Disclaimer Naruto sejujurnya milik Kishimoto-sensei

Tapi "Pathway" milik saya pribadi

Rated : M, untuk jaga-jaga saja, bukan berarti ada adegan Lemonnya, karna author tidak sanggup menulisnya :p .

Warning : Kesamaan ide (maybe) , OOC, Alternative universe, dan pasti Typo bertebaran disini.

" sesungguhnya saya adalah orang yang hobi menulis, namun baru kali ini memiliki keberanian untuk mempublikasikan karya saya di dunia maya. Jadi , saya mengharapkan dukungannya dari pembaca"

…… so , RnR please ……

…… Haruno Aozora : Pathway ……

Previous Chapter : Deai

Makan pagi ini terasa berbeda. Rupanya suami istri pemilik rumah ini bangun kesiangan, akibat menjemput putrinya hingga larut malam. Keduanya melupakan sarapan dan langsung menuju rumah sakit dan kantor tempatnya bekerja. Mitsuki duduk sendirian dan menikmati omurice dengan tenang.

Beberapa suap sebelum piringnya bersih, Mitsuki dikagetkan dengan suara seorang wanita yang tiba-tiba menyapanya.

"O hayou… Hoam…" Kata gadis itu sambil menguap.

"Ohayou…" Kata Mitsuki sambil menengguk ludahnya sendiri.

"Kau Mitsuki yah?" Kata gadis itu sampil memperhatikan dirinya dengan amat tertarik. Kemudian tersenyum.

"Aku Sarada." Gadis itu mengulurkan tangannya, yang diterima Mitsuki dengan ragu.

"Aku tidak tahu, kalau aku punya saudara angkat setampan dirimu."

Cess….

Keringat dingin menetes dari keningnya, saat tangan halus Sarada mencubit gemas pipinya yang seputih susu itu. Pantas Mitsuki merasa segugup itu karna gadis berkacamata itu mengejutkan dirinya cukup banyak. Inilah kali pertama Mitsuki melihat pemandangan seperti ini. Sarada yang duduk disebelahnya, hanya memakai tanktop dan hotpant yang keduanya sangat mini. Dan kenyataan bahwa Sarada yang memiliki wajah amat menawan, kulit yang halus, senyum manis dan sifat yang hangat membuatnya situasi ini berkali-kali lipat menjadi lebih menarik.

…… Haruno Aozora : Pathway ……

Mitsuki terus menyirami bunga, hingga tidak sadar bahwa tanah yang dipijaknya sekarang telah menjadi genangan lumpur akibat aliran air yang terus menerus mengalir.

"Kuso! Kenapa denganku!" Bukan dengan nada emosi, tapi kalimat tadi diucapkannya dengan nada putus asa yang nyaris kentara.

Ini gila! Begitu pikir Mitsuki. 2 hari ini dia sudah seperti orang sakau yang nyaris gagal mendapatkan kewarasan. Pikirannya dipenuhi oleh kenangan mengerikan dihari keduanya tinggal di Konoha. Kenangan mengerikan itu adalah sebuah kenyataan bahwa, Mitsuki menyadari sepenuhnya jika saudara angkatnya adalah gadis tercantik yang pernah dilihat oleh kedua mata bersinarnya.

Kenyataan itu benar-benar mengejutkan sekaligus menyakiti hatinya. Dia yang selama kurang lebih 18 tahun hidup di desa dengan mayoritas teman pergaulannya adalah laki-laki, dan sedikit wanita yang ditemuinya merupakan gadis desa yang tidak cukup modis, begitu kaget saat melihat bagaimana gadis kota pada umumnya berpenampilan.

Sarada cantik. Itu menurutnya. Dan dia menyukainya, sebatas suka tanpa ada niatan untuk melakukan hal yang lebih, karna pada dasarnya dia tidak mengerti bagaimana perasaan cinta seharusnya terbentuk.

Dia kembali mengingat ingat momen krusial di meja makan bersama dengan Sarada sekitar 2 hari yang lalu.

….. Flashback…..

