Don't Read
.
.
Ingatkah Kau, Ten?
Part 2
© kosukefan – brainproject
.
.
"I love you since our eyes first met...
.
Kau masih ingat, Ten? Tentang 'kencan pertama' kita?
Bunga Sakura sudah mulai bermekaran bahkan ulang tahunmu yang ke-17 sudah lewat. Sembilan tahun yang lalu, mata auburn-mu itu makin memperdalam pesonamu. Aku masih mengingat setiap detail tanpa terlewat sedikit pun. Kau mengenakan terusan bermotif Cina dan rambut digerai, satu hal yang jarang terlihat dari dirimu. Sesekali kau mengeluh tentang angin yang berhembus terlalu kencang atau alergi bungamu yang terkadang datang juga Lee dan Gai-sensei yang tidak bisa datang ke pertemuan tim Genin kita ini. Ya, seharusnya tim Genin kita berkumpul dan bercengkrama untuk 'menambahkan masa muda kita', menurut dua orang konyol itu. Meskipun demikian, aku malah bersyukur karena, khusus untuk hari ini, aku bisa berdua saja denganmu.
Saat melewati pusat kota, kau berteriak kegirangan karena toko senjata yang biasa kau kunjungi sedang ada potongan harga besar-besaran. Kau menarik lenganku dengan erat untuk menyeretku ke toko tersebut. Senyummu mengembang dengan besar begitu melihat kunai atau shuriken yang harganya cenderung lebih murah. Matamu membesar dengan manis begitu melihat katana yang terpampang di display toko tersebut.
"Neji, katana itu sepertinya bagus! Kebetulan misi kemarin membuat katanaku patah. Bagaimana?"
Kau meminta pendapatku tentang katana yang sepertinya sangat kau sukai tersebut. Aku tahu betapa besar rasa cintamu terhadap senjata-senjata. Katana itu memang terlihat bagus di tanganmu dan aku tahu betapa kesalnya kau begitu katana-mu yang sebelumnya patah. Mata coklatmu bersinar cerah dan aku tak dapat memalingkan pandanganku.
"Neji?"
Kau memanggilku sekali lagi dengan suaramu yang lembut itu. Matamu menatapku heran tapi aku hanya bisa tersenyum dalam hati dan mengambil katana yang kau pegang itu. Tatapanmu berubah menjadi kaget dan ekspresi wajahmu sangat priceless. Rasanya aku ingin tertawa dengan keras jikalau aku tidak mengingat bahwa aku adalah Hyuuga. Hyuuga tidak pernah menunjukkan emosinya di tempat umum, pengecualian untuk Hinata-sama.
Aku berjalan ke arah kasir dan dari pelupuk mataku dapat kulihat kau masih berdiri sambil menatapku dengan shock. Penjual toko senjata ini tersenyum yang hanya kubalas dengan anggukan ala Hyuuga. "Anda mau beli yang lain lagi?" Penjual itu bertanya dan aku menggelengkan kepala sambil memberikan beberapa lembar uang. Tiba-tiba, derap langkah kaki terdengar di telingaku dan saat aku menoleh, kau sudah ada di belakangku dan menatapku dengan heran.
"Neji! Apa yang kau lakukan?"
Penjual itu menyodorkan katana yang baru kubeli itu dalam bingkisan. Aku mengambilnya dan menaruhnya di telapak tanganmu. Mulutmu membuka dan membuat huruf 'O'. Kau tidak mengerti dengan perilakuku yang tiba-tiba seperti ini. Rambutmu melambai karena angin di toko ini.
"Untukmu, Tenten…"
Kata-kata koheren itu keluar dari mulutku dan kau sudah bersiap-siap untuk protes. Walaupun aku tahu kau tidak suka dengan hadiah kecuali pada hari ulang tahunmu, aku ingin… memberikan sesuatu yang bisa membahagiakanmu walaupun hanya sedikit saja.
"Kau mau pulang ke apartemenmu tidak?"
"Ah, iya, tadi Hokage-sama memanggilku, arigatou sudah mengingatkan, Neji!"
Kau terpancing oleh pertanyaanku. Seperti biasa, Hyuuga selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Beberapa tetes peluh menyusuri raut mukamu. Kita berdua berjalan dalam diam di tengah-tengah kesibukan pusat kota. Terkadang kau membalas sapaan para penduduk dengan senyuman lebarmu dan memberikan sikutan kepadaku untuk membalasnya.
