Chapter 2

Terang. Itulah kesan pertama Yui selama ia tinggal di Elysium. Sama sekali tak ada perubahan siang dan malam, bahkan matahari tak terasa panas sedikit pun. Atau mungkin matahari memang bukanlah sumber cahaya di Elysium, melainkan Hades sendiri.

Langit Elysium dikendalikan oleh perasaan sang penguasa Dunia Bawah. Menurut perkataan para pelayan, Elysium pernah mengalami waktu mendung, bahkan badai ketika jiwa Hades disegel. Namun entah kenapa, sejak Holy War terakhir dan sepulangnya Hades dari sekolah buatan Zeus itu, tak pernah sekalipun Elysium lepas dari kata cerah.

"Mungkin karena ia bertemu dengan anda," kata salah seorang pelayan.

Yui sedikit tersanjung mendengarnya. Namun bagaimanapun, ia juga merasa heran. Setahunya, Sang Dewa Dunia Bawah itu tak pernah menyukai manusia. Bahkan, tak segan-segan melakukan perang terbuka dengan Athena. Jadi, apa yang berbeda dengan dirinya?

Lamunan Yui buyar ketika pelayan berambut coklat itu mengeratkan gaunnya. Ia pun mendengus kesal sementara pelayan itu hanya tertawa kecil.

"Nah, sudah. Silahkan anda melihat cermin ada disana," katanya sambil menunjuk sebuah cermin besar yang menggantung sepanjang dinding. Yui mengangguk dan tersenyum sambil dengan setengah takut, melihat dirinya sendiri setelah kematiannya.

"I..itu.," katanya terbata.

Rasa kagum dan heran mendominasi matanya. Ia pun memandang cermin itu lekat tanpa berkedip. Seorang wanita yang sangat cantik dalam balutan gaun putih panjang mewah tampak disana. Rambutnya ditata bagai seorang Dewi, dan berbagai perhiasan emas dan perak menggantung disana.

Seorang pelayan mendekatinya sambil membungkuk dan tersenyum. "Hades-sama sudah menunggu anda di taman belakang kuil. Mari ikuti saya," ucap pelayan itu sambil berbalik dan berjalan terlebih dahulu. Tak berkata apapun, Yui mengikuti pelayan itu keluar sambil mengangkat sedikit gaunnya. Senyum tak lepas dari mulutnya sementara sukacita memenuhi jiwanya.

.

.

Disclaimer:

Kamigami no Asobi – Tomoko Konparu

Saint Seiya – Masami Kurumada

.

Rated : T

.

Warning:

Crossover

Saint Seiya – Kamigami no Asobi

{Karena sebagian besar jalan cerita lebih kearah Saint Seiya, maka author memutuskan untuk memasukkan/menggolongkan cerita kedalam fandom SS; Tokoh dari KnA hanya digunakan 3 (Kusanagi Yui, Dionysus Thyrsos, xx) bisa berubah sewaktu-waktu sementara yang lain berasal dari Saint Seiya dan Mitologi Yunani.}

.

Chapter 2 : Kekacauan

.

Out Of The Blue Fate

.

.

Angin timur yang lembut bertiup perlahan. Menerbangkan beberapa bulu putih dan dedaunan ringan memutari Elysium.

Yui melangkah keluar dari kuil itu dengan perlahan. Mengikuti langkah kaki pelayan bersurai coklat yang kini berjalan didepannya. Tak lama, mereka pun tiba di sebuah taman bunga yang mewah. Terdapat sebuah kolam air mancur perak yang berukirkan sulur keemasan ditengahnya. Percikan airnya pun berkilau bagai berlian ketika memantulkan cahaya. Yui memandang kolam itu kagum sementara sepasang burung putih beekor panjang melintas diatasnya.

"Cantiknya," gumam Yui pelan. Pelayan dihadapannya hanya tersenyum ringan sambil menoleh menatapnya. "Anda tahu? Suasana seperti ini sangat jarang terjadi. Seingat saya hanya dua kali selama saya melayani disini, Elysium tampak begitu indah," katanya. Yui pun tersenyum dan tak menjawab apapun.

