Aired : 27 June 2015

Producers : Willy97Iam by DyoKyung-Stoick

Genres : Action, Demons, Fantasy, Shounen, Supernatural

Rating : PG-18 or Older


Summery :

Kuroko Tetsuya, remaja berusia 14 tahun yang sangat mencintai olahraga bernamakan Basket.
Fisiknya yang lemah membuat dirinya menjadi sangat tidak berguna bagi timnya sendiri.
Di tengah keterpurukannya setelah melawan Kirisaki Daiichi dengan score 100 : 10, ia tanpa sadar membuat sebuah kontrak kepada Iblis untuk mewujudkan impiannya dengan imbalan jiwanya.
Namun, tidak hanya satu iblis yang melakukan kontrak dengannya, namun lima sekaligus.


Kuro(KO)Shitsuji


Tetsuya mengerjapkan matanya perlahan-lahan, tidak ada secuil pun cahaya yang masuk ke-retina matanya. Pandangannya menggelap, hampir saja ia berteriak ketakutan kalau saja manik matanya tidak melihat sehelai bulu melayang dan jatuh tepat di telapak tangannya. Sebuah suara menggema didalam kepalanya dan membuatnya tersentak.

"Apa yang membawamu pada kami, Kuroko"

"Jiwamu murni, semurni air suci yang bercampur dengan darah"

"Slurpp ~ ini hidangan makan malam yang sangat ku nanti"

"Apa tujuanmu Tetsuya"

"Aku tidak mau mengakuinya. Tapi, jiwamu membangkitkan rasa laparku, Kuroko"

Tetsuya memegang kepalanya, suara-suara yang ia dengar membuatnya merasa pening yang amat menyiksa. Setetes air mata mengalir dari pelupuk matanya, suara-suara itu dengan seketika langsung behenti.

"S..Siapa Kalian?"

Tidak ada pertanyaan 'dimana ini' yang terpikir di kepalanya. Fokusnya sekarang hanya ada pada suara-suara dikepalanya, tangan nya pun kini sudah kembali terkulai lemah dikanan dan kiri tubuhnya.

"Kau memanggil kami, tapi kau tidak tau siapa kami"

Suara berat nan serak yang menyahutinya membuat tubuhnya menggigil. Ia masih ingat, sebelumnya ia masih menenangkan diri di Bathupnya dengan nyaman seraya memikirkan nasib klub basketnya, namun saat ia mumbuka mata posisinya kini sudah berada disuatu tempat yang gelap gulita.

"Cepatlah, jangan bertele-tele. Apa kau memiliki impian Tetsuya" suara lain menyahut. Tetsuya memejamkan matanya sejenak, mencerna apa maksud sang 'suara'.

/ impian ya ?/ pikirnya dalam hati, mungkin impian yang ia maksud lebih tepat ke sebuah Ambisi. Ambisinya menjadi seorang pemain Basket terhebat se-Jepang yang kandas setelah kekalahan berturut-turutnya selama di Winter Cup. Ahh lagi-lagi ingatannya kembali ke pertandingan tersebut, masih ingat dirinya saat peluit pertandingan berbunyi dengan hasil yang sangat-sangat mengecewakan, ingat pula ia saat harga dirinya diinjak-injak oleh Si Licik Hanamiya sesaat setelah pertandingan usai, hingga akhirnya keputusan sang Kepala Sekolah untuk membubarkan klub basketnya.

"Owh, kau ingin menjadi pemain Basket terkuat se-Jepang heh. Dengan tubuh kurusmu itu, kuyakini kau hanya kuat melakukan push-up 30 kali"

"Shit !" umpatan itu keluar dari mulut kecilnya secara reflek, ia sangat tidak suka saat privasinya diketahui oleh orang lain. Walau ia tidak yakin, apa yang berbicara dengan nya bisa dikategorikan orang. Tetsuya menarik nafas perlahan dan mengeluarkannya dalam sekali hembusan. Ia mulai menata ulang pikirannya dengan mencoba untuk bersikap tenang, ia tidak mau kalau sampa 'siapapun itu' membaca kembali pikirannya.

Tetsuya meneguk ludahnya dengan kasar guna membasahi mulutnya yang kering "Jadi, siapa kalian dan apa mau kalian ?"

"Kami ? Kami tidak meminta apapun sayang. Kaulah yang meminta pada kami dan kami akan mengabulkannya"

Sebelah mata Tetsuya terangkat, menandakan kalau ia tertarik dengan penawaran tersebut. "Apapun yang aku inginkan akan terkabul ? Apa yang bisa kau janjikan"

"Hahahhahah" entah ada berapa orang yang tertawa dikepalanya membuat kepalanya kembali pening. Suara yang lebih nyaring mulai angkat bicara "Kami adalah Iblis, apapun yang merupakan Ambisimu itu bisa kami kabulkan. Tapi, tentu saja ada syaratnya !" "Jadi, apa kau tertarik untuk membuat kontrak dengan kami, Kuroko Tetsuya"

"Apa syaratnya?"

