Nge-Date Yuk!
Disclaimer
Naruto © Masashi Kishimoto
Nge-Date Yuk! © Amayuki Hara
Main Character
Uzumaki Naruto
Hyuuga Hinata
Warning
Gaje, AU, OOC, dsb
Summary
Hyuuga itu keluarga terpandang. Berteman dengan salah satu anggota keluarganya adalah anugerah. Bermasalah dengan salah satu anggota keluarga itu berarti bencana. Nah, kalau pacaran dengan salah satu anggota keluarga Hyuuga, anugerah atau bencana?
–––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––
"Cepat cari! Aku tidak mau mendengar kegagalan kalian!" seorang pemuda dari keluarga Hyuuga itu bicara dengan nada keras. Sekumpulan orang yang ada di hadapannya gemetar ketakutan. Dalam hati mereka-reka apa yang akan terjadi pada mereka jika putri keluarga Hyuuga tidak ditemukan. Akankah mati?
Run Away?
"Namamu siapa?" Naruto bertanya pada gadis kelaparan yang ada di sebelahnya. Di dekat gadis itu ada sekitar tiga mangkok ramen yang sudah andas olehnya. Sepertinya dia benar-benar kelaparan.
"Eh?"
"Maaf, aku hanya ingin tahu namamu. Itu saja," kata Naruto menekankan niat baiknya.
"Hinata," ucap gadis itu pelan.
"Ya?"
"Namaku Hinata," ulangnya dengan lebih jelas. Gadis itu telah menyingkirkan mangkok terakhir yang sanggup dihabiskannya.
Gadis berambut indigo dengan mata lavender yang tak biasa itu tertunduk malu. Baru kali ini merepotkan seseorang yang belum ia kenal.
"Namaku Naruto. Uzumaki Naruto," ucap Naruto cengengesan sambil menyalami tangan Hinata dengan semangat.
Hinata tersenyum. Ia tersenyum malu. Sebenarnya, sejak awal, Naruto sadar kalau gadis itu, dibalik keadaannya yang kumal dan sedikit kotor itu, memiliki senyum yang indah dan wajah yang manis.
'Kami-sama, aku terpesona.'
–000–
Hinata merasa wajahnya mulai memanas. Baru disadarinya kalau penampilannya saat itu sangat buruk. Ini semua karena hatinya yang terlalu baik hingga rela membantu adik-adik di taman mengambil layangan yang tersangkut di dahan pohon. Padahal, selama hidupnya, ia belum pernah memanjat pohon. Alhasil ia jatuh beberapa kali sebelum mendapatkan layangan itu. Untung tidak ada luka yang parah.
"Siapa nama keluargamu?"
Hinata mendongak dan langsung bertatapan dengan mata biru yang indah itu.
"A-apakah Uzumaki-san harus tahu?" tanya Hinata balik.
Naruto mengangkat bahu. "Hanya sekedar ingin tahu. Kalau Hinata-san tidak mau memberitahu juga tidak apa-apa."
Seketika kedai ramen itu sunyi. Memang pengunjungnya tinggal mereka berdua saja. Tidak biasanya kedai Ichiraku sepi seperti ini.
Hinata pun tidak berinisiatif untuk memecah kesunyian itu. Mengobrol dengan orang yang dekatnya saja jarang, apalagi mengobrol dengan orang yang notabene baru dikenalnya sejam yang lalu.
Naruto-lah yang memecah kebisuan itu dengan sebuah pertanyaan yang tidak diduga oleh Naruto. "Hinata-san kabur dari rumah, ya?"
Jleb!
Pertanyaan yang sangat mengena dan kini Hinata kebingungan mencari jawaban masuk yang akal.
"A-apa?"
Yah, itu cara menyangkal paling kuno yang terpikirkan oleh Hinata. Pura-pura tidak mengerti maksud pertanyaan Naruto.
Naruto menunjuk tas ransel ukuran sedang yang teronggok di lantai dekat. Ransel yang cukup besar untuk orang yang ingin kabur dari rumah. Yah, kira-kira cukup untuk baju dan keperluan penting lainnya lah!
"I-itu…" Suara Hinata terdengar terbata-bata. "Itu…"
Hinata bingung. Alasan apa yang masuk akal? Tidak mungkin kan, dia mengaku kalau dia kabur dari rumah. Apalagi jika Naruto tahu siapa keluarga. Bias-bisa Hinata dilaporkan ke keluarganya.