Setelah mereka berjalan cukup jauh ditengah taman tanpa ujung itu, tiba-tiba saja, pelayan itu berhenti. Ia menunjuk sebuah pohon dengan daun berwarna merah keemasan. "Anda pergilah kesana. Tuanku, Hades-sama, sudah menunggu anda," katanya. Yui menunduk dan mengucapkan terimakasih sebelum dengan segera berjalan ke tempat pohon itu berdiri.

Yui melihat Hades berdiri memunggunginya. Ia mengenakan jubah hitam khasnya yang panjang hingga menutup kaki. "Hades-san," sapa Yui senang. Hades menoleh setengah terkejut. Matanya menunjukkan kewaspadaan penuh sebelum kemudian melembut, dan membalik tubuhnya.

"Ah, Yui-san," sapa Hades senang. Ia pun melangkah mendekati Yui dan merangkul pundaknya. Yui sedikit terkejut namun ia membiarkannya. Keheningan melanda tak lama kemudian sementara angin tetap bertiup memainkan rambut sepasang manusia-Dewa di taman itu.

"Aku ingin memberikan sesuatu," kata Hades memecah keheningan. Ia melepaskan pelukannya dan memberikan sebuah kotak hitam legam yang berukirkan sebuah tulisan emas dalam bahasa Yunani. Yui mengerutkan alisnya heran sebelum tangannya menerima kotak itu. "Apa ini?" tanyanya. Raut wajah Hades pun berubah-ubah begitu mendengar pertanyaan Yui. Entah kenapa, Yui merasa ada yang disembunyikan Hades darinya.

"Buka saja," jawab Hades kemudian sambil menyembunyikan wajah dibalik rambutnya. Tak ingin merusak suasana, Yui pun mengangkat tangannya dan meletakkannya pada gembok kecil keemasan yang setengah terbuka disisi kotak.

Dengan segera, Yui membuka kotak itu sementara matanya melirik Hades penasaran. Rasa penasarannya pun semakin berkembang ketika ia melihat isi kotak itu. Didalamnya, terdapat sebuah kalung dengan bandul permata hitam keunguan berbentuk hati. "Ini.,"

"Ya. Itu untukmu," jawab Hades segera. Ia mendongakkan kepalanya dan memandang Yui lembut sebelum dengan segera melangkah semakin dekat. Tangannya mengambil kalung dalam kotak itu dan memasangkannya pada Yui yang kini membenamkan wajah di dadanya. Ia juga melepaskan kalung pedang pemberian Zeus dan dengan segera menghancurkannya begitu saja.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Yui pelan.

"Kalung Zeus.. itu mempengaruhi cosmomu," jawab Hades dengan senyum. Yui kebingungan dengan perkataan Hades, namun ia tak bertanya lagi.

Angin bertiup perlahan diantara mereka dan suara gesekan rumput mulai mendominasi. Hades mengangkat tangannya dan menyisipkannya dibelakang telinga Yui. Ia pun maju selangkah dan mempersempit jarak diantara mereka.

Tiba-tiba saja, arah angin berubah. Angin yang semula bertiup perlahan pun mulai mengencang dan membuat pusaran. Refleks, Hades memutar badannya dan memasang posisi siaga ketika merasakan cosmo agresif yang melingkupi tempat itu. Geraman marah yang mengancam keluar dari mulutnya sementara tangannya dengan protektif melindungi Yui dibalik punggungnya. Mengikuti suasana hati sang Dewa Dunia Bawah, langit pun mulai menghitam dan hawa disekitarnya mulai mendingin.

"Apa yang terjadi?!" tanya Yui panik. Ia tak pernah melihat Hades semarah ini.