Hei, Tenten, jikalau kau mengerti bahwa tak ada yang bisa memalingkan perhatianku daripadamu!
"Aku senang dengan hari ini,"
Kata-kata yang berhasil membuatku terdiam untuk sesaat di depan pintu apartemenmu. Kau berjalan dengan begitu seduktif ke arahku dan mata coklatmu memandangku dengan penuh perhatian. Kau tersenyum dan mendekatkan bibirmu ke pipiku. Sentuhan lembut itu membuat mataku terbuka sedikit. Kau tertawa kecil melihatku yang masih terperangah olehmu dan menutup pintu apartemenmu.
Aku ingat bagaimana aku terdiam selama beberapa menit sebelum akhirnya realita menyadarkanku untuk segera beranjak dari situ.
.
.
.
Kau masih ingat, Ten? Bintang-bintang yang bersinar kala itu?
Hembusan angin semilir tidak membuatmu terlihat berantakan, malah menambah kecantikan dalam dirimu. Kau tersenyum sambil melihatku dalam damai. Dirimu malam itu membuatku berkali-kali harus meneguk air liurku sendiri atau menggigit bibirku seperti apa yang dilakukan Hinata-sama dahulu. Lampu-lampu penerangan pada malam hari tidak dapat membantuku untuk menghilangkan desiran di dalam tubuhku saat kau berdiri di depanku. Rambutmu digerai lagi pada malam itu, membuat angin tidak pernah berhenti untuk menerbangkannya.
Hawa dingin berkecamuk di badan kita berdua dan kau tidak berhenti untuk menggigil. Kau menyenderkan kepalamu di bahuku dan memegang tanganku erat. Kau mengangkat kepalamu sedikit untuk bisa melihat wajahku. Senyum tak bisa hilang sedetikpun dari wajahmu. Tanpa sadar, aku merapatkan jarak di antara kita. Hidung kita bertemu pelan dan aku bisa merasakan hembusan nafasmu yang hangat di bibirku yang dingin. Senyummu melebar dan aku bisa merasakan otot di pipiku naik sedikit ke atas. Entah siapa yang memulai, kita menghapus jarak antara bibir kita berdua. Ciuman pertamamu yang aku tahu dan ciuman pertamaku juga. Kulumat bibir ranummu dengan lembut. Ciuman itu sederhana dan aku menyukai setiap detiknya.
Saat aku melepaskan ciuman itu, aku melihat tatapan matamu yang seolah-olah ingin mengeksplorasi emosi di mata lavender ini.
"Aku mencintaimu."
Matamu membelalak kaget saat melihatku. Seolah-olah kau tidak percaya dengan apa yang barusan kukatakan.
"Neji! Jangan bercanda soal ini!"
"Aku tidak bercanda, Ten."
"Bohong!"
"Tenten, apa pernah aku berbohong kepadamu?"
Kau melihatku tanpa senyum di wajahmu lagi, tetapi tetesan air mata yang hendak keluar dari pelupuk matamu. Setetes air mata turun dan menyusuri pipimu. Aku hendak menghapus tetesan itu ketika kau tiba-tiba berlari dari hadapanku.
"Tenten!"
Teriakanku untuk memanggilmu tidak berhasil membuatmu menghentikan derup langkahmu yang semakin cepat. Aku mencoba mendahuluimu dengan segera berlari di atas tumpukan salju di lapangan ini. Sesekali kau hampir tersandung oleh akar pohon yang tidak kelihatan oleh salju. Aku terus menerus mencoba mengejarmu di antara pohon-pohon yang menjulang tinggi.
Tiba-tiba kau berhenti di antara dua pohon Sakura, di mana kita biasanya makan ketika musim semi datang. Di tempat yang sama ketika kita berdua latihan untuk pertama kalinya. Kau berbalik arah kepadaku dan tetap berdiam diri tanpa mengeluarkan suara. Walaupun kau seperti itu, aku melihat beberapa titik air yang keluar dari matamu. Aku tidak ingat kapan terakhir kali kau menangis dan kali ini kau menangis karenaku.
"Neji, bilang kau bohong tadi."
"Tidak," Satu langkah mendekat ke hadapanmu.