Naruto menepuk bahu Hinata dan tersenyum ramah. "Tidak apa kalau Hinata kabur dari rumah. Aku, kalau ada masalah dengan niichan, pasti kabur untuk menyendiri atau ke rumah teman."
Kata-kata Naruto itu sangat menyentuh hati Hinata.
'Apa sebaiknya kukatakan saja?'
"Ano… Uzumaki-san, sebenarnya aku…" Hinata berusaha mencari-cari alas an tepat (lagi). "…aku dikejar…oleh orang jahat. Dia akan memaksaku pulang jika tahu aku ada di sini. Dia mau berbuat jahat kepadaku. Pokoknya aku tidak mau pulang. Tolong jangan bilang siapa-siapa, aku mohon," pinta Hinata dengan wajah ketakutan yang meyakinkan. Dalam hati ia meminta maaf karena sudah berbohong.
Naruto diam.
Hinata gugup dan takut. Takut kalau kebohongannya itu kentara sekali dan dengan segera orang rumah akan menyeretnya.
'Pokoknya aku harus berhasil sebelum kuliah dimulai,' tekadnya dalam hati.
Yang terjadi kemudian sangat tidak diduga oleh Hinata, tapi cukup membuatnya bernapas lega.
"Malang sekali nasibmu Hinata-san," ucap Naruto dengan mata berkaca-kaca haru. "Ternyata nasibmu mirip-mirip denganku. Aku juga punya neechan yang seperti penagih hutang. Jahat dan mengerikan. Kalau begitu, bagaimana kalau kamu tinggal sementara di apartemenku?"
Hinata terperangah. Orang ini bodoh ya? Tapi ia bersyukur, sangat bersyukur karena bertemu dengan pria sebaik Naruto. Ia pun mengiyakan ajakan Naruto dan mengikutinya.
–000–
"Jadi belum ditemukan juga?"
Seorang pemuda berambut panjang membungkuk dalam-dalam meminta maaf. "Maafkan saya Paman, sampai hari ini belum ada kabar dari Hinata-hime. Saya harap Paman bisa sedikit bersabar."
"Bersabar? Tapi ini sudah hari ketiga! Apa saja kerja kalian selama ini?"
"Sekali lagi maafkan saya," pinta pemuda itu dengan wajah tertunduk. "Saya berjanji akan menemukannya secepat mungkin."
Akhirnya pemuda itu diperbolehkan keluar dari ruangan itu. Ia mengusap keringat dingin yang muncul. Hari-hari yang sangat melelahkan di sela-sela jadwal kuliahnya yang padat. Ke mana lagi ia harus mencari.
–000–
"Nah, kita sampai."
Naruto dan hinata sampai di depan pintu apartemen sederhana. Naruto membuka pintu yang tak terkunci itu, yang artinya sang kakak sudah pulang, dan mempersilahkan Hinata masuk.
"Silahkan duduk."
Naruto meninggalkan hinata di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang makan. Hinata menyapu pandangan ke sekeliling ruangan itu. Kecil dan sederhana.
"Neechan, aku sudah pulang!"
Sebuah sahutan terdengar dari arah dapur. "Bagus, sekarang bantu aku menyiapkan makan malam."
Naruto mendekati kakaknya itu dan membisikkan sesuatu.
"Dei-neechan, aku membawa seorang gadis cantik. Bolehkan kalau kita menampungnya sementara?"
Sesaat Deidara mencoba mencerna kata-kata adiknya itu.
"Gadis? Menampung?"
"Iya." Naruto mengangguk-anggukan kepala dengan mata berbinar-binar.
Deidara meninggalkan kare yang sedang mendidih di atas kompor dan berjalan ke ruang depan. Ia menemukan sesosok gadis berambut indigo sepinggang yang memiliki mata lavender yang indah dan senyum yang menawan. Kemudian ia melirik naruto yang sedang senyum-senyum sendiri dan…
Ctang!
…memukul kepala adiknya itu dengan pengaduk yang terbuat dari logam.
"Aaaak, saaakiiit!"
Keributan itu mengusik konsentrasi Hinata yang tertuju pada rangkaian bunga sederhana yang ada di atas meja. Ia menoleh ke sumber suara dan dahinya berkerut.
Ia melihat dua orang berambut pirang, bermata biru langit namun bergender berbeda.
"Kamu pasti memaksa nona ini untuk menerima cintamu ya? Kamu menculiknya ya?" berondong deidara sambil memukuli badan naruto dengan pengaduk yang dipegangnya tadi.