Hades tak menjawab apapun. Tak lama kemudian, angin berubah arah kembali, dan sebuah pintu terbuka di langit. "Apa itu?!" jerit Yui yang kini tampak sangat ketakutan. "Hyperdimension. Jalan para Dewa. Sekarang diamlah dan tetap disitu! Ada seseorang yang datang dengan paksa," jelas Hades singkat dan tajam.

Benar saja. Tak lama kemudian, Yui melihat seorang wanita dalam balutan jubah putih dan gaun keemasan keluar dari pintu itu dan berjalan mendekati mereka. Hades menegakkan tubuhnya dan sedikit membakar cosmonya. Menciptakan suasana hangat disekitar Yui.

"Apa yang kau inginkan? Mengapa kau masuk dengan paksa seperti itu?" tanya Hades berusaha tetap tenang walau kemarahan tampak diwajahnya.

Wanita itu menyeringai dan membuka tudungnya, menampakkan kecantikan sempurna seorang Dewi. Rambutnya merah kecoklatan panjang dan bergelombang. Yui menahan nafas begitu melihatnya. Ketika mata mereka bertemu, ada suatu perasaan familier yang muncul dalam dirinya.

"Aku ingin mengambil kembali apa yang sudah menjadi milikku, Hades," jawab wanita itu tegas sambil tak melepaskan pandangannya pada Yui yang kini kembali bersembunyi dibalik jubah sang Dewa Dunia Bawah.

"Kita memiliki perjanjian! Belum! Belum waktunya ia pergi!" jawab Hades kasar.

Wanita itu menatap Hades tajam dan sebuah cahaya kemerahan muncul disekeliling tubuhnya. "Persetan dengan perjanjian! Kau yang mencurinya dariku, Hades!"

Hades mendorong Yui mundur selangkah sementara tangan kanannya mengambil pedang perak dari dalam jubahnya. Ia pun mengarahkan pedang itu kepada sang Dewi yang kini terlihat marah.

"Hades-san! Apa yang kau lakukan?!" seru Yui yang nyaris menangis. Ia membenci perang dan ia tak ingin melihat seorang pun disakiti, terutama wanita itu, entah apapun alasannya.

Hades mendengus dan tak menghirukan perkataan Yui. Cosmonya tetap melambung tinggi sementara Dewi dihadapannya justru menyeringai. Langit semakin menggelap. Angin pun berhembus dengan kuat sementara petir mulai menyambar.

"Bodoh!" katanya sambil menengadahkan tangannya. Tak lama kemudian, sebuah sinar muncul dari telapak tangan Dewi tersebut. Sinar itu memanjang dan memadat hingga membentuk sebuah tongkat merah keemasan yang senada dengan rambutnya.

"Majulah Hades!" seru Dewi itu menggema. Tak lagi menjaga ketenangan, Hades pun maju melangkah dengan kecepatan yang luar biasa. Seolah berdiri diatas angin yang berpusar, Hades melompat ke udara dan melesat kearah Dewi itu. Ia mengayunkan pedangnya dan menebas pinggang sang Dewi yang dapat mengelak sempurna.

Dewi itu menyeringai kejam. Dengan tongkatnya yang berujung tajam, ia pun menusuk Hades tepat di pundaknya.

"HENTIKAN..!"

Seruan Yui seolah tak berarti apapun. Darah sang Dewa pun mengalir deras dari lukanya. Namun wajahnya tak menunjukkan sedikit pun ekspresi kesakitan, melainkan amarah yang luar biasa.

"Aku tidak ingin melawanmu!" serunya sambil terus mengelak dan sesekali menahan tebasan tongkat Dewi itu. Ia pun menebas kaki sang Dewi untuk melindungi diri dan menyebabkan koyakan yang cukup dalam disana. Namun hal itu justru memicu kemarahan Dewi itu luar biasa. Dengan kecepatan yang tak terjangkau mata manusia, Dewi itu mengayunkan tongkatnya ke lengan Hades dan menusuknya hingga menembus daging.