"Kau pasti bohong, Neji, sama seperti wanita lain yang mungkin sudah pernah merasakan kecupanmu dan mendengarkan dustamu itu." Mengapa kau sangat susah untuk dimengerti, Tenten?
"Tidak pernah," dua langkah mendekat dan tinggal beberapa langkah lagi.
"Neji, katakanlah itu bohong, jangan kau hancurkan lagi," Apa yang sudah aku hancurkan darimu, Tenten?
"Hancurkan apa?" Tanpa kau sadari, aku sudah berada di depanmu.
"Neji…" Aku mendekapmu ketika kau berusaha untuk menutupi bulir-bulir air mata yang terjatuh makin deras. Kau mengeluarkan lenguhan kaget dari pita suaramu saat perlahan kau rasakan tanganku yang membelai punggungmu perlahan.
"Tenten… Aku mencintaimu," Saat kata-kata tersebut keluar kau berusaha untuk mendorong badanku dari badanmu. Kau mencoba untuk melepaskan dirimu dari dekapanku tapi sayangnya, kau kalah kuat.
"Neji! Jangan bohong kepadaku lebih dari ini," Suaramu perlahan-lahan mengecil dan pelan. Aliran air matamu yang hangat itu sampai di pundakku. Badanmu yang mungil mulai bergetar menandakan bahwa kau berusaha untuk tidak menangis lebih jauh daripada ini.
"Tenten, mengapa kau begitu rumit?" Aku merasakan gelengan kepalamu. "Aku mencintaimu dari pertama kita bertemu, aku menyukaimu semenjak kau memperkenalkan dirimu, lagipula untuk apa aku mendekapmu seperti ini jika aku tak benar-benar menyukaimu? Tenten, kau membuatku keluar dari sangkar dan memberikanku emosi yang seharusnya tidak dilakukan para Hyuuga, seperti berbicara sepanjang ini."
"Bukankah masih ada banyak wanita di luar—hiks—sana yang lebih menarik daripadaku?"
"Tenten, percayalah kepadaku, hanya kau satu-satunya yang akan menemaniku sampai akhir nanti. Itu ciuman pertamaku dan aku tak akan melakukannya kepada perempuan lain selain kau."
Matamu terbuka lebar dan kau mengangkat wajahmu—mencoba mencari setitik kebohongan di tatapan mataku. Aku tersenyum, untuk kesekian kalinya jika bagimu, mengapa saat itu kau tidak sadar juga?
"Neji, aku juga menyukaimu," kata-kata itu ditutup oleh bibirku yang mendominasi bibirmu. Tanganmu yang mungil itu segera memeluk leherku dan tanganku membelai pinggangmu lembut. Saat itu, pikiranku dipenuhi olehmu. Tidak ada lagi yang kutakutkan di dunia ini selain kehilanganmu. Bahkan, bintang yang bersinar pada malam itu pun menjadi saksi bisu di antara kita. Saksi bisu bahwa seorang Hyuuga Neji sudah berhasil memilikimu, Tenten, secara resmi.
.
.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata-kata yang tak sempat diucapkan, kayu kepada api yang menjadikannya abu,
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan, awan kepada hujan yang menjadikannya tiada"
–Sapardi Djoko Damono
.
.
Kau masih ingat, Ten? Saat aku melemparkan kertas poster tersebut?
Hari itu dua belum tepat sebelum hari jadi kita yang ke-2 dan musim sudah berganti menjadi musim gugur. Hawa sejuk yang menyapa kita di antara pohon-pohon yang berganti warna. Kau berjalan dengan perlahan sambil menikmati pemandangan dari daun-daun yang berguguran. Tanganmu yang sedang menggenggam tanganku terasa begitu lembut.
Aku tak bisa berhenti membayangkan masa depan kita ketika kau berada di sampingku seperti ini. Keindahan dari wajahmu terpancar dengan jelas dan aku menyukai kecantikanmu secara alami, tidak dibuat-buat. Hari itu, keringat dingin terus menerus menetes mengingat suatu pertanyaan yang akan kulontarkan.
"Neji, untuk apa kau mengajakku ke sini?"
"Latihan."
Kau mengerutkan keningmu dan melihat baju terusan yang kau kenakan. Aku tahu kau mengharapkan 'kencan' dariku, bukannya, 'latihan', tetapi aku tahu kau akan mengingat hari ini sebagai tanggal yang berharga.
