Chapter 2.
.
.
"Dokter Tsunade punya cucu?"
.
.
.
All Characters belong to Masashi Kishimoto.
.
.
"Ppfftt... Apa kau tidak tau Hinata, Dokter Tsunade itu sebenarnya sudah tua. Dia bahkan sudah memiliki 1 cucu seusia kita". Seorang karyawan yang Hinata tau bernama Tenten itu menyahut sambil menahan tawa.
"Tehehe... Aku sungguh tak tau. Dokter Tsunade terlihat muda sekali". Hinata nyengir watados. Karyawan lain hanya menggelengkan kepala tersenyum maklum.
.
Siang ini begitu terik, namun tak mengurangi semangat Hinata mendorong troli berisi makan siang para pasien.
"Permisi, ini makan siangnya".
Seorang wanita paruh baya yang tengah duduk menunggui suaminya yang terbaring di ranjang pasien itu lalu berdiri dan tersenyum.
"Terima kasih nak". Ucapnya.
"Ya Ba-san, tolong pasien nanti menghabiskannya ya". Sahut Hinata.
.
Hinata selesai mengantar semua makanan ke para pasien. Sekarang waktunya kembali ke dapur. Berjalan sambil mendorong trolinya, Hinata fokus ke depan. Hingga ia melihat sosok pria berambut pirang berwajah tampan dengan tiga guratan tipis di masing-masing pipinya berjalan dari arah berlawanan.
'Tampan'.
Hinata bergumam tanpa sadar.
Semburat merah menghiasi pipinya. Dia hanya menunduk ketika jaraknya dengan pria itu semakin dekat.
Aroma parfum maskulin tercium oleh Hinata ketika pria itu baru saja berjalan melewatinya.
Hinata menggelengkan kepalanya berusaha menetralkan degup jantungnya yang tak beraturan.
Setibanya di dapur, Hinata menyimpan trolinya di tempat biasa.
"Ayame Senpai, aku ingin makan siang di mess saja". Ucap Hinata.
"Ah kebetulan sekali Hinata, tolong jemur lap-lap ini di halaman belakang". Kata Ayame.
"Hai' Senpai". Sahut Hinata.
Hinata keluar dari dapur, ia ingin ke mess dengan jalur memutar melalui taman depan. Mess Rumah Sakit Uzumaki berada di belakang gedung.
Hinata berjalan sambil bersenandung, tak terlalu memperhatikan jalan hingga-
Bruk!
Hinata menabrak seorang wanita paruh baya berambut merah.
"Apa-apan kau! Di mana matamu hah?!". Sembur wanita itu murka mendapati seorang gadis berpakaian seragam dapur rumah sakit menabraknya dan... lihatlah lap basah itu mendarat indah di tangannya ketika insiden itu terjadi.
"Gomen Ba-san, saya tidak sengaja". Hinata menunduk takut. Orang-orang yang kebetulan di sekitar situ langsung menatap ke arah mereka.
.
.
.
Naruto berjalan santai menuju ruangan neneknya. Di tengah koridor ia melihat seorang berambut indigo mendorong trolinya sambil menunduk. Naruto hanya memperhatikan dari sudut matanya acuh.
.
Ceklek.
"Baa-chan". Teriak Naruto semangat setelah membuka pintu ruangan neneknya.
"Ck, kau benar-benar tak berubah Naruto. Tak bisakah kau mengetuk pintu dulu?". Tsunade menutup bukunya dan berdiri menghampiri cucu kesayangannya itu.
Pletakk!
Buku yang dipegang Tsunade langsung dihantamkan ke kepala sang cucu.
"Aduh Baa-can, berhentilah memukulku tiap aku kemari". Sungut Naruto. Ia selalu jadi korban pemukulan buku oleh Nenek itu.
"Itu karena kau tidak sopan, Bocah!". Sahut Tsunade. "Dan omong-omong, di mana ibumu?" lanjutnya.
"Ah Kaa-san tadi kutinggal di belakang, Kaa-san mampir ke kantin dulu tadi, Kaa-san pasti segera menyusul ke sini sebentar lag-"
"Apa-apaan kau! Di mana matamu hah?!"
Perkataan Naruto terhenti ketika ia mendengar suara ibunya menggema di dekat ruangan neneknya.
"Ayo lihat apa yang terjadi!". Ajak Tsunade pada cucunya.
Naruto berlari keluar melihat ibunya tengah memarahi seorang gadis.