"Argh!" Hades mundur selangkah dan memegang lengannya yang berlubang. Darah tak berhenti mengalir dan peluh membanjiri wajahnya. Kalau saja bukan untuk Yui, ia pasti sudah membantai Dewi ini habis-habisan. Namun ia tak tega. Tentu saja, bagaimana mungkin ia mampu menyakiti seseorang yang sangat Yui cintai walau ia sendiri belum menyadarinya?

Pertarungan cosmo dan fisik itu pun terus berlangsung dengan kecepatan yang tak dapat Yui mengerti. Hatinya kacau. Perasaan takut dan khawatir yang luar biasa mulai membuat air matanya meleleh.

"HADES-SAN..! Kumohon berhenti!" serunya lagi. Namun sama seperti sebelumnya, tak ada respon apapun. Angin bertiup semakin kencang dan awan semakin menggelap. Yui melihat bola-bola cosmo yang mulai terbentuk di langit dan meledak menyerang satu dengan yang lain. Bunyi logam dan ledakan benar-benar membuat Yui ketakutan. Ia pun jatuh tersungkur sementara tangannya menggenggam erat kalung yang diberikan Hades kepadanya.

Tiba-tiba saja, sebuah tangan membekap mulutnya dengan kuat. Yui sama sekali tak dapat bergerak dan lidahnya terasa kelu. Ia membelalakkan mata melihat siapa yang membekapnya. Seorang pemuda berambut merah panjang tengah menatapnya sendu.

"Di.. Dionysus?"

"Maaf. Ini semua hanya untuk kebaikanmu. Kita harus pergi dari sini," katanya dengan sangat tergesa.

Ia pun memandang pemuda itu dan berusaha memberontak. Namun gerakannya dengan mudah terkunci oleh kekuatan luar biasa yang dimiliki sang Dewa. Sejenak, Yui memandang Hades yang kini berbalik menatapnya dengan mata penuh ketakutan.

"CEPAT PERGI DIONYSUS!" seru Dewi itu dari langit. Hades menggeram marah luar biasa dan bergerak secepat mungkin ke arah Yui. Namun Dewi itu berhasil menghadangnya. Yui merasakan dirinya terangkat sementara arah angin lagi-lagi berubah. Ia pun menutup matanya dan mendapati dirinya berada dilautan dimensi.

Sebuah pukulan keras mendarat di pundaknya, dan setelahnya, ia tak mengingat apapun.

..oOo..

Kekacauan sempat terjadi di Sanctuary ketika Athena dengan tiba-tiba meminta tiga orang Gold Saint yang terpilih untuk datang ke Pope's Chamber. Shion pun dengan segera mengatur ulang semua jadwal dan misi yang ia buat sambil memanggil Shaka, Mu dan Saga untuk datang menghadap.

"Pergi ke halaman belakang sekarang! Athena-sama sudah menunggu," perintah Shion cepat begitu ketiga Gold Saint itu tiba di Papacy. Dengan kepatuhan penuh, Shaka Mu dan Saga pun dengan segera berlari ke halaman belakang Papacy, tempat patung Athena berdiri. Benar saja, mereka menemukan Athena yang sudah dalam balutan God Cloth itu tengah menunggu mereka disana.

Tanpa berbicara, Athena membalik tubuhnya memunggungi mereka dan membuka ruang dimensi Jalan Para Dewa disisinya. Kekuatan tekanan dimensi itu menghancurkan lantai batu disekitarnya, namun cosmo Sang Dewi Perang berhasil menghalangi tekanan itu mempengaruhi para Gold Saint.

"Pegang tanganku dan jangan pernah melepaskannya. Aku tak ingin tubuh kalian hancur ketika melewati jalan ini," Katanya tergesa sambil tetap memunggungi para Gold Saint.

"Me..melewati?" Tanya Mu agak ragu.

Athena pun berbalik. Ia menatap Mu lembut dan menjawab, "Percayalah padaku. Aku akan menjaga kalian," Katanya. Mu menatap Saga dan Shaka yang mengangguk kepadanya. Tak bertanya lagi, ketiga Gold Saint itu pun saling bergandengan tangan sementara tangan Athena menggandeng Saga.