"Kau tidak melihat bajuku? Bajuku tidak cocok untuk latihan. Bagaimana kalau kita makan di Ichiraku atau…"
"Tidak, Tenten, kita akan latihan."
Aku menekankan suaraku pada kata 'latihan' tersebut. Ayolah Tenten, aku tahu kau akan menciumku berulang kali di penghujung hari, cukup ikuti rencanaku. Aku meremas-remas sesuatu di dalam kantong ninjaku.
"Neji, kau benar-benar keras kepala, obsesif, dan-"
"Ayolah Tenten, berhentilah menggerutu."
"Sesudah latihan, aku akan mencincangmu untuk makanan-"
Aku menciummu dengan perlahan untuk membungkam perkataanmu. Rasanya seperti baru pertama merasakan manisnya cinnamon di bibirmu dan menghirup aroma mint yang kuat dari tubuhmu. Mata kita berdua tertutup rapat dan kurasakan debaran jantungmu yang semakin lama semakin cepat. Aku melumat bibirmu dengan lembut dan perlahan kau mengajak lidahku untuk bermain bersama. Aku menggeram pelan dan dapat kurasakan bibirmu yang perlahan melengkung ke atas.
Sisi rasionalku mulai mengingatkan tujuan utamaku mengajakmu ke sini, tetapi tanganmu, yang menjelajahi punggungku, dan bibirmu, yang sangat membuatku adiktif, membuatku tidak dapat berpikir jernih. Selang beberapa saat, aku melepaskan kuncian bibirku padamu. Kau mencoba untuk mengatur nafasmu kembali dan membuatku tersenyum kecil.
"Ayo latihan, Tenten."
Kau mengerucutkan bibirmu dan mulai merajuk.
"Taaapiii, Nejiiii, aku tak mau latihan."
"Tidak ada kata tapi, ayo latihan."
"Gak mau."
"Tenten…"
"Gak mauuu."
Aku mulai menggaruk rambutku yang tidak gatal. Kau tahu betapa luluhnya aku terhadap rajukanmu yang seperti anak kecil itu, tetapi, Ten, ketahuilah, kau akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada sekedar kencan.
"Sepuluh menit saja kita latihan, lalu kita akan melakukan semua hal yang kau mau."
"Semuanya?"
"Ya."
"Termasuk makan malam di restoran sushi yang baru dibuka? Lalu melihat toko senjata baru yang ada di pinggiran kota dan pergi ke-"
"Ya Ten." Aku yakin kau akan melupakan semua itu setelah latihan ini, termasuk restoran sushi mahal itu.
"Baiklah, 10 menit."
Aku menyiapkan kuda-kuda Hyuuga di depan dua pohon Sakura yang sama. Kau mulai mengeluarkan segala senjata andalanmu dan semuanya dapat kuhalau dengan baik. Aku berusaha untuk berpindah ke tempat yang sudah kutandai sebelumnya di antara hujan shuriken dan kunai yang kaulempar.
Kulihat kau mengeluarkan 4 shuriken kebangganmu dan segera kulempar benda di kantongku ke arah dua pohon tersebut. Kau melontarkan senjata-senjata tersebut ke empat arah yang sudah kukira sebelumnya dan kulihat matamu terbelalak lebar melihat benda tersebut.
Aku mencoba untuk berdiri tegap dan melangkahkan kakiku menuju tempatmu berdiri. "Jadi, apa jawabanmu?"
Butir-butir air mata keluar dari matamu dan dapat kulihat mata auburn-mu memancarkan kebahagiaan. Kau berlari ke arahku dan memelukku erat.
"Ya! Ya! Aku mau!"
Karena di belakangku, terdapat poster besar bertuliskan, "Maukah kau menikah denganku?", dan tanda hati yang ditambahkan Hinata-sama semalam.
Kita berpelukan erat dan aku meletakkan wajahku di perpotongan pundakmu. Angin musim gugur memainkan rambut kita berdua. Aku sangat menikmati momen ini sampai akhirnya kau perlahan mengendurkan pelukan kita dan berkata,
"Aku masih ingat janjimu tentang restoran sushi itu."
Sial.
.
.
.
Ingatkah kau Ten, malam pernikahan kita berdua?
