Cerita sebelumnya:
"Siapa lagi ini?" tanya Hiruma yang mulai jengkel dengan situasi dan kondisi.
"Oh, maaf. Namaku, Himeka Yuta... aku kembaran sekaligus, kakak dari Yume! Maaf jika adikku mengganggu..." Yuta membungkuk tanda hormat dengan sopan.
"Justru mereka yang mengganggu, Kak!"
"Yume! Kau tak boleh begitu!"
'Siapa sebenarnya dua anak ini?' batin Mamori heran dan bertanya-tanya.
~~**An Eyeshield 21 Fanfiction**~~
~~**Devil Bats Camping! by Mayumi Koyuki**~~
~~**Eyeshield 21 by Riichiro Inagaki and Yusuke Murata**~~
~~**Warning! Bila ada kesamaan dalam cerita, mohon dimaafkan, tapi itu murni kebetulan semata! Fic ini murni ide saya! dan tak pernah lupa akan OOC, OC, typo(s), etc**~~
~~**Genre(s): humor, parody, drama, friendship, romance, adventure, fantasy**~~
Kedua belah pihak saling bertatapan. Tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
"Ja-jadi... kalian siapa?" tanya Sena agak canggung.
"Sudah kubilang, kami penjaga hutan ini!" sentak Yume.
"Yume!" tepis Yuta. "Maafkan adikku ya! Dia memang agak kasar! Hahaha..."
Sepertinya Yume gadis tomboy.
"Hahaha, tak apa.. err, jadi?" Sena bertanya kembali.
Yuta yang menjelaskan kali ini. "Itu benar, aku dan adikku, bisa dibilang penjaga hutan ini.. Dark Forest dihuni oleh berbagai macam satwa langka, dan manusia yang tinggal disini hanya sedikit. Mungkin hanya aku, Yume, dan kakek... kami bertiga berusaha mempertahankan kelestarian hutan ini, agar semua yang ada di dalamnya, baik tumbuhan, hewan, bahkan manusianya sendiri dapat tetap bertahan hidup..."
"Lalu, kemana orang tua kalian? Kalau boleh tahu?" tanya Mamori.
"Orang tua kami, telah meninggal.."
...
Kata-kata itu mengenai hati sang setan dari Deimon. Meninggal huh?
"Beberapa tahun silam, ada kebakaran hutan besar disini... ayah dan ibuku terjebak di tengah hutan, dan... dan ikut terbakar... sedangkan aku dan Yume di selamatkan oleh kakek..." Yuta menunduk dalam. Merasa teringat kembali dengan kejadian tempo dulu.
"Oh, maaf! Aku tak bermaksud!" sahut Mamori yang nampak tak enak juga.
"Tak apa... kami sudah bisa menerimanya, iya kan, Yume?"
"Huh, tapi aku tetap tak bisa memaafkan para manusia bejat itu! Mereka berkemah, lupa mematikan api, dan api itu menyebar menjadi besar karena angin! Dasar bodoh! Ceroboh! Dan sekarang, kita mendapati lagi orang yang tengah berkemah! Sebaiknya kita bawa mereka ke hadapan kakek, kak!"
"Yume, kau tak boleh tergesa-gesa begitu!"
"Siapa peduli? Ini merupakan suatu keberuntungan kita dapat mencegah masalah disini, kak! Tidakkah kau mengerti?"
"Kau yang sebenarnya tak mengerti, Yume! Kita tak boleh menuduh orang sembarangan!"
"Tapi kak-!"
"Sudah cukup! Sebaiknya kau pulang, karena kakek sudah menunggu!"
"Huh! Baiklah! Dan mereka tanggung jawab kakak!"
"Iya, iya..."
Yume pergi meninggalkan lokasi.
"Huh, maafkan adikku sekali lagi ya... dia sepertinya masih trauma akibat kebakaran itu..."
"Tak apa, aku bisa mengerti!" sahut Suzuna. "Kalian kakak beradik yang akur ya? Tak seperti aku dan kakakku..." Suzuna menatap Taki yang sedari tadi hanya berputar-putar tak jelas.
"Hahaha, setiap kakak beradik pasti punya keunikan tersendiri. Nah, sekarang, bolehkah aku bertanya?"
"Tentu MAX!" sahut Monta.
"Err, apa yang kalian lakukan disini? Air disini kan dingin, kenapa mau-maunya mandi disini? Sungai ini terkenal akan suhunya yang rendah..."