"Aku Sarada." Gadis itu mengulurkan tangannya, yang diterima Mitsuki dengan ragu.

"Aku tidak tahu, kalau aku punya saudara angkat setampan dirimu."

Gadis itu tersenyum sangat lama, dan sanking gugupnya, Mitsuki tidak mampu menggerakkan otot wajah disekitar bibirnya hanya untuk tersenyum.

"Hiks…." Mitsuki terkejut. Bahkan keterkejutannya tadi saat melihat Sarada hanya sepertiga dari keterkejutannya menyadari bahwa senyum yang begitu indah, dengan mudahnya berubah menjadi air mata.

"Sarada, Apa yang terja…."

"Hiks… Maafkan aku! Aku tau ini semua salahku."

"Aku tidak mengerti kenapa kau harus minta maaf?" kata Mitsuki setengah panik.

Sarada melepas kacamatanya, mengusap airmata di pipinya dengan kasar, kemudian memakai kembali bingkai berlensa itu. Gadis itu menatap Mitsuki lama, sambil menimbang-nimbang apa yang akan dikatakannya.

"Kau ada disini, semua salahku. Kau tidak bisa kuliah di Otto juga salahku. Kau harus menggeluti dunia bisnis, bukannya pertanian yang kau sukai, ini juga salahku."

"Sarada, tenangkan dirimu." Tanpa sadar Mitsuki mengelus punggung gadis itu.

Gadis itu menghela nafas panjang, seakan telapak tangan yang dua detik lalu ada di punggungnya dapat menguatkan hatinya.

"Kau tidak perlu memikul beban sebagai calon pewaris Haruno Coorporation, jika saja aku tidak egois dan sedikit bisa diandalkan." Katanya menghembuskan nafas, antara lega dan frustrasi.

Mitsuki sudah mulai bisa menangkap kemana arah pembicaraan ini.

"Sudahlah." Kata Mitsuki sambil tersenyum tenang.

"Kamu bilang kamu ingin jadi dokter,kan? Dan aku ingin menolong ayahmu. Lalu dimana masalahnya?" kata Mitsuki kalem.

"Beberapa waktu lalu, ibu dan ayahku bertengkar hebat. Aku tahu mungkin ibu sedang dalam keadaan dilemma luar biasa. Di satu sisi dia amat senang saat mengetahui bahwa aku memilih untuk mengikuti jejaknya sebagai dokter, tapi disisi lain dia pasti akan khawatir mengenai nasib perusahaan yang terancam tanpa penerus. Dan saat ayah mengusulkan namamu." Sarada berhenti sejenak untuk menarik nafas.

"Dia benar-benar marah besar. Kau mungkin bisa menebak mengapa nama belakangku adalah Haruno bukannya Uchiha?"

"Ibumu sangat membanggakan klan asalnya?" tebak Mitsuki.

"Tepat. Dia bilang kau bukan bagian dari keluarga kami, walaupun nyatanya 8 tahun ini ayahku adalah walimu. Dia bilang orang asing sepertimu tidak akan sanggup memimpin perusahaan sebesar Haruno." Kata Sarada pelan.

"Hm… lalu?"

"Ayah mungkin adalah pria tercerdasdan tersabar sekaligus satu-satunya orang yang mampu mengendalikan kemarahan maha dahsyat dari ibuku, aku rasa." Sarada sedikit menyeringai.

"Dia bilang, bahwa mungkin saja aku akan benar-benar menjadi seperti ibuku, menjadi dokter yang sukses kemudian menikah dengan laki-laki cerdas yang akan bisa mengurus perusahaan Haruno. Dan sampai waktu itu tiba, apa salahnya kalau mereka menjadikan dirimu menjadi seorang yang kompeten dibidang bisnis, kelak kau juga akan berguna,kan? Untuk membantu pewaris Haruno kelak. Begitu katanya." Kata Sarada sambil tersenyum.

"Hmm… dan lalu ibumu luluh begitu saja?" Tanya Mitsuki sambil menaikkan alisnya yang tipis.