"Kuperkenalkan kalian berdua sebagai suami istri, Hyuuga Neji dan Hyuuga Tenten."
Seluruh keluarga dan tamu undangan bertepuk tangan. Aku melihatmu yang bersemu merah dan mengenakan gaun putih panjang. Kau tersenyum yang membuatmu terlihat semakin cantik di mataku.
Hyuuga Tenten.
Sekarang, seluruh dunia mengetahui bahwa kau sudah terikat denganku, dalam suka dan duka, dalam kaya maupun miskin. Tidak ada lagi bocah yang mencoba melihat celana dalammu. Tidak ada lagi laki-laki lain yang berani mengajakmu kencan. Tidak ada lagi gangguan-gangguan kecil ketika aku tengah menciummu di hadapan umum.
Mulai hari itu, kau millikku, tidak ada lagi yang bisa merebut perasaanku darimu. Kau adalah setiap nada dari lagu yang kunyanyikan. Kau adalah setiap menit dalam hidupku. Kau adalah setiap kata yang terujar dari mulutku.
"Neji…"
Kau menatap mataku dengan lembut. Aku tak akan bosan melihatmu seperti ini.
"Hyuuga Tenten…"
Dan kita berciuman, di depan altar dan di hadapan banyak orang, dengan lembut. Aku tidak peduli seberapa kencang mereka bertepuk tangan atau seberapa banyak anak kecil yang datang ke pernikahan kita. Aku hanya menginginkanmu dan kembali meyakinkan diriku bahwa ini bukan mimpi.
Aku melumat bibir bawahmu dan kau membukakan jalan. Kuabsen semua gigimu dengan lidahku dan mulai bermain-main di dalam mulutmu. Tanganku yang berada di pinggangmu mengerat, ingin merasakan kehadiranmu di hadapanku seutuhnya. Aku tidak dapat menghentikan ciuman ini sampai...
"Woi Neji, kau bisa melanjutkannya malam ini!"
Naruto bodoh itu menghancurkannya dengan suaranya yang super kencang. Aku terpaksa melepaskan ciuman ini. Mukamu tambah memerah diiringi dengan gelak tamu para tamu undangan.
Walaupun di satu sisi, Naruto benar juga.
.
"Kau mau mandi dulu, Neji?"
"Kau saja duluan."
Resepsi pernikahan kita telah di cottage kecil ini sangat besar, cocok untuk pengantin baru seperti kita. Apakah kau masih ingat dengan wangi aromatherapy di seluruh penjuru ruangan? Apakah kau masih ingat dengan semua ini, Ten?
Kau sedang menyenandungkan nada-nada lagu ketika aku menanggalkan bajuku hingga hanya boxer saja yang kukenakan. Aku ingin malam itu adalah malam yang sempurna. Aku ingin engkau selalu mengingat malam itu sebagai kenangan indah, bukan penyesalan yang ada di hatimu.
"Neji?"
Mukamu bersemu merah melihatku yang sudah topless dan aku perlahan memperhatikan lengkuk tubuhmu yang hanya dibalut oleh handuk. Sepertinya kau sudah mempersiapkan dirimu dengan baik. Langkah demi langkah menuntunku ke arahmu.
"Neji, jangan dilihat seperti itu!"
Senyum kecil terulas di wajahku. Baru kusadari, kau tidak pernah berubah semenjak saat pertama aku 'tidak sengaja' melihatmu dalam handuk.
"Dilihat seperti apa, Tenten?"
Aku membisikkan kata-kata tersebut di telingamu. Mukamu semakin memerah seperti buah tomat segar. Telinga adalah salah satu bagian tersensitif darimu yang saat itu baru aku ketahui.
"Baka-Neji…"
"Tenten, sekarang, kita sudah boleh dan 'diharapkan' untuk…"
"Neji…"
"Hn?"
"Kau berisik."
Kau menciumku dengan passion yang sangat kuat dan membuatku hampir terjatuh. Ini adalah kali pertama kau memiliki iniatif duluan. Aku bahkan lupa dengan komentarmu ketika lidah kita bertemu untuk kesekiankalinya. Kau melepaskan pagutanmu dan menatapku sayu. Otakku tidak dapat berpikir rasional lagi ketika kau mengajakku ke ranjang.