"Kami tahu, tapi..." Kurita menatap Hiruma. "Ini sudah keharusan..."
"Keharusan?"
"Kekekeke, aku yang menyuruh mereka mandi di sungai sialan ini, udang sialan!"
"Udang katamu?" Yuta sweatdrop.
"Hahaha, maafkan dia, dia memang begitu!" Mamori mencoba menengahi.
"Tak apa, aku mengerti..." Yuta tersenyum manis.
"Kawaaaiiii..." gumam Suzuna dengan mata berbinar.
"Nah, sebaiknya kalian segera keluar dari sana. Kuajak kalian berkeliling hutan ini, jika memang kalian sedang mengadakan kemah!" sahut Yuta. Seperti guide saja.
"Tapi..." Jumonji melirik ke arah Cerberus yang tertidur pulas di luar tenda. "Kami harus menunggu anjing itu bangun, baru kami boleh keluar..."
"Anjing? Oh, yang giginya tajam dan besar itu? Kalau begitu bangunkan saja, apa susahnya?"
"Kekeke, jika anjing sialanku kau bangunkan, dia akan mengamuk dan memangsamu hidup-hidup!"
GLEK
Semua menelan ludah, kecuali Yuta.
"Ahahahaha, tak masalah buatku..." Yuta menghampiri Cerberus.
"Yuta! Jangaaan!" sahut Suzuna panik.
"Kupinjamkan asuransiku padanya nanti..." gumam Kuroki sedih.
Yuta mengelus bulu Cerberus. "Anjing pintar, bangunlah..."
"Rwwrrr..." Cerberus hanya mengerang.
Yuta mengambil sebuah daging rusa dari dalam tas yang terbuat dari sabut kelapa. Dia menggoyangkan daging itu tepat di depan Cerberus.
"Ayo, kau pasti lapar..."
Semua yang ada di dalam air nampak tegang. Kecuali Hiruma.
"Rwwr..." Cerberus membuka matanya perlahan.
Perlahan...
Perlahan...
Perlahan...
Perlahan...
Perlahan...
Perlahan...
Perla-*dihajar readers*
Hingga matanya akhirnya terbuka sepenuhnya dan berbinar karena melihat daging rusa yang jarang ia lihat.
"Guk? Auuuuu! Guk! Guk!" Cerberus mencoba meraih daging rusa dari Yuta.
"Hahaha, anjing pintar! Kau lucu sekali! Ini!" Yuta memberikan daging rusa itu pada Cerberus.
...
Hening...
Tak ada yang percaya ternyata Cerberus bisa jinak pada Yuta hanya dalam hitungan detik.
"Err.. jadi ini artinya, kita bisa keluar dari air?" tanya Ishimaru.
"Kekekeke, keluarlah, bocah-bocah sialan!"
"Yeeeeeeyyy!" semua berlarian keluar sungai dan masuk ke dalam tenda.
Hiruma menghampiri Yuta. "Kau hebat juga, udang sialan!"
"Ah, bukan masalah... aku sudah biasa menghadapi hewan liar..."
"Hewan liar katamu? Kau berusaha bilang anjing sialanku hewan liar?" empat perempatan muncup di kepala Hiruma.
"Err, bukan begitu! Tapi..."
"Kekekeke, dasar udang sialan tak tahu diri! YA-HA!"
DRRRRRTTT DRRRRTTTT
"Ugyaaaa!" Yuta berlarian pontang panting menghindari peluru Hiruma.
"Kekekekekeke!"
Yang di dalam tenda ikut prihatin akan nasib malang Yuta. Dan Cerberus tetap asik dengan daging rusanya.
*tak lama kemudian...*
Semua telah selesai membereskan barangnya dan berganti pakaian, karena Yuta bilang akan mengajak mereka berkeliling.
"Jadi, kita mau kemana sekarang?" tanya Suzuna dengan ceria seperti biasa.
"Kita akan ke rumah kakekku, tempatku tinggal saat ini. Aku ingin kalian bertemu dengannya!"
"Apa? Err, apa tidak merepotkan?" tanya Mamori yang selalu merasa risih.
"Tidak kok! Justru kakekku pasti merasa senang! Ayo!" Yuta mulai berjalan, diikuti yang lain.