"Kita harus berangkat sekarang," Kata sang Dewi. Tanpa peringatan, Athena pun melompat ke Jalan Para Dewa itu sambil menarik tubuh ketiga Gold Saint dibelakangnya.

..oOo..

"Hades-sama!"

Hades menoleh dan menggeram ketika melihat sepasang Dewa kembar abdinya itu kini berlari kearahnya dengan kecepatan yang luar biasa.

"Kemana saja kalian?!" serunya penuh amarah.

"Ma..maafkan kami Hades-sama. Sepasang Dewa-Dewi Apollo dan Artemis menghadang kami ketika kami menuju kemari," jawab Hypnos sambil mengusap luka dilehernya.

Awan hitam kembali menggulung dilangit sementara amarah Hades terus memuncak tak terkontrol. "PERGI! Aku sendiri yang akan menghapi Dewi itu!" serunya sambil menampar Hypnos hingga tersungkur dikakinya. Ia pun memandang Thanatos tajam sementara Dewa berambut perak itu mundur dengan segera dari hadapan Hades.

"Jaga Elysium. Jangan biarkan siapapun masuk kemari," perintahnya kemudian sambil berjalan melewati sepasang Dewa itu.

"Kau mau pergi kemana, Paman?"

Sebuah suara yang familiar, tiba-tiba saja terdengar dalam gulungan awan hitam dilangit. Sontak, Hades pun menggeram marah mengingat sang pemilik suara itu adalah musuh terbesarnya.

"Tunjukkan dirimu, Athena!" serunya murka.

Tak lama kemudian, sebuah pintu dimensi terbuka beberapa meter diudara. Dari sana, tampaklah Athena yang melompat keluar bersama ketiga Gold Saint lain yang menyertainya.

"Apa yang kau inginkan?! Apa urusanmu kemari, Athena?!" tanya Hades sambil menunjuk wajah keponakannya itu dengan ujung jarinya, yang langsung dibalas dengan geraman para Gold Saint.

Athena mengangkat tangan menenangkan para Gold Saintnya dan maju selangkah mendekati Hades. "Aku ingin membantumu," jawabnya.

"Cih! Urus saja urusanmu sendiri Athena. Kau tidak akan mengerti apa yang sedang aku alami," jawab Hades sambil membuang muka.

"Aku mengerti," jawabnya tegas dengan pandangan yang tak lepas dari pamannya. Hades menatap Athena tak yakin. Namun tidak dapat ia pungkiri, keponakannya ini pasti sudah lebih mengerti jauh soal 'ini' mengingat kehidupannya dikelilingi para manusia.

"Terserah. Lakukan sesukamu. Tapi kalau ternyata kau malah menggangguku, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri," katanya dengan geraman sebelum langsung pergi menghilang menggunakan jalan para Dewa.

Athena menghela nafas. Ia pun melirik para Saint nya sejenak sebelum membalik badannya dan menatap mereka lekat. "Perubahan rencana. Maaf, tapi kali ini aku harus pergi sendiri," katanya pada mereka.

Keterkejutan memancar dari mata para Gold Saint. Tentu saja, bagaimana mungkin mereka akan membiarkan Dewinya ini pergi sendirian, apalagi hanya dengan Hades?

"Ta-tapi.."

Mu melirik teman-temannya meminta pertolongan. Jelas ia tak menyetujui rencana Dewinya.

"Paling tidak, pilihlah salah satu dari antara kami untuk menemani anda, Athena-sama," pinta Shaka akhirnya diikuti anggukan setuju Mu dan Saga.

"Tidak. Tidak bisa. Ini permasalahan Dewa, aku tidak ingin mengikutkan kalian dalam hal ini."

"Kami mohon," pinta Saga sekali lagi.

"Benar Athena-sama. Kami tidak bisa tenang jika anda pergi seorang diri," sahut Mu.