"Neji…"
Kau menghela nafas pelan ketika mulutku merasakan leher jenjangmu yang begitu indah. Aku melepaskan ikatan handuk di tubuhmu. Kau begitu indah malam itu, walau penerangannya hanya redup. Yang saat itu kurasakan hanyalah cinta, sesuatu yang lama kudambakan.
Kau membuatku merasakan keindahan dunia di antara kepenatan hidup. Kau membuatku seperti burung yang akhirnya keluar dari sangkarnya. Aku merasa begitu lengkap denganmu, seperti hujan yang turun di tengah musim panas atau coklat panas di tengah musim dingin yang lebat.
Dan ketika kita bersatu, aku bisa merasakan semua hal yang kurasakan. Rasa sakit, kesepian, kebahagiaan, semua yang pernah kaurasakan dahulu. Kuhapus titik-titik air mata yang mengalir di pipimu.
"Aku mencintaimu, Tenten."
Dan biarkan aku mengulangnya lagi dan lagi, untuk membuktikan kepadamu seberapa berartinya kau di hidupku. Bahwa aku tidak akan bisa hidup jika kau meninggalkanku barang sedetik saja. Kau tersenyum dan aku dapat merasakan pernyataan cintamu ketika kau memelukku erat.
Kita mencapai puncak dari surga ini, tetapi sebenarnya, surga itu adalah kau yang saat itu begitu ekspresif dengan peluh di seluruh wajahmu. Kau adalah surga (1) yang ada di dunia untukku. Aku memelukmu erat dan dapat kurasakan nafasmu mulai stabil.
"Aku mencintaimu, Neji."
"Aku juga, Ten," dan aku akan terus mencintaimu sampai kapan pun.
Oh Kami-sama, di mana pun kau berada, biarkan waktu berhenti dan biarkan aku merasakan keindahannya untuk sekali lagi.
.
Kau masih ingat, Ten, dua bulan kemudian?
"Sakura-san, jadi ada apa?"
Haruno Sakura dengan baju medic-nin-nya tersenyum dan menatap kita yang waktu itu duduk di ruangannya. Aku mengelus pelan punggung tanganmu dan dapat kurasakan tubuhmu yang mulai relaks.
"Selamat, Neji-san, Tenten! Kalian akan menjadi orang tua."
Kau memelukku erat dan aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Kau dan aku akan menjadi orang tua, akan ada seorang anak kecil yang nantinya berlarian di kediaman Hyuuga, akan ada seseorang yang memiliki unsur genotif dari kita berdua.
"Tapi, kalian harus tau satu hal…"
Kita pun melihat kembali ke arah Sakura. Dia menatap kau dengan sejuta kekhawatiran tampak di raut wajahnya.
"Ten, badanmu terlalu lemah untuk kehamilan ini, karena usia kalian masih terlalu muda (2). Jika kau tetap ingin melahirkannya, kau bisa…"
"TIDAK MUNGKIN!"
Aku berteriak dengan keras di hadapan Sakura. Aku tidak ingin kehilangan kau ataupun calon buah hati kita. Kau sudah menjadi bagian yang paling berpengaruh dalam hidupku dan aku juga tidak ingin tidak bisa bertemu dengan bayi kita nanti. Mungkin kita yang salah karena menikah terlalu muda dan terburu-terburu. Aku juga salah karena lupa menggunakan pengaman.
"Tenang, Neji! Semuanya ada di keputusan Tenten."
Aku melihatmu dengan nanar. Aku tidak ingin kehilanganmu secepat ini, terutama setelah aku mendapatkanmu.
"Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua."
Kau hanya tersenyum dan memelukku erat. Wangi cinnamon kuhirup dalam-dalam. Aku tidak membutuhkan apa-apa, hanya kalian berdua. Kepalamu yang berada di pundakku dan nafasmu yang teratur membuatku tidak bisa memilih.
"Tetapi, aku harus memilih, Neji."
Kau melonggarkan pelukanmu dan menatap ke arah perempuan berambut soft-pink tersebut.
"Sakura, aku sudah memutuskan…"
.
.
.
Kau masih ingat, Ten…?
Seorang anak laki-laki berumur 11 tahun duduk di sebelahku dan menatap pohon Sakura dan nisan kecil di bawahnya.
"Tou-san?"
Aku menoleh dan mendapatinya tengah menunduk lesu. Selama 11 tahun ini, aku berusaha untuk mendidiknya sendirian. Hinata-sama banyak membantuku dan memberinya perhatian seorang wanita yang ia butuhkan.