"Tentu saja. Ibu menginginkan aku

menjadi dokter, dan sama inginnya untuk memiliki menantu yang pandai mengurus perusahaan seperti ayahku." Sarada tak bisa menahan dirinya untuk tidak terkekeh.

"Lalu apa peranku disini?"

"Kau bisa menjadi manager atau bahkan direktur, Mitsuki. Ayahku jelas menyukaimu dan menyukai cara kerjamu. Lagipula…"

"Lagi pula apa?"

"Belum tentu,kan aku akan menikah dengan laki-laki berjiwa bisnis, mereka tentu saja sangat membosankan."

….. Flashback off …..

"Mitsuki!" Mitsuki menoleh ke belakang menghadap seseorang yang suaranya sudah mulai bisa dihafalnya.

"Iya?"

"Kau tidak lupa, kan kalau hari ini akan bertemu dengan kakek Kizashi?" Tanya Sarada dengan mata menyelidik.

"Tentu saja. Aku akan segera mandi." Kata Mitsuki sambl tersenyum.

Sial. Mitsuki melupakannnya.

…… Haruno Aozora : Pathway ……

Mitsuki mengahabiskan sekitar 20 menit di kamar mandi yang sebagian besarnya dihabiskan dengan merenung dan menerka-nerka kira-kira apa yang akan dibicarakannya dengan pimpinan puncak Perusahaan Haruno itu. Tak kunjung menemukan kemungkinan yang paling masuk akal, Mitsuki akhirnya keluar dengan handuk yang menutupi pinggang hingga lututnya.

Dia memilih celana jeans dan juga kemeja berwarna biru tua yang tidak terlalu bentrok dengan warna rambutnya yang abu-abu terang kebiruan. Dia menyisir rambutnya dan memperhatikan dengan seksama bagaimana penampilannya dalam rangka menemui pimpinan Haruno itu.

Sudah lama dia menyadari bahwa wajahnya seimut yang biasa dikatakan oleh teman-teman perempuannya dulu. Ditambah dengan warna kulitnya yang seputih kapas, tanpa cela. Tanpa bulu, agak kurang alami pikirnya.

Dia tersenyum " Aku sudah tampan." Pikirnya riang.

…… Haruno Aozora : Pathway ……

Mitsuki menuruni tangga dari lantai 2 dan tidak heran sama sekali mendapati Sarada yang sudah rapi dengan kemejanya sedang duduk selonjor di sofa dengan muka tenggelam pada sebuah buku tebal sekali, dan tampak rumit sekali dengan judul "Anatomi Manusia – jilid 2."

"ehem…" dehaman Mitsuki yang disengaja untuk menyadarkan Sarada, tapi sampaknya Sarada sedang asyik sekali dengan buku yang tengah dibacanya,

"Sarada." Panggil Mitsuki pelan, Sarada tampak sedikit terkejut ditandai dengan pundaknya yang agak terangkat.

"Oh, kau sudah siap, Mitsuki." Kata Sarada sambil membetulkan letak kacamatanya.

"Hmm…" Angguk Mitsuki.

Berat untuk mengakuinya, namun lagi-lagi Mitsuki memergoki dirinya sendiri sedang terpesona dengan gadis berkacamata yang kini sudah berdiri dan meninggalkan bukunya tergeletak begitu saja di sofa. Dia tersenyum kearah Sarada, namun maksudnya menertawakan dirinya sendiri. Betapa tidak masuk akalnya tingkahnya akhir-akhir ini.

"Baiklah ayo kita berangkat. Paman Kakashi sudah siap mengantar kita." Kata Sarada.

"Kenapa bukan sopir yang mengantar kita?" Tanya Mitsuki.

Meski baru beberapa hari, namun Mitsuki sudah mulai mengenal siapa saja yang bekerja sebagai pegawai di rumah ini, lebih karena Mitsuki sering membantu mereka menyiram tanaman, mencuci mobil atau sekedar menemani maid perempuan mengobrol. Dan Setahunya Sopir keluarga ini bernama Kuro, sedangkan Kakashi adalah…

"Yah, kau tahu, ayahku agak terlalu protektif. Saat tahu aku akan mengantarmu menemui kakek, dia menyuruh asisten pribadi kepercayaannya untuk mengantar kita berdua." Kata Sarada dengan nada agak tidak terlalu peduli.