"Setelah ambisimu tercapai, berikan Jiwamu pada kami"


Pagi telah tiba, namun sang mentari belum mau muncul dari sarangnnya. Kalau melihat ramalan cuaca yang tayang kemarin sore, nampaknya hari ini wilayah Tokyo akan mendung dan berawan. Ini membuat sebagian orang lebih memilih mengurung diri dalam rumah dengan diteman secangkir teh hangat.

Namun, beda dengan sebuah mansion tempat keluarga Kuroko tinggal, bahkan saat hari belum dimulai, mereka sudah disibukkan dengan beberapa Butler yang menjalankan tugasnya masing-masing.

Disalah satu kamar di mansion tersebut –yang terletak di lantai dua mansion tersebut- seorang anak manusia masih bergelung di dalam selimutnya yang hangat. Gema suara tapakan kaki yang semakin mendekat tidak membuat anak tersebut terbangun, bahkan ia mengeratkan pelukkannya pada gulingnya.

Suara gordeen yang dibuka dan hembusan hawa dingin dari arah jendela yang dibuka membuatnya semakin menenggelamkan dirinya kedalam selimut. Suara tapakan kaki itu mendekat kearah ranjangnya dan menyingkap selimut hangat yang ia pakai.

"Enghhh"

"Ohayou Gozaimasu, Tuan Muda"

Anak itu, Tetsuya Kuroko tidak mengindahkan perkataan butlernya dan memilih untuk kembali ke alam mimpi. Sang kepala butler yang bertugas membangunkan Tuan Mudanya menghela nafas, sudah menjadi suatu kebiasaan sejak setahun yang lalu, Tuan Mudanya adalah orang yang keras kepala. Satu-satunya cara agar Master kecilnya itu bangun adalah ...

"Akh, Midorima" pekikan kaget meluncur dari mulut kecil sang Tuan Muda saat butlernya dengan -sangat- tidak sopannya mengangkat tubuhnya ala Bridal Style kedalam kamar mandi miliknya. Tangan kecilnya dengan reflek mengalung ke leher sang pelayan, dengan kondisi yang masih mengantuk, Tetsuya menyandarkan kepalanya ke dada bidang sang pelayan.

"Tuan Muda, kita sudah sampai. Apa kau ingin kumandi kan ?"

Tidak ada balasan dari Tuan yang ada di dekapannya. Tentu saja, karna sang Phantom telah kembali ke alam bawah sadarnya.

"Huftt. Tuanku yang manis."


"Ohayou, Tuan Muda" sapaan dari ke-empat butlernya langsung menyapa indera pendengarannya sesaat setelah ia dan kepala butler mansionnya memasuki ruang makan. Ke-empat butler setianya dengan tegas berbaris di depan meja makannya, sungguh pemandangan yang menggelikan.

"Ohayou" jawabnya singkat dan padat, dan tentu saja masih dengan mimik datarnya.

Salah satu butlernya yang paling tampan dan berambut pirang menghampirinya yang sudah duduk di salah satu meja makan yang tersedia. Butlernya itu dengan ganas memberi pelukan maut kearahnya yang masih setia menunggu salah satu butlernya mengambilkan sarapan.

"Master Kurokocci kawai-ssu" teriakan melengking didekat telinganya serta pelukkan erat yang melingkar disekeliling tubuhnya membuatnya hampir kehabisan nafas sebelum Butlernya yang lain, yang berpostur sangat laki dengan surai merah gradasi hitam menarik butler yang memeluknya.

"Oy Kise, kau membuat master tuan Kuroko mati muda tau, Baka" pukulan tangan dengan telak menghantam kepala si surai kuning.

"Kagamicci hidoi-ssu"

Di saat keduanya masih bertengkar, butlernya yang lain yang berperawakan seperti monster dengan kata lain tingginya diatas rata-rata menghampirinya dengan membawa menu sarapannya pagi ini.

"Tuan Kuro-chin, ini sarapannya. Salmon rebus dan juga Salad untuk makanan utamanya. Dan Earl Grey kualitas terbaru sebagai penutup. Apa kau suka Tuan Muda"

"Arigatou, Murasakibara"

"Uh nande, Kau Selalu seperti itu master" Cupp

Sebuah ciuman kecil mendarat dipipi kanannya, sang pelaku penciuman tersenyum kecil seraya menjilat bibir bawahnya. Tetsuya yang yang merupakan sang korban hanya memberikan wajah datar seraya mungas-usap pipinya, karena memang ia sudah terbiasa dengan hal tersebut.