~Dark Village; kediaman Himeka; pkl 08.30~
Setelah berkeliling cukup lama, Yuta dan anggota Devil Bats yang lain sampai di sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu-kayu dan jerami sebagai atap. Seperti rumah panggung saja.
"Jadi ini rumahmu? Ah, kecil tapi rasanya menyejukkan!" sahut Suzuna.
"Ya, yang memilih lokasi disini adalah Yume. Ia ingin rumah dibentuk seperti panggung, agar bisa memantau hutan setiap harinya."
"Oh, begitu. Oh iya! Ngomong-ngomong Yume, dimana dia?"
...
"Apa yang kalian lakukan disini, penjahat?" sahut Yume dari atas (apa mungkin depan) rumah.
"Aku yang membawa mereka kemari, Yume!" ujar Yuta.
"Singkirkan mereka dari hadapanku, kak! Aku tak suka melihat wajah jahat mereka!"
"Mereka tak jahat, Yume! Mereka sebenarnya baik! Aku sudah mematikan perapiannya, dan aku sudah berusaha mengamankan semua barang bahaya dari mereka!"
"Lalu bagaimana dengan pistol yang dibawa setan bergigi runcing itu?" Yume menunjuk Hiruma.
Hiruma hanya cuek.
"Itu.. err... itu sudah senjatanya, dan itu berfungsi sebagai pelindung! Pelindung teman-temannya!"
"Itu bukan pelindung, itu penghancur!"
Yume melompat dari atas rumah (?) dan mendarat mulus dihadapan Yuta.
"Waw..."
"Lompatannya..."
"Mengagumkan..."
Ujar Haha Bersaudara.
"Dengar kak! Aku tak peduli mereka itu pahlawan di siang bolong, pejuang, atau apapun! Yang kuinginkan, mereka pergi dari sini secepatnya!"
"Kau tak boleh begitu, Yume!"
"Tapi kak-!"
"Sudah, berhenti berkelahi!"
Seorang pria tua datang menghampiri. "Maaf kedua cucuku ini membuat kalian kesal. Perkenalkan, namaku Gori. Aku kakek dari Yume dan Yuta."
"Ah, salam kenal." Mamori membungkuk pertanda hormat. "Namaku, Anezaki Mamori, dan ini Hiruma Youichi.."
Hiruma menyeringai.
"Ini Kobayakawa Sena..."
Sena membungkuk hormat. "S-salam kenal..."
"Ini Suzuna Taki.."
"Yaa~ halo!"
"Dan ini-"
Begitulah seterusnya. Mamori memperkenalkan anggota Devil Bats satu per satu.
"Ah, salam kenal kalau begitu! Senang bertemu kalian semua!" ujar Gori.
Yume hanya memasang tampang jutek.
"Yume, kau harusnya ramah pada mereka. Mereka nampaknya baik kok..."
"Kakek jangan tertipu dengan tampang mereka yang sok baik itu! Siapa tahu mereka berniat memanfaatkan hutan ini!" ujar Yume ngotot.
"Kau tak boleh berprasangka buruk pada orang lain, Yume... kau harus mengenal orang itu terlebih dahulu sebelum kau mulai memutuskan mereka itu seperti apa..."
"Huh, terserahlah! Aku tak-"
DRRRRRR...
Tanahnya bergoyang!
Mungkinkah, gempa?
"Waaa, ada apa ini?" sahut Kurita yang ikut terguncang sedikit.
"Apa yang terjadi?" gumam Yume. Dia naik ke menara pengintai yang ia buat sendiri untuk memantau hutan. Dia memakai teropong.
"Hah? Apa itu?" sahut Yume.
"Ada apa?" Yuta melompat ke menara pengintai, merebut teropong dan ikut melihat apa yang terjadi. "I-itu?"
"Ada apa, bocah-bocah sialan?" Hiruma menyiapkan senapannya.
Yume melompat turun, dan mendarat tepat dihadapan kakeknya. "Kakek! Kakek harus pergi! Situasi sedang tidak aman! Ada makhluk besar mengamuk di tengah hutan sana! Dia sepertinya menuju kemari, kek!"
"Tapi bagaimana dengan kau dan Yuta?"
"Kami akan menanganinya, kek!" Yume menoleh ke arah Devil Bats. "Ugh, sebenarnya aku tak mau mengatakan ini, tapi... tolong bawa kakekku ke tempat yang aman!"