"Aduh neechan, sakit! Ampun!"
Deidara terus memukuli naruto dan hinata tidak tega melihatnya dan berusaha menghentikan deidara. Tapi…
Ctang!
…pukulan yang terakhir sangat kuat dan malangnya mengenai kepala hinata.
Hinata segera merasakan rasa sakit yang sangat kuat di kepalanya dan jatuh tak sadarkan diri di lantai.
Deidara, sang pelaku, dan naruto, target sebenarnya, hanya melongo melihat hinata pingsan. Sepertinya respon kakak beradik ini sangat lamban.
"Neechan…"
"Dia pingsan…"
"Betul…"
Keduanya saling bertatapan dan–
"Hyaaaaaaaaaaa!!"
–berteriak histeris.
–TBC–
Reader's Letters
Huahahaha, hyahahaha!
Hara balik di chap 2. mulai chap ini dan selanjutnya ada sesi Reader's Letter. Isinya ngebacain dan jawab pertanya ripiuer. Thanks ya yang sudah ngeripiu.
Yak! Saia ngejawab ripiu sambil dengerin lagunya Distance.
Michisige Asuka:
Good. Bagus kok!
Hehehe
Lajud... ^^
Regards,
Michi Asuka
Answer:Halo Michi Asuka. Wah, enaknya dipanggil apa neh?
Sankyuu udah baca dan ngeripiu. Ya, akan saia usahakan untuk dilanjutin *ditimpukin batu* Ripiu lagi yah!
Heri the Weird:
Hee?
Hinata kabur dari rumah?
Wkwkw...
Kocak nih...
Ditunggu apdetannya.. :D
Answer:Yap, Hinata kabur dari kediaman Hyuuga karena *piiiiiip*
Kocak? Saia pikir malah nggak bakal ada yang bilang lucu, makanya nggak dimasukin ke genre Humor. Sankyuu udah baca dan nungguin apdetanya...
Melody-Cinta:
Seru loch! Hehe...
Coba kutebak, pasti makan di ichiraku ramen.
Hehe,,
Apdet!
Answer:Sankyuu... jadi terharu dibilang seru, hiks, hiks
Yap, tebakanmu benar! Sebagai hadiah, saia buatkan sebuah fanfic NaruHina (again) untuk kalian yang menjawab benar (lho, lho, kok jadi kuis).
Baca ya!
Ryu kun:
Gue NaruHina FC Forever. Crita Qm mnrk bgt's. Dtunggu loh chapter brkt-na. Klo bsa jgn lama-lama yah. He He ^o^
Answer:Sankyuu, Ryu kun. Saia juga NaruHina Lover. Lagi-lagi ada yang bilang fic saia bagus. Jadi terharu beratz nih. Sudah diapdet nih, jangan lupa baca ya!
–––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––
Pojok Author
Hyahyahyahya!
Hara come back *nyanyi Hero's Come Back gaje*
Yap, lega sekali karena chap 2 udah di apdet. Oke sekarang waktunya author note.
Temenku nanya, "kok, author note qmu di bawah?"
Saia jadi mikir, kenapa ya?
Mungkin karena sebagian besar yang saia tulis di author note nggak terlalu penting dibaca oleh reader dan kalo diletakkan di atas akan mengganggu reader dan membuat ribet. Jadi saia tahu diri dan meletakkannya di bagian paling akhir.
Hari ini buka puasa pake es teh manis doang, hiks hiks. Tapi inget kata nyokap, "makan aja yang ada. Masih mending bisa makan. Banyak orang yang nggak bisa makan loh!"
Hiks, hiks, jadi kangen masakan nyokap. Ngekost itu agak enak ngak enak. Kalo bulan puasa jadi sudah. Apalagi kalo libur sekolah gini, nggak ada buka bersama anak kost di masjid skul, jadi ribet nyari ta'jil. Haaahhh nasib anak kost!
Udah ah, ngantuk! Selamat puasa!
Don't like don't read. Don't like don't flame (huahahaha! Nggak ding, terserah kalian aja deh!). Don't forget RnR!
A. Hara
NB: Bagi yang mau bagi-bagi makanan untuk buka puasa silahkan dikirim lewat apa aja yang penting nyampe. Tapi yang mau bagi-bagi flame, maaf dengan berat hati saia menolak. Maaf ya, kan mau lebaran. Hehe