Athena menghela nafas. Ia mengerti keinginan dan isi hati para Saint dihadapannya. Namun disisi lain, ia juga tak ingin mereka terluka. Masalah kali ini bukan masalah biasa. Tentu saja, karena masalah ini tidak hanya menyangkut fisik, kekuatan dan kecerdasan.

"Tidak," kata Athena bersikukuh pada kehendaknya.

Para Gold Saint tidak dapat berkata apapun. Keputusan Dewi jelas keputusan mutlak dan mereka tak ingin melawan. Suasana hening pun terjadi beberapa saat. Hanya terdengar suara angin yang meniup rerumputan dan bunga dikaki mereka.

Perasaan bersalah segera meliputi Athena ketika ia melihat ketiga Gold Saint itu menunduk. Namun, kali ini ia benar-benar tak ingin melibatkan mereka.

"Ajak salah satu dari mereka, Athena."

Sebuah suara muncul dibelakang Athena tiba-tiba. Refleks, Dewi itu pun memutar badannya dan mendapati seorang pria dengan surai keemasan dan God Cloth melekat ditubuhnya.

"Hypnos? Dari mana saja kau selama ini?"

Hypnos mengangguk rendah. "Aku terlambat tiba di Elysium. Sepertinya, ada seseorang yang memblock peringatan bahaya hingga tak terdengar dalam Underworld. Saat ini, Underworld benar-benar dalam kondisi kacau karena kabar penyerangan Elysium baru terdengar disana. Thanatos sedang berusaha mengatasinya saat ini."

Athena menggeleng rendah. "Kau benar-benar sangat terlambat, Hypnos. Paman sudah pergi baru saja. Dugaanku, ia menuju ke Olympus saat ini," katanya.

Sang Dewi melirik para Gold Saint dibelakangnya. "...dan mungkin kau benar. Aku akan mengajak salah satu diantara mereka," Lanjutnya diikuti anggukan Hypnos.

"Kali ini, Athena, a-aku mempercayakan masalah ini ke dalam tanganmu. Aku.. aku mohon selamatkan tuanku. Ka-karena dari semua Dewa Dewi Olympus, hanya kaulah yang paling mengerti tentang apa yang dialaminya saat ini. Kau, dan para manusiamu itu," pinta Hypnos pelan dan gugup. Jelas. Baru kali ini ia merendahkan diri dan meminta pertolongan pada musuh tuannya.

"Tidak perlu kau minta pun, aku pasti menolong pamanku, Hypnos," jawab Athena dengan senyum.

Sang Dewi menunduk sejenak sebelum kembali menatap Hypnos dengan pandangan yang lebih tegas. "Apakah kau tahu siapa pelakunya, Hypnos?" tanyanya.

Hypnos menggeleng. "Aku hanya bisa menduga. Tapi aku rasa, aku mengetahuinya," jawabnya. Athena menghela nafas. Ia tahu siapa pelakunya, jelas.

"Aku akan berusaha sebisa mungkin mengatasinya," kata Athena pelan. Ia pun membangkitkan cosmonya dan membuka dimensi jalan Para Dewa. "Hypnos, aku menunggumu di medan pertempuran," ucapnya singkat tanpa menoleh sebelum dengan segera memasuki jalan itu bersama ketiga Gold Saint yang menyertainya.

.

.

... 'Demeter, apa yang sebenarnya kau rencanakan?'

..oOo.. To Be Continued ..oOo..

Akhirnya bisa publish jugaaa..! Kupikir nih fic bakal beneran discontinued gara2 urusan sekolah yang enggak nanggung-nanggung..! Btw, sori banget kalo kali ini chapternya pendek T^T semoga lain kali bisa ada waktu yang lebih untuk kerja chapter berikutnya.

Thanks buat 'Ai yg dah koreksi'in ni ff dari buanyaaaaaaaakkk kesalahan EYDnya :"v

^^Thanks untuk review dan lagi-lagi, kritik serta saran masih ditunggu.