"Kekekeke, serahkan pada kami! Gendut Sialan!"
"Baik!" Kurita menggendong Gori dan berlari menjauhi lokasi menuju tempat paling aman.
"Hwaaa, berhati-hatilah sedikit!" sahut Gori ketakutan.
"Tenang, Kek! Anda aman bersamaku!" sahut Kurita dengan senyum cerah ceria.
*kembali ke Dark Village*
"Err, ano.. sekarang apa yang harus kita lakukan? Apa tak sebaiknya kita juga lari?" tanya Sena gemetaran.
"Keh! Inilah tantangannya, bocah-bocah sialan!"
"HIEEE? Jangan bilang, kita harus menghadapi makhluk besar itu!"
"Kekeke, kau membaca pikiranku, Anak Pendek!"
"HIYAAAAA! Aku taku mauuuu!" Sena merasa kakinya sudah lemas dan tak sanggup berdiri.
"Hi-Hiruma!" Mamori ikut berkomentar. "Apa kau gila? Apa aku dan Suzuna juga harus ikut melawannya? Kau gila!"
"Tentu saja tidak, Manajer Sialan! Kalian harus lari dari sini!"
"Tapi Hiruma, kalian serius mau menghadapi makhluk itu-!"
DUAAARRR
Dinding batu yang jadi perbatasan antara hutan Dark Forest dan hutan (yang entah apa itu namanya) hancur.
Sebuah (mungkin seekor) makhluk besar, dengan tinggi kurang lebih 10 kaki, besar, dan semua badannya terbuat dari batang-batang pohon muncul. Matanya yang berwarna kuning terang dan tajam, benar-benar terlihat sangat menyeramkan.
"MUKYAAAA! Makhluk apa itu, MAX?"
"HIEEEE! Menyeramkan sekaliiii!"
"Kyaaa! Kak Mamori, ayo kita lari dari sini ikuti Kak Kurita!" Suzuna menarik-narik tangan Mamori.
"Tapi Suzuna, Hiruma dan yang lain-"
"Tak ada waktu, Kak Mamori! Ayo!"
Suzuna dan Mamori lari dari lokasi.
Sementara itu, seorang pria dengan mengenakan jubah putih, dan memiliki rambut berwarna biru gelap, berdiri dengan angkuhnya. Mata ungu miliknya menambah kesan arogan miliknya.
"Hahahaha! Lama tak bertemu, Yume, Yuta!"
"Paman!" sahut Yuta dan Yume ersamaan.
"Paman?" sahut Devil Bats bersamaan juga.
"Apa yang paman lakukan?" tanya Yume dengan tatapan cepat-hentikan-semua-ini-!
"Apa yang aku lakukan? Aku mencoba mengembalikan kedamaian di hutan ini, dan mengembalikan semua yang sempat hilang di dalamnya dengan bantuan ciptaan terbaruku, Yume!"
"Paman bukannya melindungi, tapi malah merusak hutan ini!"
"Aku tak merusak, Yume! Aku hanya menguji coba ciptaan baruku, yang berfungsi untuk melindungi hutan ini dari para penjahat seperti mereka!" paman si kembar Himeka ini menunjuk anggota Devil Bats.
"MUKYAAA! Seenaknya saja kita dibilang penjahat, MAX!"
"Ka-kami bukan penjahat!" ujar Sena dengan nada yang 'cukup' tegas dan berani.
DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!
Hiruma menembakkan senjatanya kearah monster besar itu.
"Tak berpengaruh..." gumam Hiruma. Ia mendecih kesal.
"Aku hanya ingin memperkenalkan ciptaan terbaruku! Namanya Daruzon! Hohoho, dia sangat kuat dan tak tertandingi! Dia baru satu dari lima ciptaan terhebatku! Dan nanti, kuperkenalkan lagi ciptaan terbaruku yang lain! Sampai jumpa, Yume, Yuta! Begitu aku kembali, kalian akan merasakan hasil kerja kerasku, yaitu, kedamaian!" paman si kembar Himeka pergi dengan monster yang ia banggakan itu.
...
"Paman..." gumam Yume sedih.
Yuta merangkul bahu adiknya itu, mencoba menenangkan.
*setelah itu...*
~kediaman Himeka~
Si kembar Himeka, Gori, dan anggota Devil Bats yang lain duduk di ruang tamu. Membicarakan soal kemunculan paman Yume dan Yuta, juga ciptaannya yang besar itu.