…… Haruno Aozora : Pathway ……

Perjalanan menuju Mansion keluarga inti Haruno agak kurang menyenangkan. Sarada terus menerus mengajaknya ngobrol, namun Mitsuki bisa merasakan tatapan menyelidik dan aura waspada dari Kakashi yang agak berlebihan dengan terus-menerus mengecek spion sekitar 10 detik sekali untuk mengecek keadaan di kursi penumpang. Tempat dia dau Sarada duduk berdampingan.

Setelah kurang lebih 45 menit menelusuri keramaian pusat kota Konoha, mobil itu memasuki wilayah yang mulai jarang perumahan penduduknya.

Akhirnya gerbang besar yang mengelilingi sebuah pekarangan luas mulai terlihat.

Di sekeliling pagar itu, dengan jelas mitsuki bisa melihat pohon cemara tidak terlalu tinggi berdiri berjejer mengapit sebuah gerbang luar biasa tinggi yang terbuat dari besi yang dicat berkilauan. Seorang penjaga, terlihat berlarian untuk membuka gerbang, lalu masuklah mobil yang ditumpangi oleh 3 otang tersebut.

Mobil bergerak sekitar 50 meter dijalan berpaving yang kanan kirinya dihiasi oleh tanaman yang indah-indah. Sejenak

Mitsuki tersenyum getir, menyadari bahwa mungkin dia akan jauh lebih bahagia jika tujuannya masuk kekawasan mansion ini adalah untuk mendaftar sebagai tukang kebun, bukannya menjadi calon pewaris cadangan.

Kakashi membukakan pintu untuk Sarada, dan Mitsuki juga ikut turun dengan menggunakan pintu tersebut. Kemudian mobil yang tadi ditumpanginya berjalan kebelakang rumah, mungkin untuk diparkirkan, pikir Mitsuki.

"Ayo masuk, kata Sarada sambil mengaitkan tangannya dengan manis disekitar lengan kiri Mitsuki.

Mitsuki menelan ludah dengan gugup. Sarada yang menyadari perubahan ekspresi wajah Mitsuki, tersenyum kecil.

"Jangan gugup seperti itu, Kakek Kizashi adalah Haruno yang paling menyenangkan di dunia ini. Kau akan menyukainya."

Astaga ! Mitsuki jelas gugup. Namun, Sarada salah menangkap penyebab kegugupannya.

…… Haruno Aozora : Pathway ……

Kini Mitsuki sedang duduk di sebuah ruangan yang katanya merupakan ruang minum teh. Setelah memasuki mansion ini, dan disambut dengan para maid yang kelihatan sangat senang melihat Sarada datang, dan sialnya Mitsuki menyadari beberapa orang yang sengaja tersenyum nakal kepadanya hingga membuanya sedikit merinding, Satu hal yang disadarinya adalah bahwa, masion ini adalah perpaduan dari kata klassik dan juga mewah.

Beberapa menit kemudian Mitsuki dikejutkan oleh kedatangan pria yang sudah tua namun masih kelihatan terlampau bugar yang memasuki ruangan itu dengan antusias. Mitsuki nyaris tertawa jika tidak sadar bahwa laki-laki itu adalah pemilik mansion ini. Hidup di lingkungan yang monoton, membuatnya nyaris tidak terbiasa dengan sesorang berpenampilan nyentrik. Rambut tuan kizashi ternyata lebih aneh dari rambut ayah angkatnya yang ujungnya mencuat aneh.

Mitsuki membungkuk hormat. Orang itu terkekeh.

"Tidak perlu terlalu formal, bocah." Katanya sambil duduk di hadapan Mitsuki.

Laki-laki itu lantas menyiapkan dua ocha untuk Mitsuki dan dirinya sendiri.