"Apakah kau pernah menyalahkanku?"
"Hn?"
"Atas kematian Kaa-san."
Aku merangkulnya hangat. Sisi dingin dariku sudah hilang semenjak kau menitipkan Haruki kepadaku. Semenjak kau memberikan nyawamu sendiri untuk keselamatannya.
"Tidak pernah, Haruki…"
"Mengapa? Padahal Naruto-jii-san pernah bilang kepadaku bahwa Tou-san sangat menyukai Kaa-san."
"Karena Tou-san dan Kaa-san sudah tahu resikonya dari awal… dan Kaa-sanmu yang memilih untuk melahirkanmu."
"Tapi, apakah Tou-san tidak pernah kesepian?"
"Tidak. Aku masih punya kau."
"Kalau merindukan Kaa-san?"
Aku menatap nisan yang bertuliskan namamu. Angin musim semi berhembus perlahan, menandakan pergantian musim. Bunga-bunga pun mulai bermunculan.
"Selalu."
Hari ini, 9 Maret, aku bersama Haruki datang ke pohon Sakura ini. Tempat kita latihan pertama kali 20 tahun yang lalu, tempat aku pertama kali menyatakan cinta kepadamu dan juga tempat di mana aku melamarmu. Hari ini, hari ulang tahunmu dan hari di mana kau meninggalkanku 11 tahun yang lalu.
"Tenten, selamat ulang tahun."
Dan aku berharap hembusan angin dan ucapanku sampai ke tempat di mana kau berada sekarang.
.
.
Masihkah kau ingat, Ten?
Pohon Sakura tempat kenangan kita berdua?
Cottage kecil di kediaman Hyuuga, tempat kita memadu kasih untuk yang pertama kali?
Katana yang kuberikan kepadamu?
Dan yang paling penting, apakah kau masih ingat aku?
Tapi, tidak peduli apakah kau masih mengingatku atau tidak, aku akan selalu mencintaimu.
Otanjoubi omedetou, Hyuuga Tenten.
.
.
...And let me love you until I can't see the world again."
.
The End
.
(1) Arti nama dari Ten dalam Chinese, if I'm not mistaken, itu surga.
(2) Usia Tenten di sini 20 tahun dan umur segitu setauku, alat reproduksi belum matang (matang umur 22-25 tahun) dan jika tubuhnya masih lemah, presentasi selamatnya 50% (ini dari majalah). Tapi, gak tau deh salah apa bener, kalau di sini ada anak Kedokteran yang tau, mungkin bisa di-confirm lagi. :D
A/N:
Randomly playing:
You and I – Lady Gaga, Ruby – Foster the People and Jet Lag – Simple Plan
HOOO hampir satu tahun aku terlantarin fict ini, maaf ya tapi eike suka banget ketahan pas lagi nulis fict ini. Contoh: lagi nulis asik-asik, iTunes shuffle, tiba-tiba lagunya ganti FTP/Simple Plan langsung "OHHHHH" sambil jingkrak-jingkrak di kasur, lupa kalau lagi nulis fict. (._.)
Saya juga tahu sebenernya kalau mau pas 3 hari lagi baru upload, tapi takutnya saya lupa jadi saya upload sekarang. HAPPY BIRTHDAY TENTEN! Maaf ya, aku bikin fict tentang kamu jadi satu dan jaraknya 1 tahun lagi :* /mintaditampol.
Dan maaf juga untuk diksi yang semakin lama semakin ancur, plot yang makin lama makin membingungkan, feel yang makin lama makin gak dapet, maaaffff saya emang abis WB dan entah kenapa belum ada feel yang jelas.
For NejiTen readers out there, maaf, mungkin ini adalah fict terakhir saya selama beberapa bulan (atau tahun) karena sampai sekarang, feelnya NT yang dulu saya rasain udah menguap entah ke mana. Saya tetap cinta NT kok dan tetap menerima pertanyaan lewat PM atau mention di twitter (yang kayaknya jarang) dan tetep mau ngumpulin anak-anak yang suka NT buat bikin grup/kumpulan. :D I'm not going anywhere guys, tapi gak bikin fict lagi untuk beberapa waktu.
さよなら!
Kosukefan,
Mind to Review?