"Jadi, siapa dia sebenarnya?" tanya Musashi memulai pembicaraan.
"Dia pamanku dan kak Yuta... namanya Rozu... ia sangat terobsesi untuk menciptakan sesuatu yang dapat melindungi seluruh hutan. Termasuk Dark Forest..."
"Tunggu, jadi maksudmu, hutan disini dan yang disaa itu berbeda nama?"
"Begitulah.. di hutan Dark Forest, semua wilayah aman dan terkendali.. tapi mungkin untuk di bagian hutan sebelah sana, hutan Light Forest, sebaliknya... disana terdapat markas besar milik paman. Tempat ia menguji coba semua eksperimen. Hampir sebagian sumber alam disana habis karena eksperimen pamanku... hingga akhirnya,eksperimennya, yaitu menciptakan pelindung hutan ini, telah terwujud berkat makhluk-makhluk besar itu... salah satunya yang kita lihat tadi... aku dan kakak saja baru kali ini melihat makhluk itu, karena sebelumnya paman selalu gagal..."
"Begitu... adi itu salah satu hasil eksperimennya.. sepertinya pamanmu itu seorang ilmuwan yang arogan... dapat kulihat dari cara bicaranya tadi..."
"Iya.. dan.." Yume memalingkan wajahnya. Semburat pink muncul di wajahnya. "Maaf, aku sudah salah sangka... aku tak menyangka paman akan menyalahgunakan hasil penelitiannya, dan kalian malah menolong tadi.."
"Hahaha, tak apa kok! Kami bisa mengerti!" sahut Mamori dengan senyum andalannya.
"Nah, sekarang, kau peraya pada mereka kan, Yume?" sindir Yuta.
"I-iya, kak..." Yume menunduk malu. Semua tertawa riang saat itu.
*di luar pondok (rumah keluarga Himeka)*
Hiruma nampak berdiri sambil menikmati pemandangan sekitar.
PUK
Seseorang menepuk bahunya pelan.
"Apa, Manager Sialan?"
"Kau ini, selalu menyendiri! Ayo, bergabung bersama kami di dalam!"
"Malas.. aku mau cari udara segar..."
"Begitu..."
Mamori menghirup udara di sekitarnya. "Haaah... disini benar-benar sejuk.. tak seperti di Deimon yang selalu padat penuh polusi.."
"..."
"Hiruma..."
"Ng?"
"Kau tahu? Sepertinya, kita akan mengalami acara kemah yang sangat panjang..."
"Hn..."
"Dan makhluk tadi.. dia terlihat sangat menyeramkan..." Mamori merapatkan kedua tangannya di dada. Menahan rasa takut.
"Cih, penakut kau..."
"Wajar bukan?"
"Ya ya... lagi pula... aku juga tak ingin kau terlibat bahaya sialan yang tak penting disini... nanti malah merepotkan!"
Mamori tersenyum. Dia sadar, bahwa maksud Hiruma adalah mengkhawatirkannya. Begitu juga yang lain.
"Terima kasih, Hiruma..."
"Untuk?"
"Untuk rasa simpatimu..."
"Cih, siapa yang bersimpati? Tak sudi..."
"Hahaha, dasar kau ini..."
"Kau tahu, Manajer Sialan?"
"Apa?"
"Tantangan baru akan dimulai untuk Devil Bats... kekekeke..."
"Hah? Apa maksudmu?"
~To Be Continued~
Hmhmhmhm...
Cerita macam apa ini? Yah, tak buruk.. *ditendang gara2 kepedean*
Ngomong-ngomong, selera fantasy ku jadi menurun dibanding tahun lalu! ._.
Cerita fantasy nya melebihi batas normal (?) XD
Yak sebelumnya, balas review dulu~ XD
Saki k: makasih reviewnyaaa~ :3 scene M? O/O waaa, i-itu, belum kepikiran! Hehehe... na-nanti kupikirkan dulu deh! Ahahaha, makasih! XDD
Yamano: makasih! Hiruma pasti OOC dengan pervert nya itu! OwO thanks for fave! :D
Sekian balasan reviewnya, yang login, dah kubalas lewat PM! :3
Sampai jumpa di chapter depaaaaan! Matta ne! XD/
Keep Spirit Up!
Mayu-chan