"Langsung saja, bagaimana perasaanmu?" kata Pria itu sambil sedikit tertawa.

"Aku baik-baik saja, tuan."

"Ha…ha…ha… Kau boleh memanggilku kakek,bocah. Menantu sialan yang sangat menguntungkan itu sudah mati-matian memohon padaku untuk mengadopsi dirimu, 8 tahun yang lalu." Katanya sambil tertawa. Mitsuki tersenyum sopan.

"Langsung saja, bagaimana pendapatmu tentang prospek mewarisi perusahaan Haruno?" Kata Kizashi, Mitsuki menelan ludah.

"Saya ingin membantu ayah dan kakek tentu saja. Jika memang saya dibutuhkan, saya bersedia jika nantinya harus mengurus perusahaan ini sampai nanti ada pewaris Haruno yang sesungguhnya." Kata Mitsuki dengan suara yang mantap tanpa mengurangi rasa hormatnya.

"Ha…ha…ha… aku tahu, bahwa menantu kurang ajar itu sangat cerdas. Beruntung sekali putriku yang luar biasa manja itu bisa menikahinya. Terus terang aku jadi makin yakin." Kizashi kembali tertawa yang membuat Mitsuki merasa aneh dan merinding.

"Maksudnya, kek?" Tanya Mitsuki dengan sopan.

"Tentu kau sudah tahu, kalau Sasuke yang merekomendasikan dirimu sebagai calon penerusnya, kan? Cucuku satu-satunya yang amat manis itu rupanya mewarisi gen murni pemberontak dari ibunya. Dia bilang tidak mau ambil pusing mengurusi perusahaan yang didirikan ayahku dengan tetes darah dan keringatnya, Dia bilang ingin menjadi orang gila yang mengiris-ngiris tubuh manusia." Kata Kisashi sambil menggeleng antara sedih, tidak percaya dan geli.

"Tentu saja bertahun-tahun aku memperhatikanmu,bocah. Kau cukup pintar, agak terlampau jenius malahan, tapi aku menyukai orang yang berguna sepertimu. Dan lagi sikapmu yang sopan, dan aku tahu kalau kau sedang tidak berpura-pura mencari muka didepanku, semakin meyakinkanku kalau kau jelas bisa diandalkan." Kizashi tersenyum kepada Mitsuki, bukannya tertawa keras yang berlebihan menggetarkan gendang telinganya.

"tapi…" Senyum di wajah Kizashi luntur, Mitsuki merasakan sesak dan sulit benapas.

"Tapi, tentu saja aku sepemikiran dengan putriku. Aku tidak akan sembarangan menyerahkan perusahaan besarku pada orang asing seperti dirimu, kecuali……"

Hening…..

Setelah beberapa detik tanpa Kizashi terlihat berniat meneruskan kalimatnya, Mitsuki merasa mungkin inilah saatnnya utuk bertanya. Karna mau tak ma sebenarnya dia juga penasaran dengan kelanjutan perkataan dari Kizashi.

"Kecuali apa, kakek?" Tanya Mitsuki dengan sopan.

"Kecuali suatu saat kau menikahi cucuku dan resmi menjadi bagian dari Haruno." Kata Kizashi dengan tatapan mengintimidasi.

Ces…..

Keringat dingin jatuh dari dahi Mitsuki.

TO BE CONTINUE

…… Haruno Aozora : Pathway ……

Halo minna-san, dalam rangka memperingati hari Sabtu, Author memutuskan untuk melanjutkan Pathway nih.

Jadi Sarada itu Haruno,yah. Begitu pula dengan marga Sakura sama. He… he… he… penjelasan lebih detilnya mungkin ada di chapter depan, atau depannya lagi (atau depan depan depannya lagi…. :D)

Makin penasaran kan makin baik. :D

Oh yah, makasih yah yg udah support fanfic ini, ceritanya masih amat sangat panjang, jadi untuk seterusnya author minta dukungannya yah, minna …..

Yoroshiku onegai shimasu

Jaaa na…..