Aomine, butlernya yang lain memelototkan mata tidak terima. Dengan langkah lebar ia menghampiri Murasakibara yang kini berdiri di samping Tetsuya yang menikmati sarapannya. Setelah jaraknya tinggal sejengkal, ia menarik tangan murasakibara bermaksud menjauhkannya dari sang tuan kesayangan.

Kini, giliran Aomine yang berada di sebelah Tetsuya. Tetsuya sendiri masih dengan tenang menikmati sarapannya. Aomine yang berada disebelahnya memperhatikan Tuan Mudanya dengan seksama. Pagi ini, tetsuya mengenakan Yukata berwarna sky blue bermotifkan bunga sakura berwarna putih. Kemungkinan karena sang master terlalu kurus membuat yukatanya terlihat kebesaran hingga memperlihatkan bahu kanan dan dadanya yang putih mulus. Aomine menahan nafas sesaat, sang tuan sungguh sangat menggoda untuk dinikmati, tapi ia tahu diri kalau kontrak mereka masih berlaku

Saat melihat jejak mayonaise yang membekas di bibir Tetsuya, pikiran kotor mulai menghantui otaknya. Dengan perlahan ia semakin mendekat kearah tuannya dan membungkuk ke arah wajah tuannya tersebut.

Slurp ~

Aomine menjulurkan lidahnya hingga menyentuh bibir merah muda yang sudah berhenti mengunyah makanannya tersebut. Dengan gerakan perlahan, ia menggerakkan lidahnya hingga menyapu bibir bawah tuan mudanya. Tetsuya sendiri melenguh kecil saat Aomine mulai berani menyelipkan lidahnya kedalam bibir lembab Tetsuya. Namun itu tidak berlangsung lama karena sang kepala butler – Midorima- dengan senang hati memberikan bogem mentah dipipinya.

"Akhh, ini sakit Midorima"

"Kau lakukan itu sekali lagi, akan aku bunuh kau Ahomine" ucapnya penuh penekanan seraya membersihkan bibir Tetsuya menggunakan saputangan yang ada di sakunya. Chee tidak taukah Aomine bahwa Midorima dan ke-tiga butler lainnya (Kise, Kagami, Murasakibara) menahan luapan amarah di kepala mereka karena iri melihat pemandangan tersebut.

Tetsuya masih membeku di tempat. Namun setelah itu, ia segera berlalu dari Ruang makan tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Cihh kau membuatnya marah Aho"

"Nande, tuan Kurokocci marah-ssu"

"Kau kelewatan Mine-chin, aku saja cuman mencium pipinya saja"

"Kalian semua sama saja, biar aku yang menghampirinya"

Aomine yang mendapatkan protes deri ke empat kawannya hanya tersenyum senang. Masih bisa ia rasakan di lidahnya rasa dari sang master. "Uhh I Love Vanilla"


Ttok ttok

Pintu berbahan kayu mahoni itu diketuk perlahan oleh seorang butler yang menunggu didepannya. Ditangan butler tersebut terdapat sebuah nampan dengan Cangkir dan beberapa makanan ringan diatasnya.

"Masuk" balas orang yang berada diruangan tersebut

Butler tersebut dengan langkah elegan mulai berjalan masuk mendekati sosok Tuan Mudanya yang menbaca sebuah buku dengan menghadap kearah jendela rumahnya.

ya, Kuroko Tetsuya menghabiskan waktunya dengan membaca buku yang ada di perpustakaan rumahnya. Pasca kejadian di ruang makan, moodnya seketika down. Tidak ingin memperparah keadaan, ia lebih memilih mengurung diri di perpustakaan rumahnya yang besar itu.

"Tuan Muda. Kubawakan Coklat panas dan beberapa coklat kukis untuk menemani waktu membaca anda" midorima meletakkan nampannya disebuah meja. Setelah itu, ia mendekat kearah Tetsuya yang masih fokus dengan buku ditangannya.

"Apa perintahmu tuan muda ?"

Tetsuya menutup buku bacaannya dan memberikan perhatian penuh kepada Midorima yang ada di depannya.

"Urus kepindahan kalian ke Teiko secepatnya"

perlahan midorima membungkukkan badannya. Dengan posisi kaki kanan menekuk ketanah dan kaki kiri untuk menopang fangan kirinya serta tangan kanannya yang tersilang diantara dadanya, ia melakukan rutinitasnya

"Yes, My Lord"

To Be Continue

Next : Kuroko Tetsuya, doing something