'Gadis yang tadi'. Batin Naruto.
"Kushina, apa yang terjadi? Kenapa kau marah-marah pada karyawanku?". Tanya Tsunade.
"Ada apa Kaa-chan". Susul Naruto.
"Kaa-san, Naruto, gadis ini menabrakku, lihat tanganku tadi sempat terkena lap basah menjijikkan yang dibawa gadis itu". Kata Kushina sambil menunjuk-nunjuk wajah Hinata.
.
Hinata tambah panik ketika mendengar orang yang ditabraknya tadi memanggil Dokter Tsunade dengan sebutan Kaa-san.
'Jangan-jangan anaknya Dokter Tsunade'. Batin Hinata.
"Saya tidak sengaja Nyonya, sungguh, maafkan saya". Hinata memelas.
"Sudahlah Kushina, lagipula kau tidak kenapa-kenapa". Tsunade lalu menoleh pada Hinata. "Pergilah Hinata, sudahlah tidak apa-apa".
"Te-terima kasih Dokter Tsunade, dan Nyonya, sekali lagi saya minta maaf". Hinata membungkuk berkali-kali meminta maaf dan pamit undur diri pada ketiganya.
"Huh dasar gadis tak tau diri!". Omel Kushina ketika Hinata mulai berlalu.
"Sudahlah Kushina, kau membuat semua mata melihat ke arah sini". Ujar Tsunade memutar bola matanya bosan karena Kushina selalu saja membuat drama dadakan. "Ayo ke ruanganku dulu, ada yang ingin kubicarakan. Lanjutnya dengan wajah serius.
Naruto dan Kushina mengikuti Tsunade ke ruangannya.
.
.
"Kudengar kau sering melewatkan terapimu, Naruto". Kata Tsunade to the point ketika mereka sudah di ruangannya.
"Ck, Dokter Kabuto pengadu". Naruto hanya memutar matanya bosan.
"Aku memang yang memerintahkan Kabuto untuk mengabari perkembangan pengobatanmu!". Tsunade mulai naik darah dengan menghadapi cucu satu-satunya yang keras kepala ini.
"Kaa-san, Naru hanya butuh donor jantung saja, dan setelah itu dia akan sembuh, tak bisakah Kaa-san carikan pendonor untuk Naru? Berapapun akan aku beli jantung itu". Ucap Kushina.
Tsunade memijit pangkal hidungnya, tak semudah itu mendapatkan donor jantung.
Pendonor jantung haruslah orang yang sudah meninggal, sebelum 6 jam jantung mayat yang masih bagus bisa ditransplantasikan ke penerima donor.
Namun bukan itu masalah yang membuat Tsunade pusing. Rata-rata pasien yang meninggal di Uzumaki Hospital memang memiliki jantung yang bagus, namun pihak keluarga pasien menolak jenazah keluarganya dijadikan pendonor jantung, dan Tsunade tentu tak bisa memaksa mereka.
Memang, Tsunade bisa saja menyuruh orang-orangnya untuk menculik gelandangan di luar sana untuk diambil jantungnya, namun ia tidak ingin reputasinya sebagai dokter handal tercoreng karena kedapatan menjadi otak tindakan kriminal.
"Hah, baiklah, aku akan mencari pendonor lagi, tapi Naruto..." Tsunade menatap tajam cucunya itu. "Kali ini kau harus rajin melakukan terapi pengobatanmu sampai aku menemukan pendonor untukmu! Kau mengerti?!". Lanjut Tsunade sambil melotot tajam ke arah Naruto.
"Ya ya baiklah Nenek tua". Sahut Naruto ogah-ogahan.
Brakk!
Tsunade menggebrak meja. "Kau bilang apa tadi Bocah?". Tanya Tsunade penuh tekanan.
"Ahahahah... Y-ya ba-baiklah Baa-chan ku yang manis, Naru janji akan rajin terapi, suwer deh". Naruto menjawab dengan gugup dan senyum-senyum takut.
"Sudahlah Kaa-san, aku yang akan mengawasi Naruto, ini juga salahku tidak pernah mengawasi Naruto dan itu membuatnya bandel kalau urusan terapi, hiks hiks Ak-aku ibu yang payah hiks.." Kushina sesenggukan menahan air mata.
Oke, Tsunade dan Naruto hanya bisa menghela nafas sekarang. Hah... benar-benar Ratu Drama.
